Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Mendambakan Sidang Isbath Tanpa Debat



Oleh: Sugriyanto (Dosen STAIHA-Gresik) 


Para elit religius sebentar lagi akan melaksanakan acara rutin tahunan dalam forum atau sidang Isbath untuk menentukan permulaan 1 Syawal sebagai hari kemenangan kaum muslimin di bumi pertiwi tercinta yakni kembali kepada kesucian (fitrah). Seluruh umat beriman di Indonesia tanpa terkecuali seperti terlahir kembali zonder noda dan dosa baik dosa kepada Rabnya maupun dosa kepada sesama umat muslim , khususnya dosa kepada sesama. Peleburan dosa bangsa Indonesia terkemas dalam paket Lebaran Idul Fitri untuk bersalaman saling memberikan maaf.


Sungguh luar biasa potensi kekuatan kaum muslimin Indonesia dengan jumlah terbesar di muka bumi ini bila dapat menyatukan kekuatan energi spiritualnya dalam frame keagamaan di bawah naungan Kementrian Agama Republik Indonesia. Kita mendambakan elit religius baik kalangan cendekiawan, para ulama’ , maupun umara’ (pemerintah) berdaulat harus tetap berijtihad mencari formulasi dengan hikmah sebagai terobosan anyar dan cepat dalam memutuskan dan menetapkan perkara, khususnya perkara penetapan 1 Syawal 1438 H sebagai hari kemengan bersama umat Islam Indonesia dalam tajuk Hari Raya Idul Fitri. Tentu dengan tetap meminimalisasi keterlibatan hawa “nafsu” baik nafsu kepentingan golongan atau kelompoknya apalagi dalam nafsu politiknya. Para kiai, ulama, cendekiawan, umara’ apapun lebel keilmuannya dari Sabang sampai Meraoke, sehebat apapun ilmu agamanya terutama tentang keislaman di dalam salat mereka masih menyentuhkan dahi atau keningnya ke arah tanah di kala sujud mengingat asal muassalnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia itu dhoif atau lemah bahkan rendah di hadapan Khaliknya. Maka tidak sepatutnya manusia merasa hebat, lebih pandai, lebih alim, lebih segalanya dari sesama. Tanpa terkecuali, termasuk penulis yang amat naif ini pun kerap kali meneteskan air mata dalam sujud atas segala kelemahan dan kebodohan. Hal tersebut sudah dinashkan dalam Al-Qur’an surat Bani Israil ayat 85 yang artinya sebagai berikut. “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah “ Ruh itu urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuanatau ilmu kecuali sedikit.” (QS Al- Isra’ : 85).

Bila ditelaah pada akhir ayat tersebut terdapat arti kata sedikit menandakan keterbatasan pengetahuan manusia. Tak patutlah bila kita sebagai manusia selalu “pasang badan” di televisi saat sidang isbath dengan dalil-dalil –yang seakan-akan diri dan kelompoknya yang paling benar, apalagi dieuforiakan dengan riuh rendah tepuk tangan dalam setiap akhir pemaparannya. Seolah-olah “akulah” orang Islam yang paling benar dan hebat. Senyatanya, umat di bawah-umat kebanyakan- hanya mendambakan kedamaian, kekompakan dan persatuan sejati umat Islam dalam hidup berbangsa dan bernegara. Termasuk mendambakan sidang isbath penentuan 1 Syawal tanpa debat dalam hal furukiyah. Jadikanlah kisah hikmah antara Nabi Musa,As dengan Nabi Hedir, As yang telah memberikan pendidikan kepada umat Islam bahwa ilmu manusia tak lebih dari sepatuk burung air di laut bila dibandingkan dengan ilmu Allah SWT. Sungguh tak patutlah bila harus membanggakan diri serta merasa diri paling benar. Al Qur’an telah mengingatkan kepada kita agar tetap selalu perpegang pada tali Allah SWT Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an berikut ini. “Dan berpeganglah kamu semuanya pada Tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-yat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS: Ali Imran 103).

Beberapa tahun silam telah terjadi adanya perbedaan penetapan 1 Syawal yang pernah dikisahkan oleh pemimpin agung atau imam besar Masjid Istiqlal Jakarta bahwa ekses negatif adanya perbedaan penetapan 1 Syawal tersebut terhadap sebuah keluarga (suami-istri) yang berbeda madzhab atau paham hampir terjadi perceraian karena satu sama lain cekcok mempertahankan pendiriannya masing-masing. Masih banyak kasus lain yang rasanya tidak muat bila diungkap seluruhnya dalam tulisan ini. Gara-gara persoalan perbedaan penetapan awal 1 Syawal kumandang takbir pun dalam mengagungkan kebesaran asma Allah SWT berlangsung separuh hati karena alasan klasik yakni toleransi dengan kelompok atau golongan muslim lainnya. Padahal kelak di akhirat Allah SWT tidak akan pernah repot mempertanyakan manusia atau kaum beriman dari kelompok atau golongan mana pun. Justru itu di dunia ini tak patutlah mengagung-agungkan kelompok dan golongan apalagi membanggakan diri. Toh, akhir hidup ini adalah kematian yang akan menemukan kebenaran hakiki sesuai yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Anjuran jangan sombong dan jangan membanggakan diri sudah termaktub dalam Al Qur’an surat Lukman yang artinya sebagai berikut.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri .“(QS Lukman : 18).

Sungguh penulis amat tercenung setelah membaca cerpen atau karya rekaan berjudul Robohnya Surau Kami yang ditulis oleh sastrawan sekaligus ulama besar Ali Akbar Navis. Cerpen tersebut menggambarkan umat Islam Indonesia yang taat beribadah diwakili tokoh rekaannya bernama H. Saleh dan kawan-kawan dalam cerita berbingkai (cerita di atas cerita) itu dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam api neraka karena sikap egoismenya. Cerpen ini sangat menyindir namun membuat mata nurani kita harus melepas senyum atas kekritisan dan kedalaman nilai-nilai religius yang digambarkan oleh A.A. Navis. Namun, sebagai karya sastra yang tidak berangkat dari kekosongan tentu tetap akan memperkaya khazanah pemikiran umat Islam Indonesia. Cuplikan cerpen “nyeleneh” itu dapat dipaparkan sedikit fragmennya sebagai bahan acuan pandangan penulis Islam dalam mengungkap kondisi bangsa Indonesia di akhirat. A.A. Navis menceritakan nasib H. Saleh dan kawan-kawannya yang taat beribadah. Bahkan H. Saleh sudah sembilan kali ke Mekkah namun tetap dicampakkan ke kerak api neraka (naudzu billah tsumma naudzu billah). Dari dalam kobaran api neraka mereka hendak mengeluarkan resolusi bersama sepenghuni neraka bahwa Tuhan dianggap tidak adil. Perhatikan cuplikan berikut.(Setelah mereka berhasil keluar neraka menghadap Tuhannya}.

“Kalian di dunia tinggal di mana?” tanya Tuhan.
“ Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.”
“ O, di negeri yang tanahnya subur itu?”
“Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.”
“ Negeri yang lama diperbudak negeri lain?”
“ Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu Tuhanku.”
“ Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?”
“ Benar. Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu”
“ Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain yang mengambilnya, bukan?” Dan seterusnya ......” Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, malaikat halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya.” (Robohnya Surau Kami).
Permasalahan utama yang diangkat oleh A.A. Navis adalah tentang sikap egoisme bangsa ini. Sastrawan tersebut hendak mengingatkan atau menyadarkan kita untuk menanggalkan sikap mementingkan diri dan kelompoknya (egoisme). Jangan-jangan dengan tanpa disadari kaum penjajah punya cara lain untuk menyusupi pemikiran umat Islam Indonesia dengan menciptakan alat canggih berupa teropong benda-benda langit yang dianggap paling akurat dan cermat. Toh, kenyataannya elit religius di atas berdebat juga. Hingga saat ini pun belum menemukan titik sepakat. Padahal pada zaman dulu tanpa alat canggih itu umat Islam mampu melihat hilal di bawah sumpah. Aman-aman saja. Sekarang semakin ruwet dan membingungkan umat yang selalu menunggu kepastian.

Mestinya kaum muslimin yang besar dan kuat di bumi peninggalan para wali ini tidak seperti jumlah buih di lautan. Begitu banyak namun mudah diombang ambongkan oleh gelombang dahsyat pemikiran yang ujung-ujingnya tidak rela melihat umat beriman di Indonesia bersatu atau kompak. Terutama syaithan dan iblis dengan sumpah serapahnya untuk menggoda manusia lewat berbagai pintu kesesatan dan permusuhan (saling bunuh). Tatkala Allah SWT menanyakan kepada Iblis tentang hamba Allah yang tidak dapat digoda oleh iblis lewat hawa nafsunya sekali pun, hanyalah orang-orang yang mukhlis yakni orang yang mendapat taufik dan hidayah-Nya. Kita sudah mahfum bersama bahwa kaum beriman itu bersaudara. Sebagaimna firman Allah SWT yang artinya sebagai berikut.

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapatkan rahmat.” (QS Al-Hujurat:10).
Usaha untuk menanggalkan segala bentuk atribut kelompok atau golongan dengan mengedapankan kepentingan umat yang lebih besar dan bangsa Indonesia tercinta ini dalam perjalanan ke depan hendaknya bisa duduk satu meja dengan kemesraan dan kegayengan serta dibarengi sedekah berupa untaian senyum kepada sesama. Dalam sidang isbath mendatang sikap itu hendaknya benar-benar menjadi warna karakter bangsa Indonesia yang lebih mengedepankan persatuan dan kesatuan bukan kepentingan dan keyakinannya semata. Peganglah bahwa Allah Yang Maha Benar.

Sejenak mari menoreh kembali sejarah perkembangan Islam di Indonesia yang pernah mengalami kejayaan yakni di masa para wali yakni kiprah Wali Songo yang diwariskan kepada penerusnya. Yaitu tertanamnya nilai-nlai kebersamaan dan kekompakan. Betapa berat rasanya Sunan Kali Jogo yang harus mengubah bentuk wayangnya pada acara peresmian Mesjid Agung Demak atas saran Sunan Giri Gresik, akhirnya Sunan Kali Jogo tetap mau mengikuti masukannya demi kekompakan. Padahal sesuhunan-sesuhunan itu jelas pada garisnya yakni Islam tradisional dan garis Islam modernis. Walaupun dari kaca mata hukum bukan prinsip namun bentuk kerelaan wujud suatu kekompakan. Sepatutnya peristiwa itu menjadi teladan bagi kita umat Islam saat ini untuk mencontohnya.Bukan “pasang badan” dan arogansi keagamaan yang tercermin dalam “bahasa” verbal dan gesture yang nampak di layar kaca. Sepertinya kita telah melupakan sejarah kecemerlangan Islam masa lalu. (baca : Dahlan- Asy’ari Kisah Perjalanan Wisata Hati oleh Susatyo Budi Wibowo). Luar biasa kedua tokoh besar Islam Indonesia sebagai suri teladan dalam membina kerukunan umat Islam di Indonesia hingga mencapai titik kulminasi yakni Indonesia merdeka. Di negeri ini sudah tidap patut lagi sekelompok umat atau golongan memberikan stigma miring terhadap keberadaan pemerintah yang ada saat ini. Indonesia itu merdeka berkat rahmat Allah dan perjuangan kaum muslimin serta bangsa Indonesia lainnya. Perhatikan ayat Al Qur’an yang artinya berikut ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemerintah) berdaulat di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS: Annisa’: 59)

Tokoh besar Islam Indonesia yang banyak mengikuti jejak para wali adalah Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dan Kiai Hasyim Asy’ri pendiri Nahdhatul Ulama’. Kedua organisasi keagamaan tersebut sangat besar pengaruh dan kiprahnya dalam memajukan Islam di Indonesia. Namun, kebesaran itu jangan sampai menjadi kebanggaan utama karena bendera Islam dan cinta tanah air (hubbul wathan) lebih utama. Nasab keduanya ‘nyambung’ ke waliyullah yakni Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik. Hanya gerakan Kiai Ahmad dahlan atau Muhammad Darwis basisnya di Kauman Jogjakarta sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari basisnya di Jombang Jawa Timur. Hingga saat ini kedua ormas keagamaan itu tetap eksis. Termasuk ormas keagamaan lainnya turut berkembang dinamis pula. Ini tentu berkat jiwa kebersamaan dan toleransi yang sama-sama dimilikinya dengan dasar kekompakan.

Penulis juga merasa iri dengan masa-masa orde baru di bawah kepemimpinan mantan presiden Soeharto dengan kegigihannya telah mampu mempersatukan umat Islam. Selama kepemimpinan Presiden Soeharto jarang sekali terjadi perbedaan penetapan hari besar islam khusunya Idul Fitri. Bahkan sehabis ashar hingga menjelang maghrib kaum muslimin di Indonesia kebanyakan sudah memukul beduk takbiran dan mengomandangkan takbir memuji kebesaran Ilahi setelah sebulan dalam tempaan puasa Ramadhan. Kelancaran pengeluaran dan pembagian zakat fitrah tidak karut-marut dan tersalurkan seluruhnya karena tidak harus menunggu dan menunggu hasil keputusan sidang isbath yang lambat dan penuh debat. Termasuk kita iri dengan negari jiran atau tetangga yang serentak dan kompak dalam perayaan hari raya Idul Fitri. Padahal, di negeri jiran pun tidak sedikit adanya paham atau golongan yang menjamur namun kerajaan atau pemerintah berkuasa mampu mengatasinya. Tentu, hal ini harus dimulai dari i’tikad suci dan baik dari kaum muslimin Indonesia agar tetap bisa mesra bersama antara cendekiawan, ulama, kiai dan umara’ dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini menjadi negara yang diridai-Nya.

Betapa senang dan bangganya umat Islam awam (umat di bawah) melihat elit religius di atas bergandengan tangan penuh kemesraan plus taburan canda dan senyum, bukan ketegangan yang abadi dan penuh kebekuan. Silakan para tokoh agama serta pemimpin ormas besar lainnya membawa gerbong ormas keagamaan masing-masing namun pemerintah (umara’) via kementerian agama sudah memiliki rel sebagai jalannya gerbong itu untuk menuju stasiun yang sama (Islam yang rahmatal lil alamin) dengan damai dan selamat. Berpeganlah pada tali Allah jangan bercerai berai termasuk dalam penetapan 1 Syawal duduk satu meja, kedepankan cintanya kepada Tanah Air Indonesia dengan membawa umat dalam kekompakan. Sehingga sidang isbath penetapan awal 1 Syawal sebagai hari Raya Idul Fitri 1438 H tahun ini dapat menemukan benang merahnya. Silakan hisab, rukyatul hilal bareng-bareng dalam satu teropong Islam. Penulis juga meyakini dan percaya bahwa perbedaan dalam ubudiyah atau khilafiyah itu rahmat. Namun, persamaan dalam hal furukiyah itu juga nikmat. Dalami semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Termasuk kompak dan satu dalam perayaan Lebaran 1 Syawal 1438 H/2017. Semoga!

Bagaimana Seharusnya Muslimah Berhias? Bagian II


Oleh: EKLIS DINIKA, M.Pd.I


Pada bagian-1 telah saya jelaskan tujuh hal tentang bagaimana seharusnya muslimah berhias, kali ini akan saya jelaskan kelanjutannya.

Tidak Diperbolehkan Memakai Wewangian yang Tercium Aromanya oleh Orang Lain.
Dari Ghanim bin Qais, dari Abu Musa Al-Asy’ari R.A, dia menceritakan, Rasulullah SAW telah bersabda: “Setiap wanita mana saja yang memakai wangi-wangian lalu dia berjalan melewati suatu kaum supaya mereka mencium wanginya itu, berarti dia telah berzina.” (H.R. Ahmad .An.Nasa’i, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)
Subhanallah, Islam itu memang indah sampai tata cara bagaimana wanita muslimah menggunakan parfum (wewangian) di atur sedemikian rupa supaya tidak menyimpang dari ajaran-Nya dan terhindar dari perbuatan zina. Tetapi saudaraku kenapa masih banyak banyak para wanita muslimah yang tidak mengindahkan hal tersebut dengan dalih yang mereka buat untuk membela dirinya sendiri seperti: “ uuch, kalau kita tidak pakai parfum nanti aromanya tidak sedap, di jauhi teman, bukankah islam mengajarkan kita supaya hidup bersih, lagi pula jika kita tidak wangi suami kita akan meninggalkan kita (selingkuh)”, dan masih banyak pembelaan yang mereka lontarkan. Kalau berbicara suami maka tidak ada larangan jika kita memakai parfum untuk suami kita, yang tidak diperbolehkan adalah jika kita keluar rumah kalau di sisi suaminya, maka dia boleh memakai parfum sekehendak hatinya. Perbedaan antara parfum pria dengan parfum wanita; parfum pria adalah yang tercium aromanya dan tidak tampak warnanya. Dan parfum wanita adalah yang tampak warnanya dan tidak tercium aromanya.
Dari Imran bin Hushain, dia menceritakan, Rasulullah SAW telah bersabda: “, parfum pria adala yang tercium dan tidak tampak warnanya, Sedangkan parfum wanita adalah yang tampak warnanya tidak tercium aromanya.” (HR.Abu Dawud dan Ahmad)
Dari Abu Hurairah RA, dia menceritakan, Rasulullah SAW telah brsabda: “Setiap wanita mana saja yang mengenakan bau wangi, maka hendaklah dia tidak mengerjakan shalat Iya bersama kami.” (HR. Muslim)

Diperbolehkan bagi Wanita Memakai Kutek (Pacar)

Diperbolehkan wanita Muslimah memakai kutek. Hal itu didasarkan pada hadist yang diriwayatkan dari Aisyah, dia menceritakan: Ada seorang wanita yang menyodorkan kitab dengan tangannya kepada Rasulullah, lalu beliau menarik tangan beliau, lalu wanita itu mengatakan, “ Wahai Rasulullah, aku menyodorkan kepadamu dengan sebuah kitab tetapi engkau tidak mengambilnya.’ Beliau pun berkata,’Sesungguhnya aku tidak mengetahui apakah itu tangan perempuan atau orang laki-laki.’Ia adalah tangan wanita,’papar wanita itu. Maka beliau berkata,’Sesungguhnyaaku seorang wanita, niscaya aku akan merubah kukumu dengan daun pacar.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Dari hadist diatas sudah jelas bahwa wanita muslimah boleh merubah kukunya dengan mengunakan daun pacar, tetapi jika telah bersuami maka harus seizin suaminya. Dari Karimah bin Hamam, bahwa ada seorang wanita yang bertanya kepada Aisyah mengenai kutek dengan menggunakan daun pacar, maka ia menjawab:”Boleh-boleh saja, tetapi aku tidak menyukainya, karena suamiku tersayang (Rasulullah) tidak menyukai baunya”. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Tidak Diperbolehkan Memakai Pakaian Tipis
Dari Abdullah bin Umar, dia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Pada akhir umatku nanti akan ada beberapa orang laki-laki yang menaiki pelana, mereka singgah dibeberapa pintu masjid, yang wanita-wanita mereka berpakaian tetapi (seperti) telanjang, di atas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta yang miring. Laknat mereka karena mereka semua terlaknat.” (HR. Ibnu Hibban)

Perintah Berhijab

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab keseluruh tubuh mereka.’Yang demkian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab:59).
Mengenai hijab ini terdapat beberapa syarat yang tanpanya hijab itu tidak sah, yaitu: pertama, hijab itu harus menutupi seluruh badan kecuali wajah dan dua telapak tangan, yang dikenakan ketika memberikan kesaksian maupun shalat.
Kedua, hijab itu bukan dimaksudkan sebagai hiasan bagi dirinya, sehingga tidak diperbolehkan memakai kain yang berwarna mencolok, atau kain yang penuh dengan gambar dan hiasan.
Ketiga, hijab itu harus lapang dan tidak sempit sehingga tidak menggambarkan postur tubuhnya.

Keempat, hijab itu tidak memperlihatkan sedikit pun bagi kaki wanita. Kelima, hijab yang dikenakan itu tidak sobek sehingga tidak menampakkan bagian tubuh atau perhiasan wanita. Dan juga tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki.

Menikmati Puasa Ramadhan di Pulau Bawean


Pulau Bawean memang memiliki sejumlah destinasi wisata yang menarik di sisi alamnya. Namun, jangan salah, kebudayaan yang dimilikinya pun cukup menarik untuk dijadikan target berwisata, terlebih jika Anda mengunjunginya di Bulan Ramadhan.

Pasalnya, di Bulan Ramadhan, seluruh lelaki asal Pulau Bawean yang merantau sebagai pelaut akan pulang untuk merayakan puasa di tanah kelahirnnya ini. Seperti diketahui, mayoritas lelaki asal Bawean adalah pelaut ulung yang tersebar di seluruh dunia.

Hal inilah yang menyebabkan pulau ini disebut sebagai Pulau Putri, karena ketika hari-hari biasa, pulau ini lebih banyak ditinggali oleh istri dan anak dari para pelaut tersebut. Kepulangan para perantau tersebut biasanya akan dirayakan dengan buka bersama dan makan besar bersama masyarakat satu desa tempat dia tinggal.

Ketika mengadakan makan bersama satu desa tersebut, biasanya para wisatawan yang tinggal di rumah warga akan diajak serta untuk ikut dalam perayaan tersebut.Di sisi lain, ketika bulan puasa masyarakat Bawean memiliki tradisi bertukar makanan saat berbuka puasa. Terkadang, acara bertukar makanan tersebut dilakukan di masjid-masjid sebelum melaksanakan sholat tarawih.

Usai melaksanakan sholat tarawih, para pemuda Bawean biasanya akan melakukan pertunjukan kercengan di masjid-masjid. Kercengan adalah pertunjukkan musik yang dilantunkan dengan alat musik kendang dan rebana. Musik tersebut akan mendampingi lantunan sholawat yang dilakukan oleh sejumlah jemaah masjid.

Waktu menunggu waktu sahur, Anda tak perlu khawatir mati gaya. Pasalnya, masyarakat terutama pemuda Bawean memiliki tradisi melakukan pertandingan sepak takraw pada pukul 11.00 WIB hingga sahur. Jika Anda tertarik, Anda bisa turut serta ke dalam pertandingan tersebut.

Puncaknya, saat malam Idul Fitri, Anda akan menyaksikan pawai takbiran rutin yang biasa dilakukan oleh masyarakat Bawean. Mereka akan membuat patung raksasa yang akan diarak keliling Pulau Bawean sambil merayakan malam takbir secara bersamaan.

Bawean sendiri juga terkenal akan etnisnya yang beragam, mulai dari Madura, Bugis, Jawa dan Minangkabau. Sehingga Anda tak perlu heran bila cukup banyak terjadi percampuran budaya di Pulau yang berisi 70.000 warga ini. (bst)

Kembangkan Durian Master di Pulau Bawean



Banyaknya lahan kosong di Pulau Bawean menjadikan Abdurrahman asal Tanjungori Tambak tertarik menawarkan durian master.

Durian master yang ditawarkan kepada warga Pulau Bawean tergolong istimewa sehubungan punya bobot berat sampai 17 kg. Sedangkan waktu penanaman sampai berbuah membutuhkan waktu selama 3 tahun.

Abdurrahman yang kini menetap di Jember mengatakan sudah seringkali pulang ke.kampung halamannya untuk mensosialisasikan penanaman buah durian master kepada warga. "Alhamdulillah responnya sangat bagus, sekarang sudah mulai banyak yang mengancam,"katanya.

Menurutnya tanah di Pulau Bawean sangat cocok untuk pengembangan buah durian master, baik didataran tinggi ataupun tanah miring dan lainnya. "Syaratnya buah durian master bisa berbuah harus bisa berinteraksi langsung dengan matahari,"ujarnya.

Selain itu, juga ada pemupukan sehingga bisa mempunyai kembang yang banyak. Tapi menurutnya kembang yang banyak harus dipotong, sehingga hanya berbuah kisaran 6 sampai 10 buah dengan berat sampai 17 kg. (bst)

4 Sekolah Adiwiyata di Pulau Bawean



Ada 4 sekolah adiwiyata di Pulau Bawean, salah satunya SDN 4 Sidogedungbatu Pulau Gili, MTs. Umar Mas'ud, MTs. Hasan Jufri dan MA Hasan Jufri.

Arif Priyanto konsultan sekolah adiwiyata di Kabupaten Gresik mengatakan sekolah yang berstatus adwiyata di Pulau Bawean hanya ada 4, untuk tingkat sekolah dasar yaitu SDN 4 Sidogedungbatu.

Menurutnya sekolah dasar yang letaknya di Pulau Gili sudah 2 tahun sudah termasuk sekolah adiwiyata. "Tahun ini rencananya statusnya akan ditingkatkan jadi adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Timur,"katanya.

Menariknya sekolah di Pulau Gili mendapatkan dukungan penuh masyarakatnya, sehingga layak mendapatkan predikat sekolah adiwiyata. "Adanya pola hidup masyarakat yang menerapkan wawasan lingkungan disana sangat baik,"katanya.

Ironisnya hanya SDN di Pulau Gili saja yang sudah termasuk adiwiyata untuk tingkat sekolah negeri, selebihnya tingkat sekolah menengah itupun madrasah swasta.

Padahal menurutnya untuk menjadikan sekolah adiwiyata di Pulau Bawean sangat mendukung, tapi persoalannya masih banyak yang kurang sadar atas lingkungannya. "Buktinya lingkungan masih belum bersih,"ungkapnya.

Timo pengajar di Pulau Gili menyatakan sejak dijadikan sekolah adiwiyata sudah melakukan penataan, diantaranya kebersihan lingkungan. "Alhamdulillah hasilnya sudah terlihat dari keberhasilan siswa sejak dijadikan sekolah adiwiyata,"pungkasnya. (bst)

POKMASWAS Hijau Daun Terima CSR PJB




Pokmaswas Hijau Daun kembali mendapatkan bantuan dari perusahaan Pembangkit Jawa Bali (PJB) di Gresik. Bantuan yang diterimanya berupa cemara uang sebanyak 2000 bibit, mangrove sebanyak 10.000 bibit dan jangkar apung 1 buah.

Subhan ketua Pokmaswas Hijau Daun mengatakan bantuan yang diterimanya merupakan wujud dari keberhasilan sebelumnya. "Melalui bantuan yang sudah diberikan sudah dikembangkan, sehingga PJB memberikan CSR nya berkelanjutan,"katanya.

Menurutnya bantuan yang diterima akan segera ditanam di kawasan mangrove pantai desa Daun. "Berkat dukungan semua pihak, kawasan ini sudah berhasil menyelamatkan dari bencana abrasi, termasuk merubah menjadi kawasan wisata,"ujarnya.

Selain bantuan diatas, direncanakan juga pembangunan gapura menuju kawasan wisata mangrove yang letaknya di pintu masuk dari jalan lingkar Bawean.

Abdul Adim Camat Sangkapura mengapresiasi atas kinerja pokmaswas Hijau Daun yang sudah membuktikan hasilnya. "Semestinya ditiru oleh warga yang lain dalam rangka menyelamatkan pantai dari abrasi, serta melestarikan tumbuhan yang ada di pantai,"pungkasnya. (bst)

3 Anggota Dewan Berasal dari Desa Daun



Dilantiknya Esfar sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik, menambah jadi 3 orang berasal dari Desa Daun kecamatan Sangkapura.

Dari 4 anggota DPRD Kabupaten Gresik asal daerah pemilihan (dapil) Pulau Bawean ada 3 asal desa Daun, yaitu Zulfan Hasyim asal fraksi PKB, Miftahol Jannah asal Fraksi Partai Golkar, dan Esfar asal Fraksi PPP menggantikan H. Muntarifi yang meninggal dunia karena sakit.

Esfar mengatakan sudah dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Gresik. "Semoga mampu menjalankan amanat sebagai wakil rakyat di gedung DPRD Kabupaten Gresik,"katanya.

Harapannya kepada seluruh warga Pulau Bawean yang diwakilinya, Esfar berharap bila ada sesuatu terkait persoalan warga agar segera menghubungi atau memberikan informasi.

Sehubungan masih baru di kursi legislatif, Esfar yang masuk komisi IV mengaku akan banyak belajar sehubungan selama ini hanya aktif menangani sosial seperti organisasi NU dan kelembagaan masjid yang ada di Pulau Bawean.

Sementara Abdul Azis Kepala Desa Daun mengatakan bangga atas dilantiknya Esfar sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik. "Berarti desa Daun mempunyai 3 anggota DPRD Kabupaten Gresik,"ujarnya sambil tersenyum.

"Semoga seluruh anggota dewan asal Pulau Bawean bisa bekerjasama yang baik untuk membangun daerahnya agar bisa lebih maju,"pungkasnya. (bst)

Solusi Operasional RSUD Umar Mas'ud



Berdirinya Rumah Sakit Umar Mas'ud di Pulau Bawean sampai sekarang masih belum dioperasikan, sehubungan belum adanya dokter spesialis yang bersedia ditempatkan.

dr. Rifa Atuzzaqiyah asal Pulau Bawean yang bertugas di RSU Provinsi Nusa Tenggara Barat Dr. (saat ini sedang menempuh pendidikan dokter spesialis anak di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta) berpendapat solusi kesulitan dokter spesialis untuk sementara sambil menunggu dokter spesialis tetap, bisa mengajukan permohonan kepada Kementerian Kesehatan RI untuk penyediaan dokter spesialis dengan cara bekerja sama dengan fakultas kedokteran di beberapa perguruan tinggi. 

Fakultas kedokteran tersebut akan menugaskan dokter spesialis yang baru lulus melalui program wajib kerja dokter spesialis / WKDS) atau residen senior semester akhir. "Melalui kerjasama dengan Kemenkes, nantinya akan berhubungan dengan universitas yang punya jurusan kedokteran,"ujarnya.

Menurutnya banyak rumah sakit tipe D seperti di Pulau Bawean yang memanfaatkan dokter spesialis yang akan lulus. "Seperti di Bengkulu tempat saya bertugas sekarang dan beberapa rumah sakit kabupaten di beberapa daerah di Indonesia adalah rumah sakit tipe D yang memanfaatkan residen senior dan WKDS,"paparnya.

Lebih lanjut dia menyatakan memang sulit untuk mencari dokter spesialis, apalagi yang bersedia ditugaskan di daerah kepulauan seperti di Pulau Bawean.

Tapi butuh kerja keras dan keseriusan agar rumah sakit yang sudah berdiri bisa segera dioperasikan. "Dengan 4 dokter spesialis (kandungan, anak, bedah, penyakit dalam) sudah bisa dioperasikan untuk rumah sakit tipe D seperti di Pulau Bawean,"katanya.

Adapun masyarakat Pulau Bawean terhadap beroperasinya rumah sakit memang sangat dibutuhkan. Apalagi menurutnya jarak yang jauh antara Pulau Bawean dan Pulau Jawa sehingga keberadaan rumah sakit ini sangat dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat Pulau Bawean. (bst)

Pembangunan Destinasi Wisata Terganjal Aturan



Adanya rencana pemerintah kabupaten Gresik untuk membangun sarana dan prasarana seperti MCK dan Musholla di kawasan obyek wisata terancam batal sehubungan statusnya masih masuk kawasan konservasi.

Nur Syamsi kepala resort RKW BKSDA Bawean mengatakan dilarang untuk merubah bentuk apapun di kawasan konservasi seperti di danau kastoba ataupun di Pulau Noko. Alasannya kawasan konservasi termasuk cagar alam ataupun suaka margasatwa yang dilindungi. "Secara aturan tidak diperbolehkan, termasuk masuk kedalam kawasan juga dilarang,"katanya.

Menurutnya silahkan dirubah statusnya terlebih dahulu untuk melakukan pembangun di kawasan konservasi. "Jika tidak, maka termasuk melanggar peraturan yang ada,"tegasnya.

Lebih lanjut Nur Syamsi menyatakan adanya rencana pembangunan yang diwacanakan semestinya dibicarakan dengan pihak BKSD Provinsi Jawa Timur. Alasannya khawatir tidak mendapatkan persetujuan sehingga anggaran yang ada tidak bisa terserap. "Apalagi secara aturan memang tidak diperbolehkan,"pungkasnya. (bst)

Ada 2 Kampung KB di Pulau Bawean



Dinas KBPP Kabupaten Gresik membuat kampung KB di Pulau Bawean, yaitu desa Kebuntelukdalam dan desa Grejeg.

Ahmad Nasik Kabid KB Dinas KBPP Kabupaten Gresik membenarkan adanya kampung KB di Pulau Bawean. Harapannya bisa membuat keberhasilan warga dalam mensukseskan program KB.

Menurutnya desa Kebuntelukdalam dan Grejeg termasuk pilot project dalam mendukung program KB. "Nantinya dipintu masuk desa akan dibangun gapura sebagai tanda memasuki kampung KB,"katanya.

Sedangkan prioritas perhatian khusus di kampung KB, selain melihat keberhasilan program KB, juga pendidikan, kesehatan dan lainnya menjadi tolak ukur untuk programnya.

Selain itu, juga ada tim sosialisasi yang turun langsung kebawah untuk mengajak warga ikut program KB.

Adapun kampung KB ini setiap desa ada satu, seluruh kabupaten Gresik mempunyai program tersebut. Tujuannya mensukseskan program pemerintah dalam KB.

dr. Adi Yumanto Kepala Dinas KBPP Kabupaten Gresik membenarkan adanya kampung KB di Pulau Bawean. "Setiap kecamatan mempunyai satu kampung KB sesuai petunjuk teknis dari pemerintah pusat,"jelasnya.

"Untuk pencanangan kampung KB di Kabupaten Gresik rencananya akan langsung dihadiri Bupati Gresik,"pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean