bawean ad network
pemilu
bank jatim

Berita

Pendidikan

Kesehatan

Transportasi

Surat Pembaca


TERKINIindex

Guru Indonesia Mengajar di Pulau Gili
Semangat Tinggi ditengah Keterbatasan

Media Bawean, 20 April 2014


Guru Indonesia Mengajar (IM) bertugas di Pulau Gili, desa Sidogedungbatu, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik untuk angkatan ketiga, bagaimana suka dukanya selama kurang lebih 10 bulan berdomisili disana, berikut liputan Media Bawean :

Rizki Mustika, mengaku kerasan berdomisili di Pulau Gili untuk melaksanakan tugas sebagai pengajar muda dari Indonesia Mengajar. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Gili, sudah beradaptasi bersama seluruh masyarakat. Termasuk mempunyai keluarga angkat, yaitu H. Wafa dan Hj. Lamrah bersama keluarganya.

"Penerimaan masyarakatnya sangat baik, sehingga banyak mengenal seluruh masyarakat Pulau Gili. Sepertinya sulit untuk meninggalkan tempat tugas, sudah terlanjur sayang dan cinta sama anak didik di sekolah,"katanya.

Selama bertugas di Pulau Gili, Rizki Mustika menyatakan lebih banyak sukanya dibanding dukanya, hanya jauh dari keluarganya saja. 'Itupun sudah terbiasa sejak kuliah sudah berjauhan dengan keluarga, hanya kebiasaan menelepon saja yang berkurang dari setiap hari menjadi seminggu sekali,"ujarnya.

Sepulang dari tugas mengajar di sekolah, pengajar muda selalu membaur dengan kehidupan masyarakat di Pulau Gili. Selalunya mengajak diskusi untuk mengatasi segala permasalahan di masyarakat.

Kondisi penerangan di Pulau Gili yang terbatas yaitu menyala selama 4 jam selama 24 jam, dari Jam 6 sore sampai jam 9 malam, menurutnya memang butuh perhatian khusus dari pemerintah agar penerangan listrik menyala lebih lama.

Dalam kondisi keterbatasan, ternyata tidak mematahkan semangat anak didik di Pulau Gili untuk belajar. Buktinya, salah satu siswa asal Pulau Gili berhasil masuk final olimpiade matematika di Bandung.

Lebih lanjut Rizki Mustika menyatakan kemampuan anak didik dimanapun berada memiliki kelebihan dan kekurangan secara individu, tergantung semangat belajar serta kemampuan diri dalam mengembangkan keilmuan yang dipelajarinya.

Disinggung soal potensi di Pulau Gili, Guru Indonesia Mengajar mengatakan potensinya sangat banyak, tergantung kepada masyarakatnya untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki. "Sepertinya Pulau Gili sudah berbenah untuk mengangkat potensi yang dimilikinya, kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan mulai tumbuh,"ungkapnya.

"Untuk membangun suatu daerah butuh kekompakan dan kebersamaan agar tujuannya bisa tercapai sesuai harapan bersama,"paparnya. (bst)

Warisan Pemerintahan Lama
Aparat Desa Gunakan Ijazah Orang Lain

Media Bawean, 20 April 2014

Pemerinatah Kabupaten Gresik merasah gerah juga atas adanya temuan aparatur desa menggunakan ijazah orang lain ataupun tidak sesuai tingkatan sekolah.

Maraknya penyalahgunaan persyaratan sebagai aparatur pemerintahan di desa, menurut Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan Kabupaten Gresik, Moch. Jusuf Anshori dihubungi Media Bawean, menyatakan aparatur desa bermasalah soal administrasi persyaratannya diangkat ketika pemerintahan yang lama. "Adapun pengangkatan aparatur desa sejak pemerintahan Bupati Sambari, sudah selektif untuk penerimaannya termasuk mengadakan uji kelayakan melalui test,"katanya.

Menyikapi maraknya penyalahgunaan administrasi persyaratan ijazah, Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan akan segera mengirimkan surat kepada seluruh kepala desa melalui camat untuk melakukan pendataan ulang semua aparat di desa dengan melampirkan foto copy ijazah yang dilegalisir. "Jika dalam pendataan tidak melampirkan persyaratan, maka aparat tersebut akan diberhentikan sementara menunggu segala persyaratan dipenuhinya,"ujarnya.

Merespon adanya laporan BCW-LSM terkait ijazah anak yang dipakai oleh orang tuanya sebagai persyaratan sebagai aparat desa Patarselamat, Moch. Jusuf Anshori mengatakan akan segera mengirimkan tim ke Pulau Bawean untuk melakukan pemeriksaan terhadap aparat yang diduga menggunakan ijazah milik anaknya.

Lebih lanjut Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan, menyayangkan sikap kepala desa yang selama ini diam dalam hal persyaratan aparat di desa. "Semestinya kades melakukan penertiban terhadap administrasi di desa, termasuk soal persyaratan sebagai aparat desa,"pungkasnya. (bst)

Setelah UN, Siswa SMA Islamiyah
Tour ke Pulau Gili dan Pulau Noko

Media Bawean, 19 April 2014


Ujian Nasional (UN) telah membawa ketegangan urat syaraf siswa dalam berfikir menjawab soal yang disuguhkan. Untuk menenangkannya, siswa peserta UN di SMA Islamiyah Tambak, Pulau Bawean, Gresik, kemarin (jum'at, 18/4/2014) mengadakan tour to Gili Island.

Sampai di Pulau Gili, siswa didampingi guru di SMA Islamiyah, kompak menuju masjid untuk menunaikan shalat jum'at. Setelahnya berjalan-jalan di perkampungan masyarakat, dilanjutkan bakar-bakar ikan di tepi pantai.

Mujiono, Wakasek Kurikulum ditemui Media Bawean, mengatakan kegiatan rutin diselenggerakan setelah pelaksanaan ujian nasional berkunjung ke obyek wisata di Pulau Bawean.

"Tujuan tour wisata, dengan mengajak seluruh siswa peserta UN untuk melihat keindahan obyek wisata di Pulau Bawean. Selama 3 hari mengikuti UN, disuguhi soal untuk dijawabnya tentu menguras fikirannya."katanya.

Selain guru, turut mendapingi Komite Sekolah SMA Islamiyah dalam acara studi tour to Gili Island. 

Setelah acara bakar ikan selesai, seluruh siswa dengan naik kelotok menuju Pulau Noko. Sampai di Pulau Pasir Putih, siswa bersama guru dengan komite sekolah terjun ke laut untuk mandi sambil berenang. (bst)

Turunan Selir, Sang Pemikir

Media Bawean, 19 April 2014

RA Kartini Pendobrak Adat, Pengangkat Derajat

Oleh : Sugriyanto (Dosen STAIHA Bawean Gresik) 


Nama daerah kawedanan Mayong tidak sepopuler kota Rembang dan Jepara dalam peta sejarah lahirnya seorang pejuang emansipasi wanita yakni Ibu Kita Kartini. Padahal, fakta sejarah membuktikan bahwa daerah kawedanan tersebut telah mengukir peristiwa masa lalu yang patut untuk dikenang. Adegan romantisme kehidupan keluarga Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat sebagai ayah kandung Raden Ajeng Kartini banyak terjadi dalam sebuah kompleks Kawedanan Mayong yang berada di antara Kabupaten Jepara dan kabupaten Rembang. Justru, yang mencuat atau yang lebih tenar (Bawean-bukan pecah atau retak) melainkan melejit kepermukaan tatkala bicara sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan nasional pejuang kaum wanita yang paling dominan adalah Kota Rembang atau Kota Jepara yang menjadi bagian wilayah Provinsi Jawa Tengah dengan ibu kotanya Semarang. Sebutan nama Semarang di Bawean lebih populer dengan julukan Camalang dengan panjang ceritanya yang tidak akan muat bila diungkap dalam sebuah tulisan sederhana ini. Bahkan, tidak sedikit pula warga Bawean yang menetap di Semarang dan sebaliknya.

Di daerah Kawedanan Mayong itulah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menjalankan tugas sebagai asisten wedono. Selama berdinas di Mayong, kala itu beliau sudah memiliki permaisuri (garwa padmi) yang tinggal di keraton bernama Raden Ajeng Moerjan sebagai anak dari RMT Tjitriwikromo yang berasal dari Madura. Perkawinannya dengan Raden Ajeng Moerjam dikarunia tiga anak di antaranya: 1. Raden Ajeng Soelastri (lahir 9 Januari 1877), 2. Raden Ajeng Roekmini (lahir 4 Juli 1880), dan 3. Raden Ajeng Kartinah (lahir 8 Januari 1883). Sedangkan perkawinannya dengan selir (garwa ampil), yakni seorang gadis dusun atau ndeso berusia 14 tahun anak dari Kyai Modirono dan Nyai Haji Siti Aminah yang bernama Ngasirah dikarunia 8 anak. Dulu, memang belum mengenal program keluarga berenaca dengan semboyannya orang-orang dulu “Banyak anak banyak rezeki”. (baca: Jawa-brojol atau Bawean-pangarnak). Di antara ke delapan anak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan Ngasirah (selir atau istri kedua) adalah 1. RM Sosroningrat, 2. Pangeran Adipati Sosrobusono, 3. Drs. RM Sosrokartono, 4. Raden Ajeng Kartini, 5. Raden Ajeng Kardinah, 6. RM Sosromuljono, 7. Raden Ajeng Sumatri, dan 8. RM Sosrorawito. (Tashadi: 1986 : 4)

Tepat pada hari Senin Legi tanggal 21 April 1879 di kawedanan Mayong Kabupaten Jepara Semarang Jawa Tengah lahirlah seorang bayi sehat dan tubuh montok (gemuk) dari seorang ibu Ngasirah yakni Raden Ajeng Kartini. Tembuni atau ari-ari (Bawean: Tamone) sebagai saudara tua dari jabang bayi Raden Ajeng Kartini dicuci sebersih-bersihnya. Prosesi penanaman tembuni itu dilakukan dengan hidmat dan bersahaja sesuai dengan adat Jawa yang berlaku kala itu. Sebut saja namanya “mbah” Donoharjo harus berpakaian rapi saat membopong tembuni yang sudah siap ditanam di belakang kawedanan. Maksud dari pakaian yang rapi dan bersih agar kelak anak menjadi orang pangkat (baca: bukan gila pangkat). Beberapa prasarat yang disertakan dalam wadah tembuni di antarannya kertas bertuliskan bahasa Jawa dan Latin yang indah dengan maksud kelak saudaranya bisa menjadi orang terpelajar. Selain itu, dalam tembuni disertakan jarum dan pecahan kaca dengan harapan kelak sebagai penolak bahaya dan penjaga keselamatan. Pada malam hari diterangi dengan lampu templek berbahan bakar minyak tanah, tidak menggunakan PSP (Pancaran Sinar Petromak) karena dianggap terlalu gemerlap. Harapannya, penerangan itu dimaksudkan untuk kecerahan wajah anak tersebut. Beberapa hari kemudian, setelah tali pusar dinyatakan lepas (Bawean : coplak) diadakan acara kenduri atau selamatan pemberian nama. Upacara yang demikian menurut adat Jawa disebut “upacara pupak pusar” (upacara putusnya tali pusat atau lepasnya plasenta). Maka barulah disandangkan nama secara resmi yakni nama “Kartini”. Tidaklah mengherankan bila bayi mulai berumur oleh warga Bawean didendangkan lagu wajib yakni “pupak-pupak tatta, tattanya bau buntut, tak andik apa-apa semmak ghunong Malokok...bara..bara...biri...biri...ciluk ba...!” sambil menghibur bayi yang mulai responsif. Menu makanan yang didulangkan kepada bayi Kartini pun hanya berupa nasi putih dicampur dengan rebusan pisang hijau yang dilumat halus ditambah sedikit air menjadi kebiasaannya. Dengan cara di-lotek (Jawa) atau di-tapet (Bawean) mulut mungil Kartini setiap kali makan penuh belepotan adonan primadonanya.

Menginjak usia anak-anak, mulai nampak kelincahan dan kegesitan seorang Kartini. Anak kecil yang cerdas, “nakal”, serta kreatif dengan banyak pola dan tingkah. Kelincahan Kartini kecil yang hiper aktif sampai-sampai oleh keluarganya diberi nama panggilan kecilnya “Trinil” artinya nama burung kecil yang lincah melompat dari ranting ke ranting tak mengenal lelah. Istilah dalam Bawean’s Ensiklopedia “manok jhurnenet.” Nama kecil lain yang pernah disandangkan kepada Kartini adalah “kerikil” yakni batu kecil yang mudah bergerak. Pernah sesekali Kartini beserta dua adiknya Kardinah dan Kartinah di sekap dalam kamar serta dikunci dari luar kamar oleh mbah Donohardjo atas perbuatannya yang keterlaluan “nakal”-nya, hingga tidak terdengar suara sedikit pun dari balik kamar. Ternyata, Kartini dan kedua adiknya melompat keluar kamar lewat jendela kamar, langsung ketiganya memanjat pohon jambu di pekarangan keraton sambil menjatuhkan sepah-sepah jambu bekas kunyahannya. Lebih menggelikan lagi perilaku bocah “Trinil” memasangi secara diam-diam merica atau lada di tumpukan sirih dan tembakau yang siap dihaluskan atau ditumbuk oleh mbah Donohardjo. Akibatnya, saat mbah Donohardjo hendak mengunyah “susurnya’ merasa kepedasan yang dahsyat sambil berseruh wah..wahan..!” Akhirnya, kejadian “nakal” seorang anak tersebut dilaporkan kepada ayahnya Raden Mas Adipati Sosroningrat. Baru kemudian Kartini kecil kapok dan jerah dengan tidak mau mengerjai mbah Donohardjo kembali.

Menginjak masa remaja, Kartini oleh orang tuanya disekolahkan di Sekolah Rendah Kelas Dua Belanda di Jepara. Nama sekolahnya adalah 2e klasse Holndsche school dengan bahasa pengantarnya adalah Bahasa Belanda. Sekolah ini hanya diperuntukkan anak keturunan bangsawan atau ningrat serta anak pegawai keraton lainnya. Memang ini merupakan politik Belanda agar warga peribumi tetap hidup dalam kebodohan dan kesengsaraan di bawah sebuah penindasan. Bagi Kartini bukanlah menjadi suatu masalah bersekolah hanya dua tahun. Atas ketekunan, kerajinan, dan kecerdasan seorang Kartini hampir sempurna penguasaan bahasa Belanda dan pengetahuan umunya. Tatkala mencapai usia 12 tahun Kartini harus berhenti bersekolah karena kungkungan adat keraton yang membelenggunya. Kartini berada di dua sisi yang sama-sama baik antara hidup sebagai priyai atau bangsawan dengan protokoler adat yang sangat ketat. Di samping itu, Kartini dengan “nafsu” juangnya untuk dapat keluar tanpa meninggalkan kesan sebagai perusak adat yang memang baik dari sisi budi pekerti dan tatakrama kehidupan keraton. Dalam masa pingitan itu semangat Kartini untuk meraih cita-cita dalam gerakan persamaan hak dan derajat kaumnya dengan kaum laki-laki terus menggelora. Usaha untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan atau sederajat SMP di Semarang menjadi kandas di tengah jalan karena Kartini sudah dalam pinangan orang yang memang belum pernah dikenal sebelumnya yakni Bupati Rembang bernama Raden Adipati Djojohadiningrat dengan rencana pernikannya pada tanggal 8 November 1903. Sejak kecil dan masa remaja Kartini memiliki tiga cita-cita yakni ingin menjadi dokter, bidan, dan guru. Pilihan ketiga inilah yang dilakoninya dengan semangat yang tidak pernah padam hingga akhir hayatnya walau hanya lulus Sekolah Rendah Sekolah Belanda.

Sebagai anggota keluarga keraton atau bangsawan berdarah ningrat atau borju, Kartini sama sekali tidak terlalu berperilaku seperti para priyai atau bangsawan yang hidup dalam feodalisme. Ia tetap melakukan hubungan dengan pihak mana pun termasuk dengan pihak Belanda melalui kegiatan surat-menyurat. Dandanan keseharian Kartini penuh dengan kesederhanaan. Bukan seperti yang dibayangkan oleh orang kebanyakan yang belum pernah membaca surat-surat Kartini secara menyeluruh. Ada beberapa kegiatan Kartini dalam masa pingitan di antaranya orang tuanya mendatangkan guru privat masak-memasak, jahit-menjahit, membordir, serta menyulam. Kebaya, sanggul dan “sewek’ yang dikenakan Kartini bukan bahan glamor seperti sosok yang ditiru oleh para Kartini masa kini. Bahkan, sore hari sepulang sekolah Kartini muda tetap mengaji Al-Quran dan ilmu agama Islam lainnya sebagai bekal untuk kehidupan kelak yang abadi menurut pandangan orang tuanya. Bedak atau make-up yang dikenakan Kartini tidak sengaplok atau tidak begitu tebal seperti dandanan dan riasan Kartini saat ini. Rupanya, ibu-ibu guru atau sekolah salah alamat dan salah maksud karena yang ditonjolkan saat peringatan hari Kartini hanya “padakno rupa” dengan wajah Kartini. Siapa wajahnya yang mirip, wajah bulat oval, sanggul dan sasak sebagai kopi paste itu pasti menang. Lomba seperti ini akan terjebak pada peniruan kulit luarnya saja. Padahal hakikat Kartini adalah jiwa keguruan dan perjuangan monumentalisnya yakni emansipasi dengan segala kompleksitasnya. Pilihlah salah satu keterampilan dari Raden Ajeng Kartini untuk dijadikan memontum lomba agar lebih mewariskan sebuah keteladanan dari apa yang telah diperbuat oleh Raden Ajeng Kartini. Semisal baca-tulis atau lomba-lomba yang sifatnya mengarah ke isi di balik sanggul dan kebayanya.

Perlu kiranya sedikit dilontarkan pengertian dari kata “emansipasi”. Kata “emansipasi” diambikan dari Bahasa Inggris dari kata emancipation yang artinya kemerdekaan atau kelepasan, yang berasal dari kata kerja to emancipate yang berarti memerdekakan, melepaskan. Kemudian, melalui proses penyerapan secara adaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi emansipasi. Sebenarnya di zaman kerajaan Romawi, istilah “emansipasi” ini digunakan untuk istilah hukum yang memiliki makna membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua. Hal ini dapat dimengerti karena pada zaman Romawi itu, status anak adalah milik negara. Untuk melengkapi bahan bacaan sebagai penyempurna dalam pemahaman kata “emansipasi” dapat dibaca dalam sebuah novel fenomenal saat itu yakni karya STA (Sutan Takdir Alisyahbana) yang berjudul Layar Terkembang. Selengkapnya kehidupan feodalisme sebagai belenggu tradisi atau adat Jawa khususnya kehidupan kaum ningrat atau bangsawan dapat dibaca pada novel “Para Priyai” goresan pena Umar Kayam. Lengkap sudah antara cita-cita emansipasi wanita dengan kepekatan atau kekentalan ikatan adat yang memunculkan gerakan persamaan derajat. Di sinilah kilas balik sejarah perjuangan Kartini dalam usaha mendobrak adat untuk mengangkat derajat kaumnya sebagai cita-cita mulia tanpa harus ada yang menjadi “korban”.

Kebiasaan Kartini sejak kecil hingga remaja sangat hobi atau maniak dengan kegiatan membaca. Bacaan yang dibacanya berbagai macam. Mulai koran, majalah, buku serta referensi lainnya yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan wawasan, baik yang berbahasa Melayu, Belanda, dan Jawa menjadi santapannya. Tidaklah mengherankan bila Kartini –yang dalam masa pingitan- tetap dan terus mengalir usaha memperjuangkan hak-hak kaumnya. Hampir setiap problematika yang terinternalisaasi dalam benaknya diungkapkan dalam bentuk surat menyurat. Baik yang ditujukan kepada teman kaum sepribumi atau kepada pihak Belanda sebagai penjajah kala itu. JH Abendanon dari Belanda menjadi jujukan atau tujuan surat-surat curhat RA Kartini. Oleh Abendanon surat-surat Kartini dikumpulkan menjadi sebuah buku berjudul Door duisternis tot Licht yang diterjemahkan lengkap ke dalam bahasa Indonesia oleh sastrawan Armijn Pane menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” Buku ini sangat melegenda dalam koleksi pustaka nasional. Bahkan buku yang asli masih tersimpan rapi di perputkaan negeri kincir angin tersebut. Alangkah berfaedahnya judul buku tersebut menyelinap dalam semboyan PLN yakni Habis Gelap Terbitlah Terang karena bagaimana pun pihak PLN memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam kemajuan bangsa ini. Terutama, dalam penerangan di kala anak-anak membaca dalam kegelapan untuk menggapai cita-cita. Terima kasih Ibu Kartini dan terima kasih PLN...!

Sebagai sosok “pendekar” kaumnya yang tidak mengenal lelah Kartini terus berjuang dalam dunia pendidikan untuk menjadikan kaum perempuan agar bisa bersekolah dalam mengisi cita-cita mulia. Peringatan hari Kartini tidak hanya semarak atau menggebyar di lingkungan pendidikan melainkan juga dalam instansi lainnya termasuk instansi partikelir turut merayakannya. Yang membuat penulis merasa terenyuh dan sempat meneteskan air mata dengan deraian yang menyumbar deras dari pelupuk mata saat membaca kisah Raden Ajeng Kartini berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan anak pertamanya dari perkawinannya dengan Bupati Rembang jawa Tengah Raden Mas Joyohadiningrat harus meregang nyawa dengan diagnosa menderita penyakit ginjal. Akibat kerja keras dan kecapaian dalam mengurus kaumnya hingga ginjal Sang “Pendekar” perempuan tidak pernah menjadi perhitungannya. Tepat pada tanggal 17 September 1904 dalam usia muda yakni 25 tahun Ibu Kita Kartini berpulang ke Rahmatullah meninggalkan seorang bayi bernama Susalit dan seorang suami yang penuh pengertian dan mendukung perjuangannya. Sanggul, sasak, kebaya, dan sewek serta dandanan wajah sederhana tetap terukir wahai putri sejati yang berasal dari kota ukir-ukiran Jepara. Bos tunggal Media Bawean Bapak Basit beserta awak media lainnya serta kru kerabat kerja mengucapkan Selamat Hari Kartini yang ke 135. Semoga berkat perjuangan beliau bangsa ini terus mendudukkan wanita sebagai mitra setia dalam merah cita-cita bangsa. Mari bernyanyi bersama dalam alunan patriotisme. Ambil suara...!

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Reff.
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya
Bagi Indonesia

Bersama KSDA, Siswa MA Hasan Jufri
Jelajahi Alam di Pulau Bawean

Media Bawean, 19 April 2014

Oleh : Ali Asyhar


Kamis pagi hari (17/4). Udara sejuk nan bersih di sepanjang jalan menuju dusun Sungai Terus. Jalan basah sisa hujan semenjak subuh. Sunyi pagi diriuhkan suara Roe-roe. Binatang sebesar Kecoak yang terus melengking nyaring bersahut-sahutan. Bunyi Roe-roe adalah suara khas hutan yang masih rindang. Serombongan siswi MA Hasan Jufri terus menyusuri jalanan. Sesekali berpapasan dengan orang kampung yang akan berangkat anyi-anyi (memanen padi).

Kegiatan ini adalah untuk mengasah kecerdasan lingkungan. Belajar menyadari bahwa air bersih yang kita pakai tiap hari ternyata berasal dari hutan yang masih lestari ini. Berusaha untuk menepikan ego manusia yang cenderung serakah. Membiasakan diri berterima kasih kepada Tuhan Sang Pencipta Alam yang teratur. Mengapresiasi serta menghargai orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kelestarian hutan dan lingkungan.

Pukul 09.00 pagi kami memasuki kampung Sungai Terus. Kampung asri ini dikelilingi oleh hutan lindung. Kanan kiri jalan banyak ditumbuhi pohon Aren. Pohon ini menghasilkan gula merah dan minuman La’ang. Minuman segar, manis dan menyehatkan. Untuk menghasilkan minuman La’ang dibutuhkan proses yang tidak mudah. Para pemanjat harus memasang tangga dari bambo yang cukup tinggi. Pekerjaan membuat La’ang hanya ditekuni oleh orang-orang tua. Para pemuda sudah enggan dan gengsi . Budaya pragmatis dan instan sudah merasuk hingga pelosok.

Kami juga menjumpai banyak kerbau. Dengan air gunung yang melimpah dusun Sungai Terus cocok untuk beternak kerbau. Sayangnya masih banyak kandang kerbau yang berada di pinggir sungai. Kotoran kerbau langsung tercebur ke air. Alangkah rapinya bila kandang kerbau dijauhkan dari aliran air. Sehingga air tetap bersih dan kotoran kerbau bisa dijadikan pupuk kandang.

Di sebelah Barat dusun Sungai Terus adalah kawasan hutan mahoni. Hutan ini sangat rindang. Pohon-pohon mahoni tumbuh dengan gagah. Kabut tipis menyapa kami dengan tersenyum. Dengan jalanan yang licin kami terus menyusuri setapak mencari kesejukan alam yang mustahil dijumpai di keramaian. Hutan mahoni juga berbatasan dengan tanah warga. Perlu kesadaran tinggi dari warga agar ikut menjaga kelestarian hutan. Tidak tampak bekas-bekas penebangan liar. Pohon-pohon dan semak belukar masih utuh saling melengkapi. Di seberang gunung mahoni tampak perbukitan tinggi menjulang. Bukit ini juga dibalut hutan lindung yang sangat lebat. Bukit yang berbatasan dengan dusun Menara ini menyuplai air bersih di beberapa desa.

Dengan dipandu Thaha, Petugas BKSDA, kami terus berjalan. Di sela-sela perjalanan kami juga menaburkan biji sirsak. Setelah 2 jam berjalan rombongan sampai di perkebunan Cengkeh dan Lada. Kebun ini umumnya milik warga Menara. Tanah di Pulau Bawean ini ternyata sangat subur. Semua tanaman bisa tumbuh sumbur. Cengkeh, kopi , lada , durian dan lain-lain. Konon saat musim panen (Bulan Juni-Juli) harga cengkeh bisa mencapai Rp. 120 ribu/kilo gram. Sedangkan harga lada bisa Rp. 80 ribu/kilo gram. Sebuah potensi besar untuk dikembangkan. Tampak ratusan pohon cengkeh dan lada di sepanjang jalan.

Menurut Thaha sebenarnya sudah lama warga menanam cengkeh. Namun kurangnya ketekunan dalam merawat maka biasanya pohon cengkeh akan mudah terserang penyakit. Satu persatu cengkeh warga mati. Di kawasan Warung Gondang ini rombongan bertambah yakni Bapak Halim BKSDA yang sengaja menyusul. Beliau juga memberi banyak wawasan tentang tanaman cengkeh dan lada.

Setelah cukup beristirahat kami berangkat menuju air terjun Kuduk-Kuduk. Di sepanjang jalan aliran air sangat deras. Di sana-sini terdapat sumber-sumber air. Di bawah batu dan pepohonan besar. Kawasan hutan ini masih banyak dijumpai pohon Gondang dan pepohonan besar lainnya. Pohon Gondang dikenal sangat baik dalam menyimpan air. Menurut keterangan Thaha dan Halim, Petugas KSDA Bawean, menyatakan hutan lindung ini baru tumbuh sepuluh tahunan yang lalu. Sebelumnya hutan di Bawean dipenuhi oleh pohon Jati yang dikelola oleh perhutani. Selepas itu hutan Bawean diserahkan sepenuhnya ke BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan beralih menjadi hutan lindung. Saat menjadi hutan produksi (jati) sumber air terus mengecil. Pohon jati kurang bagus dalam menyimpan air.

Tengah hari kami tiba di air terjun Kuduk-Kuduk. Rasa penat menjadi hilang saat berbasah-basah di air terjun. Dengan ketinggian kurang 10 meter air terjun ini memunculkan suara gemuruh. Nyanyian alam pengobat kebosanan dalam rutinitas hidup.

Terima kasih BKSDA Bawean.

Aparat Desa Patarselamat
Memakai Seragam Milik Anaknya

Media Bawean, 17 April 2014 

Perangkat desa Patarselamat, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, diduga memakai baju seragam yang seharusnya dipakai oleh anaknya untuk menjabat kepala dusun Gunung Malang. Artinya kepala dusun terpilih menggunakan ijazah milik anaknya untuk meloloskan dalam persyaratan.

Ironisnya, pemerintahan desa Patarselamat kecenderungan melindungi dengan dalih tidak ada satupun warganya yang bersedia menjadi kepala dusun daripada mengikuti sesuai aturan. Peraturan ditabraknya, sehingga ijazah milik anaknya dipakai oleh orang tuanya.

Terungkapnya kepala dusun menggunakan ijazah milik anaknya diungkap oleh BCW-LSM. 

Dari Nazar, Direktur Eksekutif BCW-LSM mengungkapkan aparat desa yang diduga “menggunakan" ijasah orang lain di Desa Patar selamat jelas melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa yang dipertegas dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gresik Nomor 4 Tahun 2010 tentang pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa.

Lebih lanjut, Dari Nazar meminta ketegasan Bupati Gresik untuk memberikan sanksi administrasi kepada perangkat yang bermasalah dalam persyaratan sebagai aparatur desa di Patar Selamat. Serta mendesak kepada instansi terkait, untuk membuat surat edaran kepada kepala desa, agar melakukan pendataan ulang seluruh perangkat desa di Pulau Bawean.

Agus Salam, Kepala Desa Patarselamat ditemui Media Bawean (rabu, 16/4/2014), membenarkan perangkat desanya menggunakan ijazah anaknya untuk menjabat kepala dusun. Alasannya menurut Kades, di dusun Gunung Malang tidak ada satupun warganya yang bersedia menjadi kepala dusun.

"Tahun 2007, terpilih Hatman menjadi kepala dusun Gunung Malang, setahun kemudian tepatnya diakhir tahun 2008 mengundurkan diri,"paparnya.

"Setelah mundur, kemudian ditawarakan kepada masyarakat ternyata tidak ada yang mau menggantikannya, sehingga diadakan pemilihan langsung oleh seluruh warganya dan terpilih Sap'adi menjadi kepala dusun tapi tidak mempunyai ijazah sehingga untuk persyaratan menggunakan ijazah milik anaknya,"jelasnya.

Apakah tidak mengetahui persyaratan kepala dusun diwajibkan berijazah? "Tapi masyarakat tidak ada yang bersedia, daripada kosong sehingga hasil pemilihan oleh masyarakat ditetapkan dengan menggunakan ijazah milik anaknya,"jawabnya.

Menurut Agus Salam, sejak senin kemarin (14/4/2014), Abdurrahman sudah aktif bekerja di kantor Desa Patarselamat menggantikan Sap'adi sebagai Kepala Dusun Gunung Malang.

Kabag Administrasi Pemerintahan Umum M. Yusuf Anshori dihubungi via selulernya menjawab masih sibuk memimpin rapat. Sedangkan Abdul Adim, Camat Sangkapura meresponnya yach dikembalikan kepada aturan. (bst)

Sukses UN 2014 di Pulau Bawean
2 Siswa Mengundurkan Diri

Media Bawean, 17 April 2014


Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA dan Paket C yang dimulai hari senin (14/4/2014), sudah berakhir hari rabu (16/4/2014). Secara tekhnis pelaksanaan UN di Pulau Bawean tanpa ada permasalahan berjalan lancar dan sukses terselenggara dengan baik.

Peserta UN tahun 2014 di Pulau Bawean, untuk tingkat SMA sebanyak 297 siswa, sedangkan MA sebanyak 512. Ada 2 siswa dari MA mengundurkan diri, yaitu 1 siswa dari MA Umar Mas'ud dan 1 siswa dari MA Mambaul Falah.

Afandi, Ketua Sub Rayon 12 ditemui Media Bawean mengatakan pelaksanaan UN di Pulau Bawean berjalan lancar dan sukses mulai dari awal pelaksanaan sampai hari terakhir. "Seluruh peserta hadir mengikuti UN,"katanya.

Apakah ada soal politik, seperti menyebutkan nama Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) ? "Tidak ada, setiap daerah soal UN berbeda tapi mutunya sama,"jawabnya.

Hal senada disampaikan oleh Jamaluddin, ketua Sub Rayon 58 menyatakan tidak ada permasalahan krusial dalam pelaksanaan UN di Pulau Bawean, hanya ada masalah kekurangan soal dari 40 soal hanya isinya 37 soal didalamnya, tapi diatasi dengan menggantinya dengan soal cadangan.

Pudjio Santoso sebagai Koordinator Pengawas Satuan Pendidikan (PSP) dari Unair Surabaya, menjelaskan bahwa pelaksanan UN di Pulau Bawean mulai dari awal pelaksanaan sampai akhir tanpa ada masalah, lancar dan sukses.

Termasuk tingkat pengawasan UN di Pulau Bawean, menurut dosen senior di Unair Surabaya, sudah dilaksanakannya dengan baik. "Adapun persoalan yang dihadapinya cuman kecil saja, hanya siswa melongok kanan dan kiri saja, itu hal yang wajar saja. Tidak separah didaratan persoalannya, termasuk siswa tidak ada yang membawa handphone,"jelasnya.

"Siswa sudah siap mengikuti pelaksanaan UN, sehingga mereka mampu melaksanakannya sendiri sesuai kemampuannya sendiri. Termasuk kehadirian di sekolah, tidak ada siswa yang terlambat datang,"terangnya.

Persoalan yang perlu ada perbaikan kedepan, menurutnya UN Paket C masih terkendala listrik sehubungan pelaksanaan ujian mulai siang hari sampai malam hari. "Sehubungan di kampung yang melaksanan UN Paket C belum teraliri listrik, sehingga membuat kelabakan seluruh pesertanya dengan menggunakan penerangan seadanya,"paparnya.

Menurut Pudjio Santoso, pergantian dari pengawas swasta kepada tim pengawas perguruan tinggi negeri termasuk evaluasi terbaik untuk meningkatkan mutu dan kuwalitas lulusan Paket C di Pulau Bawean. 

Peserta UN disapa Media Bawean, ketika ditanyakan apakah ada soal yang tingkat kesulitannya luar biasa? Siswa menjawab, hanya kemarin saja, ketika ujian bidang studi matematika yang pertanyaannya sukar untuk dijawab. (bst)

Suara Perolehan Caleg Tak Signifikan
Lapangan Voli Ditanami Pohon Pisang

Media Bawean, 15 April 2014


Perolehan suara caleg Partai Golkar untuk DPRD Provinsi Jawa Timur tidak signifikan di dusun Sungaitopo, desa Sungaiteluk, Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, berdampak kepada lapangan bola voli club Bim Sakti ditanami pisang oleh pemiliknya.

H. Haliq Ngari sebagai pemilik tanah lapangan bola voli ditemui Media Bawean (senin, 14/4/2014) mengaku kecewa berat atas hasil perolehan suara di Dusun Sungai Topo. "Sebelum pelaksanaan pemilu, pemuda sudah dikumpulkan agar mendukung caleg dari keluargaku yang mencalonkan DPRD Provinsi Jawa Timur, tapi kenyataannya hanya memperoleh 27 suara tak sesuai harapan,"katanya.

"Saya tidak meminta untuk DPR Kabupaten ataupun DPR RI, hanya meminta suara untuk DPRD Provinsi saja,"paparnya.

"Kenyataannya sekarang, setelah keluargaku mencalonkan anggota dewan dan meminta kepada warga agar mendukungnya ternyata suara yang diberikan tak sesuai harapan. Targetnya hanya 100 suara saja,"jelasnya.

 "Terus terang, tanah dibuat lapangan yang dipakai pemuda Sungaitopo untuk bermain bola voli sudah diberikan secara percuma tanpa ada pungutan, termasuk menyelenggarakan turmanen bola voli juga dipersilahkan,"ujarnya.

"Merasa kecewa sekali atas pengkhianatan dengan perolehan suara minim, setelah mengetahui perolehan suara tak sesuai harapan maka lapangan bola voli langsung ditanami pohon pisang,"tuturnya.

Menurutnya lebih bermanfaat ditanami pohon pisang untuk dijual hasilnya ke pasar, daripada dijadikan lapangan bola voli ternyata warganya tidak menghargainya.

Respon tokoh masyarakat, H. Abd. Rahem mengaku terkejut setelah mengetahui lapangan bola voli disamping rumahnya ditanami pisang oleh pemiliknya. "Ini imbas dari pemilu 2014,"ungkapnya.

Rasul, tokoh pemuda Sungaitopo menyatakan tidak ada permintaan agar mencapai 100 suara, hanya meminta agar setiap TPS bisa menang, itupun memperoleh suara terbanyak untuk DPRD Provinsi Jawa Timur.

"Sehubungan pemuda di Sungaitopo mempunyai kegemaran olahraga bola voli, sementara ini masih mencari tanah untuk pengganti lapangan yang ditanami pisang,"terangnya. (bst)

2 Partai Islam dan 2 Partai Nasionalis
Anggota Dewan Terpilih dari Bawean

Media Bawean, 15 April 2014


Rapat Pleno hasil rekapitulasi penghitungan Pemilu 2014 di kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak di Dapil V (Pulau Bawean) Gresik sudah selesai dilaksanakan. 

Hasilnya setelah perolehan suara pemilu digabungkan dari 2 kecamatan, yaitu hasil perolehan partai politik terbanyak diperoleh Partai Kebangkitan Bangsa memperoleh 11.852 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 8.131 dan Kecamatan Tambak sebanyak 3.721 suara).

Urutan kedua diraih oleh Partai Golkar, dengan total perolehan suara sebanyak 7.900 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 4.492 dan Kecamatan Tambak sebanyak 3.408 suara).

Urutan ketiga diraih oleh Partai Demokrat memperoleh suara sebanyak 6.280 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 3.755 suara dan Kecamatan Tambak sebanyak 2.525 suara)

Urutan keempat, diperoleh Partai Persatuan Pembangunan dengan mendapatkan 3.546 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 2.583 suara dan Kecamatan Tamak sebanyak 963 suara).

Berikutnya caleg yang memperoleh kursi dari jatah sebanyak 4 kursi di Dapil V (Pulau Bawean), kursi pertama diraih PKB dengan suara caleg terbanyak diperoleh Zulfan Hasyim dengan jumlah 5.862 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 4.856 suara dan Kecamatan Tambak sebanyak 1.006 suara).

Kursi kedua diraih Partai Golkar dengan suara caleg terbanyak diraih Miftahol Jannah dengan jumlah 3.281 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 2.487 suara dan kecamatan Tambak sebanyak 794 suara).

Kursi ketiga diperoleh Partai Demokrat dengan suara caleg terbanyak diraih Muhammad Subki dengan jumlah 2.381 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 2.160 suara dan kecamatan Tambak sebanyak 221 suara).

Kursi keempat diraih Partai Persatuan Pembangunan dengan suara caleg terbanyak diperoleh Muntarifi dengan jumlah 2.595 suara (Kecamatan Sangkapura sebanyak 1.848 suara dan Kecamatan Tambak sebanyak 747 suara).

KH. Abdul Latif, Ketua MUI Kecamatan Sangkapura mengatakan 4 kursi anggota DPRD Kabupaten Gresik di Dapil Bawean telah diraih 2 partai Islam dan 2 partai nasionalis. "Sesuai harapan ternyata kenyataan untuk 4 kursi dengan diraih 2 partai Islam dan 2 partai nasionalis. Semoga kinerjanya bisa lebih baik untuk membangun Pulau Bawean,"katanya.

Dari Nazar, Direktur BCW-LSM menyatakan 4 kursi yang diraih calon dewan yang berasal dari kecamatan Sangkapura, berarti mereka mewakili seluruh warga Pulau Bawean. "Yang terpilih dalah wakil rakyat asal Pulau Bawean untuk duduk di kursi DPRD Kabupaten Gresik. Semoga perjuangan dan aspirasi membawa hasil untuk membangun Pulau Bawean,"ujarnya. (bst)

Rapat Pleno PPK Kec. Tambak
Demokrat Protes Hitungan Sementara

Media Bawean, 15 April 2014


Rapat Pleno penghitungan hasil Pemilu 2014 di kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik diselenggarakan hari senin (14/4/2014). Hadir Muspika kecamatan Tambak, Saksi Partai Politik, PPS se-kecamatan Tambak dalam penghitungan yang dipimpin oleh PPK kecamatan Tambak.

Penghitungan dilaksanakan mulai jam 13.00 WIB. bertempat di Pendopo kecamatan Tambak, dengan bergantian PPS disetiap desa membacakan hasil perolehan suara mulai dari DPR RI, DPD, DPRD Provinsi Jawa Timur, dan DPRD Kabupaten Gresik. 

Tepat menjelang waktu isya, rapat pleno tuntas melakukan penghitungan disetiap desa di kecamatan Tambak. Setelahnya, saksi dari Partai Demokrat menyampaikan protes terhadap perolehan suara sementara ternyata tidak sama hitunganya dengan hasil rapat pleno. Akhirnya PPS dari desa Sukaoneng membacakan hasil sesuai kertas plano penghitungan ketika pleno di desa. Ternyata hasilnya sesuai dengan hasil rapat pleno tentang hasil perolehan suara.

Lamsi, PPK Tambak merespon pertanyaan, menyatakan hasil penghitungan sementara tidak bisa dijadikan tolak ukur sebab rekap dari model C1, itupun hasilnya belum tentu benar sebab masih hitungan sementara saja.

Setelah diberikan penjelasan oleh PPK dan Panwascam Tambak, akhirnya hasil rapat pleno diterima oleh semua saksi partai politik. "Semua saksi bertandatangan, tidak ada yang merasa keberatan atas hasil Pemilu di kecamatan Tambak,"terang Lamsi dihubungi Media Bawean.

Jumlah hak pilih di kecamatan Tambak sebanyak 25.579 pemilih, sedangkan yang hadir memberikan hasik suaranya sebanyak 13.455 pemilih. Angka golput mencapai 12.124 pemilih, menurut Husni (Panwascam Tambak) mengatakan masih tinggi tingkat kehadiran pemilh dalam pemilu 2014 dibandingkan Pemilukada Jawa Timur.

DPR RI 
Suara perolehan DPR RI terbanyak diraih oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebanyak 5.085 suara, urutan kedua diraih oleh Partai Golkar sebanyak 2.599 suara dan urutan ketiga diiperoleh Partai Demokrat sebanyak 1.163 suara.

Suara caleg DPR RI terbanyak diraih oleh Jazilul Fawaid dari PKB sebanyak 2.864 suara, urutan kedua diperoleh Eni Maulani dari Partai Golkar sebanyak 1.287 suara, dan urutan ketiga diperoleh Eddy Kuntadi dari Partai Golkar sebanyak 684 suara.

DPD
Suara perolehan DPD terbanyak diperoleh Drs. H. Mashuri, M.Si. (nomor 2) mendapatkan 1.985 suara, urutan kedua diperoleh Drs. H. A. Muhaimin, MT. (nomor 23) memperoleh 860 suara, dan Khodijatul Qodriyah, SAg, MM PUB, MSi (nomor 23) memperoleh 750 suara.

DPRD Provinsi Jawa Timur
Suara perolehan DPRD Provinsi Jawa Timur terbanyak diraih oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebanyak 3.276 suara, urutan kedua diraih oleh Partai Demokrat sebanyak 3.801 suara, dan ururan ketiga diraih oleh Partai Golkar sebanyak 2.213 suara.

Suara caleg DPRD Jawa Timur terbanyak diraih oleh H. Samwil dari Partai Demokrat sebanyak 2.951 suara, urutan kedua diperoleh Oni Eka Darmawan dari Partai Golkar sebanyak 1.096 suara, dan urutan ketiga diperoleh Hani'atun Nihayah, S.Sos. dari PKB sebanyak 927 suara.

DPRD Kabupaten Gresik
Suara perolehan DPRD Kabupaten Gresik terbanyak diraih oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebanyak 3.721 suara, urutan kedua diraih oleh Partai Golkar sebanyak 3.408 suara dan urutan ketiga diiperoleh Partai Demokrat sebanyak 2.525 suara.

Suara caleg DPRD Kabupaten Gresik terbanyak diraih oleh Ahmad Sahe dari Partai Golkar sebanyak 1.612 suara, urutan kedua Muhajir dari PKB sebanyak 1.355 suara, dan urutan ketiga diperoleh Awi dari Partai Demokrat sebanyak 1.187 suara. (bst)

Popular Posts

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.