Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
300x210
250x250

adsbybawean

Haram Mendukung Caleg Bermain Uang

Media Bawean, 28 Februari 2009

Saat kami berkunjung kerumah teman di Tambak (28/2), mereka langsung berkata, "Haram mendukung Caleg yang bermain dengan uang untuk mendapatkan dukungan atau suara," katanya.

Kenapa haram, kataku. Teman menjawab, "Dengan bermain uang mereka bisa disamakan dengan berjudi atau mengundi nasibnya sebagai calon wakil rakyat,"ujarnya.

"Halal memilih Caleg yang tidak bermain dengan uang. Tapi kondisi di Bawean, sulit bagi Caleg tidak bermain dengan uang untuk jadi. Maka untuk Caleg tidak beruang bersiap-siaplah kalah dalam pertandingan ,"jelasnya.

Perkataan teman sangat menarik, selama ini kami hanya mengetahui bahwa money politik adalah termasuk pelanggaran hukum. Lalu bagaimana menurut tinjauan agama, adakah fatwa para ulama yang mengharamkan money politik? Apakah seorang caleg bila berkunjung kerumah kyai atau lainnya, bersalaman dengan amplop berisi uang termasuk kategori money politik? (bst)

Warung Apung Diponggo

Media Bawean, 28 Ferbruari 2009

Warung Apung Diponggo

Nuansa Didalam Warung Apung Diponggo

Pengunjung Warung Apung Diponggo

Warung apung di desa Diponggo memiliki keunikan daripada warung yang lain di Pulau Bawean. Suasana diluar pintu masuk terpasang banyak benderah beberapa parpol peserta Pemolu 2009. Sedangkan didalamnya banyak ditempel gambar Caleg dari beberapa Parpol.

Saat Media Bawean berkunjung ke warung apung, ternyata pengunjungnya lumayan banyak. Sedangkan menu yang ada juga banyak sesuai selerah pengunjung. Mulai dari lalapan, ikan bakar dan lain-lain. (bst)

Siang Hari Di Pulau Bawean

Media Bawean, 28 Februari 2009

Warga Carabaka Duduk Santai Di Durung

Warga Carabaka Duduk Santai Di Durung

Siang hari yang panas, saat Media Bawean berencana meliput berita ke daerah Tambak. (28/2) Sempat berhenti di durung melihat langsung aktivitas warga Carabaka Kepuhlegundi di siang hari.

Setelah datang mengambil rumput, mereka istirahat di durung dengan rmakan ujak kedongdong muda bersama. Inti pembicaannya adalah Caleg (Calon Legislatif) yang mau dipilih dalam pemilu nanti tanggal 9 April.

"Eson meleah ............, sebab bik tokellen kalaben bini," katanya.
Kata yang lain, "Eson meleah ..............., la kebengko berempa kali, eson nyerser," ujarnya.
"Eson melea si aberik pesse ka eson, sebab mun la deddi tak kerah engak," lanjut lainnya.

Terus pembicaraan mereka seputar politik untuk memilih Caleg ditingkat Kabupaten. Media Bawean pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Tambak.(bst)

Kades Daun Laporkan Ali Akbar Ke Polisi

Media Bawean, 27 Februari 2009

Kades Daun Di Kantor Polsek Sangkapura

Kades Daun Di Kantor Polsek Sangkapura

Kades Daun Abd. Aziz hari ini (27/2) melaporkan kecurigaan pemalsuan KTP yang dilakukan oleh Ali Akbar ke Polsek Sangkapura. Kades datang jam 11.00 WIB, tapi pemeriksaan dilanjutkan setelah shalat jum'at.

Menurut Kades Daun, mengatakan, "Bila membandingkan KTP Kabupaten Cirebon yang ada dengan milik Ali Akbar sangat dicurigai pemalsuannya, diantaranya masa berlaku dengan tanggal lahir, Kewarganegaraan tidak ada, dan nomor balik KTP," katanya.

"Terusterang saya capek dengan urusan Ali Akbar sudah hampir sebulan di Daun yang membuat resah masyarakat. Sehingga saya datang untuk melaporkan," ujarnya.

Kapolsek Sangkapura AKP. H.Zamzani dihubungi Media Bawean, membenarkan adanya laporan dari Kades Daun dan segera akan menindaklanjutinya. (bst)

KTP Ali Akbar DicurigaI Palsu

Media Bawean, 27 Februari 2009

Setelah MUI Sangkapura memutuskan untuk mendeportasi (mengusir) dari Pulau Bawean, ternyata mentah dan terkendala dengan tidak adanya Perda pengusiran. Ali Akbar menyanggupi untuk menyerahkan KTP-nya terakhir hari ini (27/2). "Kemarin (25/2) Ali Akbar menyerahkan foto KTPnya melalui orang kepercayaannya kepada saya, dilanjutkan sore hari sekitar jam 16.00 WIB ditunjukkan KTP aslinya oleh pengacaranya Musta'in, SH.," kata Kepala Desa Daun Abd. Aziz.

KTP Ayatullah Ahmad Ali Akbar

KTP Ayatullah Ahmad Ali Akbar (Dibalik)

KTP Ali Akbar dibanding dengan KTP warga Indenesia yang lain sangat beda, diantaranya masa berlakunya dengan tanggal lahir berbeda, tidak ada kewarganegaraan, nomor balik KTP.

Sebagai pembanding seperti KTP dibawah milik warga Cirebon.

KTP Warga Cirebon

KTP Warga Cirebon (Dibalik)

Politik Asketik KH. Badri Masduqi

Media Bawean, 27 Februari 2009

Oleh : AS’ARI JS.

Tulisan ini terinspirasi tanggapan pembaca Media Bawean tanggal 23/02/2009 yang ingin lebih mengenal figur KH. Badri Masduqi dan pesantren Badridduja beserta sumbangsinya pada bangsa terutama Bawean. Diskusi kali ini, akan membicarakan sepak terjangnya di dunia politik mengingat momentum Pemilu 2009 yang akan di mulai pada 9 April 2009 dengan pemilihan calon legislatif (caleg).


Tulisan ini bagian dari hasil penelitian penulis untuk kepentingan karya ilmiah dengan judul “Pemikiran Politik KH. Badri Masduqi”.


Mungkin hanya sebagian masyarakat Bawean yang mengenal nama KH. Badri Masduqi. Tetapi figur KH. Badri Masduqi adalah figur ulama yang sudah dikenal secara nasional bahkan Internasional. Ia adalah pendiri pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo dan Khalifah tarekat Tijaniyah di Indonesia. Lalu apa kaitannya dengan Bawean? Padahal KH. Badri Mashduqi sendiri lahir di Madura. Dan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw., kemaren yang diadakan Ikatan Persaudaraan Bawean Rantau (ISBAR) di Pesantren Badridduja, KH. Ahmad Tauhidullah Badri mengatakan bahwa keberadaan pesantren Badridduja dan pesantren Al-Masduqiah bagian dari kemanfaatan adanya orang Bawean. Kaitannya dengan Bawean adalah adanya sosok Nyai Hj. Maryamah, istri KH. Badri Masduqi yang berasal dari Pulau Bawean (baca: Media Bawean, 23/02/09).


KH. Badri Mashduqi tidak hanya seorang ulama yang pada zamannya dijuluki “Singa Podium”, “Singa Bahtsul Masail”, “Kutu Buku”, “Ahli Makrifat”, tetapi juga mendapat julukan “Top Leader Informal PPP” dan dikenal pula “istikharah politiknya". Selain itu, ia aktif mengikuti dan mengisi seminar baik tingkat lokal maupun nasional. Maka wajarlah bila kemudian ia disebut kiai multifaset atau kiai multidimensi.

Sebagaimana halnya ulama Sunni, KH. Badri Masduqi tidak memisahkan antara Islam dengan politik, tetapi menurutnya secara fungsional harus ada pemisahan antara politik dan Islam. Sebab antara keduanya dua wilayah yang berbeda, politik adalah produk baru dan bersifat relatif sedangkan agama permanen. Jadi, agama tidak bisa dijadikan instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan politik sesaat. Ia juga berpandangan terjadinya perpecahan selama ini di kalangan umat Islam di samping melanggar persoalan-persoalan prinsip demi kepentingan sesaat juga karena dangkalnya pemikiran orang Islam sehingga terjadilah kesenjangan. Adanya pelanggaran terhadap dua hal tersebut mengakibatkan ulama dan kiai saling sikut-menyikut layaknya di dunia olah raga. Begitulah menurut KH. Badri Masduqi.

Kendati demikian KH. Badri Masduqi tidak menjauhi politik justru ia masuk di dalamnya, tetapi ia bermain di luar sistem. Tercatat sejak tahun 1971, KH. Badri Masduqi terjun ke dunia politik praktis saat NU masih menjadi partai politik. Kemudian ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat partai berideologi Islam dipaksa fusi pada partai bentukan pemerintah tersebut. Pada tahun 1977-1987, KH. Badri Masduqi menjadi juru kampanye PPP yang cukup brilian dan kritis terhadap pemerintah Orde Baru, ia pun sempat mendekam di penjara selama 40 harian tetapi tidak pula menyurutkan kritisismenya. Sebagaimana alasan banyak kiai yang terjun ke dunia politik, KH. Badri Masduqi juga mempunyai alasan yang sama, yaitu sebagai ibadah dan bagian dari amar makruf nahi munkar. Tetapi ada yang membedakan antara politik KH. Badri Masduqi dengan kiai politik lainnya adalah ia tidak tertarik dengan kekuasaan. Jabatan yang cukup menggiurkan dari tawaran menjadi anggota DPRD Jatim sampai DPR/MPR RI baik tawaran PPP maupun tawaran Utusan Golongan semua ia tolak. Alasannya cukup jelas, bahwa antara ulama dan penguasa sudah jelas aturan mainnya. Konsetrasi ulama mengurus umat (berorientasi akhirat) dan penguasa mengurus rakyat (berorientasi keduniaan). Kedua pemimpin ini harus bersinergis sebagai patner dalam membangun bangsa, bila antara kedua pemimpin ini ada kesenjangan jangan harap negara, bangsa akan aman dan rakyat akan sejahtera.

Pada tahun 1992, nama dan wajah KH. Badri Masduqi menghiasi beberapa media nasional. Berawal dari sholat Istikhorah, sholat yang tidak pernah ia tinggalkan saat menghadapi dualisme pilihan terutama menyangkut orang banyak, apalagi soal negara. Berangkat dari itu, kemudian KH. Badri Masduqi melakukan sholat Istikhorah. Hasilnya, ia bermimpi Nabi Muhammad menitipkan bangsa Indonesia pada Soeharto dan berdasarkan ijtihad politiknya tentunya, ia berkesimpulan bahwa Soeharto harus meneruskan kepemimpinan bangsa ini periode 1993-1998 dengan menyandingkan Try Sutrisno sebagai wakilnya. Di tahun yang sama, KH. Badri Masduqi juga melakukan istikhorah untuk mencari siapa figur yang baik untuk menjadi gubernur Jawa Timur periode 1993-1998, hasilnya ia menyebut Bosofi Soedirman (pada saat itu Wakil Gubernur DKI Jakarta) yang pas untuk memimpin, itu semua telah dibuktikan.

Di tahun yang sama, 1992 ia juga menyatakan netral dan berjanji tidak akan terlibat dukung-mendukung salah satu organisasi peserta pemilu manapun, sebab PPP sudah tidak berasas Islam lagi. Golkar juga PDI telah mengusung isu-isu Islam sebagai program partainya yang dulunya program keislaman hanya diperjuangkan PPP. Namun, sebagai konsekuensi netralnya ia berjanji akan mendatangi semua partai yang mengundang bila untuk berceramah agama bukan berkampanye. Sejak itu hingga kewafatannya pada tahun 2002, KH. Badri Masduqi absen dari politik.

KH. Badri Masduqi bertarekat juga berpolitik. Ia telah “meruntuhkan” asumsi bahwa kaum tarekat hanya hidup dalam kesendirian dan menjauh dari kehidupan dan pengapnya politik. Tetapi ia mampu menjambatani dan memasuki dua dunia yang secara diametral berbeda. Politik semacam ini—meminjam istilah Abdul Munir Mulkan—politik asketik yang dilandasi etika moral.

Kembali pada sejarah awal kedatangan Islam, yaitu pada masa Nabi. Munculnya Islam sebagai agama dan sebagai kekuatan sosial disisi lain bukan lahir dari embrio kesukuaan Nabi Muhammad juga tidak dibentuk dari sistem politik. Tetapi Nabi Muhammad membentuk dan membangun Islam dengan membentuk kepribadian, etika dan kepercayaan masyarakat pada dirinya sehingga sebelum diangkat menjadi Nabi sudah bergelar al-Amin. Maka ketika Nabi mendeklarasikan bahwa dirinya adalah utusan Allah, tentu saja sedikit demi sedikit masyarakat percaya dan menerima serta membantu Nabi dalam membesarkan agama Islam. Di awal dakwah Islam hingga berapa tahun, Nabi tidak merubah budaya masyarakat dengan sistem tetapi Nabi membangun masyarakat melalui karakter individu-individu masyarakat dengan menguatkan tauhid, memperkokoh keimanan kepada Allah. Maka sedikit demi sedikit budaya Arab yang kuat akan isme-ismenya, fanatisme golongan dan bahkan Muhammad Saw., mampu merubah masyarakat jahiliyah tersebut kepada sebuah peradaban yang Islami, toleran, kebersamaan.

Tentu saja, merubah karakter masyarakat Indonesia yang korup, dan sejenisnya tidak bisa hanya merubah konstitusinya, tetapi perubahan mendasar yang harus dirubah adalah perubahan mindset, karakter dan budaya masyarakatnya dengan menanamkan dan memperkokoh kembali tauhid atau keimanan yang kuat pada individu-individu masyarakatnya. Apa yang dilakukan KH. Badri Masduqi adalah tak lain merupakan manifes dari pengalaman keagamaannya yang sudah kokoh. Baginya menempuh jalan tarekat adalah solusi dalam memperkokoh keimanan. Tarekat atau Sufisme adalah salah satu unsur untuk memahami esensi agama. Sedangkan esensi agama menurut Muhammad Iqbal adalah iman. Iman lanjut dia lebih dari sekedar perasaan. Itulah dasar fundamen yang dibangun KH. Badri Mashduqi dalam berseni di dunia politik.

Merantau

Media Bawean, 26 Februari 2009

Oleh : Riza Fahlevi (http://rizafahlevi.blogspot.com)

Orang Bawean punya tradisi unik saat akan merantau. Setelah meninggalkan rumah, maka mereka tak boleh lagi menoleh ke belakang. Apapun yang terjadi, pandangan harus tetap tertuju ke depan! Namun setelah berasil di rantauan, mereka harus pulang, menengok kampung halaman.


Ini adalah tradisi, kebudayaan yang bermula dari kebiasaan dan bermuara pada adat. “Budaya” atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Begitulah.

Tentu tradisi tersebut ada maksudnya. Mengapa perantau tak boleh lagi melihat ke belakang? Supaya mereka bisa fokus dengan hal yang akan dihadapinya di rantauan. Sesuatu yang bisa jadi belum pernah dibayangkan sebelumnya. Sesuatu yang baru, sesuatu yang asing.

Merantau sendiri, adalah pilihan bagi pria Bawean. Disebut “pilihan”, karena tak ada paksaan. Tak mau merantau tak masalah, cuma masyarakat tak akan mengakuinya sebagai “lelaki”. Di Bawean, seseorang akan diakui sebagai lelaki jika sudah merantau. Ibarat lompat batu di Nias, atau Upacara Kedewasaan dari suku WaYao di Malawi, Afrika.

Maklumlah, karena merantau memang berat. Merantau zaman ini terasa ringan, mengingat majunya teknologi transportasi dan komunikasi. Tapi dulu, lelaki Bawean harus berbulan-bulan dalam perahu layar untuk membawanya merantau ke Melaka dan Tumasik dan seminggu jika hendak ke Pulau Jawa.

Bayangkan, selama itu harus terombang ambing di laut, makan ala kadarnya, dan tak bisa membersihkan badan. Belum lagi terputusnya hubungan dengan keluarga tercinta. Bertemu di mimpi saja sudah syukur Alhamdulilah.

Karena itulah, tekad bulat, tekad baja. Berlaku di sini. Jangan cengeng, rautau tak mengerti apa itu kata cengeng. Yang ada hanya kata maju, fokus. Rise or fail. Hanya ada dua pilihan; hidup mulia atau mati. Kalaupun harus mati, ada dua pilihan, mati konyol atau mati mulia (syahid). Pokoknya belajar, belajar, belajar bagaimana bisa bertahan hidup. Survival of the fittes-lah.

Pilihan inilah yang dilontarkan Panglima Islam, saat akan menaklukkan Andalusia. Setelah selesai menyeberagi selat jabal Tariq (Gibraltar, Maroko), sang Panglima membakar semua perahu tentara Muslimin. “Nah sekarang pilihannya hanya dua. Maju, risikonya mati, tapi mati syahid. Mundur, risikonya mati, tapi mati konyol,” begitulah.

Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah, saat memutuskan Hijrah ke Madinah. Suatu hal yang sama sekali masih asing. Apalagi saat itu, Madinah bukanlah dihuni penduduk Muslim. Namun, tekad ini terus digelorakan Rasulullah hingga akhirnya berhasil.

Berat memang (kadang juga ada rasa takut) saat meninggalkan orang-orang tercinta dan “dunia” yang sudah hayati. Tak usah berpikir membayangkan bagaimana tatanan masyarakat di rantau kelak, memikirkan makanan saja sudah berat. Dari semula lidah terbiasa dengan makanan bersantan, di rantau nanti harus makan makanan berkecap.

Belum lagi mikirkan yang lain, ”Bagaimana dengan ini saya? Kalau ayam saya mati bagaimana? Karena kalau tak saya yang ngasih makan, siapa lagi?”

Namun apa daya, jika nantinya dengan merantau bisa membuat segalanya lebih baik, mengapa tidak? Demi sesuatu yang lebih baik kadang harus menerima kenyataan untuk “berperang” di dunia baru. Karena inilah tekad para perantau.

Saya yakin tekad merantau ini tak hanya dianut orang Bawean saja. Marco Polo, dan para penjelajah Eriopah-pun telah menganutnya. Saya mencontohkan orang Bawean, karena yang saya tahu, orang Bawean memang memiliki tradisi seperti itu.

Merantau memang berat. Dalam konteks kekinian, merantau juga bisa diartikan dengan hal-hal yang baru. Di pekerjaan sendiri, kadang juga kita harus “merantau” ke bidang yang lain. Berat memang, namun harus dijalani. Karena pilihannya hanya dua, seperti yang sudah saya singgung di atas.

Dan, jangan lagi menoleh ke belakang. Tapi jika sudah berhasil, jangan lupa menengok tempat asal.

Mario Teguh memiliki contoh yang lebih baik soal ini. “Ibaratnya Anda punya mobil Ferari, apakah semua isi bagasi dari mobil lama Anda akan dipindahkan juga Ferrari Anda? Tentu tidak!”

H. Arifin Vs H. Rahem Berlanjut

Media Bawean, 26 Februari 2009

H. Arifin Saat Di Kantor Polsek Sangkapura

H. Arifin warga Sungaiteluk memberikan keterangan seputar kejadian yang menipa dirinya saat mengendarai mobil inova di kawasan Perikanan Sangkapura kepada Media Bawean di Kantor Polsek Sangkapura (26/2).

Menurut H. Arifin, mengatakan, "ini searah sama-sama dari barat sampai di perikanan saya sudah pakai telakson beberapa kali dan sudah masuk lewat," katanya.

"Sampai dirumah selama 5 menit, kata anak ada H. Rahem. "Ada apa Pak Haji", kata saya. Jawab H. Rahem, "Kake nyarempet eson, eson labu," kata H. Rahem menurut H. Arifin.

"Saya dikepung didalam pekarangan depan garasi, saya sudah berusaha menjelaskan. Tapi H. Rahem langsung menjotos ke arah mata saya,"ujar H. Arifin.

"Terusterang meskipun saya bermusuhan dengan H. Rahem, seandainya mengetahui kejadian terjatuhnya pasti saya tolong. Sumpah demi Allah, saya tidak tahu kalau mobil terserempet dengan sepeda motor H. Rahem,"jelas H,Arifin.

Mobil Kijang Inova Milik H. Arifin

Mobil H. Arifin tadi pagi sekitar jam 08.00 WIB diserahkan sebagai barang bukti di kantor Polsek Sangkapura. Menurut Kapolsek Sangkapura, AKP. H. Zamzani mengatakan, "Mobil H. Arifin setelah berkasnya diserahkan kebagian kecelakaan Gresik, nanti H. Arifin dan H. Rahem dipanggil, setalah diminta keterangan disana bisa mengajukan pinjam pakai," katanya.

"Ini berlanjut dan sama-sama lapor, H. Rahem melaporkan kecelakaan sedangkan H. Arifin laporan pemukulan," ujar Kapolsek Sangkapura.

H. Abdur Rahem Menunjukkan Luka Di Kakinya

Sepeda Supra X Milik H. Abdur Rahem

Sedangkan H. Rahem kepada Media Bawean mengatakan, "Bohong kalau H. Arifin tidak mengetahui atau merasakan saat mobilnya tersempet dengan saya, " katanya.

"Terusterang saya sangat geram (mangkel) dengan tidak adanya pertolongan dari H. Arifin, sehingga spontan saya langsung menuju rumahnya. Itupun kami tidak memukul secara kuat, kalau pukulan yang saya lakukan kuat pasti lukanya parah," ujar H. Rahem.

"Luka di kaki saya masih membekas, lihat ini," kata H. Rahem sambil menunjukkan luka di kakinya.

"Sedangkan isteri sampai sekarang belum bisa bangun dari tempat tidur. Akibat retak tulang dibagian punggungnya," jelas H. Rahem. (bst)

Bawean Kembali Banjir Ikan Tongkol

Media Bawean, 26 Februari 2009

Penjual Ikan Tongkol Di Suwari Malu Mau Di Foto

Penjual Ikan Tongkol Di Suwari

Penjual Ikan Tongkol Di Suwari Nantang Mau Di Foto

Setelah beberapa hari tidak ada nelayan yang melaut, akibat gelombang besar di Perairan Bawean. Hari ini (26/2) banyak dijumpai penjual ikan berjalan sambil menjajakan kepada warga setempat.

Saat Media Bawean menghentikan penjual ikan yang lewat, spontan ibu yang profesinya sebagai penjual ikan keliling langsung bertanya, "Mellea jukuk yach?" katanya.

Mr. Gerbang Bawean bertanya, "Sanape hargana Bu?"
jawabnya, "Bede si 20 ebu, 10 ebu ben 5 ebu,"
Mr. Gerbang Bawean minta memfoto, kata ibu, "Mak efotoa nak, ekocak mellea jukok," katanya. (bst)

Bawean Hujan Sepanjang Hari

Media Bawean, 26 Februari 2009

Sungai Di Sawahmulya Sangkapura (Dekat Kantor Koramil)

Beberapa hari Pulau Bawean diguyur hujan deras, tak henti-hentinya sepanjang hari sejak dua hari yang lalu. Banyak warga berjaga-jaga, khawatir takut banjir bagi rumahnya berdekatan dengan sungai. (bst)

Polsek Sangkapura Serius, KSDA ?

Media Bawean, 25 Februari 2009

Anggota Polsek Sangkapura
Menunjukkan Bukti Kayu Curian Di Hutan Milik Negara

Polsek Sangkapura serius mengusut tuntas penjarahan kayu di hutan milik negara Pulau Bawean, dua tersangka pencurian kayu di Pudakit Timur yang hari ini masih diamankan di Polsek Sangkapura akan segera dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Gresik.

Menurut Kapolsek Sangkapura, AKP. H. Zamzani, mengatakan,"Insya Allah minggu depan tersangka kasus pencurian kayu di kawasan hutan milik negara Pulau Bawean akan P21, bila tidak ada kekurangan," katanya.

"Proses penyidikan masih berlangsung untuk penyempurnaan berkas yang ada," ujar Kapolsek Sangkapura.

Keseriusan Polsek Sangkapura belum mendapat perimbangan dari pihak KSDA di Pulau Bawean. Maraknya pencurian kayu, alasan mendasar dari KSDA Pulau Bawean adalah kekurangan personil dalam mengamankan hutan di kawasan Pulau Bawean. Tetapi anehnya, tindakan yang selalu dikedepankan oleh pihak KSDA Bawean bila menangkap pencuri hutan milik negara adalah pembinaan. (bst)

Waspada Maulid Politik Di Bawean

Media Bawean, 25 Februari 2009

Tradisi Maulid Di Pulau Bawean

Momentum pesta demokrasi Pemilu 2009, ternyata waktunya sangat berdekatan dengan bulan maulid Nabi Muhammad SAW. Rentan waktu yang hampir berdekatan dan lebih awal maulid, tentunya akan dijadikan ajang kesempatan oleh Caleg untuk mencari dukungan sebanyak mungkin.

Bila nuansa politik dikedepankan dalam pelaksanaan maulid, esensinya akan bernilai beda dengan tujuan murni dilaksanakannya peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maulid politik lebih mengedepankan meraih kekuasaan, sedangkan maulid Nabi bertujuan untuk melaksanakan sunnah Nabi.

Kenapa harus diwaspadai maulid politik?
Saat Media Bawean melakukan peliputan untuk pencarian berita, terkadang ada cerita umum yang dikeluarkan oleh tim sukses Caleg tertentu akan memanfaatkan momentum maulid sebagai ajang kampanye untuk meraih dukungan masyarakat Pulau Bawean. Bila maulid sudah dijadikan sarana untuk mendobrak perolehan suara, maka maulid politik akan menjadi kenyataan.

Bagaimana menurut Panwas dengan maulid politik, apakah termasuk salah satu pelanggaran mencuri start untuk kampanye? kita kembalikan kepada Panwas yang ada di Pulau Bawean (Sangkapura & Tambak). Apakah maulid politik akan dibubarkan oleh Panwas? Ataukah dibiarkan tanpa ada reaksi untuk melakukan gerakan sesuai dengan fungsi tugasnya sebagai pengawas dalam pelaksanaan Pemilu. (bst)

Penulis Aktif MB Belajar Tinju

Media Bawean, 25 Februari 2009

Musyayanah Belajar Jadi Petinju

Pembaca Media Bawean tentunya sudah mengenal akrab dengan Musyayanah, penulis aktif di Media Bawean. Tulisannya banyak mendapat simpati dari semua kalangan, baik di dalam negeri ataupun luar negeri.

Tetapi akhir-akhir ini sibuk dengan belajar tinju. Setelah MB tanyakan tujuan belajar tinju, jawabnya singkat, "ini persiapan menghadapi lelaki yang selalu memarjinalkan kelompok perempuan," jawab aktivis perempuan di Surabaya. (bst)

Kapal Dipaksa Kabur Ditembaki Militer Rusia5 WNI Selamat, ABK Sidoarjo Hilang

Media Bawean, 25 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat

VLADIVOSTOK, Sebuah kapal China, The New Star, dengan nakhoda dan lima ABK warga negara Indonesia (WNI) serta ABK lain warga Tiongkok, diberondong tembakan oleh pasukan penjaga pantai Vladivostok, Rusia. Tujuh pelaut China tewas dan satu ABK WNI, Dwi Sutrisno, sampai Selasa (24/2) kemarin dilaporkan masih hilang. ABK ini diketahui kelahiran Sangkapura Bawean Gresik dan tinggal di Sidoarjo.

Kapal The New Star itu tenggelam pekan lalu di perairan Vladivostok, Rusia, setelah ditembaki kapal tempur Rusia. Aparat keamanan Rusia menuding kapten kapal bertanggung jawab atas penembakan tersebut sebab kapal itu secara ilegal telah melewati perbatasan laut negeri tersebut. Namun ada versi lain kapal itu bermasalah saat berada di pelabuhan tapi nakhoda dipaksa kabur oleh pemilik kapal sehingga ditembaki aparat keamanan negeri tersebut hingga hampir karam. Para ABK lalu berupaya menyelamatkan diri dengan naik sekoci. Sebagian dari mereka telah ditemukan, sebagian lagi masih dinyatakan hilang, termasuk seorang WNI. Sedang nakhoda kapal, Adi Mazwir, asal Padang, dan empat ABK lain, Alwi asal Binjai (Medan), Fachruddin Fahmi asal Sangkapura Bawean Gresik, Bernet Deny Pekayon asal Bekasi, dan Andrianus Kudato dari Tanjung Priok Jakarta dilaporkan selamat dalam insiden tersebut.

Untuk itu Departemen Dalam Negeri (Deplu) RI segera memastikan pemulangan kelima korban selamat tersebut. Nani, istri korban Kudato, Selasa (24/2) kemarin, mendapat kepastian itu dari Deplu. Kudato adalah first engineer kapal The New Star.

"Kemarin Deplu kabari saya. Dan saya tanya kapan pulang. Katanya dalam 1-2 hari ini akan memberikan perkembangan lagi," kata Nani.

Nani mengatakan, saat ini kondisi Kudato dan rekannya dalam keadaan sehat. Kelimanya akan melakukan temu pisah bersama rekan lain di salah satu hotel di Vladivostok, Rusia.

"Kita sudah hubungi Bapak. Keadaan sehat. Nanti mau bertemu pisah dulu dengan rekannya, baru akan pulang. Dari KBRI Moskow juga kemarin sudah mendatangi mereka," katanya.

Deplu juga sudah mengabari Nani bila ada satu orang ABK Indonesia yang hilang yakni Dwi Sutrisno. "Tujuh orang dari China," katanya.

KBRI Moskow akan memberikan perlindungan hukum maksimal bagi para ABK WNI yang terlibat insiden Vladivostok. "Kami terus memantau perkembangan kasus ini dari waktu ke waktu," kata

Dubes RI di Moskow Hamid Awaluddin Selasa kemarin.

Dikatakan, saat ini para petugas Rusia masih terus melakukan penyelidikan atas kasus penembakan kapal New Star berbendera Sierra Leone milik perusahaan China itu. Yang menggembirakan, empat ABK WNI oleh petugas pemeriksa sudah dinyatakan tidak bersalah sehingga bisa kembali ke tanah air, setelah menyelesaikan urusan gaji dengan pemilik kapal serta administrasi lainnya.

Sedang nahkoda Adi Mazwir sementara harus tetap berada di Rusia untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Kami memberikan perlindungan maksimal kepada kapten kapal. KBRI akan mengupayakan bebas dari jeratan hukum karena yang bersangkutan dalam menjalankan tugasnya di bawah tekanan," katanya.

Hamid mengaku untuk mendapat akses cepat guna menolong ABK WNI dia sudah mengontak Dubes Rusia di Jakarta, Ivanov, untuk ikut membantu. "Ini menyangkut perlindungan warga Indonesia, saya harus serius," katanya seperti disampaikan Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Moskow M. Aji Surya.

Hamid menghendaki diberikan akses secepat mungkin sehingga ABK WNI dapat dijumpai dan bisa memberikan keterangan mengenai duduk permasalahan versi mereka. Dan upaya melibatkan Ivanov itu ternyata membuahkan hasil. Setelah komunikasi baik di Moskow maupun di Vladivostok, maka tim KBRI bisa meluncur ke Nakhodka, kota pelabuhan di mana kapal New Star sempat berlabuh untuk menurunkan muatannya. Akhirnya, Ahad siang Tim KBRI tiba di kota tujuan dan ditemani beberapa petugas Rusia menuju hotel, di mana ABK WNI dikabarkan sempat menginap.

Dipaksa Kabur

Hasil penelusuran KBRI Moskow terkait insiden itu, menyebutkan, nakhoda terpaksa mamacu kapal dari pelabuhan dalam keadaan terpaksa. Tidak lupa, surat pengalihan tanggungjawab juga sudah diteken sebelumnya.

Adi Mazwir, sang nakhoda, belum lama bekerja di kapal The New Star. Pada November 2008 yang bersangkutan menerima tawaran dari seorang agen kapal di Jakarta untuk bekerja di kapal The New Star yang berada di Bangkok.

Setelah selesai pengurusan segala sesuatunya, termasuk ongkos tiket, Adi Mazwir berangkat ke Bangkok sendirian. Setibanya di Bangkok, Adi Mazwir mengetahui bahwa kapal tersebut milik perusahaan China namun dia tidak bisa menolak karena untuk kembali ke Indonesia tidak mempunyai biaya.

Akhirnya Adi Mazwir menandatangani perjanjian kontrak kerja di kapal tersebut dan menerima pelimpahan tugas dari kapten kapal sebelumnya pada 2 Januari 2009.

Di kapal berbendera Sierra Leone itu sudah terdapat 5 ABK WNI dan 10 ABK China lain, termasuk salah satunya keponakan pemilik kapal tersebut. Adi Mazwir lalu diperintahkan untuk berangkat ke Rusia membawa 4.991 ton beras Thailand.

Pada 3 Januari 2009 kapal mulai berlayar dari Bangkok menuju Nakhodka, Rusia. Perjalanan menuju Nakhodka rupanya lancar-lancar saja, meskipun bumi bagian utara sudah memasuki musim dingin di mana beberapa bagian laut dihiasi oleh es.

Pada 29 Januari 2009 kapal melakukan bongkar muatan beras. "Sayang, pihak perusahaan penerima beras dari Rusia menyatakan tidak puas dengan kualitas beras yang dikirim, karena sebagian beras mengandung air atau berkeringat. Karena kualitas beras yang rendah tersebut perusahaan Rusia bermaksud mengadukan ke pengadilan dan meminta ganti rugi pada kisaran US$ 340 ribu," ujar salah seorang ABK.

Selain itu, sampai selesai urusan, maka kapal tidak diizinkan untuk meninggalkan kota kecil Nakhodka. Setelah lebih dari seminggu di tempat tersebut, maka Adi Mazwir mulai dibujuk oleh sang pemilik kapal agar bersedia kabur meninggalkan pelabuhan, namun ditolaknya karena harus seizin dari petugas.

Setelah ditekan beberapa kali oleh pemilik dan keponakannya yang juga menjadi ABK, Adi pun membuat pernyataan untuk ditandatangani oleh keponakan sang pemilik, yang menyebutkan bahwa tanggungjawab kapal dan segala risikonya di tangan sang keponakan.

Surat pernyataan tersebut ditandatangani sang keponakan yang warga China dan berhasil dipegang oleh Fakhruddin Fahmi. Surat tersebut saat ini berada
di tangan petugas pemeriksa.

"Kita sangat bersyukur bahwa ternyata apa yang dilakukan oleh nahkoda adalah sebuah keterpaksaan, force majeur, dan bahkan sudah melakukan pengalihan tanggung jawab," kata Dubes Hamid.

China Protes

Pemerintah China sendiri memprotes Rusia. "Sikap Rusia menenggelamkan kapal tersebut tak bisa diterima," kata Zhang Xiyun, pejabat Kementerian Luar Negeri China kepada Konselor Menteri Rusia untuk China Morgulov Igor seperti dilansir Xinhua.

Dikatakan Zhang, sikap Kementerian Luar Negeri Rusia mengenai insiden itu "sulit dipahami dan tidak bisa diterima" oleh China.

Wakil Menteri Luar Negeri China Li Hui telah memanggil Duta Besar Rusia Sergei Razov terkait insiden ini. Li mendesak otoritas Rusia menyelesaikan investigasi atas insiden tersebut secepatnya. Li juga menyerukan Rusia mengerahkan segenap upaya untuk mencari ABK yang masih hilang. (det/wis/inc)

PN "Hambat" Kasasi Korupsi Reklamasi Bawean

Media Bawean, 25 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK, Kepala Kejaksaan negeri (Kajari) Gresik, Teuku Abdul Djalil, menegaskan, proses kasasi Kejari Gresik atas dugaan kasus korupsi reklamasi Pantai Sangkapura, Bawean, terhadap 4 terdakwa masih belum bisa dilakukan. Pasalnya, salinan putusan lengkap dari Pengadilan Negeri (PN) Gresik hingga kini belum dikirimkan ke Kejari Gresik.

"Memang benar salinan putusan 4 terdakwa kasus korupsi reklamasi Bawean dari PN Gresik belum kami terima hingga hari ini. Padahal, salah satu syarat untuk melalukan memori kasasi adalah salinan putusan lengkap dari PN Gresik. Jika salinan itu tidak ada, kasasi tidak bisa dilakukan," tandas Kajari asal Nagroe Aceh Darussalam (NAD) ini.

Menanggapi hal itu, Humas PN Gresik, M Zaini mengatakan, salinan putusan memang belum dikirimkan ke Kejari Gresik, namun petikannya sudah.

"Memang putusan lengkapnya belum, karena masih dalam proses penggandaan dan penjilidan. Lembarannya kan banyak, masing-masing terdakwa kurang lebih sekitar 230 halaman. Secepatnya kalau sudah selesai akan segera dikirimkan," tegasnya serius.

Seperti diberitakan, keempat aktor kasus korupsi reklamasi Bawean tersebut masing-masing Siti Kuntjarni Hariyani, Sekretaris Inspektorat Kabupaten Gresik, Sumarsono, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup, Sihabudin, Direktur CV Daun Jaya dan Buang Idang Guntur, Direktur CV Kebangkitan.

Keempatnya diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Gresik pada 10 Februari lalu. Atas putusan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Gresik siap mengajukan kasasi. (dik)

Korupsi Lapter BaweanDiperiksa 6 Jam, Mantan Kabag Pemerintah 'Drop'

Media Bawean, 24 Februari 2009

Sumber : Berita Jatim
Reporter : Hardy

Gresik - Mantan Kabag Pemerintahan Pemkab Gresik Tony Wahyu Santoso menjalani pemeriksaan di Mapolres Gresik terkait dengan korupsi Lapter di P Bawean.

Sebelumnya Unit Idik II tindak pidana korupsi Polres Gresik yang dipimpin oleh Aiptu Arif Rosyidi mengkonfrontir 9 saksi kasus dugaan korupsi Lapter (lapangan terbang) Bawean dirunag call centre (16/2/2009) mulai pagi hingga malam hari.

Pemeriksaan mantan kabid dilingkungan Bappeda Gresik itu, dimulai sejak pukul 09.00wib diruang unit idik II.

Sedikitnya 38 pertanyaan diberondongkan ke mantan pejabat Pemkab Gresik yang sudah purna tugas itu. Namun sekali-kali, pemeriksaan sebentar-sebentar dihentikan oleh penyidik, karena Tony Wahyu Santoso mengeluh sakit.

"Berdasar kemanusian, pemeriksaan saya hentikan, sebab yang bersangkutan mengaku tidak sehat. Pemeriksan saya akhiri pukul 15.00 wib, karena kondisinya tak memungkinkan " kata penyidik kepada beritajatim.com (24/2/2009).

Kasat reskrim Polres Gresik AKP Fadli Widiyanto membenarkan, kalau kondisi saksi kurang sehat, " Karena kondisinya drop, maka pemeriksaan kami berhentikan, dan akan dilanjutnya besok " tukas Fadli. [ard/ted]

Kasasi Korupsi Reklamasi Bawean Mandek

Media Bawean, 24 Februari 2009

Sumber : Berita Jatim
Reporter : Hardy

Gresik - Proses kasasi yang akan dilakukan Kejaksaan Negeri Gresik atas dugaan kasus korupsi reklamasi pantai sangkapura, Bawean terhadap 4 terdakwa menemui kendala.

Pasalnya, salinan putusan lengkap dari PN Gresik hingga hari ini belum dikirimkan ke Kejakasaan Negeri Gresik. "Memang benar salinan putusan 4 terdakwa kasus korupsi reklamasi Bawean dari PN Gresik, belum kami terima hingga hari ini," kata Teuku Abdul Djalil Kepala Kejaksaan Negeri Gresik kepada beritajatim.com, Selasa (24/2/2009).

Lebih lanjut, Djalil menambahkan, salah satu syarat untuk melalukan memori kasasi adalah salinan putusan lengkap dari PN Gresik. Jika salinan itu tidak ada, kasasi tidak bisa dilakukan.

Sementara humas PN Gresik, M Zaini membenarkan hal itu. Menurutnya, salinan putusan memang belum dikirimkan ke Kejaksaan Negeri Gresik, tapi petikannya sudah.

"Memang putusan lengkapnya belum, karena masih dalam proses penggandaan dan penjilidan. Lembarannya kan banyak, masing-masing terdakwa kurang lebihnya sekitar 230 halaman. Secepatnya kalau sudah selesai akan segera dikirimkan," jelas Zaini.

Keempat terdakwa kasus korupsi itu adalah Siti Kuntjarni Hariyani, Sekretaris Inspektorat Kabupaten Gresik, Sumarsono, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup, Sihabudin, Direktur CV Daun Jaya dan Buang Idang Guntur, Direktur CV Kebangkitan, yang diputus bebas oleh Pengadilan Negeri Gresik pada 10 Februari lalu. (ard/eda)

Media Bawean Turut Berduka Cita

Media Bawean, 24 Februari 2009

Pada hari senin, jam 17.00 WIB kemarin sore (23/2), Mr. Gerbang Bawean mendapat telepon dari Bapak Edy Telkom Bawean, memberi kabar bahwa Dedy (mantan Satpol PP Kecamatan Sangkapura) telah meninggaldunia. Seketika itu kami mengucapkan Innalillahi wainna ilahi Rojiun.

Kepada semua Pembaca Media Bawean mari kita berdo'a dan memohon kepada Allah SWT. semoga amal kebaikan Dedy diterima dan segala kesalahannya mendapat ampunan.

Dedy meninggaldunia disebabkan oleh penyakit gagal ginjal dan dirawat beberapa hari di Rumah Sakit DR. Soetomo Surabaya.(bst)

Papan Informasi Tidak Difungsikan

Media Bawean, 24 Februari 2009

Papan Informasi Di Alun-Alun Sangkapura

Melihat papan informasi yang ada di area alun-alun kecamatan Sangkapura, seperti tidak difungsikan sebagaimana tujuannya. Seandainya difungsikan tentunya akan memberikan kemanfaatan untuk informasi bagi wisatawan atau pengunjung yang datang kepulau Bawean.

Lalu apa gunanya diberi papan informasi, bila tidak difungsikan sesuai tujuan awal dibangunnya? (bst)

Caleg Tak Bisa Bicara VS Caleg Tak Beruang

Media Bawean, 24 Februari 2009

Oleh : Mr. Gerbang Bawean
Legislatif adalah badan deliberatif pemerintah dengan kuasa membuat hukum. Legislatif dikenal dengan beberapa nama, yaitu parlemen, kongres, dan asembli nasional. (Sumber : Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Tugas Pokok dan Fungsi legislatif di daerah adalah fungsi legislasi, fungsi pengawasan dan fungsi budgeting (penganggaran) yang bersama-sama dengan kepala daerah (walikota/Bupati) menjalankan roda pemerintahan daerah sebagaimana diamanatkan oleh perundang-undangan dalam rangka melaksanakan otonomi daerah dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik (good governance).

Caleg Tak Bisa Bicara
Intelektual diri sebagai caleg mutlak diperlukan nantinya jika ditakdirkan sebagai anggota wakil rakyat. Jadi anggota dewan bukanlah mudah, melainkan perlu kemampuan dalam mengekpresikan dirinya sebagai wakil rakyat yang selalu menyuarakan aspirasi rakyat, khususnya daerah pemilihan.

Melihat figur dari beberapa Caleg di Dapil 7 (Pulau Bawean) sebanyak 36 orang dari berbagai parpol, ternyata ada beberapa Caleg yang minder di forum alias tidak bisa bicara atau bersuara. Lalu dimanakah konsep awal mereka dalam pencalonan, serta tujuannya sebagai wakil rakyat bila tidak memiliki kemampuan diri alias kurang mampu dalam berfikir.

Apakah mereka hanya sekedar ambisi untuk menjadi sebagai wakil rakyat, sehingga ikut-ikutan sebagai Caleg, tanpa intropeksi diri dengan kemampuan yang dimiliki selama ini. Sangat naif sekali bila sebagai wakil rakyat nantinya, ternyata di Gedung Rakyat tidak bisa bicara alias diam. Padahal tugas dan fungsi untamanya adalah untuk menyuarakan aspirasi rakyat.

Anehnya caleg yang tidak bisa bicara ini tidak punya kemampuan untuk melakukan dengan daya tawar intelektual yang dimiliki, hanya bisa dengan uang sebagai modal untuk bisa mendapatkan dukungan. Bila uang dijadikan modal, terkadang si penerimanya sudah tergoda dan tidak berfikir panjang dengan resiko yang dihadapinya selama 5 tahun.

Bila sudah jadi nantinya, Caleg tidak bisa bicara akan membuat kita sebagai warga Bawean dalam aspirasinya tidak bisa tersampaikan, mengingat mereka tidak bisa bersuara disaat sidang di gedung wakil rakyat. Jelas, korbannya adalah kita sebagai warga Bawean yang selalu mengharap kepiawayan wakilnya dalam memperjuangkan pembangunan lebih maju dan makmur.

Caleg Tak Beruang
Setiap saat kita selalu mendengar dalam setiap pertemuan Caleg untuk sosialisasi selalu diberi amplop dengan berisi uang sebesar 10ribu sampai 50ribu kepada setiap orang yang hadir. Sehingga dalam pertemuan Caleg dipastikan akan ramai, dengan harapan mendapatkan amplopnya. Tradisi ini sudah menjamur dalam pertemuan yang setiap saat diadakan oleh warga setempat, dengan jadwal tersusun rapi. Contohnya, malam ini Caleg A, besok malam Caleg B, besok lusa Caleg C dan seterusnya, sedangkan yang hadir dalam pertemuan adalah orang yang sama.

Ada cerita seorang Caleg sosialisasi disuatu desa di Pulau Bawean. Saat acara selesai, dibaca shalawat pertama ternyata warga yang hadir tidak bubar, dilanjutkan shalawat kedua ternyata sama tidak mau keluar dari forum, kemudian dilanjutkan shalawat ketiga, ternyata juga tidak keluar. Akhirnya si Caleg keluar lebih dulu, setelah yang hadir tidak bersedia membubarkan diri.

Kenapa warga tidak membubarkan diri saat acara selesai? jawabannya menunggu amplop dari Caleg bersangkutan.

Catatan Anak Kecil, Menuju 2009 Mencermati Dinamika Politik Masyarakat Pulau Bawean

Media Bawean, 24 Februari 2009

Oleh As’ari JS.

Politik terkait dengan kekuasaan. Aktifitas politik adalah aktifitas untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Tidak sedikit dalam mewujudkan keinginan politiknya menggunakan cara-cara yang melanggar aturan dan moral. Maka terbentuklah image bahwa politik itu kotor. Di samping melanggar aturan dan moral, aspirasi dan kehendak rakyat yang harus diperjuangkan dikesampingkan demi kepentingan individu dan kelompok.

Dulu politik itu mulia, untuk menjaga dan mengatur masyarakat, membentuk dan melestarikan kebersamaan sehingga memungkinkan sebuah komunitas dari berbagai level dan berbagai aliran keagamaan maupun politik bersama-sama membangun masyarakat kota (polis) lebih baik. Maka Aristoteles salah satu pencetus ilmu ini menyebut sebagai seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama ia juga menyebut semua cabang ilmu berada dikendali ilmu politik.

Kemudian Islam datang dengan konsep rahmatan lil alamin. Tentu saja politik juga masuk di dalamnya, karena Islam adalah sebuah doktrin yang universal. Berbeda dengan Aristoteles, Ibnu Taimiyah menyebut semua kewenangan dalam Islam tujuannya hanyalah amar makruf nahi munkar. Pada hakekatnya—tersimbol dalam tugas pengawasan atas orang-orang yang memiliki kekuasaan—berarti mewujudkan partisipasi politik rakyat dalam segala perkara-perkara umum dan juga dalam hukum, berawal dari kewajiban memberikan nasehat (yang tulus) yang mana itu telah diperintahkan oleh Rasulullah. Begitula Abdul Khaliq Farid menjelaskan.

Dari pemaparan diatas berarti ada dua kelompok penguasa yang menjalankan roda kekuasaan di bumi ini untuk mewujudkan kemaslahatan, yaitu pemimpin politik (penguasa) dan pemimpin keagamaan (ulama). Dalam Islam kebaikan masyarakat ditentukan dua golongan ini, di samping juga masyarakat itu sendiri. Nah, diantara dua golongan itu, ulama, kiai (atau sejenisnya) yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan nasehat menempati hirarki tertinggi dalam keagamaan seharusnya juga dalam politik apalagi Indonesia mayoritas Islam dan Bawean adalah 100% Islam.

Untuk meminimalkan kesalahpahaman, penulis akan mengartikan dulu arti ulama, penguasa, dan masyarakat. Quraish Shihab, mengartikan ulama orang yang mempunyai pengetahuan ayat Allah baik yang bersifat kauniyah (fenomena alam) dan quraniyah yang kemudian menimbulkan rasa takut (takwa) kepada Allah. Dalam ilmu sosial predikat ulama tidak hanya kedalaman ilmu agama, tetapi juga berkaitan dengan akhlak dan mendapat pengakuan masyarakat. Pengertian ini tersimbol pada seorang kiai, ustadz/ustadzah yang memiliki lembaga pendidikan keagamaan atau dan yang mengajarkan ilmu agama. Penguasa dalam Islam diartikan ulil amr orang yang memimpin kelompok, masyarakat, dan lebih luas negara. Yang masuk kategori ini adalah Presiden, Gubernur, Bupati, Kepala Desa dan Dusun dan unit terkecil Ketua RT, selain itu yang masuk dalam kategori ini adalah wakil rakyat yang duduk di lembaga DPR/D dan MPR. Sedangkan masyarakat adalah orang yang tidak mempunyai otoritas untuk memimpin secara formal dan informal, atau disebut rakyat.

Sebagaimana dikatakan diatas, ulama menempati posisi yang tinggi dan strategis, ia juga simbol agama, dan penegak atau polisi moral. Tugasnya adalah beramar makruf nahi munkar diranah manapun termasuk di dunia politik. Namun politik bagi ulama Sunni adalah untuk mewujudkan izzul islam wal muslimin. Itulah fungsi ulama sesungguhnya. Ironisnya figur ulama sebagai penegak moral dan simbol agama juga terlibat aktifitas politik praktis yang berorientasi kekuasaan sebagaimana yang dijalankan penguasa. Ulama berlomba-lomba mendirikan partai dan melibatkan diri dalam partai. Sehingga praktis tidak hanya simbol keagamaan hilang pada diri ulama perannya pun menjadi terabaikan. Perjuangan politik ulama dulunya lebih berorientasi pada politik amar makruf nahi munkar, politik kerakyatan yang memperjuangkan kemashlahatan umat, bangsa dan negara.

Posisi tinggi ini, ternyata tidak di senangi bisa juga tidak disadari oleh banyak ulama dan memilih terlibat hiruk-pikuk dan pengapnya politik yang terdistorsif dan terstigma negatif. Pada akhirnya, tidak hanya politisi dengan berbagai sebutan negatif menjadi musuh masyarakat ulama pun seakan telah menjadi musuh masyarakat juga. Maka tidak heran bila ulama dengan fatwa-fatwanya tidak diikuti lagi. Ulama tidak hanya menjadi alat dominasi elit politik tetapi juga menjadi alat legitimasinya. Contoh, setiap lima tahun sekali atau setiap ada kepentingan elit politik tertentu ulama baru didatangi dengan seribu janji yang mengawang di langit dan setiap momen itu pula ulama terpegaruh dengan janji-janji kosongnya. Maksud terpengaruh disini, mereka (ulama) kemudian menyerukan kepada santri dan pengikutnya untuk mendukung salah satu calon elit tertentu. Maka kemudian terjadi tarik-menarik yang tak jarang berakhir dengan perselisihan dan perpecahan. Padahal sudah jelas dalam agama tidak menginginkan sebuah perpecahan dan harus saling mendamaikan sebuah perselisihan antar saudara, apalagi saudara seiman dan seagama (baca: Ali Imron: 103 dan Al-Hujarat: 10).

Ternyata pesan-pesan langit yang pernah dibawah turun Nabi Muhammad kembali tergantung dilangit dan sungguh sampai saat ini masih sulit dibawah turun kembali ke bumi. Perpecahan baik yang bersifat politik atau pun tidak sudah mulai tampak tidak hanya pada level nasional tetapi juga pada level masyarakat lokal yang identik masyarakat tradisional yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Aspirasi politik masyarakat Bawean yang mayoritas berpaham Nahdlatul Ulama, tentu saja juga akan terpolarisasi kebeberapa aliran politik yang ada.

Masyarakat Bawean adalah masyarakat Islam—untuk tidak menyebut masyarakat yang masih berpendidikan rendah—masih kurang dari informasi-informasi terutama terkait Pemilu 2009 yang tinggal hitung hari, tentu saja merupakan potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan partai-partai baik yang berbasis nasionalis apalagi yang berbasis agama. Siapa lagi kalau bukan pihak yang betul-betul netral, dalam hal ini seharusnya dimainkan ulama yang mengayomi semua golongan.

Berpolitik Sesuai Syariat, Bukan Karena Uang

Media Bawean, 23 Februari 2009

KH. Musthofa Quthbi Badri, MA. saat ceramah dalam maulid Nabi Muhammad SAW. yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Bawean Rantau (ISBAR) menekankan untuk berpolitik sesuai syariat.

Menurutnya, "Bila orang ingin pahala berpolitik, harus kembali kepada syariat politik yaitu innama a'malu binniat tergantung kepada niatnya. Tidak heran sekarang semua pemilihan langsung, seperti pilkades, pilbup, pileg, pilgub, pilpres dan lain-lain, timbul rasan-rasan dari rakyat lebih nikmat saat orde baru. Karena kita dalam mengadapi politik tidak kembali kepada syariat Allah dan Sunnah Nabi SAW,"katanya KH. Musthofa Quthbi Badri, MA.

"Bila niat mencoblos hanya untuk mendapatkan kaos ataupun uang, sama seperti shalat hanya ingin dipuji orang lain sehingga tidak akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.,"jelasnya.

"Tapi bila kita mencoblos Lillahi Ta'ala ingin pemimpin yang baik dan sholeh, Insya Allah kita akan didekatkan dengan Allah SWT.," tegasnya (bst)

Warga Bawean Di Probolinggo Identik Sebagai Pedagang

Media Bawean, 23 Februari 2008

KH. Tauhidullah Badri (Pengasuh Ponpes Badridduja)

Bila kita mengingat tempoe doelo, banyak orang-orang asal Pulau Bawean dalam pelayaran keberbagai penjuru dunia, termasuk dalam negeri. Tujuannya adalah berdagang, seperti menjual anyaman tikar khas Bawean dan lain-lain.

Dalam sambutannya KH. Tauhidullah Badri menyatakan, "Orang-orang Bawean identik dengan profesi dagang, seperti Kakek Jufari adalah pedagang. Adanya orang Bawean dimana-mana termasuk di Kraksaan, Alhamdulillah bisa memberikan kemanfaatan sehingga ada Pondok Pesantren Badridduja," katanya.

"Bukan hanya Badridduja, termasuk sekarang berdirinya Pondok Pesantren Al Masduqiah adalah bagian dari kemanfaatan orang Bawean," ujar Pengasuh Ponpes Badridduja.

Ponpes Badridduja yang didirikan oleh KH. Badri Masduqi (Almarhum) memiliki hubungan khusus dengan orang Bawean, mengingat isteri Beliau adalah Ibu Nyai Hj. Maryamah (Almarhumah) berasal dari Kebuntelukdalam Sangkapura Pulau Bawean. (bst)

Warga & Keturunan Bawean Berkumpul

Media Bawean, 23 Februari 2009

Kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Oleh Ikatan Persaudaraan Bawean Rantau
(ISBAR)

Kemarin (22/2) suasana di Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo sangat membawa bahagiah bagi warga atau keturunan Pulau Bawean yang bedomisili di Probolinggo. Mereka datang dengan kendaraan yang sudah dipersiapkan oleh panitia di setiap kecamatan di Probolinggo.

Nampak keceriahan dalam berkomunikasi antar satu sama yang lain, dimungkinkan inilah forum pertemuan yang bisa menjadi ajang silaturrahim dalam satu rumpun Bawean. Disaat acara berlangsung, sulit untuk didiamkan berhubung satu sama yang lainnya cerita melepaskan kerinduannya masing-masing.

Dalam rangkaian acara terasa kurang semarak dengan tidak adanya khas Pulau Bawean yang ditampilkan dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. seperti angkatan yang berisi rengginang dan lain-lain. Menurut Sekretaris Panitia Arifin Ali, mengatakan, "Kita akan programkan pada tahun depan untuk melaksanakan maulid seperti khas khusus di Pulau Bawean," katanya.

Warga dan keturunan Pulau Bawean yang berkumpul diperkirakan 300 orang, dengan dihadiri dua caleg dari Bawean dengan dapil Probolinggo - Pasuruan, yaitu Drs.H. Jamaluddin, M.EI (Caleg PKB No.3 Dapil 2 DPRD Jatim), Jazilul Fawaid, SQ (Caleg PKB No.2 Dapil 2 DPR RI), KH. Musthofa Quthbi Badri, MA., KH. Tauhidullah Badri, KH. Muzayyan Badri, KH. Mukhlisin Sa'at dan lain-lain. (bst)

2 Caleg Dapil Probolinggo-Pasuruan Hadir Dalam Kegiatan ISBAR

Medi Bawean, 23 Februari 2009

Drs.H. Jamaluddin, M.EI (Caleg PKB No.3 Dapil 2 DPRD Jatim)
Hadir Dalam Kegiatan ISBAR Probolinggo

Drs.H. Jamaluddin, M.EI (Caleg PKB No.3 Dapil 2 DPRD Jatim)
Bersalaman Dengan KH. Tauhidullah Badri

Jazilul Fawaid, SQ (Caleg PKB No.2 Dapil 2 DPR RI)
Bersalaman Dengan Tokoh Bawean Di Probolinggo


Jazilul Fawaid, SQ (Caleg PKB No.2 Dapil 2 DPR RI)
Memberikan Sambutan Dalam Kegiatan ISBAR

2 Caleg asal Pulau Bawean dengan Dapil 2 (Probolinggo-Pasuruan) hadir dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh ISBAR di Ponpes Badridduja (22/2).

Keduanya, yaitu Drs.H. Jamaluddin, M.EI (Caleg PKB No.3 Dapil 2 DPRD Jatim), Jazilul Fawaid, SQ (Caleg PKB No.2 Dapil 2 DPR RI), dan mereka diberi kesempatan untuk mengenalkan dirinya dihadapan orang atau keturunan Bawean yang ada di Probolinggo. Mereka juga berbicara tentang program yang akan diperjuangkan nanti bila ditakdirkan jadi anggota dewan. (bst)

Selayang Pandang Kegiatan ISBAR Probolinggo

Media Bawean, 23 Februari 2009

Artis Gambus Kota Kraksaan
Mengibur Hadirin Dalam Kegiatan ISBAR

Artis Gambus Kota Kraksaan
Mengibur Hadirin Dalam Kegiatan ISBAR

Ibu Luluk Tajud (Panitia Supersibuk) Dalam Kegiatan ISBAR

MC Dari Santriwati Asal Bawean Mondok Di PP. Nurul Jadid

Sebelum acara dimulai, panitia pelaksana Maulid Nabi Muhammad SAW. yang diadakan oleh Ikatan Persaudaraan Bawean Rantau di Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo (22/2), dihibur dengan beberapa lagu gambus dengan menampilkan artis ibu kota Kraksaan.

Disela-sela pertunjukan Media Bawean dikejutkan oleh sapaan seorang ibu, yaitu ibu Luluk Tajud yang memerintahkan MB untuk mengabadikan semua kegiatan yang ada. Melihat ibu Luluk selama pelaksanaan acara, termasuk salah satu panitia yang supersibuk menyiapkan segala sesuatu hal, termasuk konsumsi.

Saat MC akan memasuki ruangan, ternyata MC dalam acara dipercayakan kepada santriwati PP. Nurul Jadid yang berasal dari Batusendi dan Timuran (Sidogedungbatu). (bst)

Besok Warga & Keturunan Bawean Probolinggo Mengadakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Media Bawean, 21 Februari 2009

Warga dan keturunan Bawean di Probolinggo akan mengadakan acara maulid Nabi SAW di Ponpes Badiridduja Kraksaan Probolinggo besok (22/2) mulai jam 08.00 WIB sampai selesai.

Menurut Arifin Ali Sekretaris Panitia saat dihubungi Media Bawean via poselnya, mengatakan, "Persiapan panitia sudah rampung, tinggal menunggu acara pelaksanaan besok pagi," katanya.

"Diperkirakan warga Bawean dan keturunannya yang berdomisili di Probolinggo yang akan hadir sekitar 400 orang," katanya. (bst)

Membentuk Tim Usut Curah PLN Bawean

Media Bawean, 21 Februari 2009

Poster Dalam Pertemuan PLN Di Kecamatan Sangkapura

Perwakilan PMB Membacakan Pernyataan

Cuk Sugrito Dalam Pertemuan PLN Di Sangkapura

Pertemuan Tokoh, Muspika Dan Mahasiswa Sangkapura

Keseriusan Persatuan Mahasiswa Bawean (PMB) dalam mengawal persoalan PLN Pulau Bawean dilanjutkan hari ini (21/2) dengan pertemuan tokoh masyarakat di Tambak, 13 Kepala Desa di Tambak, Muspika Kecamatan Tambak dan perwakilan Mahasiswa Bawean di kantor Kecamatan Tambak.

Intinya mahasiswa menuntut sebagaimana pertemuan kemarin (20/2) di Kantor Kecamatan Sangkapura, yaitu : menindak lanjuti Curah ke desa-desa, Menuntut percepatan perbaikan generator Pembangkit yang rusak, penggantian dan penambahan Generator baru, dan tindak tegas Pelanggan Curah yang illegal.

Menurut Camat Tambak, M. Sofyan, mengatakan, "Pertemuan memutuskan membentuk tim 4, terdiri dari perwakilan Kepala Desa yang tidak menikmati PLN, yaitu Drs. Kafil (Kades Paromaan), Kepala Desa yang sudah teraliri listrik, yaitu Amar (Kades Kepuhteluk), Tokoh masyarakat Tambak yaitu Sudarman dan Syaifuddin Rauf untuk membahas lebih lanjut tentang pelayanan PLN Bawean lebih baik dan mencari aktor utama listrik curah," katanya.


"Masyarakat penikmat listrik curah tidak mungkin melakukannya sendiri, pasti ada aktor utama dalam pemasangannya, entah orang dalam atau luar PLN sendiri," ujar Camat Tambak.


Sedangkan jumlah peserta yang hadir dalam rapat diperkirakan 60 orang dari berbagai unsur di Kecamatan Tambak. (bst)

Tiga Hari Terapung di Laut, Makan Ikan Mentah, Minum Air Hujan

Media Bawean, 21 Februari 2009

Sumber : SURYA

GRESIK | SURYA-Tiga nelayan asal Desa Sungai Rujing, Kecamatan Sangkapura, lolos dari maut. Tiga hari sejak dinyatakan hilang Rabu (11/2) lalu mereka terombang-ambing di perairan Pulau Bawean hingga terseret ke perairan Pulau Masalembu.

Ridah, 65, asal Dusun Tajung, M Syahrul Bazar, 26, asal dusun Timur Rujing, dan M Syafi’i, 27, asal Dusun Sungai Tirta hanya membawa sedikit roti dan air minum karena rencananya setelah mendapat cukup ikan, mereka pulang malam itu juga. Tetapi mesin klotok ngadat akibat baling-baling tersangkut jaring.

“Saya berusaha memperbaiki. Eh, malah baling-baling patah,” kata Syahrul terbata-bata. Syahrul masih bisa melihat titik Pulau Bawean karena mereka baru berlayar satu jam. Kebiasaan nelayan klotok memang hanya melaut di pesisir Bawean.

Ketika mesin berkekuatan 23 PK tak berfungsi, mereka masih berharap angin menggiring perahu mendekati darat. Tetapi cuaca cepat berubah. Petir dan ombak setinggi tiga meter membuat perahu sepanjang tujuh meter dengan lebar dua meter tak berdaya. Kepanikan bertambah mengingat bekal pas-pasan. “Saya pasrah saja. Saya hanya memikirkan kondisi Pak Ridah yang sudah tua,” sambung Syafi’i.

Sekuat tenaga, ketiganya berusaha agar klotok tak hanyut. Dengan tali seadanya mereka membuat layar dari kain penutup perahu. Upaya ini berhasil. Sayangnya, mereka justru terseret hingga perairan Pulau Masalembu, puluhan mil dari Pulau Bawean.

Tiga hari terkatung-katung di tengah gelombang tinggi membuat beberapa bagian perahu retak. Air mulai masuk. Roti dan air minum habis di hari kedua. Hari ketiga, Syahrul yang menyimpan pancing mulai mencari ikan. Ikan-ikan kecil itulah yang menjadi penangkal lapar. Hujan deras menjadi sumber ketakutan sekaligus penyelamat. Mereka khawatir perahu tenggelam tetapi justru dari air hujan itu mereka mendapatkan minum.

“Yang penting tidak mati kelaparan,” kata Syahrul yang diamini Ridah dengan anggukan kepala. Ridah yang masih merasa pusing lebih banyak diam dengan mata menerawang.

Di hari keempat, Sabtu (14/2), ketika merasa sudah tak ada harapan untuk melihat kembali Bawean, pertolongan datang. Tampak perahu korsin, jenis perahu yang dilengkapi jaring besar mendekat. Ini perahu Kasiman, 45, warga Desa Tegalsari Kecamatan Brondong, Lamongan. Tiga nelayan ini diangkut. Karena perjalanan Kasiman bersama sembilan nelayan lainnya belum selesai, Ridah dan yang lain mengikuti hingga kembali ke Brondong, Lamongan.

Kabar tentang tiga nelayan ini membuat H Muzamil, juragan ikan asal Bawean yang tinggal di Gresik, bersama Kepala Kantor Bakesbang Linmas Gresik, Supi’i, segera menjemput, Kamis (19/2) malam.

“Mereka sudah seperti saudara. Para nelayan itu yang memasok ikan segar untuk saya,” kata Muzamil.

Ketiganya mendapat bantuan Rp 500.000 untuk kembali ke Bawean dengan kapal cepat KM Express Bahari 8B, Sabtu (21/2). Tetapi keluarga mereka di Bawean tak sabar. Ketiga nelayan akhirnya berangkat Jumat (20/2) kemarin.

Syahrul dan yang lain kembali ke rumah. Syahrul masih ingat betapa pertolongan itu tepat pada waktunya dan tak terduga. “Pertolongan itu lewat Pak Kasim.”/MUSTAIN

Nelayan Bawean Selamat

Media Bawean, 21 Februari 2009

Sumber : Jawa Pos
GRESIK - Tiga nelayan asal Pulau Bawean yang dilaporkan hilang kemarin (20/2) kembali berkumpul dengan keluarga mereka. Ketiganya dilaporkan hilang setelah kelotok yang mereka tumpangi dihamtam ombak.

Para nelayan tersebut adalah Moh. Syafi'i (27), Muh. Syahrul B. (27), dan Ridah (64). Ketiganya warga Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura.

Tiga nelayan tersebut selamat karena ditolong Kasim, 45, nelayan asal Kecamatan Brondong, Lamongan, Minggu (15/2). Sebelumnya mereka sempat terombang-ambing di perairan Selat Jawa. Namun, Kasim tidak langsung mengantar mereka pulang. "Mereka saya ajak mencari ikan selama tiga hari," ucapnya.

Kemarin pukul 01.00, tiga nelayan tersebut dibawa ke Administratur Pelabuhan Gresik. Berbekal sangu masing-masing Rp 500.000 bantuan Pemkab Gresik, mereka menumpang KM Dharma Kartika menuju Pulau Bawean.

Syahrul menceritakan, dia berangkat bersama dua temannya, Syafi'i dan Ridah, menggunakan kelotok. Di tengah perjalanan perahu yang mereka tumpangi dihantam ombak besar.

Akibatnya, mesin perahu pecah. "Perahu kami terguling. Kami terombang-ambing di laut," tuturnya. Selama tiga hari mereka hanya mengandalkan air hujan untuk minum. Untung, mereka ditemukan dan ditolong Kasim.

Sebagaimana diberitakan, Kamis (12/2) keluarga ketiga nelayan itu melapor ke Polsek Sangkapura. Mereka cemas karena anggota keluarga mereka yang berangkat Rabu (11/2) pukul 15.30 belum pulang. Padahal, biasanya mereka pulang melaut sekitar pukul 22.00.

Dalam sebulan ini, ada empat nelayan Bawean yang dilaporkan hilang karena disapu ombak. Untung, semua ditemukan dalam kondisi selamat. Sebelumnya, Khairul Anwar, 33, warga Dusun Sawahdaya, Desa Kotakusuma, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, dilaporkan hilang. Setelah empat hari terombang-ambing di laut, Khairil diselamatkan MV Opal Ace, kapal berbendera Australia. (yad/ib)

Kembali PulangTiga Nelayan Bawean Selamat

Media Bawean, 21 Februari 2009

Sumber : Duta Masyarakat
GRESIK - Tiga nelayan asal Bawean yang hilang sejak sembilan hari lalu akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat oleh Kasiman, nelayan asal Brondong Lamongan. Ketiga nelayan tersebut adalah Ridha (64), M Syahrul Basyar (27), dan M Syafi'i (27), semuanya warga Desa Sungai Rujing, Kecamatan Sangkapura, Bawean. Namun, mereka baru kembali ke Bawean dengan menumpang KM Dharma Kartika pukul 09.00, kemarin pagi.

Kapolsek Sangkapura, AKP Zamzani, mengatakan ketiga nelayan yang hilang itu ditemukan akhir pekan lalu. Petugas Syahbandar Brondong langsung mengantarkan mereka dari Lamongan ke Gresik, keesokan paginya. "Mereka ditemukan Kasiman, nelayan Lamongan, setelah sebelumnya tiga hari mengapung di lautan,"ujar mantan Kapolsek Ujungpangkah ini.

Sementara, Syahrul, salah seorang nelayan Bawean yang hilang, menceritakan mereka bertiga berangkat hari Rabu (11/2) pukul 16.00 dengan perahu klothok. Saat hendak memasang jaring, join mesin pecah dan baling-baling kipas patah. Akhirnya perahu ukuran 2 meter x 7 meter bocor. "Kami berusaha mengeluarkan air sampai tiga hari. Beruntung, sebelum perahu kami tenggelam, kami ditolong kapal porsin milik Kasiman, nelayan Brondong Lamongan ,"ungkap Syahrul.

M Syafi'i mengimbuhkan, selama di laut tiga hari tiga malam, mereka hanya satu kali makan ikan mentah, dan setelahnya tidak makan sampai mendapat pertolongan dari perahu korsin milik nelayan Lamongan.

Sebagai bentuk kepedulian, Pemkab Gresik menyerahkan santunan Rp 1,5 juta kepada ketiga nelayan tersebut. Ketua Pemuda Bawean Gresik (PBG) Daifi, juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 500 ribu.

"Kami prihatin atas kejadian tersebut. Namun, kami bersyukur akhirnya mereka ditemukan dalam keadaan selamat," tandas Daifi saat menyerahkan bantuan di rumah Muzamil, warga Bawean yang tinggal di Jalan Harun Thohir 46 Gresik. (dik)

 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean