bawean ad network
iklan
bank jatim
TERKINIindex

Cuaca Tak Bersahabat, Pelayaran Perairan Bawean Distop

Media Bawean, 31 Januari 2009

Sumber : detikSurabaya
Imam Wahyudiyanta
- detikSurabaya

Gresik - Terkendala tingginya gelombang di Perairan Bawean, kapal yang melayani rute Gresik-Bawean dilarang berlayar. Larangan berlayar dicabut jika keadaan tinggi gelombang sudah kondusif.

"Sejak kemarin larangan itu diberlakukan," ujar Kepala Administrasi Pelabuhan (Adpel) Gresik, Asmari kepada detiksurabaya.com, Sabtu (31/1/2009).

Asmari menambahkan bahwa larangan berlayar hanya diperuntukkan bagi kapal yang tonasenya di bawah 500 GT, termasuk kapal penumpang maupun kapal nelayan. Untuk kapal yang bertonase di atas 500 GT, hanya diberikan imbauan saja agar tidak berlayar terlebih dahulu.

Dari pengamatan detiksurabaya.com, kapal cepat yang melayani rute Gresik-Bawean, Express Bahari 8 B tampak masih bersandar di dermaga. Kapal tersebut bakal terus bersandar hingga larangan berlayar dicabut Syahbandar.

"Iya nih, belum boleh berlayar. Kapal lain, Darma Kartika yang ada di Bawean juga tidak bisa ke sini," ujar salah satu kru kapal, Agung.

Agung mengaku bahwa sembari menunggu izin berlayar, dirinya dan 10 kru yang lain diperintahkan untuk memperbaiki kapal, baik kerusakan atau perawatan rutin.

Sementara kondisi di Pelabuhan Gresik kondusif. Meski ada larangan berlayar, namun lalu lintas barang masih lancar. Juga tidak terlihat adanya antrean atau penumpukan truk pengangkut barang.(iwd/fat)

Pasien Membackup Dukun Di Daun

Media Bawean, 31 Januari 2009

Dukun yang dikenal Gus Ali Akbar yang sekarang praktek pengobatan di desa Daun Sangkapura, ternyata mendapat dukungan dengan surat pernyataan pasien yang dilengkapi tandatangan tertanggal 28 Januari 2009. Dengan tembusan Kapolsek Sangkapura, Danramil Sangkapura, Puskesmas Sangkapura, Kepala Desa Daun dan Arsip.

Surat penyataan pasien yang dilampiri nama pasien dan tanda tangan dengan alamat dari desa Daun, Tanjungori, Paromaan, Sungaiteluk, Kebuntelukdalam, Sokalela, Sidogedungbatu, Grejek, Tambak, Diponggo, Sungairujing, dengan tandatangan 27 pasein laki-laki dan 33 pasein perempuan.

Surat pernyataan pasien yang ditujukan kepada Camat Sangkapura berbunyi :
Yang bertandatangan dibawah ini, kami atas nama pasien dari pengobatan Gus Ali Akbar (nama dan tanda tangan terlampir) menyatakan dengan sesungguh hati, bahwa kami sanggup menanggung segala bentuk resiko dan akibat apabila dikemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dari pengobatan yang dilakukan oleh Gus Ali Akbar.

Kami tidak akan melakukan tuntutan kepada siapapun dan kepada Dinas manapun, karean kami yakin dengan pengobatan yang dilakukan oleh Gus Ali Akbar.

Demikian surat pernyataan ini kami buat bersama-sama dan mohon kepada pihak-pihak terkait tidak melakukan penjagalan-penjagalan. Karena bagi kami kesehatan sangat berarti segala-galanya. (bst)

Telepon Rumah Di Tambak Belum Selesai Perbaikan, Warga Minta Flexi Masuk Bawean

Media Bawean, 31 Januari 2009

Perbaikan telepon rumah di Kecamatan Tambak sampai hari ini (31/1) belum bisa diselesaikan. Menurut informasi yang diterima Media Bawean, perbaikan kabel fiber optik banyak putus sudah 16 titik sambung yang diperbaiki, dan untuk perbaikan satu titik memerlukan waktu 6 jam. Inipun sampai hari ini belum bisa diselesaikan.

PT. Telkom Bawean meminta maaf kepada semua pelanggan di kecamatan Tambak dengan tidak bisa diselesaikan perbaikan segera, dengan banyaknya kabel fiber optik yang putus.

Sementara warga Bawean masih mengharap untuk adanya perbaikan kembali telepon rumah yang dimiliki. "Bila tidak bisa selesai, semestinya PT. Telkom memberikan solusi dengan Telkom Flexi yang penggunaannya lebih praktis," kata salah satu warga Tambak.

"Sementara operator telepon seluler sepeti XL sudah siap dengan 3 tower BTS di Pulau Bawean, lalu kapan flexi masuk Bawean?," tanya warga Tambak.(bst)

Berlayar Menantang Maut Menuju Bawean

Media Bawean, 31 Januari 2009

Oleh : Mr. Gerbang Bawean

Kami berlayar dari Pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean dengan naik Kapal Dharma Kartika (30/1) berangkat jam 09.00 WIB. Saat akan berlayar timbul ketakutan dalam hati untuk menghadapi tingginya gelombang laut diatas kapal. Sebelum berlayar kami sempat menghubungi beberapa orang di Bawean via ponsel, menanyakan kondisi cuaca dan gelombang laut, ternyata jawabanya cuaca baik dan gelombang sudah tenang.

Ada orang berbisik kepada kami, bila mau berlayar untuk mengetahui tinggi atau tidaknya gelombang dilaut cukup mudah. Lihat saja cerobong PLTU, kalau keluarnya asap melengkung dan bundar berarti gelombang dilaut tinggi, tapi kalau keluarnya lurus berarti tidak ada gelombang. Diperhatikan ternyata asap yang keluar dari cerobong melengkung dan bundar, berarti gelombang dilaut sangat besar. Setelah dibuktikan dengan ikut berlayar kemarin, apa yang dikatakan orang tersebut ada benarnya juga.

Saat berlayar selama 3 jam perjalanan kondisi laut masih bersahabat dan tenang, tapi setelah masuk jam berikutnya gelombang laut mulai datang. Dalam perjalanan, ternyata hujan lebat turun, angin kencangpun datang dengan prakiraan kecepatan 40 knot dan gelombang tinggi 3-4 meter, membuat kami tidak tenang. Selama diatas kapal, kami keluar masuk ruangan sambil menghisap rokok surya untuk menenangkan diri dengan pesan kopi susu di kantin kapal.

Ternyata Kapal Dharma Kartika tidak mengalami hambatan apapun dalam menghadapi kondisi laut yang cukup menakutkan. Kapal terus berjalan normal, meskipun kondisi didalam kapal banyak air masuk akibat hujan.

Dalam perjalanan terlihat banyak penumpang muntah-muntah, akibat mabuk laut. Kami sendiri tidak mengalami mabuk laut, hanya berjaga-jaga sambil berdo'a agar diselamatkan oleh Allah SWT. sampai di Pulau Bawean.

Jam 18.00 WIB hp berbunyi, dalam hati merasa gembira dengan adanya sinyal hp berarti Pulau Bawean sudah dekat. Kapal Dharma Kartika Jam 21.00 WIB sandar di dermaga Bawean dengan selamat. (bst)

Kapal Dharma Kartika Tidak Berangkat

Media Bawean, 31 Januari 2009

Kapal Bawean Gresik hari ini (31/1) tidak berangkat, akibat tingginya gelombang di perairan laut jawa.

Menurut Kepala Syahbandar Bawean, Santoso saat dihubungi Media Bawean, mengatakan, "Kapal Dharma Kartika hari ini tidak berangkat, dengan pertimbangan masih tingginya gelombang yaitu 3-4 meter, sedangkan kecepatan angin 0-20 knot perjam" katanya.

"Kami tidak melarang untuk berlayar, tapi menghimbau kepada pihak kapal agar keselamatan dijadikan pertimbangan utama," ujar Santoso.

Jumlah penumpang normal Bawean -Gresik menurut Santoso, "seperti sekarang jumlah penumpang berkisar 70-100 orang perhari," tambah Santoso.

Sedangkan Kapal Ekpress Bahari 8B hari ini dari Gresik-Bawean juga tidak berangkat dengan kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi 3-4 meter. (bst)

Ancam Laporkan ke KY

Media Bawean, 31 Januari 2009

Sumber : Jawa Pos
GRESIK - Jazuni, kuasa hukum korban pengeroyokan disertai penganiayaan di Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Bawean, Gresik, mengancam melaporkan hakim Pengadilan Negeri (PN) Gresik ke Komisi Yudisial. Sebab, pengacara dari kantor advokat Dr Jazuni SH MH & Patners itu menemukan sejumlah kejanggalan dalam sidang kasus tersebut kemarin (30/1).

Misalnya, dalam sidang yang melibatkan delapan terdakwa (empat dewasa dan empat anak) itu, berkas perkara antara terdakwa dewasa dan anak dijadikan satu. Yakni, bernomor 02/Pid.B/2009/PN.Gs. "Mestinya, sidang perkara ini di-split menjadi dua berkas. Karena ada terdakwa dewasa dan anak," kata Jazuni.

Berikutnya, hakim yang menyidangkan perkara itu bukan hakim tunggal untuk terdakwa anak-anak. "Faktanya, berbentuk majelis hakim. Terdiri atas tiga orang hakim," ungkap Jazuni di Kantor DPC Partai Demokrat, Jl Raya Romoo, Kecamatan Manyar, kemarin (30/1).

Kejanggalan lainnya, majelis yang menyidangkan perkara itu mengenakan toga. "Seharusnya, majelis yang menyidangkan tanpa menggunakan atribut," tambahnya. Kejanggalan terakhir, sidang perkara kasus yang melibatkan Hariyadi alias Iwan dan Ahmad Riky alias Riky beserta kawan-kawan digelar pada Jumat.

Humas PN Gresik Akhmad Jaini membantah semua tudingan Jazuni itu. Jaini, salah seorang hakim yang menyidangkan perkara tersebut, mengatakan ada dua berkas perkara, yakni bernomor 01/Pid.B/2009/PN.Gs untuk terdakwa anak dan 02/Pid.B/2009/PN.Gs bagi terdakwa dewasa.

Soal pelaksanaan sidang pada hari Jumat, dia menjelaskan bahwa itu disebabkan adanya permohonan kedua belah pihak untuk mempercepat sidang.(yad/ib)

Dukun Di Diponggo Pindah Ke Desa Daun

Media Bawean, 30 Januari 2009

Ali Akbar, dukun sakti mandraguna, dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit oleh pasien yang berobat. Ternyata pindah praktek dari desa Diponggo ke desa Daun di Kecamatan Sangkapura.

Menurut hasil pantauan Media Bawean, banyak pasien berasal dari desa Daun yang berobat ke desa Diponggo. Sehingga dengan banyaknya pasien dari Desa Daun, maka si dukun berpindah tempat ke daerah lebih banyak pasiennya.

Sementara pihak desa menerima dengan baik, meskipun secara administrasi si dukun tidak memiliki identitas jelas dan tidak memiliki ijin praktek untuk pengobatan. Padahal keberadaan si dukun telah membuat resah sebagian warga di Pulau Bawean.

Kenapa pindah ke desa Daun? dimungkinkan pasein yang berobat dan banyak percaya adalah orang-orang dari Daun. Prakiraan hasil si dukun pendapatan dari pasien berasal dari Daun meraup puluhan juta dari tarif pengobatan dan obat-obatan.

Dengan hadirnya Ali Akbar sebagai dukun di Pulau Bawean, membuat rumah sakit dan balai kesehatan sepi. Sehingga keberadaan beberapa balai kesehatan di Pulau Bawean akan gulung tikar atau tutup. (bst)

Refleksi Harlah NU 83 Netralitas NU Dalam Pemilu 2009

Media Bawean, 30 Januari 2009

Oleh : Abdul Basit Karim
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi keagamaan (jam’iyah diniyah) secara resmi berdiri tanggal 16 Rajab 1344 H bertepatan dengan tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya.

Berdirinya jelas sebagai ormas keagamaan, bukan ormas politik sebagaimana amanat Muktamar di Situbondo untuk kembali khittoh ke 1926. Tapi kenyataan dan fakta dilapangan, banyak pengurus NU terlena dan terbuai dengan permainan politik partai tertentu. Lupa dengan jati dirinya sebagai pengayom ummat, bukan sebagai mesin politik.

Keterlibatan NU dalam politik jelas membuat pengikut atau ummat organisasi keagamaan terbesar di Indonesia menjadi bingung, khususnya dalam menghadapi Pemilu 2009. Terkadang jadi alasan yang mendasar, NU nya tetap netral kok tapi pengurusnya bergentayangan jadi tim sukses calon legislatif. Perlu dingat, bahwa sekian banyak calon legislatif yang tanpil dalam kontes Pemilu 2009 adalah warga NU. Bila person dari kepungurusan NU yang mengatasnamakan pribadi mendukung salah satu calon, jelas akan menimbulkan efek samping kecemburuan dari calon legislatif yang lain.

Untuk menjaga netralitas NU dan serta khittohnya sudah saatnya NU menyatakan diri dan menarik dukungan, serta tidak melibatkan diri dalam kontes politik yang ada. Bila tetap ngotot untuk tetap menjadikan NU sebagai sarana politik atau mesin pemenangan caleg dalam pemilu 2009, maka sudah seyogyanya warga nahdliyin merapatkan barisan untuk memperbaiki sistem yang ada agar tidak terkontaminasi syahwat politik di masa akan datang.

Sangat ironis bila mendengar citra diri pengurus NU terlibat mendukung seorang caleg, meskipun bukan NU dilibatkan, tetapi individu secara pribadi yang notabene bagian dari pengurus NU. Lalu dimanakah wibawa pengurus NU, bila dimanfaatkan oleh caleg tertentu untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.

Padahal politik terkadang apa yang dijadikan ucapan ataupun komitmen hari ini, besok setelah jadi bisa direvisi ulang sesuai keinginannya sendiri artinya semau gue. Sehingga sangat banyak pendukung seorang caleg, setelah berhasil dihantarkan sebagai wakil rakyat akan melupakan pendukungnya. Hasilnya pendukung hanya bisa gigit jari, dan konflik antara pendukung dan didukung akan terjadi.

Abdul Basit Karim : Mantan Pengurus Wilayah IPNU Jawa Timur.

Telepon Rumah Di Tambak Gangguan

Media Bawean, 29 Januari 2009

Telepon rumah di kecamatan Tambak mengalami ganguan sejak kemarin, menurut informasi yang diterima Media Bawean dari PT. Telkom Bawean, gangguan disebabkan kabel fiber optik.

Sejak hari jum'at sampai hari ini sudah diadakan pengukuran autodor ternyata kabael fiber optik banyak yang putus. Kabel yang menghubungkan dari Kantor Telkom Bawean di Sangkapura ke Kecamatan Tambak banyak mengalami putus di daerah Lancabur, Alastimur, Kapuhteluk dan Diponggo. Perbaikan sudah dilaksanakan, insya Allah dalam waktu dekat akan bisa normal kembali. (bst)

5 Sekdes Sangkapura Diangkat Jadi PNS

Media Bawean, 29 Januari 2009

Tercapai sudah niatan 5 Sekretaris Desa (Sekdes) di Kecamatan Sangkapura untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Menurut Badruttaman, Sekdes Sidogedungbatu kepada Media Bawean, mengatakan, "Alhamdulillah, Sekdes untuk menjadi PNS sudah tercapai, rencananya besok akan diberikan SK di kantor Pemkab Gresik," katanya.

5 Sekdes di Kecamatan Sangkapura yang diangkat jadi PNS adalah, Badruttamam Sekdes Sidogedungbatu, Nurlena Sekdes Daun, Musyaffah Sekdes Pudakittimur, dan Khusaini Sekdes Komalasa.

Sedangkan untuk pengangkatan PNS Sekdes di Kecataman Tambak, menurut Camat Tambak, Sofyan, S.Sos,MM. mengatakan,"Sementara untuk 5 Sekdes di Kecataman Tambak menunggu tahapan berikutnya, dan pengangkatan sekarang adalah Sekdes di Kecamatan Sangkapura," katanya. (bst)

Muslimat Bawean Netral Dalam Pemilu 2009

Media Bawean, 29 Januari 2009

Suasana politik di Pulau Bawean semakin panas, masing-masing calon Legislatif berusaha menggaet tokoh dan simpatisan untuk pemenangan dirinya dalam pesta pemilu 2009 pada tanggal 9 April 2009.

Nyai Azizah Mahsuni saat dihubungi Media Bawean, (29/1) mengatakan, " PC. Muslimat Bawean netral dalam pemilu 2009, kembali ke khittoh dan tidak akan terlibat secara organisatoris dalam pemilu untuk memilih wakil rakyat dan perwakilan daerah," katanya.

"Soal PC. Muslimat Bawean memberikan rekomendasi kepada caleg perempuan dalam pendaftaran sebagai caleg, bukan berarti harus mendukungnya dalam pemilihan nanti, "ujar Nyai Azizah.

"PC. Muslimat Bawean bersikap netral, tidak memihak kepada siapapun. Semua Caleg dari Dapil Bawean adalah saudara-saudara kita semua, khususnya yang berasal dari warga nahdliyin," paparnya kepada Media Bawean. (bst)

Media "Buka Mata Buka Hati"

Media Bawean, 28 Januari 2009

Baharuddin, SH. MH. (Caleg PKS Dapil Bawean No.2)

Banyak jalan menuju roma, begitu juga seperti yang dilakukan oleh Calon Legislatif, banyak jalan untuk mendapat simpati pemilihnya. Seperti yang dilakukan oleh Baharuddin SH. MH. dari Partai Keadilan Sejahterah (PKS) Dapil VII (Bawean) No. 2 dengan menerbitkan bulettin (media) setiap bulan dua kali terbit dengan nama Media "Buka Mata Buka Hati".

Menurut Baharuddin, SH. MH. mengatakan, "Media Buka Mata Buka Hati terbit sampai 7 kali, sedangkan yang terbit sampai sekarang sudah dua kali, yaitu pertama dengan judul "Apa Dan Siapa Baharuddin" (Biodata), kedua "Kisah Sebuah Jabatan" (Untuk pemilih pemula).

Sedangkan edisi selanjutnya, menurut Baharuddin, "judulnya, hubungan Baharuddin dengan warga Bawean, hubungan Baharuddin dengan NU, hubungan Baharuddin dengan alam atau lingkungan Bawean, hubungan Baharuddin dengan infrastruktur Bawean dan edisi terakhir adalah Renungan.

"Penyebaran Media Buka Mata Buka Hati bukan sekedar untuk mencoblos, tapi sebagai pencerahan ataupun pendidikan politik kepada para pemilih, yang bertujuan untuk krativitas, realitas, dan intelektualitas" kata Baharuddin,SH.MH. (bst)

Disaat Musim Angin, Jukong Jadi Kendaraan Darat

Media Bawean, 28 Januari 2009


Jukong Berjalan Di Daratan Sangkapura

Disaat musim gelombang besar, para pemilik jukong di Pulau Bawean menaikkan kendaraan lautnya kedaratan. Alasannya bila diparkir dilaut, bila ada ombak besar akan dihempaskan dan khawatir bisa rusak. Maka untuk menjaganya, harus dinaikkan kedaratan untuk diselamatkan. (bst)

Jalan Rusak Diponggo Segera Dibangun

Media Bawean, 28 Januari 2009


Jalan Lingkar Bawean Rusak Di Desa Diponggo

Perbaikan jalan lingkar Bawean di desa Diponggo akibat abrasi segera dilaksanakan dengan penunjukan langsung kepada CV. Pusaka Bawean. Menurut Suryani dari Dinas PU mengatakan, "Proyek di desa Diponggo termasuk kategori tanggap darurat, jadi pelaksanaannya ditunjuk secara langsung. Total anggaran sebesar 100 juta," katanya.

Sedangkan Sadad Pemilik CV. Pusaka Bawean saat dihubungi Media Bawean, (28/1) membenarkan bahwa CV miliknya ditunjuk untuk melaksanakan pembangunan jalan di desa Diponggo. "Proyek tersebut segera kami bangun," kata Sadad. (bst)

Pemuda Bawean Kunjungi Singapura-Malaysia

Media Bawean, 28 Januari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK— Berangkat dari niat untuk membangun kran komunikasi dengan pemuda dan warga Bawean yang berada di rantau, Ketua Pemuda Bawean Gresik (PBG), Ahmad Daifi, belum lama ini berkunjung ke Singapura dan Malaysia. Warga Bawean yang ingin merantau memang sering menjadikan dua negara tersebut sebagai ‘jujugan’.

“Alhamdulillah, saudara-saudara saya di sana banyak yang sukses,”ujar Daifi yang juga Wakasek SMPN 1 Gresik ini, Selasa (27/1).

Saat di Malaysia, lanjut Daifi, dia sempat bertemu dengan Saiful Aiman, warga Bawean yang kini telah sukses menjadi pengacara handal di Negeri Jiran. “Dalam pertemuan itu, saya mengajak Saiful Aiman untuk membentuk PBG yang di dalamnya bisa dijadikan wadah komunikasi pemuda dan warga Bawean yang ada di Singapura dan malaysia,”kata Daifi.

Niat baik Daifi ini mendapat respons positif Abdul Basit Karim, Direktur Eksekutif LSM Gerbang Bawean yang selama ini juga sering menjalin komunikasi dengan warga Bawean yang ada di rantau. “Saya juga telah berbincang dengan Saiful Aiman, dia sangat mendukung niat baik Daifi yang akan berjuang membangun kran komunikasi dengan pemuda dan warga Bawean yang berada di rantau,” tandas Basit. (dik)

Pembangunan Mubadzir Di Pulau Bawean

Media Bawean, 27 Januari 2009

Oleh : Mr. Gerbang Bawean

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Gresik, Muhamad Nadjib, Rabu, mengatakan, terpaksa menghentikan proyek lapter tersebut sambil menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian atas dugaan korupsi dalam ganti rugi pembebasan lahan. (Berita Antara)

Pernyataan Kepala Bappekab Gresik mengejutkan warga Bawean, khususnya diluar negeri seperti Malaysia, Singapore dan lain-lain yang selama ini selalu menunggu sampai kapan Lapter Bawean dioperasikan. Bila proyek tersebut dihentikan, tentunya impian dan harapan warga Bawean untuk bisa menikmati transportasi udara masih sekedar angan-angan saja. Termasuk pengembangan obyek wisata akan terkendala dengan dihentikannya proyek sarana transportasi udara di Pulau Bawean.

Bila menelaah proyek bermasalah di Pulau Bawean seperti kasus korupsi reklamasi pantai, ternyata sampai sekarang proyek yang ada tidak difungsikan sesuai tujuan awal pembangunan. Akankah proyek Lapter di Pulau Bawean yang sudah mencapai 50% akan mangkrak dan mubadzir?

Persoalan dugaan korupsi semestinya tidak menghentikan pembangunan yang ada, silahkan proses hukum atas penyelewengan dana tersebut diusut tuntas, tapi jangan sampai menghentikan pembangunan yang ada. Akankah proyek Lapter dihentikan pembangunannya berkaitan dengan korupsi yang dilakukan oleh oknum tertentu, sedangkan warga Bawean diseluruh dunia sedang menunggu bertahun-tahun harus bersabar lebih lama untuk bisa memanfaatkan transportasi udara?

Seandainya proyek Lapter Bawean dihentikan, dan menunggu proses hukum selesai. Dimungkinkan proyek pembangunan yang ada di Pulau Bawean sekedar dimubadzirkan saja, tanpa mengedepankan manfaat dan fungsi dari pembangunan yang ada.

Sekedar harapan kepada pemilik kebijakan, agar proyek Lapter di Pulau Bawean tetap dilanjutkan sampai bisa difungsikan untuk warga Bawean bisa terbang ke Surabaya ataupun sebaliknya dari Surabaya ke Bawean. Sedangkan warga Bawean di Singapura, Malaysia, Australia bisa terbang ke Surabaya dan dilanjutkan ke Pulau Bawean. Bila sudah bisa dimanfaatkan ataupun difungsikan, tentunya sudah tidak ada lagi proyek mubadzir di Pulau Bawean.

Ketua PBG Berkunjung Ke Singapura Dan Malaysia

Media Bawean, 27 Januari 2009

Ketua Pemuda Bawean Gresik (PBG), Daifi melakukan kunjungan ke Singapura dan Malaysia. Menurut sumber di Malaysia, Saiful Aiman, mengatakan, "Kemarin tanggal (24/1) saya kedatangan tamu dari Gresik Jawa Timur Indonesia, yaitu Ketua Pemuda Bawean Gresik (PBG) Daifi. Beliau awalnya berkunjung ke Singapura dalam rangka silaturrahmi denga keluarganya," katanya.

"Dalam pertemuan dengan ketua PBG itu banyak membicarakan terkait dengan perkembangan Bawean saat ini. Yang paling menyentuh saat membicarakan transpotasi Bawean - Gresik yang selalu ada kendala dilapangan. Seperti kadang-kadang transpotasi tidak begitu lancar, dan akhirnya warga Bawean yang ingin pulang ke Bawean harus menunggu beberapa hari di Pelabuhan Gresik," kata Pengacara Handal di Jiran.

"Selain menyentuh tentang transpotasi juga membicarakan sikon politik saat ini di Bawean. Menurut Daifi putra Bawean yang menjadi caleg untuk DPR RI ada 3 orang, antaranya dari Partai Golkar, PDS dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sedangkan untuk Tingkat 1 dan tingkat 2 banyak sekali. Saya tanya, siapa putra Bawean yang layak didukungan, Daifi belum berani untuk berkomentar tantang itu. Dengan nada diplomasi, Daifi menjawab calon yang bisa memperjuangkan dan berfikir untuk kebaikan Bawean kedepan, ya itu yang akan dapat dukungan warga Bawean," jelas Syaiful Aiman yang juga aktif di politik dengan kendaraan PKB.

"Saya juga bertanya tentang kenerja Wakil Rakyat asal Bawean di DPRD Gresik, kenapa mereka itu tidak membuat Alinsi Wakil Rakyat asal Bawean, jika mereka membuat Aliansi Wakil Rakyat asal Bawean, meskipun mereka berbeda partai, jika ada persoalan Bawean kan bisa diangkat bersama-sama untuk diperjuangkan," paparnya Saiful Aiman.

"Berita tentang Bawean dapat di lihat pemberitaanya dalam Media Bawean (MB), MB itu di komando oleh saudara Basit dari LSM Gerbang Bawean, ungkap Daifi. Bagi warga Bawean yang kepingin tahu sikon berita Bawean bisa melayari Internet yaitu ,www.bawean.net.," ujarnya.

"Daifi adalah guru di SMP 1 Gresik, juga menceritakan tentang perjuangan dan kontribusi PBG kepada warga Bawean. Daifi mengajak saya untuk bersenergi dengan PBG, jika boleh di Malaysia juga di bentuk PBG, secara pribadi saya sangat setuju jika pemuda Bawean yang ada di Indonesia terus membangun komunikasi dengan pemuda rantau yang ada di Malaysia dan Singapura," kata Saiful Aiman yang berasal dari Bawean Komalasa.

"Semoga niat baik Daifi untuk membangun kran komunikasi dengan pemuda dan warga Bawean yang di rantau bisa menjadi kenyataan," harapan Syaiful Aiman. (bst)

Polisi Menangkap Juragan Pencurian Kayu Di Hutan Lindung Bawean

Media Bawean, 26 Januari 2009

Tempat Penampungan Kayu Hasil Curian

Polsek Sangkapura kembali mengukir prestasi besar dengan tertangkapnya juragan kayu di desa Pudakit Timur. Sebelumnya Polsek Sangkapura berhasil mengungkap pengiriman BBM ilegal ke Pulau Bawean.

Kemarin (24/1) disaat pekerja sedang memotong kayu hasil jarahannya ditempat penampungan, 2 anggota Polsek Sangkapura mendatangi dan menanyakan surat-suratnya, ternyata tidak ada dan mengakui bahwa kayu mengambil di hutan lindung milik negara kawasan Pudakit Timur. Setelah tidak dapat menunjukkan surat-surat, anggota Polsek Sangkapura langsung menangkap Jurangan JMT dan satu anak buahnya.

Menurut Kapolsek Sangkapura, AKP. H. Zamzani saat dihubungi Media Bawean, (25/1) mengatakan, "Juragan JMT sudah keterlaluan dalam melakukan penjarahan kayu di hutan Bawean, maka kasus ini tidak bisa diselesaikan di Pulau Bawean dan wajib untuk dilanjutkan," katanya.

"Melihat kondisi hutan Pulau Bawean sudah rusak berat, ternyata kesadaran warganya sendiri sangat kurang untuk menjaga lingkungannya. Sebagai efek jera terhadap pelaku pencurian kayu di Pulau Bawean, kasus pencurian kayu yang dilakukan oleh JMT tidak bisa ditawar-tawar lagi dan wajib dilanjutkan," ujar Kapolsek Sangkapura.

Dalam penangkapan ini, anggota Polsek Sangkapura berhasil mengamankan 40 batang kayu sebagai bukti pencurian kayu hutan di kawasan hutan lindung Pulau Bawean. (bst)

'Koretana Eson Namana Toan'

Media Bawean, 26 Januari 2009

Sumber : Cyberita Online
PERISTIWA BAHASA

Oleh : Mohd Gani Ahmad

'Koretana eson namana toan.' Ungkapan bahasa Bawean ini beberapa kali diucapkan oleh Pendeta Dr Muhammad Ariff Ahmad ketika berpapasan jalan dengan kereta mewah yang dipandu dengan lajunya oleh drebar Melayu.

Terutama jika kereta itu memotong atau memintas kereta beliau di sekitar Scotts Road, Paterson Road atau Grange Road. Jalan-jalan inilah yang menjadi lalu-lalang beliau ke pejabat di Kay Siang Road akhir tahun 70-an dahulu.

Ungkapan bahasa Bawean ini bermakna, 'Kereta (kepunyaan) saya, pendaftarannya sahaja namanya tuan'.

Sejak tahun 40-an, para pemandu kereta privet atau kereta pakai ini, banyak dikerjakan oleh suku kaum Bawean. Istilah umum drebar digunakan orang berbanding dengan pemandu kereta.

Dalam masa itu, para majikan yang kebanyakannya orang Eropah yang menjadi pengarah dan pengurus syarikat, biasanya disediakan kemudahan: rumah banglo dan motokar oleh syarikatnya.

Pemandu yang tidak disediakan kuates atau rumah tumpangan pekerja diperbolehkan membawa kereta pulang ke rumah. Kereta ini macam kereta mereka sendiri.

Biasanya, kereta ini dijaga dan dirawat dengan cermat. Pada setiap kesempatan, kereta ini dicuci dan digilap sehinggakan menjadi kilat dan bersih.

Kebiasaan drebar ini menimbulkan ungkapan, 'Koretana moncar' - yang bermakna keretanya berkilat.

Kosa kata drebar ini menjadi perkataan yang paling tinggi kekerapan penggunaannya dan diterima pakai sebagai istilah yang umum.

Mengikut keterangan Dr Muhammad Ariff lagi, seingat beliau, kosa kata drebar digunakan sejak tahun 30-an. Anehnya, R. O. Winstedt tidak mendaftarkannya dalam Kamus Bahasa Melayu, yang terbit pada 1960. Kosa kata dereba dalam ejaan lamanya ini tercantum dalam Kamus Dewan Edisi Pertama, sejak 1970.

Di Indonesia, kosa kata drebar ini tidak dikenali langsung dan tidak terdaftar dalam mana-mana kamus umum. Mereka menggunakan istilah supir atau sopir sebagai padanan drebar.

Sopir, ambilan daripada bahasa Perancis, chauffeur. Drebar dan sopir ini bererti pemandu kereta yang diberi upah dan bekerja kepada majikan.

Sopir juga digunakan kepada pemandu atau pengendali atau pengayuh beca dan bemo. Bemo, akronim becak bermotor di sesetengah daerah di Indonesia.

Drebar ambilan bahasa Inggeris 'driver'. Hanya sanya, 'driver' dalam bahasa Inggeris umumnya bermakna pemandu motokar.

Dalam bahasa Melayu pula, drebar ini disempitkan makna dan pengertiannya; khusus bagi orang yang bekerja makan gaji sahaja, yang menjadi pemandu kereta kepada majikan.

Pemandu bas dikenali sebagai drebar bas. Begitulah juga, pengemudi teksi dipanggil drebar teksi. Kosa kata drebar ini belum berkembang menjadi mendrebar atau berdrebar.

Kadangkala, kosa kata sais yang seerti dengan drebar digunakan para majikan Inggeris berdasarkan makna dan konsep asalnya: pemandu dan penjaga kereta kuda dalam zaman sebelum motokar banyak digunakan orang.

Kosa kata sais ini ambilan daripada bahasa Arab, namun menurut R. O. Winstedt pula, ambilan daripada bahasa Hindi. Kosa kata ini yang pada mulanya, bermakna: kusir pedati, pengemudi atau pemandu kereta kuda.

Ayah saya, Haji Ahmad Haji Dolnabi, pernah dipanggil dengan istilah ini oleh tuannya yang berbangsa Perancis. Dan dipanggil Ahmadtok sahaja oleh majikannya yang berbangsa Jepun.

Jalan Di Diponggo Rusak Tambah Parah

Media Bawean, 26 Januari 2009

Jalan Lingkar Desa Diponggo

Kerusakan jalan lingkar di Desa Diponggo semakin parah, bila dibandingkan dengan sebelumnya. Banyak sopir roda empat berhati-hati dan memilih jalan lebih kepinggir dengan terkikisnya ruas jalan.

Semua pihak di Pulau Bawean mengharap agar Pemerintah Daerah untuk secepatnya melakukan perbaikan untuk jalan lingkar di desa Diponggo yang sudah rusak parah akibat abrasi. (bst)

Alumni SMA Negeri 1998 Kirim Bibit Ke Bawean

Media Bawean, 25 Januari 2009

Sarifi (ABK Kapal) Sedang Menunjukkan Bibit

Bibit Siap Dikirim Ke Pulau Bawean

Alumni SMA Negeri Sangkapura angkatan 1998 pantas mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya warga Pulau Bawean. Dari kegiatan kemarin sunatan massal di Gedung SMA Negeri Sangkapura, hari ini (25/1) dilanjutkan dengan pengiriman bibit Sengon Laut atau Albasiyah dengan diangkut kapal Javi dari Gresik - Bawean.

Koordinator Alumni SMA Negeri Sangkapura angkatan 1998, Ahmad Buruddin, S.Ip, M.AP, kepada Media Bawean, mengatakan, "Kami membeli bibit Sengon Laut atau Albasiyah dengan harga 1 bibit Rp.750, sebanyak 5000 bibit," katanya.

"Tujuannya untuk reboisasi di Pulau Bawean, dengan melihat kondisi hutan dan lingkungan Pulau Bawean sudah rusak berat. Ini bukti keperdulian teman-teman alumni 1998 terhadap lingkungan di Pulau Bawean, "ujar Ahmad Buruddin, S.Ip, M.AP.

Kepala SMA Negeri Sangkapura Zairosi, S.Pd.MM. Saat dihubungi Media Bawean, mengatakan, "kami sudah membentuk panitia untuk penghijauan yang dilakukan oleh alumni SMA Negeri Sangkapura angkatan 1998. Rencananya bibit akan ditanam dilingkungan SMA dan dibagi-bagikan kedaerah-daerah yang sudah mengalami kerusakan lingkungan, "katanya. (bst)

Caleg Bawean Belum Peduli Potensi Daerah

Media Bawean, 25 Januari 2009

Sumber : Kabar Pemilu
Gresik, Jawa Timur, - Ketua LSM Gerbang Bawean (Gerakan Rakyat Membangun Bawean) Gresik, Abdul Basid Karim, mengatakan, Parpol peserta Pemilu 2009 di pulau Bawean belum ada yang mempunyai konsep mengembangkan wisata di pulau Bawean.

Padahal parpol mempunyai peran strategis dalam mengembangkan potensi keindahan alam yang dimiliki Bawean sebagai tempat tujuan wisata.

"Parpol masih terjebak pada isu - isu yang mementingkan politik partainya, mereka belum ada yang memikirkan bagaimana konsepnya ingin mengembangkan potensi wisata di Bawean, misalnya mereka mengadakan kontrak dengan masyarakat terkait pengembangan wisata Bawean agar layak jual dan diminati oleh daerah lain," ujar Abdul Basid Karim dihubungi, Senin (05/01).

Menurut Basid Parpol melalui caleg-caleg di Bawean belum ada yang memikirkan pengembangan wisata Bawean, hal ini dikhawatirkan Basid jika mereka menjadi anggota dewan kelak tidak bisa memperjuangkan aspirasi di bidang pariwisata karena mereka belum memiliki kepedulian dalam pengembangan wisata Bawean.

"Pulau ini yang terdiri dari dua Kecamatan Sangkapura dan Tambak, kekayaan alamnya melimpah, tapi kurang dikelola secara profesional, kedepan kami minta caleg-caleg bisa memperjuangkan potensi yang dimiliki Bawean itu," lanjutnya.

Dicontohkan Basid, konsep pengembangan wisata di pulau Bawean misalnya, selain menyiapkan sarana dan prasarana infrastruktur tentang pengelolaan wisata Bawean, ini penting dilakukan guna menarik investor menanamkan modalnya di Bawean. Potensi wisata yang dimaksud Gerbang Bawean diantaranya adalah Danau Kastoba, Pantai Selayar, hamparan pasir putih di Pantai Ria, sumber air panas, serta air terjun yang memiliki daya pikat tersendiri.

"Potensi wisata itu kurang terkelola dengan baik, sehingga parpol setidaknya memikirkan bagaimana bisa mengembangkan potensi keindahan alam itu dijadikan tujuan wisata yang tidak kalah menarik dengan wisata di Bali, ataupun Parangtritis Yogyakarta," lanjutnya.

Selain itu, tambah Basid, masih ada lagi potensi wisata yang perlu dikembangkan yaitu keberadaan rusa Bawean di Desa Tampo, Kecamatan Sangkapura, yang juga layak sebagai tujuan riset dan studi.

"Wisata pulau Bawean tidak bisa berkembang selain kendalanya masalah SDM masyarakat pulau Bawean masih minim, juga pelaku pengambil kebijakan yang salah satunya adalah parpol tidak mempunyai kesadaran untuk bersama mengembangkan wisata tersebut, karena itu kami meminta parpol terutama calegnya bisa mengusung tema pengembangan wisata Bawean dalam kampanye 2009," jelasnya. 1/yan/kp004

Kupas Tuntas Persoalan Pulau Bawean Dengan Aktivis Gresik

Media Bawean, 24 Januari 2009

Pertemuan Aktivis Gresik Di Kantor Pattiro

Oleh : Mr. Gerbang Bawean

LSM Gerbang Bawean mendapat undangan dalam pertemuan jum'at legi yang diadakan oleh aktivis Gresik bertempat di Kantor Pattiro Gresik (23/1). Hadir pertemuan dari kalangan aktivis di Gresik seperti Pattiro, Irea, PMII dan lain-lain.

Dalam pertemuan tersebut, LSM Gerbang Bawean diberikan waktu untuk menyampaikan segala persoalan yang ada di Pulau Bawean. Kesempatan tersebut, kami kupas tuntas segala persoalan di Pulau Bawean, seperti persoalan pelayanan publik, kontrol pembangunan, pelayanan askeskin, dan lain-lain.

Setelah kami sampaikan, ternyata respon dari teman-teman aktivis di Gresik cukup baik dan sangat mendukung untuk membangun Pulau Bawean. Termasuk persoalan kesehatan yang selama ini masih banyak kekurangan, sehingga banyak pasien terpaksa dirujuk ke Pulau Jawa dengan terbantasnya peralatan ataupun tenaga yang ada di Pulau Bawean.

Kami sangat terkejut, setelah teman-teman aktivis di Gresik menilai Media Bawean merupakan media efektif untuk menyampaikan atau menyalurkan aspirasi warga Pulau Bawean kepada semua kalangan yang ada. Yang menjadi pertanyaan mereka, adalah sistem pengelolaan dengan update berita setiap hari tentang Pulau Bawean. Kami sampaikan, bahwa Media Bawean berdiri berkat dukungan semua pihak, khususnya warga Bawean di Malaysia, Singapore, Australia, Batam, Jakarta dan lain-lain.

Kami menyampaikan terima kasih kepada teman-teman aktivis Gresik, yang telah mengangkat segala persoalan dan issu Pulau Bawean untuk dijadikan topik dalam pertemuan. Semoga perjuangan kita dalam pergerakan selalu mendapat lindungan, hidayah dan taufiq dari Allah SWT. Amin....

Tarif Kapal Bawean-Gresik Turun 10ribu

Media Bawean, 24 Januari 2009
Kapal Bawean - Gresik Di Pelabuhan Gresik

Tarif kapal Bawean-Gresik terhitung sejak hari ini tanggal 24 Januari 2009 turun Rp.10.000 dari harga tiket biasa. Hasyim Kepala Cabang PT. SIM Gresik, membenarkan adanya penurunan harga tiket. Menurut Hasyim mengatakan, "Dengan turunnya harga BBM dan demi masyarakat Bawean diturunkan harga tiket sesuai kesepakatan saat kita rapat kemarin, "katanya.

Kapal Ekpress Bahari 8B sedang doking kapal dan sementara ini belum beroperasi, direncanakan tanggal 28 Januari beroperasi kembali.

Sedangkan Kapal Dharma Kartika milik PT. Dharma Lautan Utama, menurut Kepala Cabang Gresik, Sofyan mengatakan, "tarif juga turun Rp.10.000 dari harga ekonomi Rp.120.000 menjadi Rp.110.000 dan Eksekutif dari Rp.135.000 menjadi Rp.125.000," katanya. (bst)

Kondisi Jalan Lingkar Bawean Rusak Berat

Media Bawean, 24 Januari 2009

Jalan Lingkar Pulau Bawean

Jalan Lingkar Pulau Bawean

Jalan Lingkar Pulau Bawean

Jalan Lingkar Pulau Bawean

Melihat kondisi jalan lingkar di Pulau Bawean, ternyata kerusakannya sangat berat. Perlu adanya perhatian khusus dari Pemerintah untuk perbaikan infrastruktur yang ada di Pulau Bawean, melanjutkan pembangunan jalan paving dikawasan desa Lebak. (bst)

Bawean Memanggil…

Media Bawean, 22 Januari 2009

Sumber SURYA

BAWEAN | SURYA Online - Apa menariknya Bawean? Pertanyaan tersebut spontan terlontar ketika ajakan mengunjungi Pulau Bawean datang. Pulau gersang yang ditinggalkan warganya merantau ke Malaysia dan Singapura? Ah…tak bijak memvonis sebelum membuktikannya. Terbukti, saya salah besar. Bawean, ternyata sarat menyimpan keindahan yang belum tersentuh polusi apalagi modernisasi.

BAWEAN, 12 mil sebelah utara Kota Gresik, sarana laut menjadi satu-satunya moda transportasi. Itupun rute Gresik-Bawean hanya dilayani kapal laut dua kali se-minggu. Tak heran, pagi itu ketika Surya bertolak dari dermaga Gresik bersama rombongan Dinas Pariwisata Jawa Timur dan Pemkab Gresik, ratusan calon penumpang sudah memenuhi dermaga.

Pemeriksaan ketat diterapkan petugas untuk menghindari penumpang gelap. Petugas mencocokkan tiket sesuai identitas calon penumpang. Ada yang menarik saat mengamati lagak dan gaya berbusana calon penumpang. Mereka yang berpakaian rapi lengkap dengan barang bawaan mencolok, bisa dipastikan mereka warga Bawean perantau dari Malaysia. Warga Bawean yang laju Bawean-Gresik, berpakaian sehari-hari dan penumpang dari Jawa terlihat berbeda dengan penumpang lainnya.

Kapal Bahari Express 8 segera angkat sauh setelah semua penumpang aman di lambung kapal sesuai kelas yang tertera di tiket. Penumpang terbagi tiga kelas, VIP, eksekutif dan ekonomi yang tarifnya hanya berbeda Rp 20.000 setiap kelasnya. Penumpang VIP dipungut Rp 130.000 dan eksekutif Rp 110.000 per kepala dengan fasilitas ruangan berpendingin udara dan televisi. Ruangan tanpa pendingin udara, hanya dilengkapi televisi ditempati penumpang kelas ekonomi.

Perjalanan selama tiga jam cukup nyaman dengan pemandangan laut lepas , sesekali ombak besar memukul dinding kapal mengantar getaran lembut hingga ke dek penumpang. Birunya Laut Jawa mulai teralihkan saat dari bilik jendela kapal samar terlihat daratan. Semakin dekat, warna hijau daratan terlihat nyata. Sekitar 100 orang berdiri di dermaga menanti kapal bersandar. “Itu tradisi warga dan perangkat di Bawean menyambut kedatangan kapal. Bagi mereka, ini aktivitas penting,” bisik salah satu rombongan dari Pemkab Gresik.

Penginapan berlantai dua, tidak jauh dari pelabuhan menjadi tujuan kami berikutnya. Cukup nyaman dan lengkap, karena tersedia minimarket yang menjual kebutuhan sehari-hari. Apalagi tarif kamar di penginapan ini lumayan cekak, mulai Rp 40.000 - Rp 130.000 per malam. Kami membersihkan diri sebelum pindah ke ruang makan dan menyerbu ikan bakar ala Bawean yang diolah pas dengan bumbu merahnya. Hmm…

Pantai Tinggen
Perut belum cukup longgar, namun kami harus segera beranjak lantaran taksi sudah standby di pelataran penginapan. Jangan membayangkan taksi-taksi di Surabaya apalagi Jakarta. Jumlah taksi Bawean tidak banyak. Hanya lima unit. Taksi Bawean adalah mobil sewaan –tentu saja tanpa argo- ongkosnya fleksibel sesuai kesepakatan penumpang dengan sopir.

Taksi yang kami naiki siang itu menuju Pantai Tinggen, 12 km dari penginapan. Giran, sopir taksi kami benar-benar giras, trengginas. Maklum, dengan jam terbang 20 tahun di balik kemudi, seantero Bawean mahfum jika Giran sopir andal menghindari lobang jalanan. Spontan kami memberinya nama kapten. Kapten Giran sungguh menguasai medan Bawean. Pemandangan indah menuju Pantai Tinggen, menjadi bonus penyejuk mata. Birunya laut bertemu hijaunya pohon kelapa, sungguh memesona.

Taksi mendadak berhenti. Sayup suara tepukan rebana menyapa gendang telinga. Kami tiba di Pantai Tinggen dan warga sekitar –perempuan berusia senja- menyambut dengan kesenian hadrah. Perempuan-perempuan ramah berkain kebaya dengan bocah dalam gendongan, menjadi pemandangan khas di Tinggen. Sayang, mereka selalu berpaling ketika moncong kamera dibidikkan ke arahnya.

Pesona keindahan Pantai Tinggen dengan hamparan pasir putih dibingkai hijaunya pohon nyiur tidak berbeda dengan pantai lain yang tersebar di Bawean. Kehidupan khas nelayan dengan perahu cadiknya menjadi denyut kehidupan di Tinggen. Kami betah berlama-lama di sana. Apalagi ikan hasil tangkapan nelayan yang langsung dibakar terasa manis di mulut.

Dahaga kami terpuaskan saat kelapa muda dibelah dan tersuguh di depan kami. Selain pantainya yang elok, Tinggen menyimpan peninggalan yang dibanggakan warganya. Yakni makam panjang. Boleh percaya boleh tidak, konon setiap tahun makam panjang semakin bertambah panjang!

Danau Kastoba, Danau Penyembuh
HARI kedua di Bawean, kami akan mengunjungi Danau Kastoba. Terletak di puncak gunung, Danau Kastoba, hanya 40 menit jika ditempuh dari Kecamatan Tambak dengan jalanan beton. Kapten Giran, tanpa kami minta menjelaskan, jika jalanan beton itu hasil sumbangan warga Bawean yang sukses merantau ke Malaysia dan Singapura. Hasil sumbangan mereka juga bisa dilihat di sepanjang jalan menuju Danau Kastoba, rumah-rumah mewah berdesain modern berdiri indah bersisihan dengan hijaunya areal persawahan.

Taksi berhenti di Dusun Candi, Desa Perumahan. Tetapi mana Danau Kastoba? Taksi tak bisa menjangkaunya, terpaksa kami berjalan kaki sejauh 1 km. Mendaki lagi! Rasa penat impas terbayar saat keindahan Danau Kastoba membentang di depan mata. Nama Kastoba diambil dari nama pohon penyembuh, kastoba yang tumbuh di sekitar danau. “Pohon Kastoba sudah punah, padahal pohon itu berkhasiat menyembuhkan semua penyakit,” ujar Choirul Fatah, warga setempat.

Berpesta King Lobster di Pulau Gili
GAGAL menyaksikan pohon kastoba, rasa kecewa kami terobati saat mengalihkan perjalanan menuju Pulau Gili yang sohor sebagai penghasil king lobster. Pulau Gili, bisa ditempuh dari Desa Kedung Batu, Kecamatan Sangkapura dengan menggunakan perahu nelayan. Siang itu, laut pasang surut, kami harus menceburkan diri ke dalam laut untuk mencapai perahu nelayan.

Selama perjalanan, pemandangan indah terumbu karang di lautan jernih terekam mata telanjang kami selama 30 menit menuju Pulau Gili. Ada pula rumah-rumah ikan berdiri sepi di tengah lautan. Pulau Gili dikelilingi pasir putih alami yang belum tersentuh polusi, lembut mengelus kaki saat sepatu ditanggalkan. Di pulau berpenduduk sekitar 600 jiwa inilah kami berpesta king lobster bakar sepuasnya. Perut rasanya mau meletus. tarmuji talmacsi

Korupsi Hentikan Pembangunan Lapter Bawean

Media Bawean, 22 Januari 2009

Sumber : ANTARA

Gresik (ANTARA News) - Pembangunan Lapangan Terbang Perintis Bawean, di Desa Tanjungori, Kecamatan Sangkapura, pulau Bawean, Jawa Timur, terpaksa dihentikan menyusul mencuatnya kasus dugaan korupsi dalam pembebasan lahan seluas tujuh hektare.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab) Gresik, Muhhamad Nadjib, Rabu, mengatakan, terpaksa menghentikan proyek lapter tersebut sambil menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian atas dugaan korupsi dalam ganti rugi pembebasan lahan.

Terhentinya rencana pembangunan lapter perintis ini sempat dipersoalkan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur selaku pelaksana pembangunan mega proyek lapter.

Bahkan mereka mengancam Pemkab Gresik agar persoalan pembebasan lahan segera dituntaskan sampai pertengahan 2009. Ini lantaran pencairan beberapa anggaran yang sudah dialokasikan terpaksa dihentikan.

"Kami diminta Dishub Provinsi untuk segera menuntaskan persoalan ganti rugi lahan oleh warga, ini lantaran anggaran yang sudah teralokasi, baik dari APBN maupun APBD Provinsi tak bisa terus-terusan ditahan untuk tidak dicairkan,"katanya.

Sejak 2007 sampai hari ini dari areal pembangunan lahan lapter seluas tujuh hektare, baru separuhnya yang telah dibebaskan. Sisanya masih bermasalah. Ada sekitar 120 KK yang menempati areal lahan yang berada di kawasan pembangunan lapter. Padahal status lahan yang mereka tempati merupakan lahan milik negara.

"Warga masih tetap bersikukuh mempertahankan lahannya yang diklaim peninggalan nenek moyang mereka. Padahal dari segi kepemilikan, mereka tak memegang sertifikat tanah. Mereka baru bersedia pindah asalkan ada ganti rugi yang hitungannya bukan hanya per meter lahan tapi malah per pohon, bahkan ada warga yang meminta klaim ganti rugi sampai Rp500 juta," katanya.

Apakah akan menempuh jalur hukum menyusul deadline dari Dishub Provinsi yang menarget pembebasan lahan segera dituntaskan, menurut Nadjib pihaknya belum merencanakan upaya tersebut.

"Kami belum berupaya menggunakan jalur hukum untuk segera mengeksekusi mereka, namun kami lebih menggunakan cara-cara pendekatan untuk mencegah timbulnya konflik,"katanya.

Untuk mempercepat proses pembebasan lahan, dalam APBD 2009 pemkab Gresik telah mengalokasikan anggaran senilai RP2 miliar untuk sisa pembebasan lahan lapter. Sebelumnya dalam APBD 2007-2008 ganti rugi pembebasan lahan telah menghabiskan anggaran Rp3 miliar.

"Jadi total anggaran yang telah kami kucurkan dalam pembebasan lahan lapter mulai 2007 sampai 2009 senilai RP5 miliar,"katanya.

Rencananya, operasional bandar udara perintis dengan rute Bawean - Malayasia - Singapura ini bisa terlaksana akhir 2009 mendatang. Namun karena tersendatnya pembangunan, operasional bandara ditargetkan 2010 mendatang.

Sebelumnya, Tim Penyidik POlres Gresik mensinyalir ada indikasi mark up anggaran dalam pembangunan Lapter Bawean, sehingga harus meningkatkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan.

Bahkan puluhan saksi telah diperiksa terkait pengadaan pembebasan lahan. Sampai Rabu ini kepolisian belum menetapkan tersangka,karena masih menunggu hasil audit BPKP tentang kerugian negara.(*)

Camat Tambak Sofyan Dicecar 36 Pertanyaan

Media Bawean, 22 Januari 2009

Sumber : JAWA POS

GRESIK - Camat Tambak, Pulau Bawean, M. Sofyan akhirnya memenuhi panggilan penyidik Polres Gresik. Selama dua hari, sejak Selasa (20/1), Sofyan diperiksa di Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Gresik. Sofyan dicecar dengan 36 pertanyaan oleh penyidik.

Pertanyaan yang diajukan penyidik mulai tahap pencairan anggaran (APBD 2006) Rp 561,3 juta hingga penggunaan dana ganti rugi tanaman untuk lapangan terbang (lapter) perintis di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak. ''Selama dua hari saksi kami periksa. Dan, hari terakhir pemeriksaan berakhir pukul 16.50," ujar Kasatreskrim Polres Gresik AKP Fadli Widianto mewakili Kapolres Gresik AKBP R. Nurhadi Yuwono.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos, pencairan anggaran ganti rugi tanaman tersebut dilakukan Camat Tambak Sofyan dari kas daerah (kasda) Setkab Gresik. Dana tersebut disimpan di rekening adik camat, Hanifah. ''Saksi mengaku tidak mempunyai rekening di bank. Sehingga uangnya ditabungkan di rekening Hanifah, adiknya, sebesar Rp 550 juta," kata sumber Jawa Pos di Polres Gresik.

Lalu, sisanya Rp 11 juta lebih ke mana? Camat Sofyan mengaku, uang ganti rugi tersebut masih disimpan di rumahnya di Jl Raya Tambak, Kecamatan Tambak. Ketika penyidik menanyakan mengapa tidak seluruh uang APBD tersebut dimasukkan ke rekening Hanifah, Sofyan mengaku ketelisut. ''Ketelisut kok sampai puluhan juta. Dua tahun lagi," tambah sumber itu.

Terkait dengan pelaksanaan ganti rugi kepada petani penggarap, Sofyan mengaku salah karena tidak memonitor. (yad/ib)

Dugaan Korupsi Ganti Rugi Tanaman Lapter, Camat Dihujani 146 Pertanyaan

Media Bawean, 21 Januari 2009

Sumber : BERITA JATIM
Reporter : Hardy

Gresik - Camat Tambak Bawean M Sofyan, akhirnya datang sekitar pukul 09.00 wib di t Idik II sat reskrim Polres Gresik menjalani pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi dugaan ganti rugi tanaman untuk lapangan terbang.

Pemeriksaan dimulai sejak pukul 09.00 wib hingga 16.30 wib, sedikitnya 146 pertanyaan diberikan kepada camat Tambak, yang baru-baru ini anaknya kena masalah terkait penganiyaan. Pertanyaan seputar aliran dana dari Pemkab Gresik.

Dihadapan penyidik, pria tambun berkaca mata minus mengakui dan menjawab seluruh pertanyaan yang disodorkan diantaranya terkait uang Rp 550 juta yang ditransfer ke rekening Hanifah adik Camat melalui bank Jatim Gresik ke Bank Jatim KCP Bawean.

Namun saat ditanya penyidik sisa Rp 11 juta dari keseleruhan dana ganti rugi tanaman untuk lahan lapter yang dibiayai APBD 2006 Rp 569.901.335 (termasuk transpor Rp 8,6 juta) sisanya masih ada.

Kasat reskrim Polres Gresik AKP Fadli Widiyanto membenarkan, kalau M Sofyan camat Tambak diperiksa oleh unit Idik II, namun secara rinci bisa ditanyakan ke penyidik.

"Jelas pertanyannya seputar aliran dana untuk ganti rugi tanaman untuk lapangan terbang (lapter) perintis di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak " kata Fadli (21/1/2009).

Seperti diberitakan, dalam pemeriksaan di Pulau Bawean, terungkap hanya 101 di antara 243 orang penggarap lahan yang diklaim telah menerima uang ganti rugi tanaman. Total ganti ruginya Rp 109,1 juta. Sedangkan bukti surat perintah jalan (SPJ) yang dilaporkan ke Pemkab Gresik Rp 569.901.335 (termasuk transpor Rp 8,6 juta). Dengan demikian, terjadi selisih Rp 460,8 juta. [ard/ted]

Kuras Rp 5 Miliar, Lapangan Terbang Rute Bawean-Malaysia-Singapura Mangkrak

Media Bawean, 21 Januari 2009

Sumber : SURYA

GRESIK | SURYA Online - Pembangunan Lapangan Terbang (Lapter) Perintis Bawean di Desa Tanjungori, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Jawa Timur, terpaksa dihentikan gara-gara kasus dugaan korupsi pembebasan lahan seluas tujuh hektare di pulau itu. Proyek yang kini mangkrak itu telah menguras dana sedikitnya Rp 5 miliar.

Bawean adalah pulau kecil di Laut Jawa, sekitar 150 Km di utara Gresik. Penduduknya sejak awal abad silam banyak yang merantau dan bermukim di Singapura atau Malaysia.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Gresik, Muhamad Nadjib, proyek terpaksa dihentikan sambil menunggu hasil penyelidikan polisi atas dugaan korupsi itu. Terhentinya rencana proyel itu sempat dipersoalkan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur selaku pelaksana pembangunan.

Bahkan, mereka mengancam Pemkab Gresik agar persoalan pembebasan lahan segera dituntaskan sampai pertengahan 2009. Ini lantaran pencairan beberapa anggaran yang sudah dialokasikan terpaksa dihentikan.

“Kami diminta Dinas Perhubungan Provinsi untuk segera menuntaskan persoalan ganti rugi lahan oleh warga, karena anggaran yang sudah teralokasi, baik dari APBN maupun APBD Provinsi tak bisa terus-terusan ditahan pencairannya,” kata Najdjib, Rabu (21/2009).

Menurut dia, sejak 2007 sampai kini dari areal lahan seluas tujuh hektare, baru separuhnya yang telah dibebaskan. Sisanya masih bermasalah. Ada sekitar 120 keluara yang menempati lahan di kawasan pembangunan lapter. Padahal, status lahan yang mereka tempati merupakan lahan milik negara.

“Warga masih bersikukuh mempertahankan lahannya yang diklaim peninggalan nenek moyang mereka. Padahal dari segi kepemilikan, mereka tak memegang sertifikat tanah. Mereka baru bersedia pindah asalkan ada ganti rugi yang hitungannya bukan hanya per meter lahan tapi malah per pohon, bahkan ada warga yang meminta klaim ganti rugi sampai Rp 500 juta,” katanya.

Soal apakah akan menempuh jalur hukum menyusul deadline dari Dinas Perhubungan Provinsi yang menarget pembebasan lahan segera dituntaskan, Nadjib belum merencanakan upaya tersebut. “ami lebih menggunakan pendekatan untuk mencegah timbulnya konflik,” katanya.

Untuk mempercepat proses pembebasan lahan, dalam APBD 2009 pemkab Gresik telah mengalokasikan anggaran senilai RP 2 miliar. Sebelumnya, dalam APBD 2007-2008, ganti rugi pembebasan lahan telah menghabiskan anggaran Rp 3 miliar.

“Jadi, total anggaran yang telah kami kucurkan dalam pembebasan lahan lapter mulai 2007 sampai 2009 senilai Rp 5 miliar,”katanya. Rencananya, operasional bandar udara perintis dengan rute Bawean-Malayasia-Singapura ini bisa terlaksana akhir 2009. Namun karena tersendatnya pembangunan, operasional bandara ditargetkan 2010 mendatang.

Sebelumnya, Tim Penyidik Polres Gresik mensinyalir ada indikasi mark up anggaran dalam pembangunan Lapter Bawean, sehingga harus meningkatkan status dari penyelidikan menjadi penyidikan. Bahkan puluhan saksi telah diperiksa terkait pengadaan pembebasan lahan. Sampai Rabu ini kepolisian belum menetapkan tersangka karena masih menunggu hasil audit BPKP tentang kerugian negara. ant

Dukun Misterius Berhasil Membius Warga Bawean Untuk Berobat

Media Bawean, 21 Januari 2009

Pasien Sedang Dalam Proses Pengobatan

Pasien Antri Untuk Berobat

Gus Ali Akbar dipanggil oleh para pasiennya, ternyata bisa mengobati segala macam penyakit yang diderita pasiennya. Dengan kehebatannya dalam mengobati segala macam penyakit, kediaman Gus Ali di desa Diponggo ramai dikunjungi oleh orang-orang diseluruh Bawean untuk berobat.

Proses pengobatan yang dilakukan serba aneh dan ajaib, si pasien merasa dibedah tetapi setelah operasi dilihat tidak ada tanda-tanda dioperasi, tetapi bagian yang dinyatakan dibungkus dan diperbal. Biaya pengobatannyapun sangat mahal berkisar antara 1juta, 2 juta, 3 juta, 4 juta, 5 juta , 6 juta dan sebagainya. Sedangkan pasien yang banyak datang dari desa Daun, diperkirakan sudah meraup puluhan juta dari orang-orang Daun yang sudah berobat. Kepdes Daun Abd. Aziz mengatakan, "Bila ada warga yang kurang mampu, dengan mengambil surat kemiskinan dari lurah, maka seluruh pembiayaan akan digratiskan," katanya.

Misteriusnya, setelah ditanyakan identitas diri, ternyata Gus Ali Akbar tidak bisa menunjukkan kepada pihak berwajib. Sedangkan izin prakteknyapun tidak mengantongi izin, tetapi jumlah pasein yang datang setiap harinya sangat banyak dan ramai.

Zulfa Kepdes Diponggo kepada Media Bawean mengakui bahwa kedatangan Gus Ali ke desanya tanpa ada identitas yang jelas. Sedangkan berkaitan dengan biaya mahal, Zulfa mengatakan "tidak tahu menahu bila ada tarikan jutaan rupiah, yang jelas untuk biaya beli obat ada," katanya.

Sebangian tokoh di Pulau Bawean merasa khawatir, takutnya pengobatan yang dilakukan berakibat fatal dikemudian hari. Dampak pengobatan yang dilakukan oleh Gus Ali, berakibat sepinya pasien yang berkunjung ke Puskesmas ataupun Balai Kesehatan yang ada di Pulau Bawean. (bst)

Nelayan Enggan Melaut, Ikan Kering Laris Manis

Media Bawean, 21 Januari 2009

Ikan Kering Dijemur

Saat musim angin atau dikenal istilah berat di Bawean, biasanya nelayan akan enggan melaut. Dengan tidak adanya nelayan yang berani melaut, secara otomatis ikan dipasar sangat sulit didapatkan. Kalaupun ada harganya sangat mahal dibanding dengan saat waktu normal.

Sehingga warga Bawean yang memiliki ikan kering banyak akan bisa meraup uang banyak dari hasil penjualannya dipasar. Seperti yang dilakukan oleh warga desa Dekatagung, saat ini sibuk menjemur ikan kering yang sudah lama disimpan.

Ikan kering biasanya dilakukan oleh warga bila saat musim ikan, harga murah ataupun tidak laku dijual dipasaran. Nah, seperti sekarang adalah kesempatan emas bagi warga yang sudah menyimpan banyak ikan kering. (bst)

Putusan Kasus Reklamasi Ditunda

Media Bawean, 21 Januari 2009

Sumber : SINDO
GRESIK (SINDO) – Putusan dua dari lima pelaku dugaan korupsi reklamasi Pantai Bawean ditunda awal Februari 2009. Majelis hakim beralasan, pembacaan putusan akan dibarengkan dengan kelima terdakwa perkara korupsi senilai Rp1,2 miliar itu.

Penundaan itu disampaikan Ketua majelis hakim Eddy Kir Byantoro saat agenda sidang terdakwa Kadis LHPE Soemarsono kemarin. Menurut Eddy Kir Byantoro, sidang kelima terdakwa berlainan. Kemarin rencana putusan bagi terdakwa Soemarsono dan Siti Kuntjarni (mantan TU Dinas LHPE). Padahal di saat yang bersamaan,dua kontraktor, Guntur Idang Buang dan Sihabuddin, memasuki pembelaan serta terdakwa Zainal Arifin masih sidang kesaksian.

”Kami berharap sidang putusan dapat digelar secara bersama- sama.Kami merencanakan akan digelar pada 2 Februari nanti,” katanya menawarkan kepada jaksa penuntut umum (JPU) Wido Utomo serta dua penasihat hukum terdakwa, Darmadi SH dan Suyanto SH. Tawaran itu disetujui Wido Utomo maupun dua penasihat terdakwa, Darmadi dan Suyanto. ”Kami tidak keberatan,” jawab Suyanto.Mendapati jawaban tersebut, majelis yang beranggotakan Muhammad Hasyim dan Joedi Prajitno langsung mengetuk sidang untuk ditunda sesuai dengan kesepakatan.

Praktis,sidang putusan Siti Kuntjarni pun ditunda. Bahkan, sidang dilanjutkan untuk materi pembelaan Sihabuddin dan Idang Buang Guntur atas tuntutan JPU yaitu; Idang Buang dituntut 1,5 tahun dan 1 tahun. Sidang dilanjutkan dengan terdakwa Zainal Arifin Sekadar mengingatkan, sidang kelima terdakwa memasuki tahap akhir. Empat dari lima terdakwa proyek yang merugikan negara Rp361.483.795 itu sudah dituntut.

Soemarsono dituntut JPU 1,5 tahun penjara, Siti Kuntjarni dengan 1 tahun penjara. Kemudian, Buang Idang Guntur dituntut 1,5 tahun penjara dan H Sihabudin dituntut 1 tahun penjara. Keempatnya dinilai melanggar UU No 31/1999 yang diubah UU No 20/2001 ten-tang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tepatnya Pasal 3 jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.Mereka telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi pada proyek reklamasi Pantai Sangkapura, Bawean, senilai Rp1,2 miliar.

Dengan demikian, hanya Zainal Arifin yang belum dituntut karena ada kesalahan ketik di berkas dakwaan hingga saat putusan sela dibebaskan dari tuntutan hukum. ”Kami berharap kelima terdakwa dapat diputus secara bersama. Sebab, perkaranya juga sama,” ujar Eddy Kir Biyantoro. (ashadi ik)

Kapal Antre BBM, Penumpang Keleleran

Media Bawean, 21 Januari 2009

Sumber : DUTA MASYARAKAT
GRESIK, Dermaga Pelabuhan Gresik lagi-lagi menyuguhkan atraksi klasik. Kemarin, ratusan penumpang keleleran akibat molornya jadwal keberangkatan kapal.

Menurut jadwal, Kapal Dharma Kartika tujuan pulau Bawean berangkat pukul 09.00 WIB. Namun, hingga siang hari, kapal yang seharusnya mengangkut ratusan penumpang dan barang itu tiada kunjung datang.

"Saya ini sudah menunggu di dermaga sejak pagi. Seluruh barang bawaan juga sudah saya siapkan. Kalau memang ada perubahan jadwal atau penundaan pemberangkatan, mestinya ada pemberitahuan lebih dulu. Masa ratusan penumpang dibiarkan keleleran seperti ini," celoteh Abdul Basit Karim, dedengkot LSM Gerbang Bawean yang berencana menginvestigasi sejumlah hutan lindung di Bawean yang sudah rusak berat.

Humas Administratur Pelabuhan (Adpel) Gresik, Pudiasto Nugroho, mengatakan, keterlambatan KM Dharma Kartika tujuan Bawean di luar kesengajaan. "Yang jelas, setelah kami konfirmasi, keterlambatan tersebut disebabkan kapal saat itu masih antre mengisi BBM di Tanjung Perak Surabaya," jelasnya. (dik)

Menanam Pisang Saat Musim Hujan

Media Bawean, 20 Januari 2009

Warga Made Pudakit Timur Menanam Pisang

Warga Made Pudakit Timur Menanam Pisang

Musim hujan dimaanfaatkan oleh warga untuk bercocok tanam, salah satunya seperti yang dilakukan oleh warga Made Pudakittimur untuk menanam pisang. (bst)

Sakit, Camat Tambak Tidak Jadi Diperiksa

Media Bawean, 20 Januari 2009

Sumber : JAWA POS
Terkait Kasus Lapter

GRESIK - Rencana penyidik Polres Gresik memeriksa Camat Tambak, Pulau Bawean, M. Sofyan gagal. Sebab, kemarin (19/1) Sofyan yang akan diperiksa sebagai saksi dalam dugaan korupsi ganti rugi tanaman untuk lapangan terbang (lapter) perintis di Desa Tanjungori, Kecamatan Tambak, itu tidak bisa datang.

Camat Tambak tersebut dikabarkan sedang sakit. "Saksi memberitahukan tidak bisa memenuhi pemanggilan karena sakit. Saksi janji paling lambat Rabu (21/1)," kata Kasatreskrim Polres Gresik AKP Fadli Widianto mewakili Kasatreskrim Polres Gresik AKBP R. Nurhadi Yuwono.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos, Camat Tambak M. Sofyan masih trauma setelah menempuh perjalanan 80 mil laut dari Pelabuhan Bawean menuju Pelabuhan Gresik pada Minggu (18/1). Trauma yang dialami Sofyan tersebut disebabkan kapal cepat Ekspress Bahari (EB) 8B yang ditumpangi bersama 185 penumpang lainnya nyaris tergulung ombak di perairan Selat Jawa.

Untung, kapal tersebut selamat meski radarnya rusak. Karena itulah, kapal tersebut menjalani doking (perbaikan) kemarin sehingga tidak bisa melayani penumpang dari Gresik ke Pulau Bawean.

"Kabarnya, Pak Camat masih trauma. Karena kapal yang ditumpangi diterjang ombak besar," kata seorang polisi.

Camat Tambak tersebut akan diperiksa sebagai saksi karena dianggap mengetahui proses ganti rugi tanaman untuk lahan lapter yang dibiayai APBD 2006 Rp 569.901.335 (termasuk transpor Rp 8,6 juta). Proses ganti rugi tanaman ditengarai mengandung unsur korupsi.

Seperti diberitakan, dalam pemeriksaan di Pulau Bawean, terungkap hanya 101 di antara 243 orang penggarap lahan yang diklaim telah menerima uang ganti rugi tanaman. Total ganti ruginya Rp 109,1 juta. Sedangkan bukti surat perintah jalan (SPJ) yang dilaporkan ke Pemkab Gresik Rp 569.901.335 (termasuk transpor Rp 8,6 juta). Dengan demikian, terjadi selisih Rp 460,8 juta.

Penyidik menemukan sejumlah kejanggalan, antara lain, 19 saksi yang dilaporkan mendapatkan ganti rugi ternyata telah meninggal sebelum proses pemberian ganti rugi dilakukan pada 2006.

Selain itu, ada seorang bocah berusia 8 tahun mendapatkan ganti rugi Rp 2 juta. Juga, empat saksi yang mendapatkan ganti rugi, tapi dilaporkan bahwa mereka tidak menerima ganti rugi.

Penyidik juga menemukan uang ganti rugi dari kas daerah (kasda) Pemkab Gresik ditransfer ke rekening Bank Jatim milik Hanifah, adik Camat Tambak M. Sofyan.

Hanifah kemudian mencairkan uang tersebut Rp 550 juta. Sisanya, sekitar Rp 11 juta, masih berada dalam rekening saksi yang kini disita penyidik unit tindak pidana tertentu (tipiter) Satreskrim Polres Gresik. (yad/ib)

Tarif Turun, Satu Kapal Keberatan

Media Bawean, 20 Januari 2009

Sumber : SURYA
GRESIK | SURYA Online-Badan Pembina Transportasi Daerah (BPTD) Gresik akhirnya mematok penurunan tarif angkutan laut, dalam rapat koordinasi di kantor Bupati Gresik, Senin (19/1). Manajemen KMP Dharma Kartika masih keberatan dengan penurunan tarif itu. Rencananya, tarif ini akan diberlakukan mulai Sabtu (24/1).

Hasil rapat BPTD Gresik menyebut, telah ditentukan besaran tarif baru setelah harga BBM turun. Selain tarif angkutan darat, BPTD Gresik juga telah mematok tarif baru untuk dua kapal penumpang yang melayani trayek Gresik-Bawean, KM Express Bahari 8B dan KMP Dharma Kartika. “Rata-rata tarif turun Rp 10.000,” kata Kabag Humas Pemkab Gresik, Hari Syawaludin, Senin (19/1) sore.

Hari menyatakan, wakil manajemen KM Express Bahari 8B sudah menyepakati besaran tarif baru. Tarif penumpang kelas VIP akan menjadi Rp 150.000 dari yang semula Rp 160.000. “Namun satu kapal lainnya, KMP Dharma Kartika masih keberatan,” tegas Hari.

Soal keberatan itu, BPTD, kata Hari, akan menunggu hingga tarif diberlakukan. Jika dalam batas itu manajemen KMP Dharma Kartika tetap keberatan, tarif baru tetap berlaku karena telah disepakati dalam rapat BPTD.

Manajer Operasional KMP Dharma Kartika, M Sofyan mengakui telah mengusulkan penurunan Rp 5.000. Jika di bawah angka ini, bisa dipastikan akan rugi. Sampai saat ini biaya operasional kerap tidak tertutup dengan jumlah penumpang. “Gaji dan operasional kapal kan masih tetap,” kata Sofyan, Senin (19/1).

Terkait dengan penurunan tarif kapal rata-rata sebesar Rp 10.000, Sofyan mengaku belum menerima laporan dari tim manajemen. Sofyan belum bisa menjelaskan sikapnya karena masih menunggu keputusan jajaran direksi PT Dharma Lautan.

Abdul Basid Karim, Koordinator LSM Gerakan Rakyat Bawean, mendukung langkah BPTD. Penurunan tarif itu sedikit membuat lega warga Bawean yang selalu membutuhkan pelayanan kapal. “Namun jangan sampai penurunan tarif juga menurunkan kualitas pelayanan,” harap Basid. st3

Molor Berangkat, Penumpang Kapal Keleleran

Media Bawean, 20 Januari 2009

Sumber : BERITA JATIM
Reporter : Hardy

Gresik - Molornya jadwal keberangkatan kapal Darma Kartika (DK) tujuan pulau Bawean membuat ratusan penumpang dan barang keleleran di dermga pelabuhan Gresik (20/1/2009) siang.

Jadwal berangkat rencananya pukul 09.00 wib, namun hingga berita ini ditulis belum ada kabar mundurnya jadwal kapal tersebut.

H Buang Guntur (50) pedagang asal Sangkapura, Bawean mengatakan sudah menungu sejak pagi, semua barang kebutuhan 9 bahan pokok saya siapkan sejak pagi, namun hinga kini belum ada kabar mundurnya jadwal keberangkatan.

"Kami bosan menunggu terus " tukas Buang pemilik salah satunya mini market di Bawean itu.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Amin (30) warga kecamatan Tambak, Bawean. Menurut Bapak satu anak ini penundaan keberangkatan mestinya ada pemberitahuan terlebih dahulu.

"Masak disini mulai dari pagi tidak ada kabar sama sekali" kata Amin yang juga warga desa Tanjung Ori disela-sela menunggu di Dermaga pelabuhan Gresik (20/1/2009).

Humas Adpel Gresik Pudiasto dikonfirmasi tentang keterlambatan Kapal Darmakartika yang memuat penumpang dan barang tujuan Bawean tidak disengaja.

"Saat ini kapal lagi antri mengisi BBM di Tanjung Perak Surabaya," jelas Tedy panggilan akrabnya kepada beritajatim.com, saat dihubungi ponselnya.[ard/ted]

Musim Hujan Warga Bawean Mandi Air Panas

Media Bawean, 19 Januari 2009

Sumber Air Panas Sangkapura

Warga Sedang Mandi Di Sumber Air Panas

Warga Sedang Mandi Di Sumber Air Panas

Sumber mata air panas di desa Sawahmulya Sangkapura, saat musim hujan seperti sekarang sangat ramai didatangi warga untuk mandi. Warga memilih antri untuk bisa mandi, untuk bisa mandi air panas.

Menurut salah satu warga kepada Media Bawean, mengatakan, "Sumber air panas sangat terasa nikmatnya untuk menghangatkan badan disaat musim hujan. Sebagian dari mereka tidak hanya mandi, tapi untuk memanaskan kaki untuk menghindari adanya penyakit kram, ataupun rematik, "katanya. (bst)

Ganti Rugi Ditransfer ke Adik CamatHari ini, Camat Tambak Diperiksa Polisi

Media Bawean, 19 Januari 2009


Sumber : JAWA POS
GRESIK - Penyitaan terhadap sejumlah barang bukti dugaan korupsi ganti rugi tanaman untuk lahan lapangan terbang (lapter) terus dilakukan polisi. Selain menyita ratusan kuitansi pembayaran, penyidik unit tindak pidana tertentu (tipiter) Satreskrim Polres Gresik menyita rekening milik Hanifah, adik Camat Tambak M. Sofyan.

Pasalnya, rekening Bank Jatim cabang Tambak tersebut menjadi bukti pengiriman uang dari kas daerah (kasda) Pemkab Gresik untuk uang ganti rugi. Jumlah uang yang ditransfer sekitar Rp 550 juta. "Uang ganti rugi tersebut dicairkan pada 18 Desember 2006. Yang mencairkan Hf dan JS," terang Kasatreskrim Polres Gresik AKP Fadli Widianto yang mewakili Kapolres Gresik AKBP R. Nurhadi Yuwono.

Berdasar hasil penelusuran koran ini, perempuan bernisial Hf tersebut adalah Hanifah. Sedangkan JS adalah Joko Suryantoro yang menjabat sebagai sekretaris Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean. Setelah dicairkan, uang tersebut diberikan kepada mantan Kades Tanjungori Danaori. Danaori telah diperiksa sebagai saksi. Sabtu lalu (17/1), penyidik telah memeriksa istri Danaori, Jumiati.

Hari ini penyidik berencana memeriksa M. Sofyan. "Surat pemanggilan pemeriksaan sebagai saksi telah kami kirim beberapa waktu lalu," tutur Kasatreskrim.

Bila hari ini Sofyan memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi, penyidik telah memeriksa sekitar 160 saksi. Mereka terdiri atas 150 penggarap lahan yang diklaim menerima uang ganti rugi tanaman dan sepuluh saksi dari birokrasi dan keluarganya.

Meski ada indikasi tindak pidana korupsi, hingga kemarin (18/1) polisi belum menentukan para tersangkanya. "Sabarlah, kita tunggu hasil audit BPKP terlebih dahulu. Setelah itu, baru ada penetapan para tersangka," ujar Kasatreskrim.

Seperti diberitakan, selama sepekan, berakhir pada 25 Desember 2008, tujuh penyidik (lima anggota Polres Gresik dan dua anggota Polsek Tambak) memeriksa para penerima uang ganti rugi. Hasilnya, terungkap hanya 101 di antara 243 orang penggarap lahan yang diklaim telah menerima uang ganti rugi tanaman. Total ganti ruginya Rp 109,1 juta. Sedangkan bukti surat perintah jalan (SPJ) yang dilaporkan ke pemkab Gresik Rp 569.901.335 (termasuk transpor Rp 8,6 juta) sehingga terjadi selisih Rp 460,8 juta.

Dalam penyelidikan tersebut, penyidik menemukan sejumlah kejanggalan. Di antaranya, 19 saksi dilaporkan mendapatkan ganti rugi, tetapi orangnya telah meninggal sebelum proses ganti rugi dilakukan pada 2006. Ada pula seorang bocah berusia delapan tahun yang memperoleh ganti rugi Rp 2 juta. Selain itu, empat saksi yang dilaporkan mendapatkan ganti rugi ternyata mengaku tidak menerimanya.

Penyidik juga menemukan penggelembungan nominal uang ganti rugi. Sukri, misalnya, mengaku menerima uang ganti rugi Rp 4 juta, padahal tertulis Rp 8 juta di kuintasi yang dibuat pihak desa. Namun, laporan yang masuk di bagian keuangan Pemkab Gresik menyebut Rp 48 juta. Fakta tersebut semakin menguatkan dugaan penyidik bahwa ada unsur korupsi dalam ganti rugi tanaman yang dibiayai APBD 2006 tersebut. (yad/ib)
 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.