bawean ad network
iklan
bank jatim

Berita

Pendidikan

Kesehatan

Transportasi

Surat Pembaca


TERKINIindex

Sukses di Negeri Jiran Malaysia
H. Sahmawi Peduli Pulau Bawean

Media Bawean, 23 April 2015

H. Sahmawi asal Tanjung Anyar, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik tergolong sukses di negeri Jiran Malaysia.

Berkat kegigihan dalam bekerja, beliau telah berhasil meraih kesuksesan di Malaysia. Menurutnya kesuksesan yang diraih merupakan amanat dari Allah SWT. yang harus dimanfaatkan untuk jalan kebaikan. Melalui jalan ibadah akan barokah mendapatkan rejeki yang halal.

H. Sahmawi membuktikan melalui kekayaan yang dimilikinya telah membantu kebutuhan masyarakat umum di Pulau Bawean. Melalui uluran tangan beliau telah banyak membantu untuk pengembangan pendidikan, termasuk pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana umum. 

Di tanah kelahirannya, beliau mendirikan dan mengelolah lembaga pendidikan TK di Tanjung Anyar, desa Lebak, Sangkapura.

Bukti wujud pengabdian sebagai amal menuju hari esok, beliau membangun dan mendirikan Pondok Tahfidzul Qur'an. Keprihatinan atas situasi dan kondisi zaman sekarang ini, H. Sahmawi terpanggil untuk mendirikan Pondok Tahfizul Qur'an di tanah kelahirannya. Melalui pendidikan Al Qur'an diharapkan generasi sekarang bisa belajar dan menghafal kitab suci secara fasih dan lancar.

Jika dibandingkan tempo dahulu masa kecilnya di Pulau Bawean, ternyata sekarang ini pendidikan agama seperti membaca Al Qur'an sangat memprihatinkan. Melalui Tahfidul Qur'an yang dibangun dan didirikannya bisa menampung seluruh pemuda di kampung untuk belajar Al Qur'an. Juga warga Pulau Bawean lainnya bisa belajar membaca Al Qur'an tanpa dikenakan biaya sehubungan sudah ditanggungnya.

Pembangunan Pondok Tahfidzul Qur'an yang dibangun secara lengkap melalui kocek pribadinya, sudah terbangun megah dilengkapi segala fasilitasi, tempat belajar, mushollah, tempat wudhu, asrama dan lain-lain.

Selain keprihatinan atas situasi dan kondisi sekarang ini di Pulau Bawean, H. Sahmawi menjelaskan pendirian Pondok Tahfidzul Qur'an juga mengantisipasi adanya rencana pengembangan Pulau Bawean sebagai tujuan wisata di Jawa Timur.

"Butuh persiapan untuk menyambut program pemerintah yang mencanangkan sebagai pulau wisata, apalagi di Tanjung Anyar termasuk salah satu obyek wisata di Jherat Lanjheng (kuburan panjang),"katanya.

"Membentengi generasi muda melalui pendidikan Al Qur'an merupakan wujud antisipasi terbaik untuk memperkokoh dan mempertahakan tradisi budaya Pulau Bawean yang Islami,"tegasnya. (bst)

Naskah UN SMP Dikirim ke Bawean

Media Bawean, 23 April 2015

Usai ujian nasional (UN) jenjang SMA, SMK, MA dan SMALB, kini Dinas Pendidikan (Dispendik) mulai mempersiapkan untuk jenjang SMP dan sederajat. Sebanyak 33 dus berisi naskah dan lembar jawaban mulai didistribusikan ke Pulau Bawean, kemarin. Puluhan dus dokumen negara itu dikirim melalui moda laut, Kapal Natuna Express dikawal dua anggota Polres Gresik.

Dalam pengiriman itu Kasat Binmas Polres Gresik AKP Suyatmi, Sekretaris Dinas Pendidikan Gresik Adik Mulya dan Kasi Pendidikan Dasar (Dikdas) Nur Iman Syoleh melakukan pengawalan.

Sekretaris Dispendik Gresik Adik Mulya mengatakan, UN SMP dan sederajat diikuti 19.685 siswa. Rincianya, SMP ada 10.681 siswa, MTs sebanyak 8.373 orang, SMPLB ada 8 siswa serta Paket B ada 623 orang.

”Khusus di Pulau Bawean unas SMP dan sederajat akan diikuti 1.390 peserta dan Paket B 111 peserta,”terang Adik kemarin.

Pihaknya, jelas mantan Kepala SMA Negeri 1 Manyar, sudah mengantisipasi dampak pengiriman akibat cuaca di pulau terluar berjarak 80 mil dari Gresik itu. ”Naskah akan disimpan di Polsek Sangkapura dan Tambak,”katanya.

Adik mengatakan, sama dengan UN jenjang SMA, dalam UN SMP selain paper based test (PBT) juga ada dua sekolah yang melaksanakan computer based test (CBT). Dua sekolah itu, SMP Negeri 1 Gresik dan SMP Muhammadiyah 12 Gresik Kota Baru (GKB). Kedua sekolah itu dulunya adalah sekolah rintisan bertaraf internasional. Kesiapan untuk CBT masih terus dimatangkan. (yud/c4/ris)

Sumber : Radar Gresik

Pendekar Wanita
Tanpa Mengabaikan Kodrat

Media Bawean, 22 April 2015

Kartini dalam Perspektif Peran Emansipasi Kekinian

Oleh : HOSOSIYAH (Anggota PKK Duku Sungairujing)

Istilah pendekar menjadi sebuah paradok bila disematkan pada kondite kaum wanita. Imej ini seolah-olah dalam diri Katini ada sebuah kekuatan yang menjadi iner pembangkit semangat juang dari kaumnya. Memang dalam bukunya Tashadi sedikit digambarkan citra dari Kartini semasa kecil terkenal gesit, lincah, dan cerdas. Ia juga terkenal paling “nakal” dibanding dengan dua adiknya yang lain. Tidaklah berlebihan bila Kartini kecil mendapat julukan sebagai Trinil yakni burung kecil yang lincah hinggap dari dahan ke dahan.(Bawean: Jhurnenet, red). Bahkan dalam buku yang sama Tashadi melukikas Kartini kecil dapat memanjat pohon jambu di lingkungan keraton tempat tinggalnya. Padahal panjat memanjak itu urusan lelaki. Kala itu Kartini dan adik-adiknya menyekap diri dalam sebuah kamar dengan menguncinya dari dalam. Mbok Donoharjo sebagai baby siternya kala itu menggelar kloso alias tikar dan tidur sekaligus menjaga di depan pintu kamar tempat kartini dan adik-adiknya berada. Lama sekali mereka tak terdengar kasak-kusuknya dari luar kamar. Apa gerangan yang terjadi? Ternyata Kartini dan adik-adiknya keluar lewat jendela kamar dan memanjat pohon jambu bersama kedua adiknya. Hal itu diadukan kepada kedua orang tuanya. Kartini jerah dan kapok.

Dalam ketomboyannya itu kata “pendekar” yang menjadi atribut pada diri sosok pejuang wanita mulia itu perlu kiranya sedikit diberi porsi pemahamannya. Selama ini sudah dikesankan bahwa kata “pendekar” konotasinya berkelibat dalam persoalan gender. Kata yang dianggap sakral tersebut lebih memberikan referensi dalam pemaknaannya cenderung untuk kaum lelaki. Termasuk di Bawean istilah “pendekar” (red: bukan pendek kekar) atau “Pandikar” terasosiasi sebagai laki-laki yang memiliki segala kehebatan terutama dalam memainkan ilmu bela diri dan pedang. Padahal dalam sebuah tayangan di salah satu stasiun televise partikelir dalam serial ‘JODHA AKBAR’ seorang wanita lemah lembut dan penuh kekaleman dalam segala karakter dan parasnya, ternyata Sang JODHA istri Raja Mughal di India itu memiliki kehebatan dalam memainkan pedang hingga mampu menumpas habis kaum lelaki sebagai musuhnya. Hal ini sebagai usaha pembelaan diri saja, bukan sebagai aggressor. Ini sebuah realita yang terungkap dari sebuah karya sastra yang bernilai tinggi. Penulis tanpa bermaksud membela diri.

Perlu kiranya dua kata kunci yakni “pendekar” dan “emansipasi” sedikit untuk dijelasan sebagai upaya pemerian agar menjadi kesepahaman bersama. Sudah menjadi sebuah kelumrahan bila dalam memeringati hari Kartini setiap tahun mencuat dua pasang kata “pendekar” dan kata “emansipasi”. Di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) makna kata pendekar dapat diartikan : 1. Orang yang pandai bersilat (bermain pedang dan sebagainya); 2. Orang yang gagah berani (suka membela yang lemah dan sebagainya); pahlawan. Sedangkan istilah kata “emansipasi” dalam bukunya berjudul RA KARTINI, Tashadi membeberkan dengan amat gambling. Kata “emansipasi” berasal dari bahasa Inggris yakni “emancipation” yang artinya kemerdekaan atau kelepasan, dan berasal dari verba to emancipate yang berarti memerdekakan, melepaskan. Bahkan pada zaman Kerajaan Romawi (Bizantium) istilah tersebut digunakan dalam istilah hukum yang mempunyai arti membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua. Hal ini dapat dimengerti karena pada zaman Romawi itu, status anak adalah milik Negara. (Tashadi: 1986: 71).

Bagaimana realita peran kekinian emansipasi kaum wanita Indonesia? Sebagai penulis sekaligus kaum wanita masih merasakan dan melihat banyak hal yang menjadi keprihatinan. Betapa tidak! Menurut adat Jawa (lingkungan kerataon zaman Belanda) kaum wanita bargainingnya cukup lemah. Peran wanita tidak lebih hanya berkutat di seputar kasur, sumur, dan dapur. Hingga saat ini penulis masih menyaksikan kungkungan adat yang perlu didobrak untuk mendapat kesamaan derajat dan perlakuan tanpa mengabaikan kodrat. Hampir di seluruh tanah air saat ini wanita masih juga di baktikan tidak semata di kasur, sumur, serta dapur melainkan juga di lumpur. Perhatikan Pak Tani setelah membajak sawahnya hingga sawah siap tanam ternyata yang melakukan penanaman (Bawean: Manjhe’-Jawa: nandur ) adalah mayoritas kaum wanita. Sengsaranya lagi, kaum hawa itu sebagai Bu Tani melakukannya dengan membungkuk dan merunduk nyaris mencim lumpur berjalan mundur. Tentu ini menjadi simbol keabadian seorang wanita yang tak akan pernah berjalan maju dan tegak. Dosakah atau salahkan bila peran ini juga dilakukan oleh kaum lelaki? Di sawah yang penuh lumpur pun gender masih dominan perannya. Ini merupakan sebuah diskriminasi terselubung yang perlu pendampingan agar kaum lelaki juga melakukan hal yang sama tanpa harus mengganti peran Pak Tani sebagai pembajak sawah. Mana-mana yang harus dikerjakan kaum wanita? Mana mencuci. memasak, beranak, bahkan nasi yang ditanak pun juga keringat wanita di sawah.

Di Indonesia sendiri wanita dicitrakan sebagai pahlawan devisa. Penulis tidak terlalu bangga dengan penyandangan pahlawan devisa pada kaum wanita karena kerjanya di luar negeri cukup sengsara bahkan menjadi sebuah ratapan yang tidak berkesudahan. Betapa mirisnya bila mendengar kaum wanita sebapai pembantu rumah tangga di luar negeri harus mengakhiri nyawanya di tiang pancungan. Sedangkan di negeri ini jarang terdengar wanita dari luar negeri yang menjadi jongos apalagi berurusan dengan keselamatan nyawanya gara-gara persoalan perburuan. Hingga saat ini yang ada hanyalah TKW (Tenaga Kerja Wanita) belum ada istilah TKP (Tenaga Kerja Pria). Sampai kapankah penyiksaan dan penderitaan kaum wanita ini akan mencapai titik kesamaan hingga terlepas atau merdeka sebagai sosok yang mampu berdikari. Ini menjadi discourse bersama dalam bingkai emansipasi yang ditorehkan oleh pendekar kaum wanita yakni Raden Ajeng Kartini.

Namun, masih ada secerca harapan bahwa wanita yang posisinya lemah dari segi fisik dibanding kaum lelaki memiliki peran yang signifikan dalam menegakkan sebuah negara sekali pun. Sebagai fitrah kaum wanita yang sudah dikodratkan menjadi pendamping kaum lelaki sah-sah saja bersaing tanpa harus menyaingi. Bukan menjadi sebuah kemustahilan bila kaum wanita menjadi kepala desa, camat, bupati, gubernur, menteri, bahkan presiden sekalipun tetaplah menjadi tiang negara. Dari tiang-tiang itulah untuk menyangga atap yang akan tetap memberikan kenaungan atau perlindungan sejati. Di sinilah peran sinergi kekinian kaum wanita dalam persspektif emansipasi tanpa mengabaikan kodrat. Selamat hari Kartini.

Hari Kartini di Pulau Bawean
Dimeriahkan Drumband Dan Karnaval

Media Bawean, 22 April 2015

Pagi sampai siang ini (21 April 2015) alon-alon Sangkapura dibanjiri warga. Mereka menyaksikan penampilan drumband MTs-MA Hasan Jufri. Kali ini regu drumband Hasan Jufri menampilkan 4 mayoret dan 102 penabuh musik dengan pelatih Edi al-Kaff (Jogjakarta). Penampilan drumband ini adalah bagian dari peringatan hari Kartini. Semangat dan inspirasi dari tokoh perempuan asal Mayong Jepara ini membuat para peserta sangat antusias. Suara dentuman alat-alat drumband yang rancak membuat suasana semakin semarak. Rencananya drumband Hasan Jufri akan kembali tampil pada haflah akhirisanah ( 13 Juni 2015).

Siapa R.A. Kartini? Raden Ajeng Kartini adalah putri adipati Jepara (RM. Sosoningrat) yang kemudian dinikahi oleh bupati Rembang (R. Ario Singgih Adhiningrat). Semenjak remaja ia sudah berinisiatif membuka sekolah khusus anak perempuan. Sekolah R.A. Kartini bertempat di belakang kadipaten Rembang Jawa Tengah. Kartini juga mengusulkan kepada gurunya yakni Kiai Soleh Darat ( Semarang) untuk membuat tafsir al-Quran yang berbahasa Jawa. Sprit kepeloporan R.A. Kartini harus menjadi teladan bagi generasi muda saat ini.

Kartini wafat di usia yang masih muda yakni 25 tahun. Perempuan yang lahir 21 April 1879 ini banyak berkorespondensi dengan para sahabatnya dengan memakai bahasa Belanda. Kumpulan surat-surat Kartini diberi judul “ habis gelap terbitlah terang”. Judul ini adalah bagian dari nasehat gurunya (kiai Soleh Darat) yang menyatakan bahwa al-quran adalah cahaya yang menerangi kegelapan.

Di saat dan tempat yang sama tampil pula TK. Bustanul ulum Lebak yang menampilkan baju ala- Kartini dan lain-lain. Hal ini juga dimaksudkan untuk menghormati jasa RA. Kartini. Sebelum TK Lebak tampil pula drumband SDIT al-Huda.(Kuncoro)

Jenazah TKW asal Pulau Bawean
Ditolak Dimakamkan di Kampungnya

Media Bawean, 22 April 2015

Suci Rahmawati, 35, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura, Gresik, Jawa Timur meninggal dunia karena sakit. Namun, jasadnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Somor Songo Jalan Panglima Sudirman, Gresik. Itu terjadi karena keluarganya menolak dimakamkan di Bawean.

Menurut keluarganya, Suci adalah seorang TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kuala Lumpur, Malaysia. Suci meninggalkan Pulau Bawean sudah delapan tahun. Selama delapan tahun tinggal di Negeri Jiran Suci belum pernah menginjakkan kaki di kampung halamannya.

“Dia sudah tidak punya keluarga lagi. Tapi punya dua anak di Pulau Bawean sana,” kata bibi korban, Nuzullah, yang tinggal di Kawasan Pelabuhan Gresik seperti yang dilansir Radar Gresik (Jawa Pos Group), Selasa (21/4). Sekadar diketahui, Suci Rahmawati adalah seorang janda beranak dua. Menurut Nuzullah, keponakannya dulu pernah menikah dengan Suci. “Tapi sudah cerai lama, kemudian pergi ke Malaysia,” ujarnya.

Alasan dimakamkannya almarhumah di Gresik, kata Nuzullah, keluarga di Pulau Bawean tidak menghendaki jenazah dimakamkan di Pulau Bawean. “Ada pamannya di Pulau Bawean. Saat saya hubungi disuruh memakamkan di Gresik. Ya sudah, akhirnya saya yang ngurusi,” ungkap perempuan 44 tahun itu.

Suci tiba di Jakarta sejak 2 Januari lalu karena mengalami sakit TBC (tuberculosis). Karena kondisinya sakit, korban dirawat di RS Sukanto Keramatjati, Jakarta. Selama di Jakarta, tidak ada keluarga korban yang menemani. “Ketika meninggal malah keluarganya menyuruh dimakamkan di Jakarta.

Tapi karena ini warga Gresik, akhirnya kami pulangkan,” kata Kencono, perwakilan dari Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Dinas Tenaga Kerja (disnaker), Gresik. Kencono menjelaskan, korban meninggal di rumah sakit sejak Minggu siang (19/4). Namun, pihaknya mendapatkan kabar dari Jakarta Minggu Sore.

“Kami langsung menghubungi pemerintah kecamatan dan desa di Pulau Bawean. Kami juga menghubungi Paguyuban Masyarakat Bawean di Gresik. Keputusannya dimakamkan di Gresik,” jelasnya. (MK Rosyid/awa/jpnn)

Orang Bawean Sukses di Malaysia
H. Anwari asal Tanjung Anyar, Lebak

Media Bawean, 20 April 2015



H. Anwari bin Mastur asal Tanjung Anyar, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik termasuk salah satu pengusaha sukses di Malaysia. Ditemui Media Bawean (kamis, 17/4/2015) menceritakan pengalaman awal masuk Malaysia sampai sekarang sudah sukses menekuni usaha kedai yang dimilikinya.

Menurutnya merantau ke luar negeri ketika masih masuk madrasah kelas VI, yaitu merantau ke Tanjung Pinang dan Singapura pada tahun 1974 untuk bertemu orang tuanya. Setelah mendapatkan pengalaman di rantau selama 2 tahun lamanya, lalu kembali pulang ke Pulau Bawean.

Berikutnya tahun 1976, H. Anwari ketika masih muda dan bujangan kembali membulatkan tekadnya untuk merantau. Naik kapal dari Pulau Bawean tujuan Singapura, berikutnya pergi ke Malaysia menuju Kampung Pandan. Tanpa memiliki kelurga di Malaysia, berdua bersama sepupunya lalu mencari kerja di Malaysia.

"Sesuai saran orang tua di Singapura disuruh mencari nama seseorang, ternyata bertemu H. Mastur dan Hj. Khorriyah yang mengasuhnya dan memberikan tempat tinggal selama di Malaysia. Pada waktu itu juga beliau mendidik mengaji, tapi belum bekerja sehubungan mencarinya masih sulit. Selama beberapa bulan kesulitan mencari kerja, karena di Malaysia waktu itu susah lapangan pekerjaan,"katanya.

Awal bekerja di Malaysia, H. Anwari menerima upah sebesar 4,5 RM bekerja di Jalan Putri. Itupun kerjanya hanya 1/2 hari saja, sehubungan tidak mampu kerja seharian. Selanjutnya bekerja berprofesi sebagai tukang bangunan menerima gaji 6,5 RM. selama 3 tahun melayani pasang batu sampai 1979.

Berikutnya tahun 1979 pindah tempat dari kampung Pandan ke kampung Boyan. Lalu pindah kerja dengan gaji lebih besar 8 RM. Sehubungan adanya niat untuk berdagang sesuai niat awal masuk ke Malaysia. Akhirnya H. Anwari memanfaatkan rumah yang disewa bersama sepupunya dengan membuka warung dengan berjualan es campur. Tidak meninggalkan kerja bangunan, warung yang dirintisnya dengan modal awal 150 RM dijaga oleh pembantu. Selanjutnya modal ditambah lagi 150 RM sehingga menjadi 300 RM setelah kalung emas yang dimilikinya dijual.

Pengalaman menarik menurut H. Anwari ketika berangkat berkerja bangunan selalunya membawa kotak telur. Saat pulang kerja lalu membeli telur untuk di jual di warungnya.

Tahun 1981, diputuskan konsentrasi menekuni bisnis yang dimilikinya sehingga berhenti kerja bangunan. Membeli sepeda motor dengan  melayani penjualan ikan, itupun pada waktu itu tidak ada orang yang mempunyai sepeda motor di kampung boyan.

Sukses menekuni usaha bisnis, H. Anwari lalu mengajak orang tua dan keluarganya sebanyak 6 orang untuk tinggal di Malaysia, dengan menanggung ongkos semuanya.

Selanjutnya tahun 1983 melebarkan usahanya dan dipindah ke Kampung Perembang. Tahun 1985 membeli tempat usaha di batu cave dan lmenunaikan ibadah haji bersama keluarganya.

Datang dari menunaikan ibadah haji membuka usaha di Kramat yang disewakan. Berlanjut mendirikan syarikat Jaya Diri, akhirnya disatukan menjadi satu tempat.

Setelah sukses menekuni bisnis di Malaysia, apakah ingat ke Pulau Bawean? H. Anwari menjawab masih tetap ingat, utamanya untuk pembangunan di Tanjung Anyar, desa Lebak, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik.

Ditanya kenangan suka selama di Malaysia, H. Anwari mengungkapkan pernah menggelar even pertandingan bulu tangkis di Parembang. "Itupun orang pertama yang menggelar pertandingan dan Alhamdulilah mendapat respon dari tokoh Melayu,"ungkapnya.

Melalui hobby bulu tangkis. setelah menggelar pertandingan bulu tangkis mendapat respon dari pemain nasional, termasuk pemain China. "Icuk Sugiarto juga pernah diajak bermain ke rumah berkat kesuksesan menggelar pertandingan olahraga Bulu Tangkis di Malaysia,"pungkasnya. (bst) 

Resepsi Pernikahan Warga Bawean
di Johor Bahru, Malaysia

Media Bawean, 20 April 2015







Resepsi Pernikahan warga Pulau Bawean di Johor Bahru Malaysia, hampir tiap minggu digelar, yaitu hari sabtu dan minggu.

Mayoritas undangan yang hadir terlihat warga Pulau Bawean dari berbagai daerah yang tersebar di Malaysia. Sepertinya resepsi pernikahan warga Bawean di Malaysia menjadi ajang silaturrahim antar warga yang sama-sama merantaunya.

Resepsi diadakan di tempat pertemuan yang dinamakan Dewan, hampir setiap kampung di Malaysia mempunyai bangunan untuk menggelar kegiatan.

Undangan mulai berdatangan tepat jam 10:00 Waktu Malaysia, sampai ditempat langsung disambut penerima tamu dan langsung dipersilahkan untuk menikmati sajian prasmanan. Selama menikmati makanan, terlihat keakraban antar sesama warga yang menyapa kenalan ataupun keluarga yang berdatangan ke acara resepsi pernikahan.

Selanjutnya tepat jam 02:00 Waktu Malaysia (siang), pengantin putra didampingi keluarga dan group kesenian kompang mendatangi tempat resepsi pernikahan. Sampai ditempat, ternyata dihadang oleh penerima pengantin, dengan menanyakan banyak hal. Termasuk paspor juga ditanyakan bila ingin masuk menemui pengantin perempuan.

Setelah proses pertama lolos, selanjutnya pengantin putra disambut antraksi pencak silat. Terlihat antusias yang hadir untuk menyaksikan para pendekar mempertontonkan kemampuannya di arena resepsi pernikahan.

Lanjut memasuki ruangan persandingan, pengantin perempuan ditutupi banyak orang belum bisa dipertemukan sebelum syaratnya dilunasi. Setelah selesai, ternyata ujian berikutnya juru rias pengantin juga meminta persyaratan untuk duduk bersanding wajib dipenuhi. Lulus menghadapi ujian, baru pengantin putra dipertemukan dengan pengantin putri.

Berikutnya bersanding diatas pelaminan, lalu menikmati suguhan makanan bersama keluarga besar pengantin putra. Sebelum makan, mempelai berdua yang didampingi keluarganya diajak berdoa bersama oleh tokoh Bawean di Johor Bahru.

Resepsi pernikahan selesai, tepat jam 05.:00 Waktu Malaysia (sore hari). (bst)

Tradisi Warga Bawean di Johor Bahru
Pesta Pernikahan disambut Pencak

Media Bawean, 20 April 2015 






Warga Pulau Bawean di Johor Bahru, Malaysia masih mempertahankan tradisi daerah asalnya, diantaranya antraksi pencak silat dalam menyambut pengantin pada resepsi pernikahan.

Antraksi pencak silat oleh pendekar tangguh asal Pulau Bawean di Malaysia dipertontonkan saat pasangan pengantin putra akan memasuki tempat resepsi pernikahan di gelar.

Dalam tempo waktu singkat, arena pencak silat dipadati banyak penonton, khususnya undangan yang hadir untuk menonton antraksi pencak silat.

3 pendekar turun ke arena mempertontonkan kemampuannya masing-masing. Setelahnya menunjukkan ketangkasannya, pendekar menyalami mempelai pengantin putra.

Melihat tradisi penyambutan dengan antraksi pencak silat, ternyata warga Pulau Bawean di Malaysia eksis melestarikannya, sedangkan di daerah asalnya sepertinya sudah punah. Kekuatan budaya tradisi pencak silat mengakar kepada warga Bawean di Malaysia, sebaliknya di Pulau Bawean sudah punah, nyaris sudah melupakannya. (bst)

Tradisi Warga Bawean di Johor Bahru
Baca Barzanji di Pesta Pernikahan

Media Bawean, 19 April 2015







Tradisi pesta pernikahan warga Pulau Bawean di Johor Bahru Malaysia, masih kental tradisi Islami. Menyambut pesta pernikahan, pada malam hari diadakan pembacaan barzanji dan marhabanan.

Kekompakan warga Pulau Bawean di Johor Bahru terlihat waktu diadakan pembacaan barzanji mengikuti penuh khusuk. Secara bergantian, warga yang ditunjuk melantunkan pembacaan barzanji yang dilanjutkan marhabanan.

Mendengar lagu pembacaan barzanji, sepertinya di Pulau Bawean, Gresik. Termasuk marhabanan juga ala daerah asalnya.

Sudah tradisi warga Bawean di Johor Bahru, setiap ada resepsi pernikahan pada malam hari digelar pembacaan barzanji dan marhabanan yang diakhiri pembacaan do'a. (bst)

Persatuan Dusun Terbentuk di Malaysia
Kerja Pasti Untuk Kemajuan Kampung

Media Bawean, 18 April 2015



Beberapa hari di Malaysia, Media Bawean berhasil menyimpulkan bahwa persatuan yang terbentuk lebih mengakar diakar rumput tingkatan dusun daripada perkumpulan seluruh Pulau Bawean.

Hampir setiap dusun di Pulau Bawean memiliki perkumpulan di Malaysia. Seperti di desa Kumalasa, ada beberapa persatuan mengatasnamakan dusun. Seperti Hikmah (Himpunan Masyarakat Kumalasa Malaysia) dan Wakuma (Warga Kumala Baru Malaysia) merupakan persatuan dusun asal desa Kumalasa di PUlau Bawean, Gresik.

Saiful Aiman, Ketua Hikmah ditemui Media Bawean mengatakan persatuan yang dibentuk telah aktif berperan serta memajukan masyarakat dusun Kumalasa di Malaysia dan Pulau Bawean.

Diantara kegiatannya paling aktif adalah membantu dalam segala keperluan warganya di Malaysia ataupun di Pulau Bawean. Seperti pembangunan sarana dan prasana untuk warga dusun Kumalasa. Termasuk memberikan bantuan sebesar Rp. 500 ribu bila ada warganya yang meninggal dunia.

Menurutnya kekompakan warga untuk memajukan dusunnya sungguh luar biasa bila dibandingkan persatuan warga Pulau Bawean di Malaysia.

"Seperti tahlilan bila ada warganya yang meninggal dunia, ataupun menghadiri mejelis pernikahan selalunya kompak bersama untuk mensukseskan kegiatan,"paparnya.

Kesimpulannya menurut Bang Ipung (panggilan akrab), warga Bawean di Malaysia lebih giat memajukan kampungnya masing-masing di Pulau Bawean daripada bersatu dalam persatuan Bawean di Malaysia,"terangnya.

Hal senada disampaikan Sakdallah asal Kumala Baru, menurutnya Wakuma dibentuk untuk menyatukan warga dusun Kumala Baru.

"Termasuk kompak membantu setiap ada pembangunan atau keperluan lainnya untuk kemajuan dusun Kumala Baru,"ujarnya.

Sementara ini di Malaysia menurut Sakdallah memang lebih maju persatuan setiap dusun daripada .persatuan Bawean di Malaysia.

Contohnya pada bulan maulid nabi, warga menggelar maulid hampir disetiap dusun yang ada di Pulau Bawean. (bst)

Popular Posts

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.