Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

DPRD Jawa Timur 'Dekati' Tokoh Bawean Ajak Dirikan Provinsi Madura


Sejumlah anggota DPRD Jawa Timur, mengaku tengah melakukan proses lobi terhadap sejumlah tokoh yang ada di Pulau Bawean. Proses lobi itu ditujukan untuk mendukung rencana berdirinya Provinsi Madura.

Anggota DPRD Jatim dari dapil Madura, Abdul Halim mengatakan, dalam lobi itu mereka meminta agar Bawean mau berubah statusnya menjadi sebuah kota. Alasannya, apabila Bawean telah berubah menjadi kota, maka jumlah kota yang ada di Provinsi Madura nantinya akan menjadi lebih banyak.

“Sebenarnya Bawean sudah memenuhi untuk menjadi sebuah kota, karena di sana sudah ada dua kecamatan,”kata Halim di Surabaya, Senin (8/2/2016).

Alasan lainnya ingin memasukkan Bawean menjadi bagian Provinsi Madura, karena masyarakat di Bawean memiliki kedekatan budaya dengan masyarakat Madura.

“Sebenarnya orang Bawean itu kalau kita lihat ada Madura, dan juga Bugis, tapi mereka tidak mau disebut Madura, ataupun Bugis, maunya ya Bawean,”tutur Halim.

Sayang, mengenai hasil dari proses lobi itu, Halim masih belum memberikan jawaban yang jelas. Meski demikian, dia mengakui jika hal itu tidak akan mudah. Sebab, persoalan itu juga harus dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pihak terkait seperti Pemkab Gresik.

“Karena selama ini Bawean memang masuk ke dalam wilayah dari Pemkab Gresik,”terang Halim.

Sebelumnya, wacana untuk mendirikan Provinsi Madura mengemuka pada tahun 2015 lalu. Bahkan, saat itu sejumlah tokoh asal Madura sudah sempat mendeklarasikan berdirinya provinsi tersebut. Namun, hingga saat ini persoalan itu masih menjadi polemik, dan sempat diajukan ke DPR RI. (*)

Sumber : Times Indonesia

Banyak Spot untuk Snorkling di Bawean




Keindahan alam bawah laut Pulau Bawean diakui oleh seluruh orang yang pernah snorkling, dianggapnya melihat keindahan seperti berada di surga dunia.

Leo Rahman asal desa Daun Sangkapura mengatakan keindahan alam b bawah laut di Pulau Bawean sesuai pengalaman waktu melakukan penyelaman, ternyata sangat banyak. Diantaranya di Pulau Cina ada 4 spot, di Pulau Noko selayar ada 2 spot dan Pulau Gili ada 2 spot, selain itu masih banyak lagi seperti di Pulau Nusa dan Tajung Ga'ang. "Termasuk di Pulau Gilimanuk masih ada banyak spot yang dirahasiakan tempatnya oleh nelayan setempat sehubungan takut rusak.

Melihat dibeberapa tempat, ternyata terumbu karangnya masih lumayan baguslah. "Membuat banyak pengunjung yang terkesima setelah melihat keindahan bawah laut Pulau Bawean,"ungkapnya.

Banyak wisatawan yang berkunjung setelah membandingkan dengan daerah lainnya, ternyata spot di Pulau Bawean dianggapnya hamparan terumbu karang yang ada lebih bagus dan menawan.

Memang menurut Leo, ada beberapa spot yang rusak, khusus didaerah yang dekat pesisir disebabkan ulah penangkap ikan yang tidak ramah lingkungan.

Disamping itu, menurutnya kerusakan terumbu karang terkadang disebabkan oleh pengunjung yang baru belajar snorkling. "Bagi pemula biasanya menginjak terumbu karang yang ada saat melakukan penyelaman sehingga menyebabkan kerusakan,"terangnya.

Adapun snorkling sendiri sepertinya lebih diminati pengunjung dari luar dibandingkan warganya sendiri. Alasannya terlalu mahal modalnya, seperti ongkos perahu Rp.350 ribu dan sewa alat untuk snorkling Rp.45 ribu. "Kalau wisatawan pasti mampu, tapi warga sepertinya kemahalan,"pungkasnya. (bst)

Sukses di Luar Bawean, Lalu Mengabdi di Kampung Halaman



Kesuksesan menggapai prestasi tak melupakan Lena Syair Mahani (40 th.) asal Kotakusuma Sangkapura yang kini menetap di Kalimantan Tengah untuk mengabdikan dirinya sebagai guru bahasa Inggris di kampung kelahirannya Pulau Bawean.

Lena lulusan D3 Perbankan dan S1 dan S2 keguruan yang kini aktif sebagai dosen di Kalteng merasa terpanggil untuk pulang mengajar bahasa Inggris di Pulau Bawean. Alasannya dijadikannya Bawean sebagai pulau tujuan wisata, tentunya dibutuhkan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris.

"Sudah 5 bulan bolak balik Pulau Bawean - Kalteng, mulai tanggal 1 sampai 15 berada di Bawean untuk mengajar bahasa Inggris ke sekolah-sekolah. Setelahnya kembali lagi ke Kalteng untuk memenuhi kewajibannya sebagai pengajar di kampus,"katanya (minggu, 7/2).

Menurutnya perlu ada kemampuan berbahasa Inggris agar bisa berinteraksi langsung dengan wisatawan ataupun berprofesi sebaga gaet yaitu pemandu wisata. "Tanpa kemampuan bahasa, dipastikan tamu yang berkunjung akan kesulitan berkomunikasi,"ujarnya.

Selama mengabdikan diri sebagai guru bahasa Inggris di sekolah, Lena mengaku tidak menargetkan pemberian apapun dari sekolah. Diantara sekolah yang diajarnya meliputi Yayasan Umar Mas'ud di Sangkapura, Madrasah Aliyah Darussalam Kumalasa dan SMP Umma di Pudakit Timur.

Lena menyimpulkan siswa di Bawean mempunyai kemampuan yang bagus dalam berbahasa Inggris. Dibuktikan kemarin waktu berkomunikasi langsung dengan turis asal Jerman, ternyata siswa mampu berkomunikasi dengan baik. "Ini membuktikan keberhasilan guru mendidik siswa di Pulau Bawean,"ungkapnya.

Selain itu, Lena mengaku siap bila ada sekolah di Pulau Bawean yang memanggilnya untuk mengajar. "Asalkan jadwalnya tidak bersamaan dengan sekolah yang diajarinya,"pungkas ibu beranak 2 yang suaminya berasal dari Gresik. (bst)

Keluarga Bawean Se-Jabotabek Apolong-polong






Keguyuban warga Pulau Bawean, Gresik diluar kampung halamannya diakui oleh banyak orang. Diantaranya keluarga Bawean di Ibukota Jakarta berhasil mematahkan syair lagu Rhoma Irama : Pagar rumahnya pun tinggi-tinggi, Hidupnya pun sudah nafsi-nafsi. 

Achsanul Haq, sebagai penggagas pertemuan warga Bawean se- Jabotabek mengucapkan bersyukur Alhamdulillah acara berlangsung guyub melepas rindu jadi terlaksana.

Sesuai keinginan bersama keluarga besar Bawean setelah apolong-polong (berkumpul-kumpul), semua sepakat akan diagendakan pertemuan rutin setiap 4 atau 6 bulan sekali.

Adapun konsepnya acara menurutnya dikemas secara santai, non formal, sharing cerita, melepas kangen, apokpak, apacalliu, arojek, atono-tonoan. Selain itu untuk melestarikan makanan khas Bawean, maka anak-anaknya yang selama ini mulai kurang kenal lalu dikenalkan dengan masakan khas asal orang tuanya dari Pulau Bawean.

Menurutnya acara digelar secara mendadak, tapi berhasil mengumpulkan banyak toghellan Bawean di Jakarta. Diantaranya yang hadir Jazilul Fawaid (anggota DPR RI), Dimyati (Kepala Pengadilan Niaga Semarang, Wisnugroho kepala Stasiun TVRI Sumatera Barat, Najid Asiaten Menko Maritim. (bst)

Kegundulan Akibat Keulatan



Oleh : Sugriyanto (Guru SMAN 1 Sangkapura) 
Persalinan musim dari kemarau ke musim hujan tahun ini (2016) memicu kejadian aneh di SMAN 1 Sangkapura. Tidak biasanya dalam seumur-umur ulat masuk sekolah , baru tahun ini segerombolan ulat merah dan hijau tanpa buluh telah mengambil alih kekuasaan ekosistem di SMAN 1 Sangkapura dengan mengupas tuntas dedaunan dari pohon angsana (red: Pterocarpus indicus-Jawa: Sono). Sedangkan daun pohon-pohon lain yang menjadi nabati tetangganya tak dimakannya bahkan dilewatinya hingga ke pohon angsana di pagar luar sekolah. Peristiwa sedikit ganjil ini banyak menyedot perhatian. Terutama pihak sekolah untuk segera mengantisipasi persebaran dan akibat buruk yang akan ditimbulkan kelaknya.

Ulat berwarna merah dan hijau itu kompak melakukan gerakan sikat habis daun pohon angsana tanpa memiliki rasa prikedaunan. Semula wajah lingkungan SMA Negeri 1 Sangkapura tampak hijau ranum dengan penuh kerindangan berubah sedikit tampak meranggas seperempat bagian laksana terkena simburan abu panas dari gunung vulkanis. Kini, yang nampak dan terlihat laksana lukisan abstrak dari alam tentang daun-daun yang kehilangan kelengkapannya sebagai daun. Tiupan angin yang tak sepoi lagi tetap membuat daun berkibar bersama dahan yang mulai merapuh seiring perjalanan petualangan para komunitas ulat penuh nafsu keserakahan itu. Entah dari mana asal-usul ulat yang sangat menggelikan baik dari rupa dan gerakannya itu.

Melalui penuturan guru matapelajaran Biologi yakni Bapak Suwandi, S.Pd. M.Pd. bahwa peristiwa keluar-biasaan ini akibat terganggunya rantai makanan dalam sebuah ekosistem. Akibatnya, ekosistem yang ada berjalan tidak seimbang. Antara konsumen (burung atau manok) pemakan ulat dengan sumber makannnya (ulat) jauh tidak berimbang. Jumlah manok atau burung pemakan ulat lebih sedikit. Hal ini disebabkan banyaknya perburuan liar lewat penjaringan (red: bukan seleksi) melainkan penangkapan dengan menggunakan penjerat berupa jaring yang dipasang dilintasan terbang mereka. Terkadang juga diburu dengan soft gun tanpa dukumen resmi itu.” Tegasnya.

Akibat membludaknya dengan serta-merta ini, jumlah kedua jenis ulat yang bertengger di dahan, ranting, dan daun pohon angsana menghasilkan kotoran ulat dengan ketebalan lebih sepuluh centi meter. Penumpukan ini merupakan hasil akumulasi di bawah pohon yang daunnya menjadi kesukaannya. Kekhawatiran ini dirasakan oleh salah seorang karyawan sekolah yang setiap harinya harus mengerok ban sepeda motornya dari lekatan kotoran ulat yang teradon bersama air hujan itu. Lembek dan tebal itu yang dirasakannya setelah berlalu di bawah areal pohon angsana tersebut beberapa waktu lalu. Tak terkecuali sol sepatu siswa pun yang berlalu lalang di lokasi kejatuhannya menyebabkan langkah berjalannya para siswa pun menjadi berat melangkah dan tertatih-tatih (red: tergehek-gehek) akibat menempelnya tinja ulat yang terus berjalan perkelan-perkelan itu. Sungguh ulat itu ter…la…lu…!

Sesekali kejadian unik dialami siswi di dalam ruang salah satu kelas –yang kelasnya tak jauh dari pohon-pohon angsana- mengalami teriakan histeris hampir memekakkan telinga yang mendengarnya. Teriakan melengking dan teramat nyaring itu dipicu oleh menalarnya seekor ulat di celana olah raga salah seorang siswi saat duduk di bangku kelasnya. Ia benar-benar ulat fobia. Jeritan berdurasi menitan dan panjang itu membikin pegawai dan karyawan di ruang kantor SMA Negeri 1 Sangkapura bergegas menengoknya untuk memastikan apa yang telah terjadi. Tak ayal lagi, dengan sigap dan gerak cepat salah seorang guru menuju sumber bunyi aneh berupa jeritan itu. Semula dianggap adanya salah seorang siswi yang kesurupan. Ternyata, seekor ulat tanpa buluh berwarna merah merayap laksana “mengkelani” celana olah raga di sekitar betisnya. Teman sekelasnya yang lain tidak ada yang berani menyingkirkan pergerakan ulat tersebut. Ulat melekat dan terus bergerak. Temannya yang lain justru menimpali dengan teriakan yang frekwensi serta kekuatannya relatif sama. Gaduhlah ruang kelas tersebut. Atas keberanian seorang guru dengan jiwa yang cukup “kendel” (red : Bawean-Bengalan) terhadap ulat lansung melucuti makhluk pemicu rasa geli itu dari celana olah raga siswi tersebut. Masih banyak kejadian di luar dugaan yang amat meresahkan.

Petugas sekolah mencoba melakukan pembakaran massal di sekitar lokasi menalarnya puluhan bahkan ratusan ulat terutama di selokan antarkelas. Usaha itu masih belum mampu mengatasi karena mereka pun punya semboyan “dibakar sepuluh jatuh seribu.” Bahkan, salah seorang guru agama Bapak Drs. Moh.Basri, M.Pdi. melarangnya cara-cara pembakaran. Hal itu dianggap terlau sadis dan dianggap mengabaikan adat ketimuran. Cara yang lebih sedikit dianggap punya hati walau sama-sama mematikan cukup disemprot dengan bahan pembasmi ulat. Solusi sebagai jalan tengah dan minim risiko segera diadakan langkah cepat dan bijaksana yakni melakukan tebang pilih. Hanya ranting dan dahannya saja yang ditebang. Pokok pohon tetap diselamatkan hingga muncul lengor yang akan tumbuh dan bersemi kembali. Pihak sekolah mendatangkan ahli sinso dengan tiga pekerja out soursing selama kurang lebih tiga hari untuk menuntaskan atau membereskan persoalan tersebut. Pohon-pohon yang ditebang hanya yang dihinggapi dan dimakan ulat saja. Sedangkan pohon lain sebagai pohon kenaungan tetap dibiarkan tumbuh.

Usaha sekolah ke depan akan meninjau kembali penghijauan berikutnya melalui seleksi dan pertimbangan ketat pohon apa yang kebal untuk tidak dimakan ulat jenis apapun. Penulis teringat dengan untaian sebait pantun yang kerap kali dipakai dalam pergaulan muda-mudi warga Pulau Bawean tatkala berjanji untuk datang pada sang kekasihnya.

Angsana kaju angsana Mera-mera peccana gelles Kassana bule kassana Kera-kera pokol dubeles Terjemah bebas: Angsana pohon angsana Merah-merah pecahnya gelas Ke sana saya mau ke sana Kira-kira jam dua belas

Bila dicermati pada baris-baris dan bait pantun tersebut terdapat angka dua belas sebagai angka peringatan atau warning dalam tendangan pinalti. Ulat pun tahu bahwa manusia tidak sepatutnya melakukan penjaringan atau tembakan pinalti terhadap burung-burung alam yang terlibat dalam penyeimbang ekosistem. Kabar ini pun bukan sekadar kabar burung belaka melainkan sebuah realita sebagai bahan kajian dan renungan bersama. Meminjam larik-larik bait lagu Kak Rhoma :

Wahai burung duta suara Terbangkan lagu untuknya Tentang cinta Agar merasakan getarannya jiwa (Lanjukan!)

Nah, dari judul diatas terkuak sudah bahwa manusia bisa kesemutan berarti lebat pun bisa mengalami kegundulan karena keulatan.

Bagaimana Seharusnya Muslimah Berhias? (Bagian-I)


Oleh: Eklis Dinika (Dosen STAIHA Bawean)

“Sepuluh hal yang termasuk fitrah: mencukur kumis, memotong kuku, menyela-nyela (mencuci) jari-jemari, memanjangkan jenggot, siwak, istinsyaq (memasukkan air ke hidung), mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan intiqashul ma’a istinja”Mush’abbin Syaibah mengatakan: “Aku lupa yang kesepuluh, melainkan berkumur.”

Berhias atau berdandan merupakan suatu hal yang melekat erat pada diri seorang perempuan karena tanpa berhias bak sayur tanpa garam. Tetapi jika wanita muslimah berhias perlu memperhatikan kaidah atau aturan yang sesuai dengan ajaran Islam. Mengapa demikian?

BERHIAS MERUPAKAN SUNNAH ALAMIAH

Dewasa ini banyak kita temui baik di kalangan siswa maupun pendidk yang ada di lingkungan kita, sebagian di antara mereka memanjangkan kukunya dengan dalih dapat memudahkan menggaruk apabila ada bagian tubuh yang merasa gatal dan apalah...apalah....alasan mereka. Subhanallah.

Padahal Rasulullah telah bersabda: “Lima perkara yang merupakan bagian dari fitrah: memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan, dan khitan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari hadist di atas sudah jelas bahwasanya memotong kuku itu termasuk sunnah, tidak hanya kuku apapun yang tercantum dalam hadist tersebut sudah selayaknyalah kita mengikuti apa yang telah di ajarkan oleh beliau. Sehingga apapun yang kita kerjakan bernilai suatu ibadah.

LARANGAN MENCUKUR DAN MENYAMBUNG RAMBUT

Penampilan di kalangan remaja saat ini sungguh mengkhawatirkan tidak hanya di kalangan artis atau selebritis bahkan pelajar kita juga terobsesi agar penampilannya luar biasa. Jika rambut yang ia miliki tipis mereka menyambung rambutnya agar tampak lebih tebal dan bagus. Padahal menyambung rambut merupakan salah satu perbuatan dosa besar.

Sebagaimana hadist dari Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dia menceritakan, pernah ada seorang wanita datang kepada Rasulullah seraya bertanya: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai seorang putri yang terserang penyakit, sehingga rambutnya rontok, apakah berdosa jika menyambungnya?”Beliau Menjawab:”Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang meminta disambungkan rambutnya.” (Muttafaqun Alaih)

Begitu juga dengan mencukur rambut kecuali karena suatu hal yang mengharuskan untuk itu. “Rasulullah telah melarang wanita mencukur rambutnya.” ( HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

MEMULAI SEGALA SESUATU YANG BAIK DENGAN SEBELAH KANAN

Diakui ataupun tidak diakui generasi kita saat ini banyak yang tidak mengindahkan memulai sesuatu yang baik dengan menggunakan anggota badan yang sebelah kanan contoh kecil saja makan ataupun memberi sesuatu pada orang lain sebagian di antara mereka menggunakan anggota badan yang sebelah kiri. Itu juga tugas kita sebagai warga Aisyiyah yang sangat memperdulikan masa depan generasi penerus kita kelak. Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Sebagaimana hadist Rasulullah: “ Rasulullah SAW suka memulai sesuatu dengan sebelah kanan, mengambil, memberi dengan tangan kanan, dan beliau dalam segala urusannya senang memulai dengan sebelah kanan.” (HR. An-Nasa’i)

LARANGAN MEMBUAT TATO DAN MERENGGANGKAN GIGI

Wanita zaman sekarang sepertinya sudah tidak menghiraukan etika dalam berhias yang ada dalam benaknya bagaimana berpenampilan memukau dan cantik. Jadi tidak heran karena hanya ingin tampil cantik dan beda mereka rela merogoh jutaan bahkan ratusan juta hanya untuk merubah penampilannya. Seperti mentato anggota tubuhnya agar terlihat lebih keren dan mendapat prediket WOW ataupun mencukur alis, serta merenggangkan giginya hanya untuk terlihat lebih cantik. Subhanallah. Padahal Allah melaknat wanita yang membuat tato dan wanita yang meminta dibuatkan tato, mencukur alis, dan merenggangkan gigi.

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Allah melaknat wanita yang membuat tato (pada kulitnya) dan wanita yang meminta dibuatkan tato, yang mencukur alisnya dan wanita yang meminta merenggangkan giginya untuk mempercantik diri, yang mereka semua merubah ciptaan Allah.” (Muttafaqun Alaih).

LARANGAN MENJULURKAN PAKAIAN

Model busana saat ini sungguh memperhatinkan dimana pakaian mereka melebihi batas ketentuan dari apa yang telah di anjurkan Rasulullah. Coba bayangkan sebagian dari kalangan wanita saat ini mengenakan pakaian yang buntut atau ujung bajunya puluhan meter sampai meminta bantuan orang lain untuk membawa ujung baju tersebut.

Rasulullah bersabda: Dari Abdullah bin Umar R.A, dia menceritakan, Rasulullah SAW telah bersabda:”Barangsiapa menarik (menyeret) pakaiannya karena sombong, niscaya Allah tidak akan memandangnya. “Lalu Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana kaum wanita harus membuat ujung pakaiannya?” “Hendaklah mereka menurunkan pakaian mereka sejengkal (dari pertengahan betis kaki),” jawab Rasulullah. Selanjutnya Ummu Salamah berkata: “Kalau begitu kaki mereka tetap tampak?”Beliau berkata:”Hendaklah mereka menurunkan satu hasta dan tidak boleh melebihinya.” (HR. An-Nasa’i)

DIMAKRUHKAN BAGI WANITA MEMPERLIHATKAN PERHIASAN YANG DIPAKAINYA

Berbicara perhiasan ada di antara kita yang sengaja menampakkan perhiasan yang di pakainya dengan cara yang bervariasi ada yang mengangkat jilbabnya, ada yang yang memotong lengan bajunya dan masih ada cara lain agar perhiasan yang mereka pakai terlihat. Subhanallah.

Seharusnya wanita muslimah lebih-lebih warga Aisyiyah mengetahui walaupun syari’at telah membolehkan wanita memakai emas tetapi dimakruhkan memperlihatkan perhiasan emas yang di kenakannya.

Sebagaimana hadist dari Tsauban, dia menceritakan: Bintu Hurairah pernah datang kepada Rasulullah SAW sedang ditangannya melingkar cincin besar. Maka beliau memukul tangannya itu. Lalu dia masuk menemui Fathimah binti Rasulullah memberitahukan apa yang telah diperbuat Rasulullah terhadapnya itu. Kemudian Fathimah melepaskan kalung emas yang melingkar di lehernya seraya berkata: “Kalung ini hadiah dari Abu Hasan. “ Maka Rasulullah Saw masuk sedang kalung itu berada di tangannya seraya berucap: “ Wahain Fathimah, apakah kamu senang orang-orang menyebutmu sebagai putri Rasulullah sedang di tangannya terdapat kalung dari api.” Setelah itu beliau keluar dan tidak duduk. Lalu Fathimah membawa kalung itu ke pasar dan menjualnya dan dengan uang penjualannya itu dia membeli pelayan, lalu dia memerdekakannya. Kemuadian hal itu disampaikan kepada Rasulullah, maka beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan Fathimah dari neraka.”

Tidak Hanya Dipaksa Hubungan Intim hingga 25 Kali, Bunga juga Diperas


Sebagian pelajar di Pulau Bawean dihebohkan vidio mesum yang tersebar berantai di hp. Diperankan teman mereka sendiri. Ternyata adegan tersebut merupakan aksi pemerkosaan yang direkam pelaku.

Bunga (17 tahun) sebut saja demikian, korban pemerkosaan yang dilakukan Samsul Khairi (21 tahun) asal Pulau Bawean. Korban mengaku mengenal pelaku pada Maret 2015 dipinggir jalan. Singkatnya 23 April 2015 pelaku menghubungi korban. Pelaku meminta korban datang kerumahnya dengan alasan ada teman-teman korabn sedang belajar kelompok. Bunga percaya saja apalagi waktu itu memang ada tugas sekolah. Sampai dirumah pelaku ternyata korban tak melihat satupun teman-temannya.

Kemudian pelaku membujuk korban agar masuk kedalam rumahnya lalu mendorong masuk kedalam kamarnya. Saat itulah pelaku memperkosa korban di rumahnya sendiri. “Dia mengancam akan menyebar vidio dan membunuh saya bila menceritakan ini pada orang tua,” kata Bunga.

Pelaku memanfaatkan rasa ketakutan korban dengan mengulangi perbuatannya hingga puluhan kali. Terakhir hubungan intim dilakukan tanggal 1 Januari 2016, dari 25 kali yang pernah dilakukan.

Tak hanya itu pelaku melakukan pemerasan terhadap korban. Dia meminta uang kisaran Rp. 60 ribu sampai Rp.600 ribu. Kepada polisi pelaku mengaku telah menerima uang dari korban sekitar Rp. 6 juta. Uang itu bersumberkan dari kakak korban bekerja di luar negeri.

Kasus ini terungkap setelah teman Khairi yang meminjam ponselnya lalu menemukan video pemerkosaan terhadap Bunga. Lalu video tersebut tersebar ke teman-temannya yang lain, termasuk beredar di sekolahnya.

Kepala sekolah tempat bunga belajar menyatakan sampai sekarang belum mengeluarkan Bunga dari sekolah. “Kalau Bunga tidak masuk sekolah sampai sekarang itu memang benar. (bst)

Eks Kepala PLN Situbondo Heri Sucahyo Pimpin PLN Bawean


Pimpinan PLN Rayon Bawean, yaitu Djoni Awinarno dipindah tugasnya sebagai kepala rayon di Kediri. Penggantinya Heri Sucahyo yang sebelumnya menjabat pimpinan rayon di Situbondo. “Sudah serah terima di kantor PLN Gresik, per 1 Februari sudah ganti,”kata Djoni Aswinarno.

Selama 1 tahun, 3 bulan menjabat sebagai kepala rayon di Pulau Bawean, Djoni mengaku sangat terkesan atas penerimaan masyarakat, walaupun sering diprotes karena listrik sering padam. Menurutnya selama bertugas di Pulau Bawean seringkali menerima reward atas kelunasan 100'% pelanggan PT. PLN membayar rekening setiap bulan tidak ada tunggakan.

Untuk mengatasi persoalan kelistrikan di Pulau Bawean, menurutnya hanya pergantian kabel terbungkus saja. “Sebab selama ini hanya gangguan karena kalong,”ujarnya.

Heri Sucahyo sebagai kepala rayon yang baru mengaku kerasan bertugas di Pulau Bawean. Alasannya Pulau Bawean seperti Pulau Bali. “Melihat sekelilingnya menghijau,”paparnya.

Adapun mengatasi persoalan kelistrikan di Pulau Bawean, Heri berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada seluruh pelanggan. (bst)

Meretas Kesemestaan Sekolah Berwawasan Lingkungan


Membangun Pembiasaan Darling di SDN IV Sidogedungbatu Melalui Adiwiyata


Oleh: Mohammad Muhajir, S.Pd ( Kepsek SDN IV Sidogedungbatu-Sangkapura)


Menapaki lintasan tahun pembelajaran 2015-2016 ini -sebagai tahun penuh peluang- memberikan kebermaknaan tersendiri bagi seluruh stakeholder di lingkungan sekolah dan sekitarnya khususnya di SDN IV Sidogedungbatu Kecamatan Sangkapura. Sekolah yang berada di anak pulau dari Pulau Bawean ini menjadi titik perhatian dari Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik. Selama ini gema sekolah Adiwiyata hanya menyelinap di sekolah-sekolah perkotaan khususnya daerah industri yang sarat dengan polutan dan keterancaman lingkungan. Namun demikian, Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik merasa terpanggil nurani kecintaan dan perhatian terhadap keberlangsungan hidup dengan memperhatikan segala aspek yang menjadi barometer dalam penilaian untuk meretas kesemestaan sekolah dengan berwawasan lingkungan di SDN IV Sidogedung Batu Kecamatan Sangkapura- Bawean.


Sekolah yang keberadaannya cukup unik ini mungkin bisa menjadi sebuah pilot project atau projek rintisan bagi sekolah lain untuk melakukan hal yang sama. Pembiasaan kesadaran terhadap pentingnya hidup di lingkungan sekolah yang benar-benar standar dalam segala aspek baik kesehatan lingkungan (sanitasi), higienis (standar kesehatan makanan), serta pola-pola hidup yang penuh memberikan kemanfaatan baik bagi dirinya, orang lain serta lingkungan di sekitarnya demi kelangsungan nafas bumi hingga generasi akhir zaman membutuhkan strategi khusus. Tatkala dasar-dasar hidup di lingkungan sekolah secara benar diberikan kepada anak didik dan seluruh sivitas sekolah maka akan tertanam sebuah proses internalisasi pembelajaran melalui kegiatan pembiasaan pola hidup standar yang semestinya diperbuat. Tak terkecuali masyarakat di sekitarnya sedikit banyak turut terdampak kemanfaatannya. Mereka tentunya sadar akan keberadaan lingkungannya. (Darlingnya).

Ibarat fondasi sebuah bangunan, pembiasaan hidup dengan pola-pola yang standar di lingkungan sekolah dasar merupakan sebuah keharusan. Mengapa demikian? Pendidkan akan menanamkan kesan yang melekat dan mendalam bila dimulai sejak dini mulai dari sekolah dasar. Seperti pembudayaan dan pemberdayaan dengan pola hidup standar ini akan memberikan efek positif kepada anak didik serta sivitas sekolah bila kelak hidup di masyarakat. Sekolah sebagai agent of change (agen perubahan) tentunya menjadi tuntutan dan kebutuhan dalam meretas sekolah berwawasan lingkungan (Adiwiyata).

Ada beberapa pertimbangan yang menjadi barometer utama mengapa SDN IV Sidogedungbatu Pulau Gili terpilih sebagai sasaran sekolah Adiwiyata. Dengan berbagai pertimbangan yang rasional pihak Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik menunjuk SDN IV Sidogedungbatu untuk masuk dalam proses sekolah berwawasan lingkngan tersebut. Tentu semua pihak sudah mahfum bersama bahwa sekolah tersebut secara geografis berada di pulau mungil yang memiliki luas sekitar 12 hektare itu dengan kurang lebih 350 kepala keluarga total dikitari pantai dengan kondisi iklim yang tropis. Sebagai langkah mengantisipasi terus menigkatnya suhu bumi yang akan mengancam kelangsungan hidup serta efek membahayakan bagi kehidupan lainnya maka dibutuhkan usaha sadar dan terencana secara komprehensif. Tidaklah berlebihan bila SDN IV Sidogedungbatu masuk dalam katagori lingkungan sekolah yang patut untuk melaksanakan program Adiwiyata.

Untuk menuju sekolah tersebut harus ditempuh dengan perjalanan mengarungi laut biru dengan segala keganasannya yang terkadang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Sejauh mata memandang sejauh itu pula perjalanan yang harus ditempuh. Perjalanan berjarak sekitar 3 mil laut dari Pulau Bawean dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit perjalanan dengan sampan atau klotok tradisonal. Kondisi alam yang panas dan menggerahkan membuat para peserta didik dalam kondisi merasa cepat kelelahan dan keletihan. Bila program seokolah Adiwiyata benar-benar berhasil menjadi sebuah pembiasaan dan pemberdayaan akan dapat dipetik manfaatnya kelak dikemudian hari. Kesabaran dan ketelatenan serta adanya iktikad keras semua pihak untuk mewujudkannya akan menjadi sebuah keniscayaan sebagai tanggung jawab bersama.

Sekolah yang posisinya seperti termarginalkan itu patut mendapat perhatian berlebih dari Balai Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik. Jika tidak, maka sekolah ini akan terus berada dalam hegemuni keterancaman dari panasnya suhu pantai dan antipatinya semua pihak terutama anak didik terhadap pentingnya merawat lingkngan melalui jalur pendidikan formal ini. Progres report sebagai proses memasuki Adiwiyata menunjukan adanya kemajuan yang sangat signifikan. Anak didik dengan jiwa ketelatenan dan kesabaran melalui bimbingan guru dan kepala sekolah menjadi terbiasa hidup yang semestinya dalam menggauli lingkungannya. Tanpa banyak instruksi dan komando mereka sudah membiasakan diri hidup peka dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Sekolah berwawasan lingkungan (Adiwiyata ) bukan bimsalabim abra kadabra atau semudah membalikkan kedua telapak tangan, melainkan sebuah proses yang berkesinambungan dengan segala kreteria penilaian. Memasuki babak baru ini, kami sebagai kepala sekolah sekaligus penanggung jawab keberlangsungan Adiwiyata di SDN IV Sidogedungbatu Pulau Gili merasa terpanggil untuk mewujudkan cita-cita mulia ini. Berbagai macam teknik dan strategi telah dilakukan termasuk mengirim atau mengutus tim guru untuk menjeput bola menghadapi orientasi di masa yang akan datang serta apa yang harus dipersiapkan dan diperbuat. Mengingat urgennya proses Adiwiyata ini segala tenaga, pikiran dan keperluan lain terkait dengan program ini semua telah tercurahkan. Pembiasaan hidup dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan aspek kesehatan lainnya sudah diwujudkan dengan eksen penenaman ratusan tunas kelapa dan pohon cemara di hamparan pasir putih Pulau Noko Gili Desa Sidogedungbatu. Hal demikian tidak perlu menjadi bahan kontroversi sekolah mana yang seharusnya melakoni program Adiwiyata ini hanya buang-buang energi dan dianggap tidak produktif. Support dan dukungan serta doa dari semua pihak menjadi sebuah harapan agar program ini berjalan dengan baik.

Sebuah logika yang menjadi bahan penalaran tetap akan bermuara pada tujuan pendidikan nasional yang termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 Tahun 2003 Bab II pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tidaklah berlebihan dan benar-benar relevan sekolah berwawasan lingkunan (Adiwiyata) ini dalam mendukung keberhasilan mencapai tujuan pendidikan nasional di atas sebagai tanggung jawab bersama.

Refleksi Harlah NU ke-90



Tulisan : Ali Asyhar (Dosen STAIHA dan Wakil Ketua PCNU)

Awal tahun 1900-an Kaum Wahabi semakin bengis . Mereka menyebarkan fahamnya dengan kekerasan. Siapa saja yang berbeda dengan mereka dibinasakan. Kaum Wahabi adalah penganut ajaran Muhamad bin Abdul Wahab di Nejed. Ciri-ciri ajaran Wahabi adalah gampang mengkafirkan sesama muslim. Mereka menyatakan bahwa ziarah kubur adalah perbuatan syirik dan bidah dhalalah. Akibatnya : kuburan Mala diratakan dengan tanah, ribuan makam sahabat Nabi di Baqi juga dihancurkan. Selangkah lagi mereka juga akan menghancurkan makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di Madinah.

Di masa ini pula negeri-negeri islam mulai bangkit dari penjajahan. Di Hindia Belanda (sebutan Indonesia saat itu) Dr. Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo yang bercirikan nasionalisme. Perlawanan bersenjata mulai diganti dengan perlawanan organisasi modern. Pedang berganti pena. Ribuan warga pribumi bergabung di BO. Kemudian disusul dengan berdirinya Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam, Muhamadiyah, Indische Partij, Taman Siswa dll.

Tahun 1914 KH. Wahab Hasbullah pulang dari belajar di Mekah. Kepulangan Kiai Wahab ke Indonesia membawa 2 misi. Pertama : Menghadang penyebaran ajaran Wahabi yang mulai masuk ke Nusantara ( Sumatera) . Kedua : Mendorong kemerdekaan bangsa Indonesia. Para Kiai menyadari bahwa penjajah Belanda bukan hanya mengeruk kekayaan tetapi juga menyebarkan ajaran Kristen. Kiai Wahab membuat forum diskusi di Surabaya yang diberi nama Tashwirul Afkar (Potret Pemikiran). Di dalam diskusi ini dirumuskan bersama konsep keislaman dan ke-Indonesiaan serta tahapan-tahapan menuju Indonesia merdeka. Tak lupa perdebatan tentang modernisasi islam. Aktif dalam diskusi tersebut antara lain : Kiai Wahab, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz, Kiai Mas Mansyur, Kiai Thohir Bakri dan tokoh-tokoh pemuda Surabaya.

Kajian Tashwirul Afkar menelorkan kesepakatan tentang pendirian madrasah Nahdlatul Wathan ( Kebangkitan Tanah Air). Madrasah ini disiapkan untuk mengkader calon-calon pemimpin bangsa. Sebagian pengasuh NW adalah : Kiai Wahab, Kiai Bisyri Syansuri, Kiai Cholil Kasingan Rembang, Kiai Abdul Halim Cirebon, Kiai Mashum dan Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz dll. Cabang cabang NW mulai berdiri di berbagai daerah. Di tahun ini juga Kiai Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan Saudagar). Tujuannya adalah menyatukan saudagar santri yang masih berserak.

Tahun 1915 Dunia internasional bergolak. Perang dunia I meluas. Blok Barat yang dimotori oleh Jerman dan Inggris menggempur Italia yang didukung oleh Kesultanan Turki Utsmaniyah (Ottoman) . Dinasti Turki Utsmaniyah adalah satu-satunya imperium islam yang multinasional, terkuat dan multi bahasa. Imperium ini membentang dari Eropa, Afrika Utara sampai tanduk Afrika. Kekalahan Italia dan tentara Ustmaniyah dalam perang dunia I menyebabkan Dinasti islam ini melemah. Puncaknya , terjadi perang saudara antara Sultan Mahmud 2 melawan Musthafa Kemal Attaturk yang mengusung nasionalisme. Porak-porandanya dinasti Utsmaniyah dimanfaatkan oleh Syarif Husen bin Ali untuk melepaskan diri dan menobatkan dirinya sebagai raja Hijaz (Makah-Madinah). Ia berhasil melepaskan diri dari Dinasti Ustmaniyah tahun 1917. Di saat yang sama, kaum Wahabi juga mendorong Ibnu Saud yang ambisius untuk merebut Nejed dari tangan Ustmaniyah. Koalisi Ibnu Saud dan Muhamad bin Abdul Wahab semakin kuat. Dinasti Ustmaniyah resmi bubar pada tanggal 1 Nopember 1922 setelah kalah berperang melawan Musthafa Kemal Attaturk. Propinsinya menjelma menjadi negara-negara merdeka.

Tahun 1923 KH. Wahab Hasbullah sowan kepada Hadratusyaikh Hasyim Asyari Jombang. Beliau menyampaikan perkembangan Nahdlatul Wathan dan keinginan para Kiai Pondok Pesantren untuk membentuk jamiyah ( organisasi). Jamiyah ini sangat diperlukan untuk menyatukan kekuatan dalam menghadapi gerakan Wahabi yang semakin brutal. Mereka sudah berani masuk-masuk kampung dan menjelek-jelekkan amaliyah para santri seperti tahlilan, ziarah kubur, istighatsah dan shalawatan. Gesekan kaum santri dengan Wahabi semakin meluas. KH. Hasyim Asyari belum memberikan respon. Beliau sangat hati-hati dan meminta pertolongan Allah.

Keresahan KH. Hasyim Asyari dirasakan juga oleh Syaikhona Khalil Bangkalan. Segera beliau menyuruh santri sekaligus cucunya sendiri yakni Kiai Asad Syamsul Arifin untuk sowan menemui Kiai Hasyim. Kiai Hasyim menerima tongkat dari Kiai Asad dan bacaan surat Thaha ayat 17 23. Beliau memahami bahwa gurunya tersebut merestui berdirinya jamiyahnya para ulama. Pada tahun 1924, di Mekah terjadi peristiwa penting. Ibnu Saud merebut Hijaz. Raja Syarif Husen melarikan diri ke Aman Yordania. Kaum Wahabi semakin merajalela.

Tahun 1925 Syaikhona Khalil Bangkalan kembali mengutus Kiai Asad sowan kepada Kiai Hasyim untuk menyerahkan tasbih dan bacaan Ya Jabbar, Ya Qahhar. Semakin mantaplah hati Kiai Hasyim. Namun beliau memerlukan restu juga dari Habib Hasyim Pekalongan dan Kiai Nawawi bin Noer Hasan Sidogiri. Habib Hasyim memberikan restu. Begitu pula Kiai Nawawi sembari berpesan agar NU tidak main-main dengan uang. Bila membutuhkan uang maka anggotanya harus urunan. Syaikhona Khalil wafat pada tahun 29 Ramadlan 1343 / 1925.

Kekejaman kaum Wahabi di Mekah dan sekitarnya semakin mengerikan. Mereka membumi hanguskan kota Thaif, membakar kitab-kitab tulisan para ulama dan menghancurkan makam-makam sahabat. Bahkan tempat-tempat bersejarah juga diluluh lantakkan. Rumah Abdul Muthalib dijadikan WC dan rumah Abu Thalib dijadikan kandang khimar. Mereka sengaja mengejek para ulama dan habaib. Merespon hal ini para Kiai berkumpul di Kertopaten Surabaya pada tanggal 16 Rajab 1344 / 31 Januari 1926. Mereka sepakat membentuk Komite Hijaz dengan membawa 2 tuntutan. Pertama : Kaum Wahabi tidak boleh mengusik makam Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di Madinah. Kedua : Para tamu Allah yang hadir di Makah-Madinah diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan madzhabnya masing-masing. Misi berhasil. Raja Ibnu Saud mengabulkan permohonan para ulama Nusantara. Komite Hijaz ini diwakili oleh Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Fathurahman dan Hasan Gipo. Para kiai juga menyepakati berdirinya jamiyah yang diberi nama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Para Ulama). Nama ini adalah usulan dari KH. Mas Alwi Abdul Aziz Surabaya.

Menjelang Muktamar NU pertama, jamiyah ini belum memiliki lambang. Kiai Wahab meminta kepada Kiai Ridlwan Abdulah untuk membuatnya. Kiai sepuh dari Surabaya ini dikenal jago melukis dan menulis kaligrafi Arab. Setelah shalat istikharah, kiai Ridlwan berhasil membuat gambar bumi sesuai mimpinya. Gambar ini di setujui oleh Kiai Hasyim Asyari. Beliau meminta agar gambar ini disowankan dulu kepada Kiai Nawawi. Kiai Sidogiri ini juga menyetujui dan menambahkan gambar tali yang mengikat bumi. Beliau dawuh Selama gambar tali itu masih melingkari bumi maka NU tidak akan pernah sirna. Tali yang melingkari bumi ini berjumlah 99 lilitan sesuai dengan asmaul husna. Pada saat pelaksanaan Muktamar, wakil dari pemerintah Belanda menanyakan arti lambang NU tersebut. Spontan Kiai Ridlwan Abdullah menjelaskannya meski tanpa persiapan. Pertolongan Allah datang kepada hamba-Nya yang ikhlas.

Di era awal, tiap tahun NU menggelar Muktamar. Hal ini wajar karena jumlah cabang belum banyak. Cabang NU pertama adalah Blora Jawa Tengah. Rais Akbar NU adalah Hadratusyaikh Hasyim Asyari. Sedangkan ketua Tanfidziyah pertama adalah Hasan Gipo. Saudagar keturunan Arab ini dikenal tangkas dan pemberani. Suatu hari ia menantang Muso untuk membuktikan bahwa tuhan itu ada. Keduanya duduk di rel untuk menunggu kereta lewat. Setelah kereta mendekat, spontan Muso lari terbirit-birit. Gembong komunis itu ternyata takut mati.

Akhirnya, selamat memperingati harlah NU. Semoga warga NU semakin berkualitas.

TKI asal Bawean jadi Korban Kapal Tenggelam di Malaysia



Salah satu korban tewas tenggelamnya kapal di Kelise, Sungai Tengah, Bandar Penawar Kota Tinggi, Johor, Malaysia, Jumat (29/1) adalah Sudar. Pria 34 tahun hendak menyeberang ke Malaysia melalui jalur belakang.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Sudar di Desa Sidogedungbatu Sangkapura. Kepergian Sudar untuk selamanya itu meninggalkan kesedihan khususnya istri dan dua anaknya.

Sudar sudah terbiasa merantau ke negeri Malaysia, sebab keluar masuk sekitar 6 kali. “Baru sekarang ini yang melalui jalur belakang masuk Malaysia,”ujar kepala desa Sidogedungbatu Muadz Abkar.

Sejumlah pejabat muspika tampak hadir dimah duka. Diantaranya Camat Sangkapura Abdul Adim. Dikatakan Adim, Sudar termasuk salah satu TKI yang jadi korban kapal tenggelam ketika akan masuk ke Malaysia melalui jalur belakang. “Sebagai wujud kepedulian terhadap korban, muspika mendapatkan informasi langsung berkunjung ke rumah korban,”jelasnya.

Kabarnya jenasah Sudar langsung dimakamkan di Malaysia. Mulyanto kepala Dinas Tenaga Kerja kabupaten Gresik mengatakan tidak tahu menahu bila ada TKI asal Bawean yang meninggal dunia ketika berangkat ke Malaysia.

Alasannya dia melalui jalur tidak resmi, sehingga tidak ada data lengkap untuk TKI melalui jalur belakang. “Kalau betul ada, coba akan dikoordinasikan kepada pihak terkait,”- pungkasnya. (bst)

Julukan Bawean Bali-nya Jatim Menuai Pro Kontra


Pernyataan Gubernur Jawa Timur Soekarwo ketika sambutan peresmian bandara Harun Thohir memohon dukungan tokoh untuk menjadikan Pulau Bawean sebagai Bali-nya Jawa Timur mendapat respon. Salah satunya dari politisi Golkar asal Bawean, Yahya Zaini. Dia menilai tidak cocok bila pengembangan wisata di Bawean meniru ke Pulau Bali. “Lebih cocok berkiblat ke wisata halal di Lombok,”katanya.

Alasannya tradisi dan nilai-nilai keagamaan yang dipegang teguh masyarakat Pulau Bawean jangan sampai rusak. Apalagi wisata halal sekarang menjadi trend dunia, pangsa pasar juga besar. “Semestinya pengembangan wisata Bawean diarahkan kesana, bukan ke Pulau Bali,”ujarnya.

Lebih lanjut Yahya Zaini menilai ini tantangan bagi pemerintah kabupaten Gresik dan pemerintah provinsi Jawa Timur sejalan dengan kebijakannya yang ingin menjadikan pusat pengembangan ekonomi Islam nasional.

Terpisah Jazilul Fawaid anggota DPR RI asal Pulau Bawean menyatakan setuju dalam artian positif tidak berdampak negatif.

“Pulau cantik didukung masyarakat bersatu menjaga nilai budaya, seni, kerajinan, kekayaan alam flora dan fauna. Sehingga wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Pulau Bawean,”pungkasnya. (bst)

Salah Nama, Keluarga Harun Tahir Protes


Peresmian Lapangan Terbang (Lapter) Bawean, berbagai persoalan terus berdatangan. Setelah warga digegerkan dengan adanya aksi calo tiket. Kini, giliran keluarga Harun Tahir yang melayangkan protes. Sebab, penggunaan nama Harun Thohir pahlawan asli Bawean ini tidak sesuai nama yang ada di SK Pahlawan Nasional.

“Sesuai SK Presiden, nama paman saya adalah Harun Tahir bukan Harun Thohir,” ujar Salim, keponakan dari Harun Tahir, kemarin.

Menurut dia, pihaknya keluarga meminta agar pemerinta memberi nama lapter sesuai dengan nama yang benar. Bukan seperti saat ini, nama Harun Tahir diganti dengan nama Harun Thohir. “Jika Tohir atau Thohir itu tidak benar, yang benar Harun Tahir,” jelas Salim.

Sementara itu, Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep Wahyu Siswono mengatakan sesuai disposisi yang diterima lapter tersebut bakal diberi nama Bandara Harun Thohir.

Ini termasuk prasasti yang bakal ditanda tangani Menteri Perhubungan Iganasius Jonan pada peresmian hari ini Sabtu (31/ 1). “Jika ada protes dari pihak keluarga pahlawan, maka besok bisa dikomunikasikan kembali,” katanya.

Sekedar diketahui, lapangan terbang Pulau Bawean diresmikan hari ini, Sabtu (30/1) dengan nama Bandara Harun Thohir. Peresmian dilakukan Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan, dihadiri Soekarwo Gubernur Jawa Timur, anggota DPR RI dari Dapil Gresik dan Lamongan, Pj Bupati Gresik Akmal Boedianto, Kapolres Gresik dan Dandim Gresik. (bst)

Masyarakat Diwanti-wanti Tak Masuk ke Run Way


Warga Bawean dihimbau untuk bersama- sama menjaga bandara Harun Thohir. Warga juga diminta memahami standar operasional prosedur (SOP) bandara. “Penghantar dan penjemput hanya berada di luar terminal, sedangkan penumpang bisa masuk ruang tunggu,” demikian dikatakan Menteri Ignasius Jonan saat meresmikan bandara, akhir pekan lalu.

Jonan mengatakan masyarakat tidak boleh masuk ke run way. Karena bisa membahayakan pengoperasian pesawat. “Tentu bila itu terjadi, dunia internasional akan menilai bandara tersebut tidak laik,”tegasnya.

Fuji Dwi Santoso Kepala Satuan Pelayanan Lapangan Terbang Pulau Bawean mengatakan sejak bandara Harun Thohir dioperasikan semuanya dilarang memasuki kawasan sesuai standar operasional prosedur (SOP). “Termasuk sekeliling bandara sudah dikelilingi pagar untuk pengamanan,”ujarnya.

“Tidak boleh siapapun memasuki area bandara, terkecuali penumpang dan petugas bandara dan pihak maskapai penerbangan,”paparnya.

Sementara di pintu masuk terminal siaga petugas yang melakukan pemeriksaan, diantaranya Menteri Perhubungan RI Ignasius Jonan, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Pj Bupati Gresik Akmal Boedianto juga diperiksa. Termasuk seluruh barang bawaan dimasukkan ke dalam x-try untuk diperiksa melalui layar monitor.(bst)

Berkeringat Dingin dalam Pesawat


Sejumlah warga Bawean, Gresik yang merasakan penerbangan perdana Surabaya-Bawean mengungkapkan perasaaannya. Ada yang dirundung rasa was-was berlebihan namun tak sedikit menikmati perjalanan dengan senang. “Pesawatnya terlalu kecil, saya berkeringat khawatir terjadi sesuatu,” kata salah satu warga Daun, Sunan.

Sunan merupakan satu penumpang dari 11 penumpang yang diangkut dari Surabaya-Bawean pada kamis (28/1). Dia berharap nantinya pesawat yang melayani berkapasitas lebih banyak lagi.

Meski demikian Sunan mengaku sangat terbantu dalam hal efisiensi waktu. Lantaran hanya butuh waktu 50 menit untuk sampai ke Bandara Harun Thohir dari Bandara Juanda Surabaya.

Lain pula dengan Mofid, pemuda asal desa Daun menyatakan senang bisa naik pesawat terbang pulang kampung. “Enjoy aja kok selama dalam perjalanan, justru senang bisa melihat keindahan alam Bawean dari udara,”paparnya.

Wahyu Siswono Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep ketika sampai di Bandara Bawean menjelaskan untuk tahap awal frekuensi penerbangan hanya melayani 2 kali dalam seminggu. Bila animo masyarakat jadwal penerbangan bisa ditambah 3 kali dalam seminggu.(bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean