bawean ad network
iklan
bank jatim
TERKINIindex

Bawean Dalam RPJMD Gresik
Sudah Masuk, Perlu Revisi

Media Bawean, 31 Maret 2011

Kabid Statistik dan Pelaporan Bappeda Jatim Ir Taufik Kartiko, MSi saat memimpin dalam forum konsultasi penyusunan RPJMD Gresik di Kantor Bappeda Jatim, Rabu (30/3) kemarin, mengungkapkan Pulau Bawean semestinya menjadi perhatian serius Pemkab Gresik karena pulau ini juga menjadi bukti masih ada disparitas pembangunan di Gresik.

Kepala Bappeda Kabupaten Gresik, Bambang Isdianto dihubungi Media Bawean via ponselnya, (kamis, 31/3/2011), menyatakan sebenarnya Pulau Bawean sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Gresik, tetapi ada beberapa program propinsi yang belum masuk, seperti pariwisata dan lapangan terbang.

"Masih tahap konsultasi yang berupa draft belum ditetapkan, sehingga direvesi kembali menyesuaikan dengan program propinsi,"katanya.

"Ada program propinsi pengembangan Pulau Bawean seperti parawisata, termasuk kelanjutan lapter dan pembangunan infrastruktur yang minta disesuaikan antara propinsi dengan kabupaten,"terangnya.

Apakah menerima dengan masukan Bappeda Propinsi Jawa Timur? "Iya kita menerima, kemarin adalah forum konsultasi untuk menyesuaikan antara RPJMD propinsi dengan kabupaten,"jawab Bambang Isdianto.

Khatibur Rasyadi Alwi (tokoh Bawean di Jakarta) merespon, menurutnya pembangunan RPJMP Bawean tidak lepas dan menjadi satu kesatuan dari rencana pembangunan dan pengembangan Gresik secara keseluruhan.

"Pembangunan harus diarahakan kepada potensi dan kearifan lokal, karena Pulau Bawean mempunyai potensi alam yang menarik, alami dan indah. Pada saat yang sama masyarakat Bawean adalah masyarakat religius, oleh karena itu menjadi sangat relevan pembangunan diarahkan menjadi daerah wisata relegius"paparnya.

"Kalau ada target pembangunan jangka menangah dan panjang ada, tentu pembanggunan di bidang infrastruktur menjadi prasyarat awal atau keniscayaan untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut. Sehingga persoalan klasik menahun selama ini akan terpecahkan, misalnya soal Listrik yang sering padam, jalan lingkar Bawean (JLB) yang rusak dan transportasi kapal dan udara,"jelasnya.

"Tentu ini butuh komitmen dan kerja sama seluruh elemen dan stakeholder masyarakat, tokoh,pemuda dan Pemerintah Gresik, sehingga harapan pembangunan Pulau Bawean yang lebih progresif dan bisa lebih cepat terealisasi,"ujar  Khatibur Rasyadi Alwi.

Sementara Iling, Khairil Anwar SS sebagai Ketua Ketua Umum LEB BEKU Bhei-Bhei menilai permintaan Bappeda Proipinsi Jatim untuk memasukkan Bawean dalam RPJMP menunjukkan bahwa Bawean hingga hari ini masih ditinggalkan oleh Gresik.

"Buktinya konkrit dengan tidak masuknya Bawean dalam RPJMP Kabupaten Gresik, walau secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Gresik. Masih untung Pemprop. Jatim masih ingat bahwa Bawean masuk dalam wilayahnya. Ini mesti dipertanyakan ke Pemkab Gresik sebagai bentuk kesalahan yang disengaja atau karena lupa bin amnesia?"tuturnya. (bst)

Mengetahui Lebih Dekat
Aktivitas BMKG Bawean

Media Bawean, 31 Maret 2011


Aktivitas di Kantor Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  Pulau Bawean sehari-hari melakukan pengukuran untuk mengetahui curah hujan, tekanan udara, penguapan, kelembapan, temperatur, tekanan udara, kecepatan dan arah angin, serta lain-lainnya.

Saleh sebagai Kepala BMKG Bawean ditemui Media Bawean (kamis, 31/3/2011), mengatakan, "Tidak ada istirahat aktivitas kantor BMKG Bawean, setiap saat melaksanakan tugas pengukuran secara bergantian,"katanya.

"Hasil pengukuran setiap saat dilaporkan ke pusat di Jakarta yang berwenang untuk mengeluarkan data hasil prakiraan,"paparnya.

Terlihat banyak ukur di area komplek BKMG Bawean, yang umumnya menggunakan cara manual. Nantinya akan diganti sistem digital untuk mempermudah dalam pengkuran,"ujarnya.

Media Bawean menyaksikan pelepasan balon yang dinamakan pilot balon yang rutin dilakukan setiap hari sebanyak tiga kali. Terlihat petugas BMKG Bawean, memegang balon lalu didekatkan dialat pengukur terdiri azimut, elevasi yang dilengkap teropong dan jam pengkur waktu. Balon dilepas, terlihat konsentrasi petugas melihat arah balon yang terbang  serta mengukur kecepatannya.

Pulau Bawean menurut Saleh termasuk salah satu tempat yang memiliki kantor BMKG, tidak semua tempat berdiri kantor BMKG. Di Jawa Timur hanya ada lima tempat kantor BMKG, salah satunya adalah Pulau Bawean. (bst)

Desa Diponggo, Tambak
Persiapan Lomba Desa

Media Bawean, 31 Maret 2011


Desa Diponggo adalah perwakilan Kecamatan Tambak dalam mengikuti lomba desa tingkat Kabupaten Gresik tahun 2011, yang rencananya pernilaian oleh tim pada tanggal 5 April 2011.

Kepala Desa Diponggo, Zulfa Ihsan dihubungi Media Bawean, (kamis, 31/3/2011) menyatakan kesiapannya sudah mencapai 70% dalam mengikuti lomba desa yang akan dinilai oleh tim dari Kabupaten Gresik.

"Pernilaian meliputi semua aspek kehidupan di masyarakat, sedangkan target kita bukan kemenangan dalam lomba, tetapi wujud nyata pengabdian pemerintahan desa kepada masyarakat,"katanya.

"Pameran diikuti 13 desa di kecamatan Tambak, sudah dipersiapkan stannya,"ujarnya. (bst)

Ilmu Yes… Ijazah Yes….

Media Bawean, 31 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Aminudin (Kelas XII MAK Hasan Jufri)


Dalam hidup ini kita harus memiliki identitas diri dan karakter yang baik. Identitas diri dibutuhkan untuk mengenali spesifikasi keilmuan yang kita punyai. Sedangkan karakter yang baik menunjukkan tata perilaku kita sehari-hari sebagai pengamalan dari ilmu. Ilmu adalah untuk beramal.

Di zaman modern ini ada satu prasyarat tambahan yang harus dipenuhi yaitu bukti formal. Seorang cerdik pandai tidak akan diakui oleh negara bila tidak memiliki bukti kepandaiannya yaitu ijazah. Strata kepandaian seseorang kemudian dilambangkan dengan gelar yang disandangnya. Gelar sarjana, master dan doctor adalah jenjang keilmuan yang sengaja diatur oleh negara untuk mengenali tingkatan keilmuan sekarang. Semakin tinggi gelar seseorang maka dia diakui memiliki tingkat ilmu yang mumpuni dan begitu pula sebaliknya.

Gelar kesarjanaan juga bervariasi. Sarjana pendidikan berbeda dengan sarjana ekonomi. Master management juga berbeda dengan master non management. Perbedaan gelar sesuai dengan jenis keilmuannya ini diharapkan menghasilkan lulusan perguruan Tinggi yang berdedikasi sesuai dengan keilmuannya. Tidak terjadi tumpang tindih bidang garapan. Seorang sarjana ekonomi tentu tidak layak secara akademis bila menjadi guru matematika dan seterusnya.

Untuk jenjang pendidikan yang lebih rendah tingkat keilmuan seseorang dibuktikan dengan ijazahnya. Lulusan Madrasah Aliyah diyakini lebih pandai daripada lulusan Madarsah Tsanawiyah. Lulusan MTs lebih unggul dibanding dengan lulusan Madrasah Ibtidaiyah dan seterusnya. Bahkan saat ini pendidikan Taman Kanak-kanak juga sudah mendapat bukti kelulusan yakni ijazah. Bukan hanya lembaga pendidikan formal yang memberi ijazah, lembaga kursus dan pelatihan juga memberikan sertifikat bagi pesertanya yang sudah dinyatakan lulus.

Ijazah memang penting tetapi yang lebih penting adalah kualitas pemegang ijazah. Alangkah lucunya bila seorang dengan gelar sarjana tetapi kualitasnya setara Madarasah Aliyah. Seorang master kualitasnya standar sarjana. Jangan heran bila banyak orang tua bergumam “ Sarjana hari ini sama kualitasnya dengan lulusan MI tahun 50-an”. Komentar ini bukan tanpa alasan sebab banyak dari para sarjana yang sikapnya tidak mencerminkan kesarjanaannya. Alih-alih menjadi pelopor di kampungnya justru mereka bersikap tidak santun dan jauh dari norma kepatutan.

Ada fenomena bahwa ijazah hanya sebagai aksesoris. Banyak yang berburu ijazah hanya untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa, DPRD, Bupati atau untuk kenaikan pangkat. Akibatnya marak oknum yang bisa mengusahakan ijazah secara instan dengan imbalan tertentu. Kelemahan birokrasi menjadi pintu masuk yang efektif munculnya praktek-praktek tercela tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak pejabat menggunakan gelar aspal, yaitu asli tetapi palsu.

Akankah hal ini terus berlanjut? Jawabannya tentu tidak. Secara bertahap harus ada pembenahan yang continue. Praktek perburuan ijazah bodong ini harus berhenti demi kualitas generasi mendatang. Pengawas pendidikan harus aktif ke lapangan untuk melihat dan membenahi praktek tersebut. Bila tidak segera dilaksanakan pembenahan maka sangat mungkin ke depan akan bertambah marak dengan jenjang yang lebih tinggi.

Dahulu Pondok Pesantren mayoritas tidak mementingkan ijazah. Kualitas keilmuan lebih diutamakan. Banyak lulusan pesantren yang pandai dan menjadi tokoh masyarakat namun mereka tidak memiliki ijazah formal selembarpun. Tetapi kini zaman sudah berubah. Perpaduan antara kualitas ilmu dan bukti otentik yakni ijazah sama-sama diperlukan.

Nama : Aminudin
Kelas : XII MAK Hasan Jufri
Alamat : Desa Balikterus Sangkapura

Bappeda Jatim
Minta Bawean Masuk RPJMD

Media Bawean, 30 Maret 2011

Sumber : http://bappeda.jatimprov.go.id/

Pemkab Gresik diminta mencantumkan pengembangan Pulau Bawean dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Gresik. Permintaan tersebut terungkap dalam forum konsultasi penyusunan RPJMD Gresik di Kantor Bappeda Jatim, Rabu (30/3) kemarin.

Kabid Statistik dan Pelaporan Bappeda Jatim Ir Taufik Kartiko, MSi saat memimpin forum konsultasi tersebut mengungkapkan Pulau Bawean semestinya menjadi perhatian serius Pemkab Gresik karena pulau ini juga menjadi bukti masih ada disparitas pembangunan di Gresik.

“Selama ini kita sering mendengar keluhan dan persoalan yang terjadi di Bawean. Oleh karenanya Pemkab Gresik harus merumuskan kebijakan strategisnya khususnya menyangkut pengembangan Pulau Bawean,” tuturnya lagi. Tim evaluasi Bappeda Jatim juga menyoroti soal penanganan Kali Lamong, pengembangan Pelabuhan di Gresik hingga lemahnya data yang dijadikan pijakan. Beberapa masukan positif juga disampaikan oleh anggota tim penilai. Masukan itu misalnya perlunya mencantumkan lebih terperinci soal potensi sumber daya alam di Gresik, penanganan lahan bekas tambang dan sebagainya.

Forum konsultasi tersebut menurut Taufik bertujuan untuk melakukan sinkronisasi program pembangunan antar pemerintah baik pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Selain itu, forum tersebut juga perlu diselaraskan dengan daerah di sekitarnya.

“Oleh karenanya kami juga mengundang Surabaya, Lamongan dan Bangkalan untuk didengarkan masukannya,” tambahnya lagi. Selain menyoroti soal substansi teknis terkait materi RPJMD, forum konsultasi tersebut juga mengevalusi sisi administrasi pembuatan RPJMD seperti dasar hukum, sistematika penulisan dan sebagainya.

“Kami juga akan nilai konsistensi dokumen perencanaan mulai dokumen Musrenbang hingga penyusunan RPJMD,” tegasnya.

Kepala Bappeda Gresik Bambang Isdianto yang memimpin rombongan dari Pemkab Gresik tersebut menyambut baik semua masukan yang disampaikan. Pihaknya akan melakukan kajian dan evaluasi lagi terhadap materi RPJMD yang telah disusunnya.

“Kami akan evaluasi lagi, untuk disesuaikan dengan masukan dan koreksi yang disampaikan tadi,”,” jelasnya.(why)

Bawean Krisis Minyak Tanah
Harga Tembus 11 Ribu/Liter

Media Bawean, 30 Maret 2011

Pulau Bawean krisis minyak tanah, sebagian besar pengecer tidak menjualnya sehubungan harga meroket tembus Rp.11ribu per liternya.

Salirik sebagai pemilik warung kopi ditemui Media Bawean (rabu, 30/3/2011) mengeluhkan naiknya harga tanah di Pulau Bawean. "Itupun tidak ada yang menjualnya, sehingga kesulitan untuk membelinya,"katanya.

Menurut Salirik, melambungnya harga minyak tanah, menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap dirinya sebagai pengusaha kecil.

Bukan hanya Salirik, termasuk pencari ikan yang memanfaatkan minyak tanah merasa tersiksa dengan melambungnya harga, serta menghilangnya dari pasaran.

Muhdar sebagai pengusaha minyak tanah di Bawean, mengakui harga minyak tanah meroket dipasaran sehubungan dicabutnya subsidi oleh pemerintah, serta mahalnya minyak dunia.

"Banyak pengecer tidak menjual untuk sementara waktu, sehubungan mahalnya harga dipasaran, masih menunggu sampai harga turun kembali,"terangnya. (bst)

Mahasiswa Hamil Tua
PPL Di MTs. Umar Mas'ud

Media Bawean, 30 Maret 2011


Penempatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di lingkungan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Santri kampus II Bawean disesuaikan jarak georafisnya bagi mahasiswa yang hamil.

Kepala MTs. Umma, Hj. Fatimah Hanafi dalam sambutannya perpisahan PPL STIT Raden Santri hari rabu (30/3/2011) di halaman sekolah, menyebutkan ada beberapa mahasiswa PPL terlihat sudah berbadan dua, diantaranya sudah melahirkan. "Merasa kasihan melihat mahasiswa ketika naik turun tangga di sekolah, mereka tetap bersemangat dan bersabar selama satu bulan,"katanya.

Lebih lanjut Hj. Fatimah Hanafi mengharap kepada mahasiswa, agar mengamalkan ilmu yang dimilikinya di masyarakat nantinya. "Tentunya pengalaman di sekolah selama mengikuti PPL bisa menjadi bekal dalam mengikuti KKN,"paparnya.

Sambutan Koordinator STIT Raden Santri, Kholisun Syatir menyampaikan PPL termasuk bagian dari mengembangkan profesi dan meningkatkan kualitas keguruan. "Atas nama keluarga besar STIT Raden Santri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak sekolah yang menerimanya dengan baik,"ujarnya. (bst)

Respon Pengobatan Pasien
Perawat Telepon Dokter

Media Bawean, 30 Maret 2011

Kepala Dinkes Kab. Gresik, dr. Soegeng Widodo
Dokter kemana? kemarin memang Dokter Syafik dapat perintah dari BKD untuk pelantikan sebagai Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura. Di Puskesmas Sangkapura ada dua dokter, semestinya bergantian untuk berlayar dan tidak boleh kosong.


Akwan, SH. (Anggota DPRD Kab. Gresik)
Dokter Puskesmas tidak ada? Waduh, semestinya tidak boleh kosong, ini menyangkut keselamatan jiwa manusia. Tidak ada istilah menangani pasien via telepon, ini dokter semestinya salah satunya berada di Pulau Bawean.
Muaz Abkar (Ketua PK Partai Golkar Sangkapura)
Sangat disayangkan pelayanan Puskesmas Sangkapura, dengan adanya pasien tanpa kehadiran dokter dalam perawatan. Terkesan penanganan pasien semberawut, tidak menunjukkan perbaikan pelayanan kepada masyarakat sebagaimana diprogramkan oleh pemerintah. Sangat tidak etis bila dokter menangani pasien via telepon, seharusnya berinteraksi secara langsung.

Dokter Puskesmas Berlayar
Pengobatan Via Telepon

Media Bawean, 30 Maret 2011


Puskesmas Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik  jadi buah bibir masyarakat dengan ketidakhadiran dua dokter dalam menangani pasien rawat inap, sehubungan kedua dokter posisi berada di daratan Pulau Jawa. Sementara perawatan pasien dilakukan oleh perawat melalui konsultasi via telepon seluler dengan dokter.

Dokter Ach. Syafi' dihubungi Media Bawean (rabu, 30/3/2011) membenarkan tidak adanya dokter di Puskesmas Sangkapura sehubungan dirinya menghadiri pelantikan sebagai Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura hari sabtu (26/3/2011) di Kantor Bupati Gresik. 

"Sedangkan Dokter Tony S. Hartanto, posisi juga berada di daratan Pulau Jawa sehubungan ada tugas,"kata Dokter Ach. Syafi'

Bagaimana menangani perawatan pasien? "Melalui konsultasi via telepon seluler, dan perawat yang menanganinya sudah profesional,"jawab Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura.

Media Bawean ketika menemui Perawat di UGD Puskesmas Sangkapura  menyatakan perawatan pasien melalui konsultasi dengan dokter via telepon, sehubungan dokter berada di Jawa. Sedangkan visite semestinya dilakukan pemeriksaan setiap saat kepada pasien tidak ada, sehubungan tidak adanya dokter.

Di Puskesmas Sangkapura ada dua pasien yang rawat inap, tentunya akan lebih lama lagi menunggu kedatangan dokter sehubungan tidak adanya kapal yang berlayar Gresik - Bawean, hari ini (rabu, 30/3/2011).

Badruttamam sebagai menantu pasien yang dirawat di Puskesmas Sangkapura, menyatakan tidak bisa memberikan komentar. "Lihat wajah keluarga pasien sudah terlihat kekecewaan dengan ketidakhadiran dokter dalam menangani pasien. "Persis seperti pengobatan di televisi, menggunakan metode jarak jauh dalam menangani pasien. Padahal kehadiran dokter dalam menangani pasien termasuk memberikan psikologis besar untuk kesembuhannya,"paparnya. (bst)

Tajung Ga'ang Kumalasa,
Pelabuhan Kenangan

Media Bawean, 30 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Ibna dan Anis



Tanjungga’an adalah salah satu obyek wisata di Bawean. Letaknya berada di dusun Sumur-Sumur Kumalasa. Banyak orang berkunjung di hari libur utamanya liburan panjang. Seperti liburan akhir tahun sekolah, tahun baru dan hari raya Idul Fitri. Biasanya pengunjung datang berombongan dengan keluarga atau teman-teman sebaya. Disamping melihat panorama pantai yang panjang dan indah merak juga membakar ikan bersama. Tradisi khas Bawean.

Tanjungga’an memang indah mempesona. Pasirnya putih bersih, pegunungannya indah dan goanya juga menawan. Pantainya yang landai memang cocok untuk mencuci mata merenungkan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Di ujung barat ada batu karang berbentuk jembatan. Menurut hikayat masyarakat setempat batu tersebut adalah jembatan yang menyatu dengan pantai Tanjung Kodok Paciran Lamongan. Dulu di Bawean banyak dihuni
oleh binatang buas seperti Harimau, Singa, Ular dan sebagainya. Oleh Maulana Umar Mas’ud binatang buas itu diusir ke Jawa melalui jembatan Tanjungga’an. Setelah semua binatang buas tersebut sampai di Jawa maka jembatan Tanjungga’an dan Tanjung Kodok dipisah supaya binatang buas tidak kembali ke Bawean. Kita boleh percaya atau tidak tetapi yang pasti saat ini di Bawean tidak pernah dijumpai binatang buas.

Cerita versi lain menyebutkan bahwa batu yang berbetuk jembatan itu menjadi petunjuk bahwa disanalah tempat berlabuhnya para wali yang berdakwah di Bawean. Seperti Sunan Bonang, Sunan Ampel, para murid Sunan Giri dan Waliyah Zainab. Diantara mereka Sunan Bonang-lah yang sering datang ke Pulau Bawean. Karena Bawean saat itu berada di bawah kekuasaan Kadipaten Tuban. Pelabuhan Bawean tempo dulu memang berada di sebelah barat Tanjungga’an tepatnya di Labuhan.

Di bawah bebatuan Tanjungga’an konon dihuni buaya buntung. Buaya ini hanya muncul disaat tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Buaya ini muncul sebagai isyarat bahwa Tanjungga’an tidak boleh dipakai untuk bermaksiat. Maka warga sekitar ikut memantau kegiatan pengunjung yang sedang berwisata. Warga akan menegur bila ada sepasang muda-mudi yang memadu kasih di Tanjungga’an.

Di sekitar Tanjungga’an juga terdapat sebuah goa yang konon pernah dihuni oleh Maulana Umar Mas’ud saat mengusir binatang buas hengkang dari Bawean. Ada yang menyebutkan bahwa goa tersebut adalah tempat musyawarah para wali. Kini kondisi goa tersebut tidak terawat. Jarang ada yang berani masuk ke dalamnya.

Seiring dengan perkebangan zaman maka Tanjungga’an semakin dilupakan. Masyarakat Bawean hanya mengenalnya sebagai obyek wisata belaka. Mereka tidak tahu bahwa disanalah dahulu pintu masuk keluar Pulau Bawean. Sebagai sebuah pelabuhan tentu sangat ramai. Wajar bila desa Kumalasa sangat mewarnai sejarah pulau Bawean. Di desa ini juga bisa dijumpai makam para putri yakni Putri Condrowulan dan Jujuk Campa. Bahkan kisah Waliyah Zainab juga di mulai dari Kumalasa sebelum kemudian beliau menetap dan disemayamkan di desa Diponggo.

Nama : Ibna dan Anis
Kelas : XI IPA MA Hasan Jufri
Asal : Sumur-Sumur Tanjung Kima Kumalasa

Angkatan Molod Bawean
Aromasa Paleng Gherang

Media Bawean, 30 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Ansaruddin Harahap,


Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Kata Maulid atau Milad dalam bahasa Arab berarti lahir, Maulid Nabi sendiri adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awwal dalam penangalan Hijriah. Secara substansi perayaan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Perayaan Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil di Iraq pada pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193). Tujuannya untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin pada saat itu, yang sedang terlibat dalam perang salib melawan pasukan Kristen dalam upaya memperebutkan kota Yerussalem dan sekitarnya. Salah satu kegiatan yang diadakan pada peringatan Maulid Nabi waktu itu adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Pemenang yang menjadi juara pertamanya adalah Syaikh Ja’far al-Barzanji, karyanya yang dikenal sebagai kitab Barzanji yang sampai sekarang sering dibaca masyarakat pada peringatan Maulid Nabi. Pendapat lain dari Imam As-Suyuti seperti yang ditulis dalam kitab Husn al-Maqosid fi Amal Al-Maulid mengungkapkan bahwa orang yang pertama kali menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi adalah Malik Mudzofah Ibnu Batati, penguasa dari negeri Ibbril. Sedangkan Al Maqrizy (seorang ahli sejarah islam) dalam bukunya "Al khutath" menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.

Maulid Nabi dirayakan pada banyak negara dengan penduduk mayoritas muslim di dunia, serta di negara-negara lain di mana masyarakat muslim banyak membentuk komunitas. Arab Saudi adalah satu-satunya negara muslim yang tidak menjadikan Maulid Nabi sebagai hari libur resmi, sementara di Indonesia perayaan Maulid Nabi disahkan oleh negara sebagai hari besar dan hari libur nasional. Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pembacaan shalawat Nabi, Barzanji dan pengajian. Setiap daerah di Indonesia mempunyai tradisi yang berbeda-beda dalam perayaan Maulid Nabi, seperti di Yogyakarta ada tradisi Grebeg Maulud, di Mojokerto ada tradisi Rombekan, dan sebagainya. Di Pulau Bawean perayaan Maulid Nabi masyarakat menyebutnya dengan a Molod, dalam hal ini masyarakat Bawean mempunyai tradisi tersendiri yakni ngangkak bherkat. Ngangkak bherkat adalah tardisi mengangkat dan tukar menukar berkat (parcel) yang berisi beberapa makanan basah dan kering yang dihias sedemikian rupa. Setelah acara selesai biasanya dilanjutkan dengan tradisi a ater-ater yang berarti membagi-bagikan makanan kepada saudara dekat dan kerabat jauh sebagai bentuk tali sirraturrahmi. 

Seiring berjalannya waktu tradisi ini agak bergeser dari substansinya, masyarakat sekarang lebih menonjolkan ke bentuk dan besar berkatnya, bahkan ada yang beranggapan dengan mengangkat berkat yang besar akan memperoleh pahala yang besar. Mengenai hal ini kiranya perlu diluruskan agar masyarakat tidak semakin salah menafsirkannya, mengangkat berkat itu tidak ada hubungannya dengan sunnah Rasul, mengangakat berkat itu hanya budaya, jadi besar kecilnya tidak ada hubungannya dengan pahala. Mungkin juga bisa memperoleh pahala apabila waktu mengangkat berkat yang besar disertai dengan niat ikhlas untuk disedekahkan kepada orang yang tidak mampu, keluarga yatim atau kaum dhuafa lainnya. Tapi bukan bertujuan mencari sensasi, ingin dipuja dan aromasa paleng gherang, yang bisa-bisa malah menjadi dosa.

Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa tujuan merayakan Maulid Nabi ialah membangkitkan kecintaan kepada Rasulullah, dengan cara mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Namun setiap kali merayakan Maulid Nabi kita sangat jarang ber-muhasabah (intopeksi diri), apakah ibadah sunnah kita semakin meningkat atau tidak? Semestinya setiap memperingati Maulid Nabi juga dilanjutkan atau diadakan kegiatan sunnah Rasul, sebagai contoh beberapa waktu yang lalu saya sempat tinggal di Surabaya selama empat bulan, di sana ada salah satu sekolah Islam yang berkegiatan melaksanakan shalat sunnah Dhuha berjamaah setiap hari Jumat. Dengan momentum perayaan Maulid Nabi yang baru dilaksanakan beberapa minggu yang lalu alangkah indahnya kalau shalat sunnah Dhuha juga dibudayakan di sekolah-sekolah di Bawean sebagai implementasi dari perayaan Maulid Nabi. Untuk tahun berikutnya bisa dengan kegiatan sunnah lainnya seperti menyantuni anak-anak yatim setiap hari Jum’at atau setiap akhir bulan dengan melunasi uang SPPnya, dan sebagainya. Dengan demikian perayaan Maulid Nabi tidak terkesan hanya sebatas seremonial saja, lagi pula menjalankan sunnah Rasul itu tidak harus menunggu setiap tahun atau hari-hari besar tertentu, sebagaimana dianjurkan dalam Islam bahwa beribadah yang baik itu ialah yang istiqamah. 

Supaya perayaan ini tidak semakin melenceng dari tujuan utamanya, berusahalah ikhlas dalam setiap ngangkak bherkat, walau mengangkat besar dapatnya kecil insya Allah akan terhindar dari dosa pergunjingan (ghibah). Dengan merayakan Maulid Nabi mari hidupkan sunnah-sunnah Rasul yang selama ini kurang istiqamah kita laksanakan. Untuk tujuan menyemarakkan budaya dan tradisi masyarakat Bawean, silahkan mengangkat berkat yang besar agar turis-turis lokal maupun asing pada datang dan tertarik untuk melihat tradisi Molod di Bawean. Dengan demikian akan tercipta kegiatan beribadah sekaligus melestarikan budaya, “sambil menyelam minum air.”

Penulis: Ansaruddin Harahap, Kebun Laut Sangkapura Bawean (mantan Capt. Kesebelasan San Siro)

Bank BRI Melayani
Kredit Jaminan Petok D

Media Bawean, 29 Maret 2011


Terobosan Bank BRI Unit Kotakusuma dalam menyalurkan pinjaman kredit kepada warga Pulau Bawean dengan jaminan petok D.

Haru Prastiyo sebagai Kepala Bank BRI Unit Kotakusuma Sangkapura, ketika mengadakan pertemuan bersama Camat dan Kepala Desa se-Kecamatan Sangkapura, bertempat di Pendopo Kecamatan Sangkapura (selasa, 29/3/2011), menyampaikan kehadiran Bank BRI sebaiknya dimanfaatkan oleh warga untuk meningkatkan sektor perekonomian di Pulau Bawean.

Acara sosialisasi diadakan oleh Bank BRI Unit Kotakusuma Sangkapura mengenalkan produk Bank BRI kepada para kepala desa, hasil selanjutnya disampaikan kepada warganya.

Haru lebih lanjut, menjelaskan, "Diantara kemudahan Bank BRI, dalam menyalurkan kredit meliputi Kupedes, Briguna dan KUR dengan jaminan sertifikat, petok D dan BPKB  sepeda motor dan mobil,"katanya.

"Terpenting memiliki usaha, sedangkan petok D dilengkapi surat riwayat tanah dari kepala desa. Besar kecilnya nominal kredit yang diberikan tergantung nilai survei dan keputusan pihak bank,"ujarnya.

Camat Sangkapura, Suhaemi dihubungi Media Bawean menyatakan pertemuan diadakan dalam rangka mengetahui produk BRI, khususnya produk pemberdayaan ekonomi kerakyatan di Sangkapura,"jelasnya.

"Jaminan petok D dilengkapi riwatar tanah dari Kepala Desa, termasuk meringankan kepada warga dalam mengembangkan usahanya,"paparnya. (bst)

Kantor Samsat Bawean
Persiapan Bersertifikat ISO

Media Bawean, 29 Maret 2011


Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) Pulau Bawean kian berkembang dan menunjukkan hasil signifikan dalam penerimaan pendapatan daerah melalui obyek pajak kendaraan bermotor.

Langkah selanjutnya, menurut Sugeng Subakti sebagai Kepala Samsat Bawean adalah persiapan bersertifikat ISO (International Organization for Standardization), untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada masyarakat Pulau Bawean.

Persiapan melangkah mendapatkan ISO, hari senin (28/3/2011) Kantor Samsat Bawean kedatangan rombongan, yaitu  Dra. Ec. Hj. Wiwiek Mufidah, M.Si. sebagai Kepala UPTD Gresik, Dipenda Jawa Timur, bersama Kepala Seksi Sub. Bidang Pajak Dipenda Jawa Timur, dan konsultan ISO, dalam rangka persiapan ISO Kantor Samsat Bawean.

Lebih lanjut Sugeng Subakti menjeleskan tujuan bersertifikat ISO adalah memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, meliputi pelayanan terbaik oleh staf, kelengkapan sarana dan prasarana, lingkungan bersih dan transparansi dalam pembiayaan di Kantor Samsat Bawean. (bst)

Putri Bawean,
Legenda Yang Terlupakan

Media Bawean, 29 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh : Rahma dan Wahyuni

Di sebelah barat Desa Kumalasa, berderetan dengan Labuhan Kumalasa ada sebuah tanjung namanya Tanjung Putri. Di dekat tanjung tersebut terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Putri Bawean. Siapakah dia?


Sebutan putri biasanya hanya untuk anak perempuan dari seorang raja. Dr. KH. Dhiyauddin Quswandhi menyebutkan bahwa makam Putri Bawean yang ada di Kumalasa tersebut adalah Dewi Condrowulan. putri dari Raja Campa (Kamboja). Semula Sang Putri setia mendampingi suaminya yaitu Syaikh Ibrahim Asmarakandi yang berdakwah islam di Pesisir Utara Jawa yakni di Palang Tuban. Dewi Condrowulan membesarkan anak-anaknya diantaranya Raden Rahmat atau Sayid Ali Rahmatullah yang kelak bergelar Sunan Ampel (Surabaya).

Suatu ketika muncul keinginan ini untuk menjenguk sang ayah yaitu Raja Campa. Berangkatlah mereka menuju Campa dengan menggunakan kapal laut. Ketika singgah di Pulau Bawean Sang Putri sakit parah dan akhirnya meninggal. Lalu disemayamkan di desa Kumalasa. Kenapa rombongan ini singgah di Kumalasa? Karena pelabuhan yang ramai saat itu berada di Kumalasa (Labuhan). Desa Kumalasa konon dari bahasa Arab “Kamalaisa” yang artinya tidak ada yang menyamainya.

Nama Condrowulan memang asing di telinga warga Bawean, karena selama itu tidak banyak yang mengetahui bahwa di Kumalasa ada makam Putri Condrowulan. Orang Bawean lebih mengenal dengan sebutan Putri Bawean. Memang kebanyakan manusia kurang peduli dengan sejarah sehingga mereka tidak mengetahui perjuangan dan jasa orang-orang terdahulu.

Putri Condrowulan adalah sosok wanita yang mulia dan shalehah. Beliau merupakan ibunda dari seorang wali tertua diantara Wali Songo yakni Sunan Ampel. Dari Sunan Ampel inilah kemudian muncul para wali yang tersebar di Jawa. Yakni Raden Qasim (Sunan Drajad) dan Makdum Ibrahim (Sunan Bonang). Kedua wali ini kemudian mendidik para santrinya dan disebarkan di beberapa daerah baik Jawa maupun luar Jawa. Para murid Wali Songo inilah yang kemudian menjadi pendakwah islam di daerahnya masing-masing.

Hingga hari ini kesuksesan perjuangan Wali Songo dan para muridnya banyak dirasakan manfaatnya oleh umat islam di Indonesia. Berkat perjuangan Wali Songo dan para muridnya islam menyebar ke seluruh pelosok negeri dan menjadi agama mayoritas. Sebagai penghormatan atas jasa Wali Songo maka umat islam di Indonesia membudayakan ziarah Wali Songo. Bahkan hari ini ziarah Wali Songo sudah menjadi paket wisata tersendiri.

Bagaimana dengan Putri Condrowulan? Sebagai generasi islam Bawean kita tidak boleh melupakan jerih payah para pendahulu. Kalau Sunan Ampel, Sunan Drajad dan Sunan Bonang sangat dihormati di Jawa maka Sang Ibunda yakni Putri Condrowulan menjadi tugas kita warga Bawean untuk memuliakannya. Menghormati dan memuliakan bukan sekedar berziarah ke makamnya tetapi lebih dari itu yakni spirit perjuangan dakwah islam harus lebih dikembangkan.

Nama : Rahma dan Wahyuni
Kelas : XI IPS MA Hasan Jufri
Alamat : Kumalabaru Kumalasa Sangkapura

Pak Guru Mahmud
Menderita Sakit Dua Mata

Media Bawean, 28 Maret 2011


Mahmud (36 th.) berprofesi sebagai guru PNS di SDN Gelam Kecamatan Tambak Pulau Bawean, mengalami sakit mata sudah hampir satu tahun lamanya. Berawal dari sakit mata disebelah kanan sampai tidak bisa melihat total, ternyata sekarang bagian mata kiri sudah hampir tidak bisa melihatnya.

Ditemui Media Bawean, (minggu, 27/3/2011) Mahmud didampingi Isterinya bernama Nur Hasanah (32 th) bersama dua anaknya menceritakan kronologis lengkap penyakit yang dideritanya mulai dari awal sampai sekarang. 

Awal bulan Mei 2010, ketika Mahmud bangun tidur dibagian mata sebelah kanan seperti ada awan putih, setelah satu minggu periksa ke RSUD Ibnu Sina kebagian Polimata, ternyata menurut dokter spesialis sakit peradangan. Selama satu minggu melakukan pemeriksaan ternyata tidak membuahkan hasil, dan diberi rujukan agar ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Kemudian pulang ke Pulau Bawean sehubungan tidak enak kepada  kepala sekolah dan murid yang ditinggalkan, memasuki bulan enam pada minggu awal dibagian mata sebelah kanan yang sebelumnya seperti awan putih berubah bayangan hitam seperti digaris dari atas, diatas tidak melihat hanya dibawa saja, dalam waktu satu minggu mata bagian kanan sudah tidak bisa melihat total.

Setelah liburan sekolah, bulan tujuh (Juli 2011) sendirian berlayar untuk kontrol ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya, setelahnya diberi pil dan obat tetes mata sampai beberapa hari disana. Kemudian semua keluarga diminta berlayar untuk mendampingi operasi, berkonsultasi dengan dokter hasilnya ada syaraf yang lepas atau putus sehingga diharuskan untuk operasi.

Tanggal 27 Juli 2010 dilakukan operasi selama dua minggu rawat inap di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Setelah keluar dari RSUD, selalu konsultasi selama satu minggu ternyata hasil operasi tidak membuahkan hasil hanya bisa melihat sinar dan tidak bisa melihat.

Setelah hari raya melakukan kontrol kembali ke RSUD Dr. Soetomo ternyata tetap tidak membuahkan hasil untuk sembuh. Sempat dilakukan laser dibagian mata kiri oleh dokter, dengan alasan agar tidak seperti mata yang kanan.

Dokter menganjurkan agar kontrol setiap minggu, tetapi biaya sangat besar seperti biaya transportasi dan penginapannya.

Berapa biaya operasi yang dikeluarkan oleh Mahmud? "Sebesar Rp.10juta, yaitu biaya operasi Rp.6 juta dan membeli alat silikon. Biaya yang ditanggung oleh Askes sebesar Rp.2juta, tidak semuanya ditanggung,"jawabnya.

Meskipun mata kanan tidak bisa melihat secara total,  Mahmud tetap mengajar ke sekolah sebab mata kiri masih bisa digunakan untuk melihat.

Bulan Januari 2011, mata bagian kiri Mahmud seperti ada rambut membuat sarang. dimatanya Satu minggu selanjutnya rambut bertaburan menjadi warna gelap, seperti ada warna hitam menutupinya. Waktu mengajar sepertinya mata kiri tidak melihat tulisan, dan menulis dipapan tidak bisa melihat secara normal.

Kemudian minta izin kepada Kepala Sekolah, sehubungan kedua mata sudah tidak bisa melihatnya.

"Saya pasrah sekarang, sudah tidak memiliki biaya untuk pengobatan. Sedangkan mengandalkan gaji, sebulan tersisa Rp.600ribu setelah dipotong pinjaman ke koperasi untuk biaya pengobatan mata yang kanan. "katanya.

Gerakan Bawean Peduli (BP) melakukan penggalangan dana untuk membiaya pengobatan Mahmud, agar dapat kembali mengajar sebagai guru. Sehubungan konsultasi Media Bawean melalui Rizki Optik (dekat Alun-Alun Sangkapura) kepada Dokter Spesialis masih memiliki peluang besar untuk disembuhkan.

Mengharap bantuan para dermawan untuk menyalurkan sumbangan melalui rekening Bawean Peduli, silahkan salurkan melalui Bawean Peduli, atas nama Abdurrahman, Bank BRI Unit Kotakusuma No. Rekening 741501000152530.

Laporan keuangan dipublikasikan melalui Media Bawean, Kontak Person : Ali Asyhar  sebagai Ketua (082141195678), H. Abdurrahman sebagai Bendahara (081332231911) dan Abdul Basit sebagai Sekretaris (081357084888).

PLN Bawean Normal 24 Jam

Media Bawean, 28 Maret 2011

Setelah melakukan pemadaman bergilir beberapa hari yang lalu, PT. PLN terhitung sejak malam ini (28/3/2011) kembali normal non stop selama 24 jam.

Srukin sebagai Kepala UPJ PLN Bawean dihubungi Media Bawean, membenarkan bahwa listrik PT. PLN Bawean kembali normal 24 jam, setelah mesin yang diperbaiki sudah selesai.

"Dua mesin yang baru tiba di Pulau Bawean masih dalam perbaikan, bila nantinya sudah bisa dioperasikan secara otomatis memiliki cadangan bila ada kerusakan mesin,"katanya.

Sedangkan survei PT. Sumberdaya Sewatama, menurut Srukin, realisasinya penambahan suplay pembangkit nanti bulan Juni 2011.

"PT. PLN sudah berupaya maksimal untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada pelanggan di Pulau Bawean, "paparnya. (bst)

Pulau Bawean
Bakal Terang Benderang

Media Bawean, 28 Maret 2011


Pulau Bawean terang benderang sudah diambang pintu dan menemukan titik terang, setelah tim survei melakukan peninjauan langsung ke lokasi tempat berlabuh kapal dan lokasi pembangkit di Kompleks Perikanan Bawean, (senin, 28/3/2011). Tim survei yaitu Rusdi Karno sebagai Site Manager PT. Sumberdaya Sewatama bersama vendor dan eksepedisi kapal LCT.

Rusdi Karno ditemui Media Bawean, mengatakan sudah siap mendatangkan mesin pembangkit berkekuatan 2.500 KW. ke Pulau Bawean dalam waktu dekat ini. "Setelah dilakukan survei, nantinya tergantung pimpinan bersama PT. PLN untuk selanjutnya,"katanya.

"Kita sudah melakukan suplay pembangkit sejak tahun 1995 diberbagai daerah di Indonesia, termasuk menyuplai ketika kabel bawa laut putus yang menghubungkan Madura dengan Pulau Jawa,"paparnya.

"Sewatama masuk Pulau Bawean baru pertama kali, nantinya akan memberikan pelayanan prima kepada PLN agar tidak mengecewakan pelanggannya,"tutur Rusdi Karno.

Witanto sebagai Supervisor Pembangkitan APJ PLN Gresik dihubungi Media Bawean, membenarkan adanya penambahan suplay pembangkit di Pulau Bawean untuk melayani pelanggan yang belum teraliri listrik.

"Realisasinya, Insya Allah bulan Juni 2011 sudah beroperasi melayani pelanggan baru. Jadi suplay pembangkit PLN Bawean ditangani dua perusahaan yaitu PT. AAE dengan PT. Sewatama Sumber Daya,"paparnya. (bst)

Alamaak.......
Jalanku Rusak Parah !!!

Media Bawean, 28 Maret 2011

Lomba Menulis Berita Dan Opini
Oleh Wulan, Laila dan Raiha*


Bila ada turis datang ke Bawean pasti mereka berdecak kagum dengan keindahan pulau putri ini. Bawean dikenal dengan kecantikan pantai dan terumbu karangnya. Bila mereka ditanya apakah ingin kembali menikmati Pulau Bawean? mereka selalu menjawab “Ya”. Mereka ingin kembali menikmati panorama alam yang masih asli. Bila mereka ditanya apakah terkesan dengan Bawean? Mereka menjawab “Ya”. Mereka terkesan dengan keramahan warganya disamping keindahan alamnya. Sayang kenangan yang manis ini tercederai oleh kondisi jalannya. Para turis selalu mengeluh “ Sayang Jalannya sangat tidak nyaman”. Jalan lingkar Bawean memang rusak parah.

Rusaknya jalan di Bawean sudah sangat lama. Kerusakannya bervarisasi. Ada yang sedang dan banyak yang sudah parah. Sebagian masih bisa dilewati dengan tenang namun dibeberapa titik harus ekstra hati-hati. Misalnya di Gelam, Paseran, Dedawang, Daun, Diponggo dan Pamona. Dititik ini orang biasa menyebut sungai kering.

Menurut kami ada banyak factor yang menyebabkan rusaknya jalan lingkar Bawean. Pertama : Tidak adanya saluran air yang memadai di sepanjang jalan lingkar. Sehingga air mengalir deras melewati badan jalan. Kalaupun ada saluran air maka kondisinya tidak terawat sehingga tidak berfungsi. Hampir di sepanjang jalan lingkar Bawean tidak memiliki saluran air yang baik. Kedua : tekstur tanah Bawean yang rawan bergerak. Sebagai sebuah pulau kecil hal ini bisa dimaklumi. Maka aspal jalan gampang sekali mengelupas. Yang paling cocok adalah paving. Ketiga: cueknya warga dan aparat desa. Mereka beranggapan bahwa jalan lingkar adalah kewajiban pemerintah untuk membangun dan merawatnya. Sehingga kondisinya semakin parah karena tidak ada usaha dari masyarakat untuk sekedar menambal jalan yang berlobang. Mereka menunggu action dari pemerintah. Andai masyarakat peduli dan merasa memililki tentu mereka mau merawatnya. Lihatlah jalan yang sudah dipaving, di kiri-kanan jalan tumbuh rerumputan yang tinggi dan ternyata masyarakat di sekitarnya diam saja.

Kondisi ini tidak boleh berlarut-larut. Solusinya adalah kerjasama antara pemerintah Kabupaten Gresik dan masyarakat. Pemkab Gresik harus mempercepat program pavingisasi di seluruh jalan lingkar Bawean. Semakin cepat semakin baik. Kedua, aparatur pemerintah yang bertugas merawat jalan yakni dinas Pekerjaan Umum harus serius untuk merawatnya. Bersama-sama masyarakat merawat kondisi jalan dan keindahannya. Rerumputan di kanan-kiri jalan dipangkas seminggu sekali. Apalagi di Bawean ada budaya “ aroyong” yakni membersihkan sampah, rerumputan dan memperindah sarana umum secara bersama-sama.

Harapan ini akan segera bisa terwujud bila ada keseriusan dari Pemerintah Kabupaten Gresik dengan pengawasan anggota DPRD Gresik khsususnya dari daerah pemilihan Bawean. Tanpa adanya keseriusan Pemkab Gresik sulit rasanya pavingisasi bisa terwujud secara menyeluruh. Sambil menunggu program pavingisasi maka warga desa harus peduli dengan menambal dan memperbaiki jalan yang rusak tersebut. Kami yakin bahwa warga desa mampu mengerjakannya karena sudak ada contohnya. Di Pateken, jalan yang rusak diperbaiki oleh warga meski hanya untuk sementara.

Saat ini warga Bawean dipusingkan oleh kondisi jalan. Sebagai sarana transportasi utama rusaknya jalan sungguh sangat mengganggu. Sebab saran umum yang lain sudah ada perbaikan. Transportasi laut sudah cukup baik. Ada dua kapal cepat yang melayani rute Bawean – Gresik dan sebaliknya. Lapangan terbang di Tanjung Ori juga mengalami progress yang cukup menggembirakan. Sementara listrik juga sudah menyala 24 jam. Tidak mustahil bila kondisi jalan sudah membaik maka orang Bawean di perantauan akan senang dan sering pulang ke Bawean. Turis domestik maupun mancanegara tidak lagi enggan untuk berlibur ke Bawean. Secara otomatis roda ekonomi di Bawean berjalan lebih dinamis.

Bukan hanya keuntungan ekonomi tetapi citra Bawean sebagai pulau yang eksotik akan semakin dikenal. Keramahan warga Boyan bila dipadu dengan sarana yang baik tentu akan menjadi kebanggaan warga Bawean dimanapun berada. Bahkan bukan hanya Bawean tetapi juga kebanggaan Jawa Timur. Tidak akan lagi dijumpai celoteh para turis “ Bawean itu indah tapi sayang jalannya rusak”. Semoga.

*Kelas : XI IPA MA Hasan Jufri

Guru PPL Disenangi Siswa

Media Bawean, 28 Maret 2011


Genap satu bulan lamanya pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa STIT Raden Santri di MTs. Ruhul Amin Langkap Kepuhteluk Tambak Pulau Bawean. Tampak kesedihan mendalam terpancar diwajah calon sarjana guru, ketika seorang siswa membacakan kesan-kesannya dalam acara perpisahan yang digelar kemarin (minggu, 27/3/2011).

"Kuingin guru PPL tetap mengajar selamanya, membimbing dan memberikan motivasi dalam belajar, sehingga mengukir prestasi gemilang di sekolah,"untaian kata dilontarkan oleh siswa.

Perwakilan mahasiswa menyatakan haru dan sangat berkesan dengan penerimaan keluarga besar MTs. Ruhul Amin Langkap dalam melaksanakan PPL. "Terasa berat meninggalkan MTs. Ruhul Amin, semoga adik-adik bisa meningkatkan belajarnya lebih baik dan berprestasi lebih gemilang,"papar perwakilan peserta PPL.

"Kesuksesan PPL tidak terlepas dari bimbingan Edy Faiz sebagai Dosen Pembimbing yang senantiasa memberikan pengarahan dalam melaksanakan tugas," tuturnya mahasiswa semeter akhir di STIT Raden Santri.

Selama satu bulan yang dilakukan oleh mahasiswa PPL, antara lain membantu administrasi sekolah, mengajar, melakukan pengecatan gedung sekolah, membantu melengkapi perlengkapan dalam kelas dan membuat mading sekolah.

Marfa'e sebagai Kepala MTs. Ruhul Amin menyatakan kehadiran mahasiswa PPL sangat membantu kegiatan di sekolah, harapan besar untuk tahun akan datang untuk selalu ditempatinya.

Sementara H. Seneng sebagai Koordinator STIT Raden Santri di Bawean mengatakan ada 13 tempat PPL di lembaga pendidikan seluruh Pulau Bawean. "Setelah dilakukan monitoring ternyata hasilnya sangat bagus bagi mahasiswa mengamalkan keilmuan yang dimiliki, termasuk penerimaan dan kesan dari pihak sekolah untuk ditempati kembali PPL di tahun akan datang,"terangnya. (bst)

Mutasi Pejabat Di Bawean

Media Bawean, 26 Maret 2011


Mutasi di lingkungan Pemkab Gresik, menetapkan tujuh pejabat termutasi di Pulau Bawean sebagai Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) dan menduduki pos baru sebagai Sekcam, Kasi dan Penilik

Tujuh pejabat termutasi adalah sebagai berikut :
Kecamatan Sangkapura :
1. Imam Subekti sebagai Sekcam Kecamatan Sangkapura
2. Dokter Syafi' sebagai Kepala UPTD Puskesmas Sangkapura
3. Imron Rosyadi sebagai Kepala UPT Pariwisata Bawean
4. Abdus Salam sebagai  Kasubag TU UPTD Pendidikan Sangkapura

Kecamatan Tambak
1. Pardiq sebagai Kasi Kesra Kecamatan Tambak
2. Mariyah sebagai Kasubag Umum & Kepegawaian Kecamatan Tambak
3. Abd. Adim sebagai Penilik UPTD Pendidikan Kecamatan Tambak.

Dua Kadis Dilorot Jadi Guru Pembina Utama
Mutasi jilid II di lingkup pejabat eselon II, III, dan IV Pemkab Gresik dilakukan kembali oleh pasangan Bupati Gresik Sambari Halim Radianto dan Wabup Moch Qosim. Mutasi kali ini tidak seperti biasanya karena dilakukan pada hari libur PNS, Sabtu (26/3).

Mutasi tersebut 'memakan korban' dimana dua mantan Kadis yakni Chusaini Mustas yang dulunya pernah menjabat Kadis Diknas serta Tarso Sugito Kadis Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga (Disparbudpora) Gresik, dilorot menjadi guru pembina utama.

Berdasarkan daftar nama-nama pejabat eselon yang dilantik, dua mantan Kadis tersebut dimutasi menjadi guru pembina utama di SMA Negeri 1 Gresik (Chusaini Mustas), serta guru pembina utama SMA Negeri 1 Menganti (Tarso Sagito). (sumber : Berita Jatim).

Tikar Pandan Bawean
Diminati Investor Asing

Media Bawean, 26 Maret 2011


Tikar pandan khas Bawean menjadi peluang usaha. Selama ini, pesanan dari mancanegara sebanarnya selalu ada, tapi karena tidak dilengkapi dengan teknologi produksi yang memadai, sejumlah tawaran itu tidak disanggupi oleh para pengrajin tikar pandan di Gunungteguh.

OLEH ASEPTA YP

Beberapa ibu-ibu di Gunungteguh membuat kerajinan tikar pandan untuk mendapatkan uang tambahan. Dan karena hanya dianggap sebagai kerja sambilan, usaha tikar pandan tidak tergarap dengan maksimal, padahal beberapa tahun lalu sejumlah investor asing, khususnya dari Singapura meminta dipasok tikar pandan asli Bawean untuk dipasarkan di beberapa negara.

“Mereka tertarik pada tikar pandan Gunungteguh karena tikar ini dikerjakan dengan sangat telaten, selain itu jika dipakai pada musim dingin, tikar ini terasa hangat. Dan sebaliknya, ketika dipakai pada musim panas akan terasa sejuk,” kata Hasbullah, Kepala Desa Gunungteguh.

Mungkin kerjasama ini akan terus berlanjut hingga sekarang jika warga Gunungteguh mampu menyanggupi permintaan yang diajukan oleh investor asal Singapura itu. Mereka meminta ukuran tikar dengan panjang 2,5 meter dan lebar 2 meter. Masalahnya di sini, ibu-ibu setempat tidak bisa menyanggupi permintaan investor karena keterbatasan ukuran bahan baku pandan.

“Ketika saya kumpulkan ibu-ibu pengrajin tikar pandan ternyata mereka tidak sanggup, karena mereka kesulitan bahan baku pandan yang panjangnya bisa digunakan untuk membuat tikar selebar dua meter. Sebab, lebar tikar, tergantung dari panjang pandan, sebab dianyam miring, sedangkan untuk panjang tikar, kita bisa leluasa,” jelas Hasbullah yang menjabat sebagai kepala desa Gunungteguh sejak tahun 1999 lalu itu.

Saat itu, tambah Hasbullah, dia bersama ibu-ibu pengrajin tikar pandan pernah mengusahakan dengan menyambung panjang pandan dengan harapan lebar tikar yang dihasilkan bisa hingga dua meter. Tapi hasilnya mengecewakan, mereka maksimal bisa menghasilkan tikar dengan lebar 180 centimeter.

“Agar bisa menghasilkan tikar dengan panjang 180 centimeter dibutuhkan panjang pandan dua meter lebih, karena anyamannya miring, itu saja pengerjaannya sangat susah dan membutuhkan waktu hingga dua bulan, sebab hanya digarap dengan tangan, alias manual. Selain itu, tidak ada daun pandan yang panjangnya dua meter lebih, jadi harus disambung,” papar Hasbullah.

Artinya, jika ada teknologi atau mesin yang bisa membuat tikar pandan dengan lebar hingga dua meter, atau ada strategi khusus yang bisa menghasilkan panjang pandan lebih dari dua meter, tikar pandan khas Gunungteguh ini adalah peluang usaha yang potensial. Sebab, diungkapkan Hasbullah permintaan tikar pandan Gunungteguh dari baik pasar lokal ataupun interasional selalu berdatangan.

Labih lanjut Hasbullah mengatakan, dia juga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar, sebab di desanya hanya ada sekitar 30 ibu-ibu yang saat ini masih eksis membuat tikar pandan, sepuluh ibu-ibu itu diantaranya tinggal di Dusun Teguh dan 20 sisanya berada di Dusun Menara Desa Gunungteguh. “Untuk membuat sebuah tikar saja membutuhkan waktu berminggu-minggu,” jelas Hasbullah.

Jadi, karena tidak digarap dengan teknologi yang memadai, tikar pandan Gunungteguh saat ini susah pemasarannya. “Seandainya kami bisa memnuhi permintaan investor dari mancanegara itu, tentu kerajinan tikar pandan saat ini desa kami bukan sekedar kerja sambilan, tapi menjadi pekerjaan utama,” tuturnya.

Kendati hanya digarap dengan sistem tradisional, permintaan untuk pasar lokal masih ada, seringkali wisatawan domestik dari luar Bawean selalu membeli tikar pandan Gunungteguh untuk dibawa ke daerahnya. “Selain itu, banyak juga turis dari mancanegara yang berminat membeli tikar pandan untuk dibawa ke negaranya,” kata Hasbullah sambil menambahkan jika tikar-tikar ibu-ibu di desanya tidak laku dijual di pasar-pasar Bawean, dia bersedia menampung untuk diunakan sebagai stok permintaan dari pengunjung yang datang ke Pulau Putri (julukan Pulau Bawean) ini.

“Saya beli tikar ibu-ibu yang tidak laku di pasar, tentunya dengan harga standar, kemudian saya jual kepada wisatawan yang datang ke Bawean. Harga yang kami tawarkan berkisar antara Rp 40 ribu hinga Rp 50 ribu, tergantung lebar dan model anyaman, kami tidak mengambil untung besar, karena tujuan kami sekaligus promosi,” imbuhnya. Terkait harga, Hasbullah membenarkan jika harganya yang ditawarkan terlalu mahal jika dibandingkan dengan alas berbahan plastik. “Tapi, tikar pandan Gunungteguh sangat nyaman apabila digunakan, dan bisa berahan lebih dari sepuluh tahun,” tandasnya.

Dipaparkan Hasbullah, ada 15 motif atau corak anyaman tikar pandan Gunungteguh, antara lain to’an, palikat, daniris, gambir, peti susun atau tehel, seksek bange, beras tumpah, mata itik, mata lembu, bulu ayam, okel-okel, kalara sasebek, polosan, songket, dan mata-mata. “Saat ini anyaman pandan itu, tidak hanya kami buat untuk tikar, tapi juga untuk sajadah, tas, dompet, taplak meja, vas bunga, kaligrafi, topi, dan beberapa jenis lainnya,” kata Hasbullah.

Sebenarnya proses pembuatannya tidak terlalu susah, namun dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran ekstra. Mula-mula diambil pandan yang biasanya ditanam di kebun, tapi pandan yang digunakan bukanlah pandan yang berbau wangi dan biasa digunakan untuk memasak, tapi pandan liar dengan daun yang panjangnya sekitar 1,5 meter lebih dan berduri.

Kemudian daun pandan diiris kecil-kecil sesuai dengan lebar yang dibutuhkan, biasanya 0,5 centimeter. Sesudah diiris kemudian direbus hingga beberapa jam, selanjutnya dijemur di terik matahari hingga daun pandan itu berwarna putih, biasanya selama tiga hari. Tapi, ketika belum sepenuhnya kering, pandan diambil dan kembali direbus dengan dicampuri.

Gerakan Matikan Listrik
Selama 1 Jam Di Bawean

Media Bawean, 26 Maret 2011


Perlu diingat bagi warga Pulau Bawean, khususnya pelanggan PT. PLN agar nanti malam memadamkan lampu dan peralatan listrik yang tidak perlu selama satu jam untuk meningkatkan kesadaran atas perlunya tindakan terhadap perubahan iklim. Jadi Earth Hour pada tahun 2011 ini tepat pada hari ini 26 Maret 2011 pukul 20.30-21.30 WIB (8.30 – 9.30 Malam hari).

Earth Hour merupakan sebuah kegiatan global yang diadakan oleh WWF (World Wide Fund for Nature, juga dikenal sebagai World Wildlife Fund) dan diadakan pada Sabtu terakhir bulan Maret setiap tahunnya, meminta rumah dan perkantoran.

Bagaimana dengan Pulau Bawean yang krisis listrik, haruskah ikut melakukan earth Hour? Pelanggan listrik PT. PLN Bawean sudah seringkali menikmati pemadaman bergilir, meskipun tanpa dimatikan sudah mati sendiri sehubungan tidak adanya aliran listrik. Tapi bagi pelanggan yang giliran menyala nanti malam, seyogyanya melakukan pemadaman selama satu jam atau earth hour. (bst)

Guru Malpraktek Mengajar
Membunuh Satu Generasi

Media Bawean, 26 Maret 2011


Selama kurang lebih satu bulan lamanya, mahasiswa STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Raden Santri Kampus II Bawean mengadakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di berbagai lembaga pendidikan di Pulau Bawean.

Hari ini (sabtu, 26/3/2011) di SMPN I Sangkapura diadakan acara penutupan dengan dihadiri Tabrani sebagai Kepala SMPN I Sangkapura, bersama dewan guru, KH. Abd. Latif sebagai Dosen Pembimbing PPL, serta mahasiswa sebagai peserta PPL.

Menurut Tabrani dalam sambutannya, mengatakan guru dalam mengajar dibagikan tiga tingkatan yaitu Political Komitmen adalah guru tampil bekerja beda saat disaksikan orang lain dengan tidak ada yang menyaksikan. "Saat disaksikan orang lain tampil bagus, tapi saat tidak disaksikan tampil lebih jelek,"katanya.

Tingkat kedua adalah Profesional Komitmen, disaksikan atau tidak, sama penampilan atau kinerjanya. "Ini yang diharapkan oleh Pemerintah, tapi guru profesional masih banyak enggan, ada rasa berat atau malas,"paparnya.

Tingkat ketiga adalah spritual komitmen, guru sangat mencintai profesinya, mengajar adalah kebutuhan sehingga tidak merasa beban, dan merasa rugi bila tidak datang ke sekolah.

Kreteria guru profesional di SMPN I Sangkapura, yaitu guru dirindukan oleh siswa, guru sebagai tempat curhat siswa dan guru selalu update ilmunya.

"Ingatlah kemajuan dan kebobrokan Bawean masa depan ada dipundak saudara, kalau mal praktek dalam mengajar yang dibunuh dalah satu generrasi, tapi kalau dokter malpraktek yang dibunuh satu dua tiga orang sudah masuk sel,"jelas Tabrani sebagai Kepala SMPN I Sangkapura. (bst)

Tujuh PNS Di Bawean
Ikut Gerbong Mutasi

Media Bawean, 26 Maret 2011


Gerbong mutasi pejabat Pemerintah Kabupaten Gresik bergerak hari ini (Sabtu, 26/3/2011). Kabag Humas Setkab Gresik Andhy Hendro Wijaya membenarkan rencana bupati menggelar acara mutasi pejabat hari ini. "Benar, besok siang (siang ini,red) pukul 13.00 akan ada acara mutasi di Lantai 4 Kantor Bupati. Undangan sudah disebarkan hari ini (kemarin, red)," ujarnya kepada wartawan di ruang kerjanya.

Siapa saja pejabat yang dimutasi dari Pulau Bawean? Informasi yang dihimpun Media Bawean, tiga pejabat di Kecamatan Sangkapura, yaitu Dokter Ach. Syafi' (Plt. Kepala Puskesmas Sangkapura), Imron Rosyadi (Plt. Kepala UPTD Pariwisata Bawean) dan Abdus Salam (di lingkungan UPTD Pendidikan Sangkapura). dan empat di Kecamatan Tambak, yaitu Abd. Adim (Kasi Kesra Kecamatan Tambak), Pardik dengan Mariyah (di lingkungan Kecamatan Tambak) dan Imam Subekti (Pengawas TK/SD UPTD Kecamatan Tambak).

Dokter Ach. Syafi' dihubungi Media Bawean mengatakan kita sebagai prajurit ditempatkan dimana saja selalu siap sebagai abdi negara.

Sedangkan Abd. Adim menyatakan sejak dilantik sebagai PNS sesuai sumpah kita sebagai pelayan masyarakat, jadi selalu siap untuk ditempatkan dimana saja sesuai tugas dan fungsinya.

Apa merasa khawatir? "Oh, tidak ada rasa kekhawatiran sedikitpun. "Dimana kita ditugaskan, disana kita mengabdikan diri kepada masyarakat,"jawabnya.

Apalagi menurut Abd. Adim, dirinya pernah bertugas sebagai PNS di NTB selama 7 tahun, dan di Pulau Bali selama 2 tahun, termasuk di Gresik selama 4 tahun.

Mutasi Pemkab Gresik 310 Pejabat
Sumber di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), menyebutkan ada sekitar 310 pejabat mulai eselon IV, III hingga II yang akan mengalami mutasi jabatan. "Itu termasuk para pejabat eselon dua dan tiga yang selama ini masih dianggap pejabat "peninggalan" rezim lama," ungkapnya.

Diantara jabatan eselon II yang santer mutasi adalah dua jabatan asisten setda, kadis budparpora, kadispendik, kepala BLH, kepala inspektorat dan sekwan. Namun di antara pemangku jabatan tersebut, tidak semata-mata dipinggirkan atau distafahlikan tapi jabatan mereka ditukar dengan kedudukan setingkat.

Sementara di tingkat eselon IIIA, hampir semua pejabatnya menerima undangan mutasi. Termasuk para kepala bagian di setda, kepala kantor, camat atau sekretaris dinas/badan. Juga termasuk banyak diundang adalah pejabat setingkat eselon IIIB, seperti para kepala bidang atau sekcam. (bst)
 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.