Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Memoar : Lima Tahun Sudah Khairul Anwar Bersama Paus (Bagian 1)



TULISAN SUGRIYANTO

Kisah ini terungkap kembali secara utuh saat saya bertemu dengan seorang Khairul Anwar atau nama kesehariannya Khairul di sebuah warung makan kawasan dermaga pelabuhan Bheringenan Desa Sungaiteluk beberapa waktu lalu. Pada waktu itu tepat lima tahun kejadian yang menimpanya. Pertemuan saya dengannya sebatas kebetulan saja. Kebetulan sama-sama hendak menikmati hidangan berbayar di warung makan siap saji. Hari itu Sabtu tanggal 28 Januari 2017 sesudah lewat waktu asar. Khairul tengah duduk di meja bagian barat dengan setepok rokok bermerek 234 beserta korek gas bawaannya menggeletak di meja warung makan tersebut, sedang saya berada di meja bagian sebelah timur sama-sama duduk menyendiri. Bagian muka warung itu menganga ke arah selatan lurus ke pantai dermaga. Tiupan angin kencang dan derasnya hujan kala itu cukup kentara kedahsyatannya. Saya memutar haluan ke arah barat dan Khairul pun memutar badan ke arah timur saling berhadapan. Awalnya saya tak hendak mengungkap masa lalunya yang penuh dengan rasa trauma itu, namun pertemuan ini seperti tak mau disia-siakan. Ini mungkin sebuah pertemuan yang menjadi biang kesempatan untuk menggali pengalaman sedih yang harus Khairul tanggung hingga saat ini. Khairul mengungkap dengan perasaan dan ujaran yang amat terbata-bata disertai tetesan air mata sebagai bawaan kejadian masa lalunya dalam bayangan nostalgia keharuan abadi.

Waktu itu hujan dan angin menggila. Cerita terus mengalir laksana aliran sungai dari sebuah puncak bukit melalui cela-cela himpitan batu menuju muara kebenaran sejati. Warung makan siap saji itu berada tepat di depan Hotel Intan dusun Bheringenan. Posisi warung makan itu sedikit “menyembeng” ke arah timur dari letak Hotel milik Bapak H. Gabun itu. Setegar batu karang saya mendengarkan penuturannya pun turut runtuh remuk dibuatnya. Kisahnya pun penuh dengan pengalaman dari seorang Khairul yang mengalami sendirian selama tiga hari dua malam berada di lautan lepas tanpa ada perahu, kapal, atau sampah laut yang menemani. Bintang dan bulan pun tak mau menampakkan diri. Angin barat dan hujan merundung sejadi-jadinya seperti mengganjar saja. Ke mana Khairul harus mengadu? Kepada siapa pula Khairul berseruh? Di malam gelap dan siang mendung membuat perasaan Khairul terus dihantui rasa ketakutan dan keputus asaan bahwa dirinya akan mati ditelan ganasnya gelombang lautan lepas. Sekujur tubuhnya kelak akan menjadi santapan ikan laut yang akan mengeroyoknya, termasuk deretan paus besar yang tak mau menjauh dari sisi Khairul selalu seperti mau menyantap daging Khairul yang sudah mengkerut berwarna keputihan akibat merendam selama tiga hari dua malam tanpa menjumpai terik mata hari sedikitpun. Kisah utuhnya adalah demikian.

Sehari sebelum Khairul melaut dengan sampan klotoknya untuk ”nyembak” atau ”nonongkol” alias ngepal, ia mendapat banyak ikan tongkol sebagai hasil tangkapannya. Menurutnya angin santer merupakan berkah terhadap perolehan rezekinya. Betapa tidak, hasil tangkapannya laku keras dengan harga relatif agak mahal. Khairul ingin mengulang kembali untuk meraup rezeki yang lebih banyak lagi dalam usaha melautnya. Pengakuan alam sadar dari seorang Khairul bahwa hal ini menandakan wujud keserakahan manusia yang memang tidak disadarinya kala itu. Dasarnya adalah sebuah kesenangan yang memang tidak dapat dibeli dengan apapun mahalnya, termasuk nyawa satu yang dimiliki Khairul sebagai taruhannya. Sebelumnya Khairul sudah tahu bahwa pemerintah secara resmi mengeluarkan warning tentang pelarangan melaut bagi para nelayan dan pelayaran, termasuk kapal-kapal milik PT. Pelni pun tidak diperkenankan untuk mengarungi samudera Indonesia karena ketinggian gelombang laut mencapai tujuh meter bahkan lebih. Tatkala menyebut ketinggian gelombang Khairul menunjuk dengan jari tangannya ke arah wuwung (Bawean: bubung,red) Hotel Intan. Sampai-sampai debar hati saya turut berdegup merasakan betapa mengerikan bila dihantam gelombang setinggi itu. Saya dan Khairul sama-sama mendongak ke atas puncak atau wuwung Hotel Intan sambil sesenggukan bersama.

Tepat pukul dua siang sesudah duhur Khairul meninggalkan rumah dengan bekal seadanya. Hasil penjualan ikan tongkol yang didapat sebelumnya sudah cukup untuk mengganti pembelian ”sango-sango” buat melautnya. Adanya bawaan di wadah berupa potongan cerigen putih berselempangkan tali tampar kusam itu sepenggal bekal alat pancing atau ”pamolo”, sepotong roti lembut berlapis dengan merek ”Paulus”, rokok, dan sebotol kopi panas disambinya. Sebelum berangkat melaut tidak ada firasat apa-apa pada dirinya. Anak istri sudah dipamitinya. Ia berjalan sendirian tanpa alas kaki penuh semangat demi sesuap nasi dan kepulan asap dapur keluarganya. Sisa penjualan ikan tongkol hasil tangkapannya pun dapat menyokong keperluan ongkos sekolah anaknya yang masih kecil itu. Sebagai tulang punggung keluarga Khairul tabah menghadapi garis nasib yang harus bergelut dengan keganasan laut di perairan lepas pantai Pulau Bawean Kabupaten Gresik Jawa Timur. Waktu itu Khairul melaut bersama sampan klotoknya yang memang hampir kedap air di seluruh bagian badan klotok. Bersama rekan lainnya Khairul mengemudikan sampan klotoknya dengan sedikit menaikkan tarikan gas mesin penggeraknya hingga melaju mendahului rekannya yang lain. Khairul bersama sampan klotoknya berada di garis ombak terdepan. Tatkala Pulau Bawean terlihat samar dari pandangannya, perolehan ikan tongkol cukup lumayan. Sepuluh ekor sudah dimasukkan dalam ”cekgung” sampan klotoknya. Antara Khairul dan teman sesama penyembak ini saling berjauhan jaraknya. Walau terlihat samar-samar mereka sudah bersepakat untuk saling mengingatkan sesama pengguna sampan klotok bila terjadi keadaan cuaca yang mendadak kurang bersahabat atau mengancam keselamatan sesama nelayan. Khairul pun masih melihat dari kejauhan posisi rekan nelayan yang sudah mulai memutar haluan sampan klotoknya menuju arah Pulau Bawean akibat cuaca ekstrem saat itu. Rupanya ikan tongkol terus berebut mengait di pamolo atau deretan pancing berbulu ayam milik Khairul. Tiba-tiba saja badai lautan lepas mengamuk sejadi-jadinya. Hujan lebat pun menjadi tirai penghalang pandangan Khairul terhadap keberadaan teman seperjuangan yang sudah berbalik menuju bibir pantai Pulau Bawean di Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura. Biasanya, sebelum magrib seluruh sampan klotok sudah menepi di bibir pantai Songaitopo. Kabar kehilangan Khairul hari itu menjadi gempar seketika. Ramai orang turut membicarakan, tak terkecuali pihak terkait dengan kondisi cuaca menyatakan bahwa sudah ada peringatan pelarangan melaut masih saja diterabasnya. Demikian akibatnya bila tidak mau mematuhi warning itu.

Apa yang terjadi sebenarnya pada sampan klotok milik Khairul pada waktu genting itu? Sebenarnya Khairul sudah mau balik kucing untuk tidak melanjutkan melayani godaan ikan tongkol yang terus menggelitiki hati girangnya. Ternyata, alamat yang terjadi pada mesin sampan klotok Khairul pecah bagian bloknya. Mendadak mesin mati dan sudah tidak bisa berfungsi lagi. Saat itu pula tiang sampan klotoknya patah akibat hempasan gelombang yang membukit serta tiupan angin dan hujan yang terus menderanya. Biasanya, Khairul melaut selalu membawa layar sebagai cadangan pengganti bila mesin ngadat atai mati. Hari itu tidak dibawanya. Cadangan layar itu dikibarkan bila ada gangguan pada mesin sampan klotoknya. Menghadapi gempuran gelombang yang menyangrai sampan klotoknya Khairul merasa ketir. Seorang Khairul dengan sampan klotoknya sendirian tidak tahu lagi sudah berposisi di mana. Khairul mencoba menurunkan sauh berupa jangkar kecil yang berada di depan sampan klotoknya agar bisa menahan laju sampan akibat terjangan badai. Tali pengikat jangkar rupanya sudah tidak jajak lagi dengan ke dalaman laut lepas dan ganas itu. Sebentar-sebentar Khairul menguras air laut dan air hujan yang terus memenuhi lambung sampan klotok di kegelapan malam sendirian. Kepada siapa Khairul harus mengeluh, mengadu, bahkan meminta pertolongan. Bibirnya mulai membiru mengerut, jari-jari tangan dan kaki memutih laksana cicak di dinding yang kehabisan darah. Sekujur tubuhnya gemetar kedinginan akibat hujan yang tak mau reda. Panasnya air kencingnya pun hampir tak terasa hangatnya dari potongan celana jinnya. Sekujur tubuh Khairul menggigil seperti hendak didatangi malaikat pencabut nyawa di malam gela-gulita itu.Jangankan untuk berdiri, duduk pun sudah tidak kuasa lagi akibat rasa dingin dengan gemetaran badan. Perut mulai mengeroncong. Sepuluh ikan hasil tangkapan diikatnya pada sekeping papan buat persiapan cadangan makan selama dalam pengapungan yang belum dapat diketahui kapan akan berakhir. Rasa ngeri disertai hujan air mata memelas sendiri tanpa ada siapa pun untuk berbagi. Khairul seperti seekor semut di atas pelapah kayu kering di tengah lautan lepas. Sunyi-sesunyi sunyinya dialami dan dirasakan sendirian.

Sepanjang malam Khairul terus berusaha agar sampan klotoknya tidak terbalik oleh hantaman badai laut. Roti sisa bawaannya masih bisa dimakan sekebir-sekebir dengan cara ”utik-utik” agar cadangan kekuatan tubuhnya bisa bertahan. Korek api gas masih terselip di saku celananya sebagai penyulut untuk membakar satu-persatu deretan ikan tongkol yang sebelumnya sudah terikat di sekeping papan lepasan. Ijuk kelapa yang tersimpan dalam kabin sampan klotoknya yang kedap air itu juga menjadi cadangan persiapan pembakaran. Bila memang tidak memungkinkan untuk dibakar, ikan tersebut akan disantap mentah-metah saja. Di malam pertama Khairul masih diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa. Berkali-kali pula Khairul menyebut asmanya. Perasaan kesepian dan menakutkan di kesendirian itu membuat Khairul harus menangis mengiba-iba terutama kepada segerombolan ikan paus untuk tidak memangsanya. Seraya Khairul berujar lirih sambil menatap kepungan ikan paus yang terus mendekatinya ”Mak…Mak…Doakan Mak, ikan temani aku…temani aku…”. Terus saja Khairul meminta doa ibundanya karena satu-satunya doa dan harapan berada dimulut orang tua perempuannya yang masih hidup sebagai bisikan dari hati terdalamnya.

Menjelang subuh Khairul mulai melihat adanya seberkas sinar yang akan menemani dirinya setelah semalam tak mampu melihat apa pun karena gelapnya malam. Harapan Khairul di siang itu ada perahu atau kapal akan berlalu di sekitarnya. Pada waktu itu rasanya tidak mungkin akan ada pelayaran karena ketinggian gelombang laut masih berada di kisaran tujuh meter dengan angin dan hujan terus menggempur samudera. Apa yang akan diperbuat Khairul di sepanjang siang itu. Rupanya Khairul sudah berada di antara Kalimantan dan Sulawesi. Hal ini terlihat dari air laut separuh berwarna keruh dan separuhnya berwarna biru pekat. Khairul terus menahan rasa lapar dan rasa lelah yang harus dideritanya. Air hujan menjadi pelepas dahaga untuk menambah energi yang sudah berada di ambang penghabisan. Sampan klotok terus terombang ambing mengikuti ke mana tiupan arah angin. Saat malam mulai akan tiba kembali perasaan mencekam mulai merasuki dirinya. Ia mengebiri sisa sepotong roti. Sepanjang waktu di malam kedua itu perasaan Khairul sudah pasrah terhadap apa yang akan terjadi. Mungkin garis hidup Khairul akan berakhir di malam kedua itu. Lemas tubuh sebagai pemicu ketidak berdayaannya. Segerombolan ikan paus besar kembali mengitarinya berputar-putar di sekitar sampan klotoknya. Bahkan seekor yang terbesar mendekat seperti hendak menyergapnya. Khairul pun berseruh mengiba-iba kembali ”Jangan makan saya ikan…kancai saya ikan…kancai saya ikan…!”. Rupanya ikan paus pun terus mengawal kemana arah sampan klotok Khairul bergerak mengambang. Ini wujud pertolongan Allah SWT kepada Khairul melalui makhluknya berupa ikan paus. Padahal Khairul tahu bahwa cara makan ikan paus tinggal menganga saja sudah cukup untuk menelan seorang Khairul. Harapan dan angan-angan Khairul agar segara ada kapal lewat untuk memberikan pertolongan di siang hari kepadanya hampa belaka. Sampai malam pun tiba tak ada kapal yang berlalu. Malam datang menjelang kembali. Rasa ketakutan di malam gelap itu semakin memagut jangan-jangan sampan klotok yang ditumpanginya dilibas oleh kapal besar karena kegelapan malam. Bila demikian, tamatlah riwayat hidup Khairul dalam usaha mencari selamat untuk tetap bertahan dalam lautan kebimbangan.

Menjelang subuh di malam kedua, Khairul sudah benar-benar tak berdaya. Sebuah pelampung kecil sisa yang disimpannya dikenakan di antara kedua ketiaknya. Tenaga untuk mengenakannya pun sudah tinggal sisa belaka. Nafas nyawanya sudah mendekat di tenggorokannya. Sekitar pukul 08.00 pagi dari arah kejauhan muncul sebuah kapal besar terlihat samar. Khairul duduk menguatkan diri mengibarkan apa yang bisa dikibarkan sebagai pemberi aba-aba meminta pertolongan. Setelah nampak mendekat, kapal itu berlalu menjauh entah kemana tujuan dan arahnya. Harapan Khairul untuk mendapat pertolongan hampir pupus. Ternyata, kapal berbendera Philipina itu memutar haluan kembali mendekati Khairul sekitar pukul 08.30 dengan melemparkan tali sebagai usaha untuk memeberikan pertolongan. Jarak ujung tali yang sudah jatuh ke air laut dari atas anjungan kapal dengan sampan klotok Khairul masih menjadi pertimbangan rasa bimbangnya. Apakah Khairul akan melompat dari sampan klotoknya karena tak punya tenaga lagi atau tetap bertahan di atas klotok hingga meregang nyawa dengan perhitungan jarak yang relatif jauh menurut ukuran orang yang sudah tidak memiliki daya berenang itu. Babak dramatis ini cukup menegangkan pada diri seorang Khairul. Sepintas kapal MV. Ovel itu menjauh kembali memutar haluan. Untuk yang kedua kali ini kapal mendekat dan melempar tali kembali serta menghidupkan baling-baling di bagian lambung untuk menyedot diri seorang Khairul yang sudah lemas kehabisan energi. Rasa mencekam dan takut menghantui Khairul kembali setelah nekat melompat penghabisan dari sampan klotoknya. Tidak ada jalan lain keculai nekat melompat walau lemparan tali itu tetap jauh. Pikiran Khairul menggelayut bahwa dirinya akan termakan dan masuk pada kekuatan sedotan baling-baling kapal. Hancur dan jadi lumuran darah sekiranya tubuh Khairul harus masuk dalam pusaran arus kuat baling-baling kapal penolong tersebut yang besarnya menandingi alun-alun kota Sangkapura. Setelah tali tergenggam di tangan Khairul sekenanya pula melilitkannya pada bagian kedua ketiaknya. Kapten kapal memberi aba-aba untuk menyetop putaran baling-baling itu sesudah dipastikan Khairul benar-benar berpegang pada tali pertolongan.

Para ABK kapal MV. Ovel itu bersama-sama menarik tali yang telah diikatkan oleh Khairul di ketiaknya. Mereka dengan rasa kemanuasiaannya benar-benar memberikan pertolongan terhadap anak manusia sesama pelaut apalagi. Ketinggian kapal mencapai belasan meter itu membuat badan Khairul tergerek naik tak ubahnya bendera dalam upacara dengan iringan nyanyian kedukaan. Khairul menggantung seperti timba dalam sumur yang ditarik ke atas. Adegan asli ini persis seperti pengangkatan tujuh jenderal yang dimasukkan oleh PKI ke lubang buaya. Ingat wahai bangsa Indonesia betapa keji dan biadab perlakuan PKI itu. Manusia Philipina ini benar-benar manusia berhati mulia membantu orang tanpa melihat asal kebangsaannya. Terangkatlah Khairul dengan selamat. Sesampai di atas gladak kapal, Khairul sudah tidak sadarkan diri karena merasa seperti dalam mimpi saja setelah mendapat pertolongan. Semua awak kapal turut menangisi dengan terseduh-seduh sambil sibuk memberikan pertolongan. Mungkin rasa empati mereka sebagai rasa solidaritas sesama manusia dan sesama pelaut yang nasibya nanti tidak akan jauh beda dalam menghadapi musibah atau bencana di laut. Khairul didetek tentang keberadaan nyawanya. Setelah dipastikan Khairul masih bernyawa, Sang Kapten memerintahkan kepada para ABK agar Khairul dibawa segera ke kamar mandi air hangat untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang sudah mengkerut atau ”kerker” pucat pasih bak cicak putih setelah tiga hari dua malam bergelimang dengan air hujan dan simburan gelombang laut yang menggila itu.

Sedikit-demi sedikit kondisi Khairul mulai beranjak pulih. Ia dibopong menuju kamar VIP di lantai tujuh sebagai kamar kapten. Tingginya lantai tujuh itu minta ampun. Betapa berat rasanya tubuh Khairul harus menaiki tujuh tingkatan dek kapal bagian buritan dengan kondisi badan yang baru mandi air hangat itu. Susu dan makanan kaleng serta hidangan berbagai macam buah segar sebagai asupan utama menjadi sesuatu yang amat berharga untuk diri seorang Khairul. Khairul melihat di gladak pertama saat di tarik tambang luasnya persel bisa untuk lima helipad saking luasnya kapal berbendera Philipina itu. Sekitar delapan sel dek itu menghampar. Sedikitpun kapal tak bergeming walau dihantam badai terbesar kala itu. Kecepatan kapalpun hampir setera dengan kecepatan kapal cepat Expres Bahari yang ada selama ini. Setelah Khairul dinyatakan sadar mulailah perbincangan terjadi. Kapten dan ABK semua berbahasa Inggris. Pertama yang ditanyakan kepada Khairul meliputi nama, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Sebagai bekal pendidikan di SMA dulunya Khairul mulai menjawab dengan menggunakan bahasa Inggris sengerti dan sebisanya. Dalam jangka waktu hampir sehari itu Khairul diperlakukan layaknya keluarga sendiri. Sementara, di rumahnya di Sawahdaya sudah diadakan selamatan dan tahlil keluarga karena sudah tipis harapan untuk keselamatan nyawa Khairul dengan melihat kondisi yang memang gawat kala itu. Anak dan istri sudah hampir kehabisan air mata yang meratapi dan menangisinya. Warga sudah berbela sungkawa yang mendalam atas peristiwa yang telah menimpa keluarga diri seorang Khairul. Berkali-kali istri Khairul memeluk anaknya dengan derai tangisan yang sama menggebu-menggebu. Setelah tiga hari berlalu tiba-tiba berita mengejutkan sampai kepada keluarganya lewat telepan bahwa Khairul masih hidup setelah ditolong oleh kapal MV. Ovel berbendera Philipina. Ternyata dari atas kapal di lautan zona internasional itu Khairul sempat melakukan kontak dengan pihak keluarga atas kemurahan para awak kapal. Bahkan hand phone yang dipakai untuk berkomunikasi itu sekaligus diberikan kepada Khairul untuk dapat terus digunakan berkomunikasi dengan pihak keluarga. Sungguh baik dan dermawan manusia Philipina itu. Khairul sempat diperlihatkan keadaan dirinya bersama sampan klotok yang terlihat di radar kapal seperti biji korek api. Bahkan, setelah itu beberapa awak kapal dan kapten memberi cindera mata berupa uang Philipina yang hingga saat ini masih menjadi azimat kenangan yang tak akan pernah terlupakan menyelinap di lopak-lopak atau dompet Khairul. Di atas lembaran uang kertas tersebut tercantum nama-nama ABK dan Kapten MV. Ovel beserta tanda tekennya. Kenangan lain yang masih diingat oleh seorang Khairul sebagai sisi kemanusiaan yaitu adanya keingin-tahuan mereka terhadap apa yang telah dilakukan Khairul selama ini hingga mengalami nasib tragis seperti saat itu. Setelah Khairul menjelaskan secara menyeluruh kepada mereka jalan penghidupannya, justru mereka tertarik dengan cara untuk mendapatkan ikan tuna atau ikan tongkol seperti yang dilakoni Khairul selama itu. Mereka meminta tahu cara menangkap ikan tongkol versi masyarakat nelayan Pulau Bawean. Mereka mengeluarkan pancing besar ukuran tak wajar beserta senar atau tali nilon ukuran besar pula. Beberapa tas rangsel miliknya mereka gunting-gunting halus menyerupai rumbai atau serabut halus sebagai pengganti bulu ayam yang dimaksud dengan pemberat sebagai timbangan berupa potongan besi yang akan dilempar dan dibawa lari kencang bersama MV. Ovel selama pengarungan antarasamudera. Dalam diri seorang Khairul melintas tangisan dalam hati agar jangan sampai pancing besar itu dimakan paus karena ikan tersebut telah berjasa menjaga dirinya dari ancaman hewan buas laut lainnya. ”Terima kasih kepada semuanya, khusunya kepada Kapten dan ABK MV. Ovel dari Philipina, tak terkecuali kepada Mak Amaniyah tercintanya atas doa ijabahnya dan ikan paus atas penjagaannya.” Tabahkan wahai sobat….

Sarung Presiden


Tulisan : Ali Asyhar


Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Pekalongan dan Batang Jawa Tengah selama dua hari (8/1). Diantara agendanya adalah menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW di gedung Kanzus Shalawat di bawah asuhan Habib Luthfi bin Yahya. Habib Luthfi adalah Rais ‘Am asosiasi jam’iyah thariqah di bawah naungan Nahdlatul Ulama. 

Ada 2 hal menarik saat peringatan maulid ini. Pertama, acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pembacaan Pancasila. Ihwal menyanyikan lagu kebangsaan, itu sudah lazim. Tetapi membaca teks pancasila adalah hal yang baru. Ini penting karena semakin banyaknya rakyat Indonesia yang lebih bangga dengan jargon sektarian dari pada pancasila yang mempersatukan. Kedua, selama satu hari penuh, Jokowi menggunakan sarung, songkok hitam dan jas. Artinya, pasca dari acara Maulid Nabi, Jokowi tetap menggunakan pakaian santri tersebut dalam kunjungannya diberbagai tempat.

Bukan kali ini saja Presiden Jokowi memakai pakaian santri ini. Dalam beberapa acara yang digelar NU, ia juga memakainya. Pilihan sarung tentu bakan tanpa alasan. Hemat saya ada 3 alasan yang mendasarinya: pertama: Presiden ingin menghormati kaum nahdliyin. Dengan memakai pakaian yang sama akan terjalin kepercayaan dan rasa persahabatan yang erat. Ini adalah bagian dari menghargai budaya nasional. karena bersarung adalah budaya nusantara. Kedua adalah Presiden Jokowi sangat bangga dengan NU. Jokowi paham bahwa NU adalah jangkar kokohnya pancasila dan NKRI. Ia tidak ragu sedikitpun tentang kesetiaan warga nahdliyin terhadap pondasi bangsa ini. Ketika akhir-akhir ini angin radikalisme berhembus, NU dengan gagah berani menghadangnya. Ketika berita hoax membanjiri, maka komunitas anak-anak muda NU mengimbanginya dengan gerakan menolak hoax. Berita hoax adalah alat ampuh para petualang islam radikal. Alasan ketiga adalah Jokowi ingin menghidupkan perekonomian lokal utamanya di kantong-kantong NU. Dengan sering memakai sarung maka orang akan bertanya, apa mereknya, berapa harganya, di mana belinya dan seterusnya. Selanjutnya sarung tersebut segera akan diburu orang. Sama ketika Jokowi mempopulerkan baju kotak-kotak.

Sarung adalah budaya khas nusantara. Kata nusantara bermakna Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Umat muslim di kawasan ini menjadikan sarung sebagai pakaian keseharian. Sarung memang memiliki banyak kelebihan. Ia bisa berfungsi sebagai selimut, celana longgar, tali ikat, tempat makanan dan seterusnya. Berbeda dengan orang Mesir yang hanya memakai sarung ketika akan tidur. Sarung itu elastis, praktis dan demokratis.

Dalam kacamata santri, memakai sarung adalah simbol dari beragama. Kata sarungan berasal dari kata syar’an yang bermakna syari’at islam. Jadi, orang yang bersarung diharapkan hidupnya tidal lepas dari tuntunan syari’at Allah. Para ulama tempo dulu sering berdakwah dengan memakai simbol-simbol. Contoh lain adalah: kopyah dari kata khufyah yang bermakna tersembunyi. Artinya orang yang alim harus rendah hati dan tidak boleh angkuh. Ia harus mengamalkan ilmunya dengan tidak menonjolkan ketinggian ilmunya. Karena sesungguhnya ilmu adalah alat, bukan tujuan. Baju koko berasal dari kata taqwa. Sandal kayu bakiak konon berasal dari kata baqa’ dan yaqin. Orang yang memakai sandal bakiak berarti harus yakin dengan agama islam.

Waba’du. Kebiasaan Presiden Jokowi yang memakai sarung adalah hal positif. Bukan hanya soal sarung saja, Presiden ke 7 ini juga gemar mengunjungi pasar dan pusat-pusat perbelanjaan. Langkah ini membawa dampak positif bagi perekonomian. Hadirnya pemimpin di sebuah komunitas akan menggairahkan dan menghilangkan jarak.

Ali Asyhar, Ketua STAIHA dan Wakil Ketua PCNU

Pembangunan Wisata Bawean Perlu Sentuhan Nilai Agama Dan Budaya Lokal


Hamim Farhan, dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mempunyai konsep untuk pengembangan pariwisata di Pulau Bawean.

Berawal dari pemikirannya bahwa pengembangan pariwisata berbasis perdesaan dan kearifan lokal menjadi urgen pembangunan daerah. Karena pengembangan pariwisata Indonesia hendaknya tidak terlepas dari arah pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Dengan kata lain, dalam kebudayaan nasional itulah hendaknya terletak landasan bagi kebijakan pengembangan pariwisata.

Menurutnya paradigma pembangunan itu sendiri di banyak negara kini lebih menekankan kepada pengembangan sektor jasa dan industri, termasuk di dalamnya adalah industri pariwisata. Karena dengan pengembangan ini diharapkan dapat menggantikan sektor migas yang selama ini masih dianggap menjadi primadona dalam penerimaan devisa negara

"Pengembangan pariwisata yang berbasis perdesaan dan kearifan lokal di Pulau Bawean yang digagas ini nanti hendaknya merupakan upaya menawarkan daya tarik wisata yang sekaligus sebagai wujud konservasi, pelestarian sumberdaya alam, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan nilai agama dan nilai budaya lokal, dan sekaligus mengurangi tingginya urbanisasi dengan menigkatkan kemandirian masyarakat untuk membangun desanya salah satunya adalah dengan potensi desa wisata,"terangnya.

Apalagi separuh dari warga Bawean ini menjadi perantau (urban) di Singapura, Malaysia dan kota lainnya.

"Pariwisata berbasis perdesaan dan kearifan lokal (Konsep Desa Wisata) yang hendak kita usung hakekatnya adalah melindungi budaya lokal- budaya religi yang merupakan unsur penting dalam konsep masyarakat yang sejahtera dan merupakan suatu yang diidamkan. Sehingga bagaimana menyelenggarakan, memberikan kesempatan dan tempat untuk melestarikan, melindungi (konservasi), melahirkan, menyalurkan dan menyebarkan nilai budaya dan nilai agama itu menjadi sangat penting sebagai dasar membangunan,"paparnya.

"Atau dengan kata lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penyelenggaraan pariwisata budaya yang berkelanjutan dengan menanamkan kerangka berpikir bahwa pengembangan pariwisata budaya (berbasis perdesaan dan kearifan lokal) ini tidak semata-mata untuk meningkatkan lapangan kerja, kesempatan usaha serta perolehan devisa saja. Akan tetapi ada yang lebih penting lagi, yaitu mewujutkan pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek multikultural yang dapat memperkuat ketahanan dan kesatuan bangsa (mendukung NKRI). Apalagi akhir-akhir ini ada gejala yang cenderung menuju upaya dis-integrasi bangsa yang mengancam NKRI,"jelasnya.

Lebih lanjut Farham Hamim menyatakan ada argumen ilmiah bahwa Pulau Bawean adalah wujud dari Benua Atlantis yang melegenda dari sebelas ribu tahun silam yang diabadikan dalam cerita Filsuf Yunani, Plato dalam Timaeus and Critias, meski perlu kajian dan penelitian mendalam.Dari hasil penelitian selama lima tahun yang dilakukan oleh Dhani Irwanto, dalam argumen ilmiahnya yang ditulis dalam buku Atlantis: The Lost City is in Java. Berdasarkan temuannya di lapangan; menggunakan pendekatan gambar geografi, iklim, tata letak dataran dan kota, hidrolika sungai, dan saluran, hasil bumi, struktur sosial, adat istiadat, mitologi, dan kehancurannya terperinci, termasuk dimensi dan orientasinya, peneliti berkeyakinan Atlantis berada di Indonesia.

Mengutip kisah Plato yang menyebutkan bahwa Atlantis adalah dataran rata dan halus, serta turus menuju laut. Dataran yang dikelilingi pegunungan yang indah besar dan kecil, yang digambarkan Plato seperti pegunungan Muller Schwaner dan Meratus. Pulau yang menghadap ke selatan dan telindungi di sebelah utara, berbentuk persegi dan lonjong sepanjang 555 kilometer dan lebar 370 kilometer, yang memiliki tanah subur, rakyat makmur, banyak sungai dan banyak padang rumput. Ciri-ciri yang digambarkan oleh Plato itu mirip dengan Pulau Bawean, yaitu letaknya di Kalimantan bagian selatan, tepatnya pada kemiringan satu derajat turun dari Pulau Kalimantan hingga Laut Jawa.

Maka Pulau Bawean adalah model dari Atlantis, yang memiliki lingkungan, formasi geologi dan kegiatan tektokni yang sama. Pulau Bawean dan Pulau Atlantis diyakini terbentuk di masa Paleogen dan Neogen melalui proses tektoknik yang disebabkan oleh patahan ekstensional di Laut Jawa dan Kalimantan. Pulau Bawean terdiri dari 85 persen batuan beku, batuan berwarna putih (asam), hitam (basah), dan merah (oksida besi), yang semua itu persis yang dijelaskan Plato. "Hanya saja argumen ilmiah ini masih mendapat tantangan dari peneliti luar, mereka menganggap bahwa Benua Atlantis itu tidak mungkin di Indonesia, di samping itu para peneliti Barat alergi mengusung nama Plato, dan mereka masih mengklaim bahwa Benua Atlatik itu milik mereka,"pungkasnya. (bst)

Waspada, Ada Pencurian Sepeda motor di Pudakit Timur


Mirul warga Pudakit Timur Sangkapura kehilangan sepeda motor jupiter berwarna merah hitam tahun 2009 pada hari jumat malam sabtu (13/1) yang diparkir didepan rumahnya.

Sudirman mewakili pihak keluarga membenarkan hilangnya sepeda motor milik Mirul yang diparkir di depan rumahnya. "Baru diketahui hilang pada sabtu dini hari tepatnya jam 01.00 WIB. (14/1).

Kasus hilangnya sepeda motor, menurut Sudirman sudah dilaporkan ke kantor Polsek Sangkapura. "Diterima oleh Kanit Polsek ketika melaporkan kehilangan sepeda motor,"katanya.

Harapannya pihak kepolisian bisa mengungkap dan menangkap pelaku pencurian sepeda motor, sehubungan korban masih sangat membutuhkannya.

Aiptu Besuki Kanit Polsek Sangkapura membenarkan adanya laporan kasus pencurian sepeda motor di desa Pudakit Tidak. "Sampai sekarang pelaku dan sepeda motor belum ditentukan,"jawabnya singkat. (bst)

Mengamuk, 2 Tempat ATM BRI Dilempari Batu



Khairul (25 th.) seorang pemuda asal dusun Menara desa Gunungteguh kecamatan Sangkapura yang diduga mengalami stress berat, melakukan aksi pengrusakan dengan melempar batu ke dinding kaca mesin ATM Bank BRI di kantor unit Kotakusuma dan ATM Bank BRI di Alun-Alun Sangkapura, sebelumnya juga melakukan aksi yang sama dengan melempar batu memecahkan kaca pintu penjagaan masuk Pelabuhan Bawean.

Aksi pemuda yang baru datang dari Malaysia dilakukan pada waktu pagi hari, rabu (18/1).

Sehubungan adanya pengrusakan, langsung anggota Polsek Sangkapura mendatangi TKP dan pelaku langsung pulang dengan naik sepeda motor.

Joko Indaryanto kepala Bank BRI Unit Kotakusuma membenarkan adanya aksi pengrusakan di dua tempat mesin ATM, di kantor BRI Unit Kotakusuma dan Alun-Alun Sangkapura.

Sehubungan kondisi pelaku diduga kurang sehat akalnya, maka pihak Bank BRI setelah didatangi pihak keluarga bersedia menyelesaikan denga secara kekeluargaan. Adapun penyelesaiannya, menurut Joko, pihak keluarga akan mengganti kaca yang dipecah oleh pelaku.

Sementara aksi pengrusakan kaca di pintu masuk Pelabuhan, menurut Muhammad Yasin petugas Syahbandar Bawean menyatakan tidak akan menuntut secara hukum sehubungan kondisi pelaku kurang sehat pikirannya. Kepada keluarga meminta agar pelaku segera diamankan, khawatir mengancam keselamatan orang lain. (bst)

Akhiri Tugas, Kapolres Gresik Kunjungi Pulau Bawean


Kapolres Gresik AKBP Adex Yudiswan mengakhiri tugasnya melakukan kunjungan ke Pulau Bawean, rabu (17/1). Tujuannya meresmikan asrama Polsek Sangkapura dan memberikan pembekalan kepada pendaftar SIM di Pulau Bawean.

Dihadapan tokoh Pulau Bawean, Kapolres Gresik mengatakan awal menjabat sekitar 7 bulan yang lalu sudah berkunjung ke Bawean. "Sekarang mengakhiri tugasnya juga melakukan kunjungan kembali,"katanya.

"Dahulu ketika berkunjung kondisi asrama Polsek Sangkapura sangat memprihatinkan, diantaranya kondisi bangunan tidak layak juga atapnya bolong. Tapi sekarang, berkat kerja keras AKP Arif Rasyidi sebagai Kapolsek Sangkapura bersama pengusaha sebagai donatur, akhirnya kondisinya sangat bagus dan layak sebagai asrama polisi,"terangnya.

AKBP Adex Yudiswan memohon maaf bila ada kelangkaan kekurangan ataupun kesalahan selama menjabat Kapolres Gresik. "Sekarang sudah pindah tugas sebagai Waka di Polres Metro Jakarta Barat. Kembali keasalnya, sebab dahulu bertugas sebagai kanit narkoba dan mendapatkan pangkat AKP disana,"jelasnya.

Lebih lanjut Kapolres Gresik yang didampingi istrinya menyatakan sangat ingin memiliki rumah atau tempat tinggal di Pulau Bawean. Alasannya, Pulau Bawean sebagai daerah yang aman, warganya rukun dan pemandangannya sangat indah. "Harapannya marilah kita jaga kondisi keamanan dan ketertiban di Pulau Bawean,"ajaknya.

Setelah sambutan, Kapolres Gresik meresmikan asrama Polsek Sangkapura didampingi Kapolsek Sangkapura dan Kapolsek Tambak, serta Camat Sangkapura, juga Ketua PCNU Bawean. (bst)

Pengurusan SIM Bakal Digelar di Pulau Bawean


Kabar gembira bagi warga Pulau Bawean, khususnya bagi pengendara sepeda motor yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Rencananya Santalantas Gresik, tanggal 9 Januari 2017 akan menggelar ujian tulis dan praktek langsung diselenggarakan di Pulau Bawean.

AKP Arif Rasyidi Kapolsek Sangkapura mengatakan proses pembuatan SIM untuk ujian tulis dan praktek langsung diadakan di Bawean. "Harapannya agar pengguna kendaraan bermotor yang meliputi roda dua dan empat yang belum memiliki SIM agar memanfaatkan adanya pelayanan ini,"katanya.

Bagi yang ingin mendaftar menurut Kapolsek yang sebentar lagi memasuki masa pensiun, agar segera mendaftarkan diri di kantor Polsek Sangkapura. Adapun persyaratannya sudah berusia 17 tahun dan memiliki identitas KTP.

Rencananya sebelum ujian digelar, pihak polsek akan menggelar pendidikan khusus bagi para pendaftar agar nanti bisa lulus saat ujian. "Materinya terkait undang-undang lalu lintas,"paparnya.

Sedangkan tempat ujian tulis dilaksanakan di Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan ujian praktek di Alun-Alun Sangkapura. (bst)

Mahasiswi asal Gili Berprestasi di Ibu Kota Jakarta



Nanik Ijawati (20 th.) asal Pulau Gili desa Sidogedungbatu Sangkapura, mahasiswa Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta program sastra Arab dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi tahun 2015 - 2016.

Tahun sebelumnya Nanik juga dinobatkan dengan prestasi yang sama. Adapun prestasi yang diraihnya, menurutnya keberhasilan dari belajar ketika nyantri di Pondok Pesantren Hasan Jufri Lebak. "Melalui ilmu pengetahuan yang didapat selama mondok, akhirnya dikembangkan ketika aktif kuliah,"katanya.

Keberhasilan Nanik merupakan kebanggaan bagi warga Pulau Bawean, apalagi selama menekuni perkuliahan sampai sekarang sudah semester V tidak pernah membebankan kepada orang tuanya. "Saya berangkat ke Jakarta berkat petunjuk dan arahan Guru Indonesia Mengajar, saat semester pertama mendapatkan bea siswa Pemkab Gresik. Selanjutnya memperoleh bea siswa melalui bidik misi sampai sekarang ini,"paparnya.

Menyadari tujuan mencari ilmu ke ibu kota, Nanik mempunyai tekad yang kuat untuk selalunya belajar.

"Selama di Jakarta belum pernah meminta uang kepada ibuku yang sekarang merantau ke Malaysia untuk membiayai adikku yang masih sekolah tingkat SMP dan SD,"ujarnya.

Sedangkan ayahku sudah meninggal dunia sejak saya masih sekolah MTs Hasan Jufri Lebak. "Melalui bantuan Guru Indonesia Mengajar, walaupun hidup dalam kondisi ekonomi dalam kekurangan sehingga bisa melanjutkan kuliah,"ungkapnya. (bst)

Kesenian Dikker Mulai Menghilang di Bawean


Memperingati maulid nabi di Pulau Bawean, ternyata ada tradisi kesenian yang selalunya ditampilkan tempo dulu ternyata sekarang mulai menghilang. Dikker adalah kesenian asli Bawean yang dahulunya selalu ditampilkan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Hasbullah mantan kepala desa Gunungteguh mengatakan tradisi kesenian dikker sudah mulai dihilangkan oleh warga Bawean. Padahal menurutnya, kesenian dikker merupakan warisan nenek moyang yang dahulunya sering kali tampil.

"Sekarang hanya beberapa kampung saja yang menampilkan dikker, sepertinya hanya hitungan jari saja,"katanya.

Sedangkan merayakan maulid nabi di Gunung Teguh hukumnya wajib untuk menampilkan kesenian dikker mengawali kegiatan peringatan maulid di kampung.

Lebih lanjut Hasbullah menyatakan dikker adalah kesenian asli Pulau Bawean, tapi sekarang sudah mulai hilang dikarenakan kurang keperdulian warganya. "Seperti peralatannya sekarang sudah mulai langka, untuk membuatnya juga kesulitan,"ungkapnya. (bst)

PSB Gandeng STIESIA Surabaya Pengembangan Ekonomi Bawean





Organisasi tersebut berkantor di Graha Agung A 2B Jl. Jaksa Agung Suprapto Kabupaten Gresik. Sebagai Ketua Umum PSB yaitu Ir. Asyari, M.M dan sebagai Sekjen adalah Akhmad Fatah Yasin, ST., IAI.


Dalam kiprahnya PSB memiliki berbagai kegiatan yang ditujukan kepada masyarakat Pulau Bawean guna menggali potensi perekonomian masyarakat Pulau Bawean baik potensi alam maupun Sumber Daya Manusia (MSDM).

Pada kesempatan ini PSB melaksanakan kegiatan sosial berupa pelatihan UKM yang ada di Pulau Bawean yaitu kegiatan Pengabdian Masyarakat di Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak pada tgl 20-21 Desember 2016.

Guna merealisasikan kegiatan tersebut PSB bekerja sama MOU dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya dan sebagai Ketua STIESIA yaitu Dr. Akhmad Riduwan, S.E., M.S.A., AK. CA. Kegiatan tersebut PSB berperan aktif dan berkolaborasi dengan kampus yang memiliki potensi membina/pendampingan dalam memberikan pembekalan kewirausahaan dengan mengubah pola pikir atau mindset bagi pelaku usaha yang dijalankan, pembuatan design kemasan dan labeling produk yang ada.

Narasumber pelaksana kegiatan UKM dan juga sebagai Wakil Sekjen Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan UKM dalam Organisasi PSB tersebut adalah Dr. Asmara Indahingwati, S.E., S.Pd., M.M dan Novianto Eko Nugroho, S.E., M.PSDM.

Tujuan Pengabdian Masyarakat yaitu mengembangkan kegiatan kewirausahaan, menumbuhkan jiwa usaha, menambah wawasan Ilmu Pengetahuan dan Keuangan, menambah citra positif dalam berkarya.

Asmara Indahingwati, dosen STIESIA mengatakan manfaat dari kegiatan yaitu menambah rasa kepedulian terhadap lingkungan, memperoleh hubungan baik dan citra positif dari masyarakat, mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru dibidang ekonomi, membantu pemerintah untuk merealisasikan pemerataan ekonomi rakyat, dan membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi daerahnya serta sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki kemampuan untuk mengelola usahanya agar menjadi semakin berkembang ke depannya.

Adapun sasaran, menurutnya penduduk dari desa-desa di Pulau Bawean yang memiliki usaha kecil menengah yang sedang berkembang. Sesuai target jumlah peserta pengabdian masyarakat ini sebanyak kurang lebih 75 orang. "Diharapkan kegiatan ini akan menambah wawasan berkarya dan berkelanjutan, untuk itu mengharapkan pembinaan dari PSB yang berdampingan dengan kampus STIESIA Surabaya menghasilkan usaha rakyat yang berada di Kepulaun Bawean Kabupaten Gresik,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean