Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Pluralism Agama, Apakah Menyamakan Agama?


Oleh: Anis Hamim
Staff Program pada the Wahid Foundation, Jakarta

Banyak beredar anggapan di masyarakat tentang pluralisme agama sebagai faham yang menganggap semua agama sama-sama benar. Anggapan ini bahkan melahirkan tuduhan bahwa orang-orang Muslim yang pro pluralism agama sebagai sesat, menyesatkan dan ingin menghancurkan Islam dari dalam.

Pluralisme (Berbilang) agama sebenarnya adalah suatu cara pandang yang menerima perbedaan agama sebagai realitas hidup. Cara pandang ini berangkat dari kenyataan bahwa di mana-mana, termasuk di Indonesia ada banyak orang yang memeluk agama berbeda. Ada yang memeluk Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Yahudi, Zoroaster, Bahai dan banyak lagi.

Kenyataan lainnya adalah masing-masing pemeluk agama yang berbeda tersebut sama-sama meyakini agama yang dipeluknya sebagai yang paling benar. Biarpun berbeda keyakinan, masing-masing pemeluk agama merasa harus hidup berdampingan secara damai termasuk dengan pemeluk agama lain. Berdasarkan kebutuhan untuk hidup damai inilah muncul konsep pluralisme agama.

Di sejarah masa lalu, perbedaan agama dan keyakinan sering menimbulkan konflik dan perang antar warga, masyarakat dan bangsa. Akibat terlalu agresif memaksakan keyakinannya, pihak yang menjadi sasaran menjadi tersinggung dan lalu angkat senjata. Atas nama agama, harta dan nyawa melayang, hidup menjadi tak karuan.

Maka, pluralism agama adalah semacam kontrak sosial yang ditawarkan bagi komunitas, bangsa dan negara yang warga nya berbeda agama tetapi ingin tetap bisa hidup bersama. Dengan konsep ini, perbedaan agama bukanlah penghalang untuk orang hidup berdampingan secara damai dan bekerja sama. Sikap inilah yang juga dicerminkan dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetapi tetap satu jua).

Jadi, Pluralism agama sama sekali tidak mengurusi status atau kualitas kebenaran ‘teologis’ suatu agama tertentu, tetapi memberikan payung kesepakatan bahwa setiap pemeluk agama yang berbeda berhak hidup bersama dan beribadah sesuai dengan keyakinan nya masing-masing. Agar bisa saling menghormati, setiap orang perlu dengan bijaksana menerima kenyataan bahwa orang lain yang berbeda agama sama-sama yakin akan kebenaran agama yang dipeluknya.

Misalnya saya yang yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar, juga perlu mengakui bahwa orang Kristen juga meyakini agamanya sebagai yang paling benar juga. Demikian juga teman saya yang beragama Kristen. Walaupun baginya agama Kristen adalah yang paling benar, dia juga perlu mengakui bahwa saya meyakini Islam sebagai agama yang paling benar.

Dengan kata lain, secara individu (wilayah privat) setiap orang berhak untuk meyakini kebenaran mutlak dalam agama yang dipeluknya. Tetapi, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (wilayah publik), dia juga harus bersedia menerima eksistensi orang lain yang punya keyakinan berbeda dengan diri nya.

Di bawah konsep pluralisme agama ini lah dikembangkan norma-norma kesetaraan di depan hukum dan kebebasan beribadah bagi setiap pemeluk agama yang berbeda. Juga, dihindari sikap-sikap ingin menang sendiri, pemaksaan kehendak, perlakuan diskriminatif, dan ujaran kebencian terhadap agama lain atas nama kebenaran agama nya. Bahkan di Indonesia ada larangan untuk berdakwah pada orang yang sudah beragama. Agar terbangun saling pengertian antar pemeluk agama, dianjurkan juga dialog-dialog antar agama.

Dengan demikian, bukannya menyamakan kebenaran semua agama, pluralisme agama adalah konsep hidup damai dalam suatu masyarakat, bangsa dan negara yang terdiri dari banyak pemeluk agama berbeda. Walaupun hidup bersama, masing orang tetap bisa menganut kebenaran teologis nya masing-masing secara utuh. Agar bisa hidup damai, pluralisme agama mensyaratkan kesediaan masing-masing pemeluk agama yang berbeda untuk saling mengakui adanya perbedaan keyakinan tersebut, saling menghormati, dan bertoleransi. Bahkan dengan identitas keagamaan yang berbeda, masing-masing bisa saling bekerjasama dalam urusan kemasyarakatan yang menjadi kepentingan/kebaikan bersama seperti mewujudkan kebersihan lingkungan, menolong orang terlantar dan menjaga keamanan/ketertiban.

Sederhana dan mulia kan?

Mendamba Umat Pemaaf


Tulisan Gus Ali Asyhar

Dalam tiga tahun terakhir ini kita menyimak tontonan yang tidak arif. Dimulai ketika pilpres 2014 antara Jokowi dan Prabowo yang maha sengit. Semua kekuatan disorongkan untuk memenangkan jagonya.

Sepertinya hidup ini hanya untuk pilpres. Uang, media, tokoh agama bahkan ayat-ayat suci diajak berpolitik sehingga menggerus kesucian kitab tersebut. Tak lupa sumpah serapah, caci maki bin mengumpat ditampilkan di media cetak dan dikirim hingga pelosok dusun. Dibumbui gambar-gambar tak lucu yang menista.

Selanjutnya, pilpres usai dan Jokowi JK memenangkan kontestasi. Berakhirnya pilpres ternyata tidak mengakhiri kebiasaan mereka mengumpat. Dalam ceramah yang ditampilkan di youtube isinya ful kebencian. Puluhan celaan dilontarkan dari mulur seorang dai, berjubah dan bersorban. Karena jagonya kalah, maka semua menjadi salah. Langkah yang sudah jelas nan terang benderang baik pun menjadi keliru.

Ketika Presiden Jokowi rajin blusukan ke daerah untuk memantau langsung perkembangan infrastruktur, mereka juga memaki Presiden kok ngurusi lapangan, mestinya cukup mengambil kebijakan. Urusan lapangan adalah domain menteri. Mereka lupa bahwa dulu ketika presiden SBY tidak rajin blusukan, juga diumpat bahwa presiden kok hanya duduk dan tidak mau turun langsung ke lapangan.

Amboy bahkan ketika presiden Jokowi sudah berangkulan dan Prabowo, para kelompok pencaci ini masih tidak terima. Mereka menyebarkan tulisan dengan judul Presiden yang tertukar. Alangkah kasihan mereka, yang tidak mau ikhlas menerima realita. Begitu rumit logika dan kehidupan mereka.

Buntutnya, ketika Jokowi dilantik menjadi presiden maka otomatis wakil gubernur (Ahok) juga dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Api kian membara, demo besar-besaran digelar di balai kota, kantor DPRD dan bundaran HI. Tujuannya hanya satu, Ahok tidak boleh jadi gubernur DKI.

Namun, negara memiliki aturan dan tata cara yang konstitusional. Ahok tetap dilantik. Mereka tetap demo bahkan mereka mengangkat KH.Fakhrurozi sebagai gubernur rakyat. Alangkah kasihan mereka yang tidak mau menerima realita. Pengangkatan KH. Fakhrurrozi pun tak berpengaruh apa-apa. Ahok terus berjalan didampingi Djarot Saiful Hidayat. Mantan Wali Kota Blitar dua periode yang sukses memindahkan warga di kawasan kumuh ke rumah susun.

Waktu terus berlalu, kini tiba saatnya pilkada serentak Pebruari 2017. Untuk DKI, tiga pasangan maju, diantaranya adalah sang petahana yang sejak lama tidak dikehendaki. Kembali cara-cara lama berulang. Umpatan dan makin berseliweran masuk ke semua kuping saban hari.

Ahok kepleset di Kepulauan Seribu dengan menyebut Surat al-Maidah 51. Bak api yang disiram bensin. Emosi tersulut. Demo besar pun kembali digelar yang memaksa agar polisi segera menetapkan Ahok sebagai tersangka. Tak berhenti sampai di situ, mereka kembali akan menggelar demo untuk memaksa polisi menahannya. Tujuannya satu, Ahok tak boleh ikut pilkda 2017.

Tradisi cacian, umpatan dan nafsu berkuasa ala Arab dibawa ke Nusantara. Mengapa bukan sifat pemaaf Nabi SAW yang dibawa? Mengapa bukan sikap jembar hati Nabi Yusuf yang dijadikan referensi? sejarah telah memberi teladan kepada kita betapa Nabi dicaci orang-orang Mekah dengan menuduhnya sebagai tukang sihir, orang gila, ayat al-Quran dikatakan puisi buatan Nabi bahkan mereka menyatakan bahwa al-Quran adalah sihir Muhamad.

Pertanyaannya, apakah Nabi marah lalu mendemo mereka? Tidak. Nabi memaafkan. Sikap ini menjadikan dakwah islam tersiar secepat angin gurun. Andai Nabi langsung membunuh mereka tentu ceritanya menjadi berbeda. Bahkan sang gembong Munafiq, Abdullah bin Ubay bin Salul yang jelas ingkarnya tidak dihukum. Ketika sang munafiq meningggal dunia, maka Nabi datang bahkan menyelimutinya dengan serban. Pun Nabi Yusuf yang memaafkan saudara-saudaranya yang telah membuangnya ke dalam sumur. Yusuf terlunta-lunta sampai dipenjara.

Ketika nasib Yusuf sudah di atas, ia memaafkan saudaranya. Sikap pemaaf ini juga ditiru oleh Gus Mus ketika diumpat dengan kata-kata kasar (ndasmu) di medsos. Beliau memaafkan dan menanggapinya dengan tawa yang renyah. Begitu pula ketika Mbah Maimoen Sarang dimaki seorang mahasiswi, beliau juga lapang dada. Ketika si mahasiswi sowan ke Mbah Maimoen untuk meminta maaf, beliau tersenyum memaafkan, bahkan beliau juga memeluk anak si mahasiswi yang masih kecil. Kita layak meniru Nabi Muhamad SAW, Nabi Yusuf, Gus Mus dan Mbah Maimoen. Bukan meniru kebiadaban ISIS yang amat merugikan dakwah islam.

Ali Asyhar, Ketua STAIHA Bawean dan Wakil Ketua PCNU

Butuh Pelatihan, Kesulitan Pasarkan Hasil Tani


Hamparan lahan yang cukup luas di Pulau Bawean belum bisa dimanfaatkan dengan maksimal untuk pertanian. Ini lantaran para petani di pulau tersebut membutuhkan pelatihan cara bertanam dan cara memasarkan hasil tani.

Wiwin Suryaningsih warga Desa Lebak mengatakan pertanian di Pulau Bawean sudah beragam hasilnya. "Kalau dahulu orang hanya menanam padi, tapi sekarang sudah banyak yang menanam sayuran dan buah-buahan seperti semangka, melon, mangga bahkan buah naga," katanya.

Meski pertanian di Bawean sudah beraga, tetapi tidak semua petani paham bagaimana cara bertani yang benar. Sehingga, para petani termasuk dirinya sangat memerlukan pelatihan-pelatihan dari dinas terkait.

"Sangat perlu pendidikan langsung pelatihan bukan diajarin teori saja, apalagi diberi bibit unggul oleh pemerintah,"tuturnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pertanian Bawean Lailatul Mukarromah mengatakan kendala pengembangan pertanian disebabkan jenis sawah tadah hujan sehingga setahun hanya bisa dimanfaatkan sekali saja.

“Jelas tidak maksimal, soalnya disini belum ada irigasi hanya mengandalkan hujan. Makanya setahun hanya sekali tanamnya,” kata dia.

Selain itu, kesulitan pemasaran hasil tani di Pulau Bawean. "Contohnya buah semangka, saat petani melakukan panen ternyata kelabakan untuk memasarkan di Pulau Bawean karena terbatasnya pembeli yang ada,"paparnya.

Adapun soal adanya sayur mayur yang disuplai dari Pulau Jawa, menurut Irma memang tidak bisa tumbuh subur di Pulau Bawean. “Sebab itu tanaman yang ada di dataran tinggi,” pungkas dia. (bst)

Melani, Penderita Hidrosefalus Meninggal Dunia


Melani, 14, asal dusun Tanah Rata desa Kepuhteluk Tambak akhirnya meninggal dunia. Remaja putri yang menderita hidrosefalus sejak kecil itu meninggal di rumahnya. Namun demikian diduga penyebab meninggalnya dikarenakan penyakit lain.

Tamyiz kepala desa Kepuhteluk mengatakan Melani meninggal dunia diduga karena terkena serangan penyakit cacar. "Hanya mengalami panas dingin waktunya sangat singkat langsung meninggal dunia,"katanya.

Menurutnya wabah penyakit cacar sekarang ini melanda wilayahnya. Banyak warga menderita cacar. "Kemungkinan pergantian musim dari kemarau ke penghujan penyebabnya,"ujarnya.

Shohe perwakilan PSB yang menangani Melani saat merujuk di RSUD Ibnu Sina Gresik menyatakan usaha untuk menyembuhkan penyakit hidrosefalus sudah dilakukan oleh pihak rumah sakit.

"Namun saat ditawarkan operasi ternyata orang tuanya menolak dengan banyak pertimbangan, akhirnya dibawah pulang kembali ke Bawean,"terangnya.

Walaupun demikian, Melani tanpa dioperasi tapi mengkonsumsi obat-obatan. "Itupun hasilnya lumayan membaik,"paparnya.

Tapi takdir sudah menentukan, akhirnya Melani meninggal dunia di kampung halamannya. (bst)

Ekspedisi Nusantara Jaya Gelar Kegiatan di Gili



Tim Ekspedisi Nusantara Jaya menggelar kegiatan selama 10 hari di Pulau Gili, desa Sidogedungbatu Sangkapura.

Eni Sukmawati Indah koordinator tim mengatakan kegiatan ini kerjasama dengan Kemenko Maritim dan digelar di seluruh Indonesia. "Kami berharap pemuda untuk turut serta mendukung,"katanya.

Menurutnya ada 11 orang dalam satu team Ekspedisi Nusantara Jaya yang digelar di Pulau Gili. Ada sejumlah rangkaian yang dilakukan diantaranya terkait dengan pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Terkait dengan kesehatan ada pembelajaran tata cara cuci tangan dan gosok gigi yang baik.

Abdul Adim Camat Sangkapura mengapresiasi kegiatan tersebut diletakkan di Pulau Gili. Melalui kegiatan ini diharapkan warga bisa menerima pendidikan dari team. (bst)

DMI Gelar Studi Banding di Desa Lowayu



Dewan Masjid Indonesia (DMI) kecamatan Sangkapura menggelar kegiatan studi banding ke desa Lowayu kecamatan Dukun. Dipilihnya desa Lowayu lantaran beberapa waktu lalu dinobatkan sebagai desa berwawasan pendidikan di Kabupaten Gresik.

Esfar, sekretaris DMI kecamatan Sangkapura mengatakan tertarik untuk mengadopsi desa berwawasan pendidikan di Pulau Bawean. "Ternyata luar biasa bagus, seluruh masyarakat mendukung program mematikan televisi mulai jam 18:00 WIB sampai 21:00 WIB.,"katanya.

Menurutnya keberhasilan desa Lowayu sehubungan adanya kerjasama antara kepala desa bersama takmir masjid. "Jadi masjid bisa maju jika ada kerjasama atau mendapatkan dukungan penuh kepala desa,"ujarnya.

Apalagi menurutnya jarak balai desa dengan masjid sangat berdekatan, sehingga memudahkan dalam segala urusannya. "Termasuk administrasi masjid sudah dikelola secara baik,"paparnya.

Masykur ketua DMI kecamatan Sangkapura menyatakan kegiatan studi banding dalam rangka menggali pengetahuan untuk memajukan masjid di Pulau Bawean. "Selain studi banding ke desa Lowayu, juga kunjungan ke Pondok Pesantren di Sidoarjo untuk mempelajari metode pendidikan Al Qur'an,"terangnya.

Selain itu rombongan sebanyak 6 orang juga bersilaturrahim bersama Pengurus Persatuan Saudagar Bawean (PSB) yang sebelumnya memberikan bantuan Al Qur'an lengkap tafsir untuk seluruh masjid di Pulau Bawean. (bst)

PGRI Bawean Perjuangkan Kesejahteraan Guru Sukwan


Pemerintah diminta mengangkat guru untuk tambal sulam guru PNS yang telah pensiun. Selain itu didesak agar guru sukwan menerima honor yang layak. Tuntutan ini akan disampaikan perwakilan PGRI di ajang konferensi PGRI .

Konferensi yang mulai digelar kemarin di Graha Petrokimia Gresik akan berlangsung hingga hari ini, Rabu (15/11).

Buang Sari untusan PGRI kecamatan Sangkapura mengatakan ada 5 orang perwakilan mengikuti konferensi di Gresik. “hasil konfresi akan dibawahke konferensi tingkat Jawa Timur di Jember,” katanya.

Aspirasi dari Bawean menyebutkan, menndesak pemerintah untuk mengangkat guru PNS. Ini bertujuan untuk mengisi kekosongan guru akibat banyaknya guru yang pensiun. Begitu pula dengan banyak pengajar sukwan yang setiap bulan menerima honor yang tidak layak.

Sedangkan peserta kecamatan Tambak sebanyak 7 orang yang mewakilinya. Ali Wafa menyatakan banyak hal yang dirumuskan dalam konferensi PGRI kabupaten Gresik. "Hasil rumusan jika diterapkan tentunya sebagai informasi sangat mengembirakan kepada guru di Pulau Bawean,"paparnya.

Menurutnya kehadiran Bupati Gresik Sambari Halim Radianto bersama Wakil Bupati Mohammad Qosim termasuk mempertegas adanya larangan pungli di sekolah. Dengan alasan apapun, menurutnya Bupati dan Wabup Gresik melarang melakukan pungutan di sekolah. (bst)

Warga Bawean Sukses di Negeri Jiran


Warga Pulau Bawean banyak yang sukses bekerja di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Hal itu lantaran budaya merantau dari nenek moyang. Sehingga menghantarkan mereka datang ke negeri orang sebagai pekerja keras.

Bagian Litbang dan Hubungan Kelembagaan Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan banyak orang Bawean yang sukses membangun usaha di Singapura dan Malaysia. "Mereka berhasil menjadi pengusaha, juga menunjang kemajuan perekonomian,"katanya.

Tapi menurutnya tidak pernah tertulis dalam catatan sejarah. Alasannya orang Bawean ketika merantau dianggapnya melalui jalur tidak resmi. "Atau waktu kesana tidak dilengkapi surat atau dokumen lengkap sehingga dianggapnya tidak resmi,"ujarnya.

Walaupun demikian, Wahyu Susilo mengaku seringkali bertemu warga Bawean di Singapura dan Malaysia. (bst)

K3S di Perairan Bawean Diminta Keluarkan CSR


Politisi PKB Jazilul Fawaid mempersoalkan kontraktor kontrak kerjasama (K3S) yang beroperasi di perairan Bawean. Selama ini K3S tersebut tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat Bawean.

“Seharusnya, warga Bawean mendapat CSR, karena lokasinya lebih dekat dengan Bawean,” kata Jazilul Fawaid

Anggota DPRRI dapil Gresik dan Lamongan sudah melakukan sidak lapangan. Ada K3S yang ternyata jaraknya lebih dekat ke Pulau Bawean daripada ke Madura. "Seharusnya perusahaan tersebut memberikan CSR untuk kemajuan Pulau Bawean,"katanya.

Jazil mengaku telah mengunjungi lokasi pengeboran dengan ketika naik kapal Express Bahari 8E. Jazil melihat langsung jaraknya pengeboran minyak lebih dekat ke Pulau Bawean.

Sebagai wakil rakyat yang berada di senayan, Jazil berjanji akan memperjuangan kepentingan warga Bawean. Dia akan menanyakan hal ini kepada menteri ESDM.

"Ini bahan saya untuk disampaikan kepada Menteri ESDM Ignasius Jonan di Jakarta,"tegasnya.

Harapannya kedepan perusahaan tersebut agar menyalurkan CSR untuk pengambangan Pulau Bawean. Hal senada disampaikan Akhwan mantan anggota DPRD Kabupaten Gresik meminta agar pengeboran di perairan Bawean mempunyai keperdulian untuk Pulau Bawean.

"Sekarang hanya namanya saja Blok Bawean, tapi kontribusi seperti CSR sepertinya tidak ada,"ungkapnya. (bst)

Rancang Penataan Kampung Kumuh, Arsitek asal Bawean Juara III


Putra daerah kembali mengharumkan nama Bawean. Kali ini Fatah Yasin arsitek yang berhasil juara III dalam lomba rancang kampung tematik di Kota Malang. Pria asal Tambak ini mengikuti lomba dengan mengangkat sebuah kampung marginal diarea pemakaman umum di kota Malang.

"Kampung di kelurahan Kasin dengan kondisi lingkungan yang kumuh, tingkat pendidikan warga yang rendah dan pemukimannya di bawah tanah makam dan ditengah-tengah makam,"katanya.

Yasin bercerita ketika mengangkat kampung ini sebagai objek lomba, dapat cemooh dari teman-temannya. Lantaran tidak pernah ada yang membayangkan sebuah kampung dengan berbagai masalah dan kotor bisa dikonsep menjadi kampung wisata, edukasi dan religi.

"Alhamdulillah kami juara 3 dalam Lomba rancang kampung tematik kota Malang,"paparnya.

Dia pun berharao suatu saat nantinya mendapat kesempatan mengkonsep penataan kampung-kampung di Pulau Bawean. Sehingga menjadi kampung-kampung wisata dengan tetap menjaga kearifan lokal. (bst)

Pengusaha Hotel Minta Promosi Wisata Bawean Digencarkan


Pengusaha hotel meminta promosi wisata Bawean digencarkan. Jika tidak, seperti saat ini, usaha hotel di Pulau Bawean lesu. Akhir-akhir ini nyaris tak ada tamu yang menginap di hotel.

H. Syariful Mizan pemilik hotel sahabat yang letaknya di jantung kota Sangkapura mengatakan sudah hampir seminggu ini sangat sepi pengunjung. Bila ada, itupun bukan wisatawan hanya pegawai pemerintahan yang ada tugas di Pulau Bawean.

Lebih lanjut Mizan menyimpulkan sepinya pengunjung hotel disebabkan promosi wisata masih kurang sehingga perlu ditingkatkan lagi. “Ada 10 hotel di Bawean nyaris tidak ada tamu yang menginap,” katanya.

Hal senada disampaikan Taufiq pemilik hotel senja di dekat pelabuhan Bawean, menyatakan pengunjung sangat sepi. Selain faktor promosi, menurut Taufiq sepinya tamu juga dipengaruhi kelancaran transportasi dari Gresik ke Pulau Bawean. "Kebanyakan tamu adalah mereka yang menunggu jadwal kapal, jika tak ada penundaan tak perlu menginap,"ungkapnya.

Imron Rasyidi kepala UPTD Pariwisata di Pulau Bawean menjelaskan kedatangan wisatawan tentu ada musimnya. "Hanya waktu saat tertentu saja yang ramai pengunjung wisatawan ke Bawean,"ujarnya.

Seperti sekarang ini diakui oleh Imron Rasyidi, termasuk sepinya wisatawan berkunjung ke Pulau Bawean. Kalaupun ada wisatawan asal Malaysia dan Singapura yang liburan ke Pulau Bawean. “Itupun memilih menginap di rumah keluarganya daripada di hotel,"pungkasnya. (bst)

Harga Tiket KMP Gili Iyang Dipengaruhi Retribusi Pelabuhan


Harga Tiket Gili Iyang Dipengaruhi Retribusi Pelabuhan Perbedaan biaya retribusi pelabuhan membuat harga tiket KMP Gili Iyang untuk penumpang dewasa tak sama. 

Di pelabuhan Bawean harga tiket Rp. 70 ribu, Gresik sebesar Rp. 77.500 dan Paciran sebesar Rp. 76.000. "Jika dibandingkan di Bawean tentu lebih mahal di Gresik,"kata Petugas tiketing PT ASDP di Gresik, Dodot.

Diakuinya, masing-masing pelabuhan menerapkan biaya retribusi pelabuhan yang berbeda. Biaya retribusi ini dibebankan pada penumpang.

Hal senada disampaikan Suhaemi, pegawai PT. ASDP Indonesia (Persero) menyatakan harga jual tiket kapal bersubsidi antara pelabuhan Bawean, Gresik dan Paciran memang tidak sama harganya. "Itu sudah sesuai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah,"tegasnya.

Pihaknya tidak berani melebihi dari harga jual yang sudah ditetapkan, jadi harganya sudah sesuai ketentuan. (bst)

Korp Marinir Gelar Baksos di Rumah Harun Thohir


Korp Marinir TNI AL dalam rangka HUT ke- 71 menggelar anjangsana dan bhakti sosial di tempat kelahiran pahlawan nasional KKO Harun Thohir di desa Diponggo Tambak, Selasa (8/11). Rombongan berjumlah 7 orang dipimpin Letkol Marinir Ashari sebagai perwira staf personil disambut keluarga bersama Muspika kecamatan Tambak dan Sangkapura.

Letkol Marinir Ashari mengatakan kegiatan anjangsana dan bhakti sosial ini akan diadakan secara rutin setiap tahun.

Adapun kegiatan yang sudah dilaksanakan tahun ini, diantaranya merenovasi rumah kelahiran pahlawan nasional di desa Diponggo Tambak. Lebih lanjut menyatakan akan membuat biografi pahlawan sebagai inspirasi generasi penerus bangsa. Selain itu dirumah peninggalan sejarah akan dibangun monumen, serta didalamnya akan pajang foto-foto untuk mengenang jasanya.

Pihak Korp Marinir TNI AL juga akan mengajak Pemerintah Kabupaten Gresik untuk bekerjasama dalam memberikan perhatian penuh terhadap jasa pahlawan nasional yang berasal dari Pulau Bawean. "Sedangkan pihak Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah mendukung rencana tersebut,"katanya.

Mohammad Salim mewakili pihak keluarga mempersilahkan kepada Korp Marinir TNI AL untuk memanfaatkan rumah peninggalan bersejarah. "Keluarga menyerahkan sepenuhnya untuk dikelola agar bisa lebih baik,"ujarnya.

Anak keponakan pahlawan nasional yang juga menjabat kepala desa Diponggo mengakui perhatian Korp Marinir TNI AL sangat besar. "Diantaranya pembangunan infrastruktur dan perhatian terhadap keluarga yang ditinggalkan,"pungkasnya. (bst)

Sarjana STAIHA Diminta Jadi Pengusaha


Puluhan mahasiswa STAIHA dengan khidmat mengikuti acara yudisium ke 2 di Aula Pondok Pesantren Hasan Jufri. Yudisium ini diikuti 62 mahasiswa yang terdiri dari 32 sarjana prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dan 30 sarjana prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES/Muamalah).

Dalam sambutannya, puket 1 bidang akademik dan personalia, Wiwin Suryaningsih, SE.M.HI memaparkan bahwa mahasiswa yang sudah mengikuti yudisium dan dinyatakan lulus, maka baginya berhak menyandang gelar sarjana. Lulusan MPI bergelar sarjana pendidikan (S.Pd) dan lulusan muamalah bergelar sarjana hukum (SH). Saat ini sudah tidak ada gelar S.Pdi atau S.Hi terangnya.

Di tempat yang sama, ketua STAIHA, Dr. Ali Asyhar mengajak kepada mahasiwa untuk menebar ilmunya ke wilayah Indonesia bagian timur. Sarjana STAIHA harus berani berjalan dengan gagah ke Papua, Gorontalo, Maluku dan sekitarnya. Jadilah rajawali yang berani menantang angin. Jangan bergerombol seperti burung pipit. Wilayah Indonesia timur masih sangat luas. Sementara Indonesia bagian barat sudah penuh sesak. Jadilah pengusaha, karena bangsa yang banyak penguasahanya akan cepat makmur tambahnya.

Pernyataan ketua STAIHA ini didasarkan realita bahwa sarjana Bawean enggan merantau. Bila dalam satu tahun STAIHA meluluskan 62 mahasiswa, maka dalam 10 tahun akan tercipta 600 an lebih sarjana. Kalau semuanya berebut ingin menjadi guru, maka akan terjadi kondisi yang kontra produktif.

Acara yudisium kedua ini dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat, antara lain KH. Abdullah Faqih, KH. Mufid Hilmy, KH. Misbah, dan Kapolsek Sangkapura. Tampak pula wali mahasiswa yang terlihat bahagia dengan kelulusan putra putrinya. (bst)

Pulau Bawean Miliki TK Umar Mas'ud sebagai Percontohan


TK Umar Mas'ud Sangkapura menjadi sekolah percontohan. Buktinya, sekolah ini sering kedatangan tamu untuk mencontoh sistem pembelajaran dan pengelolaan administrasi.

Novi Saudah kepala TK Umar Mas’ud mengatakan sekolahnya mengalami kemajuan pesat sejak bekerjasama dengan The Naff Education, Training dan Consulting. "Sistem pendidikan menjadi bagus berkat bimbingan The Naff,"katanya.

Salah satu metodenya dengan memberikan pendidikan yang berkarakter dan sistematik. "Ada 138 siswa yang belajar di TK Umma dibagi 2 sesi dengan 6 sentra,"ujarnya.

Sekolahj ini melibatkan 14 tenaga pengajar yang sudah profesional, TK Umma sudah berhasil memberikan kepercayaannya kepada seluruh orang tua siswa. Diantaranya dalam pembentukan karakter, anak dilatih menunaikan ibadah sholat secara baik. Selain itu belajar menghafal surat-surat pendek dalam Al Qur'an ataupun do'a.

Menariknya dalam menekannya kedisiplinan, setiap siswa diharuskan datang ke sekolah tepat waktu. "Siswa datang langsung mengisi absensi dengan menulis sendiri, juga mengambil nomor yang digantungkan ke lehernya,"paparnya.

Lebih lanjut Novi menyatakan siswa lulusan TK Umma dijamin bisa menulis dan membaca secara baik. Sekolah ini juga dilengkapi sanggar kesenian untuk belajar siswa, selain itu juga mini market mini sebagai pembelajaran ekonomi.

Siti Aisyah dari Gugus III TK di kecamatan Tambak membawa 12 kepala sekolah untuk studi banding di TK Umma. "Tertarik studi banding di TK Umar Mas'ud alasannya sebagai sekolah terbaik dan layak ditiru,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean