Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Waspada Pencurian Alat Sepeda Motor Lagi Beraksi




Tindak kriminal pencurian peralatan sepeda motor terjadi di desa Sidogedungbatu kecamatan Singapura, hari selasa (7/11). Korbannya Zia Ulhaq dengan kehilangan sepeda motor Jupiter tahun 2010, waktu malam hari diperkirakan jam 01.00 WIB.

Setelah waktu pagi hari, sepeda motor ditemukan oleh warga dalam kondisi roda depan dan belakang, serta knalpotnya sudah hilang. Sedangkan lokasinya berada ditengah hutan yang jauh dari pemukiman warga.

Dalam tempo singkat, jajaran Polsek Sangkapura langsung melakukan olah TKP. Selanjutnya sepeda motor dibawah dan diamankan di kantor Polsek Sangkapura.

Korban yang akrab dipanggil Saul berharap pelaku pencurian peralatan sepeda motor bisa diungkap oleh polisi. "Untuk memberikan efek jera dan tidak mengulangi perbuatannya,"harapnya.

Kapolsek Sangkapura AKP Winaraji mengatakan pencurian peralatan sepeda motor yang hilang roda depan dan belakang, serta knalpotnya. "Pelaku membawa sepeda motor dari rumah korban ke tengah hutan yang sepi dan jauh dari rumah penduduk,"ujarnya.

Untuk menindaklanjuti adanya kasus tersebut, Kapolsek Sangkapura menyatakan akan segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelakunya. "Semoga dalam waktu cepat bisa tertangkap,"tegasnya. (bst)

Kesan Wisatawan Asing Setelah Berkunjung ke Pulau Bawean



Wisatawan mancanegara mulai berdatangan di Pulau Bawean. Kedatangannya dalam rangka melihat destinasi wisata yang ada. Adapun kesan yang disampaikan, turis asing mengakui keindahan alam Pulau Bawean. Tapi ada sesuatu yang menurutnya kurang sedap dipandangnya, yaitu melihat banyaknya sampah berserakan.

Buang Sari pemandu wisata dan pemilik homestay di Terosan desa Sungairujing mengatakan seminggu lalu menerima 10 orang wisatawan asal Francis.

"Seminggu berada di Pulau Bawean, mereka mengaku senang bisa menikmati keindahan alam seperti Pulau Noko,"katanya.

Namun ada keluhan terkait banyaknya sampah berserakan di destinasi wisata yang dikunjungi. "Mereka berpesan agar mencintai lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya,"pesannya.

Menariknya wisatawan yang berkunjung melihat banyaknya sampah langsung spontan memungut dan mengumpulkannya. "Dia berpesan sampah plastik sangat berbahaya,"tegasnya.

Seminggu di Pulau Bawean, turis asal Francis mengaku senang bisa tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. "Kesannya warga Bawean menghormati tamu,"pungkasnya. (bst)

Kinerja Camat Sangkapura Baik, Layak Masuk Pernilaian Kinerja Sinergitas Kecamatan Tingkat Jatim


Kecamatan Sangkapura menghadapi pernilaian kinerja sinergitas tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar hari ini (rabu, 9/11).

Asisten I Indah Sofiana mengatakan kecamatan Sangkapura siap dilakukan pernilaian oleh tim kinerja sinergitas kecamatan tingkat Provinsi Jawa Timur. "Semuanya sudah siap untuk dilakukan pernilaian,"katanya.

Menurutnya kecamatan Sangkapura yang letaknya berada di Pulau Bawean memang layak mendapatkan nilai yang terbaik. "Dibuktikan dilapangan seluruhnya sudah siap untuk mendapatkan nilai yang terbaik,"ujar mantan Camat Gresik yang pernah meraih prestasi sinergitas camat terbaik tingkat nasional tahun 2009 dan 2010.

"Jika dilihat di lapangan memang kecamatan Sangkapura memiliki keunggulan, diantaranya sosok Abdul Adim sebagai camat yang terbaik,"paparnya.

Abdul Adim Camat Sangkapura menyatakan siap dilakukan pernilaian oleh tim dari Provinsi Jawa Timur. "Diantaranya bakal jadi pernilaian yaitu inovasi kecamatan dalam melaksakanakan program pemerintahan daerah. Mulai pembangunan aspek Kesehatan, pendidikan, ekonomi daya beli masyarakat dan pelayanan terhadap masyarakat," terangnya. (bst)

Sangkapura Masuk 5 Besar Pernilaian Kinerja Sinergitas Kecamatan Tingkat Jawa Timur






Tim penilai kinerja sinergitas tingkat Provinsi Jawa Timur datang berkunjung di kecamatan Sangkapura, hari rabu (8/11).

Kedatangan tim penilai disambut meriah, tampil drumband TK Umma, pencak silat Bawean, mandailing Umma, dan zamroh tim PKK kecamatan Sangkapura.

Selain itu digelar pameran hasil produk unggulan seperti anyaman tikar dan kreatif miniatur jhukong asal Sidogedungbatu, serta pelayanan posyandu.

Camat Sangkapura mengucapkan selamat datang kepada seluruh tim penilai diwilayahnya. Menurutnya kecamatan Sangkapura sudah memiliki prestasi tingkat Kabupaten Gresik seperti lomba desa dan pelayanan publik. "Prestasi lainnya, seluruh warganya melunasi pajak PBB sudah 4 tahun,"ungkapnya.

Ketua Tim Penilai Anom Surahno mengatakan kedatangannya ke Pulau Bawean dalam rangka melakukan penilaian di lapangan setelah kecamatan Sangkapura ditetapkan sebagai 5 besar penilaian sinergitas kinerja kecamatan tingkat Provinsi Jawa Timur.

"Adapun hasil pernilaian ditunjang hasil di lapangan yang dilakukan oleh tim yang melibatkan banyak SKPD dan unsur perguruan tinggi,"paparnya.

"Jika nantinya menang juara I maka berhak mewakili Provinsi Jawa Timur ketingkat nasional,"pungkasnya. (bst)

Beasiswa Zaman Now


Oleh: Anis Hamim (Warga Bawean di Jakarta, Penerima Beasiswa SIDA untuk S2)

Jika ingin merubah nasib, jangan cari mantra atau pergi ke dukun; raih lah lewat sekolah. Sudah menjadi fakta dunia. bahwa pendidikan (tinggi) adalah cara terampuh untuk hidup mulia dan berguna. Karena nya, memampukan anak Bawean agar bisa melanjutkan pendidikan adalah amal jariyah utama. Apalagi jika anak tersebut punya potensi akademik yang istimewa. Sekolah bisa mengasah nya menjadi sumberdaya andalan bangsa. Maka, beasiswa adalah program yang mesti ada buat mereka. Melalui beasiswa, setiap anak dengan minat dan bakat akademik istimewa diharapkan mampu lanjut bersekolah.

Pentingnya beasiswa sudah menjadi kesadaran umum di dunia sejak lama. Maka muncullah program-program beasiswa ternama seperti Fullbright dari Amerika, Chevening Award dari Inggris Raya, dan AAS (Australian Awards Scholarship) dari Australia. Semua beasiswa ini terbuka buat setiap siswa dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena beasiswa nya ternama, maka para penerima nya pun merasa bangga luar biasa. Sebab keterpilihan mereka juga bermakna pengakuan atas kemampuan mereka yang luar biasa.

Ada juga beasiswa lain yang tidak kalah ‘keren’ nya seperti StuNed (Studeren in Netherland) dari Belanda, DAAD Scholarship dari Jerman, SIDA Scholarship dari Swedia, dan banyak lagi lainnya. Bahkan, pemerintah Indonesia pun tidak mau ketinggalan juga. Melalui Lembag Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), pemerintah bikin program beasiswa bagi ribuan anak-anak bangsa yang memenuhi kriteria setiap tahun nya.

Beasiswa Anak Bawean
Atas kesadaran dan tujuan yang sama, dari dulu hingga sekarang, telah ada upaya dari beberapa warga Bawean terkemuka untuk juga membuat program beasiswa. Ada yang dilakukan ala kadar nya dengan bantuan sejumlah uang untuk biaya sekolah anak-anak di lingkungan keluarga dan sekitarnya, tapi ada juga yang mencoba mengalang dana secara terbuka untuk menyediakan paket khusus beasiswa. Tentu saja upaya ini sangat mulia. Tetapi walaupun mulia, program beasiswa lokal semacam ini banyak kelemahannya; paling tidak ada tiga; 

Pertama, jangkauan. Walaupun sudah berjuang keras mengumpulkan dana, tetap saja jumlah nominal yang dihasilkan sebegitu saja; hanya cukup untuk satu dan dua anak saja; itupun yang bisa dicover hanyalah biaya SPP saja. Padahal untuk bersekolah, apalagi jika harus ke Jawa, anak butuh juga beli buku-buku, ongkos angkutan dari/ ke sekolah dan biaya hidup sederhana.

Kedua, keberlanjutan. Beasiswa yang dikelola secara lokal umumnya tidak berlangsung lama. Sebab sumber dana nya tergantung sepenuhnya dari kemampuan ekonomi dan hubungan baik antara pengelola dan penyumbang dana. Hubungan baik ini biasanya bersifat pribadi dan mudah sekali berubah. Mereka yang sebelumnya semangat menyumbang, bisa tiba-tiba menarik diri hanya karena dia tidak merasa dihormati atau preferensi politiknya berganti. Maka, dana beasiswa yang dia janjikan akan langsung terhenti.

Ketiga, Kebanggaan (Prestige). Di masa sekolah dulu, kita selalu diajarkan bahwa anak-anak cerdas pantas mendapatkan beasiswa. Dengan kata lain, beasiswa adalah ganjaran bagi anak-anak dengan kemampuan istimewa. Ini memberikan motivasi ekstra agar anak-anak lebih giat berusaha. Tetapi, beasiswa yang disediakan untuk anak Bawean selama ini kurang terdengar dikaitkan dengan kecerdasan mereka, Lebih banyak kriteria nya menekankan pada aspek kemiskinan semata. Artinya, hanya anak dari keluarga miskin yang bisa mendapatkan beasiswa. Sedangkan anak cerdas yang tidak miskin tidak bakal dapat. Maka citra beasiswa beralih dari sebelumnya sebagai tanda kecerdasan menjadi tanda kemiskinan. Yang muncul lalu, penerimanya bukannya jadi bangga, malah tambah menghiba. Sebab dibenaknya yang melekat adalah kemiskinannya bukan kecerdasannya. Begitulah, program beasiswa yang dilekatkan pada kriteria kemiskinan hanya akan membuat rendah diri penerimanya. Jika penerima nya saja tidak bangga, maka bagaimana bisa program beasiswa akan jadi kebanggaan bersama.

Lalu Bagaimana?
Daripada menyusahkan diri dengan program beasiswa sendiri, lebih baik upaya-upaya membantu anak Bawean bersekolah dilakukan dengan cara berbeda. Saya usul menggantinya menjadi program ‘berburu’ beasiswa. Ia adalah program untuk membantu anak-anak Bawean ‘meraih’ beasiswa di luar sana. Program ini tidak memberi ‘ikan’ tetapi ‘pancing/kail;’tidak menyediakan beasiswa langsung, tetapi dukungan kegiatan yang memampukan anak-anak bawean yang cerdas untuk menang beasiswa di luar sana. 

Walaupun caranya berbeda, tujuan nya sama yaitu membantu anak Bawean mendapatkan beasiswa sehingga bisa lanjut sekolah. Ibarat ingin berlayar, anak Bawean hanya perlu dibikinkan sekoci agar mereka mampu mencapai kapal besar. Dengan bergabung di kapal besar, anak-anak Bawean akan bisa mengarungi lautan. Membuat sekoci akan jauh lebih sederhana dan murah daripada kalau kita berniat membuat kapal besar sendiri.

Program dukungan ‘meraih’ beasiswa di luar sana bisa dimulai dengan langkah-langkah sederhana. 

Pertama; menyediakan informasi tentang peluang-peluang beasiswa yang tersedia di berbagai tingkatan pendidikan; biasanya untuk jenjang S1, S2, hingga S3, Juga informasi tentang kriteria yang disyaratkan dan bagaimana cara melamar nya. Syarat mutlak nya biasanya total nilai indeks prestasi yang tinggi dan kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni.

Kedua, menjaring siswa-siswa Bawean yang berpotensi memenuhi kriteria tersebut. Di tahap ini yang ditekankan adalah potensi akademik, bukan status ekonomi (kemiskinan) nya. Maka yang terjaring adalah anak-anak yang bekemampuan istimewa. Lalu, Ketiga, menyediakan kegiatan-kegiatan mentoring (pembinaan) secara berkala untuk siswa-siswa unggulan yang telah memenuhi kriteria tersebut. Kegiatan mentoring inilah kuncinya. Melalui program mentoring, kemampuan anak-anak istimewa ini terus diasah hingga menjadi siap untuk memenangkan beasiswa. Tidak hanya teknis akademik, tetapi juga peningkatan wawasan dan cara mengungkapnya baik lewat lisan dan tulisan. 

Walaupun formulasi pertanyaan nya mungkin berbeda, semua penyedia program beasiswa hampir pasti akan menanyakan tiga soal dasar: 1) Kenapa jurusan itu yang anda pilih(?), 2) Kenapa anda merasa layak diberi beasiswa(?), dan 3) bagaimana studi anda akan memberi manfaat bagi masyarakat dan bangsa(?). 

Tiga pertanyaan inilah yang harus diisi oleh setiap pelamar beasiswa dalam formulir dan lalu dijawab pada saat wawancara di hadapan juri penyeleksi. Maka yang diberi beasiwa adalah mereka yang bisa menjawab ketiga soal ini dengan memuaskan para juri tersebut. 

Dengan dana dan sumberdaya yang ada sekarang, ketiga langkah; yaitu (1) menyediakan informasi, (2) melakukan seleksi anak berbakat, dan (3) memberikan mentoring (pembinaan) sebenarnya sudah bisa dijalankan. Tinggal dibuat tim dari orang-orang Bawean yang berkomitmen atas masa depan pendidikan anak-anak Bawean. Tugasnya adalah menjaring dan membantu anak-anak jenius dari Bawean untuk memenangkan beasiswa. Sehingga mereka bisa menjadi penumpang kapal di lautan pendidikan tinggi yang beraneka warna. Dengan cara ini, akan lahir lebih banyak anak-anak Bawean yang mengerti masalah, bisa menghadirkan solusi nyata, dan berbicara di forum dengan kepala menghadap kemuka. Kalau sudah begitu, yang bakal berubah bukan hanya diri nya tetapi juga nasib dan rezeki masyarakat Bawean nya. Menarik bukan?

Solusi Sampah Pulau Bawean Juara di Singapura


Fadhila El Discha dan Febri Purborini membawa konsep solusi sampah ke ajang Young Social Entrepeneurs (YSE) 2017 yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF). Keduanya bertekad untuk membuat lingkungan Pulau Bawean menjadi bersih dari sampah.

Kehidupan di pulau sebelah utara Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur, itu sungguh memprihatinkan. Mereka akhirnya membentuk tim Bhumihara untuk dibawa ke ajang Young Social Entrepeneurs (YSE) 2017 yang diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF).

"Semula kami menjadi relawan ke Pulau Bawean pada awal tahun 2016. Kami melihat persoalan sampah di masyarakat yang cukup memprihatinkan karena bertebaran di mana-mana. Mereka terbiasa buang sampah ke sungai, sampah terbawa sampai laut dan nanti ombak mengembalikannya lagi ke pantai," kata Fadhila dan Febri saat ditemui di Singapura, Sabtu, 4 November 2017.

Dari keprihatinan itulah, Fadhila dan Febri kemudian berusaha mengatasi permasalahan sampah di Pulau Bawean. Sampah yang dibiarkan berserakan di pulau tersebut pada akhirnya membawa petaka bagi penduduk di pulau yang seluas 196 kilometer persegi. Selain merusak ekosistem di pulau yang indah itu, juga membawa dampak kesehatan bagi masyarakatnya.

Mereka membawa konsep pengolahan sampah plastik dan limbah rumah tangga agar mempunyai nilai ekonomi dan memberdayakan penduduk Pulau Bawean yang mayoritas dihuni anak-anak dan ibu rumah tangga. "Kami melakukan survei mengenai persepsi warga Pulau Bawean soal pengelolaan sampah. Akhirnya mereka bisa terbuka wawasannya sehingga bersedia membantu usaha kami," ungkapnya.

Fadhila dan Febri juga mendapat dukungan dari komunitas pengusaha Bawean yang merantau dan sukses di luar Pulau Bawean. Mereka berencana menampung sampah plastik yang nanti di kirim ke pabrik pengolahan sampah plastik di Gresik, Jawa Timur. Sedangkan sampah rumah tangga bisa dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk. "Kami menggulirkan semacam pengelolaan sampah. Dalam bentuk investasi sosial kewirausahaan. Sebagai fasilitator atau platform," jelasnya.

Mereka juga melakukan studi banding ke pulau lain, seperti Sangihe di Sulawesi, yang jaraknya cukup jauh sekitar 2 jam perjalanan dengan pesawat terbang. Dari studi banding itu, mereka menilai pengolahan sampah bisa dilakukan dengan sederhana oleh penduduk di satu pulau, tak harus menunggu dari pemerintah.

Dengan konsep yang Bhumihara tawarkan kepada masyarakat Pulau Bawean yang dihuni 107 ribu orang, masalah sampah diharapkan segera teratasi. Fadhila dan Febri menyimpulkan bahwa pengolahan sampah harus dilakukan secara terpadu sehingga dari mulai sampah rumah tangga harus dipilah dari organik, anorganik, dan residu. "Sampah organik bisa jadi pupuk. Plastik dicacah dijual ke Gresik. Kami juga mendapat dukungan dari persatuan saudagar Bawean," kata Febri.

Seiring usaha Tim Bhumihara melakukan pemberdayaan untuk masayarakat soal sampah di Pulau Bawean, Fadhila dan Febri kemudian menawarkannya proposalnya untuk bersaing dengan tim lain dari 27 negara untuk mendapatkan pendanaan dari SIF sebesar S$ 20.000 atau hampir mencapai Rp 200 juta. Akhirnya Tim Bhumihara menjadi salah satu dari enam tim yang berhasil meraih pendanaan tersebut.

Sumber Tempo

Masalah Sampah di Pulau Bawean Dibawa Sampai Singapura


Indonesia memiliki 17 ribuan pulau, di mana satu persatu pulau juga memerlukan perhatian dari masing-masing pemerintah daerah. Dari mulai persoalan sosial, kemiskinan, pendidikan, kesehatan hingga lingkungan. Hal itulah yang melatarbelakangi anak-anak muda lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) dalam kelompok Bhumihara, menyoroti masalah rumit pulau di Indonesia, salah satunya pulau Bawean.

Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sebelah utara Gresik. Bhumihara menyoroti masalah sampah yang terjadi di Pulau Bawean. Pulau itu memiliki sistem pengolahan sampah yang buruk sehingga banyak Tempat Pembuang Sampah (TPS) liar di mana-mana.

Atas kegelisahan itu, Bhumihara membawa persoalan tersebut dalam ajang program Young Social Entrepreneurs (YSE) dari Singapore International Foundation (SIF). Di hadapan juri, mereka menyampaikan segala persoalan yang ada di Bawean dan apa yang akan mereka lakukan.

"Kami sedang tahap inisiasi dengan Pulau Bawean. Untuk mencapai ke sana, kami naik kapal dari Gresik. Awal tahun 2016 kami menjadi relawan ke Bawean. Kami melihat sampah di sana tak diolah. Tak ada TPST tak ada TPA," jelas Anggota Bhumihara, Fadhila El Discha dan Febri Purborini Raharningrum dari Bhumihara di Singapura, Sabtu (4/11).

Mereka juga melakukan studi banding dengan melihat pulau lain seperti Sangihe di Sulawesi. Mereka menilai pengolahan sampah di Bawean tidak diperhatikan. Padahal pengolahan bisa dilakukan dengan sederhana, tak harus menunggu dari pemerintah.

"Kami survei lapangan, bagaimana persepsi masyarakat soal pengelolaan sampah. Kamu datang dari luar bawa awareness," ungkapnya.

Salah satu contoh berbagai sampah yang dibuang ke laut akan balik lagi ke rumah warga saat hujan atau banjir. Sehingga hal itu membuat lingkungan tak sehat sehingga rentan terhadap ancaman penyakit. Sampah popok dibuang ke sungai juga menyebabkan pendangkalan.

"Kami menggulirkan semacam pengelolaan sampah. Dalam bentuk investasi sosial kewirausahaan. Sebagai fasilitator atau platform," jelasnya.

Dengan berbincang bersama masyarakat setempat, Bhumihara memberikan solusi bagi 107 ribu penduduk Bawean. Mereka menargetkan masalah sampah bisa diatasi 100 persen. Menurut mereka pengolahan sampah harus dilakukan holistik sehingga dari mulai sampah rumah tangga harus dipilah dari organik, anorganik, serra residu.

"Organik jadi pupuk. Plastik dicacah dijual ke Gresik. Dan residu juga dimanfaatkan untuk yang lain. Tahun 2018 sudah established bersama persatuan saudagar Bawean," kata Bhumihara. (ika/JPC)


  • Sumber : Jawa Pos

Puskesmas Di Bawean Dapat Dapat Mobil Bantuan Operasional


Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menyerahkan dua unit mobil operasional puskesmas kepada unit pelaksana teknis (UPT) puskesmas di Kecamatan Tambak dan UPT Puskesmas Kecamatan Sangkapura, yang berada diwilayah Pulau Bawean.

Wakil Bupati (Wabup) Gresik Muhammad Qosim mengatakan Puskesmas yang mendapatkan kendaraan operasional ini, diharapkan bisa mempergunakan dengan sebaik-baiknya. Artinya, kendaraan tersebut dipergunakan dalam rangka menunjang kelancaran tugas para Dokter dan petugas Puskesmas. Sehingga pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, dapat dilaksanakan dengan baik.

“Kendaraan yang sudah diterima ini jangan digunakan secara sembarangan, melainkan untuk keperluan melayani masyarakat. Sehingga keberadaan kendaraan ini dapat dijaga dan dirawat dengan baik,” imbaunya.

Lebih lanjut Wabup juga menginggatkan, agar pelayanan kesehatan di masyarakat harus dilakukan secara maksimal. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas.

“Puskesmas adalah tempat pelayanan kesehatan ditingkat paling bawah, oleh sebab itu kami berharap pelayanan kesehatan bagi masyarakat hendaknya dilakukan semaksimal mungkin tanpa terkecuali. Karena pelayanan kesehatan merupakan program prioritas utama Pemerintah Kabupaten Gresik dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” katanya, Senin (30/10/2017).

Upaya lain yang dilakukan pemerintah kabupaten Gresik terkait dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat di wilayah kepulauan Bawean adalah dengan meningkatkan operasional di RSUD Umar Mas’ud. Satu-satunya rumah sakit besar yang berada didaerah Gresik yang paling terpencil.

“Setelah kami lihat langsung, kualitas pelayanan yang diberikan oleh RSUD Umar Mas’ud kepada masyarakat Bawean ini sudah sangat bagus. Dan Pemkab Gresik akan selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” tutupnya.(eno/cn08)

Sumber : Cakrawala News

Tidak Ada Dokter Spesialis, Warga Bawean : Kami Ini Sungguh Kasihan


Pulau Bawean punya sederet kenyamanan yang mungkin tidak ada di pulau dan kota lain. Seperti tingkat kriminalitas yang rendah, punya alam yang masih asri, dan lingkungan sosial yang luar biasa kuat.

Namun ternyata hal ini tidaklah cukup jika tidak di dorong dengan layanan kesehatan memadai. Ramzah, Warga Kebun Laut Desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura, Bawean, misalnya, mengatakan bahwa di daerahnya fasilitas kesehatan sangat minim. Belum lagi jarak rumah sakit juga sangat jauh.

"Ada rumah sakit, baru saja diresmikan. Tapi di rumah sakit tidak ada dokter spesialis. Hanya dokter umum saja. Banyak ibu-ibu hamil meninggal karena kehabisan darah dan tidak ada spesialis kandungan," keluhnya, Minggu (29/10/2017). 

Perempuan 48 tahun ini menambahkan baru saja, beberapa minggu terakhir 3 anak pesantrean di Bawean meninggal, dalam jangka waktu berdekatan.

"Kabarnya sakit typus dan demam berdarah," tambahnya.

Minimnya faislitas kesehatan dan sulitnya transportasi ke Gresik, membuat masalah kesehatan masih bertahan. Belum ada solusi. "Kapal tidak selalu ada. Soalnya kalau gelombang besar di atas 2 meter, kapal tidak bisa berlayar, bahaya. Warga Bawean ini sungguh kasihan," katanya sambil memelas.

Rumah Sakit Apung Ksatria Medika Airlangga
Minimnya fasilitas kesehatan di pulau-pulau terpencil membuat alumni Universitas Airlangga menjemput bola. Mereka baru saja meluncurkan Rumah Sakit Apung, bernama Ksatria Medika Airlangga, Kamis (28/10/2017). Sebagai jujukan pertama, kapal jenis Pinisi buatan Kalimantan itu, singgah ke Pulau Bawean selama empat hari, sampai Minggu (29/10/2017).

Sulis Bayusentono, Staff FK Unair sekaligus dokter spesialis yang turut menjadi kru Ksatria Medika Airlangga menuturkan, kapal ini adalah kapal impian para alumnus UNAIR satu tahun silam. Sebuah rumah sakit apung yang bisa memberikan bantuan ke pulau-pulau terpencil. Dilengkapi peralatan medis dan ruang operasi, bahkan dokter spesialis lengkap.

"Kami membawa para alumni UNAIR, ada dokter tetap spesialis bedah, kandungan, penyakit dalam, THT, mata, operasi bedah, dan ortopedi. Hari pertama di Bawean, kami sudah operasi 5 kali. Jumat sudah ada 7 orang, daftarnya sudah belasan. Macam-macam penyakitnya seperti hernia dan tumor," jelasnya.

Dokter Agus Harianto, Spesialis Bedah yang jadi Direktur Rumah Sakit Terapung menambahkan, tindakan operasi itu belum sepenuhnya bisa dilakukan di kapal, karena ombak yang besar. Namun dokter yang turut dalam kru Ksatria Airlangga mampu memberikan pertolongan, dengan tindakan operasi di puskesmas, atau rumah sakit setempat.

"Kami berharap ini bisa menjadi upaya menolong warga yang jauh dari fasilitas lesehatan lengkap," harapnya. 

Kedatangan rumah sakit apung ini, agaknya menjadi berita gembira untuk masyarakat Bawean. Sehan (49), warga Bawean Barat menuturkan meski hanya singgah beberapa hari namun, sudah bermanfaat untuk orang banyak. "Karena rumah sakit apungnya tidak lama, jadi perasaan was- was masih ada. Tentunya kami berharap fasilitas kesehatan bisa terpenuhi. Jadi warga bisa langsung berobat, tidak perlu jauh-jauh," tutupnya.

Sumber : Surya

Gus Ipul: Pulau Bawean siap jadi Bali-nya Jawa Timur


Menjaga semangat sumpah pemuda saat ini bukan hal yang mudah. Kemajuan teknologi di satu sisi bisa memperkuat hubungan sosial antar kelompok masyarakat yang beragam. Tapi di sisi lain, bisa juga dengan gampang memecah belah bangsa.

"Pemuda adalah agen perubahan yang harus menjadikan daerah bisa dikenal luas oleh seluruh masyarakat dunia khususnya Indonesia," ujar Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Saifullah Yusuf saat menjadi Inspektur upacara pada Peringatan Sumpah Pemuda sekaligus penutupan Festival Gelar Pesona Budaya dan Parwisata Pulau Bawean, di Lapangan Sangkapura-Bawean, Kabupaten Gresik, Sabtu (28/10).

Menurutnya, ujaran kebencian dengan mudah disebar. Berita fitnah dengan mudah pula digunakan sebagai alat pemecah belah. Karena itu, dibutuhkan peran pemuda untuk menjadi garda terdepan bagi kemajuan wilayah. "Perkelahian politik, perseteruan ideologi, pertarungan untuk saling mendominasi sudah seharusnya diubah menjadi kesadaran untuk bekerjasama. Persaingan yang diciptakan dalam kesadaran bersama harus melahirkan berbagai inovasi yang bermakna bagi bangsa kita," imbuhnya.

Gus Ipul sapaan akrabnya menyatakan bahwa Pulau Bawean siap jadi Bali-nya Jawa Timur. Alasannya, keindahan alam yang ditawarkan hingga pemandangan yang ada tidak kalah dengan Bali.

Ia menegaskan, sarana penunjang untuk mempromosikan wisata Pulau Bawean juga telah direncanakan dengan matang. Lapangan Udara sudah tersedia, penyeberangan menggunakan kapal cepat juga akan ditambah intensitas waktunya. "Tinggal kita menyiapkan SDM atau masyarakat sekitar dalam menyambut kedatangan wisatawan ke Pulau Bawean ini," tegasnya.

Gus Ipul berharap agar wisata alam dapat menjadi potensi ekonomi andalan Jatim. Sektor pariwisata harus digerakkan secara serius karena memiliki Multiplayer Efect luar biasa. "Adanya potensi wisata di Pulau Bawean akan mendorong industri kreatif seperti pedagang UMKM, souvenir, kuliner hingga kerajinan khas dari daerah untuk dapat dikenal oleh wisatawan," bebernya.

"Masyarakat harus bersiap. Kami akan membuat kalender wisata di Pulau Bawean. Nantinya kami akan mengundang wisatawan untuk melihat dan menikmati keindahan Pulau Bawean ini dengan dekat. Saya yakin ke depan, sektor pariwisata bisa jadi faktor penting dalam mendongkrak ekonomi di Jatim, terutama bagi Pulau Bawean," pungkasnya.

Turut mendampingi Wagub Jatim, Wakil Bupati Gresik Muhammad Qosim, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur Wahid Wahyudi dan Anggota DPRD Jawa Timur Toriqul Haq. (ian)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean