bawean ad network
mb
bank jatim

Bawean Berita

Pendidikan

Suara Calon Wakil Rakyat

Lomba Menulis Kategori Umum

Lomba Menulis Kategori Pelajar

Surat Pembaca


TERKINIindex

Bawean Peduli (BP) Memback Up
Pasien Perempuan dari Pulau Gili

Media Bawean, 20 Juni 2013


Sehubungan keterbatasan keuangan, seorang anak perempuan asal Pulau Gili, Pulau Bawean, Gresik mengalami proses sampai usia tua untuk memeriksa penyakit yang dideritanya sejak lahir. 

Kelainan yang terjadi sejak lahir, menurut ibundanya yang mendampingi telah diperiksa ke RSUD. Ibnu Sina, Gresik sejak usia bayi, selanjutnya dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Sehubungan keterbatasan pembiayaan sehingga diputuskan untuk kembali ke Pulau Bawean.

Akhirnya sang putri yang kini sedang nyantri di Ponpes Sidomulyo, desa Sidogeudngbatu, Sangkapura, terus menjalani kehidupannya dengan kondisi kesakitan yang diharus dideritanya.

Kemudian melalui Bawean Peduli (BP), sang putri bersama ibunda tercintanya mendapat pendampingan untuk memeriksakan penyakit yang dideritanya ke RSUD Ibnu Sina Gresik. Setelah menjalani pemeriksaan, ternyata dokter spesialis merujuk ke RSUD Dr. Soetomo di Surabaya.

Mulai kemarin (rabu, 19/6/2013) sang putri menjalani pemeriksaan atas penyakitnya di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, selanjutnya akan dilanjutkan hari ini (kamis, 20/6/2013).

Adapun seluruh operasional pasien bersama ibundanya ditanggung sepenuhnya melalui Bawean Peduli (BP). Anda ingin membantu dan menyumbangkan meringankan pembiayaan untuk menjalani operasi sang putri, silahkan salurkan melalui Bawean Peduli (BP).

Kontak Peduli Bawean Peduli :
Ali Asyhar sebagai Ketua BP : (082141195678)
H. Abdurrahman sebagai Bendahara BP : (081332231911)
Abdul Basit sebagai Sekretaris BP : (081357084888)

Siti Munazalah asal Alas Timur, Daun
Jalani Operasi di RS. Primer Surabaya

Media Bawean, 20 Juni 2013


Siti Munazalah (6 tahun), sedang menjalani operasi di RS Primer Surabaya. Bocah Yatim dari Alas Timur Daun ini mengalami kelainan di tulang hidungnya. Tampak benjolan sebesar buah anggur yang sangat mengganggu keceriaan masa kecilnya.

Menurut diagnosa dokter ada lobang kosong diantara tulang hidung dan batok kepala. Lobang itulah yang kemudian terisi oleh cairan dari otak. benjolan ini penuh dengan syaraf.

Ali Asyhar sebagai Ketua Bawean Peduli (BP) yang menghantar dan mendapinginya mengharapkan doa dari masyarakat Bawean. "Semoga berjalan lancar. Siti Munazalah adalah tanggung jawab kita semua. Ia memiliki hak untuk ceria sebagaimana anak-nak yang lain" harapnya.

Turut serta mendampingi yaitu ibunda tercinta bersama kakaknya yang setia menunggu sejak pra operasi sampai proses dilaksanakan.

Perlu diketahui, Siti Munazalah dalam menjalani operasi didampingi dan dihantar oleh Pengurus Bawean Peduli (BP). Sesuai laporan keuangan yang diterima oleh Bendahara Bawean Peduli, untuk operasional telah diterima sumbangan dana dari Anas asal Barat Sungai, desa Kotakusuma sebesar Rp. 1.000.000. (bst)

Persiapan Menunaikan Ibadah Haji
Jamaah Bawean Giat Ikuti Manasik

Media Bawean, 20 Juni 2013


Jamaah haji asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Jazirah mengikuti kegiatan manasik haji, bertempat di Gedung PC. Muslimat NU Bawean, (Minggu, 16/6/2013).

Dibimbing oleh KH. Zakariyah asal Bululanjang, terlihat antusias para calon jamaah haji mengikuti kegiatan manasik yang diikuti sebanyak 36 orang dari berbagai daerah di Pulau Bawean.

Nyai Hj. Azizah Mahsuni sebagai Ketua KBIH Al Jazirah dihubungi Media Bawean, mengatakan manasik yang diselenggarakan sudah memasuki ke depan kalinya, dengan pembukaan sudah terhitung sembilan kali pertemuan. "Setelah hari raya idul fitri akan diselenggarakan manasik haji untuk persiapan pemberangkatan, dilanjutkan setelah datang dari tanah suci Mekkah untuk pertemuan selesai menunaikan ibadah haji,"katanya.

Mantan Ketua PC. Muslimat NU Bawean dalam sambutan menyampaikan kepada seluruh calon jamaah haji asal Pulau Bawean untuk selalu berdo'a agar kouta yang ada tidak hilang sehubungan adanya kebijakan pemerintah terkait pengurangan calon jamaah haji sesuai instruksi pemerintah Arab Saudi.

Menurutnya semoga calon jamaah haji asal Pulau Bawean, khususnya yang tergabung dalam KBIH Al Jazirah bisa semuanya berangkat tanpa ada pembatalan sehubungan persiapan sudah matang.

Adik Fuad Mahsuni (Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur) berpesan kepada seluruh calon jamaah haji asal Pulau Bawean agar jangan mengadakan acara selamatan pemberangkatan, sebelum ada kepastian keberangkatan dari pemerintah. (bst)

Esensi Partisipasi Masyarakat
Dalam Pesta Demokrasi Rakyat

Media Bawean, 19 Juni 2013 

 Oleh: Jamaluddin, S.Si, M.Pd.I  (Ketua PPK Sangkapura)

A. Bentuk Kedaulatan Rakyat

Sistem pemerintahan demokrasi telah lama menunjukkan karakternya dan tetap teguh menentang absolutisme dan kediktatoran kekuasaan. Dari sejarahnya, demokrasi lahir atas sebuah kondisi dimana ada kesewenang-wenangan dan otoriteritas diktator yang menyengsarakan rakyat. Posisi rakyat selalu dilemahkan, karena aturan yang diberlakukan dan diterapkan dalam menyelenggarakan kekuasaan adalah aturan sang diktator. Untuk itu, gagasan demokrasi lahir sebagai sebuah haluan yang menghendaki bahwa aturan yang digunakan untuk menjalankan kekuasaan adalah yang dibuat oleh rakyat sendiri. Dari sebuah upaya menentang absolutisme kekuasaan, rakyat kemudian bersatu dan menggagas bahwa kekuasaan adalah dari, oleh dan untuk rakyat. Bahkan dalam sebuah konsepsi yang lebih kongkrit, demokrasi dijalankan sebagai kekuasaan dari, oleh dan bersama rakyat. Hal ini dapat diartikan bahwa kekuasaan itu pada prinsipnya berasal dari rakyat, sehingga rakyatlah yang sebenarnya menentukan dan memberi arah serta yang sesungguhnya meyelenggarakan kehidupan kenegaraan. 

Terkait dengan aplikasi demokrasi dalam pemerintahan, Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln menyiratkan tiga elemen kunci demokrasi. Pertama, demokrasi itu bersumber “dari” rakyat bukan berarti sekedar diakui oleh rakyat tetapi mestilah memperoleh legitimasi yang bersumber dari komitmen kesetujuan penuh rakyat terhadapnya (pemerintah terbentuk atas persetujuan). Kedua, demokrasi adalah “oleh” rakyat bermakna bahwa rakyat berpartisipasi secara aktif dalam proses pemerintahan. Ketiga, demokrasi adalah “untuk” rakyat berarti bahwa rakyat berupaya mewujudkan kesejahteraan umum dan melindungi hak-hak individu rakyat.

Dari ketiga elemen tersebut, partisipasi rakyat dalam pembangunan adalah keharusan. Prinsip pembangunan yang paling baik adalah manakala bersumber daripada kepentingan rakyat dengan melibatkannya dalam proses pengambilan keputusan. Selama ini kecenderungan pelibatan rakyat dalam proses pembangunan masih dalam tataran wacana. Adapun ketika sampai pada proses aplikasinya, lebih sering diabaikan daripada dilibatkan dalam arti yang sesungguhnya.

Dalam sebuah Negara yang demokratis, idelanya kekuasaan diselenggarakan bersama-sama dengan rakyat, yaitu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat untuk terlibat dalam penyelenggaraan kekuasaan, sehingga peran rakyat sangatlah penting. Sebuah Negara yang demokratis menghendaki adanya pemaksimalan pelibatan peran masyarakat dalam proses penyelenggaraan Negara. Penciptaan berbagai model penerapan gagasan demokrasi menjadi salah satu upaya untuk mempercepat hal tersebut. Proses penyelenggaraan Negara harus tunduk pada produk yang dihasilkan oleh rakyat. Melalui perwakilannya di lembaga legislatif, rakyat menciptakan sebuah aturan yang pada nantinya akan dijadikan sebuah pedoman dalam penyelenggaraan Negara. Untuk itu, tentunya sistem demokrasi akan dapat bekerja dengan baik ketika masyarakat dapat terlibat secara aktif. Di lain sisi, juga terdapat instrument lain yang tak kalah penting dan dapat digunakan dengan mudah untuk melihat demokratisasi dalam sebuah Negara, yaitu penyelenggaran Pemilu secara berkala.

Teori demokrasi yang pada umumnya mengusung kata-kata kedaulatan rakyat dalam kenyataannya seringkali menjadi simbol semu dalam suatu penyelenggaraan pemerintahan. Sebab, partisipasi rakyat dalam kebanyakan negara demokrasi hanya dilakukan empat atau lima tahun sekali dalam bentuk pemilu. Sedangkan, kendali pemerintahan sesungguhnya berada di tangan sekelompok kecil penguasa yang menentukan seluruh kebijaksanaan dasar negara. Sekelompok penguasa tersebut bertindak atas nama rakyat, sekalipun kebijakan-kebijakan yang diambil bukan untuk kepentingan rakyat yang telah ’’dilelang’’ suaranya saat pemilu. Tetapi hanyalah untuk melestarikan kekuasaan yang dipegang dan mengamankan kedudukan mereka sendiri.

B. Kenapa Terjadi Golput

Dalam konteks penyelenggaraan pemilu di Indonesia, sering kali mendengar istilah gerakan golput (golongan putih). Fenomena golput bukan hal asing bagi proses berjalannya dinamika demokrasi di Republik ini. Di era Orde Baru, sebenarnya, gerakan ini pernah muncul sekitar 1970-an. Hal ini terjadi karena golput tidak saja diartikan sebagai para pemilih yang tak menggunakan hak pilihnya. Ketika itu, golput yang dimotori sejumlah kalangan intelektual, telah menjelma menjadi sebuah gerakan politik yang menyuarakan kritikan pedas terhadap rezim Orde Baru berikut pelaksanaan pemilu yang tidak demokratis. Para pencetusnya melakukan seruan agar para pemilih tidak menggunakan haknya pada pemilu. Mengikuti pemilu, dalam pandangan mereka, berarti mengabsahkan proses pemilu dan rezim yang berkuasa. Tetapi golput pada Era Orde baru ini tidak efektif menentang rezim dikarenakan angka partisipasi pemilih tetap tinggi (terlepas dari manipulasi data dan lain sebagainya).

Di era otonomi daerah saat ini, pemilu termasuk konteks pemilukadapun tidak lepas dari tingginya angka golput. Padahal, orientasi yang muncul dilaksanakannya pemilukada adalah untuk meningkatkan partisipasi publik atau masyarakat. Beberapa pemilukada yang pernah digelar menunjukkan angka partisipasi yang tidak memuaskan, pantaslah kalau kemudian fenomena golput ini tidak dapat dipandang enteng walaupun angka golput yang besar sekalipun tidak akan mampu menggugat legitimasi hasil pemilukada ataupun pemilu yang lainnya. Persoalan golput pada pemilupun tidak dapat disederhanakan pada aspek pemilih saja melainkan pada seluruh aspek yang berkitan erat dengan pelaksanaan pemilu yang berasaskan luberjurdil. Mengingat pemilukada bersifat lokal seyogyanya angka partisipasi pemilih dapat ditingkatkan, persoalan yang dihadapipun tidak sebegitu kompleks dengan pemilu legislatif maupun pemilu presiden sehingga hal tersebut harus menjadi pertanyaan bagi kita semua, mengapa angka partisipasi pemilu yang luberjurdil begitu sangat rendah.

Beberapa hal dapat dianalisis dari beberapa persoalan yang muncul mengapa angka partisipasi pemilu begitu sangat rendah. Bukan menjadi rahasia umum lagi jika masyarakat kini memiliki apatisme yang tinggi terhadap pemilu. Cobalah jumpai masyarakat di pasar, di pesisir, dan daerah-daerah pinggiran, kita akan menjumpai tanggapan dan pandangan masyarakat yang beragam tentang pemilu yang telah dianggap tidak membawa perubahan bagi kehidupan mereka. Artinya paradigma masyarakat yang terbentuk selama ini adalah “hal manfaat apa yang didapat dari pemilu”, sehingga dapat membentuk sikap apatis terhadap pemilu, dan penilaiannya tidak lain adalah pemilu sebagai permainan politik uang semata untuk memperebutkan kekuasaan. Tidak heran jika ada pandangan bahwa jika ada angka partisipasi yang tinggi pada pemilu itu disebabkan karena manipulasi regulasi uang.

Kultur dan tingkat pemahaman yang rendah masyarakat terhadap pemilu ditambah pragmatisme kolektif membuat angka partisipasi dalam pemilu menjadi sangat rendah. Selain itu, kejenuhan masyarakat juga merupakan penyebab makin rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Sejak adanya pemilihan langsung, rakyat semakin sering mengikuti berbagai pemilu, baik dari tingkat pilkades, pemilukada kabapaten/kota, pemilukada gubernur, pemilu legislatif, maupun pemilu presiden. Tingginya frekuensi keterlibatan masyarakat dalam pemilu itu membuat masyarakat menjadi jenuh. Jika dicoba menghitung keterlibatan masyarakat dalam pemilu secara langsung selama lima tahun, masyarakat akan mengikuti 5 kali pemilu dalam berbagai levelnya (Pilkades, Pilbup, Pilgub, Pileg dan Pilpres).

Telah diduga juga bahwa Penyelenggara Pemilu menjadi salah satu instrumen yang menyebabkan kenapa angka partisipasi pemilu rendah dan telah menjadi sorotan atas ketidaksuksesan penyelenggaraan. Kepercayaan publik terhadap penyelenggara pemilu melemah seiring banyaknya persoalan yang muncul. Persepsi masyarakat tentang ketidaknetralan, kinerja yang buruk serta kredibilitas yang rendah membuat publik merasa bahwa pemilu hanya sebatas seremoni saja. Misalnya banyak yang mempertanyakan kinerja Penyelenggara Pemilu tentang pendataan pemilih yang seringkali tidak akurat alias carut marut, menambah kesan bahwa penyelenggaraan pemilu seakan hanya menjalankan amanah seremonial pesta demokrasi rakyat semata.

C. Pentingnya Partisipasi Masyarakat

Negara yang demokratis sering ditafsirkan sebagai negara yang melibatkan rakyatnya secara keseluruhan dalam pengambilan kebijakan. Definisi inilah yang menjadi landasan untuk mengadakan pemilu secara luberjurdil. Tujuannya untuk memperoleh pemimpin yang memiliki tingkat legitimasi tinggi dari warga negaranya. Dengan legitimasi yang tinggi itu, diharapkan pemimpin akan dapat memimpin roda pemerintahan yang asperatif rakyat. Dalam kenyataannya selama 15 tahun reformasi berjalan, dapat disaksikan bahwa arah demokrasi di negara kita belum mencapai cita-cita bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Indikator dari ketidakberhasilan ini cukup mudah menggambarkannya. Misalnya, secara nasional, ini tampak pada masih tingginya angka kemiskinan, pengangguran, dan tindak kriminal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Maknanya adalah bahwa pemilu yang diselenggarakan secara luberjurdil yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam menentukan siapa yang menjadi pemimpin di negeri ini, ternyata tidak sejalan dengan upaya yang diperoleh untuk mencapai tujuan bangsa. Diantara faktor yang menyebabkan berlakukan perkara ini adalah karena partisipasi rakyat dalam pembangunan hanya diperlukan dalam pemilu saja. Setelah pemilu, partisipasi mereka tidak menjadi sesuatu yang dianggap penting oleh pemimpin atas berbagai argumentasi. Seyogiyanya pelibatan rakyat dalam membangun bangsa ini jangan hanya terbatas dalam pemilu semata. Warga negara mesti dilibatkan dalam segenap proses pembangunan nasional, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pemanfaatan.

Dampak yang paling kongkrit dari minimnya partisipasi rakyat dalam pembangunan, adalah semakin berkurangnya persentase pengguna hak suara dalam pemilu. Dalam pemilu, misalnya, semakin banyak rakyat yang tidak paham dan tidak percaya terhadap kegiatan yang sering disebut sebagai pesta demokrasi rakyat yang menghabiskan anggaran puluhan triliyun ini. Rakyat lebih diperlukan untuk memuluskan perjalanan sebuah partai politik dan para elitenya untuk melanggengkan kekuasaan, daripada dipakai sebagai upaya mengartikulasikan kepentingan masyarakat.

Pemilu menjadi indikator yang paling mudah dalam menentukan sebuah Negara tersebut demokratis atau tidak, karena Pemilu memberikan sebuah momentum kepada masyarakat untuk menentukan arah perkembangan sebuah Negara. Pada Pemilu, masyarakat dapat memilih para wakilnya dan menentukan siapa yang akan memimpin sebuah Negara pada nantinya. Untuk itu, momentum Pemilu juga membutuhkan sebuah pemkasimalan keterlibatan masyarakat. Tanpa adanya pemaksimalan pelibatan masyarakat, maka Pemilu hanya akan menjadi instrumen formal dan indikator penilaian demorkasi saja, tanpa adanya substansi. Dengan demikian, partisipasi masyarakat dalam proses penyelenggaran Pemilu harus terus ditingkatkan.

Namun, kondisi yang terjadi tidaklah demikian, hasil evaluasi Pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Pemilu selalu menurun. Hal ini dapat diketahui dengan semakin meningkatnya angka pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau menjadi golongan putih (golput) dalam setiap penyelenggaraan Pemilu. Tingginya angka golput ini sungguh mengkhawatirkan, karena telah mencapai hampir 30% . Ke depan, potensi golput dikhawatirkan semakin tinggi. Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada tanggal 1-12 Februari 2012 terhadap 2.050 responden dengan metode acak bertingkat memperkuat dugaan tersebut. Survei menyatakan bahwa lebih dari 50 persen responden berpotensi tidak akan memilih pada Pemilu 2014. Hanya 49 persen responden yang sudah mantap menentukan pilihan. Sebanyak 25 persen belum menentukan pilihan dan 26 persen masih ragu-ragu dan belum mantap dengan pilihannya. Hal ini terjadi karena terdapat sebuah kejenuhan masyarakat terhadap sistem dalam Pemilu itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, kini sistem pemerintahan telah menentukan banyaknya pelaksanaan Pemilu, dari Pemilu legislatif, Pemilu Presiden dan pemilihan Kepala Daerah. Selain itu, pola tingkah laku para wakil rakyat dan banyaknya kepala daerah yang tidak bisa menunjukkan kinerja lebih baik, sehingga masyarakat kurang mendapatkan manfaat langsung dari adanya Pemilu. Ditambah parah lagi, pencitraan tingkah laku para wakil rakyat kebanyakan sangatlah memprihatinkan, dari kinerja yang seringkali mangkir, aksi pornografi, korupsi yang meraja lela dan tindakan amoral lainnya. Realitas ini tentu saja bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh sistem demokrasi yang telah dibentuk. Fakta demikian, disertai kondisi yang tak kunjung berubah dan aspirasi rakyat yang terabaikan, kemudian dapat dijadikan alasan pembenar bahwa rakyat berhak merasa jenuh dan tidak percaya lagi terhadap para pemimpin dan wakil yang telah dipilihnya.

Penyelenggaraan pemilu ke depan, partisipasi pemilih mutlak perlu untuk ditingkatkan, tanpa adanya partisipasi pemilih, Pemilu hanyalah menjadikan sebagai objek semata dan salah satu kritiknya adalah ketika masyarakat tidak merasa memiliki dan acuh tak acuh terhadap pemilu. Penempatan pemilih sebagai subjek pemilu mutlak diperlukan sehingga pemilih turut berperan aktif menudukung dalam perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi pelaksanaan Pemilu sesuai dengan peran mereka masing-masing.

D. Meningkatkan Partisipasi Masyarakat

Pertanyaan yang kemudian muncul, mengapa seseorang berpartisipasi atau kurang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemilu?. Ada faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi tinggi rendahnya partisipasi politik seseorang, ialah kesadaran politik dan kepercayaan kepada pemerintah. Yang dimaksud dengan kesadaran politik ialah kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Hal ini menyangkut pengetahuan seseorang tentang lingkungan masyarakat dan lingkungan politik, menyangkut minat serta perhatian seseorang terhadap lingkungan masyarakat dan politik tempat dia hidup. Sedangkan yang dimaksud dengan sikap dan kepercayaan kepada pemerintah ialah penilaian seseorang terhadap kinerja pemerintah apakah ia menilai pemerintah dapat dipercaya dan dapat dipengaruhi ataukah tidak.

Faktor tersebut merupakan modal dasar yang dapat dimanfaatkan dalam membangun kehidupan politik yang lebih berkualitas. Upaya meningkatkan kesadaran politik serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah melainkan salah satu tugas yang harus dijalankan oleh partai politik sebagai organisasi berbasis masyarakat dan ikut bertanggung jawab dalam proses pembangunan politik bangsa. Salah satu pihak yang dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap partisipasi politik masyarakat dalam pemilu adalah partai politik. Proses memasyarakatkan demokrasi dan pengembalian kepercayaan rakyat terhadap sistem dan perwakilannya merupakan salah satu hal penting untuk dilakukan. Secara sederhana, kita dapat melandaskan cara-cara tersebut pada ketentuan Pasal 246 Undang-Undang Nomor 08 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota Legilatif. Terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan instrument untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Pemilu. Dalam ketentuan tersebut, dapat diketahui bahwa partisipasi masyarakat dapat dilakukan menjadi empat bentuk, yaitu sosialiasi, pendidikan bagi pemilih, survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat.

Adanya beberapa konsep dan sarana bagi partisipasi masyarakat tentu saja perlu untuk dimaksimalkan. Pertama, hal yang perlu dilakukan adalah memaksimalkan proses sosialisasi tentang pentingnya Pemilu dalam sebuah Negara yang demokratis, bukan hanya sosialisasi teknis penyelenggaraan Pemilu. Meskipun dalam ketentuan undang-undang menyatakan bahwa sosialisasi dilakukan terkait dengan teknis tahapan penyelenggaraan Pemilu, namun sosialisasi segala hal yang melatarbelakangi dan esensi tujuan diselenggarakannya Pemilu perlu untuk dilakukan. Hal ini menjadi penting karena penanaman pemahaman terkait dengan substansi dan kaidah-kaidah demokrasi merupakan inti penggerak semangat masyarakat untuk terus menjaga demokrasi dan penyelenggaraan Pemilu di Negara ini.

Kedua, pendidikan bagi pemilih perlu mendapatkan fokus yang jelas. Ini terkait dengan proses segmentasi pendidikan pemilih. Pemilih pemula merupakan segmentasi penting dalam upaya melakukan pendidikan bagi pemilih dan tentunya pendidikan bagi pemilih pemula ini tidak hanya dilakukan ketika masuk usia pilih. Namun lebih dari itu, pendidikan bagi pemula seyogyanya dilakukan sedini mungkin, sehingga pemahaman hakekat demokratisasi sudah terbangun dan ketika sudah mencapai usia pemilih, para pemilih pemula sudah siap menggunakan hak pilihnya secara cerdas. Pengetahuan tentang substansi dilakukannya pemilu sebagai bentuk kedaulatan rakyat dan peran masyarakat termasuk pemilih pemula menjadi penting untuk disampaikan dalam materi kegiatan pendidikan bagi pemilih, sehingga dapat berperan dalam mengambil bagian untuk berpartisipasi pada setiap penyelenggaraan pemilu.

Ketiga, survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat yang kini banyak mendapatkan sorotan publik terkait dengan integritas pelaksanaannya. Banyak anggapan bahwa survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat dilakukan hanya untuk kepentingan profit saja. Namun, di satu sisi, perlu diperhatikan bahwa keberadaan kegiatan survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat sangatlah penting. Kegiatan tersebut juga bisa dijadikan sebuah sarana untuk menyebarluaskan informasi terkait dengan penyelenggaraan Pemilu. Untuk itu, kegiatan survei atau jajak pendapat dan penghitungan cepat perlu mendapatkan dukungan, karena kegiatan tersebut merupakan sarana yang tentu saja bukan hanya ditujukan untuk menghitung atau profit saja, namun lebih dari itu, ada proses pendidikan bagi para pemilih serta informasi terkait dengan penyelenggaraan Pemilu.

Keempat, tentu saja terkait dengan peningkatan kinerja penyelenggara Pemilu, bukan hanya terkait dengan kinerja teknis penyelenggaraan, namun juga dalam hal penumbuhan kesadaran tentang pentingnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan Pemilu, sehingga masyarakat bisa memahami partisipasi apa saja yang dapat dilakukan dan apa output dari partisipasi tersebut. Bentuk netralitas, transparansi dan tanggung jawab sebagai kepribadian utama dari penyelenggara pemilu perlu dikedepankan dalam mengawal suksesnya setiap tahapan penyelenggaraan pemilu. Jika sudah ditanamkan kepercayaan atas kometmen kejujuran dan ketidakberpihkan, maka masyarakat bisa antusias dalam ikut berpartisipasi dalam setiap penyelenggaraan pemilu.

E. Penutup

Sosialisasi yang tidak masif pada level masyarakat tentang pemilu dan cara memilihnya membuat masih banyak masyarakat yang belum tahu tentang adanya pemilu dan bagaimana cara memilihnya. Dalam konteks pemilu memang sangat jarang sekali dijumpai gerakan yang menyerukan golput, gerakan golput hanya akan muncul ketika semua instrumen dalam pemilu mengalami ketidakberesan. Walau bagaimanapun gerakan golput ini perlu mendapatkan perhatian, bukan tidak mungkin gerakan ini akan menguat menjelang pemilu mengingat banyak sekali celah yang memungkinkan untuk gerakan golput ini muncul.

Mengapa orang semakin enggan berpartisipasi dalam Pemilu, salah satu penyebabnya adalah bahwa mereka merasa tidak cukup melihat adanya tanda-tanda bahwa kalangan elite politik yang sudah menduduki jabatan menunjukan kinerjanya yang baik. Dari dahulu hingga sekarang, menurut penilaian konstituen, para elite Parpol dan atau kepala daerah hanya peduli pada konstituen jika hanya menjelang pemilu saja. Setiap kali menjelang Pemilu, para elite parpol dan kepala daerah banyak mengumbar janji manis kepada rakyat, akan tetapi setelah pemilu janji hanya tinggal janji, tidak pernah ditepati. Masyarakat merasa dimanfaatkan parpol dengan diiming-imingi janji kampanye melulu. Sekarang masyarakat sudah mulai tahu dan bisa menilai visi-misi dan kinerja para elite Parpol dan atau kepala daerah, dan bagi rakyat semua itu hanya janji-janji surga aja. Rakyat semakin malas, cuek, dan bosan ikut Pemilu. Beberapa kali pemilu tidak ada perubahan mendasar. Bagi mereka, buat apa ikut Pemilu. Sikap ini berlangsung terutama di perkotaan dan di kalangan orang-orang yang terdidik. Meski demikian, sikap itu hanya individual saja, tapi karena banyak dan masif, bisa saja akan menjadi signifikan.

Terlepas dari semua hal di atas, selama ini ditemukan banyak kasus penyelenggaraan pemilu yang berasaskan luberjurdil telah terjadi sengketa dan diselesaikan melalui mahkamah konstitusi, disamping itu tingginya angka golput tidaklah menjadi alasan untuk pemilu tidak legitimat. Sekalipun angka partisipasi masyarakat menunjukkan hanya sekitar 70 persen, hasil itu tetap sah dalam konteks demokrasi. Artinya gerakan dan pilihan untuk golput tidaklah menyelesaikan masalah. Hal terbaik yang harus dilakukan adalah memastikan semua syarat agar masyarakat tidak golput itu dipenuhi, kinerja semua Penyelenggara Pemilu (Dari KPU Pusat sampai dengan PPS) sebagai penyelenggara perlu ditingkatkan kinerjanya, masyarakat perlu dicerdaskan dan para calon serta partai pengusung menghindari cara-cara yang tidak bermartabat, dengan demikian dapat memastikan pemilu dapat diikuti oleh masyarakat dengan baik, dengan ditandai angka partisipasi masyarakat yang tinggi dalam setiap penyelenggaraan pemilu. Kepada penyelenggara pemilu, marilah menjadi pendekar sejati yang tidak mengenal lelah, lakukanlah sosialisasi atau penyuluhan untuk mengajak dan menyadarkan masyarakat agar mau untuk selalu berperan serta dalam setiap penyelenggaraan pemilu, demi tegaknya pemerintahan yang berlandaskan kedaulatan rakyat. 

Anda punya tulisan seputar Pulau Bawean, silahkan mail melalui : mediabawean@gmail.com
Informasi lengkap Media Bawean melalui Pin BB : 2654CFA2

Bupati Gresik Melepas dan Menerima
Guru IM Bertugas di Pulau Bawean

Media Bawean, 18 Juni 2013


Pengabdian Guru Muda Indonesia Mengajar (IM) di Pulau Bawean sudah memasuki angkatan ke 3 dari 6 kali angkatan.

Penerimaan guru baru yang ditempatkan di Pulau Bawean dan pelepasan guru muda yang telah selesai melaksanakan tugasnya, dilaksanakan di Gedung Putri Mijil, Pendopo Kabupaten Gresik oleh Bupati Sambari Halim Radianto, (senin, 17/6/2013).

Dalam sambutannya, Bupati Gresik mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada guru muda Indonesia Mengajar yang bertugas di Pulau Bawean. "Perjuangan dan pengabdianya sangat besar dan memberikan kontribusi besar untuk kemajuan Pulau Bawean,"katanya.

"Dengan semangat tinggi telah melaksanakan tugas secara baik, dalam rangka mencerdaskan kehidupan anak bangsa di Pulau Bawean,"ujarnya.

Kepada tenaga guru muda yang baru, Bupati Gresik mengucapkan selamat datang di Pulau Bawean. "Semoga berhasil dengan sukses untuk melaksanakan tugasnya selama setahun di Pulau Bawean,'paparnya.

Sambari Halim Radianto berpesan kepada guru IM, agar siswa tidak perlu mempelajari banyak keilmuan. "Cukup melalui bidang keahliannya tapi fokus sehingga bisa berhasil meraih cita-citanya sesuai harapan bersama,"pesanya.

"Bila siswa disuguhi banyak cabang keilmuan, tentunya akan bingung serta tidak konsentrasi dengan ilmu yang seharusnya dikuasai secara mahir,"terangnya.

Akhir acara, Guru Indonesia Mengajar menerima kenang-kenangan dari Bupati Gresik, sebaliknya Guru IM juga memberikan kenang-kenangan kepada Pemerintah Kabupaten Gresik. (bst)

Group Zamrah Pelajar Asal Bawean
SD & SMP Kalah, SMA Siap Bertanding

Media Bawean, 18 Juni 2013


Kesenian zamrah pelajar asal Pulau Bawean yang mengikuti Pekan Seni Pelajar Jawa Timur tahun 2013 di Surabaya mewakili Kabupaten Gresik, harapannya tertumpu pada group zamrah asal SMAN I Sangkapura.

Hasil pertandingan kemarin, yaitu kesenian zamrah tingkat SD dan SMP asal Pulau Bawean yang turut bertanding, ternyata gagal tidak berhasil meraih kemenangan.

Lubis sebagai staf di UPTD Pendidikan Sangkapura, menyatakan tingkat SD dan SMP belum berhasil meraih kemenangan dalam mengikuti Pekan Seni Jawa Timur di Surabaya.

Juhari sebagai pelatih di SMP dan SMA, dihubungi Media Bawean mengatakan kekurangannya terletak di vokal, sedangkan kekompakan musik masih menguasainya.

"Harapannya kepada personel zamrah SMAN I Sangkapura yang akan bertanding hari ini (selasa, 18/6/2013) di Surabaya, semoga bisa menang membawa prestasi,"katanya.

Juhari optimis untuk tingkat SMA akan tampil lebih baik, sehubungan vokalisnya sudah dipersiapkan matang untuk turut bertanding di arena Pekan Seni Pelajar tingkat Jawa Timur. (bst)

Memutar Balik Tradisi Pulau Bawean
Memahamkan Arti Nishfu Sya'ban

Media Bawean, 18 Juni 2013

Menyelami Misteri Malam Nishfu Sya’ban 
Antara Tradisi dan Keyakinan 
Oleh : Sugriyanto 
Guru SMAN I Sangkapura

Gelar “Syahrul Hurum” atau bulan-bulan mulia dalam Islam desematkan kepada empat nama bulan yakni bulan Dzul Qaidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.(Ket: H. Baidawi). Mengenai keterangan tentang nama bulan Sya’ban dapat dicari dengan cermat berdasarkan akar katanya. Dari Yahya bin Mu’adz bahwa dia berkata: “Sesungguhnya di dalam kata “Sya’ban” mengandung lima huruf, yang masing-masing huruf itu merupakan singkatan anugerah kepada orang-orang beriman. “Syiin kepanjangan kata syairafun wa syafa’atun artinya kemuliaan dan pertolongan; ain kepanjangan kata izzatun wa karamatun artinya keperkasaan dan keutamaan; baa-un kepanjangan kata birrun artinya kebaikan; alifun kepanjangan kata ulfatun artinya rasa kasih sayang; nuunun kepanjangan kata nuurun artinya cahaya. 

Bila diartikan dengan bebas kata Sya’ban bisa bermakna bulan yang penuh kemuliaan dan pertolongan serta keperkasaan dan keutamaan berupa kebaikan dan kasih sayang yang terus bercahaya atau bersinar. Masih dalam kitab yang sama Rasulullah Muhammad SAW. bersabda yang artinya demikian: “Tahukah kamu sekalian, mengapa dinamakan bulan Sya’ban? Mereka menjawab : Allah dan Rasulnya Maha Mengetahui. Beliau (Rasulullah SAW.) bersabda: “Karena di dalam bulan itu bercabanglah kebaikan yang banyak sekali.” (Raudhatul Ulama).

Menyoal tradisi malam Nishfu Sya’ban yang dirayakan secara semarak dan bersahaja dengan berbagai prosesi ritual keagamaan memberikan nuansa tersendiri. Ritual itu bernilai eksotik dan menarik perhatian untuk dikaji lebih dalam munculnya tatacara perayaan malam Nishfu Sya’ban yang jatuh pada malam 15 Sya”ban (purnama) itu. Senyampang sekadar sebuah tradisi perlu kiranya landasan tradisi tersebut. Di dalam buku saku atau buku putih berjudul “Aswaja An-Nahdliyah” terbitan PWNU Jawa Timur yang diterbitkan Khalista Surabaya pada halaman 31 ditegaskan dengan gamblang bahwa:
“Kehidupan tidak bisa dipisahkan dengan budaya. Itu karena budaya adalah kreasi manusia untuk memenuhi kebutuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya. Karena itu, salah satu karakter dasar dari setiap budaya adalah perubahan yang terus-menerus sebagaimana kehidupan itu sendiri. Dan karena diciptakan oleh manusia, maka budaya juga bersifat beragam sebagaimana keragaman manusia.” 

Namun, dengan berpegang pada prinsip mempertahankan kebaikan warisan masa lalu dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. Kaidah ini menuntun untuk memperlakukan fenomena kehidupan secara seimbang dan proporsional. Senada dengan tradisi atau budaya DR. R. Soekmono dalam buku Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia1 menegaskan bahwa pada hakikatnya kebudayaan itu mempunyai dua segi, bagian yang tidak dapat dilepaskan hubungannya satu sama lain yaitu:

a. Segi kebendaan, yang meliputi segala benda buatan manusia sebagai perwujudan dari akalnya. Hasil-hasil ini dapat diraba,

b. Segi kerokhanian, terdiri atas alam pikiran dan kumpulan perasaan yang tersusun teratur. Keduanya tidak dapat diraba, hanya penjelamaannya saja yang dapat dipahami dari keagamaan, kesenian, kemasyarakatan dan sebagainya. (1991:9)

Bagaimana dengan tradisi atau budaya (baca: kebiasaan) warga di Pulau Bawean Kabupaten Gresik melakoni ritual memasuki malam Nishfu Sya’ban? Menjelang magrib warga Pulau Bawean disibukkan dengan mempersiapkan hidangan makanan berupa nasi dengan segala lauk pauknya plus amok-amok (kudapan, cuci mulut) yang disajikan di baki (baca: Bawean-talam) untuk disuguhkan sesudah acara pembacaan surat Yasin tiga kali dengan ditutup doa Nishfu Sya’ban. Biasanya semua anggota keluarga sekitar langgar, mushallah, bahkan mesjid hadir untuk melakukan ritual bersama-sama. Memang beda dusun beda cara tentang suguhan atau “angkatan” atau “bherkat”-nya. Lain ladang lain belalang. Hanya masalah ritual keagamaannya relatif sama. Tentu semua itu dilakukan setelah shalat maghrib berjamaah. Sebagai pegangan agar pembacaan surat Yaa siin sampai pada maksudnya tidaklah berlebihan bila disitirkan fadilah pembacaan surat Yaa Siin yang termaktub dalam kitab Himpunan Fadlilah Amal karya Maulana Muhammad Zakariyya Al-kandahlawi r.a. yang diterjemahkan oleh Ustadz A. Abdurrahaman Ahmad dkk bahwa banyak riwayat yang menjelaskan tentang fadhilah surat Yaa Siin, salah satunya menyebutkan bahwa segala sesuatu mempunyai hati, dan hati Al-Qur’an adalah surat Yaa Siin.

Allah SWT telah membacakan surat Thaaha dan surat Yaa Siin seribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Di dalam kitab Taurat (kitab Nabi Musa) surat Yaa Siin dinamakan “Mun’imah” karena ia membawa kebaikan dunia dan akhirat dan menjauhkan kesusahan dunia dan akhirat. Surat Yaa Siin juga dinamakan “Rafi’ah Khaafidhah” yaitu mengangkat derajat orang-orang mukmin dan merendahkan derajat orang-orang kafir. Rasulullah bersabda

1. Barang siapa membaca yaa siin ia akan diampuni
2. Barang siapa membacanya ketika lapar ia akan dihilangkan kelaparannya
3. Barang siapa membaca yaa siin ketika tersesat di jalan ia akan kembali menemukan jalannya.
4. Barang siapa membaca karena kehilangan hewannya ia akan mendapatkannya kembali.
5. Jika dibacakan kepada orang yang akan meninggal dunia akan dimudahkan matinya.
6. Dan jika membacakan pada wanita yang sulit melahirkan, wanita itu akan mudah melahirkan.

Masih banyak fadhilah atau keutamaan dari surat Yaa Siin (2006:62). Senada dengan hal di atas Moh.Abdoi Rathomy dalam buku Penuntun Khutbah Komplit terdapat beberapa hal yang perlu dimaklumi mengenai Nishfu Sya’ban atau pertengahan bulan Sya’ban ialah :

1. Turunnya Allah Ta’ala ( Rahmat-Nya) pada malam Nishfu Sya’ban, yaitu sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. demikian artinya :
“ Sesungguhnya Allah Ta’ala (Rahmat-Nya) itu turun pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia, Ia mengampuni (kepada hamba-hamba-Nya) lebih banyak hitungannya daripada rambut/ bulu binatang yang dimangsa oleh anjing”

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu majah dari Sayyidah Aisyah r.a) 2. Membaca surat Yaa Siin tiga kali dan doanya sekali , sebagaimana yang lazim berlaku, itu baik saja diamalkan. Ini disebutkan dalam kitab “Asnal Mathalib” karangan Syekh Muhammad bin Sayyid Darwisy yang artinya demikian:

“ Adapun membaca surat Yaa Siin pada malam Nishfu Sa’ban sesudah maghrib dan berdoa dengan doa yang masyhur itu adalah dari penertiban oleh kebaikan, ada yang mengatakan bahwa beliau itu ialah Imam Al-Buni yaitu sesuatu yang dari dirinya sendiri dan tidak apalah mengamalkan yang sebagaimana yang demikian itu,”

3. Adapun shalat Nishfu Sa’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) yakni shalat sunnah yang diniatkan khusus karena datangnya malam Nishfu Sya’ban itu termasuk bid’ah yang buruk (qabihah) dan tidak boleh mengamalkan, sebagaimana yang tersebut dalam kitab “Fathulmu’in” demikian artinya
“Adapun shalat raghaib (pada malam Jumat pertama dalam bulan Rajab) , shalat Nishfu Sya’ban dan shalat hari Asyura maka semuanya itu adalah bid’ah yang buruk.” Maka itu jangan sekali-kali mengamalkannya karena bid’ah qabihah sebagaimana di atas itu tersesat.

Sebagaimana sabda Rasulllah Muhammad SAW dalam haditsnya yang artinya demikian: “Semua kebid’ahan (yang buruk) itu tersesat, dan semua kesesatan itu di dalam neraka.” (Hadits ini dianggap shaheh oleh Imam Tirmidzi dan lain-lain).

Bulan Sya’ban dapat dikatakan bulan mulia sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW. yang artinya demikiasn:
“Keutamaan bulan Sya’ban melebihi bulan-bulan lain adalah seperti keutamaan saya (Nabi Muhammad SAW.) melebihi nabi-nabi yang lain, sedangkan keutamaan bulan Ramadhan melebihi bulan-bulan lain adalah keutamaan Allah Ta’ala melebihi semua hamba-Nya.” Senada pula dengan hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah, r.a. demikian artinya: “Saya (Sayyidah Aisyah, r.a) belum pernah melihat Rasulullah SAW. menyempurnakan puasa sebulan penuh, melainkan dalam bulan Ramadhan dan saya (Sayyidah Aisyah, r.a.) belum pernah melihat beliau (Rasulullah Muhammad SAW) banyak berpuasa dalam sesuatu bulan (tetapi tidak sebulan suntuk) lebih dari bulan Sya’ban.” (Diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim).

Sahabat Usamah bin Zaid, r.a. pernah meminta keterangan kepada Rasulullah Muhammad SAW. mengapa kerap kali berpuasa dalam bulan Sya’ban itu?

Lalu Beliau (Rasulullah Mhammad SAW.) menjawab:

“itu adalah bulan yang dilupakan oleh para manusia, yakni bulan Sya’ban yakni yang terletak di antara bulan Rajab dan Bulan Ramadhan. Dalam bulan itulah (Sya’ban) diangkatnya semua amal perbuatan makhluk kepada Allah seru sekalian alam, maka saya (Rasululah Muhammad SAW.) senang sekali kalau amal-amal diangkat sedang saya (Rasulullah Muhammad SAW.) dalam keadaan berpuasa.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Nasa’i serta dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

Nah, bagaimana dengan tradisi menimba air sumur di tengah malam atau sesudah shalat isya?” Apa rahasia yang masih menjadi misteri hingga saat ini? Perlu dicari tahu hal-hal yang mengisahkan tentang kejadian aneh dan diluar jangkauan kemampuan akal manusia. Bahkan orang tua-tua sering kali memberikan petatah-petitih kepada anaknya di kala memasuki malam Nishfu Sya’ban untuk menengok air sumur di tengah malam itu. Kejadian luar biasa itu berupa sebuah pernyataan yang perlu dibuktikan kebenarannya yakni air sumur mendidih (bukan panas) melainkan ngalkal menggelembung-gelembung. Rahasia atau misterinya akan tersingkap kemudian. Apa sebenarnya filoshofi dari mengambil air sumur di tengah malam hingga bila perlu mengambil atau menimba dari 7 (tujuh) sumur di sekitar rumah tetangga. Maksud dari penimbaan air 7 (tujuh) sumur di malam hari tak lain dan tak bukan sebagai simbol atau perlambang adanya rasa kebersamaan yakni take and give sesama tetangga. Rasa persatuan dan kebersamaan yang harus tetap dibina dan diusahakan. Termasuk adanya unsur pendidikan orang tua kepada anaknya bahwa rezeki harus dikasyab, ikhtiar dengan usaha untuk mendapatkannya. Biasanya air sumur yang ditimba dibawa dengan tempat yang namanya gerabah atau tembikar terbuat dari tanah liat yang sudah dibakar, bentuknya menyerupai buah labu ukuran besar yang mulut lubangnya mengangah ke atas persis mulut manusia saat memoncongkan diri ke atas langit dengan leher mulut kurang lebih setengah jengkal jari orang tua. Namanya labu kolak (red: kolek) Warga Pulau Bawean menamakan alat pengangkut air itu dengan sebutan bhujung. Menurut kepercayaan atau keyakinan warga Pulau Bawean pertemuan air 7 (tujuh) sumur dalam satu guci (baca: Ghentong) itu memeberikan berkah sebagai obat dari segala macam penyakit karena air yang diambil belum tersentuh bahan kimia. Jadi benar-benar air tanah yang belum terkontaminasi. Biasanya pengambilan air itu dilakukan anak-anak perempuan terutama gadis-gadis belia yang cantik jelita.(Penuturan Bunda Fathanah staf tata Usaha SMA Negeri 1 Sangkapura).

Jangan sampai kehilangan “tongkat” sebagai pegangan dalam menguak tabir misteri mendidihnya air sumur di tengah malam bulan Nishfu Sya’ban. Orang tua-tua lewat petuah menuntut anaknya menyelami sendiri misteri apa yang terjadi dan dari mana sumber kebenaran itu? Setelah ditelusuri melalui kegiatan tilik pustaka dengan membongkar-bongkar buku yang sekira memiliki relevansi akhirnya ditemukan juga literatur yang sedikit agak mendekati kebenaran. Proses penyellekan (baca: disellek) laksana orang perempuan mencari kutu rambut di kepala akhirnya bertemu dengan sebuah kitab berjudul “Durratun Naasihiin, Mutiara Muballigh” yang dituls oleh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubiyyi pada halaman 69 dikisahkan dari riwayat Anas bin Malik dari Rasulullah Muhammad SAW. bersabda yang artinya kurang lebih sebagai berikut.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan air laut dari sinar di bawah arsy, kemudian menciptakan satu malaikat yang mempunyai dua sayap, satu sayapnya di timur dan satu sayapnya yang lain di barat, sedang kepalanya di bawah arsy dan dua kakinya di bawah bumi yang ketujuh. Apabila seorang hamba membaca shalawat untuk saya (Nabi Muhammad SAW) di bulan Sya’ban, maka Allah Ta’ala menyuruh malaikat itu agar menyelam di air “Hidup” . Malaikat itu pun menyelam , kemudian keluar dari dalam air serta mengibas- ngibaskan sayapnya sehingga berteteslah air di bulunya, tetesan air yang banyak sekali. Maka Allah Ta’ala menciptakan dari tiap-tiap tetes air itu akan satu malaikat yang memohonkan ampun baginya (orang yang membacakan shalawat) sampai hari kiamat.” (Zubdatul Waa’ izdiina).

Terjawab sudah kenapa harus mengambil di 7 (tujuh) sumur dan kenapa air sumur seperti mendidih keadaannya.

Apakah misteri hanya itu saja? Masih terdapat tradisi unik dan menarik lagi yang dilakoni warga Plau Bawean setelah acara pembacaan Yaa Siin dan doa di tempat-tempat ibadah yang tidak kalah menariknya dari tradisi di atas. Pada tengah malam bulan Nishfu Sya’ban warga Pulau Bawean tua muda bahkan sampai yang “ngolngol” alias ompong dan “kelpong” bin peot dengan rambut penuh beruban tidak mau ketinggalan melakukan kegiatan “ngalab berkah” dengan begadang di malam hari. Di zaman dahulu (Bawean: tapongkor, enje’enna) sebagian warga Pulau Bawean begadang di tengah malam Nishfu Sya’ban dengan berjalan kaki paling pol naik sepeda onthel beramai-ramai menuju pantai (red: tasek). Konon kepergian warga Pulau Bawean berbondong-bondong begadang ke tepi tasek atau laut (pantai) di tengah malam Nishfu Sya’ban sekadar hendak bersua dengan Nabi Khaidlir, AS yang terkenal dengan kealimannya melebihi Nabi Musa, AS. Sungguh masuk akal dan tidak sesat anggapan seperti itu bila dikaitkan dengan tarekh dari Ibnu Katsir yang berjudul “Kisah Para Nabi”. Amat perlu kiranya dinukilkan peristiwa pertemuan Nabi Musa, AS dan Nabi Khidir, AS menurut Ibnu Abbas dari rasulullah Muhammad SAW. bersabda:

Sesungguhnya Musa,AS pernah berdiri sembari memberikan ceramah kepada kaumnya yakni kaum Bani Israil, lalu Musa,AS ditanya, “Siapakah orang yang paling banyak berilmu?” Musa,AS menjawab “Aku.” Maka Allah mencelanya, karena Ia (Musa,AS) belum diberi ilmu oleh-Nya. Lalu Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa, AS “Sesungguhnya Aku (Allah Ta’ala} mempunyai seorang hamba yang berada di pertemuan dua laut lebih berilmu daripada dirimu.” Musa,AS berkata “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuinya?” Dia (Allah Ta’ala) berfirman “Pergilah dengan membawa seekor ikan besar, dan letakkanlah ia di tempat penimbunan. Di mana ikan itu hilang, maka di situlah Khaidir,AS itu berada.” (2008:456).

Terang sudah perihal keberadaan Nabi Khidir, AS yang semula hanya sekadar cerita lisan yang tidak ditemukan juntrungnya, kini menjadi jelas kisahnya. Bahkan dalam kitab yang sama Ibnu Katsir mengurai dengan rinci dialog antara Nabi Musa, AS dengan Nabi Khidir, AS mengenai perahu yang ditenggelamkan beserta penumpang dan isinya, anak kecil tak berdosa yang dibunuh dengan dicabut kepala dari lehernya oleh Nabi Khaidir,As, serta menegakkan dinding rumah yang miring milik anak yatim tanpa meminta imbalan menjadi pengalaman berarti bagi Nabi Musa, AS bahwa kealiman Nabi Khidir,AS melebihi dirinya (Nabi Musa, AS).

Peristiwa “begadang” itu pernah dilakukan oleh Imam Al Buni dengan cara wiridan panjang sehabis shalat Isya’. Dikhawatirkan diri dan santrinya mengantuk akhirnya Imam Al Buni wiridan sambil berjalan menuju pantai yang diikuti oleh para santrinya. Ini mungkin yang mentradisi di Pulau Bawean. Namun sedikit beda cara. Di tepi pantai bukan sekadar duduk atau santai pada malam Nishfu Sya’ban melainkan dilanjutkan secara bergerombol atau rombongan menyewa Jhukong, sampan, dan perahu milik warga pesisir untuk melarungkan diri ke tengah lautan agar benar-benar bisa bertemu dengan Nabiullah Khidir, AS. Sungguh menyenangkan berdayung sampan di tengah lautan yang airnya penuh pendaran cahaya bulan yang berkilau laksana mutiara atau ratna mutu manikam (Koes Plus). Kegembiraan dan kesenangan warga Pulau Bawwean menjadi keterusan dalam rumbai ombak dan gelombang laut yang berupa riak-riak kecil tak hendak menyegerahkan pulang. Apalagi peristiwa ini dialami hanya sekali dalam setahun tentu ingin berlama-lama dan berpuas-puas menikmati malam Nishfu Sya’ban.

Sebelum tulisan ini ditutup alangkah berartinya bila ditegaskan kembali kepada warga Pulau Bawean agar berhati-hati dalam menyikapi adanya bentuk ibadah yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits atau yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulllah Muhammad SAW seperti keterangan bid’ah di atas untuk tidak dilaksanakan. Ganti saja dengan “Qiyamul lail” atau shalat sunnat Tahajjud atau shalat sunnat lainnya yang disunnahkan. Sehingga berkah dan rahmat malam Nishfu Sya’ban benar-benar menjadi hak warga Pulau Bawean serta umat Islam di dunia pada umumnya. Sudah menjadi kemahfuman bersama bahwa ketiga bulan yang menjadi Syahrul Hurum itu telah diterangkan yakni bulan Rajab kesempatan membersihkan badan atau tubuh dengan memohon ampun dari segala dosa, bulan Sya’ban kesempatan membersihkan hati dengan memperbaiki hati dari segala macam cela dan bulan Ramadhan kesempatan menyucikan jiwa (roh) dengan lailatul Qadar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT menuju jiwa kembali suci (fitrah) (Zubdatul Waa”izdiina:77).

Seiring dengan perkembangan zaman dan berubahnya segala macam kebiasaan setelah masuknya berbagai macam kemajuan dan teknologi tradisi itu hampir lenyap ditelan derasnya arus globalisasi. Malam Nishfu Sya’ban dibingarkan dengan dentum mercon dan deruh kenalpot sepeda motor yang tidak ditemukan sedikitpun nilai-nilai ritual keagamaannya. Haruskah generasi penerus melenyapkan tradisi yang masih memiliki nilai kebaikan dibandingkan dengan letupan mercon dan gemuruh kenalpot sepeda motor? Orang tualah yang bisa menyangoni benak para generasi penerus dengan menanamkan tradisi agar tetap tumbuh bersemayam di lubuk anak-anak muda. Ibu-ibu di dapur pun kehilangan dendang romantisnya tatkala memasak nasi ubi kayu yang dipasak (diparut kasar-kasar) menjelang subuh. Sudah tidak terdengar kembali senandung untaian karmina nan elok dan indah “Sak-sak benan, pasak-pasak ka abenan!”

KPPI Gresik Berkunjung ke Bawean
Menyerap Aspirasi Kaum Perempuan

Media Bawean, 16 Juni 2013

"Perempuan asal Pulau Bawean sudah waktunya bangkit untuk menunjukkan jatidirinya, tanpa melupakan kodratnya sebagai kaum ibu"

Nurul Fajeri sebagai Sekretaris Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kabupaten Gresik selama beberapa hari berada di Pulau Bawean, tujuannya mempelajari serta menyerap keinginan kaum perempuan di Pulau Bawean.

Tadi malam (sabtu malam minggu, 15/6/2013), perempuan akitvis asal Gresik yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kabupaten Gresik berkunjung ke kantor Media Bawean, di Bangkalan, desa Sawahmulya, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Setelah mendatangi banyak kampung di Pulau Bawean, Nurul Fajeri menyimpulkan bahwa perempuan di Pulau Bawean bisa dikategorikan ada 2 bagian, yaitu perempuan pedesaan dan perempuan perkotaan.

Perempuan di pedesaaan menurutnya masih memiliki keperdulian yang sangat tinggi dan mempunyai antuasias untuk mengangkat jatidirinya untuk melakukan perubahan, walaupun dari sisi pendidikan masih dikatakan minim.

"Mereka antusias sekali untuk melakukan perubahan, serta siap mengikuti kegiatan seperti kursus menjahit ataupun merias pengantin,"katanya.

Sebaliknya, perempuan di perkotaan terkesan cuek untuk ditawari program untuk mengangkat jati dirinya untuk bisa lebih baik. "Kemungkinan mereka sudah merasa memiliki pendidikan tinggi sehingga sulit diajak untuk melakukan perubahan,"paparnya.

"Tidak semuanya memiliki pendapat yang sama, memang ada sebagian perempuan di perkotaan yang responnya sangat bagus dan menerimanya dengan baik,"ujarnya.

 Menurut Nurul Fajeri, rencana kedepan KPPI Kabupaten Gresik akan mengadakan kegiatan di Pulau Bawean, diantaranya kursus merias pengantin, tata cara membuat kerudung, kursus anyaman tikar, serta kegiatan lain yang khususnya berkaitan dengan perempuan. "Kegiatan ini bisa dilakukan di rumah, untuk mengisi waktu kosong setelah melaksanakan aktivitas,"terangnya.

Kesannya selama di Pulau Bawean? "Perempuan kecenderungan mempertahankan sesuatu yang sudah umum, contohnya kerupuk ikan. Umumnya seluruh kerupuk di Pulau Bawean terbuat dari ikan, dan bentuknya seragam tidak suka berbeda-beda,"jawabnya.

Ada satu hal yang menjadi soroton aktivis dari Partai Golkar, sesuai keluhan banyak kaum ibu di Pulau Bawean, ternyata masih banyak guru yang semena-mena terhadap murid atau siswa dalam mendidiknya. "Artinya suka melakukan kekerasan terhadap siswa dalam mendidik di sekolah,"pungkasnya. (bst)

Besok Kapal Tungkal Samudera
Berangkat Gresik - Pulau Bawean

Media Bawean, 14 Juni 2013 

Putusnya jalur transportasi Gresik - Pulau Bawean akibat gelombang tinggi di perairan laut jawa, kembali akan normal mulai besok (sabtu, 15/6/2013).

Dihubungi Media Bawean (jum'at, 14/6/2013), Dirut PT Restu Pertiwi Buana selaku owner MV Tungkal Samudera 01, Adnan Khashogi Johan mengatakan besok sabtu (15/6/2013) kapan tungkal samudera akan berangkat melayani transportasi Gresik - Bawean.

"Keberangkatan dari Pulau Bawean - Gresik sesuai jadwal, yaitu hari minggu,"ujarnya.

Rencana keberangkatan kapal besok, menurut Adnan Khashogi Johan, sudah mengantongi izin keberangkatan dari petugas di Gresik.

Perlu diketahui, akibat putusnya jalur transportasi Gresik - Bawean telah membuat kekhwatiran banyak calon mahasiswa baru yang diterima di PTN, sehubungan jadwal daftar dan test ulang sudah mendekati waktu pelaksanaan.

Lainnya, diantaranya ada warga Malaysia yang berkunjung ke desa Daun menghubungi Media Bawean, bahwa tiket pesawat untuk kembali ke negara asalnya terancam hangus bila tidak ada kapal yang melayani transportasi Bawean - Gresik. (bst)

6 Calon DPRD Gresik asal Desa Daun
Kepala Desa Daun Memilih Netral

Media Bawean, 14 Juni 2013


Menjelang pesta demokrasi tahun 2014 yaitu pemilihan umum (Pemilu) legislatif untuk kursi DPRD Kabupaten Gresik, ternyata calon dari berbagai partai politik didominasi asal desa Daun, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Ada 6 calon anggota DPRD Kabupaten Gresik, asal desa Daun yang siap bertarung dalam pesta demokrasi tahun 2014. Yaitu :
1. H. Zulfan Hasyim (Caleg PKB No. 1)
2. Zubdaturrif'ah (Caleg PKB No. 3)
3. Miftahol Jannah (Caleg Partai Golkar No. 1)
4. Eklis Dinika (Caleg PAN No. 4)
5. Esfar (Caleg PPP No. 5)
6. Tutik Hayati (Caleg PKPI No. 1)

Abdul Aziz sebagai Kepala Desa Daun ditemui Media Bawean, mengatakan ada 6 calon anggota DPRD asal desa Daun. "Semuanya sudah siap bertarung untuk menjadi pemenang,"katanya.

Banyak calon anggota dewan dari desa Daun, menurut Abdul Aziz, dimungkinkan desa Daun mengkhawatirkan bagi partai politik di Pulau Bawean, sehingga diperbanyak calon dari desa Daun.

Abdul Aziz mengaku sudah berpesan kepada calon anggota dewan asal desa Daun, agar mencari suara sebaiknya keluar desa Daun, alasannya pemilih di dalam sudah punya pilihan sendiri sesuai hati nuraninya.

Bagaimana sikap sebagai kepala desa? "Saya netral, tidak akan mendukung salah satu calon diantara 6 yang berasal dari desa Daun,"jawabnya.

Menurut Achmad Fathani sebagai tokoh masyarakat Daun, menyatakan desa Daun sebagai tumbal saja., sebab kalau semuanya kompak satu suara, bisa mengantarkan satu calon anggotan dewan.

"Semoga warga desa Daun tetap bersatu walaupun pilihannya beda dan menjadi pemilih yang cerdas, tidak menjadi buaya bagi para calon. Mereka keluarga besar masyarakat desa Daun, antara satu dengan lainnya akan saling membutuhkan,"paparnya.

"Dengan banyak calon tentunya masyarakat desa Daun akan terpecah, sesuai keluarga besarnya masing-masing calon,"ujarnya. (bst)

Popular Posts

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.