bawean ad network
iklan
bank jatim
TERKINIindex

Survey Lokasi PLTU Bawean

Media Bawean, 12 Maret 2011


Tim survey lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), terdiri dari 3 orang Peneliti LIPI dari Bandung, 2 orang pegawai Pembangkit Jawa Dan Bali (PJB) PLN Jawa Timur, hari sabtu (12/3/2011) melalukan survey keberbagai tempat di Pulau Bawean.

Yusuf Suryo sebagai Peneliti dari LIPI Bandung, ditanyakan letak lokasi yang dianggap layak untuk PLTU di Pulau Bawean, menyatakan tidak berani memberikan jawaban sekarang, dengan alasan masih pengumpulan data untuk dievaluasi bersama.

Sedangkan Imam sebagai peneliti yang sama dari LIPI Bandung menjawab sama, yaitu sementara tidak bisa menentukan lokasi sehubungan kedatangannya untuk pengumpulan data.

Srukin sebagai Kepala UPJ PLN Bawean, ketika mendampingi tim survey, membenarkan adanya survey untuk penempatan lokasi pembangkit PLN di Pulau Bawean.

Kapan PLTU di Pulau Bawean akan terealisasi? Witanto, sebagai Supervisor Pembangkitan Area Pelayanan Jaringan (APJ) PLN Gresik menjawab kemungkinan terealisasi tahun 2013.

"Meskipun PLTU di Pulau Bawean belum terealisasi sampai 2013, dijamin seluruh Pulau Bawean akan menikmati listrik PLN dengan menggunakan mesin pembangkit,"katanya.

Lokasi yang disurvey ada beberapa titik, yaitu Muara di Lebak, dan Selayar di Sungairujing, dilanjutkan keliling Pulau Bawean untuk mencari titik yang lain. (bst)

Dana PKH Cair
Warga Sambut Bersyukur

Media Bawean, 12 Maret 2011


Rumah tangga sangat miskin (RTSM) di Pulau Bawean, hari sabtu (12/3/2011) kembali menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) tahan pertama di tahun 2011. 

Pencairan dana dilakukan oleh Pegawai Pos Bawean bersama pendamping PKH, meliputi  desa Kotakusuma, Bululanjang, Lebak, Pudakit Timur, Pudakit Barat, Kumalasa, Suwari dan Dekatagung. Pencairan (minggu, 13/3/2011) meliputi desa Sungaiteluk, Sawahmulya, Sungairujing, Patarselamat, Gunungteguh, Balikterus, Daun, Kebuntelukdalam dan Sidogedungbatu. Sedangkan pencairan di Kecamatan Tambak, pada hari senin (14/3/2011) dan selasa (15/3/2011).

Sesuai data di Kantor Pos Bawean, jumlah penerima di Kecamatan Sangkapura sebanyak 1.966 RTSM dengan nominal Rp.635.300.000. Penerima di Kecamatan Tambak sebanyak 821 RTSM dengan nominal Rp.266.250.000.

Yusuf sebagai Pegawai Pos Bawean ditemui Media Bawean mengatakan penerimaan PKH tahap I tahun 2011 ada penurunan nominal bantuan dibanding tahun 2010. Alasan penurunan, disebabkan anak sering bolos sekolah ataupun ibu ketika melahirkan anaknya malas ke Posyandu untuk pemeriksaan kesehatan.

Banyak penerima PKH ditanyakan Media Bawean menyatakan bersyukur atas cairnya dana bantuan PKH, dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan anak sekolah.

Sedangkan H. Tuffa sebagai Kepala Desa Lebak, mengatakan Program Keluarga Harapan (PKH) sangat besar manfaatnya kepada warganya. Harapan besar, menurut H. Tuffa, kepada pemerintah agar menerima sebagain besar warganya yang tidak masuk dalam PKH, sedangkan kondisi perekonomiannya tergolong RTSM. (bst)

Degan Rasa International

Media Bawean, 13 Maret 2011


Peneliti LIPI dan Pegawai PT. PLN Pembangkit Jawa dan Bali (PJB), ketika survei PLTU di Pulau Bawean, sabtu (12/3/2011) disuguhi buah kelapa muda atau degan menyatakan rasanya international.

Salah satu warga pemilik pohon kelapa,  setelah minta beli langsung naik keatas pohon kelapa dan menurunkan buah kelapa muda atau degan. Setelah didapat beberapa buah kelapa, langsung dikupas dan disuguhkan kepada tim survei.

Satu persatu menikmati buah kelapa yang tumbuh di bumi Pulau Bawean. Ditanya Media Bawean, bagaimana rasanya? peneliti dari LIPI, spontan menjawab enak sekali dan rasa international.
Anda ingin menikmati kelapa muda rasa international, silahkan datang dan mengunjungi Pulau Bawean. (bst)

Si Kecil Pandai Komputer

Media Bawean, 11 Maret 2011


Kevin Nayaka Jhodi (berusia 18 bulan), putra Ramli Rachman pemilik Kafe Mandiri di Sangkapura, ternyata memiliki kegemaran (hobby) menggunakan komputer tanpa dipandu oleh orang lain.

Kepandaiannya terbukti ketika Media Bawean (jum'at, 11/3/2011) melihat secara langsung saat Kevin Nayaka Jhodi start laptop milik ayahnya, kemudian membuka kunci dengan passwod, dilanjutkan masuk sesukanya, mulai bermain game, memilih musik kesukaan dan keaplikasi dunia maya.

Jhojo (nama panggilannya) saat didekati untuk melihat melalui jarak dekat, terpancar dari wajahnya senyuman manis dengan tangan memainkan keyboard laptop yang dipakainya.

Sejak kapan pandai menggunakan komputer?, "Sejak lama sudah pandai menggunakannya, bermula hanya melihat kemudian memakai sendiri tanpa dibantua,"jawabnya.

"Bila diarahkan justru akan marah, maunya menggunakan semaunya sendiri,"paparnya.

"Dahulu waktu pertama kali menggunakan, keyboard mau dicongkel dengan jari tangannya. Lalu dimarahi, setelahnya menjaga laptop yang dipakainya. Setelah selesai menggunakan, lalu shutdown tanpa dibantu,"ujarnya.

Kepandaian si kecil tidak melalui kursus atau belajar, hanya mencoba lalu berhasil. Anehnya, masih banyak kalangan orang tua yang gagap tekhnologi (gaptek) sebab mereka tidak mau mencoba atau belajar. (bst)

Dermaga Baru Bawean
Mangkrak Bertahun-tahun

Media Bawean, 11 Maret 2011

Sumber : Surabaya Post

GRESIK – Dermaga Baru di Bawean di Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik mangkrak. Proyek bernilai miliaran rupiah ini selesai sejak tiga tahun lalu, namun hingga sekarang belum juga dioperasikan lantaran ketinggian air laut di sekitar dermaga terlalu dangkal.

“Dermaga baru ini adalah proyek provinsi dan hingga sekarang belun ada serah terima ke kami. Jadi kami juga tidak tidak tahu kapan dermaga baru tersebut akan dioperasikan,” kata Bambang Isdianto, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Gresik, Kamis (10/3).

Bambang Is (panggilan akrab Bambang Isdianto) mengungkapkan, saat ini dermaga yang sudah selesai dibangun pada 2008 lalu itu belum bisa dioperasikan karena air laut di sekitar dermaga terlalu dangkal, sehingga dikhawatir kapal besar yang sandar akan kandas.

“Di sekitar dermaga ada beberapa batu karang yang harus disingkirkan. Jika tidak, kapal yang berusaha sandar akan tersangkut di sana, tentu saja ini membahayakan. Tapi saat ini saya juga belum tahu kapan dermaga itu dikeruk dan akan dioperasikan. Sejauh ini belum ada pembicaraan terkait ini,” kata Bambang.

Dijelaskan, dermaga baru yang menghabiskan dana miliaran rupiah ini dibangun untuk melengkapi fasilitas penyeberangan di Bawean. Jika kapal di Bawean volumenya sudah sangat padat, dermaga ini akan membantu dermaga yang sekarang sudah ada.

Pengamatan Surabaya Post, dermaga baru yang berjarak satu kilometer sebelah timur Pelabuhan Sangkapura ini terkesan mubazir karena kondisinya sudah rusak lantaran tidak terawat. Aspal jalan dermaga sudah mengelupas, padahal belum pernah dioperasikan sekali pun.

Gedung yang jadi ruang tunggu penumpang rusak parah, lantai dan atapnya penuh dengan tumbuhan menjalar, beberapa bagian pladonnya juga jebol. Selain itu, beton dermaga juga sudah mulai banyak yang ambrol.

Dermaga baru ini sebenanya memiliki fasilitas lebih lengkap dibandingkan dengan Pelabuhan Sangkapura. Selain ruang tunggu penumpang, bagian dermaga di desain sedemikian rupa untuk transportasi roda empat ke luar atau masuk ke dalam kapal, sedangkan di Pelabuhan Sangkapura belum ada. Begitu pula di Pelabuhan Gresik, belum memiliki fasilitas untuk akses kendaraan roda empat dari atau menuju ke kapal seperti di dermaga baru ini.

Sementara itu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerbang Bawean menyayangkan mangkraknya proyek dari pemprov ini. “Daripada mangkrak dan rusak karena tidak dipelihara bertahun-tahun seperti sekarang ini, lebih baik anggaran untuk pembangunan dermaga baru tersebut dulu disuntikan untuk pembangunan infrastruktur lainnya seperti jalan, karena saat ini kebutuhan mendesak masyarakat Bawean adalah jalan dan listrik yang merata,” kata Abdul Basith, koordinator LSM Gerbang Bawean.

Dia menyebut proyek dermaga baru tersebut aneh, karena alasannya dibangun untuk menunjang pelabuhan yang sekarang ada jika volume kapal ramai. Menurut dia, setiap harinya kapal yang sandar di Pelabuhan Sangkapura sepi dan keberadaan pelabuhannya masih sangat memadai. “Apalagi beberapa tahun lalu saat proyek ini dikerjakan, kapalnya pasti sangat jarang” ujarnya.

Karena demaga baru ini sudah jadi, Basith berharap, dermaga tersebut segera dioperasikan agar tidak rusak dimakan usia. “Setidaknya ada perawatan rutin, sungguh mubazir jika didiamkan seperti sekarang ini,” kata aktivis asli Bawean ini. sep

Sorotan UN Di Bawean
Siswa Ujian, Guru Menjawab

Media Bawean, 11 Maret 2011


Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) serentak dilaksanakan bulan april 2011. Bagaimana potret UN di Pulau Bawean selama ini? berikut hasil liputan Media Bawean mewawancarai seorang guru yang tidak bersedia disebut identitasnya.

Indikasi ketidakjujuran pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Pulau Bawean terlihat dari tingkat kelulusan siswa, bisa dibayangkan dari sekian banyak siswa yang mengikuti ujian ternyata tidak ada satupun yang tidak lulus, semua sekolah lulus 100%. "Jujurkah ini? tentu kelulusannya perlu dipertanyakan,"katanya.

"Tolak ukur pelaksanaan Ujian Nasional adalah pelaksanaan try out disetiap sekolah. Nilai ujian try out adalah murni, ternyata hasilnya rata-rata disetiap sekolah anjlok,"paparnya.

"Perlu pengawasan terhadap pelaksana ujian dimasing-masing tempat pelaksanaan ujian, termasuk pengawas sendiri perlu pengawasan khusus bila menginginkan hasil ujian nasional betul-betul murni,"ujarnya.

Bagaimana cara guru membantu siswa?, ada beberapa cara yang dilakukan, diantaranya saat pelaksanaan Ujian Nasional berlangsung terkadang guru pura-pura mengabsen peserta ternyata sudah membawa jawaban ujian. "Termasuk selesai ujian pelaksanaan, soal jawaban perlu dijaga ekstra ketat jangan sampai guru menyentuh hasil jawaban,"jelasnya.

"Anda bisa melihat, setelah pelaksanaan ujian, ternyata masih banyak sepeda motor yang parkir di halaman sekolah. Lalu kegiatan apa mereka lakukan didalam ruangan, Wallahu'alam Bissawab,"terangnya..

"Terusterang, saya sebagai guru terkadang berontak bathin dengan kenyataan yang dihadapi pada pelaksanaan ujian nasional. Sebagai guru diharapkan berakhlaqul karimah dan bersifat jujur, ternyata perbuatannya pintar memanipulasi hasil ujian, bukan meningkatkan kualitas siswa,"ungkapnya.

"Haruskah rutinitas tahunan seperti ini akan tetap dipertahankan dan dilanjutkan, tanpa ada peningkatan mutu dan kualitas terhadap siswa agar melaksanakan ujian sesuai kemampuan dirinya, tanpa dibantu oleh sang guru. Tunggu pelaksanaan UN akan datang,"pungkasnya. (bst)

Mengkaribiakan Bawean

Media Bawean, 11 Maret 2011

Ditulis Oleh : WARDI AZZAURY

Barangkali pembaca akan bertanya apa maksud judul di atas, karena penulis yakin memang tak banyak orang yang tahu apa dan dimana Karibia itu. Karibia adalah satu nama wilayah terletak di sisi barat lautan atlantik yang dalam arena pembagian wilayah sepakbola FIFA dimasukkan dalam wilayah concacaf atau Amerika tengah. Wilayah ini berpenduduk tak terlalu banyak namun memiliki banyak macam Negara atau pulau-pulau kecil koloni Negara-negara Eropa semacam Inggeris, Prancis atau Belanda serta Amerika Serikat. Kata Karibia yang mungkin sering kita dengar atau baca di Bawean selalu berhubung dengan bajak lautnya, seperti judul film Johnny Deep, Pirate of Caribbean, walaupun sebenarnya masih banyak hal yang berhubungan dengan Karibia semisal music reggae atau penjara Guantanamo. Ya, Jamaika dan Cuba memang termasuk dua Negara terbesar di wilayah Karibia.

Kenapa Bawean mau dijadikan Karibia? Pertama, struktur alam Bawean sangat mirip dengan pulau-pulau di Karibia, yaitu berbukit-bukit dan kecil. Pohon-pohon yang tumbuh hampir sama semua dengan di Karibia, seperti kelapa dan mangga. Bawean juga punya posisi yang mirip dengan pulau yang ada di Karibia yaitu dikelilingi laut yang berkadar garam tinggi. Yang mungkin agak berbeda adalah keadaan air lautnya. Lautan Karibia terkenal bersih dan jernih dengan pasir putih yang juga bersih. Karena pasir ini pula dasar air laut Karibia Nampak kebiru-biruan hingga dalam dunia international ada nama warna yang memakai nama wilayah ini yaitu Caribbean blue alias biru Karibia, sedang laut Bawean masih keruh dengan warna-warni sampah yang berserakan hampir di sepanjang pantainya.

Karibia adalah salah satu tujuan wisata paling popular turis Amerika dan Eropa di musim dingin, karena wilayah ini tak mengenal musim dingin. Masyarakat Karibia secara keseluruhan meskipun dulu terkenal sebagai bajak laut namun sekarang terkenal karena keramahannya. Keramahan yang ada disini kalau penulis lihat bukan karena dasarnya orang disini ramah tetapi karena pengaruh dunia bisnis pariwisata yang memang menjual jasa atau serve industry. Pengaruh bisnis pariwisata ini sungguh demikian besar hingga hampir mempengaruhi seluruh mata rantai kehidupan orang Karibia, mulai dari mereka yang tinggal di Negara kecil semacam Grand Turk and Caicos atau yang lebih besar seperti Trinida and Tobago. Dan karena pengaruh ini pula orang-orang Karibia tanpa disuruhpun akan selalu menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan hidup mereka. Penulis yakin, jika orang Bawean kelak mulai mengerti pentingnya pengaruh keindahan alam, baik yang di darat atau di laut, InsyaAlloh, dengan sendirinya pulau Bawean akan bersih dan lautan Bawean juga akan jernih seperti di Karibia.

LEBIH DAN KURANGNYA

Lingkungan asri dan lautan jernih yang disebut diatas adalah kelebihan Karibia dan kelebihan ini sudah terbukti banyak menghadirkan keuntungan secara ekonomi terhadap penduduknya. Namun Karibia juga punya kekurangan, salah satunya adalah bencana angin topan yang boleh dibilang terlalu sering untuk ukuran suatu wilayah. Saking seringnya di wilayah ini dikenal adanya hurricane season alias musim badai. Badai di Karibia ini jika masuk ke wilayah daratan biasa menghancurkan hampir semua rumah-rumah penduduk. Hurricane Katrina yang menghancurkan kota New Orleans beberapa tahun lalu juga berasal dari Karibia. Badai-badai di Karibia disamping menghancurkan alam juga menutup aktifitas pariwisata bahkan juga menghancurkan tempat pariwisata.

Lainnya lagi yang juga bisa dibilang sebagai kekurangan Karibia sekarang adalah bencana bocornya pengeboran minyak di teluk Mexico milik British Petroleum beberapa waktu yang lalu. Anjungan ini meskipun bocor bukan di Karibia tapi pengaruhnya dipercaya akan sampai ke Karibia. Ikan-ikan dan binatang laut yang biasa hidup di teluk Mexico menurut peneliti juga jalan-jalan ke Karibia. Contoh yang dipakai peneliti adalah ditemukannya sampah minyak di wilayah Florida Keys yang juga sudah masuk wilayah Karibia. Jika Florida tercemar maka secara otomatis Karibia juga akan terkena imbasnya karena florida adalah pintu masuk ke Karibia bagi turis yang berasal dari Amerika atau turis Eropa yang ikut penerbangan dan transit di Amerika.

Hal lain dan juga jelas merupakan kekurangan Karibia adalah sudah terbiasanya turis-turis pergi ke Karibia. Orang sudah mulai merasa bosan mengunjungi Grand Cayman, Aruba, Jamaika atau yang lainnya. Para turis mulai melirik tempat-tempat asing lain yang belum pernah mereka datangi. Karena alasan ini Negara-negara di Eropa timur seperti Rusia, Ukraina atau negara lain seperti Islandia atau Greenland juga mulai jadi incaran para wisatawan. Ini juga yang terjadi dengan Negara di Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina atau wilayah asing lainnya seperti Antartika.

KURANG PERCAYA DIRI

Barangkali yang jadi masalah bagi kita orang Bawean khususnya dan Indonesia pada umumnya adalah ketidakpercayaan diri kita. Orang mungkin berpikir apa yang akan dilihat dari kita, pulau Bawean yang kecil dan sepi ini?

Jawabannya adalah kecil dan sepinya itu. Turis-turis asing itu berasal dari Negara besar dan kota besar, tentu mereka ingin sekali melihat yang kecil dan sepi. Bagi orang yang biasa tinggal di New York, London atau Tokyo, mereka tentu tak tertarik lagi melihat kota Surabaya atau Gresik. Beda dengan orang yang tinggal di desa semacam keluarga penulis yang tinggal di Kepuhteluk, mereka ingin sekali melihat kota besar (Penulis juga merasa sangat senang saat pertama kali dulu melihat kota New York, Roma, Amsterdam, Buenos Aires dan Rio Jenairo: Maklum reng dhisa). Bali jadi tujuan wisata dan mengalahkan kota Jakarta dan Surabaya karena kedesaan pulau itu. Demikian juga yang terjadi dengan Pulau Komodo atau Pulau Rinca. Turis-turis itu ingin melihat kehidupan perkampungan kita yang menurut mereka mengingatkan pada kehidupan nenek moyang mereka dulu. Penulis yakin, jika ditanyakan kepada turis asing yang datang ke Indonesia mana yang lebih bagus menurut mereka keliling kota Surabaya dengan taxi dan keliling Bawean pakai motor (kalau ada seharusnya pakai Jeep atau land rover), pasti jawabannya keliling Bawean pakai motor atau kalotok. Demikian juga jika ditanyakan mana bagus melihat buruh pabrik Jie Sam Soe di Surabaya dan ibu-ibu Bawean bikin tikar pandan, jawaban mereka pasti melihat reng bebine’bhebian bikin tikar pandan.

Sekarang tinggal bagaimana kita mendukung dan mengarahkan Bawean jadi tempat pariwisata. Bisakah Pemda Gresik atau Pemerintah Kecamatan Tambak dan Sangkapura mencari jalan tembus peluang bagus ini? Yang jelas, yang harus kita urus dulu adalah akomodasi dan transportasinya. Bawean harus menyediakan penginapan yang layak diinapi oleh orang dari luar negeri, sebuah penginapan yang berAC dan berair bersih menurut standar mereka. Juga, Bawean harus merealisasikan alat-alat transportasinya. Kapal ferry cepat yang ada sekarang ini harus lebih bagus dan kebal terhadap ganguan cuaca. Tak boleh turis itu ikut kapal perang karena Express Bahari tak berani mengarungi laut Jawa. Demikian juga lapangan terbang yang sekarang masih terbengkalai itu harus sesegera mungkin diselesaikan. Pak Bupati Gresik jangan terlalu lama mengesampingkan proyek yang diidam-idamkan 

masyarakat Bawean itu. Jangan karena kesenangan sekejap uang buat pembangunan lapter itu diembat hingga efeknya hingga sekarang lapter itu tak selesai dan malah ditumbuhi rumput ilalang. Orang Bawean harus kompak dan punya komitmen untuk memajukan daerahnya sendiri. Masyarakat Bawean umumnya punya pendidikan yang cukup dan mengerti, sangat disayangkan jika tak bisa memaksimalkan potensi yang ada. Pohon kelapa, rusa, keadaan alam serta aeng panas yang ada di Bawean itu adalah potensi, tinggal kita yang harus memanfaatkannya.

Tentang Penulis:
Pelaut asal Bawean di Kapal Pesiar, 
Asal kampung Pacinan Desa Kepuhteluk Tambak Bawean.

Gak Dendam Sama Risma

Media Bawean, 11 Maret 2011

Sumber : Surabaya Pagi

Bicaranya pelan dan suka bercanda itulah ciri khas politisi PKB bernama Mazlan Mansur ini. Meskipun gagal dalam pencalonan wakil walikota Surabaya beberapa waktu lalu, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus memperjuangkan masyarakat melalui jalur politik. Meskipun pemenang Pilwali lalu diperoleh Tri Rismaharini dan Bambang DH. “Tidak ada dendam, bagi saya tidak ada kegagalan dalam hidup ini, yang ada adalah keberhasilan yang tertunda, ” ujar pemilik pondok pesantren di Kecamatan Tambak Pulau Bawean ini.

Mazlan menjelaskan, dirinya bisa seperti saat ini lantaran didikan keras orang tuanya, apalagi ketika menghabiskan masa kecil di Bawean dirinya paham betul bagaimana orang tua disana dalam memberikan bekal ilmu agama kepada anak-anaknya. “Bawean terkenal dengan aspek religiusitasnya, ” terangnya.

Anggota Komisi B (Perekonomian) DPRD Surabaya ini menambahkan, menjadi anggota DPRD tidak bisa lepas dari manajemen fraksi, oleh sebab itu meskipun rekan-rekan komisinya banyak yang melakukan kunjungan kerja keluar kota, dirinya patuh terhadap putusan fraksi yang tidak akan mengikuti kunjungan kerja sebelum APBD disahkan “Pandangan kami,dana seperdua belas tidak boleh digunakan untuk kunker, jadi kami jaga gawang di DPRD saja, ” pungkasnya seraya becanda. ton

Polisi Selidiki Penyebar
Isu Maling Di Pulau Bawean

Media Bawean, 10 Maret 2011

Perlu berhati-hati bagi warga Pulau Bawean agar tidak sembarangan menyampaikan isu maling, sebab kepolisian sudah menyelidiki penyembar isu meresahkan masyarakat Bawean.

Kapolsek Sangkapura, AKP. H. Zamzani, SH. dihubungi Media Bawean menyatakan sudah melakukan penyelidikan adanya isu yang dikembangkan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab hanya meresahkan masyarakat.

"Bila nantinya diketahui siapa penyebar isu maling di Pulau Bawean, akan diproses hukum sesuai tindak pidana yang dilakukan,"katanya.

"Silahkan warga Bawean melakukan penjagaan keamanan di kampung-kampung dengan waspada terhadap adanya tindak pidana kejahatan, tetapi situasi dan kondisi harus tetap kondusif tidak meresahkan,"paparnya.

Selama ini, menurut AKP. H. Zamzani, SH. menyatakan adanya isu maling hanya berdasarkan katanya oh katanya, setelah dimintai keterangan tidak ada yang bersedia, sebab sumbernya tidak jelas dan tidak ada bukti adanya maling di Bawean. (bst)

Duta Pelajar Putri Bawean
Berangkat Ke Probolinggo

Media Bawean, 10 Maret 2011


Empat pelajar putri asal Pulau Bawean mewakili duta pelajar PC. IPPNU Bawean, hari kamis (10/3/2011) berangkat menuju kota Probolinggo.

Tiga pelajar, yaitu Imroatul Izzah (Kelas XI IPA MA Hasan Jufri), Nurlaili Fitrianah (Kelas XI IPA MA Hasan Jufri), dan Sumiati (Kelas VIII MTs. Hasan Jufri) mengikuti debat bahasa Inggris dengan topik Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja), lomba mading sekolah dan busana muslim.

Sedangkan Ana Wulandari, mengikuti presentasi setelah mengikuti pelatihan, langsung mengempanyekan kesehatan reproduksi selama dua bulan. "Presentasi akan dinilai, bila berhasil sebagai juara secara otomotis ditetapkan sebagai Duta Pelajar Jawa Timur,"kata Rafi'ah (Ketua PC, IPPNU Bawean).

"Pembukaan kegiatan dimulai besok (Jum'at, 11/3/2011 sampai hari minggu, 13/3/2011) bertempat di Taman Hijau Kota Probolinggo dengan penanaman 1000 pohon,"ujarnya. (bst)

Lapter Bawean
Siap Pakai Tahun 2012

Media Bawean, 10 Maret 2011

Sumber : Surabaya Post

GRESIK – Lapangan terbang (lapter) Bawean di Desa Tanjungori Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik diperkirakan sudah siap pakai pada 2012. Saat ini proses yang tersisa adalah pembangunan runway pesawat.

“Pembangunan konstruksi sudah dimulai lagi. Saat ini tinggal merampungkan pembangunan runway atau landasan pesawat saja. Untuk sarana penunjangnya, semua sudah selesai, kemungkinan tahun depan sudah bisa dipakai. Hal ini juga pernah ditegaskan oleh Sekda (Sekretaris Daerah) Kabupaten Gresik beberapa waktu lalu,” kata Tugas Husni Syarwanto, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Gresik, Rabu (9/3).

Pemerintah Kabupaten Gresik, tambah dia, hanya bertanggungjawab untuk pembebasan lahan saja. Sedang semua konstruksinya dikerjakan dengan menggunakan dana APBN dan APBD Provinsi. “Anggaran konstruksinya dialokasikan dari anggaran provinsi dan pusat, tapi mohon maaf saya tidak mengetahui pasti jumlahnya. Kita hanya menfasilitasi untuk pembebasan lahannya saja,” ungkap Tugas Husni.

Sebelumnya, sisa lahan yang belum dibebaskan sekitar 9,5 hektare (ha) untuk penambahan runway menjadi 1.200 meter. Dan awal tahun lalu, pemkab berhasil melakukan pembebasan lahan tahap pertama seluas 3,2 ha. Saat ini pemilik lahan yang sudah bertahun-tahun menolak lantaran tidak cocok dengan harga yang ditawarkan sudah menerima uang muka pembayaran. Pemilik lahan menerima harga Rp 60 ribu per meter persegi.

Jadi saat ini tersisa lahan 6,3 ha yang harus dibebaskan oleh Pemkab Gresik. Sisa lahan yang belum dibebaskan ini rencananya untuk tambahan runway sepanjang 250 meter. “Isnya Allah, tahun 2012 pembebasan lahan akan kami selesaikan dan lapter di Bawean sudah siap pakai. Ini lantaran pemilik lahan yang terkena rencana pembebasan sudah sepakat,” jelas Tugas Husni.

Koordinator Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerbang Bawean, Abdul Basith menilai pembangunan lapter di Bawean sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Sebab, hampir setiap bulan penyeberangan laut yang merupakan satu-satunya transportasi menuju Bawean terkendala oleh gelombang tinggi.

Apalagi, lanjut dia, sebagian besar warga Bawean menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dan Singapura. “Selama ini mereka jarang pulang karena tidak ada kepastian dari keberangkatan kapal penyeberangan Gresik – Bawean. Mereka takut ketika sampai di Gresik ternyata tidak bisa menyeberang karena cuaca mendadak buruk,” tandasnya,

Berdasarkan data organisasi kerukunan Persatuan Malaysia-Bawean (PM), jumah warga Bawean yang menjadi TKI di Malaysia sebanyak 127 ribu orang. Karenanya Basith yakin lapter Bawean akan lebih berpotensi dibandingkan lapter di daerah lain di Jawa Timur, seperti Banyuwangi atau Jember. “Lapter Bawean akan menjadi transportasi utama selain transportasi laut. Menuju Bawean itu tidak ada transportasi darat seperti daerah pemilik lapter di Jatim lainnya. Apalagi banyak sekali warganya yang bekerja menjadi TKI, itulah kenapa saya yakin lapter Bawean paling potensial,” ujarnya.

Sayangnya, pembangunan sarana moda transportasi ini tidak diiringi dengan pembangunan infrastruktur jalan. Berdasarkan patauan Surabaya Post, Jalan Lingkar Bawean (JLB) yang merupakan nadi penghubung antar daerah di Bawean, termasuk ke lapter di Desa Tanjungori rusak parah. Untuk menempuh perjalanan 25 kilometer dari Kecamatan Sangkapura ke Kecamatan Tambak atau sebaliknya membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Belum lagi jika menggunakan kendaraan roda empat, akan lebih lama lagi.

Kerusakan jalan terbesar di wilayah Pemkab Gresik ada di Bawean, Tahun ini pemkab hanya menganggarkan Rp 6 miliar untuk perbaikan dan pemeliharaan jalan di Bawean. Berdasarkan data dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pekerjaan Umum (PU) di Bawean, jalan lingkar Bawean (JLB) ruas Sangkapura hingga Tambak atau lingkar Barat sepanjang 25 kilometer, rusak berat sepanjang 6.610 meter, rusak sedang 11.190 meter, dan yang kondisinya baik hanya sepanjang 7.200 meter.

JLB ruas Tambak - Diponggo sepanjang 8.000 meter, rusak berat 2.000 meter, rusak sedang 1.100 meter, dan kondisi baik 4.900 meter. Ruas jalan Sangkapura hingga Diponggo sepanjang 21.000 meter mengalami rusak berat 4.050 meter, rusak sedang 5.400 meter, dan kondisi baik 11.550 meter. Totalnya, JLB panjangnya 54 kilometer. Rusak berat 12.660 atau 23,4 persen, rusak sedang 17.690 meter atau 32,76 persen, kondis baik hanya 23.650 meter. sep

Pelanggan SP Bantu Bocah
Penderita Gagal Hati

Media Bawean, 10 Maret 2011

Sumber : Surabaya Post


Surabaya- Suasana berkabung di rumah kecil keluarga Hariyanto masih sangat terasa, di rumah yang bertembok papan kayu itu kini menjadi sepi. Bagaimana tidak, rumah yang setiap harinya dihangatkan canda tawa Mohammad Farid Afaiyansyah. Kini suasananya terasa “dingin” lantaran ditinggal pergi bayi 14 bulan tersebut menghadap Sang Khaliq. Masih terpancar wajah kesediahan Hariyanto dan Muyasaroh istrinya, atas kehilangan putra tunggalnya ini.

Selain itu, pasangan suami istri muda ini mengaku kebingungan, karena saat ini dia memiliki sejumlah tanggungan atau utang yang saat Farid masih hidup mereka gunakan untuk biaya pengobatan rutin setiap bulannya. Untuk pengobatan gagal hati yang diderita bayi kelahiran 16 November 2009 ini, Hariyanto harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 4 juta setiap bulannya. Padahal pendapatan pria yang bekerja sebagai nelayan ini hanya Rp 30 ribu per hari.

“Jelas penghasilan saya tidak cukup untuk pengobatan Farid, untuk makan saja pas-pasan. Belum lagi saat gelombang tinggi terjadi seperti akhir-akhir ini, saya harus mencari pekerjaan lain untuk bisa menghasilkan uang,” kata pria yang berusia 24 tahun ini.

Karena itu, dia mengaku sangat berterima kasih kepada pelanggan setia Surabaya Post (SP) yang sungguh mulia hatinya membantu meringankan beban keluarganya. “Saya tidak menyangka di sana ternyata ada orang yang wajahnya saja kami belum pernah ketemu, tapi sangat peduli dengan kondisi kami di Bawean. Atas nama keluarga, kami mengucapkan sangat-sangat terimakasih kepada beliau dan Surabaya Post, mudah-mudahan keikhlasan hati saudara saya di sana yang peduli dan Surabaya Post mendapatkan imbalan yang berlimpah dari Allah,” ujar Hariyanto sambil berlinang air mata.

Pelanggan setia Surabaya Post yang enggan disebutkan namanya berbagi kebahagiaan dengan memberikan bantuan kepada keluarga almarhum Farid. Bantuan sebesar Rp 3 juta itu diserahkan Rabu (9/3) di kediaman Hariyanto, di Dusun Tambak Timur Desa dan Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik ini.

Hariyanto berharap, buah kepedulian yang saat ini dia rasakan bakal dirasakan juga oleh keluarga-keluarga lainnya, karena menurutnya dia hanya segelintir dari ribuan keluarga yang membutuhkan uluran tangan dari Surabaya Post dan pelanggannya. “Saya berharap kepedulian ini terus berlanjut, karena masih banyak keluarga-keluarga di luar sana yang sangat membutuhkan kepedulian seperti yang diberikan pelanggan setia Surabaya Post kepada kami sekarang ini,” harapnya.

Sejenak memang kesedihan dari wajah Hariyanto memang sedikit tertolong, meskipun dia belum bisa melupakan kenangan-kenangan indah bersama almarhum putranya yang sangat menggemaskan tersebut.

Farid menghembuskan, nafas terakhirnya di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik Senin (7/3) karena penyakit levernya sudah pada stadium yang susah untuk ditolong. Sebenarnya, Farid sudah kritis lima hari sebelumnya, tapi Hariyanto tidak bisa membawa putranya ke rumah sakit karena memang saat itu terkendala cuaca. Selama sepekan transportasi laut, satu-satunya transportasi menuju Bawean ditutup oleh Administrator Pelabuhan (Adpel) lantaran gelombang tinggi mencapai tiga hingga empat meter. Sementara, fasilitas kesehatan di Bawean sangat terbatas, hanya ada puskesmas dan sejumlah klinik kecil.

“Mulai Kamis (3/3) kondisi putra kami sudah kritis, tubuhnya sudah sangat pucat, tidak mau makan, dan juga tidak mau ASI (air susu ibu). Saat itu kami sangat kebingungan, saat kami bawa ke Puskesmas, pihak Puskesmas meminta agar Farid segera dirujuk ke rumah sakit Bunder (sebutan RSUD Ibnu Sina), tapi baru hari Minggu (6/3) saat ada kapal penyeberangan kami bawa Farid ke Gresik, namun apa daya jika Tuhan berkehendak lain, mungkin itu yang terbaik buat kami, dan tentunya buat buah hati kami, terpenting kami sebagai orang tua berusaha sekuat tenaga kami,” tutur Hariyanto didampingi istrinya. sep

Mahasiswa Kritisi Wartawan

Media Bawean, 10 Maret 2011


Diskusi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Hasan Jufri (STAIHA) Bawean, digelar hari rabu (9/3/2011), bertempat di Aula Kampus STAIHA, menghadirkan narasumber Asepta Yoga Permana (wartawan Surabaya Post).

Asepta Yoga Permana menyampaikan makalah jurnalistik, seputar pembuatan berita, dan kode etik jurnalistik. "Syarat mutlak sebagai wartawan adalah peka terhadap lingkungan sekitar, memiliki pengetahuan luas bersumberkan kajian pustaka atau buku, dilengkapi data lengkap dan wawancara yang berimbang,"katanya.

Menurut Septa (penggilan akrabnya), banyak sumber berita di Pulau Bawean yang menarik diberitakan, seperti alam dan budaya Bawean memiliki keunikan untuk dimediakan.

Dalam diskusi, mahasiswa mengkritisi kinerja wartawan yang dianggapnya selalu berlindung diketiak penguasah dan pengusaha, dampaknya rakyat yang dirugikan. Lebih lanjut mahasiswa STAIHA mengkritisi berita-berita media selalu menonjolkan kejelekan daripada kebaikannya, padahal dalam hukum agama, menyampaikan keburukan orang lain termasuk dilarang.

Menjawab pertanyaan mahasiswa, Septa  menyatakan  berprofesi sebagai wartawan harus siap miskin. "Tidak benar bila berlindung diketiak penguasah atau pengusaha, apapun jawabannya selalu dimuat sebagai perimbangan pemberitaan,"terangnya.

"Pejabat bila dikonfermasi selalui menyangkal atau menolak, termasuk membela diri sebab tidak mau disalahkan. Tapi wartawan sudah siap bekal dan ilmunya, sehingga tidak bisa dibondohi,"paparnya.

Soal berita kenapa selalu identik pemberitaan jelek daripada baiknya, Septa menjawab, apapun yang diperoleh wartawan adalah sumber berita untuk disampaikan kepada publik. (bst)

ABK Terbaik Asal Bawean

Media Bawean, 9 Maret 2011

Ditulis oleh : Wardi Azzaury*


Di dunia bisnis kapal pesiar, Holland America termasuk salah satu dari lima perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan yang bermarkas di kota Seattle Washington ini mempunyai 15 kapal pesiar besar berbobot diatas 50 000 tons, salah satunya bernama Ms. Eurodam dengan bobot 86 000 tons, memuat lebih dari 2100 penumpang dan berABK sekitar 900 orang.

Sebagai perusahaan besar, disamping selalu berusaha melakukan ekspansi, Holland America juga berusaha memajukan kwalitas karyawannya. salah satu cara yang dipakai perusahaan ini memberi apresiasi dan penghargaan terhadap semua karyawannya, termasuk karyawan yang bekerja diatas kapal mereka, atau ABK kapal.

Setiap bulan, setiap kapal Holland America memilih salah satu ABKnya utuk dinobatkan sebagai karyawan terbaik atau istilah mereka employee of the month. ABK terbaik itu biasanya diperkenalkan kepada penumpang saat acara perkenalan officer kapal dan staff oleh nakhoda kapal di main stage atau panggung utama kapal.

Bulan maret ini yang terpilih sebagai employee of the month Ms. Eurodam adalah Teguh Kurniawan. Pelaut Indonesia yang biasa dipanggil Wawan ini asli kelahiran desa Diponggo kecamatan Tambak. Ia berhasil menyisihkan sekitar 800 ABK lainnya setelah ship’s staff menilai kwalitas kerja dan integritasnya mencukupi standard yang biasa dipakai diatas kapal.

Atas terpilihnya ini, laki-laki yang mengaku alumni SMPN Tambak dan SMAN Sangkapura ini mendapatkan sertifikat sebagai tanda penghargaan dan sejumlah uang serta fotonya dipajang di board dan dijadikan wall paper semua komputer kapal selama bulan maret. Namun baginya bukan sertifikat dan uang yang ia banggakan, tapi kelayakan putra Bawean bersaing dengan para pelaut dari luar daerah dan luar negeri yang menurutnya lebih diutamakan, sebab, kebanyakan kita yang karena tinggal di pulau kecil dan terpencil sering merasa kurang percaya diri. Padahal jika kita mau sebenarnya kitapun bisa seperti mereka.

*Penulis adalah crew M.s. Eurodam dan berasal dari Kepuhteluk Tambak Bawean.

Meski Tanpa Goyang Hot,
Kercengan Masih Diprotes

Media Bawean, 9 Maret 2011

Oleh: Asepta YP

Ketika berkunjung ke Pulau Bawean jangan pernah berharap menemukan hiburan dengan penyanyi berpakaian seksi dan goyangan hot yang saat ini menjadi menu wajib di setiap acara-acara. Untuk mencegah masuknya hiburan tersebut, masyarakat Bawean menciptakan seni Kercengan sebagai seni tandingan.

Seni kercengan mirip dengan Tari Saman dari Suku Gayo di Aceh. Penari yang terdiri puluhan gadis ini yang berjejer beberapa baris di depan. Seni ini juga mengutamakan gerak tangan. Ada dua jenis gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian, yaitu tepuk tangan dan tepuk dada.

Selain grup penari, dalam seni kercengan juga ada grup musik pengiring yang terdiri beberapa orang pria yang duduk di belakang penari. Para pemusik ini memainkan irama serasi dengan menabuh rebana al-banjari. Selain itu, ada grup penyanyi yang biasanya membawakan shalawat. Mereka ini terdiri pria dan wanita.

Iling Khairil Anwar, ketua umum Lembaga Eskavasi Budaya (BEKU) "Bhei-Bhei"--salah satu grup Kercengan di Bawean-- menjelaskan, seni kercengan ini muncul sebagai salah satu tameng masuknya hiburan-hiburan hot ke Bawean. “Perlu dicermati, tim sepak bola tidak bisa menghadapi tentara yang lengkap dengan persenjataan, jadi harus dihadapi oleh tentara juga,” ujarnya.

Artinya, tambah dia, kesenian modern hot yang masuk ke Bawean, harus dihadapi dengan kesenian juga. Tidak bisa jika hanya dengan menggelar pengajian saja. “Harus ada pembanding dari kalangan masyarakat, bahwa kesenian yang lebih bernafaskan agama lebih baik daripada pertunjukan yang mempertontonkan aurat,” paparnya.

Kendati demikian, lanjut Iling, seni Kercengan tidak akan menarik jika tanpa seorang wanita ikut tampil. “Tidak menarik bila hanya menampilkan kalangan lelaki saja, sebab tidak bisa mengubah suasana penampilan. Dalam konteks budaya, saya kira tidak haram. Sebab tujuannya baik,” terangnya.

Saat ini sedikitnya ada 42 grup seni Kercengan di Bawean. Mereka tidak hanya mampu menarik perhatian masyarakat yang berjarak 81 mil dari Pelabuhan Gresik itu saja, tapi juga masyarakat dari negeri jiran. Tak sedikit warga Malaysia yang terhibur oleh kesenian bernafaskan religi tersebut. Di negeri ini sekarang terdapat beberapa grup Kercengan yang sudah populer, salah satunya grup Putri Paginda Ampang.

Ahidin sebagai ketua grup Putri Paginda, mengatakan, kesenian kercengan Bawean ternyata mendapat sambutan luar biasa dari seluruh warga Indonesia dan masyarakat setempat di Malaysia. “Suara merdu dengan irama bagus diiringi gerakan tangan yang kompak menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat di Malaysia,” katanya.

Menariknya, personel grup Kercengan Putri Paginda Ampang adalah putra dan putri keturunan Bawean yang lahir di Malaysia. Grup ini sudah empat tahun eksis di Malaysia.

Di Gresik sendiri, seni Kercengan kerap ditampikan dalam acara-acara yang digelar oleh pemerintah kabupaten dan masyarajat umum.

Kendati sudah diupayakan santu, seni Kercengan ini masih juga menuai protes dari sejumlah tokoh masyarakat di Bawean. Mereka keberatan penampilan pria dan wanita dalam satu panggung.*

Terumbu Karang Bawean
Nan Seindah Bunaken

Media Bawean, 9 Maret 2011

OLEH ASEPTA YP

Ingat Bunaken, pasti teringat surga lautnya. Dan, Bawean memiliki potensi terumbu karang yang tidak kalah indah pesonanya dengan taman laut di Teluk Manado tersebut.

Data Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Gresik menyebut sedikitnya 67% terumbu karang di laut kota giri ini sudah rusak karena jaring trawl dan pencemaran, tapi hanya di Bawean saja yang masih utuh. Terumbu karang di Bawean kondisinya tetap bagus, meski di beberapa daerah di Indonesia memutih atau mengalami coral bleaching akibat pemanasan global.

Laut Pulau Bawean yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Putri ini belum terjamah, alias masih alami. Di pulau berjarak 81 mil dari Pelabuhan Gresik ini belum satupun berdiri pabrik-pabrik dengan polutan berbahaya seperti di jantung kota Gresik yang sudah berjubel industri besar, termasuk milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Selama ini cara menangkap ikan para nelayan di Bawean pun masih tradisional. Mereka menangkap binatang bersirip tersebut dengan memancing dan jaring tradisional. Nelayan di Bawean takut menggunakan pukat harimau, karena perahu mereka akan dibakar jika tertangkap tangan menggunakan jaring trawl. Ini sudah menjadi peraturan adat yang tidak tertulis bagi para nelayan Bawean.

Karenanya wajar jika kondisi lautnya masih bersih dan airnya tampak biru. Dan tidak jarang pula beberapa terumbu karang di dasar laut tampak dari permukaan lantaran saking beningnya air laut di Bawean. Di beberapa pantai terdapat hamparan pasir putih, mempercantik paronama alam Bawean. Saat ini cukup banyak wisatawan yang berlayar dari Bali menuju ke Batam mampir ke Bawean sekadar untuk menikmati keindahan alamnya.

“Kondisi terumbu karang di Bawean masih utuh dan sangat bagus, keanegarakaman dan pesonanya tidak kalah dengan taman laut di Bunaken. Dan ini bisa menjadi alternatif bagi para wisatawan yang menggilai snorkeling atau diving,” kata Iwan Lukito, Kepala Bidang Kelautan pada DKPP Kabupaten Gresik.

Beberapa saat lalu, lanjutnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) datang ke Bawean melakukan penelitian. Selama 20 hari tim dari LIPI melakukan penyelaman. Hasil sementara peneliti dari LIPI membenarkan jika populasi di laut Bawean, mulai dari terumbu karang, ikan, dan tumbuhan lainnya sangat beraneka ragam

“Saat ini kami masih menunggu laporan LIPI terkait hasilnya. Sedikitnya ada 90 jenis atau spesies tersembunyi di dalam laut Bawean, mulai dari tanaman, ikan, dan batu karang. Ini masih beberapa contoh saja, dalam waktu dekat laporannya sudah kami terima. Tim dari LIPI meneliti seluruh perairan di Bawean,” terangnya.

Selain itu, tambah Iwan, pihaknya bersama dengan Tim Pengawasan Sumber Daya Dari Kementerian Kelautan juga akan menyelami laut Bawean. “Kita akan lihat keragaman dari terumbu karang di sana. Inilah yang akan menjadi bahan kami untuk membangun Bawean seperti di Bunaken,” tandasnya.

Tapi dia tidak menampik, untuk saat ini masih sulit mewujudkan Bawean seperti Bunaken. Sebab infrastruktur, khususnya jalan, masih amburadul.

Iwan menyebut, saat ini wisatawan akan malas datang ke Bawean jika hanya akan snorkeling atau diving saja. “Ini rencana jangka panjang, yang pasti Bawean mempunyai potensi yang tidak kalah dengan di Bunaken, Sulawesi. Dulu ada konsep membuat Bunaken kecil di Gresik, tapi kalau hanya orang datang ke Bawean untuk menyelam saja rugi, makanya Bawean masih perlu dikembangkan lagi beberapa bidang lainnya,” ujarnya.

Secara letak. Pulau Bawean mirip dengan Pulau Lombok yang dikelilingi pulau-pulau kecil. Di sebelah timur Bawean ada Pulau Gili, sebelah selatan ada Pulau Selayar, Pulau Noko, Pulau Menuri, dan Pulau Beci. Sedangkan di sebelah barat Bawean ada Pulau Nusa, Pulau Birang-Birang, Pulau Tanjung Cina, dan di sebelah barat daya Bawean ada Pulau Karangbilla.

Untuk menuju pulau-pulau tersebut, ada yang harus ditempuh dengan menggunakan perahu, ada juga yang cukup berjalan ketika air laut agak surut, misalnya ke Pulau Tanjung Cina. Pastinya, semua pulau kecil itu memiliki keindahan pantai dan terumbu karang yang memanjakan pengunjung.

Salah satu tokoh masyarakat Bawean, Hassan Luthfi berharap rencana pengeboran minyak dan gas (migas) yang ada laut Bawean tidak merusak ekosistem laut yang menjadi warisan langka ini. “Keseimbangan ekosistem juga harus dijaga, jangan sampai peristiwa Lapindo akan terulang di bumi Bawean. Bisa Anda bayangkan bagaimana jika terjadi kebocoran minyak, tentu seluruh pantai di Bawean yang kecil ini akan terkepung polusi dan merusak habitat di dalamnya,” tandasnya.*

Stop, Isu Maling Di Bawean

Media Bawean, 8 Maret 2011


Isu maling di Pulau Bawean sampai saat ini belum membuahkan bukti nyata, sementara kondisi tegang membuat suasana yang aman dan tentram berubah mencekam dan menakutkan. Haruskah kondisi seperti ini berkelanjutan, tidak ada solusi penyelesaian?

AKP. H. Zamzani sebagai Kapolsek Sangkapura mengatakan isu maling berkembang selama ini hanya wacana, bila ditelusuri lebih lanjut tidak ada pembuktian. "Buktinya, sampai saat ini di Sangkapura tidak ada satupun warga sebagai korban pencurian,"katanya.

"Silahkan menjaga keamanan di kampung masing-masing, dengan situasi dan kondisi terkendali. Tetapi jangan membawa senjata tajam, khawatir nantinya salah sasaran dan merugikan warga Bawean sendiri,"ujarnya.

Senada dengan Kapolsek Sangkapura, AKP. Didik Wahyudi, SH. sebagai Kapolsek Tambak menyarankan agar warga jangan terpancing dengan adanya isu maling yang dihembuskan oleh orang tidak bertanggungjawab.

"Menjaga keamanan di kampung oleh warga masyarakat termasuk kewajiban bersama, dengan batas kewajaran tanpa membawa senjata tajam."jelasnya.

"Kejadian di Kepuhlegundi sampai saat ini masih dalam penyelidikan polisi, tidak ada hubungan dengan isu maling yang dihembuskan selama ini,"terang AKP. Didik Wahyudi, SH.

Puruhita Rizki Optik, menulis keluhannya di Facebook Media Bawean, "Sana... kamu tidak boleh masuk sini, orang jawa tidak boleh masuk sini!! kamu orang jawa kan?" ibu-ibu berkata sangat ketus, matanya sambil melotot,"ungkapnya.

Isu maling menurut pemilik Optik di Sangkapura, ternyata berdampak sangat negatif bagi perantau dari jawa seperti saya. "Waspada, harus selalu dilakukan, tapi hendaknya jangan berlebihan menyingkapinya, jangan semua orang luar diperlakukan seperti itu,"harapannya.

"Kesan ramah yang dimiliki orang Bawean langsung terpupus saat itu, untung Kepala Desa sebagai konsumenku. saya memaklumi kegelisahan warga Bawean saat ini, semoga semua ini cepat berlalu karena imbasnya sangat berarti,"tutur Puruhita.

Ali Boyand mennyatakan curiga itu boleh tapi jangan keterlaluan, ingat warga Bawean juga banyak yang merantau. "Memang betul isu maling di Bawean, telah menghilangkan sifat rama dan persaudaraan masyarakat Bawean. Seperti ditempatku,  orang jawa diusir, hari itu harus pulang ke jawa. Minta waktu mau cari hutangan untuk ongkos kapal tidak diberi kesempatan, sangat kasihan,"pungkasnya. (bst)

Resensi Buku : Buku Pintar
Berdebat Dengan Wahabi

Media Bawean, 8 Maret 2011

Judul : Buku Pintar Berdebat dengan Wahabi
Penulis : Muhamad Idrus Ramli ( LBM NU Jember)
Penerbit : Bina Aswaja Surabaya
Halaman : 175
Cetakan II : Januari 2011
Peresensi : Fauziyah , S.Pdi (Guru MAK Hasan Jufri )

Suatu ketika Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki ( Tokoh Sunni) sedang berhalaqah dengan para muridnya di serambi masjidil Haram. Di bagian lain Ibnu Sa’di ( Tokoh Wahabi) juga sedang duduk-duduk dengan para muridnya. Tiba-tiba air hujan mengguyur dengan deras sehingga saluran air di atas Ka’bah mengalirkan air dengan derasnya. Seperti biasa kaum muslimin segera berhamburan membasahi tubuhnya dengan air tersebut bahkan meminumnya untuk mencari berkah.

Melihat hal tersebut Polisi kerajaan Saudi Arabia terkejut dan mengira bahwa kaum muslimin telah berbuat kemusyrikan. Para Polisi itupun menghardik “ Haram, haram…musyrik...musyrik…! Kum muslimin bubar dan menuju halaqah Sayid Alwi menanyakan perihal ngalap berkah tersebut. Sayid Alwi membolehkan dan bahkan menganjurkan agar mereka terus melakukannya. Mereka kembali ke Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Bentakan Polisi kerajaan sudah tak dihiraukan lagi. Melihat hal tersebut segera Polisi kerajaan menuju tempatnya Ibnu Sa’di. Mendengar pengaduan Polisi tersebur bergegaslah Ibnu Sa’di menuju halaqahnya Sayid Alwi. Ia bertanya “ Wahai Sayid, benarkah anda membolehkan mereka mengharap berkah dari air yang mengalir dari Ka’bah?” Sayid Alwi menjawab “ Benar. Mereka mendapat dua keberkahan. Pertama berkah dari langit dan kedua berkah dari Baitillah. Karena Allah telah berfirman dalam QS. 50 : 9 “ Dan kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah”. Allah juga berfirman dalam QS. 3 : 96 “Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah ( Makkah) yang diberkahi (oleh Allah)”. Mendengar jawaban tersebut Ibnu Sa’di kagum dan berujar “
Subhanallah, bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini ?” akhirnya Ibnu Sa’di segera menuju Ka’bah dan membasahi tubuhnya dengan air. Melihat tindakan tokoh Wahabi ini Polisi kerajaan pergi dengan perasaan malu. Kisah ini disampaikan oleh Syaikh Abdul Fatah Rawah dalam kitab Tsabat. Beliau adalah saksi mata kejadian tersebut.

Di atas adalah secuil kisah yang dituturkan oleh Muhamad Idrus Ramli dalam “ Buku Pintar berdebat dengan Wahabi”. Kyai muda Jember ini tergolong penulis produktif. Ia menempatkan dirinya menjadi salah satu benteng muda dalam membela faham Ahlussunah Wal-Jama’ah. Buku ini merupakan kumpulan pengalaman penulis dan teman-temannya ketika berdebat dengan orang-orang Wahabi (Salafi) yang dengan gampang dan gegabah mengkafirkan sesama muslim.

Secara terperinci Kyai yang alumni Sidogiri ini menguraikan sebelas bab yakni Mencari berkah, Allah maha suci, Bid’ah Hasanah, Otoritas Ulama’, Bukan Ahlussunah, Menurut As-Syathibi, Istighatsah dan tawassul, Cerdas bermadzhab, Tradisi Yasinan dan Permasalahan tradisi. Secara keseluruhan Wahabi dibungkam dengan dalil-dalail naqli dan aqli.

Dalam sebuah diskusi tentang Aswaja di PWNU Jawa Timur, Idrus menyatakan bahwa Wahabi sama dengan Khawarij karena mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah golongan selain mereka. Mereka disebut khawarij bukan semata – mata karena melawan kaum muslimin tetapi karena Takfir dan Istihlal dima’ al-Mukhalafin tersebut. Berbeda dengan ‘Aisyah dan Mu’awiyah, meski keduanya juga memerangi Ali bin Abi Thalib tetapi tidak takfir dan istihlal sehingga keduanya bukan khawarij. Dalam kitab Kasyf as-Syubuhat Muhamad bin Abdul Wahab (Pendiri Wahabi) secara terang benderang me-musyrikkan orang-orang di luar golongannya. Ia menyebut bahwa ulama madzhab empat adalah Syetan karena menyusun ilmu fiqh yang ia katakan syirik. Bahkan pengikut Wahabi yakni Muhamad bin Ahmad Basyamil dengan congkak menyebut bahwa umat islam saat ini lebih musyrik dari pada Abu Jahal dan Abu Lahab (Kaifa Nafhamu al-Tauhid hal.16).

Wahabi selalu mengintai. Ia menyusup ke semua lapisan untuk merusak aqidah dan amaliah kaum muslimin. Belakangan mereka rajin meng-infiltrasi mahasiswa dari kampus-kampus umum untuk dicekoki faham meraka. Dengan jargon standart “ kembali kepada al-Quran dan Hadits” hakikatnya mereka menjauh dari ajaran al-Quran dan Hadits. Ciri-ciri meraka diantaranya adalah : Membid’ahkan amaliah muslimin bahkan memusyrikkannya dan menghujat para kyai ( ulama).

Pulau Bawean Lebih Maju

Media Bawean, 8 Maret 2011


"Pulau Bawean lebih maju, banyak rumah bagus, penerangan listrik sudah 24 jam, cuman jalannya kurang bagus dan perlu perbaikan," petikan wawancara Media Bawean bersama Wajib, Mantan Komandan Koramil Kecamatan Tambak, tahun 1980-1982.

Siapa nama lengkap bapak? "Wajib, shalat lima waktu hukumnya wajib,"jawabnya dengan tersenyum gembira.

Kunjungan Wajib selama satu minggu di Pulau Bawean, bertujuan mengunjungi anak kelimanya bernama Didik Oktovianto Leksono Putro (Kepala Unit Bank BRI Tambak). 

Pengakuan Wajib kepada Media Bawean, ternyata masih banyak yang mengenal, meskipun usia sudah 70 tahun. "Ketika bertugas seringkali keluar masuk kampung di Kecamatan Tambak, sehingga banyak yang kenal,"paparnya.

"Pulau Bawean lebih bagus sekarang daripada waktu tahun 1980-1982, banyak bangunan rumah bagus, termasuk penerangan listrik sudah 24 jam yang dahulu menyala sampai jam 12 malam,"terang mantan Komandan Koramil Tambak berpangkat Pembantu Letnan Satu.

"Dulu naik kapal kayu seperti Adi Raya dari Diponggo, tidak ada kapal cepat seperti sekarang ini,"kenangnya.

"Kantor Koramil Tambak pindah ke desa Pekalongan, sedangkan tempat tugas tahun 1980-1982 berkantor di desa Tambak,"katanya. (bst)

Moch. Farid (Sakit Lever)
Meninggal Dunia Di Gresik

Media Bawean,7 Maret 2011


Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un......

Moch. Farid (14 th.) penderita penyakit gagal hati, putra tunggal Hariyanto dan Muyasaroh asal Tambak Timur, desa Tambak, kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Gresik meninggal dunia, senin (7/3/2011), jam 04.30 WIB. di RSUD Ibnu Sina Gresik.

Moch. Farid dirujuk ke Gresik, hari minggu (6/3/2011) setelah mengalami masa kritis, tidak bersedia makan dan buang air besar berupa darah.

H. Abdurrahman sebagai Bendahara dan Ali Asyhar sebagai Ketua Bawean Peduli menyerahkan bantuan sebesar Rp.3.000.000 kepada Hariyanto di dermaga Pulau Bawean untuk biaya pengobatan. Diatas kapal Express Bahari 1C. Moch. Farid mendapat bantuan para penumpang yang diserahkan oleh Kapten Yosis Pinansada sebesar Rp.1.247.000.

Akhwan sebagai anggota DPRD Kabupaten Gresik menawarkan kendaraan dinas untuk membawa Moch. Farid bersama keluarganya ke RSUD. Ibnu Sina Gresik. Sampai di rumah sakit tepat jam 17.00 WIB. Moch. Farid langsung masuk ruang Instalasi Gawat Darurat, dan mendapat perawatan intensif dari tenaga medis.

Selama di IGD, Media Bawean sempat berkonsultasi berkaitan penyakit yang diderita Moch. Farid serta solusi penyembuhannya. Dokter menyatakan kondisi sudah kritis, butuh waktu panjang untuk penyembuhannya, itupun nantinya akan dirujuk ke RSUD Dokter Soetomo di Surabaya.

Menunggu hasil pemeriksaan, Hariyanto terlihat gelisah sedang duduk-duduk didepan IGD RSUD. Ibnu Sina. "Sebenarnya sudah pasrah, Alhamdulillah berkat bantuan melalui Bawean Peduli bisa dirujuk ke Gresik,"katanya.

Jam 10.30 WIB. Moch. Farid dipindah ke ruang Intensive Care Unit (ICU) RSUD Ibnu Sina, sedangkan keluarga menunggu dilur ruangan. Beberapa menit kemudian, Muyasaroh sebagai ibunya diminta memasuki ruang ICU oleh tenaga Medis.

Beberapa jam kemudian, tepatnya jam 24.00 WIB. (senin, 7/3/2011), tenaga medis meminta agar ke PMI untuk persediaan darah pengobatan Moch. Farid. Kemudian Hariyanto ayahnya berangkat ke PMI Gresik, ternyata persediaan darah sesuai permintaan tidak ada. Dilanjutkan, bersama pengelolah Media Bawean, Hariyanto berangkat ke PMI kota Surabaya. Pulang membawa dua kantong darah, sampai di RSUD Ibnu Sina, tepat jam 02.00 WIB.

Seiring adzan subuh, tepatnya jam 04.30 WIB. Moch. Farid meninggal dunia di ruang ICU RSUD Ibnu Sina Gresik.

Pihak keluarga mengharapkan agar jenazah Moch. Farid dikebumikan di Pulau Bawean. Alhamdulilah, jenazah tiba dengan selamat di Bawean dan langsung dikebumikan. (bst)

Moch. Farid
Dirujuk Ke RSUD Ibnu Sina

Media Bawean, 7 Maret 2011


Moch. Farid (14 bulan), minggu (6/3/2011) dirujuk ke RSUD Ibnu Sina Gresik, didampingi orang tuanya Hariyanto dan Muyasaroh, neneknya serta satu perawat dari Puskemas Tambak. Selama perjalanan Tambak - Sangkapura, kondisi sudah kritis, sehingga dirawat ke Puskesmas Sangkapura, kemudian di rujuk ke RSUD Ibnu Sina di Gresik.

Selama perjalanan Bawean - Gresik, kedua orang tuanya aktif menjaga Moch. Farid dengan didampingi satu perawat Puskesmas Tambak.

Sebelum berangkat, Bawean Peduli melalui Bendahara (H.Abdurrahman) disaksikan Ketua (Ali Asyhar) menyerahkan bantuan sebesar Rp.3.000.000 kepada Hariyanto (ayah Moch. Farid).

Sedangkan diatas kapal Express Bahari 1C diadakan penarikan sumbangan kepada penumpang, hasilnya Rp. 1.247.000, diserahkan langsung oleh Kapten Yosis Pinansada kepada orang tuanya diatas kapal. (bst)

Kercengan Boyan Di Malaysia

Media Bawean, 7 Maret 2011

Liputan Saiful Aiman Di Kuala Lumpur Malaysia


Kercengan Bawean kian berkibar sampai ke negeri jiran Malaysia,  salah satunya Group Putri Paginda Ampang yang tampil dalam pelantikan Pengurus Perhimpunan Masyarakat Indonesia (PERMAI), minggu (6/3/2011).

Ahidin sebagai Ketua Group Putri Paginda, mengatakan kesenian kercengan Bawean ternyata mendapat sambutan luar biasa dari seluruh warga Indonesia di Malaysia yang menghadiri acara pelantikan PERMAI.  "Suara merdu dengan irama bagus dengan gerakan tangan yang kompak  dalam penampilannya membuat suasana benar-benar terhibur,"katanya.

Personel group kercengan Putri Paginda Ampang adalah putra dan putri keturunan Bawean yang lahir di Malaysia dilatih oleh Ustadz Zuhali dari Bawean. Dibentuk sejak 4 tahun yang lalu, seringkali tampil dalam acara pernikahan dan acara-acara lainnya.

Menurut Ahidin, personel adalah anak-anak keturunan Paginda Sokaoneng Bawean yang bertempat tinggal di Ampang Selangor berstatus sebagai siswa di tingkat SMP dan SMA..

"Latihan dilakukan seminggu sekali, terkadang tiga hari sekali,"paparnya.

Harapan Ahadin, nantinya group kercengan bisa tampil setiap ada event atau kegiatan warga Indonesia seperti Pelantikan PERMAI, agar kebudayaan kercengan dari Bawean tidak hanya sebatas tampil di acara pengantenan.

Persembahan kercengan Putri Paginda disaksikan oleh warga Indonesia di Alun-alun klab Sultan Sulaiman Kampung Bharu Kuala Lumpur Malaysia.(epung)
 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.