Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Akhiri Tugas, Kapolres Ady Kunjungi Pulau Bawean


Mengakhiri tugasnya sebagai Kapolres Gresik, AKBP Ady Wibowo berkunjung ke Pulau Bawean. Tak lama lagi, Ady wibowo akan pindah tugas sebagai Waka- polresta Pekanbaru. Rencananya, kapolres bersama rombongan menggunakan Kapal Natuna Express berangkat dari pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean.

AKP. Arif Rasyidi, Kapolsek Sangkapura membenarkan kun- jungan Kapolres Gresik di Pulau Bawean. Kunjungan selama sehari semalam di Pulau Bawean, mengunjungi Polsek Sangkapura dan Polsek Tambak.

Selanjutnya berkunjung ke Pulau Gili, desa Sidogedungbatu. Sementara itu dikalangan warga Pulau Bawean ada mitos, bila Kapolres Gresik berkunjung ke Pulau Bawean pertanda karirnya akan bagus sebagai pejabat di kepolisian.

Contohnya, Komisaris Besar Mohammad Iqbal selaku Kepala Bidang Humas Metro Jaya ketika menjabat Kapolres Gresik juga berkunjung ke Pulau Bawean. (bst)

Kak Ros Kagum Keindahan Alam Bawah Laut Bawean


Rosalina Musa yang akrab dipanggil Kak Ros kembali ke negara asalnya Singapura. Bagaimana kesannya semala 3 hari berada di Pulau Bawean?

Juri D Academy Asia ini mengaku kelelahan setelah 3 hari berada di Pulau Bawean. “Eson Leppang, artinya saya capek,”katanya.

Wajar bila Kak Ros kelelahan, karena dia tak berdiam diri selama di Bawean. Hampir semua obyek wisata dikunjungi, dari penangkaran rusa, jherat lanjheng, air terjun murlaya, pantai labuhan, bandara Harun Thohir, Pulau gili hingga Pulau noko. “Saya senang melihat keindahan Pulau Bawean, obyek wisata bagus,”ujarnya.

Saat di Pulau Gili kak ros melakukan snoorkling. “Ternyata terumbu karangnya bagus-bagus, saya senang snoorkling di Pulau Bawean,”ungkapnya.

Dia juga mengaku gembira melihat banyak penonton ketika konser di Alun-Alun Sangkapura. “Penontonnya sangat banyak, saya merasa tersanjung berada di Bawean,”tuturnya.

Lebih berkesan lagi, artis asal Singapura ini dinilainya memiliki rasa kekeluargaan sangat tinggi. “Sambutan warga penuh kebahagian, sehingga sangat berkesan,”ucapnya.

Mengakhir kunjungannya di Pulau Bawean, sebelum berangkat menuju Pelabuhan Bawean masih singgah di Bengkonah Eson melihat produk unggulan yang dipamerkan.

Badar asal Sangkapura menyatakan konser Rosalina Musa di Alun-Alun Sangkapura dihadiri ribuan penggemarnya dari berbagai daerah di Pulau Bawean. “Sangat ramai penontonnya memadati Alun- Alun untuk menyaksikan penampilan Kak Ros diatas panggung,”pungkansnya. (bst)

Manaqib Kubro Jamaah Al Khidmah di Pulau Bawean



Jamaah Al Khidmah menggelar majlis dzikir dan maulidurrasul SAW dalam rangka manaqib kubro di Pulau Bawean, Minggu, (1/5). Pengajiam ini juga dihadiri jamaah al khidmah dari Surabaya, Madura, Semarang dan luar negeri dari Malaysia dan Singapura.

Cuk Sugrito, ketua panitia mengatakan pelaksanaan majlis dzikir dan maulidurrasul yang diadakan oleh jamaah al khidmah berjalan sukses, walaupun kondisi hujan. “Walaupun hujan tidak menyurutkan warga Pulau Bawean untuk menghadiri acara,”katanya.

Setiap tahun rutin diadakan manaqib kubro di Pulau Bawean. Adapun tempatnya bergantian, antara Sangkapura dan Tambak.

Adanya majlis dzikir juga dimanfaatkan oleh siswa SMP dan MTs. yang akan menghadapi ujian nasional tanggal 9 mei 2016. Sahafuddin, kepala SMPN I Sangkapura menyatakan seluruh siswanya yang akan mengikuti ujian nasional telah menghadiri majlis dzikir dan maulidurrasul. (bst)

Malu Untuk Memulai..!? Refleksi Hardiknas 2016


Oleh : Sugriyanto (Guru SMA Negeri 1 Sangkapura) 

Betapa tercengangnya hati ini setelah membaca sebuah buku antalogi atau bunga rampai dari beberapa penulis Keluarga Unesa (Ganesa) berjudul ”Boom Literasi” Menjawab Tragedi Nol Buku. Buku tersebut dieditori oleh tiga serangkai dalam jalinan para dedengkot penulis berbakat, Eko Prasetyo, Much. Khoiri, dan Suhartoko. Khusus Much. Khoiri dosen Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Surabaya pernah menjadi tetangga kos saya jika tidak salah di Jalan Karangrejo Sawah tempo dulu. Beliau cukup humanis betul dalam pergaulan hidupnya. Awalnya, saya mengacuhkan buku tersebut karena melihat ketebalan hingga mencapai 299 halaman. Bisa-bisa saya kelabakan bahkan bisa mati suri untuk mengabisi baca dalam sekejap waktu. Mana mungkin dapat saya baca habis dengan ketebalan yang melebihi buku-buk bacaan yang sering saya target setiap buku harus tuntas dua hari untuk melahapnya. Saya seperti telah menyia-nyiakan pemberian seorang karib sefakultas namun beda jurusan. Jurusan matkulnya menjadi gerbang masuk menuju JPBSI (Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) dibagian terutara fakultas Bahasa dan Seni IKIP kala itu.

Karib saya, Agus Setiawan menyodorkan buku tersebut di sela-sela usai menunaikan salat jamaah duhur di teras masjid komplek SMA Negeri 1 Creme Gresik menjelang detik-detik penutupan acara diklat implementasi K-13 tahun 2014. Anehnya, setelah masuk ruangan menjelang sesi penutupan pula salah seorang rekan sekelas diklat sekonyong-konyong pula menyodorkan secara tak disangka-sangka lewat sisipan senyap dari arah berhadapan sebuah buku berjudul Kumpulan Puisi Buwun (nama asal mula sebenarnya Bawean) dipersembahkan oleh rekan saya sekelas dalam satu diklat yakni Mardiluhung. Keduanya menyedekahkan sebagai amal jariah semata. Semoga keduanya masuk surga bersama orang-orang yang pernah mengajari baca tulis tentang seluruh kalam ilahi. Keduanya telah menanamkan benih kebaikan lewat sebuah buku yang penuh makna. Bila seseorang sayang dengan orang orang mesti mereka ungkapkan dengan setangkai bunga penuh simbolis. Beda dengan kedua sahabat saya untuk mengungkapkan rasa persahabatan justru dengan sebuah buku. Desain kover buku ”Boom Literasi” sedikit menggigit keinginan untuk membaca. Illustrasi berupa gambar dua boom molotof melambangkan dua fonem {O} berpicu sumbuh sepertinya akan menjadi boom waktu bagi anak bangsa akan luluh lantaknya peradabannya bila melalaikan budaya baca. Atau sebaliknya juga akan menjadi boom waktu penopang sekaligus pemicu kemajuan peradaban bangsa ini dari keterpurukan tingkat perkembangan baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan bila literasi menjadi kulturnya. Hanya ketebalan buku tersebut yang menjadi musabab penterlantaran panjang bersemayam di lemari buku saya.

Sejenak saya tercenung dalam ruang sesi diklat atas rezeki dari dua arah yang datang secara simultan dalam hitungan menit. Satu sahabat lama di kampus dalam satu Fakultas beda jurusan bernama Agus Setiawan, seorang penulis dan editor beberapa terbitan, sedang satunya sahabat baru ketemu dalam satu ruang kelas diklat K-13 tahun 2014 bernama Mardiluhung, seorang sastrawan gaek, penulis di ruang putih Jawa Pos, editor beberapa buku, bahkan pernah diminta Puskur (Pusat Kurikulum) dalam pengkajian dan review buku ajar K-13. Sahabat baru saya Mardiluhung mengenal saya saat diklat K-13 di SMA Negeri 1 Crème Gresik tahun 2014. Waktu itu saya ditunjuk sebagai ketua kelompok bahkan ketua kelas. Entah mengapa tiba-tiba satu kelas kompak bulat suara mengerucut ke saya saat awal setelah acara seremonial di aula utama saat pembukaan diklat. Ternyata, guru serumpun mata pelajaran Bahasa Indonesia dalam satu ruang berkapsitas 40 guru adalah banyak seangkatan dan adik kelas saya di IKIP Negeri Surabaya dahulunya. Termasuk sealmamater dengan saya Drs. Abdul Khalik Tambak guru pengampuh mata pelajaran bahasa Indonesia SMA Islamiyah menggasak beberapa sesi diskusi dan presentasi versus saya yang sedaerah. Ditambah lagi tutor diklat Dra. Kustiyah (sapaan akrabnya Bu Kus) dari SMA Negeri 2 manyar (Smanda) teman saya waktu diklat di Malang. Saya semakin beruntung ditutori oleh seorang guru mapel Bin. (singkatan kaprahnya Bahasa Indonesia) sebagai guru berprestasi tingkat nasional. Bahkan Dra. Kustiyah sempat dikirim ke Jepang atas prestasinya tersebut. Ini menjadi berkah bagi saya karena telah dipertemukan dengan para penulis ulung dan tutor sediklat kala di Malang beberapa tahun silam.

Buku kumpulan puisi Mardiluhung habis saya baca dua jam setelah disodorkan kepada saya. Kumplan puisi tersebut menjadi sebuah satire (puisi sindiran) sekaligus elegi warga Bawean dengan segala keindahan alam Pulau Bawean. Mardiluhung pernah berkelana menjelajahi Pulau Bawean dengan perjalanan wisata sampai ke lekek-lekeknya (segala sudut dan penjuru) Pulau Bawean habis didatanginya. Mulai lukisan alam, keadaan sosial dan budaya dijelajihinya lewat perenungan yang amat mendalam terangkat ke puisinya. Saya merasa tertampar sekaligus tergelitik atas tulisan-tulisan sahabat baru itu. Perasaan penasaran bersemai dan terus tumbuh untuk mencari tahu tentang nama Buwun sebagai nama asli Bawean. Sementara beberapa penulis terdahlu menulis dengan tanpa menyertakan referensi yang syah atau valid memberi makna asal Pulau Bawean berdasarkan versinya masing-masing dalam sebuah dongeng. Sebagai khazanah pengayaan mungkin tidak ada masalah. Pengunkapan nama asal-usul Pulau Bawean untuk pelipur lara dimaklumi saja. Dalam dunia akademisi sepatutnya didasarkan pada bahan acuan tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya. Lewat buku kumpulan puisi Buwun saya menelusuri nama asal mula Pulau Bawean. Curahan tenaga dan pikiran membuahkan sebuah titik terang dengan menemukan nama Buwun atau Bawean dari sebuah kitab ”Nagara Kertagama” tulisan Empu Prapanca di zaman kerajaan Mojopahit (buah mojo berasa pahit).

Bekal penguat serta usaha memantapkan keyakinan ini saya mengutip tulisan Empu Prapanca sebagai bahan rujukan untuk membatasi ruang naluri yang suka-suka membuat sensasi atas kepentingan masing-masing penulis. Dalam bahasa aslinya tertulis ”Yen ring jenggolo lot sabhan pati ring Carabhaya melulus mare Buwun” terjemahannya demikian ”Bilamana berada di Jenggala Raja mengunjungi laut di Surabahya terus menuju ke Buwun (Bawean)” . Warga luar Pulau Bawean membenarkan asal-usul nama Pulau Bawean tersebut. Mereka tertawa-tawa setengah mengejek bila nama Pulau Bawean muncul sebelum kerajaan Mojopahit. Berapa juta buku yang harus direvisi bila keberadaan Pulau Bawean mendahului kerajaan Mojopahit. Selayknya dan sepatutnya mengikuti alur sejarah nasional bila keberadaan Pulau Bawean ingin duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Tidak perlu kengototan di kedepankan berdasar keinginan menterkenalkan diri semata. Diakui atau tidak bahwa Pati Gajah Mada di bawah Raja Hayam Wuruk pernah bertandang ke Pulau Bawean di masa silam (Lihat prasasti di Bukit Mandhela, sekitar Ghunong malang) Desa Patar Selamat Kecamatan Sangkapura Gresik Jawa Timur. Empu Prapanca telah menyuratkan dalam kitab tersebut di atas. Malu untuk memulai mengungkap yang sebenarnya? Tentu tidak, karena ilmu itu sendiri sifatnya nisbi.

Keinginan menulis menjelang hari pendidikan nasional terus mendesak. Pagi buta setelah subuh saya mengangkat sebuah kursi makan di dapur yang lama ”nganggur” ke ruang toko di sebelah ruang tamu. Sambil menunggu para pembeli di toko racangan istri saya inspirasi pun terus mengalir. Bahkan, saya memberikan support kepada istri dalam usaha berdagang kecil-kecilan. Hasilnya memang kecil, tinggal menunggu ketelatenan dan kesabaran untuk menjadi besar. Kerap kali saya mengingatkan kepada istri bahwa nabi Muhammad SAW. sejak usia 12 tahun sudah menjadi penggembala kambing. Usia 25 tahun menjadi pedagang super jujur bersama majikannya saudagar kaya raya seorang janda bernama Siti Khadijah. Kalau di Gresik namanya Nyai Ageng Pinatih. Percis kan? Ini berkat kiat membaca yang telah diperintahkan oleh Sang Maha Pendidik, Allah SWT lewat firmannya. Selaku abdi negara yakni guru PNS, saya kuatkan istri untuk terus melangkah dalam usaha pendampingan penghasilan saya sebagaimana yang dijlentrehkan oleh KH. Maimoen Zubair sebagai berikut. ”Nak, kalau kamu jadi guru, dosen, atau kiai, kamu harus tetap mempunyai usaha sampingan biar hatimu tidak selalu mengharapkan pemberian atau bayaran dari orang lain karena usaha dari keringatmu sendiri itu barokah” . Ini yang selalu menegarkan hati istri saya untuk menjadikan toko di rumah sebagai usaha sampingan dalam menyokong penghasilan. Ujug-ujugnya guru pun ingin naik haji. Di ruang toko itu pulah saya jadikan ruang baca pribadi. Walau banyak pembeli di level dusun saya masih Malu Untuk Memulai membaca. Selanjutnya EGP-saja!

Sementara di dalam buku ”Boom Literasi” Menjawab Tragedi Nol Buku yang telah saya perlakukan semena-mena dengan melakukan pembiaran tergeletak di rak buku hampir setahun lamanya membuat saya merasa berdosa. Memutuskan jariah orang lain termasuk perbuatan dosa besar akibat tidak membaca untuk dipetik manfaatnya. Untuk menebus dosa besar itu buku setebal 299 halaman tersebut menjadi bahan wiridan tambahan untuk segera menghabisinya. Tulisan Satria Dhama dalam buku Boom Literasi seperti menikam pikiran saya untuk tidak berhenti membaca. Berhenti membaca berarti mati. Bahkan Satria Dharma menegaskan bahwa ajaran islam yang pertama bukanlah syahadat, salat, zakat, puasa, apalagi naik haji melainkan Iqra’ yakni perintah baca. Diperkuat lagi dengan hasil penelitian Taufik Ismail di 15 sekolah setingkat SMA di beberapa negara khususnya sekolah kota. Tragisnya SMA Indonesia 0 buku berarti nol judul buku sastra artinya tak satu buku pun yang habis dibaca oleh siswa Indonesia, kecuali beberapa sekolah SMA swasta elit saja. Hasil penelitian tersebut tercantum dalam tabel penelitian Taufik ismail dalam rentang waktu sejak tahun 1943-2005 (Boom Literasi : 2014:19). Tatkala kultur membaca menjadi sebuah keterasingan maka anak-anak bangsa ini akan terus diasingkan dalam pergaulan dunia dengan segala kemajuan peradabannya. Tengok warga Jepang dengan tingkat literasinya teratas di pentas dunia. Kalau Jepang punya semboyan ”Gila Kerja bukan Kerja Gila”, bangsa Indonesia bisa ”Gila Baca bukan Baca Gila”. Seperti pengalaman Anis Baswedan (Mendikbud) tatkala menempuh perkuliahan di Amerika, beliau diharuskan atau wajib menghabiskan 1500 halam setiap minggu. Berapa mata kuliah yang beliau kenyam. Berapa tahun beliau tempuh. Ini benar-benar sosok menteri teladan yang Gila Baca. Jangan diherani bila beliau banyak mengukir prestasi hingga puncaknya dipercaya menjadi seorang menteri. Beberapa program cemerlang dari mantan rektor Universitas Paramadina Jakarta tersebut yakni mulai Indonesia Mengajar hingga yang tergres Indonesia Mengaji. Sosok Pak Menteri mari teladani! Tidak usah Malu Untuk Memulai. Selamat Hardiknas 2016!

PSB Kumpulkan Saudagar Bawean di Indonesia dan Luar Negeri



Berangkat dari rasa peduli terhadap kesejahteraan kampung halaman, para perantau Bawean tergerak untuk menghimpun pengusaha yang sukses di rantau.

Ide itu tercetus dari silaturrahmi warga Bawean yang digelar di Gresik, Jawa Timur, September 2015 lalu. Maka tercetuslah organisasi Persatuan Saudagar Bawean (PSB).

Ketua umum PSB, Asy'ari mengatakan PSB untuk menyinergikan saudagar (pengusaha) Bawean yang ada di seluruh Indonesia, dan di luar negeri, terutama di Singapura dan Malaysia.

"Visinya mewujudkan saudagar Bawean yang tangguh dan berdaya saing tinggi mengahadapi tantangan yang semakin kompettif secara global," kata bos PT Swadaya Cipta itu, sebuah perusahaan general contractor yang berbasis di Gresik, saat ditemui di Hotel Horison King Batam bersama pengusaha Bawean di Batam, Sabtu (30/4).

Menurut pria asal Dusun Kotta, Kotakusuma, Sangkapura Bawean ini, dengan adanya wadah PSB harapannya bisa memberikan informasi dan memfasilitasi serta mengakomodir saudagar lain. "Kita juga akan menjalin kerjasama dengan BUMN (Badan Usaha Milik Negara), instansi pemerintah dan pihak lain, yang akhirnya memberi kontribusi terhadap masyarakat Bawean," tuturnya.

"Intinya komunimasi dan kerjasama," imbuh pria yang akrab disapa Cari itu.

Kini, tercatat sudah ada 24 perwakilan daerah PSB di Indonesia termasuk Singapura dan Malaysia.

Mereka bergerak di berbagai bidang usaha, dari retail untuk alat olahraga, pabrik sepatu, konsultan, kontraktor, bimbingan belajar. "Di Kediri sepanjang Jalan Doha. Di Jogja ada handycraf untuk ekspor yang omsetnya sampai Rp 10 miliar per bulan. Saudagar Bawean di Bandung juga ada," kata Cari.

Cari mengatakan kunjungan ini untuk mengahadapi kongres nasional pertama PSB yang akan digelar di Diyandra Convention Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, 29 Mei mendatang.

"Ini sesuatu yang bagus, kalau dulu orang Bawean berebut jadi pegawai (negeri), sekarang berubah paradigma menjadi pengusaha," tukas Iqbal, pengusaha rumah makan di Batam.

Orang Bawean dulu, sambung Iqbal, adalah saudagar-saudagar yang tangguh, sehingga banyak yang sukses baik di Singapura, Malaysia maupun di Indonesia sendiri. "Saya berharap PSB ini jadi wadah jejaring saudagar dan warga Bawean," ujarnya.

Ketua dewan pembina PSB, Yahya Zaini, menyatakan organisasi PSB bersifat nasional yang mencoba menyinergikan saudagar Bawean se-Indonesia dan negara-negara tetangga. "Nantinya kita akan membantu kawan-kawan saudagar. Bisa dengan cara menggelar pelatihan untuk meningkatkan kualitas bisnisnya," ucap mantan anggota DPR RI asal Partai Golkar tersebut.

Bagi Yahya, PSB juga bisa meningkatan pariwisata di Bawean. "Kita punya tanggung jawab moral untuk meningkatkan parawisata di Bawean. Maka dari itu tema kongres nanti tentang pengembangan wisata Bahari Bawean."

Wisata di Pulau Bawean kini memang digadang-gadang oleh Pemprov Jatim dan Kabupaten Gresik menjadi ikon wisata bahari Jawa Timur. Insfrastruktur seperti jalan lingkar sudah dibangun dengan mulus. Transportasi laut juga ditambah, kapal cepat dan kapal roro. Bahkan kini sudah beroperasi pesawat udara dari-ke Bawean-Juanda Surabaya. "Memang sarana dan prasarana terbatas, dan masyarakatnya juga kan belum merata memahami ilmu hospitality dalam pariwisata.

Sementara itu, Husaini Rahman, pemilik PT Kuala Biru Utama Baru yang bergerak di bidang konsultan lingkungan dan berbais di Batam, menyatakan mendukung dibentuknya PSB. "Kita dukung. Ini bagus karena mempersatukan saudagar Bawean, apalagi ini era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)," ujar Husaini.

Cari menargetkan peserta yang hadir dalam kongras nasional perdana itu, dihadiri 300 peserta dari Indonesia dan luar negeri. "Kita sudah edarkan undangan, semoga sukses," harapnya yang didampingi sekretaris PSB, Afys. (ryh)

Sumber : Batam Pos

Kritik Budaya Amaen di Bawean



Sejumlah kalangan menyoroti budaya amaen. Budaya ini berupa remaja pria mendatangi rumah perempuan pada malam hari. Sebagian tokoh di Bawean menilai budaya ini menjuru ke hal negatif dan seharusnya dihilangkan.

Adalah Kepala Desa Balik Terus, Abdul Aziz yang meminta budaya amaen dihapus. Di wilayah Desa Balik Terus, dia terang- terangan akan merazia pria dan perempuan yang berani amaen pada malam hari.

“Cara halus sudah tidak mampu, satu-satunya melalui kekerasan sebagai solusi terbaik agar mereka tidak berani amaen dengan mendatangi rumah si cewek,” katanya.

Dia melakukan sejumlah upaya untuk menindak mereka yang melanggar norma kesusilaaan. Pertama ditegur secara halus, kemudian jika melanggar lagi akan diperingatkan secara keras. “Kalau masih mokong ya dipukul disuruh pulang,” tegasnya.

Abdul Azis mengaku terpaksa memukul karena kepala dusun dan linmas sudah tidak mampu menanganinya. Sebab mereka melawan dan sebagian menanyakan undang- undangnya larangan amaen.

Menurut Aziz, si cowok yang amaen ke rumah cewek, bukan sekedar amaen saja, tapi mereka merusak. Mereka mengunakan kesempatan mencuri barang-barang seperti handphone, termasuk ayam milik masyarakat.

“Seringkali beroperasi tengah malam dari kampung ke kampung di desa Balik Terus, hanya memantau situasi dan kondisi agar budaya amaen segera hilang,”paparnya.

Jika si cowok tidak diketahui, hanya sepeda motor yang diketahui tempat parkirnya, maka ban dikempesi dan alat penghubung ke busi akan disita. Jika tidak terima dan ingin mengambil diminta datang ke rumah.

“Alhamdulillah sudah berkurang, dan semakin sempit ruang gerak mereka untuk amaen, termasuk hamil diluar nikah sudah tidak ada,”tuturnya.

Di desa sudah dibuat kesepakatan bersama bahwa jam berkunjung orang luar dibatasi sampai jam 20.00 atau jam 8 malam, terkecuali kunjungan darurat dipersilahkan.

Persoalannya menurut Kades, pada awal menghapus budaya negatif di wilayahnya bertentangan dengan masyarakat yang ingin mempertahankannya.(bst)

Membuntuti Aktifitas Kak Ros di Bawean, Beremma Kabberna Toghellen







Sejak menginjakkan kaki di Pulau Bawean, Rosalina Musa atau Kak Ros tak luput dari perhatian masyarakat. Kenamapun dia berada selalu dibuntuti warga.

Kak Ros yang dinegara asalnya, Singapura dikenal sebagai diva dangdut, menjadi kebanggaan warga Bawean. Sejak pertama kali datang, Kak Ros disambut bak ratu.

Beberapa aktifitasnya yang terpantau mengunjungi penangkaran rusa dan Jherat Lanjheng. Sepanjang traveling di Bawean itu dia selalu dikerumuni banyak fans. Ada yang ingin bersalaman dan foto bareng Kak Ros.

Sesekali Rosalina Musa menyapanya dengan berbahasa Bawean, “beremma kabberna toghellen? (Apa kabar saudara?),”katanya. Dengan antusias warga menjawab, “baik,”jawabnya dengan kompak.

Juri D Academy Asia mengawali hari kedua di Pulau Bawean mengunjungi keluarga suaminya di Duku Durin, desa Bululanjang Sangkapura. Luapan kegembiraan keluarganya diungkapkan dengan berpelukan erat setelah bertemu keluarganya yang datang dari Singapura.

Di tempat keluarga suaminya, Kak Ros menyempatkan bermain ke persawahan yang sudah dipanen oleh pemiliknya.

Kak Ros mengaku sedih tidak bisa mengajak suami dan anaknya berkunjung ke Pulau Bawean. “Suamiku tidak bisa ikut sehubungan tidak dapat cuti kerja di Singapura,”ucapnya.

Semoga kedepan bisa mengajak seluruh keluarga berkunjung ke Pulau Bawean yang sangat indah. “Ternyata obyek wisata di Pulau Bawean luar biasa bagusnya,”paparnya.

Musyayana owner Bawean Tourism sebagai patner yang mendatangkan Rosalina Musa ke Pulau Bawean, menyatakan banyaknya penggemar Kak Ros yang mengikuti eksplor wisata Bawean, sehingga meminta pengawalan kepolisian untuk memberikan pengamanan.

Acara puncak Rosalina Musa, digelar mandailing modern di Alun- Alun Sangkapura. “Saya akan menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur warga Pulau Bawean,”pungkasnya. (bst)

Geram Ulah Pencuri di Sekolah



Maraknya aksi pencurian di lingkungan sekolah membuat geram AKP Arif Rasyidi, Kapolsek Sangkapura. Itu terjadi karena pencurian terjadi intensitasnya berdekatan. Dalam sebulan telah terjadi di SMP Umar Mas’ud dan MTs. Umar Mas’ud Sangkapura.

“Sekarang seluruh personel Polsek Sangkapura intensif untuk mengungkap dan menangkap pelaku pencurian. Jika nantinya tertangkap, tidak ada ampun kepada pelakunya. Proses hukum akan dilanjutkan,” tegasnya.

Lebih lanjut Kaposek Sangkapura berpesan kepada seluruh warganya agar waspada terhadap adanya tindakan kejahatan. “Perlu ada kewaspadaan, jangan sampai terlena bahwa di Pulau Bawean itu aman,”paparnya.

Jadi menurutnya perlu ada penerangan ditempat-tempat vital seperti perkantoran, serta pengamanan kunci yang kokoh. “Adanya tindakan kejahatan disebabkan adanya peluang untuk melakukannya,”pungkasnya. (bst)

Pelatihan Untuk Tingkatkan Produksi Udang




Produksi udang di Pulau Bawean selama ini masih kurang maksimal. Itu terjadi karena minimnya pengetahuan tentang budidaya udang. Untuk meningkatkan hasil produksi udang, Dinas Kelautan dan Perikanan Gresik menggelar pelatihan di Bawean.

Sasaran pelatihan ini adalah petani tambak udang yang tersebar di Pulau Bawean. Mereka dilatih untuk memahami tata cara mengelolah tambak udang yang baik.

Mardiyah penyuluh pertanian di Sangkapura mengatakan, pelatihan bagi petani tambak udang bertujuan untuk mengembangkan pertambakan udang.

Sebagai pelatih, pihaknya mendatangkan dari beberapa pembicara yang ahli didalam pengelolaan tambak udang berasal dari Banyuwangi.

Menurutnya, perkembangan tambak udang di Pulau Bawean umumnya masih menggunakan cara tradisional. Sehingga perlu dirubah menjadi profesional. Dalam pelatihan juga dikenalkan cara membudidaya udang vaname.

Bustami, pemilik tambak di Desa Lebak mengunkapkan, pelatihan sangat diperlukan untuk mendidik kepada pengelola tambak udang di Pulau Bawean. “Adanya pelatihan saya harapkan bisa memajukan pertambakan di Pulau Bawean,” paparnya.

Adapun persoalan yang sering dihadapi oleh petani tambak udang, yaitu adanya banjir yang mengakibatkan kerugian sangat besar. (bst)

Kak Ros Pulang Kampung Bawean, Disambut Meriah Warganya




Nama Rosalina Musa atau akrab dipanggil Kak Ros tidak asing bagi publik Tanah Air.

Penyanyi kondang asal Singapura sekaligus juri D’Academia Asia salahsatu televisi swasta ini pulang ke kampung leluhurnya di Pulau Bawean. Saat tiba di Bawean, sambutan luar biasa diberikan oleh ribuan warga Bawean.

Pulau Bawean memang menyimpan segudang pesohor di negeri jiran Malaysia. Sebut saja, pemain sepak bola timnas Malaysia, Mahalli Jazuli dan kini ada Rosalina Musa. Kedatangannya ke Pulau Bawean, selain bersilaturahim dengan keluarga besarnya, Kak Ros juga ingin mempromosikan keindahan Pulau Bawean ke Singapura.

Untuk sepekan, Kak Ros akan menghabiskan liburannya ke pulau yang berada 81 mil laut Utara Kota Gresik. Dia datang ke Indonesia melalui Bandara Juanda, Sidoarjo, Rabu siang. Kemudian dia melanjutkan ke Bawean menggunakan pelayaran KM Express Bahari 8E dari Pelabuhan Gresik.

Di Pulau Bawean, Kak Ros tiba di dermaga Pelabuhan Sangkapura. Seakan tahu idolanya datang, ribuan anak muda dan remaja putri Bawean langsung menyerbu mendekati juri D Academy Asia. Dia berencana akan bersilatuhami di Dusun Pateken Desa Kotakusuma, serta keluarga suaminya di Duku Durin.

Kak Ros mengatakan gembira bisa pulang ke kampung keluarganya di Pulau Bawean. “Saya keturunan Bawean, yaitu buyutku berasal dari Pulau Bawean,” katanya.

Sebenarnya, kata dia, impian untuk pulang kampung sudah 15 tahun lalu, tapi baru kesampaian sekarang ini. “Suami dan mertuaku sudah mengajak ke Pulau Bawean sekitar 15 tahun lalu,” ujarnya.

Menurutnya Pulau Bawean sekarang sudah berbeda dengan dulu. Jika dahulunya kurang maju tapi sekarang sudah bagus dan perkembangannya sudah pesat. “Terbukti pembangunan Pulau Bawean sudah terlihat bagus,” ungkapnya.

Kak Ros mengaku suka menggunakan bahasa Bawean, alasannya orang Bawean selalu kompak dan mempunyai persaudaran sangat tinggi. Walaupun tinggal di Singapura, selalunya bahasa Bawean yang dipergunakan. Ingin bukti? secara fasih Kak Ros berbahasa Bawean tanpa canggung.

Selain itu, setelah sukses sebagai juri di Indosiar, Kak Ros mengaku sudah banyak dihubungi penggemarnya yang berasal dari Pulau Ba- wean. Mereka menginginkan Kak Ros segera pulang ke kampung halaman buyutnya. Termasuk warga Singapura juga ramai berpesan agar hasilnya pulang kampung nanti untuk dipublikasikan.

Melalui kesuksesan yang telah diraihanya dalam dunia dangdut, Kak Ros berjanji nantinya setelah pulang dari Pulau Bawean akan mengenalkan kepada banyak orang tentang keindahan Pulau Bawean. “Apalagi saya sangat suka keindahan pantai seperti di Pulau Bawean,”ungkapnya.

Selama 3 hari di Pulau Bawean, Roslina Musa akan mengunjungi banyak obyek wisata di Pulau Bawean. Diantaranya hari pertama berkunjung ke Penangkaran Rusa Bawean dan Jherat Langjheng.

Kedatangan Rosalina Musa yang pertama kali datang ke Pulau Bawean disambut meriah di Pelabuhan Bawean. Antraksi pencak silat digelar menyambut kedatangan artis asal Singapura yang berdarah Pulau Bawean. (bst)

Sosialisasi Kartu Gresik Sehat di Bawean



Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik menggelar sosialisasi Kartu Gresik Sehat (KGS). Sosialisasi digelar di kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak yang dihadiri seluruh kepala desa, Kamis (28/ 4). “Pelaksanaan KGS dengan menggandeng BPJS,” kata Kepala Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Dinkes Gresik, Dyah Rusti Ari.

Dijelaskannya, saat ini masih dalam proses verifikasi penerimanya. Ini agar tidak tumpang tindih dengan program Kartu Indonesia Sehat. “Jadi Kartu Gresik Sehat mengcover bagi warga kurang mampu yang tidak masuk KIS,”ujarnya.

Penanganan KGS seluruhnya ditangani oleh BPJS, jadi pemerintah daerah menyerahkan sepenuhnya kepada BPJS.

Walaupun ada KGS, untuk SPM (Surat Pernyataan Miskin) tetap berlaku. “Sesuai perintah Bupati Gresik untuk SPM tetap diberlaku- kan,”paparnya.

Selain sosialisasi, Dinkes Gresik memastikan Pulau Bawean mendapatkan jatah rumah tunggu untuk ibu melahirkan. (bst)

Koramil Sangkapura Gelar Sergap Petani



Jajaran TNI tak main-main dalam mengontrol dan mengawasi sektor pangan. Pada musim panen ini, dilakukan operasi Sergap atau serapan gabah petani. “TNI memastikan hasil panen petani diserap, tidak dipermainlkan tengkulak,” kata Komandan Koramil Sangkapura Kapten Inf Ahmad Salami.

Pada program ini komando Rayon Militer (Koramil) 17 Sangkapura kerahkan seluruh pasukan membantu target serapan gabah petani (Sergap) ke desa di kecamatan Sangkapura. Sejak musim panen, seluruh anggota koramil aktif terjun langsung ke sawah membantu petani, serta turut serta menjemur padi.

Ahmad mengatakan sesuai intruksi Panglima TNI, selama musim panen turut serta membantu petani dengan melakukan serapan gabah petani (sergap).

Selama berbaur bersama petani, melakukan pendataan hasil panen serta menyerap seluruh aspirasinya. Diantaranya keluhan yang selama ini dihadapi oleh petani.

Lebih lanjut Ahmad menjelaskan bahwa hasil pertanian di Pulau Bawean cuma dibuat konsumsi sendiri. “Tidak seperti di Pulau Jawa, hasilnya untuk dijual lagi kepada Bulog,”ujarnya.

Soal musim tanam tahun ini, tidak ada permasalahan bagi para petani. “Hanya hasilnya berkurang disebabkan hasil tanam padi banyak yang kosong buahnya,”paparnya. (bst)

Produk Unggulan dari Pulau Bawean Laris Manis




Selain mengirim kafilah, Pulau Bawean menyuduhkan berbagai keunggulan produk lokal. Responnya sangat menggembirakan.

DI arena MTQ yang berlangsung di Kecamatan Manyar, delegasi Kecamatan Sangkapura dan kecamatan Tambak memamerkan produk unggulan, seperti anyaman tikar, krupuk, dan gula merah.

Dewi Latifah isteri Camat Sangkapura mengatakan seluruh barang yang dipamerkan laris manis dibeli pengunjung. “Krupuk yang paling laris,”katanya.

Ternyata produk unggulan dari Pulau Bawean banyak diminati oleh warga Gresik. Terbukti krupuk laris manis diborong oleh pengunjung pameran.

Selain itu, stand pameran kecamatan Tambak juga ramai dikunjungi pada malam pembukaan MTQ di Manyar. Narto Camat Tambak menyatakan produk unggulan dari Pulau Bawean yang dipamerkan banyak dibeli pengunjung. “Produk unggulan seperti krupuk yang diminati oleh warga Gresik,”paparnya.

Dari Arena MTQ, dilaporkan bahwa salah satu kafilah asal kecamatan Tambak kembali pulang sebelum bertanding sehubungan kondisi sakit.”Sakit mag yang dideritanya kembali kambuh,”paparnya. (bst)

Berlibur ke Pulau Bawean, Menginapnya di Hotel Sahabat



Pulau Bawean telah berkembang menjadi destinasi wisata menarik di Indonesia. Sejak dibukanya penerbangan Surabaya – Pulau Bawean, kunjungan wisatawan ke pulau eksotis ini cukup banyak. Peluang inilah yang ditangkap Hotel Sahabat, dengan menyediakan akomodasi yang setara hotel berbintang.

Hotel Sahabat berlokasi di jantung Pulau Bawean, yakni Jalan Umar Mas'ud, kecamatan Sangkapura. Letaknya berdekatan dengan padar Sangkapura, perbankan, dan ATM, dan warung makan. Hotel ini memiliki 14 kamar terdiri atas 8 kamar kelas VIP dan 6 kamar kelas ekonomi. Ukuran besar kamar rata-rata 6 x 3 meter. Setiap kamar mempunyai warna berbeda, termasuk desain atap terlihat berlainan.



Adapun fasilitas didalam kamar, terdiri dari meja, kursi, almari, tempat pakaian dan cermin rias dari kayu jati. Tempat tidur yang nyaman dan kamar mandi shower dengan desain yang menarik. Setiap kamar dilengkapi TV dengan 55 channel dan free WiFi untuk akses internet.

“Yang membedakan kelas VIP dengan ekonomi adalah pendingin. Untuk VIP dilengkapi AC berkapasitas 1 PK. Seemntara untuk kelas ekonomi menggunakan kipas angin,”kata Ir.H. Syariful Mizan, Pemilik Hotel Sahabat.



Dijelaskan, selain kamar, hotel ini menyediakan meeting room dengan ukuran 8 x 10 meter. Untuk tamu yang menginap mereka akan mendapatkan sarapan pagi untuk 2 orang setiap kamar, serta air panas dilengkapi kopi dan teh. Untuk melengkapi kebutuhan pengunjung, di lantai bawah tersedia mini market Sahabat.

“Kami sengaja menghadirkan hotel menarik di Bawean. Sebab, kami ingin turut serta memajukan pariwisata di Pulau Bawean,”kata Mizan seraya mengatakan, dengan hotel ini dia berharap bisa memberikan pelayanan terbaik, serta kenyamanan kepada seluruh pengunjung, termasuk wisatawan. (bst)



" Eson Terro Tai"



Oleh : Drs. H. Abdul Khaliq (Guru SMA Islamiyah Bawean)

Pangapora! Hati-hati! Jangan seenaknya menerjemahkan bahasa daerah Jawa ke dalam bahasa daerah Bawean secara bulat-bulat! Jika tidak berhati-hati, maknanya akan berbeda, maknanya tidak akan sesuai dengan pesan penuturnya.Bisa jadi, yang mendengarnya akan menertawakannya. Dengan kata lain, kalimatnya menjadi kalimat yang tidak efektif.

Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa baik ejaan maupun tanda bacanya sehingga mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya.

Kalimat efektif itu mampu menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pendengar atau pembacanya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis atau penuturnya..

Judul di atas adalah sebuah contoh kalimat yang tidak efektif. Kalimat judul di atas adalah bermula dari penutur suku Jawa yang menerjemahkan bahasa Jawa ke dalam bahasa Bawean secara bulat-bulat.

(1) Aku arep ngising.
Menjadi:
"Eson terro tai".
Maknanya
berbeda,bukan?

Kalimat (1) di atas kasusnya sama dengan kelimat berikut:
(2) Eson terro kemme.
(3) Eson terro copa.
(4) Eson terro beto'.
(5) Eson terro lajer.

Bahasa Bawean adalah salah satu bahasa yang menegenal afiksasi : awalan, akhiran, gabungan awalan dan akhiran, serta sisipan pada kata dasar tertentu.

Bila kita menghendaki kata kerja (verba) yang bermakna "ingin, atau akan" (terro) , kita cukup menambahkan awalan a- dan akhiran -a pada kata dasarnya.

Ramusnya: (a- D -a)

a- = awalan
D = kata dasar
-a = akhiran

Contoh :
tai = atayya ( akan membuang hajat)
kemme = akemmea (akan berkencing)
jhemmor = ajhemmora (akan berjemur)

Perbaikan pada kalimat pada kalimat (1) agar menjadi kalimat efektif adalah sbb.:
(1) Eson terro atayya.
Arti: Saya ingin membuang hajat.
Kalimat (1) di atas kasusnya sama dengan kelimat berikut:
(2) Eson terro kemme.
(3) Eson terro copa.
(4) Eson terro beto'.
(5) Eson terro lajer.

Perbaikan kalimat di atas adalah:
(2) Eson terro akemmea.
(Saya ingin berkencing)
(3) Eson terro acopa-a.
(Saya ingin meludah)
(4) Eson terro abeto'-a.
(Saya ingin berbatuk)
(5) Eson terro alajera.
(Saya ingin berlayar)

Jika kata dasarnya berawal dengan vokal a, e, o kita cukup menambahkan akhiran -a saja ( tanpa awalan), setelah kata dasarnya mengalami nasalisasi.
Contoh:

enom » ngenom (minum)
abes » ngabes (melihat)
oca' » ngoca' ( berbicara)


Perhatikan kalimat:
(7) Eson terro ngenoma.
(Saya ingin minum)
(8) Eson terro ngabesa.
(Saya ingin melihat).
(9) Eson terro ngoca'a.
(Saya ingin berbicara).

Ada juga kata bentukan berawalan a- yang bermakna 'ingin, akan' yang tidak harus mengalami nasalisasi , seperti pada kata:
tedung » tedunga ( ingin tidur, akan tidur)
robbhu » robbhua ( ingin roboh, akan roboh)

Setelah pembaca membaca artikel pendek ini, pembaca bisa menegur dengan santun dan memberi alasan proses morfologi kata tersebut kepada penutur yang masih berucap: "Eson terro tai!"

Setidaknya, pembaca dapat mengarahkan 'keinginan' penutur bahasa Jawa yang menerjemahkan bahasa Jawa ke dalam bahasa Bawean secara bulat-bulat itu ke arah yang positif : dari kalimat "Eson terro tai" ke kalimat "Eson terro atayya!" Pembaca setuju?

Kak Ros D’Academy Pulang Kampung ke Bawean



Rosalina Musa atau lebih di kenal Kak Ros pulang kampung ke Bawean. Juri D Academy Asia ini merupakan artis penyanyi dangdut Singapura. Bahkan Kak Ros lebih populer sebagai ratu dangdut Singapura.

Kak Ros pulang kampung lantaran leluhurnya berasal dari Pulau Bawean. “Kak Ros berada di Bawe- an“mulai 28-30 April 2016,” kata Pimpinan Bawean Tourism Musyayana.

Bawean Tourism sengaja memilih Kak Ros sebagai duta wisata. Diharapkan akan membantu mempromosikan wisata Bawean di Singapore. Mengingat masih banyak warga keturunan Bawean disana yang masih enggan berkunjung ke Bawean.

”Selama di Pulau Bawean, Kak Ros akan mengeksplore destinasi wisata Pulau Bawean,” jelasnya.

Khusus tanggal 29 April 2016, Bawean Tourism akan menyiapkan panggung budaya di Alun-Alun Sangkapura.

Di panggung ini Kak Ros akan diminta untuk menyumbangkan beberapa lagu untuk menghibur warga Bawean. Termasuk lagu Laobe, lagu bahasa Bawean dimana Kak Ros sempat menyanyikan lagu ini di ajang D’Academy Dangdut Asia.

Kehadiran Kak Ros di Bawean ini diharapkan menjadi magnet bagi wisatawan. Bawean akan semakian banyak dikenal oleh orang Indonesia sendiri. “Semakin banyak warga keturunan Bawean di Singapore yang mau berkunjung ke Bawean,”pungkasnya. (bst)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean