Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Gembiranya Warga Tanahnya Bersertifikat


Ribuan warga di Pulau Bawean menyambut gembira dengan selesainya sertifikat tanah melalui program nasional agraria (Prona) tahun 2016. Badan Pertanahan Nasional (BPN) kabupaten Gresik mempersilahkan mengambil sertifikat yang telah selesai diproses. 

"Kami sangat gembira, sekarang sertifikat sudah diterima, ini sebagai bukti kepemilikan yang sah,"kata warga Daun Mohammad Yusuf

Sesuai data ada 1.740 sertifikat tanah untuk 2 kecamatan di Pulau Bawean yang masuk dalam profram Prona. Rinciannya 790 sertifikat di kecamatan Tambak dan 950 sertifikat di kecamatan Sangkapura.

Abdul Aziz sebagai Ketua AKD di kecamatan Sangkapura menyatakan seluruh warga yang mengurus prona sudah bisa menerima sertifikat. Beberapa memang masih ada kesalahan dalam penulisan nama dan kekurangan lainnya. “Akan dilakukan pembetulan, kalau sudah selesai akan diserahkan,”katanya.

Camat Sangkapura, Abdul Adim menjelaskan program prona merupakan program pemerintah untuk mempermudah masyarakat mensertifikatkan tanah. Terutama bagi masyarakat tak mampu. "Melalui prona, warga yang sebelumnya merasa keberatan untuk mengurusnya, akhirnya bisa terbantukan,"ujarnya.

Sementara Camat Tambak Narto, mengatakan sertifikat tanah yang diurus melalui program prona sudah diserahkan langsung oleh petugas BPN kepada warga. "Hanya ada 14 sertifikat yang belum terselesaikan, karena tertinggal di Gresik,"ujarnya. (bst)

Jembatan Apung Ramai Dikunjungi


Jembatan apung di pantai Labuhan desa Kebuntelukdalam Sangkapura menjadi lokasi favorit warga untuk dikunjungi. Jembatan ini menjadi8 penghubung menyeberang ke Pulau Gili dan Pulau Noko.

Afif Samrani kepala desa Kebuntelukdalam mengatakan untuk pengelolaan jembatan apung di pantai Labuhan akan ditangani secara baik dan serius. "Sekarang masih tahapan penyempurnaan berkas untuk pengelolaan,"katanya.

Menurutnya jembatan apung ketika habis lebaran kemarin sangat ramai dikunjungi warga. "Itu diluar dugaan, sehingga hari kedua langsung ditangani secara baik untuk penataan parkir,"ujarnya.

Potensi wisata didaerah akan dikelola secara baik tujuannya untuk pengembangan desa Kebuntelukdalam.

Selain jembatan apung, Kades Kebuntelukdalam akan mengelola pemandian merdeka. "Tahun depan direncanakan sudah banyak dikunjungi warga,"paparnya.

Afif menyatakan seluruh potensi wisata yang ada di desanya akan dikelola secara baik bertujuan kemajuan wilayahnya serta mendukung program pemerintah untuk menjadikan Pulau Bawean sebagai tujuan wisata di Jawa Timur. (bst)

Terminal Pelabuhan Gresik Dikeluhkan


Pelayanan di terminal Pelabuhan Gresik kembali dikeluhkan penumpang kapal. Persoalannya saat kedatangan kapal dari Pulau Bawean sampai di Pelabuhan Gresik ternyata terminal tidak dibuka dan pintunya terkunci.

Farhan mengaku kecewa atas pelayanan penumpang di Pelabuhan Gresik. "Semestinya terminal dibuka, bukan dikunci rapat-rapat saat penumpang sudah sampai di Gresik,"katanya.

Tentunya mereka membutuhkan pelayanan ruang tunggu untuk dijemput ataupun keperluan ke toilet sehubungan sudah berlayar selama 3 jam.

Menurutnya kasihan melihat penumpang seperti kemarin (sabtu, 23/7) pingin pergi ke toilet ternyata pintu terminal di kunci. "Fungsi terminal penumpang untuk dipergunakan saat ada keberangkatan ataupun kedatangan kapal,"pungkasnya. (bst)

Pemberian Kitab Injil Diprotes


Warga Pulau Gili diresahkan dengan pemberian kitab injil di sejumlah dhurung elmo. Pemberinya, seorang turis asing yang datang ke Pulau Gili. Warga merasa terlecehkan dan berharap pihak berwajib untuk melakukan proses hukum.

Camat Sangkapura Abdul Adim membenarkan adanya temuan kitab injil kepada pengelola dhurung elmo di Pulau Gili. "Sekarang barang buktinya berupa kitab injil dan 3 buku untuk anak-anak sudah diamakan di balai desa Sidogedungbatu,"katanya.

Selanjutnya Adim berjanji dalam waktu dekat akan mengumpulkan seluruh instansi terkait termasuk guide yang membawanya ke Pulau Gili.

Musyayana owner Bawaan Tourism mengatakan kitab injil yang diserahkan kepada pengelola dhurung elmo diluar dugaan.

Mereka menyerahkan sendiri dengan mengeluarkan dari dalam tasnya, tanpa ada pemberitahuan. "Jika mengetahui tentu kitab tersebut tidak akan diberikan, apalagi kitab injil,"tegasnya.

Adapun jumlah wisatawan yang berkunjung saat itu ada 6 orang turis asal Amerika dan 5 orang pendamping berasal dari Surabaya.

Menurutnya pemberian buku untuk bahan bacaan di dhurung elmo sudah dilakukan selama 2 tahun lamanya. "Selama ini tidak ada permasalahan dan berjalan lancar,"paparnya.

Menindaklanjuti hasil temuan, pihak Polsek Sangkapura sudah melakukan pemeriksaan kepada pihak guide yang membawanya ke Pulau Gili.

Selain itu UPT Pariwisata Bawean juga memanggil pihak guide untuk dimintai keterangan. "Sudah dipanggil, mereka mengaku tidak ada unsur kesengajaan dalam pemberian injil di Pulau Gili,"pungkas Imran Rasyidi kepala UPT Pariwisata Bawean. (bst)

Warga Belajar Ternak dari Mahasiswa KKN UGM


Kehadiran mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa Pariaman Tambak mandapatkan sambutan hangat dari warga.

Kafil Kamsidi kepala desa Paromaan mengatakan mahasiswa UGM melaksanakan KKN di wilayahnya sebanyak 30 orang, ditempatkan di dusun Tanah Merah, Sumber Waru dan Gunung Desa. "Mereka langsung membaur bersama masyarakat,"katanya.

Menurutnya mahasiswa yang KKN ternyata dari berbagai jurusan sehingga warga bisa belajar kepada kepadanya. Diantaranya ada jurusan kesehatan, jurusan pertanian, jurusan perikanan, jurusan perternakan dan lain-lain.

"Warga bisa belajar banyak, seperti perternakan dimanfaatkan untuk belajar cara berternak yang baik,"ujarnya.

Kafil Kamsidi mengaku gembira atas dipercayanya oleh UGM dijadikan tempat KKN. "Sudah empat kali KKN dari mahasiswa UGM di desa Paromaan,"pungkasnya. (bst)

Penilai The Sunan Giri Award Kunjungi Bawean




The Sunan Giri Award Ajang apresiasi bagi desa-desa dengan tingkat layanan publik memuaskan, tengah bergulir. Sejumlah penilai dibawah komando bagian organinisasi dan tata laksana (Ortala) telah menandatangi desa-desa yang termasuk dalam nominasi. Diantaranya desa Kotakusuma dan desa Sungairujing di kecamatan Sangkapura dan desa Kepuhlegundi di kecamatan Tambak..

Kedatangan penilai ini disambut aparat desa dengan melihat langsung pelayanan kepada warganya. Diantaranya pelayanan warga seperti membuat KTP, KK dan lain-lain.

Siri Rahayu Kasubag tata laksana Ortala kabupaten Gresik mengatakan The Sunan Giri Award (SGA) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelayanan bermutu kepada masyarakat. Merupakan ajang penghargaan bagi desa yang memiliki tingkat kualitas pelayanan publik terbaik.

Kedatangannya ke Bawean untuk melakukan pernilaian bagi desa yang mewakili untuk mengikuti The Sunan Giri Award. "Melihat langsung pelayanan desa kepada warganya, serta menyerap aspirasi tingkat kepuasan ataupun kekurangannya yang hasilnya akan digabungkan untuk pernilaian,"ujarnya.

Adapun aspek pernilaian yang dilakukan diantaranya kualitas layanan dan transparansi, serta visi misi desa, termasuk sumber dayanya. "Acuannya permenpan nomor 38 tahun 2012,"katanya.

Lebih lanjut Siri Rahayu menyatakan The Sunan Giri Award akan menjadi stimulus bagi peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat yang ada di desa. Karena desa termasuk ujung tombak pelayanan kepada warga sehingga diperlukan adanya pelayanan publik yang baik.

Zurron Arifin Kasubit Diklat Penjenjangan Struktural BKD Gresik menyatakan The Sunan Giri Award diharapkan bisa memicu pemerintah desa jadi inovatif dan kreatif dalam pelayanan publik kepada warganya. Seperti adanya pelayanan sejak pertama menyambut warga, lalu kelengkapan informasi, termasuk adanya SOP dan kotak saran.

Abdul Adim Camat Sangkapura menyambut baik adanya tim SGA yang melakukan pernilaian di daerahnya. Harapannya pernilaian ini bisa memicu desa untuk pelayanan publik baik kepada masyarakat. (bst)

Tak Ada Anggaran untuk Pariwisata Bawean


Ini sebuah kenyataan yang mengagetkan terkait pembangunan sektor pariwisata Pulau Bawean. Ternyata, tak ada anggaran dari pemerintah daerah Gresik yang teralokasi untuk wisata Bawean. Sehingga mustahil kedepan wisata Bawean berlari kencang.

Kepala UPT Pariwisata Bawean Imron Rosyadi mengaku kelemahan UPT Pariwisata di Pulau Bawean disebabkan tidak ada alokasi anggaran dari Pemerintah Kabupaten Gresik.Akibatnya UPT Pariwisata Bawean terbatas untuk melaksanakan kegiatan. "Kemungkinan baru mendapatkan anggaran pada tahun 2017, itupun bersumberkan dari Provinsi Jawa Timur bukan dari Pemerintah kabupaten Gresik,"jelasnya.

Subhan sebagai pemandu wisata di Pulau Bawean mengaku sangat terkejut setelah mengetahui tidak ada anggaran untuk pengembangan pariwisata di Pulau Bawean.

Semestinya pemerintah kabupaten Gresik menggrojok anggaran sebesar-besarnya untuk pengembangan pariwisata di Pulau Bawean. “Apalagi sambutan wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Bawean mulai meningkat,"ujarnya.

Ini bisa dibuktikan banyaknya wisatawan yang berkunjung. Sebaiknya wisatawan ini tidak dikecewakan lantaran mendapati obyek wisata yang kurang merasa mendapat perhatian.

Sebelumnya anggota DPRD Jatim, Thoriqul Haq yang menjabat sebagai ketua komisi D mengaku prihatin setelah melihat kondisi obyek wisata di Pulau Bawean. "Semestinya UPT Pariwisata Bawean proaktif dalam pengembangan wisata di Pulau Bawean,"pungkasnya. (bst)

Guru MDU Juara I Lomba Foto Obyek Wisata Bawean






Beny Faza Alfafa Tambak yang berprofesi sebagai guru di MDU Zainiyah Tambak ditetapkan sebagai juara foto obyek wisata Pulau Bawean tahun 2016. Hasil karyanya, menyingkirkan karya dari 140 peserta. Lomba ini digelar dijejaring sosial grup Pulau Bawean.

Pria berusia 25 tahun ini menyukai fotografi sejak setahun yang lalu. Hampir seluruh obyek wisata yang ada di Pulau Bawean sudah dikunjunginya. "Koleksi foto obyek wisata di Pulau Bawean sudah tersimpan semua,"katanya.

Adapun kecintaan mengabadikan keindahan Pulau Bawean sejak bergabung dengan komunitas u-turn Explorer. "Komunitas ini merupakan gabungan anak muda yang sebagian besar anggotanya pendidik di sekolah,"ujarnya

Keahlian memfoto bukan hasil belajar di sekolah tapi hasil dari praktek langsung di lapangan yang hasilnya didiskusikan untuk mengetahui kekurangannya.

Pertemuan setiap seminggu sekali dimanfaatkan oleh Beny Faza Alfafa untuk tukar pengalaman dalam dunia fotografi. "Hasilnya sudah terbukti bisa menjuarai lomba foto obyek wisata Pulau Bawean tahun 2016,"paparnya.

Selain itu komunitas u-turn Explorer mempunyai kegiatan sosial seperti berkunjung ke rumah warga yang miskin untuk memberikan bantuan. "Setiap hari minggu rutin menggelar kegiatan menjelajahi Pulau Bawean,"akunya.

Soal sampah, menurutnya sebelum berangkat sudah membawa kantong plastik untuk memungut sampah ditengah jalan, termasuk obyek wisata di Pulau Bawean. (bst)

Juara I mendapatkan hadiah pulsa senilai Rp.200 ribu dan Juara II memperoleh hadiah pulsa Rp.100 ribu. Hadiah diberikan oleh Bawean Tourism sebagai sponsor lomba foto obyek wisata Pulau Bawean tahun 2016.

Pokmaswas Hijau Daun Juara I Evaluasi Se Jawa Timur




Hasil pernilaian tim evaluasi untuk pokmaswas bidang Pelestarian Sumber Daya Perairan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur menetapkan Pokmaswas Hijau Daun sebagai pemenang juara I.

Sebagai gajarannya Pokmaswas Hijau Daun mendapatkan piagam penghargaan dan hadiah, serta berhak mengikuti evaluasi Pokmaswas tingkat nasional tahun 2016.

Ketua Pokmaswas Hijau Daun Subhan membenarkan kelompoknya terpilih juara I dalam mengikuti evaluasi Pokmaswas tingkat Jawa Timur. Kemenangan ini menjadi tantangan besar untuk sukses dan berhasil meraih tingkat nasional mewakili Provinsi Jawa Timur. "Seluruh kelompok merasa bersyukur atas kinerjanya selama ini sudah dibuktikan melalui kesuksesan saat mengikuti evaluasi,"katanya.

Adapun untuk mengikuti evaluasi tingkat nasional, pihaknya sudah melakukan perbaikan atas kekurangan yang ada. "Setiap saat tim melakukan aktivitas bersama untuk meraih yang terbaik,"ujarnya.

Abdul Aziz kepala desa Daun merasa bangga atas prestasi yang diraih Pokmaswas Hijau Daun. Ini bukti atas keberhasilan warganya dalam melakukan kegiatan pelestarian lingkungan pesisir. Kekompakan dan kesolidan Pokmaswas Hijau telah menyelamatkan lingkungan seperti terjadinya abrasi pantai. "Banyak sawah warga yang sebelumnya terancam hilang, ternyata sekarang sudah bisa dijadikan lahan untuk bercocok tanam,"paparnya.

Sementara Abdul Adim Camat Sangkapura mengapresiasi atas keberhasilan Pokmaswas Hijau Daun meraih prestasi terbaik tingkat Provinsi Jawa Timur. "Harapannya, daerah yang lain bisa mencontohnya dalam rangka pelestarian di wilayah pesisir Pulau Bawean,"harapnya.

Sesuai janjinya Camat Sangkapura akan mengikutsertakan Pokmaswas Hijau Daun mengikuti seleksi pemuda pelopor dari wilayahnya.

Sutadi Trikomadiyono kepala UPT Pelabuhan dan Konservasi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Bawean berharap prestasi yang diraih oleh Pokmaswas Hijau Daun bisa menumbuhkan kelompok yang lain dalam rangka pengembangan Pulau Bawean sebagai tujuan pariwisata di Jawa Timur. (bst)

Usulkan Reklamasi untuk Perpanjangan Run Way Bandara Harun Thohir


Camat Tambak Narto mengusulkan reklamasi pantai untuk perpanjangan run way bandara Harun Thohir Pulau Bawean. Reklamasi dinilai opsi terbaik untuk menghindari dampak sosial kepada masyarakat.

Sesuai data perpanjangan run way bandara Harun Thohir memerlukan panjang 318 meter dan lebar 130 meter. Sedangkan rumah yang harus dibebaskan sebanyak 140 petak termasuk bangunan masjid. 

“Setelah dilakukan pengukuran kedalaman sisi barat dengan timur seimbang dan kedalaman air laut rata-rata 0,5 meter sampai 1 meter untuk perpanjangan 500 meter,” jelas Narto.

Menanggapi usulan camat Tambak, kepala Unit Penyelenggaraan Bandara Kelas III Trunojoyo Wahyu Siswono menyatakan mustahil usulan itu bisa diterima. Landasan pacu pesawat harus menggunakan struktur tanah yang kuat. Sedangkan reklamasi tentunya tanah masih labil dan berisiko untuk pesawat terbang.

"Seperti di bandara Ngurah Rai Bali itu bukan untuk landasan pacu yang menggunakan reklamasi, hanya bagian pendukungnya saja,"pungkasnya. (bst)

Merotan Paham PKI


Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sangkapura) 

Kabar kebangkitan kembali organisasi garis merah PKI bukan sekadar isapan jempol belaka melainkan sudah menampakkan tanda-tandanya. Lewat penerbitan buku-buku berpaham Marxisme dan simbol-simbol ke-PKI-an kini mulai menyebar di emper-emper trotoar terselubung. Sebagai partai peserta pemilu di masa orde lama, PKI- yang progresive revolusioner, genius, dengan organisasi yang modern dengan anggota yang tidak kuang dari 2 juta orang apabila diselenggarakan pemilu (di masa orla dulu) pasti akan keluar sebagai pemenang (Aminuddin Kasdi, dalam kata pengantar). Sebagai pemicu tergesanya para pengurus teras PKI untuk melakukan gerakan bak gerakan setan itu dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama. Pertama, isu santernya Ir. Soekarno sakit serius. Kedua, adanya rencana coup Dewan Jenderal (menurut pandangan PKI). Ketiga, adanya ”perwira progresif” untuk (mengkanter,red) rencana isu gerakan dewan jenderal. Di situlah PKI memainkan peran lihai dan ”cantik”-nya menurut gaya PKI untuk melakukan aksi brutal demi memenuhi hasrat hawa nafsunya dalam mengambil alih kekuasaan dari pemerintah yang syah. Bahkan, dulu DN Aidit (DN: Dipo Nusantara) sudah membuat pernyataan resmi bahwa bila melalui parlemen PKI tidak bisa mengambil alih kekuasaan harus melalui perkelahian. Sekarang, bila bangsa Indonesia mendengar pernyataan DN Aidit sampai segitunya maka akan digerami pula dengan semboyan lantang hingga titik darah penghabisan. ”Itu dulu Aidit, sekarang langkahi dulu seluruh mayat bangsa ini”.

Sebagai bentuk kesengajaan dalam memberikan pencerahan tentang hakikat paham komunis, perlu kiranya dimaktubkan secara menyeluruh esensi dari aliran komunis. Sebuah kisah dua orang dalam pergaulan hidupnya di sebuah sawah atau di tempat kerjanya. Maklumat ini mempermudah untuk memahamkam ajaran komunis yang mestinya harus membaca buku tebal tulisan Marxis, dan sejenisnya dengan ajaran intinya sama rata sama rasa. Perhatikan fragmen cerita di bawah ini. Kisah tersebut di bawah dicupik dari potongan kisah dari Novel berjudul Kubah karya Ahmad Tohari.

Suta dan Naya sedang beristirahat di pematang sawah sesudah mereka penat mencangkul. Mereka masing-masing memiliki uang lima rupiah. Suta mengusulkan agar uang milik mereka digabungkan untuk membeli sebatang rokok. Naya pergi ke warung yang terdekat , dan pulang kembali dengan sebatang rokok di tangannya. Baik Suta maupun Naya tidak menduga mereka akan terlibat pembicaraan yang seru tentang bagaimana mereka dapat menikmati rokok yang hanya sebatang itu secara adil, sebenar-benarnya adil. Pertama-tama mereka berdebat tentang siapa yang hendak mengisap rokok itu lebih dulu. Naya bersikeras dialah yang pantas menikmati rokok itu lebih dulu karena dia yang pergi membelinya. Alasan Naya dibantah oleh Suta. ”Tidak bisa. Aku yang mempunyai ide untuk membeli rokok itu. Untung kalau aku menganggap nilai ide yang kukeluarkan setara dengan tenagamu untuk membeli rokok itu”.

”Kalau begitu,” usul Naya ”Siapa yang mengisap lebih dulu dapat kita tentukan dengan undian. Kemudian kita merokok silih berganti, dengan menghitung jumlah isapan kita.”

”Kau ini bagaimana?” Badanmu lebi besar dari badanku. Jelasnya, rongga mulut dan paru-paru kita tidak sama. Bagaimana cara menakar isi isapan kita? Lebih baik kita potong saja roko itu menjadi dua.”

”Kau tidak lebih pintar dari aku. Kau tahu caranya menentukan titik yang tepat untuk memotong rokok itu? Ingat, rokok itu kecil pada ujung yang satu dan besar pada ujung lainnya.”

”Nah, sekarang kita harus membuka kertas yang menggulung rokok sialan itu. Tembakonya kita uraikan, lalu kita bagi dua.”

”Lalu kita percuma membeli rokok, karena kita tak punya kertas untuk menggulungnya kembali. Lagi pula tak ada timbangan yang akan menjamin bagian-bagian kita sama berat. Usulku yang terakhir ialah mengembalikan rokok itu ke warung. Uang lima rupiah akan kembali kepada kita masing-masing. Beres.”

”Ya aku seuju. Siapa yang akan kembali ke warung?”

”Ya Tuhan, kau ini bagaimana.” Seru Naya.

”Tentu saja kaulah orangnya. Pelajaran yang baru kuterima darimu ialah menghargai ide-ide.Aku yang mempunyai ide mengembalikan rokok ini. Jadi kau yang harus membayarnya dengan jalan mengeluarkan tenaga untuk berjalan ke warung.”

Dahi Suta berkerut-kerut ketika ia berjalan ke warung. Ada suara terdengar dalam hatinya sendiri. Suara itu menertawakannya. Suta ragu-ragu dan berhenti. Tiba-tba ia berbalik. Dijumpainya Naya masih duduk di pematang (Bawean: tabun sawah). Cepat Suta mengeluarkan rokok itu, lalu diselipkannya di antara kedua bibir Naya. Sebuah geretan dinyalakan.

”Isaplah.” Kata Suta. ”Aku belakangan, sesudah kau ikhlas menyerahkan sisanya kepadaku. Atau kau boleh menghisapnya sampai habis bila kau berani mengkhianati hati nuranimu sendiri. Percayalah aku akan bersikap ikhlas.”

Sambil berjalan di pematang , Naya menikmati rasa tembakau yang sudah lama dirindukannya. Tetapi setelah beberapa kali isapan ia sadar, sungguh tidak bijaksana menikmati rokok itu terlalu lama sementara Suta yang berjalan di belakangnya sama-sama haus tembakau.

”Nah, tiba giliranmu sekarang. Seharusnya kau lebih pantas menghabiskan rokok itu seorang diri. Saya tahu kau pecandu tembakau. Dengan demikian aku akan membuat hatimu senang, dan itu suatu kebaikan.”

Suta menerima rokok yang masih panjang itu. Mereka berjalan pulang. Di dalam hati keduanya sepakat: tak mungkin menjabarkan arti kata adil biar sekecil apa pun, kecuali dengan hikmah. (Kubah, karya Ahmad Tohari, 84-87).

Tanpa harus membaca bertebal-tebal buku tentang ajaran komunisme sudah tercermin dalam penggalan Novel yang di tulis oleh Ahmad Tohari di atas. Keadilan yang dimaui oleh PKI adalah keadilan menurut rasio atau akal semata. Dalam ukuran manusia dengan kepintaran akalnya yang ditunggangi hawa nafsu tentu sulit menerima keadilan bila tidak dengan hikmah. Adil tidak harus sama rata tetapi adil menurut porsi dan kebutuhannya. Adil yang hakikatnya adalah sama secara arif dan bijaksana.

Pengaruh paham inilah PKI melakukan internalisasi nilai-nilai komunisme melalui kegiatan pencucian otak kader-kader baru PKI. Termasuk kasus beberapa tahun silam di era 60-an paham PKI menyelinap di Pulau Bawean. Menurut tuturan para pelaku sejarah lewat anggota Badan Otonomi Nahdhatul Ulama yakni Barisan Serba Guna (Banser) Sangkapura bahwa ajaran PKI telah menyusup secara terselubung. Salah seorang komandan Koramil bernama Kambean di era 60-an disinyalir berpaham komunis atau PKI. Termasuk menteri kehutanan bernama Paeran telah merasuki salah seorang warga dusun di kawasan barat Kota Sangkapura dengan memberikan beberapa kemudahan berupa alat-alat pertanian dan keperluan lainnya. Sebagai warga Sangkaura, Bapak Kurdi yang tekun beribadah runtuh juga keyakinannya. Beliau termakan hasutan orang genius dengan kekuatan retorika akal bulusnya para anggota PKI akibatnya beliau sudah tidak bisa diajak kebali kepada keyakinan semula sebagai pemeluk Islam yang teguh secara dhahirnya. Hal ini akibat kekuatan pengaruh yang ditanamkan oleh Paeran yang lebih cerdik dari sisi intelektual dan pendidikannya yang berpaham komunis (PKI) itu. Ini menjadi pelajaran bagi semua warga Pulau Bawean agar mewaspadai munculnya paham komunis yang sepintas nampak berpihak ke rakyat proletar atau rakyat jelata tetapi hakikatnya para anggota PKI memanfaatkan untuk kepentingan diri demi pemuasan hawa nafsunya.

Malam sekitar pukul 11.00 WIB pasukan Banser melakukan sweeping atau razia dari sebuah penyimpangan akidah bagi mereka yang ditengarai kemasukan paham PKI. Dibawa komando Bapak Muhammad Husen Hawafi atau nama familiarnya Pak Gungseng (Almarhum) dan kawan-kawan Banser lainnya malam itu melakukan gerakan sapu bersih terhadap oknum-oknum yang disinyalir berhaluan PKI. Jadi, perlu diluruskan kembali bahwa Bahwa Bapak Muhammad Husen Hawafi diberitakan sebagai tokoh penyembelih PKI itu tidak benar tetapi beliau cukup memanfaatkan rotan atau penjalin milik Bapak Munfaat Pateken untuk membuat paham PKI melayang atau tak berkutik. Kedapatan malam itu Pak Kurdi di rumahnya di kawasan barat Kota Sangkapura diminta untuk kembali ke ajaran yang benar. Bahkan Pak Kurdi disuruh membaca dua kalimat syahadat. Akhirnya, oleh salah seorang pasukan Banser ditikam dengan belati. Begitu tajam dan lancipnya ujung belati belum mampu menembus dada Pak Kurdi. Berbagai macam usaha belum mampu menggoyahkan keyakinan Pak Kurdi untuk kembali ke jalan yang benar karena ajaran PKI atau komunis telah mendarah daging pada dirinya atas ketidak pahamannya terhadap esensi gerakan PKI itu sendiri. Pengaruh akal bulus oknum PKI itu merasuk ke dalam diri Bapak Kurdi-yang notabene kegeniusannya di bawah mereka.

Kegusaran malam itu semakin membara di hati para pasukan Banser untuk melakukan penyelesaian terbaik dan terakhir agar paham itu tidak sampai menjalar ke masyarakat awam pada umumnya. Jika di Bawean dulu terdapat wadah yang menamakan kelompok Barisan Tani Indonesia (BTI) itu karena tidak mengertinya mereka dengan jargon-jargon PKI yang sepintas menggiurkan dan memihaknya. Di balik itu mereka (PKI) tidak suka dengan kemapanan sebagai sebuah usaha dari setiap individu. Nasib manusia harus dikebiri menurut selera dan keinginannya sendiri. Setelah mengalami kebuntuan usaha untuk menghabisi paham yang diajarkan Paeran kepada Pak Kurdi, pasukan Banser mengedepankan sebuah penjalin atau rotan milik Bapak Munfaat Dusun Pateken Desa Kotakusuma Sangkapura Gresik sebagai senjata pamungkas yang cukp mematikan. Sedepah penjalin ’jasakan’ dari pondok pesantren Tebu Ireng Jombang mampu mengakhiri hidup Pak Kurdi di tengah sawah sebelah selatan dari salah satu dusun dibelahan barat Kota Sankapura Kabupaten Gresik di zaman gawat-gawatnya paham PKI masuk ke Pulau Bawean.

Salah satu yang melatar belakangi penulisan sejarah masa lalu ini adanya fenomena kebangkitan kembali PKI yang disiarkan di acara salah satu televisi Nasional. Bahkan penulis merasa turut prihatin mendengar pernyataan Kivlan Zein: Dua Minggu Lalu PKI Telah Mendeklarasikan Kebangkitannya (www. huntnews.id). PKI di negara asalnya Rusia, Unisovyet, Tingkok, tinggal korut sisanya, semua sudah runtuh, kenapa di Indonesia mau bangkit kembali. Betapa mahalnya harga darah tujuh jenderal dan korban pembantaian lainnya oleh PKI. Kita juga tidak perlu balas dendam. Sebagai bangsa yang berjiwa besar mari kita songsong bersama kemajuan dan kesejahteraan sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan berwibawa di mata dunia. Jadikanlah Pancasila sebagai landasan negara tanpa harus merasuki dengan paham-paham yang akan merong-rongnya. Ingat, masa lalu sebagai cerminan, masa kini sebagai pijakan, dan masa depan sebagai harapan. Jangan memancing penjalin atau rotan Bawean untuk berbicara kembali. Jika masih mau mencoba-coba merong-rong kembali khususnya keyakinan warga Pulau Bawean, warga akan merotan paham PKI kembali. Akhirnya, PKI mati di ujungnya.

Kapolsek Tambak Kampanye Anti Narkoba




Kegiatan masa orientasi siswa (MOS) dimanfaatkan Kapolsek Tambak AKP Winaraji untuk penyuluhan anti narkoba. Seperti yang terlihat di SMA Islamiyah, dihadapan siswa baru Winaraji mengajak menghindari apalagi sampai mengkonsumsinya.

“Jika terbukti memiliki atau menggunakannya akan diproses hukum,” katanya.

Menurutnya narkoba merupakan musuh kita bersama, tersangka kasus narkoba banyak menerima hukuman berat.

Lebih lanjut Kapolsek Tambak mengharap wilayahnya zero narkoba. "Jangan sampai barang haram beredar di kecamatan Tambak, jika ada yang tahu silahkan lapor"tegasnya.

H. Abdul Khaliq kepala SMAN Islamiyah mengatakan penyuluhan oleh Kapolsek Tambak merupakan pendidikan kepada siswa agar menjauhi narkoba. "Melalui kegiatan ini diharapkan siswa memahami aturan hukum tentang narkoba, serta menghindarinya,"pungkasnya. (bst)

Ponpes Hasan Jufri Mutasi Pimpinan Lembaga Pendidikan


Memasuki tahun pelajaran baru 2016-2017, Yayasan Pondok Pesantren Hasan Jufri menetapkan sebagai tahun adiwiyata dan keterbukaan. Semua lembaga yang ada di bawah naungan YPP, Hasan Jufri harus berwawasan lingkungan dan mengedepankan sikap egaliter.

Ini dibuktukan dengan reformasi internal pimpinan lembaga. Ditunjuk sebagai kepala madrasah Tsanawiyah yang baru yaitu Muqri, S.Pd. Sebelumnya Muqri koordinator ICP MTs Hasan Jufri selama 5 tahun. Ia didampingi Nurul Mutaqinah (waka kurikulum), Bapak Fikri (waka kesiswaan) dan R. Zubaidi (waka sarpras).

Sedangkan Kepala Madrasah Aliyah Hasan Jufri baru dijabat Mohamad Nazarudin, M.Pd. Sebelumnya, dia Kepala MTs Hasan Jufri selama dua periode (10 tahun). Ditunjuk sebagai kepala SMK adalah Saenawi.SE, M.Pdi.

Sekretaris YPP. Hasan Jufri, Ali Asyhar menyatakan pergantian ini hasil evaluasi periodik 5 tahunan. “Ini adalah pilihan terbaik. Kita sedang menyongsong era adiwiyata dan keterbukaan Pulau Bawean,” katanya.

Pulau ini akan menjadi alternatif bagi pendidikan di Jawa Timur khususnya. Contoh nyata adalah bahwa sudah ada puluhan siswa Hasan Jufri yang berasal dari daratan Jawa. Mereka memilih Bawean karena aman, nyaman dan religius” terangnya. (bst)

Keluhan Pengusaha di Pulau Bawean


Penerapan peraturan menteri perhubungan RI PM Nomor 23 tahun 2012 meresahkan kalangan pengusaha di Pulau Bawean. Aturan yang melarang KMP Gili Iyang mengangkut barang curah dinilai menghambat laju ekonomi daerah. “Penerapan aturan tersebut akan menciptakan ongkos ekonomi tinggi,” kata ketua Gabungan Pedagang Bawean (GPB), Ir. H. Syariful Mizan.

Semestinya aturan tentang pengangkutan KMP Gili Iyang diterapkan sejak awal beroperasinya. Sehingga tidak merusak denyut ekonomi yang telah berjalan. “Kami telah merasakan banyak manfaat dan efisiensi telah tercipta dengan adanya KMP Gili Iyang,” katanya.

Ini lantaran jadwal keberangkatan kapal sudah pasti tidak menunggu lama. Selain itu barang yang diangkutnya diasuransikan, serta ongkos barang juga hampir sama dengan perahu motor.

"Jika aturan barang yang dimuat harus menggunakan kendaraan, dipastikan pemilik barang tidak akan mampu,"terangnya.

Hal senada diungkapkan Beny Faza pemilik toko bangunan olleh naber di Tambak, menyatakan aturan tidak boleh memuat barang tanpa kendaraan telah merugikan kepada pengusaha di Pulau Bawean.

Apalagi beberapa kali kejadian barang yang dimuat KLM tenggelam tanpa ada ganti rugi sehubungan tidak ada asuransinya.

Sesuai aturan baru terkait pengangkutan barang, KMP Gili Iyang mengeluarkan pemberitahuan bahwa mulai 20 Juli 2016 tidak memuat barang curah yang diturunkan dari kendaraan, pengangkutan barang diharuskan menggunakan kendaraan. (bst)

Jadwal Terbang Diminta Segera Ditambah


Animo masyarakat Pulau Bawean menggunakan memanfaatkan jasa transportasi udara sangat tinggi. Ini dibuktikan dengtan penuhnya slot kursi penumpang pada jadwal penerbangan tambahan saat lebaran.

Kepala Unit Penyelenggaraan Bandara Kelas III Trunojoyo Wahyu Siswono membenarkan pemerintah merespon animo ini dengan upaya menambahan jadwal penerbangan. Saat ini masih diusahakan adanya penambahan frekuensi penerbangan sebanyak 3 kali dalam seminggu. "Kemarin saja waktu penambahan untuk lebaran, penumpang tujuan Bawean penuh,"katanya.

Sebagai pengelola bandara Harun Thohir, pihaknya berharap agar pemerintah pusat menyetujui dengan menggunakan sisa anggaran yang ada.

Disinggung soal perpanjangan run way, Wahyu Siswono mengaku sudah menyerahkan master plan dalam bentuk draf kepada pemerintah Kabupaten Gresik. "Sambil berjalan, pihak pengelola menyelesaikan master plan, sedangkan pemerintah daerah harapannya bisa segera menyelesaikan pembebasan lahan,"terangnya.

Merespon tingginya harapan masyarakat Pulau Bawean untuk menggunakan transportasi udara, Mazlan Mansur asal Pulau Bawean yang kini menjadi anggota DPRD kota Surabaya berharap agar frekuensi penerbangan ditambah karena pemintaan warga Pulau Bawean.

Selain itu, politisi dari PKB berharap agar perpanjangan run way segera direalisasikan agar pesawat terbang yang melayaninya bisa membuat penumpang dengan kapasitas lebih banyak lagi.

Mazlan optimis dengan penambahan frekuensi penerbangan ataupun perpanjangan run way akan memperoleh respon tinggi dari warga Bawean sehubungan transportasi udara termasuk solusi saat jalur laut terputus. Selain itu juga menunjang kemajuan perekonomian tahan kelahirannya, termasuk kemajuan sektor pariwisata. (bst)

Jeritan Guru Sukwan Non K2 di Pulau Bawean


Guru sukwan non K2 yang mengajar di sekolah dasar negeri merasa dianaktirikan. Ini terkait dengan begitu kecilnya honor yang diterima, tak sepadan dengan beban kerja.

Salah satunya, Zakariyah sebagai guru olahraga di SDN II Lebak Sangkapura mengaku sudah 11 tahun mengajar. Honor sebulan yang diterima Rp. 300 ribu. "Sungguh ironis nasib guru sukwan, sudah lama mengajar ternyata pendapatan yang diterimanya sangat minim,"katanya.

Minimnya honor ini membuatnya merasa tak mendapat perhatian dari pemerintah. Dia berharap ada tunjangan khusus dan tunjangan fungsional guru. "Sampai kapan nasib guru seperti saya dapat perhatian, padahal mengajar setiap hari di sekolah,"ujarnya.

Lebih lanjut Zakariyah mengungkapkan sebenarnya banyak guru sukwan non K2 yang senasib dengannya, tapi mereka takut untuk bersuara. "Khawatir dapat intimidasi ataupun terancam dikeluarkan sebagai guru di sekolah,"paparnya.

Jika dibanding nasib buruh bangunan, nasib guru lebih memprihatinkan sehubungan pendapatannya sebulan hanya Rp.300 ribu. Padahal tugas sebagai guru mencerdaskan anak bangsa.

Jika berfikir untuk diangkat sebagai guru PNS, Zakariyah mengaku pesimis sehubungan umurnya sekarang sudah 34 tahun. "Hanya pasrah saja, padahal sudah lama mengabdi sebagai guru di sekolah,"keluhnya.

Selain itu, Zakariyah mengaku masih berfikir-fikir untuk menikah sehubungan kecilnya pendapatan sebagai guru. "Jika menikah, nantinya isteri dan anak mau diberi makan apa bila pendapatan sebulan hanya Rp.300 ribu,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean