bawean ad network
iklan
bank jatim
TERKINIindex

Analisis Kesalahan Bahasa
Dalam Media Bawean

Media Bawean, 14 Januari 2011

Oleh : Drs. H. Abdul Khaliq

1. Pengantar

Dari 20 orang pemberi saran dan kritik kepada Media Bawean, edisi 1 Januari 2011, ada 17 orang ( 85% ) yang memberikan pujian, harapan, dan doanya. Hanya 3 orang ( 15% ) pemberi saran dan kritik yang berhubungan dengan kebahasaan. Ketiga orang tersebut adalah Sdr. Hanif Benjoseph, Sdr. Halis Emilianenkov, dan Sdr. Asror Ch.
Saya adalah orang keempat yang akan memberikan saran dan kritik kepada Media Bawean. Kritik dan saran ini saya bingkai dalam judul "Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Penulisan Berita dan Artikel di Media Bawean”.

Hasil analisis saya ini, saya tulis menjadi tiga bagian, yaitu :
A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul;
B. Analisis Kesalahan Ejaan pada Isi; dan
C. Analisis Kesalahan Kalimat.


2. Korpus data :
Ada 43 judul berita, dan 2 judul artikel yang saya ambil dari entri lawas pada Media Bawean yang terbit pada kurun waktu akhir Desember 2010 s.d. awal Januari 2011.

3. Metode : Deskriptif – komparatif
4. Tujuan :
1. Mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan berbahasa Indonesia, yang meliputi ejaan, frase, kata, dan kalimat.
2. Membandingkan dan mendeskripsikan bentuk-bentuk yang salah dengan bentuk-bentuk yang benar.
3. Membantu dan mendorong penulis berita/ artikel agar memperhatikan dan mengikuti kaidah - kaidah penulisan yang benar.

5. Langkah-langkah :
Agar dapat menganalisis kesalahan berbahasa secara baik, maka diperlukan langkah – langkah sbb.:
a. Pengumpulan data;
b. Pengidentifikasian kesalahan;
c. Penjelasan kesalahan;
d. Pengklarifikasian kesalahan; dan
e. Pengevaluasian kesalahan.

Atas dasar langkah – langkah di atas dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan analisis kesalahan dalam berbahasa adalah suatu proses kerja yang digunakan oleh para guru atau peneliti bahwa dengan langkah – langkah pengumpulan data, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan itu berdasarkan penyebabnya, serta pengevaluasian taraf keseriusan kesalahan. (Tarigan, 1990 : 68) dalam Pakde Sofa. (Pdf/ http://www.findtoyou.com)

6. Hasil analisis data:
6.1. Kesalahan ortografi (ilmu ejaan);
6.2. Ketidakmampuan membedakan penggunaan kata depan (di, ke) dengan (di) sebagai imbuhan, seperti penulisan:
kedepan –> ke depan
disungai –> di sungai
di tandai –> ditandai
6.3. Penulisan unsur serapan yang tidak tepat seperti:
terisolir –> terisolasi
standarisasi –> standardisasi
6.4. Bidang morfologi, yakni pada afiksasi, seperti penulisan:
ketidak tahuan –> ketidaktahuan
ketidak sengajaan –> ketidaksengajaan
6.5. Penyusunan kalimat yang diawali dengan kata penghubung
6.6. Penyusunan kalimat tidak bersubjek
6.7. Penyusunan kalimat tidak berobjek
6.8. Kata yang mubazir, seperti: agar supaya, mulai dari.

7. Persebaran Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul


8. Analisis

A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Penulisan Judul
Kajian Pustaka
Keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan lambang – lambang bunyi ujaran dan bagaimana inter-relasi antara lambang – lambang itu (pemisahannya dan penggabungannya) dalam suatu bahasa disebut ejaan. (Keraf, 1984: 47)

Ada tiga ejaan yang pernah berlaku di Indonesia:
1. Ejaan van Ophuysen atau ejaan Balai Pustaka pada tahun 1901.
2. Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik pada tahun 1947.
3. Ejaan yang Disempurnakan (EyD) yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus 1972.
Berlakunya ejaan ini berdasarkan Keputusan Presiden RI No.57 Tahun 1972.
Kemudian, ejaan ini mengalami revisi dengan nama Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987, dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di Tugu, tanggal 16–20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia di Bandar Seri Begawan, tanggal 4 – 6 Maret 1991.
Secara garis besar Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan berisi pedoman tentang:
I. Pemakaian huruf,
II. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring,
III. Penulisan kata,
IV. Penulisan unsur serapan, dan
V. Pemakaian tanda baca.

Pengertian Judul

Judul adalah nama yang dipakai untuk buku, bab dalam buku, kepala berita, dll. Judul merupakan identitas atau cermin dari jiwa seluruh karya tulis bersifat menjelaskan diri dan dapat menarik perhatian. Ada kalanya judul menunjukkan tempat atau lokasi. Dalam artikel, judul sering disebut juga kepala tulisan. Ada yang mendefinisikan judul adalah lukisan singkat suatu artikel atau disebut juga miniatur isi bahasan. Judul hendaknya dibuat dengan ringkas, padat dan menarik. Judul artikel diusahakan tidak lebih dari lima kata, tetapi menggambarkan isi bahasan dari artikel tersebut.

Syarat – syarat pembuatan judul:
1. Harus relevan, yaitu harus mempunyai pertalian dengan temanya, atau ada pertalian dengan beberapa bagian penting dari tema tersebut.
2. Harus provokatif, yaitu harus menarik dengan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan rasa keingintahuan dari tiap pembaca terhadap isi buku atau karangan tersebut.
3. Harus singkat, yaitu tidak mengambil kalimat atau frase yang panjang, tetapi harus berbentuk kata atau rangkaian kata yang singkat. Usahakan judul tidak lebih dari lima kata (Keraf,1985:129).

Judul terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Judul langsung
Judul langsung ini erat kaitannya dengan bagian utama berita, sehingga hubungannya dengan bagian utama tampak jelas.
2. Judul tidak langsung
Judul tidak langsung ini tidak erat hubungannya dengan bagian utama berita, tetapi tetap menjiwai seluruh isi karangan atau berita.

Fungsi judul:
1. Merupakan identitas/ cermin dari jiwa seluruh karya tulis.
2. Temanya menjelaskan isi dan menarik, sehingga mengundang orang untuk membacanya atau untuk mempelajari isinya.
3. Merupakan gambaran global tentang arah, maksud, tujuan, dan ruang lingkupnya.
4. Relevan dengan isi seluruh naskah karya tulis, baik dalam masalah, maksud, dan tujuannya (http://yukfuk.wordpress.topik-tema-judul/).


A. Analisis Kesalahan Ejaan pada Judul

a) Kesalahan penulisan kata depan (di, ke, dari)
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan Di Bawean (MB, 30/12/2010)
(2) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)
(3) Subanin (Kades Sukalela) Turun Ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010)
(4) Sporter Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010)

Pedoman EyD:
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.

Ia menyelesaikan makalah ”Asas-Asas Hukum Perdata”.

Alternatif pembenarannya:
(1) Ulama Merapatkan Barisan Stop Kemaksiatan di Bawean (MB, 30/12/2010)
(2) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)
(3) Subanin (Kades Sukalela) Turun ke Sungai Cari Batu (MB, 29/12/2010)
(4) Sporter dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010)

b) Kesalahan penulisan singkatan

Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(5) Mimpi RS. Tipe D Bawean Dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010)
(6) KH. Kasim Dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami’ (MB, 22/12/2010)
(7) Listrik Di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT. Telkom (MB, 01/01/2011)

Pedoman EyD:
Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:
A.S. Kramawijaya
Muh. Yamin
Suman Hs.
Sukanto S. A.
M.B.A master of bussiness administration
M.Sc. master of science
S.E. sarjana ekonomi
S.Kar. sarjana karawitan
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Bpk. bapak
Sdr. saudara
Kol. kolonel

b. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.

Misalnya:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
GBHN Garis – Garis Besar Haluan Negara
SMTP Sekolah Menengah Tingkat Pertama
PT Perseroan Terbatas
KTP Kartu Tanda Penduduk

c. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.

Misalnya:
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
hlm. halaman
sda. sama dengan atas
Yth. Yang terhormat

Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian

d. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.

Misalnya:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
cm centimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp rupiah

Alternatif pembenarannya:
(5) Mimpi RS Tipe D Bawean dari Listrik Berubah Dokter (MB, 30/12/2010)
(6) K.H. Kasim dari Singapore Bantu Renovasi Masjid Jami’ (MB, 22/12/2010)
(7) Listrik di Bawean 24 Jam Kurangi Beban PT Telkom (MB, 01/01/2011)

c) Kesalahan tidak memakai tanda koma

Kesalahan penulisan tanda koma:
(8) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

Pedoman EyD:
Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
Surabaya, 10 Mei 2010
Kuala Lumpur, Malaysia


Alternatif pembenarannya:
(8) Keluarga Besar Mahali Jasuli di Gelam, Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

d) Kesalahan tidak memakai huruf miring

Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:

(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011)
(10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)


Pedoman EyD:
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya:
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.

Alternatif pembenarannya:

(9) FB Merambah Bumi Bawean Kalangan Anak Sampai Tua (MB, 04/01/2011)
(10) Dan Fitnah itu Bernama HP (MB, 26/12/2010)


e) Kesalahan tidak memakai titik dua (:)

Perhatikan contoh penulisan judul berikut:

(11) Ketua Umum KTB Hadirilah Molod Internasional (MB, 04/01/2011)

Pedoman EyD:
Tanda titk dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.

Alternatif pembenarannya:
11) Ketua Umum KTB: ”Hadirilah Molod Internasional!” (MB, 04/01/2011)

f) Kesalahan tidak konsisten penulisan huruf nama orang
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(12) Mahalli Bin Jazuli Pemain Timnas Malaysia Keturunan Bawean (MB, 26/12/2010)
(13) Keluarga Besar Mahali Jasuli Di Gelam Pulau Bawean (MB, 30/12/2010)

Penulisan huruf nama orang pada contoh judul (12) dan (13) di atas, manakah ejaan yang benar? Mahalli ataukah Mahali? Jazuli ataukah Jasuli?


g) Kesalahan penulisan kata
Perhatikan contoh penulisan judul berikut:
(14) Suara Hati Pengelolah Media Bawean (MB, 01/01/2011)

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak ditemukan entri kata pengelolah. Yang ada kata pengelola (tanpa huruf h di akhir kata).

Pengelola di ambil dari kata dasar kelola –> mengelola
pengelola
( KBBI, 1995: 470)

Alternatif pembenarannya:
(14) Suara Hati Pengelola Media Bawean (MB, 01/01/2011)

h) Kesalahan penulisan unsur serapan
Perhatikan contoh – contoh penulisan judul berikut:
(15) Sporter Garuda Dari Bawean Berangkat Ke Malaysia (MB, 25/12/2010)
(16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolir (MB, 16/12/2010)

Pedoman EyD:
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur pinjaman yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’exploitation de l’homme par l’homme. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar diubah seperlunya, sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya.
Pedoman yang sesuai dengan kata serapan di atas (15) dan (16) adalah konsonan ganda menjadi tunggal kecuali bila kata dapat membingungkan.
supporter –> supporter

Tetapi:

mass –> massa

Akhiran asing -(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si.


Contoh:
publication, publicatie menjadi publikasi
isolation, isolatie menjadi isolasi, bukan isolir atau terisolir.

Alternatif pembenarannya:
(15) Suporter Garuda dari Bawean Berangkat ke Malaysia (MB, 25/12/2010)
(16) Ribuan Warga Pulau Bawean Terisolasi (MB, 16/12/2010)


i) Kesalahan tidak memakai tanda tanya (?)
Perhatikan contoh penulisan judul berikut:
(17) Berlakukah Ujian Nasional Versi ’Dagelan’ Di Bawean (MB, 10/01/2011)
Pedoman EyD:
Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

Alternatif pembenarannya:
(17) Berlakukah Ujian Nasional Versi ’Dagelan’ di Bawean? (MB, 10/01/2011)

Saran:
Walaupun tidak termasuk ranah pembahasan yang berhubungan dengan ejaan, berikut ini ada beberapa saran tentang pilihan kata yang dapat dijadikan alternatif penyederhanaan pembuatan judul, menghindari gaya bertutur, dan menghindari makna judul yang ambigu.

Share this Article on :

1 comments:

Gresik Entrepreneur mengatakan...

Keren banget koreksiannya, salut. Bisa buat disertasi S-2...

Poskan Komentar

Terbaru

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.