Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

PEMUBAZIRAN KEPLEK PNS, Antara Ekslusivisme dan Kepatuhan




Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMAN 1 Sangkapura)

Alangkah anggun dan bersahajanya melihat abdi negara (PNS) berseragam dengan atribut kelengkapannya. Salah satu atribut yang dibuatkan Pemerintah Kabupaten Gresik yang masih hangat terasa adalah atribut berupa Keplek atau ID (Identity) yang akan dikenakan oleh para pelayan publik di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gresik. Sayang seribu sayang, nasib Keplek terkulai layu karena keengganan para PNS untuk mengenakan dengan terlalu banyak pertimbangan. Padahal, untuk menjadi PNS bukan jalan yang mudah, bila perlu harta dan ‘nyawa’ dipertaruhkan dalam menempuh tahapan sebagai syarat dan ketentuan.

Dulu, waktu proses pembuatan Keplek, khususnya di lingkungan dinas Pendidikan dan Kebudayaan begitu antusias dan bernafsunya para guru PNS mengikuti tahapannya. Mulai proses pengantrean, pengisian biodata, pemotretan, hingga menunggu tahap penyelesaian. Bahkan, penulis sendiri sempat berceloteh dengan melontarkan pertanyaan di luar program rekanan Pemda Gresik yakni menanyakan arti dari istilah dalam foto-fotoan “10 R” itu apa? Pertanyaan “nyeleneh” itu tidak terjawab oleh sang juru potret dari rekanan pemda tersebut. Hanya senyum renyah dan semringah yang mengepul di ruang serba guna dari Kantor Unit Pelayanan Teknis Dinas Pendidikan Kecamatan Sangkapura kala itu. Benar-benar kura-kura di luar perahu.

Mestinya, para PNS harus tetap memiliki hasrat ingin tahu dan ingin maju. Bukan merasa cepat puas setelah terangkat menjadi PNS. Bahkan, untuk mengenakan Keplek PNS yang sudah diberi cuma-cuma oleh pihak Pemerintah Kabupaten Gresik menjadi barang rongsokan yang terjerembab ke dalam sikap dan perilaku pemubaziran. Untuk di tingkat sekolah yang mengenakan kebanyakan adalah kepala sekolahnya. Sedangkan, bawahannya yang notabene juga PNS hampir tak terlihat pemakaiannya. Apa memang demikian aturan dan kebijakannya? Jika memang demikian, untuk apa bawahan ikut-ikutan berfoto dan mengisi biodata beberapa waktu lalu? Buang-buang uang negara saja.

Memang sedikit ada perasaan yang selalu “menyetani” atau “menggoda” perasaan para PNS di kalangan pendidik untuk tidak mengenakan keplek tersebut. Dalam dirinya masih berkecamuk rasa wujud sikap eklusivisme yakni merasa riskan atau sungkan dan malu-malu dipandang masyarakat sekitar sebagai sikap lain dari yang lain. Atau mungkin ada rasa kurang PeDe (Percaya Diri) bahwa dirinya jadi PNS berkat jasa atau karena merasa berhutang budi kepada pihak tertentu. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Semua resmi dengan SK yang sudah syah dari pemerintah daerah, provinsi atau pusat. Walau demikian kenyataannya mengapa PNS khususnya kalangan guru tetap enggan untuk mengenakan keplek tersebut di waktu dinasnya? Mungkin jika diganti “rapek” putih tidak ada yang menolak sebagai seragam kebesaran setelah dikalang tanah. Tentu boleh berujar “ Selamat tinggal keplek dan selamat datang rapek”. Mau tidak mau dan harus mau untuk memakai rapek (kafan) saja.

Penulis pun terus mengamati dengan saksama sebagai wujud usaha mencari bukti bahwa pucuk pimpinan di tingkat kecamatan juga pakai. Mulai Camat Sangkapra, Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Sangkapura, pegawai Bank Jatim, Kepala-kepala sekolah SD, SMP dan SMA , serta yang sederajat mau mengenakan keplek PNS yang dibuatkan oleh pihak Pemda Gresik melalui rekanan yang juga pakai uang negara. Termasuk kepala instansi pemerintah lainnya pun juga pakai. Tinggal para bawahan yang aras-arasan untuk memakainya. Sehingga tidak terkesan pembuatan keplek ini benar-benar bukan proyek main-main atau lelucon yang tidak butuh tertawaan akibat prilaku pemubaziran.

Namun, berdasarkan pengamatan penulis pemakai keplek PNS di kalangan pendidik atau guru baru berkelebat di kalangan kepala sekolah khususnya di tingkat dasar, menengah, dan lanjutan. Entah mengapa hal itu terjadi. Mungkin saja mereka berasumsi bahwa keplek PNS akan dipakai bila kelak mereka sudah menjadi kepala sekolah. Rata-rata kepala sekolah di Bawean mengenakan keplek sebagai wujud keteladanan dari abdi negara. Namun, belum terekam oleh kamera penulis. Yang enggan mengenakan keplek itu adalah bawahannya. Mungkin bisa mencari tahu apa alasan yang menghantuinya sehingga bawahan tetap enggan untuk mengenakannya. Ini juga menjadi PR bagi kepala sekolah yang membawahi PNS di lingkungan kerjanya. Terutama bagi mereka yang tetap masih enggan mengenakannya.

Marilah belajar pada TNI-POLRI dengan gagah nan anggun memesona tanpa ada rasa ini-itu tetap mengenakan atribut kebesarannya walau kelihatannya ribet dengan segala atribut. Mereka tetap percaya diri sebagai abdi Negara. EGP aja! Tentang kedisiplinan dalam mengenakan atribut seragam PNS berupa pemakaian keplek terutama dari kalangan guru di Bawean menimbalah ilmu kepada TNI-POLRI. Jangan terlalu banyak pertimbangan, patuhlah pada aturan kepegawaian. Itu pun dikenakan saat PNS dinas, di luar itu monggo dilepas. Jangan memiliki pikiran yang terkungkung dalam kekerdilan karena terlalu diselimuti perasaan yang tak beralasan. Ingat firman Allah SWT yang artinya kurang lebih demikian “ Sesungguhnya prilaku pemubadziran itu adalah temannya setan”. PNS, terutama kalangan pendidik apa mau terus berteman dengan setan? Atau sebaliknya pihak pemda mempertimbangkan kembali pembuatan keplek PNS dari kalangan guru karena masih banyak yang enggan untuk memakainya. Ini bukan persoalan prestise melainkan aturan kepegawaian yang harus dilaksanakan sebagai wujud kepatuhan dan kepatutan. Tahun mendatang pihak Pemda Gresik perlu mengevaluasi ulang pembuatan keplek untuk PNS di Bawean. Padahal, tidak sedikit anggaran yang dibayarkan kepada rekanan Pemda Gresik dalam pembuatan keplek PNS. Atau pihak pemda lewat Dinas Pendidikan untuk melakukan sidak sebagai pembuktian atas masih banyaknya Guru PNS yang tetap enggan untuk mengenakan atribut keplek yang sudah dibuatkan oleh Pemda Gresik.

BCW Soroti Izin Tambang Pasir di Bawean


Maraknya penambangan pasir secara liar di kecamatan Tambak menjadi keresahan masyarakat. Direktur BCW LSM Nazar menanyakan soal izin tambang pasir itu yang di keluarkan BPMP Kabupaten Gresik . “Maraknya penambangan pasir ditengarai tidak memiliki perizinan,” kata Nasar

Aktivitas penambangan ini sebagain telah merusak lingkungan. Namun disisi lain sangan dibutuhkan masyarakat Pulau Bawean.

BCW LSM berharap pemerintah turun langsung sebagai pembina. Dengan demikian aktifitas penambangan bisa berjalan dengan payung hukum dan kontrol.

Jika tidak, akan seperti saat ini, penambangan secara liar tidak memperhatikan kerusakan lingkungan yang berdampak kepada warga sekitarnya.

Kepala Bidang Pelayanan BPMP Kabupaten Gresik Chandra Utama menjawab domain pertambangan kini ditangan pemerintah Provinsi Jawa Timur bukan Kabupaten Gresik.

Adapun merespon harapan warga Pulau Bawean terkait perizinan tambang, pihaknya siap untuk berkoordinasi sama pejabat terkait di Gresik agar berkomunikasi dengan pihak provinsi. (bst)

RS Umar Mas’ud Diminta Segera Beroperasi Tekan Kematian Bayi



Angka kematian bayi dalam kandungan di Pulau Bawean masih tinggi. Diduga salah satu penyebabnya, jauhnya jarak layaan medis untuk ibu hamil. “Perjalanan dari Pulau Bawean ke Gresik mempengaruhi keselamatan bayi didalam kandungan ibunya,” Kepala UPT Puskesmas Sangkapura dr. Tony S. Hartanto.

Dengan demikian pengoperasian rumah sakit, sangat dibutuhkan segera. Terutama untuk melayani ibu hamil yang akan melahirkan.

dr. Tony mengakui beberapa waktu lalu ada 2 orang ibu hamil yang bayinya meninggal dunia dalam kandungan. Penyebab pastinya memang belum bisa dijawab.

Sebenarnya ibu hamil di Pulau Bawean sudah dilayani bidan desa yang bisa kontrol ke Puskesmas Pembantu (Pustu) ataupun Polindes. “Mereka dilayani secara gratis tanpa dipungut biaya,” katanya.

Tapi persoalannya ibu hamil terkadang memeriksakan kandungannya bila akan melahirkan saja, sehingga petugas kelabakan. “Bagi mereka yang rutin melakukan kontrol selama 4 kali sejak hamil pertama, kelahirannya bisa diantisipasi,”paparnya. (bst)

BPMP Buka Loket di Kecamatan Tambak


BADAN Penanaman Modal dan Perizinan (BPMP) Kabupaten Gresik menggelar sosialisasi percepatan pelayanan perizinan di kecamatan Tambak.

Lilik Sofiati sekretaris BPMP Kabupaten Gresik mengatakan siap melayani perijinan di kecamatan Tambak sesuai permohonan warga yang ingin mengurusnya. “Silahkan bagi warga kecamatan Tambak yang ingin mengurus perizinan siap melayaninya,”katanya.

Menurutnya proses perijinan melalui BPMP Kabupaten Gresik melalui beberapa persyaratan sesuai Standar Operasional Standar (SOP). “Tidak benar jika BPMP mempersulit dalam pengurusan perijinan, semuanya akan diproses cepat sesuai ketentuan yang ada,”paparnya.

Bagi warga yang ingin mengurus jangan merasa khawatir dengan pembiayaan. Tidak ada biaya yang dipungut. Terkecuali perijinan tertentu saja.

Narto Camat Tambak berharap kepada warganya untuk mengurus perijinan langsung melalui BPMP.

Spontan pelayanan BPMP Kabupaten Gresik di kecamatan Tambak disambut gembira warga. Siti Khadijah warga Tambak mengaku senang pelayanan perijinan bisa dilayani di Pulau Bawean, sehingga tidak membuat repot harus layar ke Gresik. (bst)

Jalan Poros Desa Kebuntelukdalam Mulus, Warga Gembira


Kinerja Kades Kebuntelukdalam Moh. Afif patut diacungi jempol. Jalan poros desa yang semula bebetuan kini disulap menjadi mulus. “Melalui perjuangannya sebagai pemimpin, sekarang warganya senang bisa menikmati hasilnya,”kata warga Kebunteluk, Mohammad Fauzi.

Warga desa Kebuntelukdalam Sangkapura mengakui keberhasilan Moh. Afif ini. Seperti jalan poros desa (JPD). Akses jalan menuju berbagai kampung yang sebelumnya tidak pernah tersentuh, melalui tangan Moh. Afif akhirnya bisa terselesaikan pembangunannya.

Moh. Afif kepala desa Kebuntelukdalam mengakui ini karena adanya keperdulian pemerintah daerah untuk pembangunan di desanya. “Sekarang warga sudah bisa menikmati hasilnya, antara dusun yang jalan sebelumnya rusak parah sekarang sudah mulus,” katanya.

Keuntungan jalan mulus, yaitu pertumbuhan ekonomi bisa dipacu secara cepat, termasuk kemudahan akses antar kampung.

Akses sangat terpenting menghubungkan dusun Serambah dengan Kepongan, yang sebelumnya membutuhkan waktu 2,5 jam, sekarang 20 menit sudah bisa terjangkau. Selain itu menghubungkan ke Binaspa dari Kepongan. “Memang prioritas utama pembangunan di kawasan pergunungan agar mempermudah akses di desa,”ungkapnya.

Walaupun sudah terlihat hasil pembangunan jalan di desa Kebuntelukdalam, Kades menyatakan masih banyak pembangunan jalan yang belum selesai. “Harapannya kedepan kembali mendapatkan perhatian khusus agar pembangunan yang ada bisa dilanjutkan,”harapnya. (bst)

Tim BMKG Maritim Perak Observasi di Pulau Bawean


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya melakukan obeservasi langsung ke Pulau Bawean. Salah satu kegiatan tim ini mengukur kecepatan angin. Menariknya tim ini terdiri dari lima perempuan.

Indah Paramayan Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Perak mengatakan seluruh petugasnya perempuan tanpa ada laki- lakinya. ”Tujuannya melakukan penelitian langsung turun ke lapangan untuk mengukur keakuratan data sesuai hasil prakiraaan,”katanya.

Adapun prakiraan tinggi gelombang selama ini menjadi acuan paling utama dalam pelayaran, termasuk transportasi Gresik - Pulau Bawean.

“Hasil prakiraan yang telah dikeluarkannya terbukti lebih banyak sesuainya di lapangan,”paparnya.

Seperti sekarang ini, kecepatan angin ternyata tidak tetap kecenderungan berubah-rubah. Termasuk ketinggian gelombang yang mempengaruhi perjalanan kapal. (bst)

Siswa SD Belajar Membuat Damar Kurung




Sebanyak 6 relawan dari Gresik menggelar pelatihan seni damar kurung sebagai warisan leluhurnya, selama 5 hari di Pulau Bawean.

Kegiatan ini diikuti siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah diberbagai tempat. Nur Faizah Hikmah asal Gresik mengatakan pengenalan kesenian damar kurung sebagai khas Gresik mutlak diperlukan, apalagi Pulau Bawean adalah Kabupaten Gresik.

Selama ini warga Pulau Bawean kemungkinan masih bingung terhadap seni khas Gresik damar kurung karena selama ini belum pernah dikenalkan.

“Melalui pelatihan selama beberapa hari di Pulau Bawean diharapkan bisa mencetak generasi yang bisa membuat damarkurung,”paparnya. (bst)

KLM Bahtera Jaya Terbakar di Perairan Bawean


Kapal Layar Motor (KLM) Bahtera Jaya yang memuat pupuk sebanyak 800 ton dari Pelabuhan Gresik, Jawa Timur, menuju Kumai, Kalimantan terbakar di 38 mil Perairan Bawean pada Ahad (22/5) petang.

"Berdasarkan laporan yang kami terima, KLM Bahtera Jaya itu terbakar dan tenggelam di titik koordinat 06 33 00 E/11248-200'S, dan dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa, semua ABK yang berjumlah delapan orang berhasil diselamatkan," kata Kepala Humas Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik, Nanang Afandi dikonfirmasi di Gresik.

Nanang mengatakan, total delapan ABK itu diselamatkan kapal motor (KM) Kirana III dan kapal CB Swisco Spirit milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO). "Dalam kejadian itu, KM Kirana III dan kapal CB Swisco Spirit menyelamatkan delapan ABK sekaligus membawanya ke daratan di Kabupaten Gresik," katanya.

Nanang menjelaskan, saat kejadian KLM Bahtera Jaya sedang melintas, dan kapal CB Swisco Spirit milik PHE WMO juga langsung bergerak ke lokasi kecelakaan untuk memberikan pertolongan serta perawatan kesehatan di lokasi Plat form PHE WMO.

"Sebelum diantar ke Pelabuhan Gresik, semua ABK KLM Bahtera Jaya sempat diistirahatkan terlebih dulu di platform PHE WMO. Tujuannya untuk memeriksa kesehatan masing-masing ABK," ucapnya.

Setelah sampai Pelabuhan Gresik, ABK langsung dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan selanjutnya. "Kejadian itu baru kami laporkan kepada pihak terkait hari ini, dan bersyukur tidak ada korban jiwa," katanya.

Sumber : Antara

Mengenal Pecinta Bonsai Bawean sebagai Miniatur Kehidupan




Seni bonsai yang berasal dari Jepang telah mendarah daging di Pulau Bawean. Hampir disetiap pelataran rumah warga dihiasi.

Pecinta bonsai Bawean juga membentuk komunitas-komunitas yang seringkali menggelar pemeran. Terutama dalam memeriahkan hari kemerdekaan RI.

Syamsul asal Patarselamat mengatakan Bawean bisa dikatakan sebagai surganya penikmat bonsai. Lantaran di pulau ini masih banyak tumbuhan calon bonsai yang tumbuh di hutan.

“Bonsai adalah miniatur kehidupan, memiliki fungsi dan keunikan yang tidak ada di pohon lainnya,”katanya.

Menggeluti seni bonsai sama saja dengan melatih kesabaran dan uletan. Termasuk belajar menambah pengetahuan sehingga bisa tumbuh secara baik.

Salah satu pecinta bonsai Abdul Wahid, mengaku awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi saja, setelah ditekuni ternyata bisa menambah keindahan rumah.

Selain itu juga punya nilai ekonomi karena bonsai yang bagus akan banyak yang berminat.

Rencananya pecinta bonsai di Pulau Bawean Gresik akan menggelar event di desa Daun Sangkapura dalam rangka memeriahkan HUT kemerdekaan RI. (bst)

Nelayan Bawean Dilatih Service Mesin dan Diberi Jaminan Asuransi




Dinas Kelautan Perternakan dan Perikanan kabupaten Gresik menggelar pembinaan dan pelatihan selama 2 hari kepada nelayan di Pulau Bawean.

Dalam pertemuan diberikan sosialisasi undang-undang perlindungan dan pemberdayaan nelayan, pengembangan kapasitas kelembagaan kelompok nelayan dan pelatihan service mesin.

Syamsul Arifin kepala Bidang Perikanan DKPP Kabupaten Gresik mengatakan sesuai Undang-Undang nomor 7 tahun 2016 tentang perlindungan dan pemberdayaan nelayan disebutkan akan menerima asuransi.

"Asuransi hanya diberikan bagi mereka yang mempunyai kartu nelayan. Untuk mendapatkan kartu nelayan bisa mendaftar dengan beberapa persyaratan, diantaranya profesinya sebagai nelayan,"katanya.

Jika nantinya perundang-undangan ini sudah diterapkan, harapannya seluruh nelayan bisa terdaftar dalam asuransi.

Selain itu, DKPP juga menggelar pelatihan perbaikan mesin bagi nelayan di Pulau Bawean. "Tujuannya bila terjadi kerusakan mesin disaat mencari ikan ditengah laut langsung bisa diperbaiki sendiri,"paparnya.

Adapun pelatihan perbaikan mesin telah siap tutor professional dengan praktek langsung.

Zaini Kepala UPT Kelautan Perternakan dan Perikanan Bawean menyatakan kegiatan ini diikuti oleh nelayan dari perwakilan daerah di Pulau Bawean. (bst)

MEMOAR : Sosok Kiyai Tak Suka Difoto Berpulang


Oleh : Sugriyanto (Guru SMAN I Sangkapura)


Firasat apakah gerangan yang telah memberikan isyarat atas kepergian untuk selamanya dari seorang kiyai pengasuh pondok pesantren Islahul Muslim di kawasan sumber mata air panas Dusun Kebundaya.

Empat hari sebelum wafat, pada hari Senin, 16 Mei 2016 sesudah ashar saya sempat mengabadikan sosok kiai Abu Yazid bin Hasan duduk bersanding mesra dengan Kiai Abdullah Sodik pengasuh pondok pesantren Assakalain di kediaman temanten mempelay putri dari keluarga Bapak Fathori dan Ibu Nur Aini di Dusun Sokela Desa Patarselamat Kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik.

Kala itu Kiai Abu Yazid bin Hasan dipercaya untuk menyampaikan ceramah berkenaan dengan hikmah nikah. Beliau menyampaikan nasihat dalam berkeluarga kepada kedua mempelay dengan lantang dan penuh semangat. Sehari sebelum wafat, foto bareng kedua kiyai salaf itu saya hapus dari Hp saya karena nampak adanya blitz cahaya kilatan yang menghalangi di layar monitor. Padahal sebelum mengambil gambar, saya sudah meminta izin untuk memfoto kemesraan kedua kiai itu dalam satu jalinan ukhuah yang tak dapat dihalangi oleh apapun latar belakangnya.

Mendengar kabar kepulangan Kiyai Abu Yazid bin Hasan ke pangkuan Ilahi pada hari Jumat, 20 Mei 2016 sekitar pukul 11.00 WIB hingga diumumkan lewat pelantang suara kabar kepulangannya menjelang ashar saat itu pula adik saya Hidayati meneruskan kabar tersebut kepada saya via telepon selulernya. Saya setengah tidak percaya karena pada hari Senin, empat hari yang lalu itu banyak hal yang dibincangkan dengan saya. Bapak Nurhan Jamil sebagai saksi hidup dan para tetamu lainnya yang duduk berdekatan mendengar hal itu.

Sebagai santri pertama dalam mencerap ilmu dari beliau saya merasakan tempaan rohani yang mampu memberikan inspirasi dalam hidup ini. Beberapa kitab alat beliau ajarkan kepada para santri. Mulai dari Ilmu Sorraf, Nahu dari segala tingkatan hingga kitab Ibnu Aqil serta kitab-kitab hukum lainnya beliau sampaikan secara gamblang dengan bahasa amat nyaman dan komunikatif. Kandungan ilmu-ilmu agama itu memberikan warna dalam perjalanan hidup saya. Seringkali air mata menetes dengan serta-merta tatkala kiyai mulang tentang kitab Nasahiul Ibad yang isinya mengupas tuntas tentang kehidupan sesudah mati. Merinding seluruh jiwa ini bila mendengar sehelai rambut dibelah tujuh yang akan dilalui atas perbuatan manusia dengan tingkatan amalnya waktu hidup di dunia fana ini. Termasuk hukum-hukum lewat kitab takrib dan sejenisnya beliau asupkan penuh dengan ketulusan kepada para santrinya.

Beliau tidak hanya sekadar menyampaikan ilmu agama kepada para santrinya tetapi juga memberikan bebacaan berupa wirid dan dzikir sebagai amalan untuk keselamatan. Pernah suatu ketika saya dibekali doa sukses ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri yang notabene dengan banyak saingan oleh beliau, tentunya harus dibarengi dengan usaha belajar dan ikhtiar. Saksi hidup tentang doa mujarabat ini adalah Bapak Raden Abdul Aziz warga Dusun Kebun Laut Sangkapura yang tahu persis sango saya ketika hendak melanjutkan studi di daratan Jawa. Beliau sebagai kiyai saya, juga menasehati agar terlebih dahulu memohon rida dan doa kepada kedua orang tua sebelum jauh melangkah untuk menempuh pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Bahkan, saya dan para santri secara bersama-sama diajari hidup menderita melalui ritual puasa selama empat puluh hari dengan berbuka dan sahur nasi putih plus lauk tahu tempe. Khasiat dari berpuasa ini terasa meringankan fisik dan mental dari persoalan-persoalan duniawi yang kerap kali mendera dalam hidup ini. Para santri benar-benar merasakan nikmatnya hidup sederhana tanpa ada beban yang menindihnya.

Dulu, saya hanya kenal pondok pesantren air panas karena belum banyak bertebaran pondok lain di sebelah timur dekat jantung kota Sangkapura. Sepetak ruang kamar utara langgar utama pondok air panas menjadi base camp kiyai dalam melebarkan sayap dakwahnya. Dalam ruang kamar yang relatif sempit itu kiyai membujang dengan segala kitab-kitab yang pernah digelutinya semasa di pondok pesantren asalnya. Benar-benar ruang kamar yang melekat pada bagian utara langgar utama menjadi multi fungsi bagi beliau. Bila beliau tengah beristirahat atas kepenatan setelah proses mutalaah beberapa kitab, saya sering kali dipanggil masuk kamar pribadi beliau untuk membincangkan sesuatu. Saya suka curi-curi pandang terhadap tumpukan dan tatanan kitab dalam sebuah almari bawaan beliau. Tatanan kitab-kitab tebal itu menyerupai ensiklopedia dengan puluhan jilid. Kamar sekecil itu benar-benar menjadi sebuah gudang ilmu agama yang akan beliau tumpahkan kepada para santri. Ketertarikan saya kepada beliau atas penguasaan ilmu-ilmu alat yang kadang saat sekarang jarang dipelajarkan secara naknak (Indonesia: detil dan gamblang). Padahal kunci utama untuk menguasai kita-kitab kuning lainnya tentunya harus menguasai ilmu-ilmu alat tersebut terlebih dahulu.

Selama kurang lebih enam tahun saya nyantri di pondok air panas binaan Kiyai Abu Yazid bin Hasan, saya tidak pernah mendengar kasak-kusuk kiyai membicarakan persoalan biaya tetek bengek dalam pondok pesantren air panas tersebut. Heran, sungguh mengherankan. Ini terkadang yang tidak dapat dinalar dengan rasio manusia kebanyakan. Jiwa semangat dan ketulusan beliau dalam menyampaikan ilmu dan pendidikan inilah sebagai rahasia jawabannya. Selamat jalan wahai kiyai. Semoga ilmu yang telah kiyai pelajarkan kepada para santri menjadi amal jariyah sebagai buah dari kemanfaatan. Innalillahi wainna ilaihi rojioooon….

Karya Bhakti Koramil Sangkapura di Alas Timur





Koramil 17 Sangkapura bersama masyarakat melaksanakan karya bhakti pembangunan rumah milik warga kampung Alas Timur, desa Daun Sangkapura.

Kehadiran pasukan TNI yang berbaur bersama bergotong royong memperbaiki rumah keluarga kurang mampu mendapatkan sambutan gembira warga.

Komandan Koramil 17 Sangkapura Kapten Inf Ahmad Salami mengatakan karya bhakti ini sarana komunikasi sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membangun kemanunggalan TNI bersama rakyat.

Kegiatan karya bhakti ini dilakukan untuk membantu masyarakat seperti perbaikan rumah di Alas Timur. “Biaya pembangunan bersumberkan bantuan seseorang, sementara dari TNI turut serta dalam membantu pekerjaannya,”katanya.

Melalui kegiatan yang dilakukan diharapkan terjalin kedekatan hubungan baik antara Koramil bersama masyarakat. “Kita selalu siap membantu masyarakat, silahkan dihubungi saja jika membutuhkan bantuan,”paparnya.

Apalagi rumah yang diperbaiki latar belakang dari keluarga kurang mampu sehingga pihaknya selalu siap untuk membantunya.

”Ini bukti peran serta TNI dalam melestarikan nilai- nilai kebersamaan dan semangat kegotongroyongan yang merupakan budaya bangsa,”pungkasnya. (bst)

Pokmaswas Hijau Daun Tanam Pohon Sentigi




Punahnya pohon sentigi mendapat perhatian dari Pokmaswas Hijau Daun. Kemarin, bersama Pengurus MWCNU dan Pagar Nusa NU mereka kembali melakukan penanaman pohon sentigi di pesisir pantai kawasan desa Daun Sangkapura.

“Dulu disini banyak, tetapi karena ditebangi akhirnya punah,” Subhan ketua Pokmaswas Hijau Daun.

“Berkat bantuan bibit pohon dari Pondok Pesantren Penaber Sukaoneng Tambak, akhirnya dilakukan penanaman kembali dengan melibatkan ormas MWCNU dan Pagar Nusa,” katanya.

Melalui penanaman kembali diharapkan nantinya kayu sentigi bisa tumbuh subur kembali. “Apalagi menjelang pernilaian lomba Pokmaswas Hijau Daun mewakili Kabupaten Gresik yang akan dinilai akhir bulan ini,” paparnya. (bst)

Pencarian Barang Bersejarah di Perairan Bawean


Beberapa hari ini, tim Balai Arkeologi Yogyakarta melakukan penelitian di Pulau Bawean. Salah satu obejeknya bangkai kapal uap yang tenggelam di perairan Ghusong. Apa hasilnya ?

Sebelumnya ada kegiatan serupa bertajuk penelitian bertemakan Arkeologi Maritim Pulau Bawean, tahun 2015. Dari kegiatan ini berhasil mengindentifikasi kapal uap jenis kargo yang tenggelam di perairan laut Ghusong. Selanjutnya tahun 2016 penelitian kembali dilakukan dengan pemetaan dan identifikasi kapal yang tenggelam diperkirakan tahun 1911.

Khairil Anwar staf disbudparpora Kabupaten Gresik sebagai satu- satunya arkeolog yang ditunjuk mendampingi tim penelitian mengatakan pemetaaan dilakukan dengan menggambar lengkap kondisi kapal uap yang tenggelam dalam kedalaman 4 meter dari permukaan laut.

Hasilnya dibagian identifikasi haluan kapal tidak ditemukan dan panjangnya setelah diukur 77 meter. Kapal tersebut berasal dari Eropa. (bst)

Foto Khairil Anwar For Media Bawean

Sehari Penukaran Uang Capai Rp 1,457 Milyar






Bank Indonesia (BI) perwakilan Jawa Timur kembali menggelar penukaran uang. Kali ini BI membawa uang pecahan baru sebanyak Rp 1,880 Milyar. “Warga Pulau Bawean yang memiliki uang lusuh bisa ditukarkan dengan yang baru,”kata Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi kantor Perwakilan BI Jatim, Syarifuddin Bassara, Rabu (18/5).

Uang baru ini dibawa dengan KRI Tombak (629). Penukaran dilangsungkan di pasar kota Sangkapura dan kantor kecamatan Tambak. Setelahnya dilanjutkan penyerahan CSR berupa sound system dari BI kepada SMA Islamiyah Tambak.

Syarifuddin mengatakan penukaran uang di Pulau Bawean merupakan kegiatan rutin selama 3 kali dalam setahun. Apalagi sekarang ini menjelang bulan ramadhan dan lebaran tentunya warga sangat membutuhkan.

Bagian humas BI Mirnayanti menyatakan uang yang dibawa BI sebanyak Rp.1,880 Milyar, dengan rincian Rp.600 juta untuk jatah perbankan di Pulau Bawean, sedangkan sisanya untuk masyarakat.

Setelah melayani penukaran uang kepada masyarakat masih sisa Rp. 423 juta yang merupakan uang pecahan besar, Rp.100ribu dan Rp.50 ribu. “Total yang ditukarkan sebanyak Rp.1,457 milyar,”jelasnya.(bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean