Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Tradisi Merantau Warga Bawean


Sudah menjadi tradisi orang Bawean untuk "merantau". Tradisi ini lebih bertujuan untuk mencari peluang, mengembara dan menambah pengalaman hidup di tempat orang. Ramai orang-orang Bawean terdahulu yang merantau sampai ke negara-negara Eropa menaiki kapal, dan bekerja di atas kapal. Mayoritas dari mereka bekerja sebagai pelaut, ada juga yang bekerja sebagai tukang masak menyediakan makanan untuk perkerja-pekerja kapal yang lain di sepanjang pelayaran.


Menurut orang Bawean, orang laki-laki belum bisa dipandang dewasa selagi belum pernah melangkahkan kaki keluar dari Bawean untuk merantau, mencari penghasilan dan pengalaman hidup di luar Pulau Bawean. Tradisi merantau ini akhirnya menjadi profesi golongan laki-laki Bawean, untuk mendapatkan penghasilan yang baik buat keluarganya.

Kebanyakan dari mereka pulang kembali ke Pulau Bawean setelah bertahun-tahun merantau. Namun, tak kurang juga yang mengambil keputusan untuk terus menetap di negara yang mereka lawati. Ramai yang sudah menetap di Semenanjung Malaysia dan ada juga yang tinggal tetap di Eropa, Australia, Amerika, negara-negara Timur Jauh dan tempat-tempat lain.

Orang-orang Bawean di Singapura tidak sadar bahwa minat dan kesukaan mereka untuk merantau sebenarnya diwarisi daripada nenek moyang mereka. Kesukaan untuk merantau ini adalah sikap yang memang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Penduduk awal Bawean Singapura suka memilih kerja sebagai pelatih kuda di Singapore Turf Club karna kerja ini memang mengharuskan perkerjanya untuk sering berpergian ke Kuala Lumpur, Pulau Pinang dan Ipoh. Dengan ini, mereka berkesempatan melawat saudara-mara di Malaysia, dan pada masa yang sama bekerja untuk menyara kehidupan keluarga. Jadi, sepanjang bekerja di luar negeri, mereka akan sering mendapat penginapan gratis, dan bila pulang ke Singapura, mereka kembali ke rumah.

Pada zaman penjajahan British, ramai yang bekerja sebagai pemandu peribadi keluarga-keluarga Inggris atau syarikat-syarikat yang membutuhkan mereka memandu melewati Tambak Johor. Mereka suka akan kerja itu karna bukan saja dijadikan penghasilan, tapi mereka juga punya kenderaan untuk bisa bergerak ke mana-mana dan bertemu dengan saudara-saudara mereka di seberang Tambak Johor.

Tradisi merantau orang Bawean masih hidup di kalangan keturunan-keturunan Bawean yang tinggal di luar negeri, di luar Pulau Bawean. Lebih-lebih lagi di kalangan Bawean Singapura, semangat "merantau" tetap dipelihara sama ada melalui pemilihan profesi ataupun sekadar menghabiskan waktu untuk berlibur di musim liburan kerja atau sekolah. (bst)

Buah Merah Kian Langka di Pulau Bawean


Apakah Anda pernah merasakan kelezatan buah surga asal Pulau Bawean? Bila belum, silahkan mencoba kemudian bandingkan dengan rasa buah-buahan lainnya. Tentunya buah surga atau dikenal buah merah akan memiliki rasa berbeda lebih lezat dan gurih.

Buah merah termasuk jenis buah-buahan sampai sekarang belum ditemukan spesies tumbuhannya. Keistimewaannya, pohon buah merah hanya tumbuh dan berbuah di Pulau Bawean. Ironisnya buah ini tidak memiliki harga atau kurang laku dijual ke pasar, sehingga warga Pulau Bawean merasa enggan untuk merawat atau menanamnya.

Sampai sekarang buah merah tidak memiliki nama, jenisnya berbeda dengan buah merah asal Papua. Almarhum Basofi Sudirman sebagai mantan Gubernur Jawa Timur ketika kunjungan kerja ke Pulau Bawean merasa tertarik untuk menikmati rasa buah merah. Setelah merasakan kenikmatan dan kelezatannya, beliau spontanitas memberikan nama buah merah menjadi buah surga asal Pulau Bawean.

Abdul Rozaq warga Tambak, mengatakan buah merah di Pulau Bawean sudah mulai langkah, alasannya tidak memiliki harga jual di pasaran. "Dahulu pohon buah merah banyak tumbuh disetiap kampung, sekarang tinggal hitungan jari saja,"katanya.

Menurutnya, perlu perhatian khusus dari pemerintah daerah, agar buah merah (buah surga) yang hanya tumbuh di Pulau Bawean tetap dilestarikan serta dikembangkan sehingga memiliki nilai jual dan berharga.

"Dinas Pertanian Gresik pernah mengambil bibit tanaman buah merah asal Pulau Bawean, ternyata pohonnya sampai sekarang belum berbuah,"ujarnya.

"Perlu adanya penelitian khusus agar pohon buah merah memiliki nama, serta diketahui khasiat yang dikandungnya,"paparnya.

Bagaimana rasa buah merah? "Enak, lezat dan gurih. Berbeda dengan buah-buahan lainnya terasa lemak, dan manis. Terasa sangat nikmat bila di juz,"jawabnya.

Perlu diketahui, musim buah merah di Pulau Bawean mulai bulan april sampai bulan agustus. Ciri-ciri buahnya ada semacam duri-duri kecil, setelah memegang langsung digarukkan ke rambut langsung hilang durinya. Jenisnya ada dua macam, yaitu buah merah dengan warna merah dan buah merah mantega berwarna putih.

Nur Yasin sebagai warga Sawahmulya, Sangkapura menyatakan dahulu di kampungnya banyak tumbuh pohon buah merah. "Bila musimnya, silahkan mengambil dan memakan sepuasnya tidak dijual alias gratis,"pungkasnya.

"Tapi sekarang sudah banyak ditebangi oleh warga, sehubungan buahnya tidak laku dijual ke pasar, serta adanya mitos bahwa pohonnya sebagai rumah makhluk halus,"ungkapnya. (bst)

Guru Sukwan Protes Check Lock


Akan diberlakukannya check lock bagi guru tingkat sekolah dasar di Bawean menuai protes dari terjaga pengajar yang statusnya sukarelawan (sukwan). Permasalahan, guru diwajibkan check lock masuk jam 07.00 WIB. dan pulang jam 14.30 WIB.

Zakariyah guru sukwan di SDN Lebak mengatakan penerapan wajib check lock bagi guru yang statusnya sukwan sangat tidak tepat dan merugikan. Alasannya honor yang diterima setiap bulan sangat minim, dengan kisaran Rp. 250 ribu perbulan. "Jika diwajibkan check lock tentunya sangat mempersempit ruang gerak guru sukwan untuk mendapatkan penghasilan dari bidang lainnya,"katanya.

Menurutnya wajib chek lock itu guru yang statusnya pegawai negeri sipil (PNS), bukan seperti saya yang sukwan dengan honor sangat minim yang diterima setiap bulan.

Lebih lanjut Zakariyah berpendapat seharusnya Pemkab Gresik tanggap dalam membuat peraturan. "GTT jangan hanya dijadikan sapi perah, sementara kesejahteraan kami lebih mengenaskan dari instansi-instansi yang lain. "Padahal kami sudah banyak yang mengabdi belasan tahun. Untuk ikut tes Cpns saja umur sekarang sudah lewat,"ungkapnya.

"GTT non K2 hanya dapat tunjangn insentive, itupun hanya 3 bulan sekali dengan nominal hanya Rp. 750ribu. Itupun banyak juga yang dapat,"paparnya.

Imron pengawas SD di kecamatan Sangkapura membenarkan mulai bulan mei diberlakukan check lock di sekolah masing-masing.

Soal adanya protes dari guru sukwan, Imron menyatakan wajib check lock untuk menyamakan jam kerja bagi guru di sekolah. "Bagi guru PNS berkewajiban sehubungan adanya hubungan dengan tunjangan yang bakal diterima, sedangkan guru sukwan belum ada aturan yang mengikatnya,"pungkasnya. (bst)

Wisatawan Ibu Kota Kecewa Lihat Sampah di Pulau Noko


Rencananya berkunjung ke Pulau Bawean untuk menambah rute perjalanan wisata yang dilayani travel miliknya yang berpusat di ibu kota Jakarta. Setelah melihat situasi dan kondisi secara langsung di Bawean, akhirnya diputuskan belum saatnya mempromosikan destinasi wisata Bawean. Alasannya kondisinya masih sangat kotor seperti di Pulau Noko.

Subhan yang mengantar wisatawan asal Jakarta ke Pulau Noko, menyatakan sangat kecewa berat setelah melihat langsung kondisi destinasi wisata yang ada. "Diantaranya yang jadi catatan hitam dikarenakan lingkungan sangat kotor,"katanya.

Seperti di Pulau Noko Pulau Gili kondisinya banyak sampah berserakan dinana-mana sehingga membuatnya kecewa. "Pulau Noko dengan hamparan pasir putih yang indah jadi ternodai dengan banyaknya sampah,"ujarnya.

"Sepertinya tidak ada keperdulian terhadap kebersihan lingkungan, sehingga wisatawan banyak timbul tanda tanya besar sehubungan tidak ada petugas ataupun pengunjung yang peduli atas kebersihan,"paparnya.

Jika dibandingkan dengan Pulau Noko Selayar ternyata lebih bersih sehubungan adanya keperdulian Pokmaswas Hijau Daun yang menjaganya. (bst)

Kak Rose Siap Sukseskan Pengembangan Wisata Bawean


Penyanyi asal Singapura yang menjadi komentator di ajang Dangdut Academy Asia, Rosalina Musa atau yang akrab disapa Kak Rose mendukung program pengembangan wisata Pulau Bawean. Hal ini disampaikan Kak Rose saat bertemu dengan panitia program Sail Indonesia 2018 di Jakarta, Jumat (13/4).

"Orang tua saya orang Bawean, saya mendukung semua program wisata Pulau Bawean," ujar Kak Rose.

Meskipun tinggal lama di Singapura, Kak Rose mengaku tidak pernah melupakan tanah kelahiran orang tuanya di Pulau Bawean. Karena cintanya yang besar terhadap Bawean, Kak Rose pun pernah menggunakan baju tradisional Bawean di D'Academy Asia 3, program acara dangdut di salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia.

Menurut Kak Rose, kebaya hitam yang dipakainya tersebut juga merupakan suatu upaya untuk mempromosikan wisata pulau yang juga dikenal sebagai titik nun dari Pulau Jawa tersebut. "Kebaya tersebut harus menjadi baju khas Bawean," ucapnya.

Sementara itu, Tim Program Sail Indonesia 2018 yang bertemu Kak Rose, Ahmad Najid menjelaskan bahwa Pulau Bawean akan menjadi salah satu tempat singgah 200 kapal layar atau yacht pada 2-5 Oktober 2018 mendatang. 200 kapal tersebut merupakan peserta program Sail Indonesia 2018 yang datang dari berbagai belahan negara dunia.

Menurut pria kelahiran Pulau Bawean ini, program bertaraf internasional ini juga sebagai upaya untuk mengembangkan wisata bahari Pulau Bawean, yang letaknya 80 mil ke arah utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur. "Jadi yang penting Wonderful Sail Indonesia itu adalah magnet untuk pengembangan Bawean," kata Najid saat bertemu dengan Kak Rose.

Najid menambahkan, untuk mematangkan penyambutan 200 kapal yacht tersebut, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman juga telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik terkait persiapan Sail Indonesia 2018. Rapat tersebut dipimpin Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari, Indroyono Soesilo di Gedung Sapta Pesona Kemenpar, Jakarta, Senin (9/4) lalu.

Rapat tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Gresik ,Moh. Qosim, Direktur Utama Airfast Indonesia, Kepala Dinas Pariwisata Gresik, Kepala Bapelitbangda Gresik, Perwakilan Masyarakat Bawean, serta Tim Percepatan Homestay dan Bidang II TPPWB.

Sumber Republika

Camat Tambak Lantik Pj Kades Tanjungori

Camat Tambak Fatah Hadi melantik Helmi sebagai Penjabat (Pj) kepala desa Tanjungori.

Dalam sambutannya, Camat Tambak berpesan agar Pj dalam melaksanakan tugas harus berpegang teguh kepada peraturan yang berlaku. "Untuk kesuksesan kinerja pemerintahan diharuskan perpegangan kepada aturan, jangan melanggar aturan jika tidak ingin melanggar hukum,"tegasnya.

Lebih lanjut Fatah Hadi berpesan untuk melakukan penertiban adminitrasi desa, selain itu juga memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh warganya.

"Perbaiki administrasi dan pelayanan terbaik kepada warga agar mendapatkan nilai terbaik dalam menjalankan tugas,"katanya.

Helmi yang aktif sebagai PNS di kantor kecamatan Tambak menyatakan siap untuk melaksanakan tugas demi terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Serta segera melantik perangkat desa yang sebelumnya sudah lulus mengikuti ujian. (bst)

Pandikar Wanita


Oleh: Sugriyanto

Sosok pejuang emansipasi kaum wanita ini telah menorehkan sejarah dalam usaha pencapaian kesetaraan gender. RA. Kartini, wanita berjuluk "trinil", semasa kecil ini benar-benar berperan sebagai wanita serba lincah dalam segala hal. Gelar "trinil" merupakan pengibaratan sebuah metafora terhadap diri sosok Kartini muda yang tak pernah merasakan lelah dalam usaha mendidik kaumnya.

Perumpamaan burung kecil yang mampu melompat lincah dari ranting ke ranting dahan pohon ini tidaklah berlebihan bila panggilan "Trinil" pernah disandangkan padanya. Sikap kegigihan dan kegesitan dalam menuntaskan beragam persoalan kaum hawa kala itu ibarat mendobrak tembok raksasa berupa kungkungan adat yang serba protokoler dan berbau feodalisme itu. Salah satu keberhasilan RA.Kartini dalam mengentas tirani kebodohan pada diri kaumnya dengan memulai gerakan literasi atau budaya baca tulis pada dirinya. Wujud nyata sebagai hasil kegiatan literasi hingga hasil karyanya mampu menembus ruang dan waktu. Karya adiluhung itu telah terpatri dalam buku monumentalnya berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang". Kumpulan surat-surat berisi curhatan status pergolakan jiwa ksatrianya ini mampu mengubah kebiasaan kaum wanita menjadi pelopor kemajuan bagi bangsanya. Sejak saat itulah kaum wanita tidak lagi berposisi sebagai pendamping pasif, akan tetapi menjadi mitra aktif kaum lelaki hingga saat ini. Kungkungan adat dan feodalisme telah banyak memberi arti pada sepak terjang perjuangannya dalam meretas jalan menuju cita-cita sejati yakni mendidik kaum wanita tanpa harus melakukan perilaku yang bersifat kontraproduktif terhadap nilai keadaban dan kepantasan yang berlaku saat itu. Tulisan-tulisan berisi eksistensi kaum wanita yang tertera dalam sejarah terdahulu telah menina bobokkan kaum wanita dalam lingkaran setan akan kebodohannya. Sejarah pada masa silam selalu memosisika kaum hawa sebagai pendamping pasif yang tidak banyak berarti dalam pandangan kaum lelaki.

Jika kaum lelaki saat itu harus mengenyam pendidikan dalam usaha kemajuan diri dan kaumnya maka tidaklah berlebihan pula bila kaum wanita turut menyertainya. Kartini muda sadar bahwa pendidikan merupakan senjata paling ampuh untuk mengangkat harkat dan martabat kaumnya. Sekolah kecil kaum wanita yang pernah dirintis dan ditekuninya untuk tetap terus berdiri merupakan obsesi awal seorang pejuang yang tak kenal lelah apalagi putus asa. Hingga sekolah khusus mendidik kaum wanita baik dalam ranah pengetahuan, sikap, dan skil atau keterampilan ini telah berhasil ditorehkannya.

Terkait dengan jiwa dan semangat kepandikaran dari sosok Kartini ini bukanlah hal yang berlebihan. Istilah "pandikar" ini bersinonim dengan istilah "pendekar". Selama ini orang telah mahfum bersama bahwa pendekar itu sepadan dengan jawara sebagai seorang lelaki. Kartini muda memang bergaya hidup "tomboy". Ia kerap kali memanjat pohon semisal pohon jambu di sebelah rumah abdi dalem di komplek keraton layaknya seorang lelaki saja. Namun, setelah beranjak remaja atau memasuki masa dewasa sifat dan naluri kewanitaannya nampak sebagai sosok wanita sejati. Sanggul dan tusuk konde serta kebaya hasil merendahnya sangat memesona tatkala Kartini dewasa mengenakannya.

Seuntai lirik lagu Ibu Kita Kartini patutlah dinukilkan dalam tulisan sederhana ini. "Ibu kita Kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka". Tanpa kehadiran pendekar wanita negara pun tak akan pernah tegak. Sesuai dengan untaian suci berikut "Wanita adalah tiang negara". Mustahil negara bisa tegak tanpa kehadiran sosok wanita. Apalagi yang hadir sosok wanita pendekar atau "Pandikar Wanita". Selamat Hari Kartini!

Tempas


Oleh: Sugriyanto

Tengel atau Tuli merupakan nama jalan menanjak yang cukup angker dan menyeramkan. Kesan keseraman jalan menanjak ini menjadi sebuah cerita yang mengalir lewat peristiwa kejadian aneh-aneh. Setan alas, kuntil anak, oreng celleng, oreng poteh, dan "petakutan" gaib lainnya kerap kali menampakkan diri dalam kegelapan petangnya malam. Cerita misteri ini tetap dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai lagu lawas yang menyenandung di kesunyian malam. Benarkah demikian? Cobalah melintas sendiri di waktu malam jumat kliwon.

Seiring dengan menggelindingnya waktu dengan segala kemajuan zaman, tanjakan "Tengel" yang cukup menukik ini sudah tidak seseram masa lalu. Lampu penerang dan hiruk pikuknya deruh mesin kendaraan bermotor di tanjakan menikung itu membuat para demit harus minggat perlahan untuk pindah tempat. Walau demikian, masih saja muncul cerita aneh yang dialami para pengguna jalan di Dusun Alasmakmur Desa Daun Kecamatan Sangkapura Bawean. Kadar keangkeran jalan tanjakan "Tengel" rupanya kian hari kian memudar laksana kain jemuran dimakan sinar mentari. Sirna dan pelay cerita misteri yang mengundang bulu kuduk terus tegak merinding mendengarnya. Rupanya, kini sudah tidak seram lagi setelah kawasan itu berpenghuni rumah bengkel dan rumahan tua serbaguna lainnya.

Tepian jalan di kawasan tanjakan "Tengel" ini kini menjadi pusat pengepul buah kelapa. Ratusan bahkan ribuan buah kelapa menumpuk di sepanjang tepian jalan "Tengel". Berbagai varian buah kelapa yang terdapat di pulau ini sudah ada pengepulnya. Di antara jenis kelapa yang ada seperti; kelapa poju, kelapa hibrida, kelapa gading, kelapa papoanan, hingga kelapa tunas dijumpai di sana. Kelapa-kelapa itu dibeli dengan harga kisaran antara Rp.1.500 hingga Rp.3.000 perbuah sesuai dengan ukuran besar kecilnya. Sebelum kelapa-kelapa itu dikirim ke luar pulau terlebih dahulu ditempas kulitnya menggunakan cara manual yang unik dan menarik bila ditrawang dari dekat. Waktu kecepatan mengelupasi ijuknya melebihi kecepatan menempas dengan menggunakan parang biasa. Tukang tempas cukup menancapkan linggis yang bagian pipihnya ditengadahkan ke langit. Tusukan awal dengan sedikit menekan hingga menembus bagian batok kelapa dapat memudahkan proses penempasan. Kelapa muda "kesantan-santan" hingga kelapa "kereng" atau kelapa tua renta semua terkelupas kulitnya tanpa harus mengeluarkan tenaga berlebih. Buah kelapa yang sudah dikelupasi kulitnya dikemas dalam karung untuk dikirim ke daerah Paciran dan daerah lain di sekitarnya. Berkarung-karung buah kelapa terkirim setiap minggunya. Untuk buah kelapa yang sudah bertunas dijadikan bibit yang akan dikirim ke daerah Nganjuk atas pesanan para petani kelapa di daerah tersebut. Menurut para petani yang sempat memesan bibit tanaman kelapa asal Pulau Bawean mengungkapkan bahwa buah kelapa asal Pulau Bawean cukup tahan lama atau awet serta hasil santannya berasa lemak manis. Hal ini yang menjadi nilai jual kelapa khas asal Pulau Bawean yang tiada duanya di bumi nusantara ini. Buah kelapa yang teramat tua akibat kekerengannya hingga berfuruk setelah dikuliti batoknya dijemur di bawah terik matahari sebagai bahan baku untuk dibuat kopra. Tumpukan koprapun dikirim keluar daerah hingga bersak-sak jumlahnya.

Berdasarkan keterangan pengepul yang ditemui di lokasi menuturkan bahwa pasokan kelapa ini berasal dari seluruh desa yang berada di penjuru Pulau Bawean. Dari 30 desa yang ada pengepul sudah kualahan menerima hantaran buah kelapa karena memang berlimpah adanya. Pemilik pohon kelapa pun merasa enggan menjual kelapa muda atau "degan" walau harga bisa tiga kali lipat dari harga kelapa santan biasa. Pandangan mereka tidak menjual "degan" karena dapat menyebabkan buah kelapa rusak untuk harapan hasil buah selanjutnya. Beruntunglah para pemilik pohon yang tak mengenal musim ini bila memiliki lahan luas jika ditanami pohon kelapa. Selain buahnya yang dijual masih banyak barang ekonomis lainnya yang diambilkan dari bagian pohon kelapa. Termasuk pelepah kering dan "carokcok"-nya bisa dipakai untuk menambah kepulan asap dapurnya. Khusus "nyeor poan" atau kelapa kopyor dibuat pesta pora keluarga bersama adukan gula merah yang manisnya "amber-amber" aka benar-benar berasa segar.

Prospek usaha penepulan kelapa ini cukup menjanjikan. Berbagai keuntungan sudah dirasakan oleh pengepul dan pemilik pohon kelapa sendiri. Warga sekitar yang berminat terhadap ijuk kelapa untuk acara bakar ikan tinggal mengambil saja. Tumpukan ijuk kelapa pun kian hari kian menggunung. Itulah sisa hasil kulit kelapa yang sudah terkena "Tempas" oleh petugas. Tempas, Tekan Masuk Lepas...! Kidung merdupun mengalun "Puk ame-ame, belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum susu, susu lemak manis, santan kelapa muda, anak jangan nangis bapak ibu lagi kerja". Hussssttt...!

Pokmaswas Hijau Daun Jaga Kebersihan Pulau Noko Selayar


Destinasi Pulau Noko di Pulau Bawean ada 2, yaitu Pulau Noko Gili dan Pulau Noko Selayar. Jika dibandingkan kebersihan lingkungan kedua pulau yang dipenuhi hamparan pasir putih, ternyata Pulau Noko Selayar dikenal lebih bersih dan nyaman.

Subhan ketua Pokmaswas Hijau Daun mengatakan untuk menjaga kebersihan Pulau Noko Selayar, pihaknya setiap 2 kali dalam sebulan melakukan pembersihan. Walaupun Pulau Noko dibawah naungan BKSDA, pihaknya merasa punya tuntutan untuk menjaga kebersihan lingkungan untuk kenyamanan bagi pengunjung.

Adapun kesan pengunjung menurutnya banyak yang menyanjung sehubungan kondisi hamparan pasir putih serta tumbuhan yang ada juga terjaga sangat bersih.

Sedangkan menambah keasrian di Pulau Noko Selayar tertanam 12 pohon cemara yang letaknya ada bagian tengah. "Bagusnya pohon itu sebagai penangkal abrasi,"paparnya.

Selain itu unggulan Pulau Noko Selayar memiliki pemandangan sangat bagus saat sunset matahari terbenam. "Matahari terbenam ke laut, sehingga terlihat sangat indah,"pungkasnya. (bst)

Pantai Mayangkara Setara Pantai Pataya


Wisata Pantai Mayangkara Gresik , Merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah kepuhteluk, juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal, maupun dari luar kota bahkan wisatawan dari luar negeri.

Kota Gresik juga terkenal akan keindahan obyek wisatanya, salah satu contohnya Wisata Pantai Mayangkara Gresik ini, Pantai Mayangkara merupakan salah satu obyek wisata di Pulau Bawean yang terletak di Desa Kepuh Teluk Kecamatan Tambak.

Lokasinya berjarak 500 m dari jalan raya Sangkapura-Tambak sehingga sangat mudah dicapai. Menurut peneliti dari Belanda, Keindahan dan nuansa pantai ini setara dengan pantai Pataya di Bangkok Thailand. Banyak pengunjung dari dalam dan luar negeri datang untuk melihat keindahan pantainya. keindahan dan nuansa pantai Mayangkara ini sama indahnya dengan pantai-pantai yang ada di Bangkok dan Thailand.

Dia mengaku sering kali mendengar banyaknya pengunjung dari dalam dan luar negeri datang untuk melihat serta menikmati keindahan pantai ini.Jalan utama ke lokasi telah beraspal sepanjang pantai, pengunjung bisa menikmati pemandangan lepas pantai dengan panorama laut biru.

Lokasi ini dikenal sebagai tempat pertemuan remaja melepas rindu. Selain indah, pantai ini mempunyai nilai historis tinggi karena istri Sunan Giri bernama Siti Zaenab menjadi orang pertama mendarat dan menemukan pantai ini dan di sini pula Siti Zaenab yang berambut panjang tersebut mengabdikan kesetiaannya kepada Sunan Giri. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean