bawean ad network
iklan
bank jatim

Berita

Pendidikan

Kesehatan

Transportasi

Surat Pembaca


TERKINIindex

Menyelam di Pulau Bawean
Hambatannya Kondisi Cuaca Buruk

Media Bawean, 24 Oktober 2014

Pulau Bawean di Kabupaten Gresik, Jatim, menyimpan segudang destinasi yang cukup mempesona. Namun, wisatawan juga patut memperhitungkan faktor satu ini.

Faktor cuaca memang menjadi momok selama ini bagi warga Bawean. Surga bawah laut yang selama ini belum banyak diketahui Diver diantaranya terdapat di Pantai Noko Gili, Noko Selayar, dan Pulau Cina.

"Destinasi bagi penyelam itu masih perawan. Terumbu karangnya indah banget," kata Wakil Bupati M Qosim kepada wartawan usai membuka 'Ekspedisi Pulau Bawean' yang digelar oleh Dinas Perhubungan Jatim kerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim di Bawean, Jumat (24/10/2014).

Namun, M Qosim, mengakui bahwa selama ini kendala yang dirasakan untuk upaya penggenjotan pariwisata ke Bawean adalan transportasi. Satu satunya akses menuju Bawean dari Gresik maupun Paciran Lamongan hanya via kapal laut.

"Dan masalahnya cuaca. Jika gelombang besar maka sering kapal laut menunda operasionalnya. Pernah wisatawan 'terdampar' di Bawean nggak bisa balik ke Gresik karena kapal laut cepatnya tidak operasi karena ombak besar," kata M Qosim.

Nah berbekal fakta tersebut, kata M Qosim, solusi untuk melayani wisatawan melalui transportasi udara yang sekarang tengah disiapkan di Bawean.

"Lapangan terbang peristis sudah dibangun oleh dephub dan kita siapkan infrastruktur lainnya. Kalau Lapter selesai kan enak, wisatawan ndak perlu ragu lagi plesir untuk menyelam di Bawean," katanya.

Saat ini untuk menuju Bawean bisa ditempuh dari Pelabuhan Rakyat Gresik dan pelabuhan di Paciran Lamongan.

Bagi yang bertolak dari Gresik bisa menumpang ada dua kapal cepat yaitu Natuna Express dan Express Bahari. Sedangkan yang dari Paciran disediakan fery KM Gili Iyang. ‎

Kapal cepat membutuhkan waktu 3 - 3,5 jam, sedangkan bagi feri memerlukan waktu paling cepat 7 jam. ‎ KM Gili Iyang juga melayani Gresik-Bawean tiap hari Jumat dengan waktu perjalanan 8 jam. 

Sumber : Detik.Com

Hari Nusantara XV di Pulau Bawean
Merah Putih & Batik di Bawah Laut

Media Bawean, 24 Oktober 2014

Ekspedisi Pulau Bawean dalam rangka memperingati Hari Nusantara ke XV 2014 Provinsi Jawa Timur digelar. Tujuannya mendongkrak Bawean sebagai lokasi ecowisata.

Ekspedisi dimulai pada Jumat (24/10/2014) pagi di Pelabuhan Perikanan Bawean, Gresik, dan dibuka Wakil Bupati Gresik M Qosim.

"Kegiatan ini semakin mengokohkan Pulau Bawean sebagai obyek wisata ecowisata," kata M Qosim usai membacakan sambutan Bupati Gresik Sambari.

M Qosim pun berharap agar kunjungan wisatawan ke Bawean meningkat. "Keindahan alam bawah lautnya tidak kalah dengan daerah lain. Ayo menyelam di Bawean," kata M Qosim.

Sekitar pukul 08.00 wib, dilanjutkan dengan acara Sosialisasi peduli Pulau Bawean di Gedung TPI PKSPK Bawean.

Dalam acara tersebut diisi pemaparan tentang 'Membangun Indonesia melalui Kemaritimannya' oleh Ketua Himpunan Ahli Pengelolaan Pesisir Indonesia Cabang Jatim Prof Ir Daniel M Rosyid.

Selain itu, 10 orang tim medis dari Universitas Hang Tuah dan panitia akan melakukan telusur pesisir yang dimulai dari Pulau Gili-Noko. Mereka melakukan pengobatan gratis untuk masyarakat setempat.

Acara puncaknya adalah 30 penyelam dari mahasiswa dan Yontaifib TNI AL kan melakukan Jelajah Bahari di Pantai Labuhan Tanjungori dan Pulau Cina, pada Sabtu (25/10/2014).

Sekitar pukul 08.15, ekspedisi yang digelar Dinas Perhubungan Jatim dan didukung Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim dilakukan kegiatan Selam Massal yang diarahkan oleh Diver Master di Pantai Labuhan Tanjungori Kecamatan Tambak.

Bendera putih raksasa ukuran 12 m x 8 m akan dibentangkan di bawah laut. Dan penyelam lainnya juga membentangkan kain batik sepanjang 20 meter mengelilingi bendera merah putih.

Sekitar pukul 10.15 wib, peserta akan mengikuti kegiatan Fun Dive di Pulau Cina.

Pada malam harinya, panitia dari Pemkab Gresik menutup kegiatan Ekspedisi Pulau Bawean dengan tema 'Maritime Night Spectacular' di Alun-Alun Sangkapura. 

Sumber : Detik.Com

Kerupuk Posot Khas Bawean
Diburu Wisatawan dari Luar

Media Bawean, 24 Oktober 2014

Berkunjung ke Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, tak sah bila tidak membeli oleh-oleh Kerupuk Posot-posot.

Disela-sela 'Ekspedisi Bawean' yang digelar Dinas Perhubungan Provinsi Jatim memperingati Hari Nusantara, wartawan dan termasuk detikcom mengunjungi salah satu sentra pembuatan Posot-posot di Desa Gunung Teguh Kecamatan Sangkapura, Bawean, Jumat (24/10/2014).

Sentra yang dikelola Hamsyah alias Mak Siye itu terlihat 10 perempuan serius membuat kerupuk berbahan baku Ikan Tongkol dan Tengiri itu.

"Posot-posot itu kalau Bahasa Bawean artinya pelintir," kata Mak Siye.

Sebungkus kerupuk yang dijual Rp 15 Ribu itu kata Mak Siye dipasarkan ke Gresik, Surabaya dan kota kota lain di Jawa Timur. Namun, menurutnya juga banyak wisatawan asing yang memborong produknya.

Usaha yang ditekuni Mak Siye itu sudah berlangsung 5 Tahun. "Setiap hari bisa memproduksi 100 bungkus", katanya.

Yang pasti kata wanita berumur 51 tahun itu, kerupuk posot-posot menjadi salah satu oleh-oleh wajib bagi wisatawan. "Di Bawean ada juga yang memproduksi posot-posot tapi rasanya berbeda-beda. Buatan saya dijamin enak," katanya dengan tertawa.

Cara membuat kerupuk itu cukup sederhana. Ikan Tengiri dan Tongkol dicampur setelah dihaluskan. Kemudian dioplos dengan telur serta tepung tapioka.

"Untuk mlintirnya pakai manual. Saya libatkan sejumlah warga di sini," kata Mak Siye.

Sumber : Detik.Com

Wakil Bupati Gresik
Meresmikan Ponpes di Kalimalang

Media Bawean, 24 Oktober 2014


Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Hidayatul Qur'an As Syafi'i di Dusun Kalimalang, desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik sudah diresmikan oleh Wakil Bupati Gresik (Moch. Qosim) tadi malam (23/10/2014).

Sebelum peresmian dilangsungkan, digelar istighosah yang dipimpin oleh KH. Saiful Munir dari Gresik. hadir ulama dan kyai se-Pulau Bawean, bersama rombongan dari Pemkab Gresik dalam peresmian Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kyai Nashiruddin.

Dalam sambutannya, Kyai Nashiruddin sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Hidayatul Qur'an As Syafi'i menyampaikan tujuan dari didirikannya pondok pesantren yang letaknya di Dusun Kalimalang.

Berawal dari situasi dan kondisi keadaan Pulau Bawean, khususnya bagi generasi muda untuk belajar mengaji dan menghafal Al Qur'an maka didirikan pondok pesantren. Pertimbangan khusus dari tahun ke tahun terjadi penurunan dari minat generasi muda di Pulau Bawean. Melalui pondok pesantren yang  didirikannya, harapannya bisa mencetak hafidz dan hafidzah dari Pulau Bawean.

Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim mengapresiasi atas didirikannya Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Hidayatul Qur'an As Syafi'i di Kalimalang, desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Menurutnya prestasi pengembangan pendidikan Al Qur'an di Pulau Bawean sudah lumayan baik, terbukti ketika mengiktui MTQ selalunya mendapatkan juara I. Termasuk KH. Nashiruddin sebagai pengasuh pondok pesantren termasuk dewan hakim dalam pelaksanaan MTQ.

Wabup mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mendukung atas didirikannya lembaga pondok pesantren di Kalimalang. "Melalui pondok pesantren harapannya bisa mencetak generasi yang islami,"katanya.

Sebagai tanda diresmikannya  Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Hidayatul Qur'an As Syafi'i, ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wakil Bupati Gresik yang diikuti oleh Muspika Sangkapura bersama Pengurus NU Cabang Bawean.

Pembangunan Pondok Pesantren Tahfidhul Qur'an Hidayatul Qur'an As Syafi'i menelan anggaran sebesar Rp. 105.235.000, dengan mendapat bantuan dari donatur dari warga Pulau Bawean di negeri jiran sebesar Rp.83.000.000, melalui Kyai Ahmad Arum, Kyai Zaenal, Kyai Sahmawi dan lain-lain. 

Sedangkan bantuan hasil dalam peresmian yaitu terkumpul sebanyak Rp,20 juta, sehingga kekurangannya sebesar Rp.2.235.000. (bst)

Wabup Gresik Mengajak Aparatur
Bekerja Profesional Melayani Rakyat

Media Bawean, 24 Oktober 2014


Aparatur se-kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik bersama tokoh masyarakat menghadiri pertemuan bersama Moch. Qosim (Wakil Bupati Gresik) bersama rombongan di Pendopo Kecamatan Tambak, yang digelar hari kamis (23/10/2014).

Kegiatan pertama, Wabup Gresik dalam kunjungannya di Pulau Bawean dikemas Temu Akrab bertemakan Meraih Bintang Merajut Prestasi 4 Tahun SQ Mengabdi.

Dalam sambutan selamat datang, S. Gatot Subroto (Camat Tambak) melaporkan kepada Wabup bahwa undanganyang hadir sebenyak 500 orang, yang meliputi tokoh masyarakat dan aparatur pemerintahan se-kecamatan Tambak.

Berikutnya Camat Tambak menyampaikan situasi dan kondisi aman terkendali sesuai harapan seluruh masyarakat kecamatan Tambak.

Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim dalam sambutannya mengajak kepada seluruh aparatur pemerintahan untuk bekerja profesional dan ikhlas, serta mengayomi masyarakat dalam memberikan pelayanan.

"Layani masyarakat secara baik untuk keberhasilan meraih bintang merajut prestasi,"ujarnya.

"Jadilah aparat yang baik tidak otoriter atau hilangkan wajah menakutkan ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat sehingga memberikan rasa nyaman dan tentram,"paparnya.

Terkait diberlakukannya Peraturan Desa Nomor 6 Tahun 2014, Wabup Gresik mengharap kesiapan seluruh aparat di desa untuk bekerja secara optimal dan menghindari berurusan dengan pelanggaran hukum.

Menurutnya kerukunan seluruh aparat dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat merupakan kunci kesuksesan, khsusnya kerjasama antara umara dengan ulama.

Lebih lanjut, Wabup menyatakan setelah lapangan terbang dioperasikan nantinya seluruh pegawai tanpa keahlian yang dibutuhkan harus merekrut warga kecamatan Tambak. "Termasuk bila ada investor yang berminat mendirikan pabrik juga pekerjanya merekrut orang dalam,"katanya.

Setelah sambutan, Wakil Bupati Gresik memberikan kesempatan kepada yang hadir untuk bertanya terkait kineja aparatur pemerintahan, tampil memberikan jawaban dari dinas terkait menjelaskannya.

Dalam pertemuan juga diserahkan dana bantuan renovasi balai desa sebesar Rp. 50 juta kepada desa Tambak, serta memberikan bantuan untuk anak yatim di kecamatan Tambak. (bst)

Mahasiswa Bawean Unjuk Rasa
Soal Mutasi 3 Siswa Swasta ke Negeri

Media Bawean, 24 Oktober 2014


Puluhan mahasiswa Bawean melakuka unjuk rasa di depan pintu masuk pelabuhan, kemarin hari kamis (23/10/2014|), mereka menuntut soal 3 siswa SD yang ditolak masuk SDN I Sawahmulya.

Gerakan Mahasiswa Bawean (Gemaba) melakukan orasi menutut penolakan pengeluaran siswa SDN 1 Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura, Sosialisasi aturan tentang pendidikan di Pulau Bawean, Pecat Kepala UPT Dinas P dan K Kecamatan Sangkapura, Libatkan Mahasiswa dalam semua kebijakan di Pulau Bawean dan Kembalikan kedaulatan Mahasiswa Bawean.

Dengan membentangkan poster pengunjuk rasa membagi-bagiakan selebaran kepada warga yang melewati jalan kawasan dekat Pelabuhan Bawean. Secara bergantian melakukan orasi dengan mempertontonkan adengan yang menggambarkan 3 nasib siswa yang dikeluarkan dari sekolah, serta kondisi pendidikan di Pulau Bawean.

Setelah melakukan unjuk rasa di dekat Pelabuhan Bawean, perwakilan mahasiswa diterima Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim di kantor kecamatan Sangkapura.

Wabup Gresik mengajak kepada mahasiswa untuk berpedoman kepada aturan yang ada. "Termasuk soal mutasi siswa sekolah dasar juga dikembalikan kepada peraturan yang berlaku,"katanya.

"Sudah jelas didalam aturan, bahwa mutasi siswa antar sekolah swasta ke sekolah negeri itu boleh, dengan catatan akreditasinya sama atau lebih tinggi status sekolah asalnya,"paparnya.

Adi Suwoyo, Kepala UPTD Pendidikan Sangkapura ditemui Media Bawean menyatakan bingung adanya unjuk rasa kok mengarah kepada dirinya. "Padahal persoalan mutasi siswa sudah ada aturan yang mengaturnya,"tuturnya.

"Adapun adanya keputusan boleh atau tidaknya siswa mutasi dari sekolah swasta pindah ke sekolah negeri sudah dikoordinasikan melalui kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik. Hasilnya dikembalikan kepada aturan dalam mutasi antar sekolah, bahwa tidak ada larangan hanya terkait akreditasi sekolah asal harus lebih tinggi dibanding sekolah yang menjadi pilihan,"jelasnya. (bst)

Jawa Timur Gelar Ekspedisi
Hari Nusantara di Pulau Bawean

Media Bawean, 23 Oktober 2014

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur mengadakan ekspedisi Pulau Bawean pada 23-25 Oktober 2014. “Ini pertama kalinya diadakan oleh Pemprov Jatim,” kata salah satu panitia Ekspedisi Bawean Adi Pasaribu ketika dihubungi wartawan. Rabu, 22 Oktober 2014.

Latar belakang diadakannya Ekspedisi Bawean adalah untuk mempromosikan dan menggali potensi pariwisata yang dimiliki Bawean sehingga diharapkan Provinsi Jawa Timur memiliki potensi pariwisata unggulan selain Gunung Bromo dan Gunung Ijen. Selain itu, Ekspedisi Bawean untuk mencoba membuat destinasi pariwisata seperti Bunaken maupun Raja Ampat.

Menurut Adi, wisata bahari khususnya wisata pulau kecil di Jawa Timur perlu dikembangkan. Tema yang diambil dari wisata Pulau Bawean adalah ekowisata yang akan menyuguhkan berbagai keindahan yang berada di Pulau Bawean maupun pulau-pulau kecil sekitar Pulau Bawean.

Ajang yang dihelat selama tiga hari tersebut terdiri dari berbagai rangkaian kegiatan. Untuk hari pertama yang diselenggarakan pada tanggal 23 Oktober 2014 akan diadakan beberapa kegiatan yaitu acara bersih-bersih pesisir pantai dan pelabuhan di Pulau Bawean, pameran, upacara bendera dengan inspektur upacara adalah Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Pada hari kedua akan diadakan acara yang bertajuk telusur pesisir. Dalam acara tersebut akan diadakan bakti sosial berupa pengobatan gratis di Pulau Gili salah satu pulau kecil yang dapat ditempuh selama 30 menit perjalanan dengan menggunakan kapal dari Pulau Bawean.

Untuk hari ketiga akan diadakan penyelaman massal di perairan sekitar Pulau Cina yang masih berada di sekitar Pulau Bawean dengan membentangkan bendera merah putih dan kain batik sepanjang 20 meter di bawah air. “Setelah itu acara akan dilanjutkan dengan fun dive yaitu menyelam bersama-sama untuk menikmati pemandangan laut Bawean,” ujar Adi.

Sumber : TEMPO

PT. Telkom Bawean "Manipulasi Speed"
Rugikan Pelanggan Speedy Se-Bawean

Media Bawean, 23 Oktober 2014


Pelayanan PT. Telkom di Pulau Bawean, Gresik dikeluhkan banyak pelanggannya, khususnya pengguna Speedy yang kecepatannya sangat kurang, tak sesuai promosi.

Herjadi Widodo,Kepala Bank Jatim Cabang Bawean dihubungi Media Bawean (rabu, 22/10/2014) mengatakan akses internet via speedy PT. Telkom kecepatannya sangat berkurang dan mengecewakan pelanggannya. 

"Seharusnya pelayanan ditingatkan untuk kepuasan pelanggannya di Pulau Bawean, apalagi kebutuhan internet sudah memasyarakat,"katanya.

Tapi kenyataan sekarang, menurutnya bila mengakses internet via speedy butuh waktu lumayan lama dalam pengirim data atau membuka situs akibat speednya kurang.
Kekecewaan sangat tinggi disampaikan Kika sebagai pengusaha warnet di Sangkapura, menurutnya sudah seringkali melaporkan ke kantor PT. Telkom termasuk melalui layanan 147 ternyata sampai sekarang belum ada respon untuk perbaikan layanan.

Lebih kanjut Kika menjelaskan dengan menunjukkan bukti bahwa PT. Telkom Bawean telah merugikan pelangganya, seharusnya langganan paket sosialita dengan kouta 512kbps/upload 256kbps, dengan harga Rp.199.000 sebelum PPN. Tapi kenyataannya seperti dilihat digambar tak sesuai.

"Paket sosialita dengan kuota 3GB speed download 512kbps/upload 256kbps perbulan. Tapi kenyataannya kuota masih sisa 2GB. speed tidak sesuai dengan PT. Telkom yang menjual produknya,"jelasnya.

Menurutnya, PT. Telkom Bawean telah memanipulasi speed yang merugikan kepada pelanggannya.  "Itupun PT. Telkom sudah mengetahui bila kecepatannya berkurang, sepertinya sengaja memanipulasi speed,"tuturnya.

"PT. Telkom sebagai BUMN seharusnya profesional dalam menjual produk ataupun memberikan pelayanan kepada pelanggannya. Jangan karena letaknya di Pulau Bawean lalu dibiarkan tanpa ada perbaikan layanan,"tegasnya.

"Persoalan manipulasi speed telah merugikan seluruh pelanggan speedy PT. Telkom se-Pulau Bawean, Ibarat kapasitas kapal cepat bermuatan 400 penumpang, lalu dimuati sebanyak 600 penumpang, tentunya mengurangi kecepatan kapal dan beresiko keselamatan dalam perjalanan,"ungkapnya dengan menggunakan perumpamaan.

Kepala PT.. Telkom Bawean, Bari, untuk dikonfirmasi atas keluhan pelanggannya tenyata tidak ada ditempat sedang berada di Pulau Jawa. 

Rasul sebagai pegawai PT. Telkom Bawean diminta penjelasan membenarkan bahwa kecepatan speedy berkurang sehubungan banyak pelanggan di seluruh Pulau Bawean.  "Banyak pelanggan yang berjumlah kurang lebih sebanyak 600 pelanggan ternyata tanpa ditambah speed, akhirnya mempengaruhi kecepatan bagi pengguna yang ada,"terangnya.(bst)

Warga Pulau Bawean di Malaysia
Kompak Gelar Pertandingan Kercengan

Media Bawean, 23 Oktober 2014

Laporan Kuduk-Kuduk Channels dari Kuala Lumpur, Malaysia


Warga Bawean di Malaysia, hari rabu (22/10/2014) ramai-ramai menyaksikan pertandingan kercengan yang digelar di Stadium Titiwangsa Kuala Lumpur.

Pertandingan kercengan memperebutkan piala Tan Sri Dr. Rais Yatim dihadiri banyak pengunjung sehubungan bersamaan cuti bersama di Malaysia.

Bertanding sebanyak 8 group kercengan di Malaysia, yaitu :
1. Group kercengan dari Taman Setia Balakong, Sri Kembangan,  
2. Group kercengan Miftahul Falah dari Kg. Sungai Cinicin, Batu 7, Gombak, 
3. Group kercengan Nurul Hasanah dari kampung Melayu Subang, 
4. Group kercengan Mostofa Taman Keramat, Hulu Kelang, 
5. Group kercengan Khairun Najah dari Kampung Sungai Salak, Batu 9, Gombak,  
6. Group kercengan darul Ehsan dari kampung paya Jaras hilir, Sungai Buloh, 
7. Group kercengan Jam'yah Al-Koramah dari Kampung Kubu Gajah 13, dan  
8. Group kercengan Nurul Huda dari Kampung Mampir, batu 18, hulu Langat,  

Pertandingan dimulai jam 9.00 pagi waktu Malaysia, sampai jam 12.00 tengah hari istirahat, lalu dilanjutkan lagi jam 2.00 petang sampai terakhir jam 5.00 petang. Waktu istirahan ditampilkan persembahan Qasidah group Ikkomah, kampung Segambut dalam.

Dewan juri dalam pertandingan, yaitu Tuan Haji Rahbeni Hadi dari Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA), Encik Mujaheed Abdullah dari Akademi Seni Budaya dan Warisan Kebangsaan (ASWARA) dan Encik Yusof Mohd. Nor dari Jabatan Kebudayaan, Kesenian dan  Sukan Dewan Bandaraya Kuala Lumpur.

Setelah pertandingan selesai diumumkan para pemenang pertandingan kercengan remaja Bawean di Malaysia tahun 2014, yaitu Juara 1 dimenagkan group Nurul Mustofa dari Taman Keramat, Hulu Kelang, Juara II diperoleh group Darul Ehsan dari Kampung Paya Jaras Hilir, Sungai Buloh dan Juara III diraih oleh group Nurul Huda dari Kampung mampir, Bati 18, Hulu Langat.

Group Nurul Mustafa meraih sebagai juara I atas penampilannya yang terbagus, dengan gaya kercengan bercirikan khas, serta seluruh personelnya kaum laki-laki.

Setelah pertandingan selesai, dilanjutkan sambutan terima kasih oleh  Tuan Haji Ahmad Nazar Salleh, KMW, PPN, BKT. sebagai Presiden Persatuan Bawean Malaysia (PBM). Sedangkan rangkaian kegiatan ditutup  oleh Y.Bhg. Dato' Sri Kamaruddin Siaraf. sebagai Pengurus Yayasan Warisanegara. 

Tan Sri Dr. Rais Yatim tidak dapat hadir karena masih berada di luar negri. Y. Bhg. Datuk Seri Hj. Ahmad Phesal Hj. Talib -Datuk Bandar Kuala Lumpur juga tidak hadir yang digantikan oleh Adun Setiawangsa.

Gebyar diacara puncak menampilkan Daly Filsuf artis keturunan Pulau Bawean di Singapura dengan membawa lagu bejudul Eson Phebien. Spontan penampilan Daly memukau seluruh penonton yang hadir dengan bersorak gembira sambil menyanyi bersama-sama. Terlihat penonton merasa gembira, terlihat sebagian ikut berjoget ria karena keasyikan mendengar lagu Eson Phebien dari Daly.

Mengasumsikan Adanya
Situs Candi di Pulau Bawean

Media Bawean, 22 Oktober 2014

Oleh : Mahfud (Dosen STAIHA Bawean asal Balikterus Sangkapura)



Agama menjadi isu sentral dalam setiap perdebatan yang terjadi dikalangan tokoh agama. Bukan hanya pada tataran teoritisnya namun juga pada tataran praktisnya. Dalam kehidupan umat manusia tidak ada satupun manusia yang terlepas dengan hubungan primordial yang mengikat dirinya antara Tuhan dan manusia yaitu “agama”. Kita sering berpikir tentang orang yang tidak seiman dengan kita, dan mengatakan mereka “kafir”, atau bahkan ateis. Namun kita enggan mengenali perbedaan itu dengan menggunakan pendekatan kultural. Hal ini yang kemudian terjadinya pembiaran terhadap segala kemungkinan adanya situs yang amat penting dan memiliki nilai sejarah. Kalau kita mau mengenal jati diri kita sebagai orang muslim di pulau Bawean maka kita harus mengenal siapa nenek moyang kita. Hal ini bisa saja terungkap andai saja kita mau meneliti.

Dalam konteks ini, ketika kita sibuk berdebat, dan bahkan cenderung menghabiskan energi untuk meperdebatkan tentang agama dan keberagamaan yang saat ini mulai berkembang di dalam kehidupan masyarakat kita. Saat ini yang sering diperdebatkan adalah masalah kelompok atau organisasi keagamaan yang telah mulai menjamur di pulau Bawean tercinta ini. Kalau menurut saya kalau kita semua mau menghabiskan waktu, energi dan biaya yang begitu besar untuk mengurusi debat tentang agama dan keberagamaan yang berkembang di pulau Bawean. Kenapa tidak mau menghabiskan segala energi kita untuk mengungkap kemungkinan terungkapnya fakta sejarah yang masih terkait erat dengan masalah agama dan keberagamaan.

Sekarang saya ingin bertanya kepada semua masyarakat Bawean. Kenapa kita tidak berusaha memecahkan sebuah misteri yang ada di Pulau Bawean? Kenapa para penguasa yang ada hanya sibuk untuk berdebat tentang agama dan keberagamaan, apalagi sering berdebat untuk melanggengkan kekuasaan dan status seseorang di dalam masyarakat? Ada pula yang dengan egois mengerutkan wajahnya untuk dihormati dan dianggap hebat dalam posisinya. Kenapa kita tidak pernah bertanya dan menggunakan nalar kritis kita untuk memperdebatkan masalah yang masih ada hubungannya dengan masalah agama dan keberagamaan? Mungkin hal ini menjadi aneh bagi kita yang antipati terhadap masalah kultural yang mewarnai dunia dalam kehidupan keberagamaan kita.

Mungkin saat ini, kita harus mau mendiskusikan tentang sebuah situs yang ada hubungannya dengan simbol agama. Pernahkah kita melintasi daerah “MURTALAYA” di pinggir jalan raya lingkar Bawean terdapat susunan batu yang begitu indah. Kenapa para tokoh Bawean yang duduk sebagai penguasa tidak pernah mencoba untuk mengungkap misteri di balik susunan batu yang begitu indah. Melalui Media Bawean ini saya meminta kepada semua pihak untuk mencoba mencari jawaban atas kemungkinan adanya sistus Candi di Pulau Bawean

Mungkin banyak pertanyaan yang muncul dalam benak pembaca. Seperti pertanyaan kenapa kita harus memikirkan hal-hal yang masih sebatas asumsi tanpa adanya bukti? Kalaupun itu adalah candi bagaimana kita membuktikannya? Pertanyaan yang mungkin muncul seperti ini adalah ketidak berdayaan kita sebagai manusia yang memiliki paradigma berpikir sempit. Saya akan memberikan alasan atas pertanyaan pertama dan kedua. Pertama: jika dasar asumsi dianggap sebagai suatu dasar yang lemah sehingga enggan untuk mengungkapkan adanya kebenaran. Bukankah kita sebagai seorang akademisi ketika membuat karya ilmiah banyak didasarkan pada sebuah asumsi-asumsi yang kemudian pembenarannya diuji melalui sebuah tindakan yang eperik, dengan berdasarkan metodologi dengan mengacu pada argumen logis dan sistematis. Selanjutnya jika kita takut untuk mengungkap fakta sejarah dengan cara mengasumsikan, kita seharusnya tidak boleh/tidak berhak bermimpi dalam menggapai tujuan hidup kita. Kedua: cara membuktikannya adalah keseriusan kita terutama para pemangku kebijakan sebagai wakil rakyat masyarakat Bawean yang ada di daratan Gresik ataupun yang ada di Bawean. Untuk mencoba menghubungai para pakar arkeolog untuk mencoba mengungkap misteri kemungkinan adanya candi di pulau Bawean. Jika muncul sikap skeptis yang ketiga semisal bertanya kalau ternyata itu tidak terbukti? Jawabannya adalah, kalau tidak terbukti paling tidak kita telah berupaya tanpa berdiam diri.

Terakhir, saya berani mengasumsikan adanya candi di Pulau Bawean ada beberapa alasan yang melarar belakangi saya menulis ini di Media Bawean. 1) Dalam genealogi agama-agama, Islam yang ada di dunia khususnya yang ada di indonesia ataupun yang ada di Bawean adalah agama yang termuda dalam garis keturunan agama-agama yang ada. Maka nenek moyang kita tentu pada waktu sebelum Islam di syiarkan di Pulau Bawean menganut sistem kepercayaan agama-agama primitif. Di antaranya adalah agama (Ardi) atau agama bumi yang kita kenal seperti Hindu dan Buddha. Kita juga bisa mengatakan sebagai agama animisme, dinamisme. 2) Dalam setiap agama dalam bentuk agama apapun pasti ada kegiatan ritual. Untuk melakukan ritual keagamaan tentu dibutuhkan tempat suci sebagai tempat untuk menghubungkan antara keinginan dan harapan serta menyatukan hubungan primordial antara Tuhan dan manusia. Dalam agama-agama yang kita kenal setiap agama mempunyai tempat suci seperti (Gereja, Pure, Wihara, Candi, Masjid dan lain-lain). Jadi alasan saya sangat jelas kenapa saya menulis ini.

Sebab kemungkinan adanya candi sangat mungkin. Sebab agama pertama di Pulau Bawean bukanlah agama Islam. Hal ini terbukti dari sejarah bangsa kita. Bahwa Islam adala agama dengan agama termuda dari genealogi agama-agama yang ada. Dalam salah satu kuliah yang diampu oleh Drs. Qomarul Huda, M.Fil.I dan Prof. H. Fauzan Saleh. Ph.D. Di STAIN Kediri mengatakan bahwa sebagaimana, Jhames L. Peacook, “Islam yang ada di Indonesia bagaikan kulit yang membungkus kulit kita. Kalau kita buka kulit itu maka akan kelihatan dagingnya. Kalau kita kupas daging itu maka kita akan melihat tulangnya”. Apa artinya? Artinya adalah kalau kita kupas lebih dalam tentang Islam maka akan kelihatan Hindu-Buddhanya. Kalau kita lihat lebih dalam lagi Hindu-Buddha maka kita akan melihat Animisme dan Dinamismenya.

Harapan saya dengan adanya tulisan ini sebagai upaya menggugah para Arkelog di daratan Jawa agar tertarik untuk datang ke Bawean dan meneliti. Bagi penguasa agar tidak sibuk menambah isi kantong yang belum terpenuhi dan mau ikut memikirkan segala kemungkinan. Dan bagi para akademisi di Pulau Bawean agar lebih kritis melihat lingkungan sekitar. Bukan hanya duduk di kursi yang empuk menghangatkan pantat saja.

Popular Posts

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.