Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Peran Orang Bawean Dalam Membina Islam Di Western Australia

Peran Orang Bawean Dalam Membina Islam Di Western Australia

Posted by Media Bawean on Senin, 04 Agustus 2008

Media Bawean, 4 Agustus 2008

Oleh: A. Fuad Usfa
(bagian 3)

3. Jalur Masuk Orang Bawean ke Daratan Australia
Orang-orang Bawean memasuki Daratan Australia diparuh dekade VII abad XX. Mereka masuk daratan Australia melalui pulau Krismas, dan mereka masuk ke pulau krismas melalui Singapura.
Pulau krismas adalah sebuah pulau dengan luas sekitar 135 km2, terletak di samudra Indonesia, sekitar 500 km di selatan Jakarta dan 2.360 km di sebelah barat daya Perth Australia Barat. Iklimnya masuk dalam iklim tropik. Kapten William Mynors menamakan pulau tersebut dengan pulau Krismas sebagai kenangan awal mula ia bersama kapal Royal Mary dari East India Ship Company sampai di pulau tersebut, yaitu bertepatan dengan hari natal (christmas), 25 Desember 1645.

Kawasan pemukiman terdapat di ujung utara, antara lain Flying Fish Cove, Bandar Silver, Kampong, Poon Saan, dan Drumsite.

Pada tahun 1888 Clunies-Ross Brothers mendirikan usahamengumpulkan kayu balok dan pengumpulan untuk industri di Flying Fish Cove, setelah sebelumnya menguasai kepulauan Keeling atau yang dikenal pula dengan nama kepulauan Kokos. Disebut Keeling oleh sebab orang yang pertama menemukan kepulauan tersebut bernama Kapten William Keeling, yaitu pada tahu 1609. Adapun disebut kokos (asal kata, coconut), oleh sebab tumbuh kelapa di serata kepulauan tersebut. Untuk mengembangkan usahanya Clunies Ross melalui Alexander Hare mendatangkan tenaga kerja antara lain dari Bali, Bima, Sulawesi, Madura, Sumbawa, Timor, Sumatra, Batawi dan Cirebon. Tahun 1857 kepulauan ini berada di bawah kekuasaan Inggris, yang pada tahun 1867 diletakkan di bawah Singapure. Setelah kejatuhan Singapura ke tangan Jepang pada tahun 1942 kepulauan Kokos diletakkan di bawah Sri Langka, yang selanjutnya dpada tahun 1946 dikembalikan lagi pada Singapura. Pada 23 Nopember 1955 kepulauan Kokos ini dipindahkan di bawah kekuasaan Australia. Interaksi antara orang-orang Kokos dan orang-orang Bawean baru terjadi setelah orang-orang Kokos datang dan menetap di pulau Krismas dan berlanjut setelah mereka pindah ke daratan Australia.

Kembali pada pokok bahasan tentang pulau Krismas, pada tahun 1887 dilakukan penelitian tentang potensi sumber daya alam. Penelitian terhadap bebatuan dikirim ke Sir John Murray untuk diteliti lebih lanjut, dari situ diketahui terdapat banyak kandungan fosfat. Tidak lama

setelah itu dilakukan penambangan fosfat oleh Clunies-Ross. Sebagai tenaga kerja dari pertambangan itu didatangkan pekerja-pekerja dari Singapura, Cina dan Malaysia. Dari situlah bermula datangnya orang-orang etnik Cina dan Melayu. Orang-orang Bawean yang sebelumnya telah settle di Singapura termasuk diantara mereka.

Pada tahun 1915 H. Mukri yang biasa juga dipanggil pak Ay telah menjadi Kepala Kampung (melayu), sekaligus juga sebagai Imam. Baliau adalah keturunan Bawean asal Desa Lebak Kecamatan Sangkapura. Fungsi Imam adalah membina Mesjid, mengajar agama bagi anak-anak khususnya, dan ummat islam umumnya,memimpin ritual-ritual keagamaan, ceramah-ceramah agama, manikahkan dan lain-lain yang berhubungan dengan bidang keagamaan. Di samping itu H. Mukri juga diberi hak untuk merekomendasi orang-orang yang hendak bekerja di pulau Krismas, bilamana kompeni membutuhkan.

Pada tahun 1939 Mohammad Isa bin Sulaiman berangkat ke pulau Krismas melalui Singapura. Ia berasal dari Perak Malaysia, bersamanya terdapat 6 orang keturunan Bawean asal Desa Lebak, yaitu H. Mahmud, H. Hefni, H. Subadar, H. Rusdi, H. Dahlan, dan H. Maksum.

Pada tahun 1944 H. Mohammad Isa bin Sulaiman menikah dengan Hj. Sumriyah bin H. Ismail yang juga keturunan Bawean asal Desa Lebak, Hj. Sumriyah lahir di pulau Krismas. Dari pernikahannya itu dikaruniai 13 anak, diantaranya 1 di Singapura sedang yang 12 di Daratan Australia (WA). Salah seorang yang bernama Zulkifli menikah dengan Khamisah, salah seorang anak daripada H. Gazali keturunan orang Bawean asal dusun Gunung-gunung Desa Patar Selamat, yang istrinya juga dari dusun yang sama, tapi kelahiran Singapura, bernama HJ. Salmah, masuk pulau Krismas pada tahun 1962. Bersamaan dengannya terdapat dua orang keturunan Bawean asal Desa Lebak, yaitu H. Safri dan Ahmad Sarbini. H. Gazali masuk daratan Australia pada tahun 1982. H. Ismail wafat di Makkah saat usai menunaikan ibadah haji.

Saat H. Mukri pulang kampung, Kepala Kampung digantikan oleh H. Husain bin Mat, ia berasal dari Malaka-Malaysia, adapun wakilnya adalah H. Mohammad Isa bin Sulaiman. Pada masa ini H. Husain meminta kepada kompeni agar diangkat Imam, dan di masa ini terdapat beberapa imam, diantaranya adalah H. Hefni, ia adalah keturunan orang Bawean asal Desa Lebak. Di saat H. Hefni sakit, maka ia memilih untuk pulang kampung. H. Hefni ini banyak mengajar agama terhadap orang-orang Kokos.

Sekitar 1960 H. Husain bin Mat pulang kampung, dan sebagai penggantinya adalah H. Mohammad Isa bin Sulaiman. Setelah H. Mohammad Isa bin Sulaiman pindah kedaratan Australia di tahun 1977, kepala kampung dijabat oleh Saleh bin Harun asal Malaka-Malaysia. Sebelum tahun 1977 telah terdapat orang-orang keturunan Bawean yang berdomisili di pulau Krisma pindah ke daratan Australia. Pada tahun 1975 Gani Majid bersama adiknya Puad Majid telah mula pindah ke daratan Australia, Gani melanjutkan sekolahnya di Perth, yaitu di Wembley Technical School. Selepas itu ia bekerja di daratan Australia hingga sekarang. Gani menikah dengan Rabi'ah binti abdul Aziz keturunan India kelahiran Singapura pada tahun 1985.

Selepas tahun 1975 banyaklah orang-orang Bawean di pulau Krismas pindah ke daratan Australia (Australia Barat). Bererapa orang tua yang pindah sekitar 1976 antara lain adalah H. Miftah, H. Marzuki, H. Majid, H. Dafir, H. Zuhdi alias H. Guppan, H. Mashud, H. Mabi, H. Syafri, H. Syaifi, H. Dafir , H. Mu'in dan H. Husni. Keturunan-keturunan mereka sebagian besar berdomisili di daratan Australia, hanya 'satu dua' saja yang tinggal di Singapura dan/atau di pulau Krismas.

Jadi sejak paruh dekade 70an itu orang-orang Bawean yang tinggal di pulau krismas mulai banyak yang pindah ke daratan Australia. Diantara mereka ada juga yang ke Singapura, namun tak lama kemudian juga pindah ke daratan Australia via Singapura. Disamping itu terdapat pula yang masuk daratan Australia langsung dari Singapura, seperti Yohana keturunan Bawean asal Desa Daun serta juga Suhaimi, tapi tidak banyak dan bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Atas dasar realitas sebagaimana di gambarkan di atas, maka dapatlah dipahami bila diantara mereka menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.

Baru setelah memasuki paruh dekade 80an mulai terdapat orang-orang Bawean yang masuk daratan Australia dari jalur selain tersebut di atas,namun dari mereka itu tidak terlepas dari keberadaan keturunan orang-orang Bawean dari pulau Krismas, dalam arti terdapatnya hubungan perkawinan dan/atau keluarga, seperti antara lain H. Gufran Yusuf, Khairuddin Baharuddin, H. Abdul wahid Jufri, pada dekade 80an, Nursyidah, Jamal Siraj, Badrun Akhwan,Manarul 'Aini, pada dekade 90an serta memasuki akhir tahun 2007 antara lain A. Fuad Usfa.

Hingga saat ini belum ada data yang mencatat berapa jumlah keturunan orang Bawean di daratan Australia, khususnya Australia Barat, diperkirakan terdapat tidak kurang dari 500 keturunan orang Bawean terrmasuk dari perkawinan campur dengan keturunan orang melayu, Kokos, Jawa, India, Arab, Eropa, dan sebagainya.

Diantara keturunan mereka yang lahir di Singapura dan Pulau Krismas sudah tidak lagi bisa berbahasa Bawean, bahkan yang lahir di daratan Australia tidak bisa pula berbahasa Melayu, walau mereka mengerti.

SHARE :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean