Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H.

adsbybawean

Kekeramatan Kampung Keramat


Oleh: Sugriyanto (Pakar Seni dan Bahasa Bawean)

Beberapa tahun silam pernah dibincangkan di stasiun televisi nasional TV One dan majalah Gatra tentang ditemukannya makam Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim) di Kampung Keramat Tambak Gresik Jawa Timur. Sampai pada titik simpulan akhir terdapat tiga makam Sunan Bonang yakni di Tuban Jawa Timur, Lasem Jawa Tengah, dan Pulau Bawean Gresik Jawa Timur. Berita menggemparkan itu terekam lewat USB TV tuner dari stasiun TV One ke sebuah laptop. Hasil rekaman itu selalu menarik untuk disimak karena pendapat dan alasan yang diutarakan sama-sama menguatkan. Di sinilah salah satu letak kekeramatan seorang waliyullah bisa membagi diri, baik jasad dan rohnya. Keajaiban ini pernah terjadi pada diri seorang Syekh Abdul Qodir Al Jailani (Al Baz atau si Rajawali itu) dapat memenuhi undangan di 40 tempat dalam waktu yang bersamaan. Subhanallah...!

Terkuaknya kabar temuan yang menggemparkan mengenai makam Sunan Bonang beberapa tahun silam di Pulau Bawean ini berawal dari kunjungan seorang ulama asal Madura bernama Kiai H. Hasanuddin Madani beserta keluarga menuju kediaman Kiai H. Zuhdi,S.Pd. di Kampung Keramat. Pada kesempatan tertentu Kiai H. Hasanuddin Madani meminta antar menuju tempat pemakaman di tepi pantai kampung tersebut untuk melakukan napak tilas dengan berjalan menyisir di pemakaman sambil berbincang dengan menggunakan bahasa Arab dan bahasa pengantar antar keduanya. K.H.Zuhdi, S.Pd. terus memperhatikan dengan saksama sebagai saksi mata. Isi atau hal dialog "gaib" itu disampaikan oleh Kiai H.Hasanuddin Madani kepada K.H.Zuhdi, S.Pd. bahwa di sebuah kubur yang di atasnya ditumbuhi pohon juwet (baca, Bawean: Dhuwe') terdapat makam seorang wali bernama Sunan Makdum Ibrahim atau Sunang Bonang. Menurut keterangan Kiai tersebut pohon juwet itu tidak pernah tumbuh besar, namun setelah dibangun sebuah cungkup dari pusara wali tersebut dahan pohon turut besar selalu hendak menaungi. Artinya, pohon saja itu beristigfar memohon ampunan kepada ilahi atas wali tersebut.

Untuk meluruskan serta menegaskan kembali adanya temuan makam dari Sunan Bonang di Kampung Keramat Tambak Pulau Bawean, Bapak Kiai H.Zuhdi, S.Pd. berlayar ke Tuban menemui juru kunci makam Sunan Bonang yakni Kiai Nasir kala itu. Pertemuan antara keduanya berbuah jawaban dari juru kunci tersebut bahwa "Allah lah Yang Maha Benar". Bisa saja menurut pandangan beliau ketiga tempat itu sama benar. Di dalam keterangan stasiun televisi disampaikan bahwa Sunan Bonang mengajar para santrinya di Pulau Bawean hingga wafat. Mendengar kabar Sunan Bonang wafat di Pulau Bawean, para santrinya datang dari Tuban ke Pulau Bawean untuk membawanya kembali ke tanah asalnya. Dasar keinginan para santri itu sama-sama cinta pada gurunya sehingga berbagai cara dilakukan untuk memakamkan Sunan Bonang di Tuban. Sampai-sampai para santri yang di Pulau Bawean oleh para santri yang dari Tuban dibuat mengantuk (baca, Bawean: E palempo) supaya dapat membawa jasad Sunan Bonang ke tanah Tuban. Setelah perahu berangkat pulang kembali ke Tuban, baru beberapa lama mengarungi laut, jasad Sunan Bonang kembali ke Pulau Bawean karena sebelum wafat sudah berwasiat ke para santrinya yang di Pulau Bawean agar dimakamkan di Pulau Bawean saja. Para santri di Pulau Bawean beranggapan bahwa yang dibawa perahu itu tinggal kafannya. Apakah kenyataannya memang demikian? Wallahu a'lam.

Kejadian aneh yang pernah disaksikan warga Kampung Keramat Tambak di sekitar temuan makam Sunan Bonang jauh sebelum dibangun rumahan cungkup bermacam-macam. Salah seorang anak bersepeda motor ngebut menabrak tiang telepon dan dirinya menggantung di atas kabel telepon hingga berteriak meminta tolong. Lalu, warga datang beramai-ramai menurunkannya. Salah seorang supir mobil sedikit ugal tiba-tiba mobilnya membelok yang tidak wajar di jalan lintasan dekat makam tersebut. Mobil menyeruduk salah satu pohon dan masuk ke jalan menuju perkampungan warga. Banyak kejadian aneh lainnya yang terjadi di lintasan jalan sekitar makam Mbah "Keramat" itu.

Berdasarkan keseringan yang terjadi sebuah peristiwa naas di jalan lintasan sekitar makam tersebut, warga berinisiatif dengan swadana dan swakelolah untuk membuat pagar tembok keliling yang relatif tinggi. Setelah pemagaran itu selesai, tragedi aneh sudah jarang terjadi.

Kesaksian dari salah seorang pemilik sapi, sebut saja namanya Bapak Ismail menyampaikan bahwa sekian tahun lamanya ia memelihara sapi, ternyata belum hamil-hamil juga. Padahal, sapinya sudah dikawinkan berkali-kali terhadap sapi pejantan. Hampir saja Bapak Ismail putus asa hendak menjual atau menyembelihnya.Tiba-tiba saja tercetus nadar dalam hatinya bahwa apabila sapi piaraannya hamil, maka Pak Ismail akan mengadakan acara selamatan dengan menyembelih ayam buat selamatan di makam Mbah Keramat. Acara selamatan dan membaca surat Yasin di rumahan cungkup Sunan Bonang dipenuhinya. Pada waktu itu pendoanya Kiai H.Zuhdi yang selalu menjadi tempat curahan hati warga setempat. Salah seorang pemilik sapi bernama Bapak Marnai juga mengeluh atas rencana penjualan sapinya. Sapi begitu besar hanya ditawar 10 jt hingga penawaran tertinggi 15 jt. Harapan dari Bapak Marnai bagaimana sapi sebesar itu bisa laku susuai harga pasaran umum sekitar 25 jt. Beliau bernadar bila sapi besar rerawatannya laku dengan harga tertinggi tersebut maka ia akan melaksanakan acara selamatan dan baca Yasin di Cungkup pemakaman Sunan Bonang tersebut. Baru saja jatuh nadarnya, sudah ada orang luar Pulau Bawean yang datang menawar dengan harga sesuai harapannya. Kejadian aneh ini disampaikan kepada Kiai H.Zuhdi selaku pendoa di setiap ada acara selamatan di cungkup pemakaman sang wali.

Kini, di cungkup pemakaman Sunan Bonang di Kampung Keramat Tambak banyak diziarahi orang-orang yang hendak bertirikat. Di antara para petirakat itu berasal dari Banyuwangi, Jember, Banyu Biru Madura, serta daerah lainnya. Bahkan, beberapa sekolah menjelang Ujian Nasional melakukan "ngalap berkah" dengan acara pembacaan Yasin bersama di Cungkup Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim. Di sinilah dasar utama secara hakikat kenapa kampung tersebut diberi nama Kampung Keramat? Dasarnya tetap pada kekeramatan dari sebuah tempat yang terdapat di salah satu sudut kampungnya. Mengutip kembali pitutur juru kunci makam Sunan Bonang di Tuban "Hanya Allah lah Yang Maha Benar".

Kilau Gemilang Setengah Abad Islamiyah: Reuni Akbar Islamiyah


Lembaga Pendidikan Islamiyah yang berdiri sejak 01 April 1968 akan punya hajat besar : Reuni Akbar dan Halal Bihalal pada Senin ,18 Juni 2018. Acara dimulai pukul 08.00 -- 14.00 (siang), dan 19.00 ---23.30 ( malam ). Diperkirakan acara ini akan dihadiri 1.500 alumni baik dari daratan Jawa, Sumatera, Kalimantan , Bali, Sulawesi, Papua, maupun dari luar negeri. Acara akan dihelat di halaman SMP-SMA ISLAMIYAH dan di Aula GUS DUS , Lantai 3.

"Acara yang bertajuk KILAU GEMILANG ISLAMIYAH EMAS ini adalah acara puncak HUT ke-50  berdirinya YAYASAN PEMBANGUNAN PULAU BAWEAN yang menaungi : KOBER,TK, MDU, SMP, SMA, dan Paket-C  Islamiyah Bawean. Acaranya dimeriahkan parade marchingband dan pagelaran berbagai seni dari siswa", kata Muh.Nuruddin, S.Pd., Ketua Panitia penyelenggara.

"Informasi ini, adalah sebagai pemberitahuan dan sekali gus sebagai undangan bagi para alumni Islamiyah yang belum menerima undangan. Undangan lainnya sudah diinformasikan lewat media sosial.

Ayo, jenguk alma maternya, sembari temu kangen dengan teman lamanya. Aduh, pasti "lebur ongghu, pasti laa pade kerrong ongghu ", ujar Pak Mahfudz,S.Pd.M.M., Ketua Kalista (Keluarga Alumni Islamiyah Tambak)

"Ibarat menyambut anak-anak yang sudah lama merantau ke negeri orang, lalu sang anak-anak itu pulang kampung, menjenguk sekolahnya, bersilaturrahim dengan teman lamanya dan guru-gurunya. Tentu, kami siap jadi tuan rumah yang baik dan menyambut dengan rasa haru dan gembira atas kehadiran mereka," ujar Kepala SMP ISLAMIYAH, H.HARI SUPRANOTO, S.Pd. yang didampingi  Kepala SMA Islamiyah, Drs. H. Abdul Khaliq saat dihubungi via telepon genggamnya.

Adapun tema Reuni dan Halal Bihalal tahun ini adalah " Menjayakan Islamiyah, dengan menghimpun potensi alumninya, melalui Keluarga Alumni Islamiyah Tambak ( KALISTA)". (bst)

Arus Balik Lebaran dari Bawean Terhalang Gelombang Tinggi



Beroperasinya kapal rute Bawean - Gresik pasca lebaran idul fitri tahun 1439 H. untuk melayani pengangkutan penumpang arus balik sampai saat ini belum ada kepastian. Penyebab ketidakpastian keberangkatan kapal disebabkan kondisi gelombang tinggi di perairan laut jawa.

Ahmad Bisri Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Bawean mengatakan angin kencang di laut jawa bagian timur, dan ada tekanan rendah di laut cina selatan jadi pemicu tingginya gelombang laut. "Sesuai hasil prakiraan untuk tanggal 17 Juni 2018 potensinya tinggi gelombang antara 2,4 meter sampai 3,2 meter,"katanya.

Suhaimi Petugas PT Pelayaran ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengatakan untuk keberangkatan KMP Gili Iyang untuk tanggal 17 Juni 2018 masih belum mendapatkan izin berangkat sehubungan kondisi cuaca buruk.

"Untuk melayani pengangkutan selanjutnya menunggu sampai cuaca baik,"ujarnya.

Sementara calon penumpang yang mudik lebaran di Pulau Bawean yang ingin segera kembali, masih menunggu adanya kapal yang melayani pengangkutan dari Pulau Bawean. (bst)

Kebuntelukdalam, Desa Berkeberkahan


Oleh: Sugriyanto (Pakar Seni dan Bahasa Bawean)

Berdasarkan catatan ilmu bumi, nama Desa Kebun Telukdalam disandarkan pada peristiwa alam yakni bertambah naiknya sebuah pulau setiap tahunnya dari permukaan air laut. Temuan sementara yang menguatkan bahwa di antara Desa Daun dan Desa Kebun Telukdalam terdapat gua yang di dalamnya penuh berisi fosil biota laut berupa cangkang kerang dengan berbagai variannya. Secara penelusuran sederhana, kata teluk itu sendiri merupakan laut yang masuk ke darat atau sebaliknya darat yang menjorok ke laut. Nama kata "dalam" dapat diartikan tidak dangkal atau masuknya laut ke daratan begitu jauh. Bila ditarik garis lurus dari arah selatan Desa Daun hingga ke Utara menuju Desa Kebun Telukdalam hampir tiga kilometer jauhnya. Laut itu masuknya begitu ke dalam atau memang laut yang masuk memiliki tingkat kedalaman sampai tak terjajaki.

Tanah yang ditengarai bekas teluk ini memiliki tingkat kesuburan di atas rata-rata tanah desa lain di sekitarnya. Berbagai macam tanaman umbi-umbian dan sayur tumbuh subur di hampir seluruh wilayah Desa Kebun Telukdalam. Hasil bercocok tanam bawang terbagus kualitasnya selama ini berasal dari desa tersebut. Bahkan, salah seorang ahli pertanaman asal Pasuruan setelah menggarap berhektar tanah milik warga setempat menyatakan dari amat suburnya tanah desa tersebur cocok dibuat menanam tanaman tembakau. Namun, warga setempat belum bisa menerima bila tanaman tembakau dibudi-dayakan di desanya dengan berbagai dalih yang memang masuk di nalar. Pasokan sayur dan tanaman umbi-umbian di pasar kebanggaan warga Desa Kebun Telukdalam yakni pasar "Kotempa" seluruhnya hasil tanam warga setempat. Tanaman sayuran itu banyak dikulak warga desa lain dari pasar "Kotempa" (baca,Indonesia: kura-kura sungai, bulus) untuk dijual kembali ke berbagai pasar di Pulau Bawean merupakan hasil bumi Desa Kebun Telukdalam. Seperi; buah mentimun, nangka sayur, kacang panjang (baca, Bawean: sayur otok), sayur bayam, labu sayur, kangkung tajin, serta berbagai jenis sayur lainnya adanya berlimpah dan harganya pun relatif murah. Bila menjelajah lebih jauh ke dalam Desa Kebun Telukdalam akan menjumpai di setiap pekarangan rumah warga terdapat tanaman buah naga karena cocok dan teramat subur tanahnya.

Sisi menarik dari desa ini adalah adanya jalinan perjodohan yang berporos antara gadis asal Desa Kebun Telukdalam dengan warga keturunan Bawean yang menetap di Singapura dan Malaysia sebagian kecilnya. Sulit bagi jejaka luar manca untuk mendapat gadis asal Desa Telukdalam kalau tidak karena jodoh atas usaha sekuat tenaga. Selain wajah elok rupawan dari keturunan warga desa dimaksud juga terdapat pertimbangan kemapanan ekonomi dan pertimbangan lain yang masih menjadi nilai tawar yang tidak semua orang bisa berjodoh ke desa penuh keberkahan ini. Alasan lain, di desa ini terdapat banyak tanah peninggalan warga keturunan yang sudah menetap di Singapura dan Malaysia sehingga warga setempat sudah tidak direpotkan dengan kepemilikan lahan nantinya. Hal ini diperkuat dengan peristiwa pengiriman hewan kurban dari Singapura dan Malaysia selalu menuju Desa Kebun Telukdalam.

Keberadaan lembaga pendidikan di Desa Kebun Telukdalam boleh dikatakan lengkap dan maju. Sejak tingkatan terendah PAUD, SD, MI, MDU, MINU, MTs, MA, hingga pondok pesantren berkembang pesat di desa tersebut. Semboyan utama warga Desa Kebun Telukdalam yaitu tidak akan pernah berhenti menuntut ilmu hingga sampai melepas masa lajang atau hingga sampai masanya kawin. Wajar bila para kiai atau ulama asal Desa tersebut ilmu keagamaannya cukup mumpuni dan dalam hingga melebihi kedalaman teluknya sendiri. Selain lembaga pendidikan yang turut berkembang pesat pula adalah sarana tempat ibadah. Hampir di setiap dusun terdapat satu langgar bahkan lebih yang tersentral pada satu garis komanda satu mesjid saja. Di sini terlihat jelas bentuk kekompakan dan kerukunan warganya dengan banyak langgar tetapi tetap menginginkan satu masjid saja.

Temuan lain dari tanah subur dan berkeberkahan ini, di sana terdapat sungai dengan hewan spesifik berupa "kotempa" atau bulus sebagai hewan sungai yang dilindungi. Padahal, di sungai desa yang lain, hewan berkategori "penjultok" itu sudah mengalami kepunahan karena diburu secara membabi buta penuh keangkara- murkaan. Di sungai yang sama ditemukan pula banyak kerang hijau (baca, Bawean: kerang kejhing) yang berlimpah. Jenis kerang serupa banyak ditemukan di sungai negara Thailand Muangthai. Salah seorang mantan perantau sebagai pekerja kapal luar negeri mengatakan rasa kerang itu melebihi sedapnya kerang buluh sekalipun asal tahu cara mengolah dan memasaknya. Sedap betul...!

Kejadian aneh dan banyak menarik perhatian warga Pulau Bawean, di Desa Kebun Telukdalam terdapat pemandian "Olo Tompo" yang baru saja diresmikan dan dibuka untuk umum oleh wakil Bupati Gresik (DR. H.Moh.Qosim, M.Si). Nama pemandian merdeka "Olo Tompo" ini dapat diurai sedikit tentang artinya. Olo itu berarti kepala atau hulu sumber air dan kata "tompo" artinya cupak beras (baca, Bawean: copbhuk) yang biasa digunakan warga setempat untuk mencuci beras sebelum ditanak. Tersingkap pula rahasia keberkahan berupa khasiat air sumber "Olo Tompo" dengan cara mengadzaninya pada malam tertentu, airnya akan mendidih (baca, Bawean: ngalkal) bergelumbung-gelebung. Saat itu pula warga berbondong-bondong membotoli air sumber "Olo Tompo" yang menyembur dari bawah batu menjadi air berkhasiat sebagai obat berbagai penyakit, baik fisik maupun psikis serta menyehatkan. Posisi pemandian "Olo Tompo" rupanya perlu dievaluasi sedikit agar ditinggikan dari rata-rata persawahan warga pada umumnya sehingga sisa debit air buangan dari kolam pemandian masih bisa dimanfaatkan untuk keperluan irigasi persawahan warga pada umumnya. Bumdes Untung warga pemilik sawah juga. Bahkan, kelimpahan sumber mata air pemandian "Olo Tompo" hingga mengalir sampai persawahan wilayah warga Desa Daun.

Keajaiban yang terjadi di Desa Kebun Telukdalam hingga saat ini menjadi gudangnya warga pemilik kemerduan suara, terutama dalam melantukan ayat-ayat suci Al Qur'an. Sebuah kesaksian menuturkan bahwa genteng atau seng atap rumah turut bergetar tatkala salah seorang warga mengeluarkan kemerduan suaranya dalam seni baca Al Qur'an. Sampai-sampai lampu listrik di ruang rumahnya bisa padam akibat kemerduan tarikan suaranya. Bila kurang yakin dengan keajaiban ini maka ingatlah pada suara Siti Fatimah yang membuat pedang yang akan dihunuskan kepadanya oleh abangnya sendiri bernama Sayyidina Umar jatuh menggeletak di tempatnya berdiri. Setelah mendengar kemerduan suara bacaan Al Qur'an adiknnya serta-merta tangan Umar bergetar dan pedangpun jatuh. Terbukti, suara emas itu terwariskan salah satunya kepada qori'ah juara 1 tingkat Nasional yakni Ibu Hj. Aziza Aziz asli kelahiran Desa Kebun Telukdalam. Penerus kemerduan suara itu masih banyak diwarisi oleh warga lain yang juga kelahiran desa tersebut. Tokoh hebat kelahiran Desa Kebun Telukdalam seabrek adanya sehingga tak cukup ruang untuk ditulis di sini.

Paling akhir dari tulisan sederhana ini hendak mengungkap mengapa hasil panen padi sampai surplus dan hasil panen yang lain juga berlimpah di Desa Kebun Telukdalam? Jawabnya, warga Desa Kebun Telukdalam selalu bersyukur terhadap nikmat dan karunia ilahi. Di saat usai memanen tanamannya, di saat itu pula hasil panennya tidak lupa dizakati, baik diperuntukkan kemakmuran tempat ibadah maupun kepada mereka yang berhak menerima. Betapa dalamnya hukum dan ketentuan ajaran Islam yang diterapkannya. Bisa ditiru...!

Tradisi Budaya Malam Takbiran di Kecamatan Tambak




Menyambut malam hari raya idul fitri tahun 1439 H. Warga kecamatan Tambak kembali menggelar tradisi budaya tahunan dengan menggelar takbir keliling dengan menunjukkan kreasi yang dibuatnya.

Hampir seluruh warganya turun ke jalan untuk melihat kemeriahan malam takbiran. Dengan berjalan kaki, peserta pawai dengan kompak menunjukkan replika seperti kitab suci Al Qur'an dan lainnya.

Abdul Adim Camat Tambak mengatakan tradisi takbiran keliling menyambut hari raya idul fitri termasuk budaya yang digelar rutin setiap tahun. "Warga kompak mengikuti pawai untuk memeriahkan,"katanya.

Menurutnya tradisi tahunan ini lebih semarak sehubungan warga kompak mendukung, apalagi ditambah banyaknya pemudik yang turun ke jalan untuk menontonnya.

Sebagai antisipasi, pihak keamanan bekerjasama dengan elemen yang ada mengatur rute lalu lintas disepanjang jalan. "Peserta pawai dengan berjalan kaki, sedangkan arus kendaraan roda empat dan dua dialihkan melalui jalur dalam,"pungkasnya. (bst)

Ada Temuan Sepeda Motor di Pelabuhan Bawean



Telah ditemukan sepeda motor yang ditinggalkan di Pelabuhan Bawean sekitar 2 hari yang lalu.

Suryadi anggota Polsek Sangkapura mengatakan sepeda motor diamankan di Kantor Polsek Sangkapura sehubungan ditinggalkan di Pelabuhan Bawean. "Saat ditemukan, kontak masih menempel di sepeda motor,"katanya.

Bagi pemilik sepeda motor untuk mengambilnya, silahkan datang ke kantor Polsek Sangkapura dengan membawa surat- surat kendaraan seperti STNK dan KTP. (bst)




Kapal Gratis Rusak, Kapal Express Bahari Membantu Angkut Penumpang ke Bawean


Penumpang kapal mudik gratis rute Gresik - Pulau Bawean yang terlantar di Pelabuhan Gresik, akhirnya bisa bernafas lega sehubungan adanya kesiapan Kapal Express Bahari 8E yang datang membantu.

Setianya penumpang kapal mudik gratis bantuan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur akan berangkat menuju Pulau Bawean dengan armada kapal Natuna Express, sehubungan kondisi mesin mengalami trouble akhirnya petugas Syahbandar tidak memberangkatkan.

Nanang Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gresik mengatakan bantuan kapal gratis menggunakan kapal Natuna Express untuk melayani mudik rute Gresik - Bawean. "Sehubungan kondisi mesin rusak, akhirnya mencari solusi seperti mengubungi pihak PT Pelayaran SIM untuk diminta membantu,"katanya.

Reven Putra Kepala Cabang PT Pelayaran SIM Gresik membenarkan kapal Express Bahari berangkat kembali ke Bawean dengan mengangkut penumpang kapal gratis. "Untuk mengatasi penumpang yang keleleran di Pelabuhan Gresik, akhirnya bersedia membantunya,"ujarnya. (bst)

Sampah jadi Sorotan Pemudik Bawean


Oleh : KSR Sangkapura

Masih terkait sampah. Ini foto hari Ahad kemarin. Hari Senin selepas subuh, di depan mata ada seorang ibu dengan santai membuang satu kresek sampah dari jembatan ke sungai ini.

Hati terasa ingin teriak "Ibu, jangan buang sampah disitu"... Tapi ku khawatir ibu itu balik bertanya "lalu, saya harus buang kemana". Saya belum bisa menjawabnya.

Lokasi sungai di jantung kota Sangkapura. Membentang dari kampung Dejhebheta, Kebhun deje, Kebhun laok, dan Sabe laok Desa Sawahmulya.

Kampanye lingkungan perlu digalakkan. Buat pesan kampanye, bahwa membuang sampah sembarangan (ke laut, ke sungai, apalagi di jalan raya) itu sesuatu yang memalukan.

Ratusan Pemudik Bawean Berangkat via Pelabuhan Paciran Lamongan


Ratusan pemudik tujuan Pulau Bawean, Gresik diberangkatkan melalui jalur laut dari Pelabuhan Kelas III Kecamatan Paciran, Lamongan dengan menggunakan Kapal Ferry Milik Dinas Perhubungan Pusat.

Jalur alternatif melalui Pelabuhan Paciran ini bertujuan untuk mengurai oferload penumpang yang berada di Pelabuhan Gresik.

Dalam arus mudik ini, petugas pelabuhan mendapati penumpang yang membawa dua anakan landak putih, yang tergolong satwa dilindungi. Atas temuan ini, petugas kemudian meminta keterangan kepada pemiliknya.

H-5 lebaran Idul Fitri, peningkatan arus mudik di Pelabuhan Kelas III yang berada di Kecamatan Paciran mengalami peningkatan jumlah calon penumpang dengan tujuan Pulau Bawean, Gresik.

Jalur alternatif melalui Pelabuhan Paciran ini bertujuan untuk mengurai oferload penumpang yang berada di Pelabuhan Gresik. Mereka diangkut dengan menggunakan Kapal Ferry K.M Gili Iyang milik Dinas Perhubungan Pusat.

Sejumlah petugas media juga dipersiapkan dilokasi pelabuhan serta di dalam kapal selama perjalanan berlangsung untuk mengantisipasi terjadinya penumpang yang kelelahan selama perjalanan.

Menurut Ferry Agus, Kepala Syahbandar Pelabuhan Brondong Lamongan, peningkatan jumlah penumpang di Pelabuhan Paciran, Lamongan ini dikarenakan penguraian penumpang yang menumpuk di Pelabukan Gresik terutama penumpang yang menuju Pulau Bawean. “Meski mengalami kenaikan jumlah penumpang, namun masih dalam tahap kewajaran dengan ditambah jumlah dispensasi penumpang, ” Kata Ferry Agus.

Sementara itu, dalam arus mudik kali ini, petugas pelabuhan berhasil menemukan dua ekor landak putih yang tergolong sebagai satwa dilindungi bawaan penumpang. Atas temuan ini, petugas langsung mengamankan satwa tersebut. (omdik/fer)

Sumber : Kanal Indonesia

Penumpang Kapal ke Pulau Bawean Meningkat


Memasuki H-5 Lebaran, penumpang arus mudik ke Pulau Bawean mencapai 2.481 orang. Pada Lebaran 2017, pemudik tercatat 2.081 penumpang. Ada peningkatan 400 penumpang.

Jumlah penumpang arus mudik diperkirakan bertambah karena para tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Bawean dan wisatawan tengah pulang kampung. Mereka berlibur.

Ribuan penumpang itu berangkat menggunakan kapal Express Bahari 8E dan Natuna Express. Penumpang kapal motor Gili Iyang yang berangkat dari Pelabuhan Gresik–Pulau Bawean setiap Kamis malam belum tercatat di pos gabungan pelabuhan.

Humas Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik Nanang Afandi menyatakan, sampai saat ini tidak ada penumpukan penumpang ke Pulau Bawean.

’’Transportasi arus mudik masih lancar,’’ ujar Nanang Afandi lewat telepon selulernya kemarin (10/6).

Sejumlah kapal menambah frekuensi pelayaran. Selain EB 8E dan Natuna Express pergi pulang. ’’KMP Gili Iyang juga menambah frekuensi dari seminggu sekali menjadi dua kali seminggu,’’ kata Nanang.

Selain arus mudik penumpang, distribusi logistik ke Pulau Bawean mendapatkan perhatian pemerintah. Syahbandar memberikan ruang kapal layar motor (KLM) untuk bongkar muat logistik sembako.

Sumber : Jawa Pos

Buka Bersama (Bukber) yang Munkar


Oleh: Ali Asyhar.

Buka bersama (bukber) sudah masyhur sejak lama. Sedangkan sahur bersama (saber) belum. Kini sudah banyak yg menggagas sahur bersama. Biasanya sahur bersama ini dimulai dengan qiyamullail. Diantara tokoh yg memulai saber adalah ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid.

Tujuan bukber memang mulia. Pertama, menjalin silaturahim sesama umat Islam. Sesama karib, teman kerja, kerabat dan seterusnya. Kedua, memberi makan (ifthar) kepada orang berpuasa. Biasanya, bukber ini dilaksanakan di masjid, lembaga pendidikan, kampus, dan perkantoran.

Seiring waktu, tujuan yg mulia ini digerus oleh tingkah polah beberapa kelompok. Mereka menggelar bukber di restoran, warung, di pinggir jalan, bahkan di tepi pantai. Mereka membentang spanduk. Laki - laki dan perempuan berbaur menjadi satu. Bersenda gurau dan berceloteh. Silaturrahim berubah menjadi kemungkaran. Bukber berbumbu mesum. Ironisnya, banyak dari mereka itu adalah mahasiswa. Kaum yg terdidik. Kaum yg menjaga norma kesopanan dan kesusilaan

Tulisan ini bertujuan untuk saling memberi nasehat. Bila tujuan bukber sudah melenceng, maka sebaiknya ditiadakan. Lebih baik buka puasa di rumah masing masing. Supaya keluarga lebih harmonis. Supaya ibu dan bapak lebih tahu tentang anaknya. Bukankah kenakalan manusia, mayoritas diawali dari keluarga yg tidak indah?

Harapan Bupati Gresik atas Ditetapkannya Kecamatan Sangkapura Zona Bebas Korupsi


Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean Kabupaten Gresik termasuk 10 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) masuk zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

Bupati Gresik Sambari Halim Radanto mengatakan ditetapkannya kecamatan Sangkapura sebagai zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) diharapkan bisa mewujudkan kawasan bebas korupsi. Dalam artian, khususnya birokrasi disana betul-betul bersih, serta warga secara umum juga mendukungnya.

"Harapannya seluruh instansi pemerintahan dapat mewujudkan, termasuk warganya memberikan dukungan,"katanya.

Menurutnya untuk menciptakan tatanan birokrasi yang bersih diperlukan adanya keseriusan dalam mencegah adanya pelanggaran hukum. Sedangkan ditetapkan kecamatan Sangkapura merupakan representative di Pulau Bawean. "Jadi ada 2 OPD kecamatan, yaitu Kecamatan Sangkapura di Bawean dan Kecamatan Gresik di Gresik,"ujarnya.

Sambari bertekad melalui terbentuknya zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) di Kecamatan Sangkapura akan membawa kemajuan yang besar serta menjadi percontohan.

Camat Tambak dimutasi Jabat Camat Dukun, Abdul Adim jadi "Camat Bawean"



Bupati Gresik Sambari Halim Radianto melantik Fatah Hadi Camat Tambak menjadi Camat Dukun, hari jum'at (8/6). Sedangkan penggantinya dijabat oleh Abdul Adim Camat Sangkapura merangkap Plt Camat Tambak.

Fatah Hadi mantan Camat Tambak mengatakan selama 17 bulan, 4 hari menjadi camat di Kecamatan Tambak Pulau Bawean. "Banyak hal yang telah didapatkan selama berdinas di Tambak, diantaranya nuansa religi dan kekeluargaan yang sangat tinggi,"katanya.

Menurutnya nuansa keagamaan sangat tinggi, dibuktikan bulan suci ramadhan seperti sekarang ini terlihat kesibukan warga untuk berlomba-lomba dalam menjalankan ibadah.

Termasuk kekeluargaannya sangat tinggi, merasa terkesan dikarenakan satu sama lainnya saling mengenal, termasuk menghormati tamu.

Lebih lanjut, Camat mengucapkan terima kasih kepada tokoh masyarakat di Kecamatan Tambak. "Dukungan dan kerjasama bersama tokoh di Kecamatan Tambak menjadi sangat istimewa,"ujarnya.

Selanjutnya Camat menilai kinerja seluruh pegawainya di Kecamatan Tambak sudah kompak dan bersatu. "Harapannya kekompakan yang sudah terjalin tetap dipertahankan untuk bersinergi membangun kecamatan Tambak bisa lebih baik,"pesannya.

Memgkhiri tugas sebagai Camat Tambak, Fatah Hadi menyampaikan permohonan maaf bila ada salah dan khilaf selama menjalankan tugasnya sebagai Camat Tambak. "Mohon maaf kepada seluruh masyarakat kecamatan Tambak secara umum, khususnya kepada pegawai bila ada kesalahan dan khilaf,"pungkasnya. (bst)

Hari Pertama Mudik Gratis Mengangkut 144 Penumpang


Mudik gratis yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan menggunakan kapal Natuna Ekspress hari pertama H-7 Lebaran mengangkut sebanyak 144 orang penumpang.

"Di hari pertama mudik gratis saat ini masih normal. Diperkirakan dalam beberapa hari ke depan pemudik yang menuju ke Pulau Bawean bakal mencapai puncaknya," ujar Kepala Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Gresik, Agustinus Maun.

Sementara itu, Wakil Bupati Gresik, Mohammad Qosim mengatakan, mudik gratis ini merupakan bentuk pelayanan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Gresik.

"Mudah-mudahan dengan mudik gratis ini membantu pemudik yang tidak mampu," ujarnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean