bawean ad network
pemilu
bank jatim
TERKINIindex

Telepon Dari Negeri Jiran

Media Bawean, 11 November 2008

Tadi malam kami menerima telepon dari teman lama di Malaysia, intinya teman mengeluh dengan nasib buruknya di negeri Jiran dengan banyaknya hutang yang harus dibayarkan. Sedangkan penghasilan dari bekerja kian menurun, seiring dengan keterpurukan ekonomi yang ada. Mereka meminta kami agar berusaha mencarikan nomor (togel) di daerah Jawa untuk dibeli disana. Dengan membeli nomor, maka nantinya hutang yang ditanggungnya akan lunas total.

Penyakit utama orang Bawean dirantau adalah suka membeli nomor, itupun tidak kesemuanya suka membeli. Sebagian besar dari mereka masih memiliki benteng keimanan yang sangat kuat. Tapi anehnya nomor adalah suatu hal yang dianggap biasa, jadi topik pembicaraan umum warga disana setelah sore hari pulang dari kerja. Atau saat malam hari, sedang santai bersama. Bahkan bila bangun tidurpun ditanya mimpi apa semalam.

Bila menelaah keberhasilan dari membeli nomor, adakah kesuksesan orang Bawean dari hasil pembelian nomor? Justru menurut info yang kami terima, justru orang yang pernah dapat nomor, setelah itu akan lupa daratan dan tanpa kontrol untuk membeli dan terus membelinya sampai seluruh aset yang dimiliki sampai habis.

Seandainya warga Bawean disana memiliki suatu perkumpulan khusus untuk memberikan penyadaran, mungkin sedikit banyak akan bisa sadar bahwa membeli nomor bukanlah suatu kemaslahatan untuk hidup.
Adakah dari tokoh Bawean disana yang melakukan gerakan penyadaran kepada saudara kita, agar bisa kembali kejalan yang benar dan lepas dari ketegantungan dari beli nomor. (bst)

BKD Konfirmasi Dengan Camat Sangkapura

Media Bawean, 10 November 2008

Persoalan kantor kecamatan Sangkapura yang tutup jam 13.30 WIB, kemarin (8/11) Media Bawean menghubungi Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Gresik Drs. Kuwadijo, MM. via ponselnya. Menurutnya, "Jam kerja PNS Pemkab Gresik mulai jam 07.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB." katanya.

"Jika di kantor Sangkapura tutup jam 13.30 WIB, kami akan konfirmasi dengan Camat Sangkapura dan itu tidak benar," ujar Kepala BKD Pemkab Gresik. (bst)

Si Kecil Ambil Kayu Bakar Ditengah Hutan

Media Bawean, 10 November 2008

Si Kecil Ambil Kayu Bakar

Saat Media Bawean akan ke Tambak untuk mencari berita, sampai dijalan atas Dekatagung tepat ditengah hutan. Dikejutkan dengan dua anak kecil sedang mengambil kayu bakar.

Melihat dua anak, kami berhenti dan bertanya
"Bede dimma eppak dan emmakna?
Sikecil menjawab "Bede dissan jeuh," katanya.
"Ngellem epotrek?" kataku,
Si kecil menjawab, "Siapa Takut?

Pahlawan Kesiangan

Media Bawean, 10 November 2008

Sumber : ANTARA Sumut

Irwansyah, Dosen Fakultas Sastra USU

Sebuah instansi mengadakan sayembara penulisan dalam rangka Hari Pahlawan. Karena jelas dalam rangka apa, tentu bertemakan kepahlawanan, yaitu “Penanaman Nilai-Nilai Kepahlawan”. Hadiahnya juga menggiurkan. Tidak cuma kertas yang lazim disebut piagam penghargaan, ada kertas yang lain. Kertas itu sering membuat mata orang jadi ijo bahkan bisa gelap mata, kertas berharga yang disebut dengan duit. Artinya, para pemenang mendapat dua macam kertas sekaligus, piagam plus jutaan rupiah.

Jelas saya tergiur. Saya mau ikut sayembara. Mulai saya berpikir apa yang mau saya tulis. Mulailah saya berjalan dengan pikiran. Tepatnya bukan hanya sewaktu berjalan, juga saat berkenderaan dan makan. Otak terus berputar mencari bahan tulisan. Waktu penutupan kian mepet. Bahan tulisan belum juga ada yang pas di hati. Biasanya kalau terpikir terus akan terbawa mimpi. Saya berdoa agar waktu tidur datang mimpi. Selama ini bukankah sering terdengar ide datang bersama mimpi. Ada yang bilang ketiban wangsit. Banyak orang yang tadinya biasa-biasa saja, tahu-tahu mendadak sontak jadi terkenal bisa mengobati segala macam penyakit, mulai dari jasmani sampai rohani. Bisik-bisik yang sampai ke telinga beliau menjadi dubes (dukun besar) karena dapat mimpi. Bukan mimpi basah, tetapi rezekinya yang tadinya kering sekarang basah.

Setiap bangun pagi saya disambut rasa kesal. Tidak ada mimpi. Sekarang saya mulai berjalan dengan pikiran bersama kesal. Tiba-tiba saja kesal saya bertambah karena saya melihat seseorang di kejauhan. Soalnya, seseorang itu meminjam buku saya yang sudah lama sekali tidak dikembalikannya. Dalam soal pinjam-meminjam buku bukankah ada falsafah “gilalah orang yang mau meminjamkan buku.”, tetapi “lebih gila bila mengembalikan buku yang dipinjam”. Sambil berpikir siapa yang gila saya coba menghindar darinya supaya kesal saya tidak berubah jadi marah. Tahunya malah dia mendatangi saya. Kaget saya, tetapi belum sempat marah. Ia mengembalikan buku yang telah bertahun-tahun dipinjamnya itu. Buku itu berjudul Tegak Lurus dengan Langit kumpulan cerpen Iwan Simatupang.
Malamnya, untuk merayakan kembalinya si buku yang hilang, buku kumpulan cerpen itu menemani saya di ranjang. Salah sebuah cerpen Iwan berjudul “Oleh-Oleh untuk Pulau Bawean” saya ingat bercerita tentang pahlawan. Cerpen itu kembali saya baca ulang sembari tiduran.
Inilah ceritanya.
Beberapa sampan merapat di Pulau Bawean. Orang-orang berkerumun ingin melihat mereka yang baru kembali dari Jakarta. Seorang tua, rambutnya hampir putih semua, paling banyak dikerumuni.
Dia pun bercerita. Tentang Jakarta. Tentang Kalibata, tempat Harun prajurit KKO asal Bawean yang digantung pemerintah Singapura, dimakamkan.
“Semua bermata basah. Ya, jenderal, ya mahasiswa, ya wanita berkerudung, ya pastor berjubah putih, ya ustadz berkain sungkit. Ah! Sungguh bangga aku berasal dari Pulau Bawean. Aku, kami semuanya bangga. Bangga telah mempunyai saham dari Pulau Bawean ini di Kalibata yang megah itu.”
Kemudian.
“Dan kalian… bila masih mau mendengarkan kata-kata seorang tua seperti aku ini: dengarlah baik-baik pesanku ini! Jadikan pulau kita penghasil 1000, ya, sejuta Harun untuk tanah air kita! Tanamkan baik-baik tindak dendam kesumat algojo-algojo di Singapura itu dalam sanubari kalian, anak-anakku. Ayo, belajar! Ayo, bekerja! Kita membalas dendam pada mereka dengan mengikuti jejak si Harun di bidang kita masing-masing. Itulah oleh-oleh yang mampu aku bawa dari Jakarta, anak-anakku….”
….
Sebuah warung reot kecil, di pinggir Jalan Pasar Minggu, menuju Kalibata. Beberapa anak setengah telanjang dengan mata bulat memperhatikan iring-iringan yang lewat.
“Siapa yang diusung, Man?”
“Tentunya pahlawan.”
“Pahlawan dari mana?”
Seorang penjual jambu klutuk menaruh pikulannya dan menjawab, “KKO. Mereka dibunuh orang-orang Singapura.”
….
Tak berapa lama kemudian, dari Kalibata terdengar letusan sekian senapan ditembakkan sekaligus. Aba-aba yang mendahuluinya terdengar pilu sekali, menyayat udara yang dihirup sekian ratus ribu manusia yang berkabung.
….
“Dan pahlawan-pahlawan kita ini berasal dari mana?”
“Dari tanah air kita ini, Jang! Asal-usul mereka mungkin seperti kau-kau ini juga. Lari-lari setengah telanjang semasa kecil, pernah nyolong mangga dan nyuitin gadis-gadis yang lewat. Anak-anak rakyat! Kemudian mereka memutuskan jadi prajurit, yang kemudian menjadi dalih resmi mereka untuk diusung ke Kalibata sini.”
Tak lama kemudian, iring-iringan kembali dari arah Kalibata. Mereka melihat banyak mata yang merah sekali.
“Itu wanita-wanita dan orang-orang yang di mobil mewah itu, siapa?”
“Itulah keluarga pahlawan-pahlawan nasional kita itu. Orang tua, handai-tolan, pacar mereka. Orang-orangnya, ya, macam kita-kita ini juga.”
Tiba-tiba Maman, bocah 6 tahun, setengah telanjang, berteriak,”Aku juga nanti mau jadi pahlawan!”
Tak seorang menyahut. Penjual jambu klutuk menggeleng saja. Disandangnya pikulannya kembali, membawa beberapa buah jambu klutuk yang tak terjual habis pulang ke rumahnya. Beberapa buah diberinya pada si calon pahlawan yang setengah telanjang itu.
“Nih! Makanlah jambu ini. Dan…makanlah yang kuat, ya? Supaya lekas besar, supaya kau lekas jadi pahlawan…”

Ia sendiri menganggap ucapannya itu hambar. Tetapi pikirannya, tidakkah hidup yang suram menjadi ringan, bila saja masih ada dari bangsa kita yang benar-benar mau seperti anak setengah telanjang itu?
Rasa kantuk perlahan mulai merayapi saya. Saya ingat. kita mengenal banyak pahlawan. Amir Hamzah, bangsawan Langkat bergelar “Raja Penyair Pujangga Baru” dan Sisingamangaraja XII bergelar Pahlawan Nasional. Jenderal Ahmad Yani dan para jenderal korban keganasan Gestapu/PKI tahun 1965 di Lubang Buaya disebut Pahlawan Revolusi, Pahlawan Seroja, yaitu yang berjuang di Timtim. Para TKI kita yang mengadu nasib di mancanegara yang tidak sedikit bernasib tragis dielu-elukan sebagai Pahlawan Devisa. Para guru yang masih banyak bernasib seperti Umar Bakrinya Iwan Fall dan Bu Muslimahnya Laskar Pelangi menyandang gelar Pahlawan Tanpa Tnda Jasa.

Saya seorang guru (belum besar) di fakultas sebuah universitas negeri. Kalau begitu saya juga pahlawan walaupun tanpa tanda jasa. Kantuk saya pun sempurna. Saya tertidur dengan hati berbunga.
Esoknya. Saya bangun kesiangan. Saya ingat-ingat. Saya juga pahlawan. “Pahlawan” kok “kesiangan”? Gak papa, asal jangan “Pahlawan Kesiangan”.

TMI, 5 November 2008

Irwansyah, Dosen Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU)

Pawai Budaya Nusantara IKBB Di Batam

Media Bawean, 9 November 2008

Foto Dan Video Kiriman Bang Senin Di Batam






Menjenguk Korban Ledakan Perahu Di RS Bunder

Media Bawean, 9 November 2008

Ali (52 Th.) Sekujur Tubuhnya Habis Terbakar

Zubaidi,SH. Menunjuk Cincin Akik Yang Sulit Dilepas Dari Jari Ali

Zubaidi Sedang Mengipas Pamannya Ali

Zubaidi Sedang Mengipas Pamannya Ali

Syamsu Sedang Dikipas Isterinya

Syamsu Sedang Dikipas Isterinya

Menjeguk korban ledakan perahu Al Amin di Lamongan kemarin (6/11) sangatlah tragis dan korbannya luka bakar sekujur tubuhnya. Saat Media Bawean menjenguk di RS Ibnu Sina Bunder (9/11) nampak keluarga sedang sibuk mengipas kedua korban Ali dan Syamsu.

Menurut Ali mengatakan, "Ledakan bersumber dari botol tomat dan saya hilang kesadaran saart terjadi ledakan," kata Paman Zubaidi, SH.

"Kami merasa beruntung ledakan tersebut tidak sampai menyambar minyak dalam perahu," ujar Ali.

Yang membuat aneh keduanya yaitu api padam dengan sedirinya tanpa ada yang memadamkannya. Sementara luka Ali sekujur tubuhnya, sedangkan syamsu lebih parah karena terkena dalam kepalanya.

Melihat kondisi kedua korban, sudah selayaknya dapat tanggungan perawatan sepenuhnya oleh pemilik perahu ataupun dapat bantuan dari pemerintah melalui askeskin. Mengingat kondisi perekonomian keduanya masih sangat kekurangan. (bst)

Pemberangkatan Jamaah Haji Bawean

Media Bawean, 9 November 2008

Penghantar Jamaah Haji Di Dermaga Sangkapura

Pemberangkatan jamaah haji dari Bawean - Gresik mulai hari ini (9/11), dan puncaknya pada 13 November 2008. Menurut Nyai Hj. Azizah dari KBIH Muslimat Bawean, mengatakan "Untuk chek up jamaah haji asal Bawean pada hari jum'at (14/11) di RS Ibnu Sina Bunder Gresik,"katanya.

"Pemberangkatan dari Gresik menuju asrama haji Sukolilo tanggal 18 Nevember dan penerbangan ke Arab Saudi tanggal 19 November 2008," ujarnya Nyai Hj. Azizah.

"Sedangkan jamaah asal Bawean yang tergabung dalam KBIH Muslimat sebanyak 44 orang dengan Kloter 44," ucap Ketua PC. Muslimat NU Bawean. (bst)

KH. Zaini Ismail Meninggal Dunia

Media Bawean, 9 November 2008

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun
Telah berpulang kerahmatullah tokoh figur sentral Pulau Bawean dan Anggota A'wan PCNU Bawean, KH. Zaini Ismail (60 th) adik kandung KH. Aziz ismail desa Diponggo Tambak Bawean, Jam 14.00 WIB, hari Rabu, 8 November 2008.

KH. Zaini Ismail meninggal dunia dengan menderita sakit diabetes (kencing manis), stroke, jantung (penyakit komplikasi). Beliau masuk rumah sakit di Surabaya, Malang dan Gresik dan kemarin dibawah pulang ke Bawean. Saat perjalanan ke Desa Diponggo, jam 14.00 WIB (7/11), beliau meninggal dunia di Pamona Desa Sidogedungbatu. Beliau meninggalkan satu isteri, dengan 6 anak.

Media Bawean ikut berduka cita dengan wafatnya KH. Zaini Ismail. Semoga amal kebaikan Beliau diterima disisi Allah SWT. dan dosa-dosa Beliau mendapat ampunan dari Allah SWT. (bst)

Pasar Kepuhteluk Akan Dieksekusi

Media Bawean, 8 November 2008

Toko Haris Di Kepuhteluk

Toko Haris Di Kepuhteluk

Eksekusi pasar dan toko di Kepuhteluk akan dilaksanakan hari rabu (12/11), yaitu toko yang ditempati oleh Haris dan Hj. Khofifah, serta pasar yang dimiliki oleh Hatta. Eksekusi dilakukan setelah Wari memenangkan ditingkat Mahkamah Agung.

Kapolsek Tambak,Kapolsek Tambak, AKP Dedy Iskandar saat dihubungi Media Bawean via ponselnya mengatakan, "Benar hari rabu jam 08.00 WIB ada eksekusi di Pasar Tambak yang melibatkan Polsek Tambak, Polsek Sangkapura dengan Koramil," ujarnya.

"Kita akan berjaga-jaga mulai jam 08.00 WIB, persoalan keputusan eksekusi kita mengikuti pembacaan dari pengadilan," kata Kapolsek Tambak.

Ahsanul Haq selaku keluarga dari Hj. Khofifah menyatakan keberatan untuk pelaksanaan eksekusi, dengan alasan yang tergugat adalah h. Hamim. "Sebenanrnya ahli waris yang berhak digugat adalah Hj. Khofifah. Kalau H. Hamim tidak ada hubungan dengan ahli waris dengan tempat yang akan dieksekusi" ujarnya.

"Demikian dengan Haris, sebenarnya yang berhak digugat adalah istrinya Uswah, bukan haris. Sebab Haris hanya sebagai suami, bukan yang berhak atas ahli waris tersebut. Maka untuk pelaksanaan eksekusi hari rabu kami mohon ditunda sampai proses hukum yang dilakukan Hatta mendapat keputusan, " kata Ahsanul Haq.

Dalam keputusan MA yang digugat adalah penyewa dan yang menempati pasar, sehingga Hatta selaku pemilik melakukan gugatan balik dengan akan dieksekusi Pasar desa Kepuhteluk.


Pasar Kepuhteluk Yang Akan Dieksekusi, Digugat Hatta

Kepala Desa Kepuhteluk, Amar, mengatakan, " Kami keberatan untuk dieksekusi dengan banyak permasalahan orang memiliki SPTD dan petok tidak digugat. Justru yang digugat adalah penghuni atau penyewa, bukan ke pemilik Hatta" ujarnya.

"Harapan kami eksekusi dilakukan sampai proses hukum yang dilakukan oleh Hatta mendapat keputusan dari pengadilan," ujar Amar.

Saat ditanya surat pemberitahuan kepada Kepala Desa, Amar, menjawab "Kami sudah merima surat dari PN yang akan dieksekusi hari rabu," kata Kepala Desa Kepuhteluk. (bst)

Selisih Tanah SDN Tangungori Dengan MI Tanjungori

Media Bawean, 8 November 2008

SDN Tanjungori 1

Jalan Masuk MI Tanjungori

Gedung Perpustakaan yang Dibangun SDN Tanjungori 1

Perselisihan tanah antara SDN Tanjungori 1 dengan MI Tanjungori yang disikapi oleh Suef Kepala Cabang Dinas P & K Tambak, dengan dikembalikan kepada masyarakat.

Bila mengingat masa dulu, di Pulau Bawean umumnya masuk SD dipagi hari dan masuk MI disore hari. Antara SD dan MI saling bekerjasama yang sehat dan saling mendukung keberadaannya. Tetapi sejak terjadi perubahan waktu masuk sama dipagi hari, banyak MI yang berubah menjadi MDU (Madrasah Diniyah). Sedangkan MI yang masih punya murid dominan banyak bertahan dengan jam masuk berubah diwaktu pagi hari sama dengan SD.

Menurut Suef, mengatakan, "Tidak benar jika jalan ke MI Tanjungori tertutup dengan pembangunan perpustakaan SDN Tanjungori, bisa dilihat sendiri kesana," katanya.

"Dalam persoalan ini akan kami kembalikan kepada masyarakat, karena tanah berasal dari masyarakat. Jadi salah bila dikembalikan kepada dinas. Terusterang saya sebagai Kepala Dinas Cabang P & K Tambak tidak pernah membedakan antara SD dan MI, saling menunjang dan membantu," ucapnya Suef.

"Kemarin memang MI dalam membangun proyek DAK sempat memotong atap di SDN Tanjungori yang seharusnya ada konfirmasi dengan pihak SDN. Tapi kami akan terus mencari jalan terbaik dengan musyawarah untuk mufakat," ujarnya.

"Seandainya masyarakat sepakat untuk menggusur gedung SDN, karena tanahnya masuk milik MI, yach saya persilahkan," papar Kepala Cabang Dinas P & K Tambak. (bst)

Dua Proyek Sedang Dibangun Di Bawean

Media Bawean, 8 November 2008

Proyek Di Pantai Diponggo Sedang Dibangun

Proyek Di Pantai Diponggo Sedang Dibangun

Proyek Di Pantai Diponggo Sedang Dibangun

Proyek Di Dekatagung Sedang Dibangun

Proyek Di Dekatagung Sedang Dibangun

Bawean Sekarang, Berbeda Dengan Dulu

Media Bawean, 7 November 2008

KH. Bajuri Yusuf saat dihubungi Media Bawean (7/11) dikediamannya Pondok Pesantren Hasan Jufri Lebak Sangkapura, mengungkapkan tentang keadaan Bawean sekarang dengan dahulu yang sangat jauh berbeda. "Pulau Bawean dahulu sedikit orang pintar tapi banyak orang mengerti, tetapi sekarang banyak orang pintar dan sedikit yang mengerti. Banyak orang pintar bila diberi masukan atau dikritik tidak bisa menerimanya. Tetapi kalau orang mengerti, dikritik adalah masukan untuk memperbaiki segala kesalahannya. Mengerti dalam konteks dengan dirinya sendiri, orang lain dan Tuhannya. " kata KH. Bajuri Yusuf.

"Termasuk keikhlasan, dulu saya ngajar gajinya sebulan 6 ontel padi dan ngajar di Umma tidak cukup untuk beli bensin. Sekarang bila gajinya kecil, guru-gurunya akan malas untuk mengajar, Termasuk untuk mencari muadzin dan modin dari kalangan generasi muda sangatlah sulit, bila dibandingkan dengan dulu, " ujar KH. Bajuri Yusuf.

"Dulu kenyamanan hidup dan ketentraman hidup banyak, sekarang sangat kurang. Contohnya, bila ada pengajian dan isra' ma'raj dulu sampai jam 2 malam bahkan sampai subuh. Sekarang 1,5 jam sudah lama," jelas KH. Bajuri Yusuf.

"Soal ketaatan pada guru, sekarang hanya taat saat ada dihadapannya, sedangkan bila dibelakang sudah hilang. Kalau dulu taat lahir dan bathin. Penyebabnya kitab Ta'lim Muta'alim sudah ditinggalkan. Sehingga akhlak yang orang muda kepada orang tua sangatlah berkurang. Termasuk orang punya ilmupun sekarang kurang dihargai, kalau dulu sangatlah dihargai dan dihormati" kata KH. Bajuri Yusuf.(bst)

Kapal Meledak di Lamongan, 4 Luka

Media Bawean, 7 November 2008

Jelang Eksekusi Amrozi Cs

Sumber : Berita Jatim
Reporter : Hardy

Lamongan - Menjelang dieksekusinya Amrozi Cs, terpidana mati bom Bali I, terjadi ledakan di kapal PLM Al Amin di Pelabuhan Sidayullawas, Kecamatan Brondong Lamongan, Kamis (6/11/2008) malam.

Untuk sementara tidak ada korban jiwa yang meninggal, hanya 2 orang luka berat dirawat di RS Tuban, dan 2 orang dirawat di Puskesmas Brondong, Lamongan.

Kedua korban ledakan yang mengalami luka parah kulit mengelupas adalah Ali (52), anak buah kapal (ABK) dan Samsu (29), keduanya asal Desa Kota Kusuma, Dusun Petekan, Kecamatan Sangkapura, Bawean, Gresik. Keduanya dirujuk ke RS Tuban.

Sedangkan dua korban luka ringan yang dirawat di Puskesmas Brondong adalah Harto (35) dan Hanto (35), keduanya tenaga bongkar muat (TKBM) dan warga Desa Sidayulawas, Brondong, Lamongan.

Informasi meledaknya kapal bermuatan sembako yang rencananya akan berlayar menuju Pulau Bawean tersebut bermula saat Ali dan Samsu mau menghidupkan mesin. Tiba-tiba meledak dan bersamaan itu pula, kuli angkut Harto dan Hanto mengangkut jagung ke dalam kapal itu.

Kapal mengalami kerusakan cukup parah di bagian atapnya jebol. Diperkirakan tingkat kerusakan di badan kapal mencapai 60%.

Kasat Reskrim Polres Lamongan AKP Agus I Suprianto, membenarkan kejadian tersebut. Saat ditanya beritajatim.com apakah kejadian itu ada hubunganya dengan menjelang jelang eksekusi Amrozi, mantan Kasubnit Resmob Polda Jatim itu membantah. "Wah itu tidak benar, hanya kecelakaan biasa. Karena masuk wilayah perairan, maka masalah ini ditangani Satpol Airud Lamongan," katanya.

Kasatpol Airud Polres Lamongan AKP Agung Subali dihubungi via ponselnya oleh beritajatim.com tidak aktif. Namun sumber Kepolisian di Satpol Airud Lamongan menyebutkan, besar kerugian akibat kejadian ini diperkirakan sebesar Rp 20 juta. [bj2/ard]

Polisi Masih Terus Selidiki Penyebab Ledakan

Media Bawean, 7 November 2008

Sumber TEMPO Interaktif

TEMPO Interaktif, LAMONGAN:Kapal yang memuat bahan bakar solarmeledak di perairan laut pantai utara tepatnya, di pelabuhan Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Lamongan, Kamis (6/11) malam. Polisi masih menyatakan murni kecelakaan dan belum ada tanda-tanda sabotase.

Polisi Resor Lamongan dan dibantu Polisi Air Udara (Airud) Brondong hingga kini masih menyelidiki penyebab ledakan. Dugaan sementara, penyebab ledakan berasal dari generator penerang lampu yang diduga ada kerusakan jaringan kabel. Hingga, Jumat (7/11) pagi, polisi melakukan pemeriksaan Kapal Al Amin, di pelabuhan Sedayu Lawas, Brondong.

Akibat ledakan itu, empat orang mengalami luka bakar. Mereka, nakhoda kapal Samsu, 41 tahun, Ali, 52 tahun, anak buah kapal yang kini dirawat di sebuah rumah sakit di Tuban. Kemudian, Harto, 36 tahun dan Hanto, 35 tahun, keduanya pekerja di pelabuhan Sedayu Lawas Brondong, yang kini dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat Brondong. Sedangkan lima anak buah kapal Al Amin selamat dari ledakan tersebut.

Informasi dari piket Satuan Polisi Air Udara Brondong, sebelum terjadi ledakan, kapal Al Amin sedang sandar dan dalam proses memuat solar. Kapal itu berencana akan menuju ke Pulau Bawean, Gresik. Saat itu, seorang anak buah kapal sedang menghidupkan generator kapal. Tetapi tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar ledakan.

Akibatnya, empat orang tersulut api dan mengalami luka bakar. Tetapi, beberapa anak buah kapal langsung melakukan pemadaman api dari tabung pemadam darurat. Api berhasil dipadamkan. Puluhan orang yang berada tak jauh dari pelabuhan Sedayu Lawas langsung melakukan pertolongan. Kapal kemudian ditarik ke pinggir atas perintah Kepala Satuan Polisi Air Udara Brondong, Ajun Komisaris Polisi Agung.

Himpunan Nelayan Indonesia, Lamongan, Zaenal, mengatakan akan ikut membantu penyebab ledakan di Kapal Al Amin, Brondong. Dalam satu tahun ini, pengiriman barang dari Brondong ke Pulau Bawean, cenderung meningkat.

Sementara itu Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Lamongan, Ajun Komisaris Polisi Agus Suprianto mengatakan, terjadinya ledakan untuk sementara murni kecelakaan. Belum ditemukan ada unsur lain, seperti misalnya, ada dugaan sabotage. "Murni kecelakaan," ujarnya Jumat (7/11). SUJATMIKO

Kapal Meledak Dekat Kampung Amrozi

Media Bawean, 7 November 2008

Sumber : INILAH.COM

INILAH.COM, Lamongan - Menjelang dieksekusinya terpidana mati bom Bali I Amrozi Cs, terjadi ledakan di kapal PLM Al Amin, di Pelabuhan Sidayullawas, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (6/11) menjelang Jumat (7/11) dinihari.

Untuk sementara, belum terdata adanya korban jiwa. Dua orang luka berat, kini tengah mendapat perawatan intensif di RS Tuban. Dua orang lagi, kini dirawat di Puskesmas Brondong, Lamongan.

Kedua korban ledakan yang mengalami luka parah itu, kulinyat mengelupas. Mereka adalah Ali, 52, anak buah kapal (ABK) dan Samsu, 29. Keduanya warga Desa Kota Kusuma, Dusun Petekan, Kecamatan Sangkapura, Bawean, Gresik, itu, dirujuk ke RS Tuban.

Sedangkan dua korban luka ringan yang dirawat di Puskesmas Brondong adalah Harto, 35, dan Hanto, 35. Keduanya tenaga bongkar muat (TKBM) dan warga Desa Sidayulawas, Brondong, Lamongan.

Kapal bermuatan sembako itu rencananya akan berlayar menuju Pulau Bawean. Bermula saat Ali dan Samsu hendak menghidupkan mesin, namun tiba-tiba meledak dan bersamaan itu pula, kuli angkut Harto dan Hanto mengangkut jagung ke dalam kapal itu.

Kapal mengalami kerusakan cukup parah di bagian atapnya jebol. Diperkirakan tingkat kerusakan di badan kapal mencapai 60%. [*/nuz]

Kapal Al Amin Meledak, Empat Orang Terluka

Media Bawean, 7 November 2008

Sumber : KOMPAS

Laporan Wartawan Kompas Adi Sucipto

LAMONGAN, JUMAT — Kapal pengangkut barang KM Al Amin, yang sedang berlabuh di pelabuhan Sidayulawas, Brondong Kabupaten Lamongan pada Kamis (7/11) sekitar pukul 19.00 meledak. Akibatnya empat dari delapan awak buah kapal luka-luka, dua dirawat di puskesmas Brondong, dua rumah sakit Medika Mulia Tuban.

Polisi masih menyelidiki kasus ini. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisia Resor Lamongan, Ajun Komisaris Agus I supriyanto mengatakan kapal meledak saat sedang berlabuh dan proses muat barang. "Sampai saat ini penyebab belum diketahui, tahu-tahu meledak menyebabkan barang-barang terlempar termasuk para ABK. Tapi yang menangani Polisi Air Lamongan," katanya.

Kepala Satuan Polisi Air Brondong Lamongan Ajun Komisaris Agung menyebutkan sampai saat ini awak buah kapal Ali (53), Samsu (39), warga Bawean dirawat di Rumah Sakit Medika Mulia Tuban.

Sementara kuli angkut, Hanto (35) dan Harto (35) warga Sedayulawas Brondong dirawat di rumah sakit Brondong. Kapal tersebut mengangkut 40 drum solar, beras dan sembako. "Penyebab ledakan masih diselidiki," katanya.

Kapal Motor Meledak di Pantai Utara Lamongan

Media Bawean, 7 November 2008 Sumber TEMPO Interaktif

TEMPO Interaktif, Lamongan:Kapal motor yang memuat bahan bakar (solar) meledak di pelabuhan Sedayu Lawas, Kecamatan Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (6/11) malam. Untuk sementara polisi masih menyatakan murni kecelakaan dan belum ada tanda-tanda sabotase.

Polisi Resor Lamongan dan dibantu Polisi Air Udara (Airud) Brondong hingga kini masih menyelidiki penyebab ledakan. Tetapi dugaan sementara, penyebab ledakan berasal dari generator (untuk penerang lampu) yang diduga ada kerusakan jaringan kabel.

Hingga, Jumat (7/11) pagi, polisi melakukan pemeriksaan Kapal Al Amin, di pelabuhan Sedayu Lawas. Akibat ledakan, empat orang mengalami luka bakar: nakhoda Samsu,41 tahun, Ali, 52 tahun, anak buah kapal yang kini dirawat di sebuah rumah sakit di Tuban. Kemudian, Harto, 36 tahun, dan Hanto, 35 tahun.

Keduanya pekerja di pelabuhan Sedayu Lawas Brondong, yang kini dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat Brondong. Sedangkan lima anak buah kapal Al Amin selamat dari ledakan tersebut.

Informasi dari piket Satuan Polisi Air Udara Brondong, sebelum terjadi ledakan, kapal Al Amin sedang sandar dan dalam proses memuat solar. Kapal itu berencana akan menuju ke Pulau Bawean, Gresik. Saat itu, seorang anak buah kapal sedang menghidupkan generator kapal. Tetapi tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar ledakan di sekitar generator.

Akibatnya, empat orang tersulut api dan mengalami luka bakar. Tetapi, beberapa anak buah kapal langsung melakukan pemadaman api dari tabung pemadam darurat. Api berhasil dipadamkan. Puluhan orang yang berada tak jauh dari pelabuhan Sedayu Lawas langsung melakukan pertolongan. Kapal kemudian ditarik ke pinggir atas perintas Kepala Satuan Polisi Air Udara Brondong, Ajun Komisaris Polisi Agung.

Himpunan Nelayan Indonesia, Lamongan, Zaenal, mengatakan akan ikut membantu mencari penyebab ledakan di Kapal Al Amin, Brondong. Dalam satu tahun ini, pengiriman barang dari Brondong ke Pulau Bawean, cenderung meningkat.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polisi Resor Lamongan, Ajun Komisaris Polisi Agus Suprianto mengatakan, terjadinya ledakan untuk sementara murni kecelakaan. Belum ditemukan ada unsur lain, seperti misalnya, ada dugaan sabotage. “Murni kecelakaan,” tegasnya pada Tempo, yang dihubungi via telepon, Jumat, pagi.

Sujatmiko

Gebyar Budaya Nusantara

Media Bawean, 7 November 2008

Gebyar Budaya Nusantara di Batam akan diselenggarakan pada 15 November 2008. Ikatan Keluarga Bawean Batam (IKBB) akan mengadakan acara Pelantikan, pengukuhan serta halal bihalal IKBB.

Informasi yang diterima Media Bawean dari Pengurus IKBB di Batam, yaitu Sabtu (8/11), jam 14.00 wib, tempat berkumpul dan start didepan Kantor Pos Nagoya menuju Nagoya Hill dengan acara Pawai Budaya se Indonesia, adapun urutan pawai dari IKBB akan diikuti 3 group kesenian terdiri dari : Korcak, Pencak Silatdan Kercengan.

Hari sabtu (15/11) jam 09.00 sampai dengan selesai bertempat di Golden View Hotel, Bengkong Laut, Batam dengan acara Pesta Masakan Nusantara adapun penampilan masakan asli daerah dari IKBB menampilkan masakan opor yang terbuat dari sayur nangka, semor, ikan pendheng, kelacelok, serta kue-kue khas Bawean.

Dilanjutkan di Golden View Hotel Bengkong Laut, Batam dengan acara Malam Silaturahmi dangan Penampilan Baju Adat serta Seni Pencak Silat dan Samman dari Kijang, Pulau Bintan.

Sedangkan (16/11) jam 08.00 sampai dengan selesai bertempat di Golden View Hotel Bengkong Laut, Batam dengan acara Halal Bi Halal dan Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus IKBB periode 2008 - 2011 yang rencana dapat disaksikan oleh saudara-saudara rombongan dari Singapura dan Malaysia. (bst)

DPR Minta Lapter Bawean Diselesaikan

Media Bawean, 7 November 2008

Sumber : Surabaya Pagi
GRESIK- Pembangunan Lapter (lapangan terbang) perintis di Desa Tanjung Ori Dusun Pecinggahan Kecamatan Tambak, pulau Bawean, yang terkatungpkatung, akhirnya mendapat perhatian kalangan DPR RI. Wakil rakyat ini meminta agar Pemkab Gresik segera menyelesaikan.

"Saya minta Pemkab Gresik tidak setengah hati membangun lapter Bawean. Sebab lapter merupakan salah satu proyek yang didanai pemerintah pusat," kata Ida Bagus Nugroho SH, anggota Komisi V DPR RI di kantor DPC PDIP Gresik, Kamis (6/11).

Legislator asal PDI-P ini menyebutkan suntikan dana dari pemerintah pusat itu mencapai Rp 17 miliar dari APBN 2007. ‘’Kami bersama pemerintah pusat tetap dan terus memantau pembangunan lapter Bawean. Sebab, selama ini pulau Bawean merupakan pulau terisolir,’’ ucapnya.

Karena itu, ia meminta pembangunan di Bawean diprioritaskan. Sebab, pulau ini juga memiliki kekayaan alam yang bisa mendongkrak PAD (pendapatan asli daerah) Gresik. "Pemkab tidak cerdas melihat peluang itu. Pemkab sebenarnya bisa gandeng pihak ketiga (investor, red) untuk bekerja sama," ungkapnya.

Untuk diketahui, sejak tahun 1997 pembangunan lapter Bawean sudah direncakan pemerintah pusat dan diharapkan rampung tahun 2007. Namun hingga kini, belum juga terealisasi.n kum

Birokrasi Dan Pemasungan Demokrasi

Media Bawean, 6 November 2008

Oleh : Musyayana

(Sebuah Gugatan Untuk Arogansi Oknum Kecamatan Sangkapura)

Cita-cita demokrasi adalah terwujutnya tatanan masyarakat yang adil, sejahterah, berdaulat dan demokrastis. Otonomi daerah adalah bagian dari setrategi untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Dimana daerah punya wewenang penuh untuk mengatur daerahnya. Tapi bukan pada konteks memanfaatkan otoritas dan kekuasaan untuk menindas rakyat yang dipimpinnya. Dimana dengan otonomi daerah diharapkan lahir regulasi-regulasi yang responsif terhadap kepentingan rakyat, bukan atas kepentingan kelompok penguasa dan kroninya.

Posisi birokrasi dalam otonomi daerah sebagai bapor (barisan pelopor) dalam mewujudkan cita-cita demokrasi. Dimana dalam konteks sejarah Indonesia, birokrasi adalah representatif dari kekuasaan negara yang menjadi tembok pembatas antara negara dan rakyat. Pemanfaatan peran birokrasi inilah yang menjadi awal perilaku korup birokrasi. Pada era reformasi dengan semangat demokrasi mencoba merobohkan tembok pembatas kekuasaan negara. Harapannya negara menjadi lebih dekat dengan rakyat; responsif terhadap kepentingan rakyat, lahir regulasi yang anti kekuasaan, birokrasi yang bersih (bebas dari kolosi, korupsi dan nepotisme).

Konteks Birokrasi Di Bawean

Demokrastisasi kebijakan pelayanan publik menjadi sebuah kewajiban. Dimana pelayanan publik menjadi arus komunikasi antara pemerintah dan rakyat . Birokrasi berkewajiban membangun pelayanan publik yang nyaman bagi rakyat, bukan lagi menjadi alat kekuasaan negara. Reformasi pelayanan publik bukan hanya berlaku untuk wilayah perkotaan, namun seluruh wilayan Indonesia, termasuk reformasi pelayanan publik di pulau Bawean.

Menjadi tugas masyarakat, khususnya lembaga-lembaga NGO, LSM dan Media untuk memonitoring pelaksanaan otonomi daerah dan reformasi pelayanan publik. Begitu juga reformasi birokasi dan pelayanan publik di pulau Bawean.

Sampai saat ini perilaku birokrasi di pulau Bawean masih mencerminkan perilaku birokrasi di zaman orde baru, dimana masyarakat diposisikan sebagai target dari kekuasaan.

Pada konteks monitoring reformasi pelayanan publik, peran media sangat diperlukan. Dimana media menjadi transformasi gagasan dan berita. Sejak runtuhnya kekuasaan orde baru maka pemasungan atas hak-hak media (cetak dan elektronik) pun seharusnya telah runtuh. Harapnnya media akan tampil sebagai agen perubahan untuk mengawal demokrasi sejati di republik ini. Ini menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.

Media Bawean sampai saat ini menjadi satu-satunya jawaban bagi terbukanya kran komunikasi antar masyarakat Bawean di penjuru dunia, menjadi media yang sangat informatif, dan menjadi alat mempercepat proses demokrastisasi di pulau Bawean. Fakta pemasungan hak-hak media dalam rangka menghambat arus transformasi gagasan dan berita terjadi di pulau Bawean, dimana MEDIA BAWEAN menjadi korban dari arogansi birokasi di Bawean.

Menjadi tugas pokok media untuk memberitakan temuan fakta apapun di masyarakat, pun fakta bobroknya perilaku birokrasi. Kasus Media Bawean dan oknum kecamatan Sangkapura adalah bukti sikap reaksioner sekcam sangkapura (Wardi). Dimana pada kasus ini terjadi insinkronikasi alibi antara Camat dan Sekcam Sangkapura.

Camat Sangkapura (Suhaemi) mengatakan bahwa tutupnya kantor kecamatan pada 30 Oktober jam 13.30 wib karena pengawai kecamatan lembur di malam hari. Lembur bukan menjadi alasan yang rasional bagi tutupnya kantor kecamatan. Karena kecamatan adalah kantor pemerintahan yang kerjanya diatur oleh undang-undang, bukan lembaga swasta yang mana kewenangan apapun atas kebijakan direktur.

Sedangkan alasan Sekcam "Takut kambing masuk dalam kantor kecamatan Sangkapura”.

Alasan Sekcam ini pun termentahkan oleh Peraturan Desa Sawahmulya Nomor 04 Tahun 2008 tentang larangan melepas dan menambat ternak peliharaan di tempat umum.

Tidak ada alasan apapun bagi oknum kecamatan Sangkapura untuk mengkebiri hak-hak media untuk memberitakan kejadian-kejadian faktual di masyarakat. Karena hal ini telah diamanatkan dalam otonomi daerah, yaitu peran serta media dalam membantu percepatan proses demokrasi.

Sikap Dedi (Satpol PP Sangkapura) yang militeristik sangat jauh dari konteks alam demokrasi di Indonesia. Mengancam dan mengintimidasi adalah bentuk-bentuk perilaku militer yang sudah ketinggalan zaman. Satpol PP adalah perangkat negara untuk membantu suksesnya pelayanan bagi masyarakat, bukan lagi menjadi alat birokrasi. Saat ini rakyat lah pemegang penuh kekuasaan di republik ini, bukan pemerintah. Jadi seharusnya Satpol PP menjadi alat bagi rakyat bukan birokrasi. Tentunya perilaku arogan Sekcam dan Dedi Satpol PP mendapat legitimasi dari Camat Sangkapura. Disinilah kapasitas dan kinerja Camat Sangkapura mulai kita sangsikan.

Dalam kasus ini Birokrasi Kecamatan Sangkapura telah menjadi musuh bagi tegaknya demokrasi. Ketika menjadi musuh bagi tegaknya birokarsi maka secara otomatis akan menjadi musuh bersama bagi kader-kader revolusiner pulau Bawean.

Pemkab Gresik harus responsif terhadap perilaku oknum kecamatan Sangkapura. Membiarkan kondisi ini sama saja dengan sepakat atas penindasan terhadap nilai-nilai demokrasi. Reformasi birokrasi harus benar-benar direalisasikan pada birokrasi di Gresik, bukan lagi sekedar menjadi wacana.

“Tunduk Tertindas atau Bangkit Melawan, Sebab Mundur adalah Penghianatan. Berjuang Bersama Rakyat Merebut Demokrasi Sejati !!”

Media Bawean Lapor Ke Polsek Sangkapura

Media Bawean, 6 November 2008

Saat Media Bawean selesai meliput Kepala Desa Sawahmulya soal tentang hewan ternak, langsung menuju kantor Telkom Sangkapura untuk memuat hasil liputan.

Tepatnya jam 12.00 WIB tanggal 6 November 2008, setelah duduk dan membuka media bawean, beberapa menit kemudian datang Dedi (Satpol PP Sangkapura) mendekati kursi yang kami duduki. Sambil mengacungkan tangan berkata, "dihalusi tidak bisa, apa mau dikasari," katanya.

"Kok dimuat lagi, perlu kamu ketahui, Bupati sudah menganggapmu cerek (berak : Red)," ujarnya.

Dedi melangkah ke pintu luar sambil berkata," kamu patek dan awas kalau diulangi akan dipukul," katanya.

Setelah Dedi keluar, kami langsung menuju kantor Polsek Sangkapura. Sampai di kantor Polsek, kami langsung diterima oleh Kanit Polsek Sangkapura, M. Ichsan. Kasus pengancaman di kantor Telkom Bawean langsung di laporkan dan kami diperiksa selama 2 jam.

Saat pelaporan kami menghubungi Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP Fadli Widiyanto, Beliau mempersilahkan untuk melaporkan kejadian pengancaman tersebut di Polsek Sangkapura.

Adapun pasal yang dikenakan yaitu KUHP pasal 310 dan pasal 335. (bst).

Media Bawean dan Agen Perubahan

Media Bawean, 6 November 2008

Oleh : M. Riza Fahlevi
http://rizafahlevi.blogspot.com/

Setelah lama terisolasi, kini Pulau Bawean mulai terbuka. Hal ini ditandai hadirnya media massa bernama Media Bawean. Sejak diluncurkan, media ini langsung direspon positif, terutama bagi warga Bawean di rantauan. Namun kondisi masyarakat yang belum siap saat berhadapan dengan karya jurnalistik, membuat media ini rawan tersandung kasus hukum. mengapa?


Selalu ada perkembangan menarik akhir-akhir ini yang bisa saya lihat di Pulau Bawean, kampungku yang berada 80 mil laut dari utara Gresik Jawa Timur itu. Anytime, anywhere dari Media Bawean di domain http://www.bawean.net/

Media Bawean bukanlah perusahaan pers, melainkan sebuah blog karya anak-anak muda kreatif yang tergabung dalam LSM Gerbang.

Setiap hari, anak-anak muda pimpinan Basit ini selalu melakukan kerja jurnalistik, dengan mencari, mengolah dan menyebarkan berita-berita baru di pulau ini, lalu mengunggahnya di Media Bawean.

Namun, tentu serba pas-pasan. Karena Basit belum memiliki latar belakang jurnalis yang kokoh. Kelemahan banyak saya temukan pada redaksionalnya, semisal penulisan hingga memberi teks foto.

Selain itu, manajemen liputannya belumlah terarah dan padu. Memang hal ini tak perlu dibandingkan dengan media besar yang merangkum peliputan berrdasar Ilmu Pengetahuan, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Keamanan, namun basit bisa berangkat dari bagaimana Belanda mengambangkan sebuah kota di Indonesia.

Pemetaannya seperti ini, istana sebagai tempat kantor pemerintahan, pasar sebagai aktivitas ekonomi dan alun-alun sebagai aktivitas masyarakat. Nah, berangkat dari sinilah Basit bisa melakukan peliputan yang terarah dengan cara mencari isu-isu menarik di sana.

Namun, bukan berarti media ini jelek. Malah, sebagai pemula saya nilai sangat bagus. Sebagaimana media on-line lain, format berita Media Bawean pendek-pendek. Namun, selalu disertai banyak foto penunjang. Saya rasa ini strategi yang bagus, mengingat pembaca media saat ini banyak yang sibuk sehingga tak memiliki waktu banyak untuk membaca.

Dengan fotolah, keingintahuan mereka bisa terpuaskan. Karena, satu foto bisa mewakili ribuan bahkan jutaan kata diskripsi. Lagi pula, pembaca Media Bawean umumnya adalah warga yang kini banyak berada di luar pulau bahkan negara, semisal Malaysia, Singapura bahkan Australia.

Dengan demikian, mereka bisa langsung menyaksikan perkembangan kampung tercinta ini, tanpa perlu susah-susah menggambarkannya. Saya misalnya, setelah lama tak pulang karena menetap di Batam, bisa merasakan langsung kemeriahan Pilgub Jawa Timur di sana, dengan melihat foto-foto yang disajikan.

Selain itu, saya bersama warga Bawean rantauan lain tentunya, bisa melihat bagaimana wajah pasar Sangkapura, makam Nyai Zainab hingga suasana kemeriahan lebaran 2008 ini.

Jika Basith CS ini terus istiqomah dan mengelola dengan manajemen yang bagus pula, saya yakin, media ini akan menjelma menjadi pers profesional. Tinggal tunggu pemodal dan pengiklan saja. Toh, detik.com yang kini berkibar itu, dulu bermula dari praktik jurnalistik seperti ini.


Buka Isolasi
Yang paling menggembirakan dari semua ini adalah, Media Bawean sedikit- demi sedikit akan membuka simpul-simpul isolasi Pulau Bawean. Dengan demikian, pulau ini akan lebih dikenal dan lebih maju. Karena memang fungsi media adalah sebagai agen perubahan dan kontrol itu sendiri. Media pula dapat membentuk masyarakat lebih teratur dan beradab.

Banyak daerah-daerah lain di Indonesia bahkan dunia, yang semula terisolasi, bangkit dan maju setelah pers membuka simpul-simpul isolasinya. Karena dengan derasnya pertukaran informasi, maka masyarakat akan dapat mengkritisi pembangunan di daerahnya.

Selain itu, pemerintah Gresik sebagai kabupaten induk, akan mudah memantau kinerja bawahannya melalui media ini, sehingga mereka yang ditempatkan di Bawean, merasa diawasi secara langsung.

Dengan demikian, mereka tak akan lagi bekerja seenaknya. Misalnya kantor camat tak akan lagi tutup sebelum jam kantor usai dan sebagainya. Selain itu, para koruptor pun akan berpikir 1000 kali, karena proyeknya akan selalu diawasi langsung.

Cuma memang, status Media Bawean yang belum berupa badan usaha pers, sangat rawan tersangkut hukum. Karena tak semua orang paham saat berurusan dengan karya jurnalistik, khususnya pada saat mereka merasa dicemarkan nama baiknya.

Mereka masih belum siap dan paham apa itu konfirmasi dan hak jawab. Jangankan di Bawean yang nota bene hanya kobuah kota kecamatan, di Jakarta dan kota-kota besar lain pun masih banyak yang kurang paham akan kerja jurnalistik.

Apalagi, UU Pers sendiri bahkan di susunan Kode Etik Wartawan Indonesia, belum ada yang berbicara apakah lagi melindungi blogger yang melakukan kerja jurnalistik.

Pertanyaan lain, apakah para blogger yang melakukan kerja jurnalis itu bisa disebut wartawan, sehingga bisa mendapat perlindungan yang sama dengan menggunakan UU lex specialis jika suatu saat tersandung masalah hukum.

Namun menurut saya hal ini tak masalah, asalkan Media Bawean jeli melakukan konfirmasi, dengan apa yang disebut cover both side, jika ada sebuah berita yang berpotensi menuai kasus hukum. Toh dulu infotainmen juga seperti ini.

Dulu, mereka dipertanyakan apakah wartawan atau bukan, mengingat infotainmen lahir bukan dari badan usaha pers, melainkan dari production house. Hingga akhirnya mereka dianggap wartawan dan dapat perlindungan layaknya wartawan, setelah Ketua PWI Pusat kala itu, Tarman Azzam, memasukkan mereka sebagai anggotanya.

Dari seluruh uraian ini, mungkin Media Bawean bisa menirunya, dengan cara menemui Ketua PWI Kabupaten Gresik untuk meminta keanggotaan khusus. Saya yakin akan berhasil. Sehingga nantinya, kerja-kerja mereka akan dilindungi oleh UU kewartawanan, bukan uu untuk masyarakat umum lain.

Contoh berita yang rawan kasus hukum ini terjadi, saat mereka memberitakan kantor camat Sangkapura yang sudah tutup sebelum jam kantor usai. Rupanya, jajaran pak camat ini gusar.

Beberapa hari kemudian, pengelola media ini dipanggil Sekcam Sangkapura Wardi. Apa yang terjadi? Mereka malah dimarah-marahi, bahkan bak preman, sang Sekcam menggebrak meja, dia menjawab alasan kantor ditutup sebelum jam kantor usai karena takut kambing masuk.

Terlepas apapun masalah ini, menurut saya kekerasan yang diperlihatkan si Sekcam tak pantas lagi, paradigma pelayanan publiknya masih beraroma Orba dan sangat tak sesuai dengan semangat reformasi.

Di zaman seperti ini, jangankan hanya sekcam yang tugasnya berorientasi sipil, militer dan kepolisian sekalipun sudah dididik agar berorientasi sipil. Sehingga, jendral sekalipun dilarang melakukan hal-hal premanisme semacam ini. Kalaupun ada ketidak puasan akan kritik, mereka bisa memberikan konfirmasi dan penjelasan dengan santun. Inilah yang disebut hak jawab.

Mestinya, camat Sangkapura harus merangkul Media Bawean karena dapat membantu jalannya pemerintahan di pulau ini, bukan malah mengintimidasi. Karena Media Bawean-lah masyarakat pulau ini bisa sejajar dengan warga dunia lain dalam mendapatkan informasi.

Inilah apa yang disebut pakar komunikasi Mc Luhan, sebagai global village. Informasi tak lagi dibatasi ruang dan waktu.

Tentunya amat menggelikan jika warga Bawean yang tinggal di kota-kota dengan sistem pemerintahan yang sudah maju di negara lain atau Indonesia sendiri, mengetahui tingkah Sekcam Sangkapura yang masih bernuansa kekerasan yang sangat kampungan itu.

Pemerintah Kabupaten Gresik, dalam hal ini Bupati Robbach Maksum, harus menatar lagi aparat di bawah tentang bagaimana pelayanan publik itu sendiri. Kalau perlu, bersihkan saja mental aparat semacam Sekcam Sangkapura ini, karena hanya akan jadi bumerang bagi kelangsungan pemerintahannya. Selain itu hanya akan membuat Bawean makin jauh dari kemajuan.

Berangkat dari hal inilah, saya pribadi sebagai anak yang lahir di pulau ini, telah mengontak Kajari Gresik agar melindungi kerja positif awak Media Bawean. Sebab siapa lagi yang nantinya bisa peduli akan Bawean kalau mereka dibungkam? Untuk itu saya minta agar Kajari segera menelepon Sekda Gresik agar menegur Sekcam Sangkapura yang suidah ketinggalan zaman itu.

Berangkat dari semua ini, saya harap seluruh komponen masyarakat, khususnya mahasiswa Bawean, harus peduli akan kelangsungan media ini. Ini adalah harapan terakhir untuk memajukan Bawean
.

Perdes Desa Sawahmulya Tentang Hewan Ternak

Media Bawean, 6 November 2008

Alasan Sekcam Sangkapura, "Takut kambing masuk kantor kecamatan Sangkapura" ternyata dimentahkan dengan Peraturan Desa Sawahmulya Nomor 04 Tahun 2008 tentang larangan melepas dan menambat ternak peliharaan di tempat umum.

Menurut Hasan Ansari, Kepala Desa Sawahmulya saat ditemui Media Bawean dirumahnya (6/11), mengatakan, "Perdes tersebut sangat efektif dan bermanfaat bagi warga di desa kami," katanya.

"Membuat Perdes membutuhkan waktu lama, setelah diberlakukan sudah jarang ada hewan ternak yang berkeliaran di desa Sawahmulya. Bila ada berkeliaran maka warga akan menangkapnya beramai-ramai," ujarnya Kepdes Sawahmulya.

Pasal 1 ayat 9
Tempat umum adalah tempat-tempat yang diperuntukkan bagi kepentingan umum yang meliputi : taman, alon-alon, lapangan, kuburan, halaman perkantoran dan sekolah, jalan maupun ruang terbuka untuk umum.

Pasal 2 ayat 1
Setiap orang atau warga masyarakat pemilik ternak peliharaan berupa sapi, kerbau, kuda dan kambing atau yang disebut dengan nama lain dilarang melepaskan atau membiarkan ternak peliharaannya berkeliaran dipemukiman penduduk dan tempat umum di desa Sawahmulya kota Sangkapura.

Pasal 2 ayat 2
Setiap orang atau warga masyarakat pemilik ternak peliharaan berupa sapi, kerbau, kuda dan kambing atau yang disebut dengan nama lain dilarang menambatkan ternak peliharaannya berkeliaran dipemukiman penduduk dan tempat umum di desa Sawahmulya kota Sangkapura.

Alasan Sekcam Sangkapura bila dihubungkan dengan Perdes tersebut sangat kontradiksi, yang mana lokasi kantor Kecamatan Sangkapura terletak di desa Sawahmulya.(bst)

Takut Kambing Masuk Kantor Kecamatan Sangkapura

Media Bawean, 5 November 2008

Oleh : Mr. Gerbang Bawean

Kemarin sore (4/11) saat meliput hasil Pilgub di Kantor Kecamatan Sangkapura, kami dipanggil oleh Dedi (Satpol PP) untuk masuk ruangan Kantor. Setelah duduk, Dodi menyatakan ingin klarifikasi soal berita di Media Bawean soal Kantor Kecamatan Sangkapura Tutup Jam 13.30 WIB.



Dedi bertanya,

"Kenapa kok kantor kecamatan Sangkapura yang dijadikan sasaran pantauan?"
"Di Jawa pakai helm dan SIM, tapi di Bawean tidak?

Sekcam Sangkapura Wardi langsung menggebrak meja dengan keras yang membuat kami terkejut, Wardi menyatakan alasan ditutup "Takut kambing masuk dalam kantor kecamatan Sangkapura," katanya.

Media Bawean tidak mengistimewakan tempat manapun untuk menjadi liputannya, sumber berita apapun yang layak dimuat akan dipublikasikan kepada pembacanya. Sedangkan soal helm dan SIM jangan dijadikan alasan, apalagi oleh seorang satpol PP yang harus menegakkan tata tertib.

Sikap Sekcam dengan menggebrak meja adalah hal yang kurang rasional, seharusnya berita di Media Bawean dijadikan evaluasi untuk meningkatkan kinerja yang lebih bagus dan profesional.

Seandainya kantor dibuka, tidak seharusnya menutup pagar meskipun tidak digembok. Jangan jadikan alasan takut kambing masuk kantor kecamatan Sangkapura, bila didalamnya dibuka. Karena sesuai 5 hari jam kerja kantor kecamatan buka jam 07.30 WIB dan tutup
15.30 WIB. (bst)

Di Sangkapura Angka Perkawinan Menurun

Media Bawean, 5 November 2008


Kantor KAU Sangkapura

Angka perkawinan di Sangkapura tahun 2008 dipredeksi menurun dibanding tahun 2007 dan 2006. Menurut Drs. H. Minsawi Kepala KUA Sangkapura, mengatakan, "Penurunan angka perkawinan bisa jadi akibat pengaruh krisis ekonomi global, sementara orangtuanya yang berada diluar negeri menunda kepulangannya ke Bawean," katanya.

Menurut data di KAU Sangkapura angka perkawinan tahun 2008 sebanyak 384, 2007 sebanyak 450 dan 2006 sebanyak 487.

Sedangkan perkawinan dibawah umur, menurut Minsawi, "Selama tahun 2008 tidak ada perkawinan dibawah umur," ujar Minsawi.

"Perkawinan dibawah 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun lelaki harus mendapat dispensasi dari pengadilan agama setempat, sedangkan umur 21 tahun untuk lelaki dan perempuan harus ada surat ijin dari orang tuanya," jelas Kepala KAU Sangkapura saat ditemui di kantornya. (bst)

Kaji Unggul Di Sangkapura, Di Tambak Menang Karsa

Media Bawean, 4 November 2008

Jamaluddin, S.S (Ketua PPK Sangkapura) menerima KPPS

Penghitungan Suara Pilgub Jatim Di Pulau Bawean

Penghitungan Suara Pilgub Jatim Di Pulau Bawean

Penghitungan Suara Pilgub Jatim Di Pulau Bawean

Penghitungan Suara Pilgub Jatim Di Pulau Bawean

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur (4/11) antara Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) di Sangkapura dimenangkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dengan 11.505 suara. Sedangkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) mendapat 9.603 suara.

Pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) menang di Desa Komalasa, Sungaiteluk, Daun, Sidogedungbatu, Balikterus, Gunungteguh, Patarselamat, dan Suwari.

Pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa)
menang di Desa Bululanjang, Kotakusuma, Sawahmulya, Sungairujing, Kebuntelukdalam, Pudakittimur, Pudakitbarat dan Dekatagung. Sedangkan di desa Lebak suara Kaji dan Karsa sama.

Di Sangkapura dari total jumlah pemilih 43.764, yang hadir 21.619 dan tidak hadir 21.641, sedangkan suara tidak sah 511 suara.

Di Kecamatan Tambak Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) dapat 4.915 suara dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) memperoleh 5.181 suara. (bst)

KPPS Protes Pemotongan Dana Pembuatan Bilik Suara

Media Bawean, 4 November 2008

Saat Media Bawean mendatangi salah satu TPS di Desa Kotakusuma Kecamatan Sangkapura, ternyata anggota KPPS memprotes dengan adanya pemotongan sebesar Rp.50ribu untuk dana pembuatan bilik suara.

KPPS Sedang Protes Pemotongan Dana Bilik 50ribu

"Terusterang kami sangat kecewa dengan adanya pemotongan yang dilakukan dengan alasan SPJ" ujar salah satu anggota KPPS.

"Coba bayangkan se-Sangkapura ada 101 KPPS yang dipotong Rp.50ribu dan 17 PPS dipotong 150ribu," katanya dengan nada serius.

Jamaluddin,S.S (Ketua PPK Sangkapura)

Setelah mendapat informasi dengan pemotongan, Media Bawean langsung menghubungi Ketua PPK Sangkapura. Menurut Jamaluddin,S.S, mengatakan "Sebenarnya bukan pemotongan, tapi dana Rp.50ribu dari uang bilik KPPS dan 150ribu dari anggaran ATK PPS untuk persiapan SPJ," katanya.

"Misalnya mampu membuat SPJ sendiri, silahkan dana tersebut diambil kembali. Sebab pembuatan SPJ dengan komputer dan rangkap 6 tambah materai, habisnya Rp.50ribu," ucap Jamaluddin,S.S.

"Bukan pemotongan, tapi disisihkan oleh PPS masing-masing. Bukan PPK yang memotong, PPK memberikan arahan bila tidak mampu membuat SPJ," jelas Ketua PPK Sangkapura.

Pilgub Jatim Bawean

Media Bawean, 4 Oktober 2008

Ir. H. Syariful Mizan (Ketua PCNU Bawean) Mencoblos Di TPS I Sungairujing

Pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur dilaksanakan hari ini (4/11). Sejak TPS dibuka banyak warga yang datang ke TPS untuk memilih Dua pasang calon gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa-MUdjiono (Kaji) dan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa).

Warga Desa Sawah Mulya Sedang Memasukkan Suara ke Kotak Suara

Menurut Pantauan Media Bawean, banyak pemilih yang belum datang ke TPS seperti TPS I Sungairujing yang hadir baru 50%, termasuk di TPS II Sawahmulya juga 50% yang hadir. (bst)

Panwas Pilgub Sangkapura Merasa Khilaf

Media Bawean, 4 November 2008

Spanduk Kaji di Pasar Sangkapura

Sampai hari ini pelaksanaan Pilgub Jatim (4/11), spanduk Pilgub masih bergantungan di Sangkapura. Menurut Muhlis Ketua Panwas Kecamatan Sangkapura saat ditunjukkan lokasi spanduk yang belum diturunkan di Sangkapura. "Oh, maaf petugas khilaf dengan spanduk Kaji di Pasar Sangkapura," katanya. (bst)

Pilgub, Penumpang Bawean -Gresik Menurun

Media Bawean, 4 November 2008

Kapal Ekpress Bahari 8B

Penumpang Kapal Ekpress Bahari 8B Bawean - Gresik hari ini (4/11) dengan pengaruh Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur mengalami penurunan drastis.

Menurut Novi (Petugas Kapal Ekpress Bahari 8B) mengatakan," Penumpang yang berlayar hari ini sekitar 115 orang," katanya.

"Jelas pengaruh dari Pilgub Jatim yang dilaksanakan hari ini, banyak penumpang menunda pelayarannya pada jadwal berikutnya," ujar Novi saat dihubungi Media Bawean via ponselnya.


Keluarga Paman Berlayar Hari Ini Ke Malaysia

Saat Media Bawean memantau pelayaran ke Dermaga Bawean di Sangkapura, bertemu Kak Sholehati (Ipar Paman) menghantarkan suaminya untuk berlayar ke Malaysia. (bst)

Hukum Pidana Di Masyarakat Desa Suatu Pendekatan Sosiologis

Media Bawean, 3 November 2008

Studi di Desa Kotakusuma Kecamatan Sangkapura Bawean Kabupaten Gresik

Oleh: A. Fuad Usfa

Ketika Gandhi menulis tentang karir awalnya sebagai seorang Pengacara. Setelah ia merampungkan kasus pertamanya yang besar, dan setelah ia menghimbau kliennya untuk menerima pembayaran dengan cicilan dari pihak lainnya --maksudnya agar pihak lain tersebut tidak bangkrut secara ekonomis--, ia merasa bahwa ia telah dapat mengatasi sifat hukum yang bermusuhan, “kegembiraan saya tidak terbatas”, katanya. “Saya telah belajar untuk menemukan sisi yang lebih baik dari sifat manusia”. “Saya menyadari bahwa fungsi yang benar-benar dari seorang Pengacara adalah untuk mempersatukan pihak-pihak yang telah dipisahkan satu sama lain”. (Node, dalam Peter AAG, at.all, 1998)

Bagi seorang Jepang terhormat hukum adalah sesuatu yang tidak disukai, malahan dibenci…, mengajukan orang ke Pengadilan untuk menjamin perlindungan atas kepentingan kita, atau untuk disebut di Pengadilan, meskipun dalam urusan Perdata adalah suatu yang memalukan. (Idem)

1. Pengantar

Tulisan ini adalah merupakan ringkasan daripada hasil penelitian penulis pada tahun 1997/1998, namun dirasa masih tetap relevan dan bahkan untuk masa kehadapan pengembangan hukum pidana adat lebih mempunyai prospek lagi. Berbagai perundang-undangan telah memberi jaminan eksistensi hukum pidana adat, namun masih bersifat pokok. Rancangan KUHP Baru telah tegas pula memberi pengakuan akan kekuatan eksistensi hukum pidana adat, namun masih harus melalui proses peradilan yang ada seperti sekarang ini, sehingga pranata adat tidak bisa berperan aktif dalam proses peradilan. Secara operasional, dalam masa sekarang ini khususnya, ketentuan yang bisa diharapkan ‘sedikit/banyak’ merangkul eksistensi hukum pidana adat adalah melalui pasal 18 Undang-undang No. 2 Tahun 2002, tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yaitu dalam hal diskresi, namun sifatnya hanya diskritif hukum saja.

2. Pendahuluan

Dalam pandangan hukum barat dikenal pembagian antara hukum publik dan hukum privat, sedang dalam hukum adat tidak dikenal adanya pembagian tersebut. Hukum pidana positip Indonesia (hukum Nasional) termasuk kategori hukum publik, sedang hukum pidana adat tidak demikian.

Induk daripada hukum pidana (materiil) Indonesia adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) peninggalan Belanda (nama aslinya Wetboek van Strafrecht vor Netherland Indie, dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 kata Indie diganti menjadi Indonisich), sedang induk daripada hukum pidana (formil) adalah Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yaitu Undang-undang nomor 8 tahun 1981 sebagai pengganti HIR (het Herzine Inland Rechtlemen), adapun hukum pidana (materiil dan formil) adat adalah berdasar pada budaya hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

Antara kedua macam hukum tersebut sering dijumpai saling bertentangan, sehingga sering dijumpai penyimpangan dalam praktik.

Dari gambaran di atas dapat dipahami, bahwa di Indonesia terdapat dualisme hukum pidana. Hal tersebut juga tak terkecuali di jumpai di Desa Kotakusuma.

3. Permasalahan

Fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana budaya hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Desa Kotakusuma, pola penyelesaian, bentuk sanksi, keterlibatan Desa serta ‘pilihan’ hukum. Selanjutnya diajukan beberapa rekomendasi.

4. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis. Pendekatan ini menyelidiki bagaimana dunia ini dialami orang, bagaimana imajinasi orang terhadap dunia ini. Jadi ingin memahami manusia dari kerangka pikir pelaku itu sendiri. Pendekatan ini mencari pemahaman lewat metode kualitatip seperti pengamatan peserta (partisipan observation) dan wawancara terbuka (endeed interviewing).

5. Hasil Penelitian

5.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Kotakusuma.

5.2. Karakteristik Masyarakat

Karakteristik daripada masyarakatnya adalah terbuka, suka menolong, akomudatif, orientasi damai, tidak toleran dendam, agamis, berpola pikir dan sikap positif.

5.3. Budaya Hukum

Budaya hukum masyarakat adalah menggunakan hukum tidak tertulis, baik dalam hukum materiil maupun hukum formilnya, namun berjalan secara riil dalam masyarakat. Masyarakat memandang suatu persoalan dari sudut pandang kolektif, artinya apa yang dihadapi individu bukanlah semata-mata persoalan individu itu sendiri, melainkan terkait dengan persoalan yang lebih luas, yaitu dengan keluarga batih maupun keluarga besar, dengan tetangga, dengan teman, dengan kedudukan individu sebagai anggota masyarakat maupun yang terkait dengan kedudukan sebagai manusia. Mengutamakan kesebandingan daripada sekedar kepastian hukum. Riil sifatnya, hal ini tentu juga berbeda dengan hukum Nasional yang bersifat abstrak. Reaksi terhadap terjadinya tindak pidana lebih bersifat tidak berlebihan (seperlunya). Masyarakat lebih melihat suatu kasus sebagai suatu perbuatan individual (personal), artinya pihak lain berada pada posisi di luar. Perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan yang mengganggu keseimbangan masyarakat (tindak pidana) tidak selalu terkait dengan konteks magis-religius, walaupun masyarakat Desa Kotakusuma adalah pemeluk agama Islam yang taat, namun dalam hukum pidana tidak berorientasi pada hukum pidana Islam. Pembedaan antara kaedah hukum dengan kaedah sosial lainnya amat longgar, dalam arti kaedah agama, kaedah kesusilaan dan kaedah sopan-santun, akan berujud sebagai kaedah hukum manakala kesadaran hukum masyarakat menghendaki. Adapun ukuran yang digunakan adalah apakah suatu perbuatan telah mengganggu keseimbangan dalam masyarakat ataukah tidak.

5.4. Pola Penyelesaian Perkara

Pola penyelesaian perkara pidana lebih berorientasi pada pola penyelesaian kekeluargaan. Proses penyelesaian secara kekeluargaan yang dilakukan terdapat beberapa jenjang, yaitu jenjang keluarga, dusun dan desa. Pada jenjang keluarga dan dusun biasanya tidak tertulis, sedang pada jenjang desa biasanya tertulis.

Kesan masyarakat terdap Lembaga Pemasyarakatan adalah negatif, hanya saja untuk kasus tertentu masyarakat terpaksa tidak dapat berbuat lain. Adanya rasa takut untuk berperkara ke Pengadilan Negeri disebabkan letak Pengadilan Negeri yang dirasa cukup jauh, yaitu di Kota Kabupaten Gresik telah menjadi kesan umum. Keadaan tersebut diperburuk oleh citra buruk badan peradilan dari semua tingkatan, yaitu dari tingkat penyidikan hingga proses akhir.

5.5. Sanksi

Dalam ‘Peradilan Desa’ tidak didapati sanksi yang terumuskan dengan tegas. Masing-masing kasus dipertimbangkan sendiri-sendiri (kasuistis). Biasanya sanksi ditetapkan berdasar hasil musyawarah. Sanksi dapat berbentuk permintaan maaf, denda, sumpah, pengusiran dari Desa untuk orang pendatang (penduduk tidak tetap), terhadap kasus perzinahan harus kawin. Sanksi tidak harus magis-religius, bagi mereka persoalan pelanggaran terhadap norma adalah merupakan persoalan individu atau keluarga atau komunitas tertentu, oleh sebab itu bila individu atau kolektifa telah diadili, para pihak semua menginsafi, pelaku dapat bertaubat serta pihak lain memaafkan, maka akan pulihlah keseimbangan dalam masyarakat.

5.6. Keterlibatan Pihak Desa

Desa selalu melibatkan diri dalam setiap terjadi kasus, ia berpendapat bahwa pihak Desa harus bertanggung jawab terhadap apa saja yang terjadi di Desanya. Oleh sebab itu menurutnya, pihak Kepolisian sekalipun harus memberi tahu baik secara langsung ataupun tindasan, tentu tidak demikian dalam hukum positip. Tindak pidana yang terjadi di Desa Kotakusuma terdiri dari tindak pidana dalam kategori tindak pidana sebagaimana ketentuan dalam hukum pidana Nasional dan adat.

Dalam masyarakat adat, hukum dipahami sebagai sarana untuk menciptakan suasana aman dan tentram. Jadi suasana aman di sini lebih berorientasai pada suasana kejiwaan. Amanah di sini bukan sekedar aman di masa kini saja melainkan juga di masa mendatang, hal itu ada dalam kebersamaan. Oleh sebab itu pendekatan secara individual dirasa kurang menjamin keadaan tersebut. Baik individu, keluarga dan masyarakat harus berada pada suasana aman itu. Berbeda dengan pola pendekatan pada hukum pidana Nasional yang note-bene pada prinsipnya berasal dari pola pendekatan barat yang individualistis, sehingga pola penanganannya indivialistis pula.

Berhadapan dengan situasi yang ambivalen itu tidak ada pedoman yang dapat dijadikan dasar manakala suatu tindak pidana harus diselesaikan berdasar hukum pidana Nasional ataukah berdasar hukum pidana adat. Adapun yang terjadi dalam praktik adalah tergantung pada ‘kekuatan’ Desa, dalam arti bila Desa ‘kuat’ maka kecenderungan diselesaikan di tingkat Desa adalah lebih besar.

6. Rekomendasi

Dalam rekomendasi terdapat pula rekomendasi yang bersifat general. Dalam pengambilan rekomendasi general tersebut peneliti mendasarkan pada dasar-dasar umum hukum adat Indonesia. Beberapa rekomendasi yang diajukan, yaitu mengingat letak pulau Bawean relatif jauh, yang membutuhkan waktu serta dana yang tidak sedikit, maka dirasa perlu ruang sidang yang telah dibangun digunakan secara efektif, baik untuk perkara pidana ataupun perkara perdata, khususnya terhadap kasus yang proses pembuktiannya mudah. Ini adalah merupakan tanggung-jawab pemerintah dalam rangka pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Di samping itu pula, berhubung ‘peradilan adat’ cukup efektif maka perlu dihidupkan ‘peradilan adat’ (‘hakim perdamaian desa’) dan dapat diakui secara formal. Selama ini telah berjalan dalam praktik, bahwa Kepala Desa ikut terlibat dalam menangani berbagai kasus yang tejadi di Desanya, termasuk bila telah ditangani oleh pihak yang berwajib sekalipun, untuk itu perlu pula untuk dipertahankan dan diakui secara formal. Dengan demikian dapat sebagai pendamping yang lebih dekat dengan kesadaran hukum atau nurani rakyat sehingga rasa keadilan dapat dirasakan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat, bukan sebagaimana hukum Nasional yang didasarkan pada abstraksi hukum yang ‘dipaksakan’.

Untuk kepentingan pembinaan dan pengembangan hukum, maka segala putusan ‘adat’ khususnya dalam hal ini yang berkaitan dengan hukum pidana adapt. Perlu di tumbuh-kembangkan sikap yang menciptakan simpati terhadap badan peradilan pada umumnya dan Kepolisian pada khususnya sebagai ujung tombak badan peradilan.

Akhirnya, perlu pengkajian dan pengembangan hukum adat-progresif, sehingga dengan demikian diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pengembangan hukum Nasional pada umumnya dan sedapat mungkin dapat pula digunakan dalam praktik peradilan.
 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.