bawean ad network
pemilu
bank jatim
TERKINIindex

Pengalaman Tak Terlupakan

Media Bawean, 29 Juni 2012

Oleh : Sumiyati
(Penulis Mingguan Media Bawean)

Pada awalnya saya sangat yakin, menulis adalah satu kata yang tidak dapat saya lakukan dengan mudah dan menyenangkan. Pikiran harus plong, suasana santai dan menyenangkan, menghafal teori dan teknik menulis adalah hal yang harus dimiliki untuk menulis, sedangkan saya merasa itu sangat tidak mungkin saya miliki. Namun, disaat saya kelas enam sekolah dasar di SDN Gelang Paci yang berada di Dsn, Gelang Paci. Ds, Gelang. Kec, Sumber Baru. Kab, Jember saya diminta agar mewakili kelas enam untuk mengikuti lomba adu membuat cerita pendek (cerpen). Jujur saja, saya hampir menangis wakti itu dari saking takutnya. Takut tidak bisa membuat cerpen untuk mengikuti lomba yang mengharuskan setiap kelas ada yang mewakili. “Bagaimana kalau sampai kalah dengan adik kelas?”, pikiiran itu selalu muncul disaat saya mau tidur dan tak jarang membuat saya tidak nyenyak tidur.

Perlombaan tinggal sepuluh hari lagi sedangkan saya tidak punya ide apa yang akan saya tulis untuk dijadikan cerpen?. Saat bingung dan takut kalah mencercah pikiranku, tiba-tiba mataku tertuju pada ratusan semut yang hilir mudik. Saya amati para semut yang selalu memyempatkan diri bertegur sapa dengan temannya setiap berpapasan walau temannya berjumlah ratusan bahkan ribuan. Timbullah ide untuk membuat cerpen tentang semut. Saya peras habis-habisan otak saya untuk merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraph, dan paragrapf menjadi sebuah cerpen. Alhamdulillah, cerpen yang saya garap dengan judul ‘Manusia Sombong Kalah Sama Semut’ selama Sembilan hari itu mendapat penghargaan yang sangat luar biasa dari guru-guru. Suatu hal yang sangat tidak saya duga. Nah, berawal dari cerpen itulah saya mulai tertarik untuk menulis.

Setiap menjumpai seorang penulis hebat, selalu muncul pertanyaan yang menggelitik hati. Bagaimana cara ia menulis, bagaimana cara ia mendapatkan inspirasi untuk cerita-ceritanya, bagaimana cara ia mengolah kata-kata dan merangkainya menjadi bahasa yang indah dan mempesona, dan seterusnya. Sayapun tertarik untuk mencoba membuat cerita tentang kehidupan saya. sangat sulit memang, tak jarang saya menbolak-balik hasil tulisan dan terkadang merasa kecewa keika melihat hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Mencoba lagi, hasinya tak jauh beda. Saya akhiri kegiatan menulis cerita itu, toh saya memang tidak punya minat menulis dan tak seorangpun guru pernah menganjurkan saya untuk menjadi seorang penulis. Putus asa. Namun, hal itu tidak berlangsung lama saat DI DALAM SUJUD CINTA (Catatan Hati Sumiyati), cerpen yang saya anggap tidak seperti yang saya harapkan, saya kirim ke Media Bawean untuk mencoba mengikuti lomba menulis opini dan berita yang diselenggarakan oleh Komunitas Wartawan Gresik (KWG) bersama Media Bawean. Alhamdulillah, jadi pemenang penulisan bahasa terbaik. Pengalaman yang tak akan terlupakan.

Menulis, yang semula saya anggap sungguh sulit, ternyata tidak sesulit yang saya pikirkan asal ada kemauan untuk belajar, belajar dan terus menulis. Sulit memang, melatih diri untuk terbiasa menulis, seperti saya sendiri yang tidak berminat unuk menulis. Dulu, sewaktu saya masih di Sekolah Dasar, saya menulis tergantung perasaan. Kalau sedang bahagia, tulisan saya rapi, tegak. Pokoknya dijamin indah. Sebaliknya, kalau sedang sedih, tulisan sayapun amburadul dan sulit dibaca selain saya sendiri yang membacanya. Saya anggap itu sebagai kebiasaan buruk saya yang harus dirubah. Pelan tapi pasti sayapun mengikis kebiasaan buruk itu. Alhamdulillah sukses. Sekarang, baik sedang bahagia maupun sedih tulisan saya tetap rapi dan menulis menjadi salah satu hobby saya.

Tak jarang saya dilempari pertanyaan menulis tentang kebiasaan menulis saya, dan pertanyaan yang palng sering di ajukan adalah sebagai berikut;

Penanya: Anda sangat sering menulis tentang orang-orang susah. Mengapa Anda tidak menulis tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup?

Saya: Mereka yang mengalami menyenangkan dalam hidup lebih sedikit disbanding mereka yang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan.

Penanya: Apakah Anda memiliki jam-jam teratur , atau apakah Anda menulis ketika Anda ingin menulis?

Saya: Saya menulis saat saya punya kesempatan untuk menulis. Penanya: Pasti ada satu atau beberapa hal yang Anda anggap sebagai unsur terpenting dalam tulisan Anda. Apa itu?

Saya: Pertama; pelajari makna dan penggunaan kata-kata. Kedua; pelajari cara menyusun kalimat yang dapat mewakili pikiran yang dikehendaki. Ketiga; milikilah sesuatu yang pantas diucapkan sebelum memulai sebuah cerita. Keempat; pelajari cara penggunaan kekuatan emosional sebuah cerita untuk menghasilkan kesan-kesan abadi dalam pikiran para pembaca.

Penanya: Apa nasehat Anda bagi seorang penulis muda? Saya: Mantapkan diri untuk menulis sampai taraf bahwa siapa saja yang ingin berhasil dalam pekerjaannya pasti melalui masa-masa belajar. Dokter, pengacara, tukang roti, tukang potong rambut, mekanik, insinyur, tukang cetak dan bahkan tukang buat batu bata seperti ayah saya juga belajar plus dengan pengalaman. Mengapa para penulis muda tidak?.
Share this Article on :

Terbaru

 

© Copyright Media Bawean 2005 -2013 | Design by Jasa Pembuatan Blog | Support by Kang Salman | Powered by Bawean.Net.