bawean ad network
iklan
bank jatim

Berita

Pendidikan

Kesehatan

Transportasi

Surat Pembaca


TERKINIindex

Mudik Lebaran Menurun Drastis
Akibat Cuaca Buruk & Sulitnya Tiket

Media Bawean, 28 Juli 2014


Jumlah pemudik lebaran ke Pulau Bawean tahun ini terjadi penurunan drastis. Dibuktikan frekuwensi pelayaran kapal ke Pulau Bawean sangatlah minim. Diantara penyebabnya kondisi cuaca yang tidak menentu sehingga pelayaran tidak stabil. 

Berikut suara warga Pulau Bawean terkait penurunan mudik lebaran tahun ini.

Apakah terjadi penurunan dalam mudik tahun ini ke Pulau Bawean? Penyebabnya?

H. Abdul Khaliq asal Tambak
1. Cuaca yang buruk. 2. Alat transportasi yang tidak memadai. 3. Jadwal kapal Gili Iyang yang hanya 2x dalam seminggu PP. Mestinya bisa dimaksimalkan menjadi 3xPP selama persiapan menghadapi Lebaran. 5. Warga Bawean sudah "Melek Cuaca", artinya masyarakat umum sudah bisa membaca prediksi ramalan cuaca seminggu ke depan yang bersumber dari BMKG. Atas dasar itulah warga Bawean yang akan pulang kampung masih "mikir-mikir". Pertimbangan lain adalah "takut hangusnya" tiket pesawatnya/visa-nya bagi warga yang akan ke luar negeri jika dalam jangka lama tidak ada kapal penyeberangan.

Imam Mustafid asal Diponggo
Iya memang ada penurunan. Penyebab, diantaranya karena persoalan transportasi yang kurang baik ditambah lagi cuaca tidak stabil.

Amanah Subki asal Lebak
Iyaa. Karena cuaca buruk. Saya sendiri termasuk korbannya yang tidak bisa mudik ke Pulau Bawean.

Nahdiatun Nisak asal Pudakit Timur 
 Ya, karena transportasi ke Pulau Bawean kurang memadai dann cuaca yang tidak mendukung.

Novita Sawafi asal Daun
Jera, menunggu kapal. Apalagi yang dari luar negeri.

Khairuddin asal Bengkosubung
Iya, terbukti terjadi penurunan pada zakat fitrah di LAZISMU. Salah satu penyebabnya adalah gelombang besar sehingga transportasi laut tersendat-sendat.

Ilal asal Daya Bata
Iya, mungkin karena.cuacanya yang tidak menentu, sehingga jadwal kapal banyak yang terganngu (batal). Mungkin ragu-ragu karena cuaca yang tidak menentu.

M. Taufik asal Bululanjang 
Turun, penyebabnya adalah kapal yang tidak tentu jadwalnya..

Rafa Al Badrun Nur asal Kepuhteluk
Ya, Ombak yang tidak stabil, kapal tidak jelas, tiket yang susah didapat

Arif Rosyidi asal Sungairujing
Transportasi tidak dapat dipastikan

Dewi Kusmiyati asal Sawahmulya 
Kapal masih kurang mengatasi.

Muhammad Amin asal Pekalongan
Iya, cuaca serta sulitnya mendapatkan kepastian tiket kapal ketika hendak balik dari Pulau Bawean. Tidak mau resiko kehilangan tiket pesawat dan kehilangan pekerjaannya seperti musim tahun lalu.

Moh. Tarmidi asal Telukjatidawang 
Orang pada takut mudik ke Pulau Bawean karena susahnya kapal, ketidakpastian itu penyebabnya.

Ahmad Maulana asal Pekalongan 
Iya, terjadi penurunan dikarenakan masih minim minat pemudik yang ingin mudik karena tuntutan ekonomi.

Ila Achsan asal Bengkosubung
Jelas sekali, naik kapalnya saja tersiksa kayak mau perang sama Israel. Lebih sulit beli tiket kapal ke Pulau Bawean daripada beli emas.

Abdul Hamid asal Dayabata 
Ya, karena kurang lancarnya transportasi sehingga enggan bagi perantau untuk mudik. Dengan tidak lancarnya transportasi membuat pemudik untuk kembali. 

Syaifuddin Zuhri asal Laut Sungai 
Penyebabnya: ketidakpastian gelombang laut yang tiba-tiba tidak layak untuk pelayaran (faktor alam) dan akses untuk mendapatkan kepastian tiket masih dipertanyakan.....???

Mudik Balik Bersama Kardus

Media Bawean, 28 Juli 2014

Kekuatan Dua Arus Tradisi yang Menguras Energi 
Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sangkapura) 

Membincang soal tradisi mudik dan balik menjelang dan sesudah Lebaran seperti menjadi head line yang mengemuka dalam setiap tahunnya. Kewajiban atau Undang-Undang Permudikan dan Perbalikan yang mengharuskan pulang dari dan kembali ke rantau belum pernah ditemukan asbabun nuzulnya. Sejak kapan pula kemunculan istiah mudik dan balik menjadi sebuah kebiasaan yang memunculkan kekuatan arus yang mobilitasnya bisa melebihi arus di bawah lautan yang dilaluinya sekalipun. Ribuan, bahkan jutaan umat manusia dengan segala ke-“ribetan”-nya pulang untuk melepas atau membuang rasa kangen (reb: Bawean- maelang kerrong) dengan induk semang dan kerabatnya di kampung halaman setelah setahun bahkan bertahun lamanya berpetualang merantau jauh dari keluarga. Mungkin inilah modus utama munculnya tradisi mudik dan balik sebagai sebuah pengungkapan atau penuangan rasa rindu dan kangen pada tanah kelahiran.

Dua istilah kata kunci yang mendulang banyak perhatian publik saat mau dan akan Lebaran adalah kata “mudik” dan kata “balik”. Kedua kata tersebut seperti antonim yang berapatan dalam pemakaiannya. Cukup memadukan dengan kata “arus” di setiap kata tersebut membentuk frasa sebagai jargon utama dalam urusan kesibukan yang banyak menguras energi baik yang dilakukan pihak pemerintah maupun jasa partikelir lainnya. Bila ditilik kembali istilah kata “mudik” dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dapat ditemukan maknanya yakni

1. (berlayar, pergi) ke udik ( hulu sungai, pedalaman), 2. pulang ke kampung halaman. Dari asal kata “udik” dapat ditemukan pula maknanya sebagai nomina yakni sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber), (daerah hulu sungai), desa, dusun, kampung (lawan kota), bahkan sebagai kiasan istilah “udik” bernosi kurang tahu sopan santun, canggung (kaku) tingkah lakunya. Tidak juga faktanya! Malah orang dusun lebih sopan dan santun serta hati-hati dalam bertatakrama walau terkadang sedikit tampak norak performanya di mata orang kota. Dalam berbicara pun dengan sesama warga dusun di tengah kerumunan warga kota suaranya paling lantang di atas 20.000 Hertz frekwensinya. Nyaring-nyaringan suaranya orang dusun. Asli Lho!

Sorot tajam tatapan penulis memfokus pada kesibukan dan barang bawaan yang terlihat secara kasat mata yang kerap kali dibawa para pemudik. Berbagai barang bawaan dengan berbagai variasi kemasan . Koper, tas, keranjang, kresek berlabel mal atau pertokoan tertentu dari kelas paling kere hingga kelas yang mentereng pun disambinya (red: Indonesia-dibawanya). Termasuk kardus bekas dan gres dengan ikatan tali rafiah atau rumput Jepang yang membelenggunya. Ikatan “rambut” Jepang tersebut sampai membentuk serupa jaring net voli bal yang menyelimuti seluruh badan kardus. Hingga kardus tak berkutik sedikit pun. Barang bawaan para pemudik menjadi tampak ringkes karena segala benda atau barang keperluan mudik masuk menyelinap di dalamnya. Mulai dari buku, sepatu, sandal, pakaian yang belum sempat masuk laundry kiloan pun melompat ke dalam kardus karena terburu mudik dikejar waktu. Belum lagi berbagai ragam makanan lebaran, buah, wartel, gubis, kentang, dan seledri persiapan sup tulang santapan lebaran masuk beramai-ramai di dalam kardus. Kardus sarat dengan muatan. Tak terkecuali pemudik yang nakal sengaja disempat-sempatkan memasukkan mercon dan kembang api yang akan diatraksikan di dusunnya sebagai sifat riak atau show of force agar sekeliling tetangga tahu bahwa dirinya merasa pernah menjadi orang kota yang pulang kampung. Tak heran lah!

Pemanfaatan kardus untuk memuat barang bawaan buat mudik dan balik menjadi pilihan yang amat jitu. Dengan menggunakan kardus semua barang bawaan dapat ditata rapi sesuai keinginan. Orang lain pun tidak akan tahu dan tidak perlu tahu apa isi di dalam kardus tersebut. Tradisi mudik balik dengan kemasan kardus menjadi perhatian penulis agar dapatnya pembaca mengenal lebih dekat esensi dari kata kardus itu sendiri. Di dalam kitab berjudul “Kisah Para Nabi” tulisan Ibnu Katsir dengan nama lengkapnya Abu Al Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir Al Qursyi Al Bashrawi Al Damsyiqi memiliki arti tersendiri. Menarik, bahkan penulis sendiri terperngah setelah membaca sebuah keterangan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, beberapa orang sahabat, Sa’id bin Musayyab, dan ulama lainnya mengatakan, “Iblis adalah pemimpin malaikat di langit dunia.” Ibnu Abbas mengemukakan,”Nama Iblis itu adalah Azazil.” Dan sebuah riwayat disebutkan, “Namanya Al Harits, Al Nuqas mengatakan,”Gelar yang dimiliki Iblis itu adalah Abu Kardus.” (Ibnu Katsir: 2008: 25). Jadi, pemudik yang membawa kemasan dalam kardus paling besar tergolong membawa barang dengan bapaknya atau moyangnya kardus.

Arus mudik dan balik benar-benar banyak menyedot tenaga untuk mengatasinya. Moda transportasi baik darat, laut, dan udara hampir kualahan mengatasinya karena membludaknya pemudik dan pebalik terutama mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. Kota menjadi lengan dan sepi katang setelah ditinggal oleh orang-orang udik. Padahal, tanpa mudik pun mereka bisa menjalin komunikasi via kartu lebaran, sms, mms, email, pacebukan, bahkan via 3G-an baik menggunakn HP atau Webcam bisa bersuka ria dengan keluarga nunjauh di mato di kampong sano. Namun, karena tergugah nafsuh untuk segera pulang maka tiada opsi alternatif kecuali balik kampung. Keserentakan kepulangan inilah yang menyebabkan banyak pihak yang tersibukkan sebagai langkah antisipasi melancarkan dua serangan arus mudik dan balik. Berbagai macam jasa transportasi dikerahkan, mulai yang berbayar hingga yang gratis. Pemudik benar-benar dimanjakan. Bahkan, dengan mudik gratis para pemudik dapat menambah pundi-pundi keuangan yang mestinya dirogoh dari kocek pribadinya. Tidaklah mengherankan bila saku baju baru para pemudik saat Lebaran tetap kembung sarat dengan muatan keuangan yang bisa dikeluarkan sebagai “angpau” atau “Duit Raye” buat sanak saudara dan famili di bawah umur.

Latar belakang yang menjadi modus operandi dari kegiatan mudik berdasarkan hasil pantauan penulis adalah cukup beraneka ragam. Mulai jumpa kangen bersama keluarga, reuni, ziara kepada pendahulu sebagai leluhurnya, menghadiri penganten keluarga, foto bareng di tempat-tempat indah dan bersejarah, berdayung sampan, bakar ikan segar, sate-satean, bahkan ada juga yang niatnya buang uang receh setelah menjadi orang sukses di rantau. Tentu, mereka tidak ingin meniru atau menjadi “Malin Kundang” yang berpuluh tahun merantau menjadi kaya raya tidak mengakui keberadaan ibunya. Mereka atau para pemudik tidak mau dikutuk menjadi batu sebagai anak durhaka. Momen Lebaran inilah saat yang paling indah dan dinantikan untuk menyucikan hati dengan bermaaf-maafan untuk mengembalikan status warna hati yang putih “ngecling” laksana bayi pertama yang terlahir ke dunia. Penyempuhan hati ini juga butuh energi kebaikan sebagai tangga perbuatan yang pernah dititih selama masa bulan Suci Ramadan.

Bagaimana dengan kekuatan arus balik? Para pebalik juga diburu waktu untuk kembali beraktivitas di tempat kerja dan studinya di perkotaan. Janji-janji dengan teman kerja, teman sejawat, teman sekampus, teman sepondok, bahkan tetangga kos yakni oleh-oleh dari daerah sebagai makanan khas juga menjadi iming-iming untuk diolehkan setelah balik. Termasuk tanaman unik yang tiada duanya di Nusantara adalah oleh-oleh berupa kayu sentegi yang dianggap berbau klenik pun dijanjikan ke orang kota. Untuk membawa barang bawaan saat balik terkadang masih menggunakan kardus yang sama atau menggantinya dengan yang lebih besar. Energi yang dikerahkan menjadi turut berlebih menyesuaikan dengan netto isi di dalamnya. Biasanya barang yang dilompet (dimasukkan paksa.Red) berbagai jenis mulai dari pisang raja, pisang elang, pisang molen, dan pisang-pisang lain sebagai buah andalan ke daerahan. Pisang daerah beda dengan pisang kota yang bergelantungan lunglai akibat pengkarbitan. Pisang-pisang warga udik benar-benar masak segar secara alami. Termasuk makanan khas daerah seperti; koncok-koncok, posot-posot, kerupuk pettola khas Tambak, bahkan sisa makanan toplesan yang belum berluang pun diterjun-bebaskan ke dalam kardus. Tiada yang tersisa sedikitpun semuanya harus tumpas habis dibawa kembali ke rantau. Sebagai wujud kepedulian kepada para pebalik mohon waspada dan hati-hati demi keselamatan sampai tujuan. Ingat, barang bawaan diceklis terlebih dahulu sebelum dibawa kembali ke rantau. Termasuk waspada dengan tangan setan para pencopet dan penggendam durjana selama di perjalanan. Lebaran sebagai wujud kebahagian jangan samapai bertukar menjadi kesedihan akibat kelalaian. Tinggalkan dan lupakan Abu Kardus untuk selamanya.

Sebagai penulis setia di EmBe selayaknya saat lebaran ini menjulurkan tangan dengan telapak putih sebagai lambang harapan dan permohonan maaf dalam merayakan kemenangan sejati dalam berjibaku melawan hawa nafsu yakni tulus menguntai “Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin” Termasuk bos dan awak EmBe menguntaikan dengan tulus pula hal yang sama. Allahu Akbar wa Lillahilhamd.

Rektor Unsoed Kangen Masakan Ibu
Mudik Lebaran ke Pulau Bawean

Media Bawean, 28 Juli 2014

MUDIK menjadi hal yang ditunggu oleh Dr Achmad Iqbal MSi, Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Saat mudik, dirinya bisa berkumpul bersama keluarga di Gresik, Jawa Timur. Meski harus menempuh perjalanan jauh, ada hal yang begitu dikangenkan oleh bapak berputri dua ini.

“Saya rindu masakan ibu. Apa pun masakan ibu pasti saya suka. Saat mudik inilah rasa kangen itu terbayar. Termasuk bisa silaturahmi dengan keluarga,” kata pria kelahiran Pulau Bawean, Jawa Timur, 31 Maret 1958 ini.

Ia mengatakan, saat mudik dirinya menyempatkan anjangsana ke rumah kerabat lain. Termasuk mengadakan ziarah kubur ke makam ayah dan kakeknya Djamil Dhofir di Ponpes Sidogiri, Pasuruan.

“Saya tak mudik ke Bawean karena keluarga kumpul di Gresik,” kata Iqbal yang menceritakan terakhir ke Bawean tahun 2003.

Sekitar sepekan di Gresik, suami dari Ir Endang Sri Ningsih ini biasanya kembali ke Purwokerto. Di rumahnya yang berada di wilayah Mangunjaya Gang 8, Purwokerto Timur ia bisanya menggelar open house.

“Bukan open house resmi seperti pejabat. Ya biasanya, mahasiswa dari BEM atau unit kerohanian Islam yang silaturahmi ke rumah,” katanya. Pengin open house ke rumah Iqbal, silakan?(Hanan Wiyoko)

Sumber : Satelit Pos

Tradisi Malam Takbiran di Tambak
Gelar Pawai diikuti Ribuan Warganya

Media Bawean, 28 Juli 2014


Menyambut hari raya idul fitri 1435 H. warga kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik menggelar pawai takbir keliling. (minggu malam senin, 28/7/2014).

Pawai takbir lebaran diikuti ribuan warga dari setiap dusun di desa Tambak, serta diikuti desa Pekalongan, dan desa Tanjungori. Setiap kampung mengeluarkan simbol kebesarannya dengan membuat kapal, ikan dan lain-lain.

Ramali, tokoh di desa Tambak ditemui Media Bawean mengatakan tradisi takbiran keliling termasuk budaya turun-temurun dari nenek moyang terdahulu. Adapun kemasan yang ditampilkan menurut mantan kepala desa Tambak, menyatakan menyesuiakan kondisi zaman sekarang.

"Memeriahkan malam hari raya merupakan tradisi masih tetap bertahan dan berkembang maju. Tujuannya menunjukkan kebesaran agama Islam, serta mempererat hubungan persaudaraan antar warga di kecamatan Tambak,"katanya.

"Mengikuti pawai takbir keliling memerlukan modal besar, masing-masing kampung mengeluarkan anggaran besar untuk membuat hiasan seperti ikan, kapal dan lainnya. Membuatnya membutuhkan waktu lumayan lama untuk dipertontonkan kepada masyarakat,"ujarnya.

Walaupun kondisi jalan sempit dengan menempuh rute satu jalur jalan lingkar Pulau Bawean, Ramali mengungkapkan kondisi aman tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. "Ini berkat kerjasama yang bagus pihak keamanan bersama seluruh peserta pawai takbir keliling,"jelasnya.

Abdul Basit, Kasi Kesra Kecamatan Tambak, menerangkan pawai takbir keliling diikuti hampir seluruh warganya di Tambak. "Setiap kampung mempunyai kreasi seni tersediri untuk membuat hiasan untuk dipertontonkan,"tuturnya.

"Ini tradisi yang sulit ditemukan di daerah lainnya, sepertinya hanya kecamatan Tambak di Kabupaten Gresik yang menggelar pawai takbir keliling dengan sangat meriah,"paparnya.

Pawai takbir keliling setiap kampung di kecamatan Tambak menempuh rute jalan lingkar di desa Tambak. Disaksikan ribuan warga yang memadati sepanjang jalan di Tambak. Terdengar lantunan kalimat takbir yang dikumandangkan ketika iring-iringan pawai berlangsung. (bst)

Rumah Sakit Tipe D Bawean,
Kapan Mulai Beroperasi?

Media Bawean, 27 Juli 2014

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. dr. Soegeng Widodo mengatakan beroperasinya rumah sakit tipe D di Pulau Bawean masih menunggu selesai pembangunan, dilanjutkan penyediaan alat kesehatan dan tenaga medis.

Ditemui Media Bawean di Kantornya (jum'at, 25/7/2014), Kepala Dinas Kesehatan Gresik mengatakan untuk tahun ini hanya penyelesaian pembangunan yang nantinya setelah selesai akan diresmikan. "Untuk peresmian beroperasinya rumah sakit tipe D di Pulau Bawean masih belum tahun ini sehubungan masih butuh tersedianya alat kesehatan dan tenaga kesehatan,"katanya.

"Nantinya untuk memulai tahapan awal beroperasinya rumah sakit akan diisi oleh pegawai puskesmas Sangkapura sambil menunggu pembangunan puskesmas yang baru selesai,"ujarnya.

"Untuk dokter akan diprioritaskan asal Pulau Bawean, termasuk tenaga kesehatan lainnya akan memprioritaskan asal Pulau Bawean,"tuturnya.

Lebih lanjut, dr. Soegeng Widodo menyatakan optimis rumah sakit tipe D di Pulau Bawean akan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat, dengan perbandingan jarak yang lumayan jauh ke Gresik.

Persoalan dokter, menurutnya bila lapangan terbang Pulau Bawean sudah beroperasi, tentunya akan mempermudah akses untuk transportasi dokter untuk berkunjung dan bertugas di Pulau Bawean. (bst)

LAZISMU Menjelang Hari Raya Idul Fitri
Menerima Zakat Fitrah Untuk Disalurkan

Media Bawean, 27 Juli 2014


LAZISMU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah) kecamatan Sangkapura, Gresik sejak berdiri sampai sekarang tetap eksis dalam kegiatan sosial pengabdian kepada masyarakat di Pulau Bawean. Diantara program, meliputi pemberdayaan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dakwah sosial, dan dakwah kemasyarakatan.

Menjelang hari raya idul fitri 1435 H., LAZISMU kecamatan Sangkapura menerima penyaluran zakat fitrah dari warga untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya.

Pantauan Media Bawean (sabtu, 26/7/2014) terlihat warga berdatangan untuk mengeluarkan zakat fitrah yang diterima Pengurus LAZISMU di kantor Muhammadiyah Sangkapura. Untuk mengeluarkan zakat fitrah, warga bisa memilih 2 opsi yaitu membawa beras sendiri atau membeli beras yang telah disediakan oleh panitia penerimaan zakat fitrah.

H. Mohammad Hasyim, Ketua LAZISMU Sangkapura mengatakan dalam penerimaan zakat fitrah telah dibentuk panitia khusus untuk menerima dan menyalurkan kepada yang berhak menerima. "Waktu penerimaan sudah dibuka sejak 2 hari yang lalu,"katanya.

"Menjelang malam hari raya, hasil pengumpulan zakat fitrah melalui LAZISMU akan disalurkan kepada yang berhak menerimanya,"paparnya.

Seiring terbentuknya LAZISMU, H. Mohammad Hasyim menyatakan berkembang maju dan kian bertambah besar sehubungan kepercayaan masyarakat kepada LAZISMU. "Berkat kerjasama yang baik antara pengurus bersama ummat diwujudkan melalui managemen profesional dengan laporan keuangan yang jelas serta dipertanggungjawabkan kepada publik,"ujarnya.

Lebih lanjut, Ketua LAZISMU Sangkapura mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga, khususnya para kaum dermawan yang menyumbangkan hartanya melalui LAZISMU. "Untuk program menyambut bulan suci ramadhan, telah disalurkan sebesar Rp. 8 juta, yaitu diberikan kepada kaum dhuafah sebesar Rp.6 juta, sedangkan Rp.2 juta disumbangkan untuk pembangunan lantai kramik masjid di Daun,"jelasnya. (bst)

SQ Bukan Sekedar Janji tapi Bukti
Warga Kompak Dukung SQ Jadi Lagi

Media Bawean, 26 Juli 2014


Bupati Gresik (Sambari Halim Radianto) dan Wakil Bupati Gresik (Moch. Qosim) memimpin Pemerintahan Kabupaten Gresik telah memberikan bukti keseriusannya untuk membangun Pulau Bawean. Dalam tempo pemerintahannya telah berhasil membangun infrastruktur, seperti jalan lingkar Bawean, menyelesaikan pembebasan lahan untuk lapangan terbang Pulau Bawean, membangun rumah sakit tipe D, serta pembangunan lainnya seperti jalan poros desa, jalan lingkungan, perbaikan sarana pendidikan dan ibadah di Pulau Bawean.

Disamping perbaikan infrastruktur, pemerintahan Sambari - Qosim terbukti peduli terhadap anak yatim dan janda miskin, serta santunan kematian bagi janda dari keluarga kurang mampu. 

Terbukti tahun ini, bantuan yang diglontorkan di kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, yaitu anak yatim berjumlah 652 dengan total bantuan sebesar Rp.130.400.000, bantuan untuk janda miskin sebanyak 2.052 orang dengan total bantuan Rp.410.400.000, serta santuan kematian untuk periode april dan mei sebanyak 80 orang berjumlah Rp.120.000.000. Total bantuan sebanyak Rp.660.800.000.

Menurut Abdul Adim, Camat Sangkapura mengatakan besarnya bantuan yang dikucurkan seharusnya disyukuri atas keperdulian pemerintaha Kabupaten Gresik terhadap anak yatim, janda miskin dan santuan kematian untuk janda tidak mampu.

"Bukan sekedar janji, tapi bukti sudah diserahterimakan secara langsung kepada yang berhak menerimanya,"katanya.

Menurutnya, bantuan yang telah diterima mempunyai manfaat besar untuk berbagi bersama warganya, khususnya menyantuni kaum dhuafah dan anak yatim.

Merespon atas bantuan yang diterimanya, penerima bantuan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bupati Sambari dan Wakil Bupati Moch. Qosim. Sebagai wujud keperdulian yang telah dirasakan langsung oleh warganya, penerima bantuan menyatakan siap untuk mendukung kembali Pemerintah Kabupaten Gresik dipimpin oleh Sambari Halim Radianto sebagai Bupati dan Moch. Qosim sebagai Wakil Bupati. (bst).

Tidur Duduk Semalam Suntuk

Media Bawean,26 Juli 2014


Untuk pulang ke kampung halaman tujuan mudik lebaran, penumpang kapal Gili Iyang jurusan Gresik - Pulau Bawean siap berdesakan antar calon penumpang, termasuk tidur sambil duduk semalam suntuk. Tidak ada keluhan, yang terpenting bisa berlebaran bersama keluarga besarnya di kampung halaman.

Diatas kapal, terlihat kompak bersatu padu menikmati pelayaran dari Gresik menuju Pulau Bawean. Penumpang kapal dipadati warga Pulau Bawean yang bertugas atau dinas di luar, terlihat ada dokter, dosen, polisi, pengusaha dan lainnya.

Kapal diberangatkan dari pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean, tepat jam 23.00 WIB. Diatas kapal, untuk tidur sempurnah sepertinya kesulitan sehubungan posisi berada di ruang ekonomi. Hanya bisa duduk sambil mengobrol dengan teman-teman, untuk melangkahkan kaki juga kesulitan sehubungan banyaknya penumpang diatas kapal.

Terlihat kepulasan penumpang menikmati tidur dengan posisi duduk, sambil merasakan goyangan kapal saat melintasi ombak di lautan luas.

Ketika waktu sahur tiba, terlihat tak satupun yang beranjak dari tempat duduknya, masih terlihat pulas menikmati tidur sambil duduk. 

Terasa ada gelombang tinggi, ketika Pulau Bawean sudah terlihat besar dan sinyal handphone sudah terjangkau. Sontak ketika digoyang ombak tinggi, waktu pagi beranjak sehingga sempurna melihat keadaaan lautan luas.

Tepat jam 07.00 WIB. kapal Gili Iyang bersandar di Pelabuhan Baru Pulau Bawean, akhirnya seluruh penumpang kompak pulang ke kampung halamannya dengan wajah berseri tanpa ada kecewa. (bst)

Antri Beli Tiket di Pelabuhan Gresik

Media Bawean, 26 Juli 2014


Warga Pulau Bawean berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan belahan penjuru dunia yang ingin mudik ke kampung asalnya diharuskan antri untuk membeli tiket kapal di Terminal Pelabuhan Gresik.

Terlihat kesibukan calon penumpang untuk membeli tiket kapal, termasuk menggunakan perantara bagi mereka yang tak mau repot ikut antrian. Setiap orang memiliki jatah untuk membeli 5 tiket dengan melampirkan foto copy KTP calon penumpang.

Ironisnya antrian hanya garda terdepan saja yang mendapatkan jatah untuk membeli tiket. Sedangkan barisan belakang terkadang gigit jari karena jatah tiket yang dijual sudah habis. Terdengar makian dari calon penumpang yang tidak kebagian jatah untuk membeli tiket. Alasannya waktunya berpuasa ternyata dibuat capek untuk antri membeli tiket kapal.

Sementara petugas penjual tiket KMP. Gili Iyang, Dodot dihubungi Media Bawean, mengatakan setiap penjualan tiket sesuai jatahnya selalu habis terjual kepada calon penumpang. Menurutnya tidak ada kompromi dalam penjualan tiket kapal, semua calon penumpang dipersilahkan antri.

Beruntungnya calon penumpang kapal masih memiliki kesempatan untuk membeli tiket kapal saat menjelang keberangkatan KMP. Gili Iyang dari Pelabuhan Gresik tujuan Pulau Bawean untuk pelayaran hari jum'at malam sabtu (25/7/2014). Berkat koordinasi antar petugas yang baik, sehingga calon penumpang bisa pulang ke kampung halamannya di Pulau Bawean. (bst)

Pegawai Puskesmas Sangkapura
Menuntut Tunjangan Dana Terpencil

Media Bawean, 21 Juli 2014


Kunjungan Wakil Bupati Gresik, Moch. Qosim seminggu yang lalu di Puskemas Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik dimanfaatkan oleh perawat untuk menuntut keadilan yang sama dengan abdi negara yang lain.

Menurut salah satu perawat kepada Wabup Gresik, menyampaikan permohonannya agar pegawai di Puskesmas mendapatkan tunjangan dana terpencil seperti guru yang mengajar di Pulau Bawean.

Menjawab permohonan perawat Puskesmas, Moch. Qosim menyatakan tunjangan dana terpencil merupakan proyek pemerintah pusat, bukan wewenang pemerintah kabupaten. "Tanya saja sama Pak Sugeng (kepala dinas Kesehatan Kabupaten Gresik), bahwa tunjangan dana terpencil merupakan program pemerintah pusat,"ujarnya.

Mendapat penjelasan, perawat bersuara susah juga untuk mendapatkannya kalau proyek tunjangan dana terpencil dari pemerintah pusat.

Perlu diketahui, pemerintah pusat telah mengucurkan bantuan tunjangan daerah terpencil kepada guru berstatus PNS dan swasta sejak beberapa tahun yang lalu di Pulau Bawean. Sementara pegawai instansi lain, sepertinya dianaktirikan tanpa mendapat perhatian yang sama. Padahal statusnya sama, yaitu mengabdi untuk bangsa dan negara. (bst)

Popular Posts

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.