bawean ad network
pemilu
bank jatim
TERKINIindex

Jumlah Pelanggan Koran Se-Bawean 76 Eksemplar Bawean Masyarakat Kuping, Bukan Pembaca

Media Bawean, 27 Juli 2010

Setia Budi Sebagai Penyalur Koran Di Pulau Bawean

Setiabudi (47 th.) yang akrab dipanggil Budi warga desa Sawahmulya Sangkapura, merintis usaha penyaluran koran di Pulau Bawean sejak tahun 1980, dengan jumlah pelanggan sebanyak 25 orang. Tahun 2010 jumlah pelanggan Jawa Pos sebanyak 70 eksemplar, Kompas sebanyak 4 eksemplar dan Surya sebanyak 2 eksemplar diseluruh Pulau Bawean.

"Aktif berlangganan koran adalah instansi pemerintahan dan swasta, sedangkan pelanggan pribadi sebagai pelanggan tidak aktif setiap bulan, terkadang orangnya berlayar atau pindah dari Pulau Bawean. Termasuk pengaruh cuaca di bulan tertentu, pelanggan menyatakan berhenti sementara sampai kondisi cuaca bersahabat kembali. Jumlah pelanggan naik turun, tidak tetap setiap bulannya," katanya.

"Selain faktor tersebut, memang minat baca orang Bawean sangat rendah, sebenarnya siapa saja dan dimanapun tempatnya yang berminat mau berlangganan akan saya layani dengan menggunakan banyak cara menyampaikan ke rumahnya. Harga langganan sama dengan di Gresik, secara bisnis sebenarnya saya rugi tetapi ini adalah bentuk pelayanan agar warga Pulau Bawean gemar membaca," jelasnya.

Kendala utama penyaluran koran menurut Budi, pengiriman dari Gresik - Bawean yang ditentukan oleh jadwal kedatangan kapal. "Bila tidak ada kapal, pernah sampai 15 hari lamanya untuk sampai di Bawean. Untungnya pelanggan memaklumi kondisi tidak ada kapal yang berangkat," ujarnya.

"Harga langganan Jawa Pos di Pulau Bawean sebesar Rp. 95ribu sebulan, padahal keuntungannya sangat minim bila dipotong biaya operasional pengiriman di kapal, biaya loper menghantar ke rumah pelanggan. Terlanjur sebagai penyalur, serta kebesaran hati untuk menumbuhkan minat baca orang Bawean maka usaha sebagai penyalur koran tetap dipertahankan sampai sekarang," terang Budi ditemui Media Bawean dirumahnya hari ini (27/7).

Baharuddin, SH. MH. tokoh pemikir di Pulau Bawean, mengatakan,"masyarakat Bawean bukan masyarakat pembaca, tetapi masyarakat kuping. Ketika ada pengajian, kupingnya dibuka lebar-lebar, tapi hanya masuk telinga kanan dan keluar telingan kanan lagi. Artinya tidak nyantol," tegasnya.

"Kita semakin sedih karena budaya membaca tersebut juga tidak diminati para guru. Menurut standar UNESCO, yang paling ideal 1 koran dibaca 9 orang, itu bermakna jumlah penduduk Bawean yang 70ribu, koran yang beredar di Bawean seharusnya 7.777 eksemplar, bukan 70 eksemplar. Bagaimana kita akan maju, sedih kan,"paparnya. (bst)
Share this Article on :

0 comments:

Poskan Komentar

Terbaru

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.