Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » , » KH. ABDUL HAMID THABRI ;
Kearifan Dalam Keteguhan Berprinsip

KH. ABDUL HAMID THABRI ;
Kearifan Dalam Keteguhan Berprinsip

Posted by Media Bawean on Minggu, 21 September 2014

Media Bawean, 21 September 2014


Penulis : Mohammad Fauzi Ra'uf 
(Ketua PCNU Bawean)

Dakwah Islam di Pulau Bawean, terutama masa-masa awal abad ke-20, tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Abdul Hamid Thabri. Beliau berjasa besar menancapkan Islam dalam aqidah ahlussunnah wal-jama’ah di pulau terpencil ini, meneruskan para leluhur yang telah merintis dan meretas jalan dakwah dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

Sosok KH. Abdul Hamid Thabri, adalah figur yang sulit dicari tandingannya. Nama beliau begitu melegenda di kalangan masyarakat Bawean. Masyarakat biasa menyebutnya dengan Kyai Hamid Pancor, karena beliau tinggal dan wafat di dusun Pancor desa Sidogedung batu. Beliau begitu dikenang, karena ketegasan dalam memberantas kemungkaran, disamping juga karaomah beliau yang jamak disaksikan oleh murid-murid beliau. 

Sosok Kyai Hamid Pancor, sebagai seorang waliyullah dan ulama’ besar di pulau ini, amatlah relevan diungkap kembali dan dikenalkan, terutama kepada kalangan generasi muda sekarang. Di atas semuanya, beliau adalah sosok yang patut dijadikan teladan, terutama dalam hal keberanian dan sikap “tatak” dalam menghadapi apapun yang dianggap bertentangan dengan syare’at agama. Sebuah sikap yang jarang kita jumpai pada generasi setelah beliau, lebih-lebih generasi muda yang hidup di era ini.

TENTANG EMBHE COMBUT

Syahdan, pada abad ke-17, ketika kerajaan Bone di Sulawesi kalah perang oleh tentara Belanda, banyak dari kalangan istana melarikan diri secara massal kea rah selatan sampai ke laut Jawa. Diantara pelarian itu ada seseorang bernama Syakh Abdul Mutthalib dan kakaknya Syekh Abdullah. Beliau berdua masih kerabat Sultan dan menjabat sebagai mufti di kerajaan tersebut. Berbulan-bulan rombongan pelarian itu mengarungi samudra luas, tanpa tahu akan berlabuh di mana. Mereka hanya bertekad akan berdakwah menyiarkan agama Islam, dimanapun mereka berlabuh.

Pada suatu hari datanglah gelombang besar menghantam rombongan itu, sehingga banyak di antaranya yang tewas dan hilang ditelan badai. Banyak juga yang tercerai berai dan menempuh arah sendiri-sendiri. Kakak beradik Abdullah dan Abdul Mutthalib termasuk di antara mereka yang selamat. Sebagai seorang ulama, apalagi seorang mufti, beliau tidak akan pernah cemas apalagi takut menghadapi takdir Allah SWT. Mreka setiap saat sudah meyiapkan jiwa dan raga untuk menerima apaun, termasuk kematian. Beliau sudah meraih maqam tawakkal dan ridha; maqam dalam tasawwuf yang meniscayakan penerimaan total dann tanpa batas atas pemberian Allah SWT. Ditengah guncangan badai yang dahsyat itu, konon, Allah SWT. mengirimkan seekor ikan kertang, yang menjadi tunggangan beliau melintasi laut Jawa hingga nyaris memasuki samudra hindia. Perjalanan berat melintasi samudra, berbulan-bulan, semakin menguatkan tekad dan keyakinan mereka untuk memperteguh tawakkal dan ridha. Keberadaan mereka ditengah hamparan samudra yang maha luas, merupakan gambaran yang nyata betapa lemahnya posisi tawar manusia di hadapan Allah SWT.

Setelah sekian lama berpetualang di tengah Samudra, akhirnya ikan kertang besar itu melabuhkan mereka di pulau Bali. Sesuai tekad semula, mereka hendak menyebarkan Islam di manapun mereka berada. Sang kakak Abdullah akhirnya menetap dan melanjutkan misi dakwahnya di pulau tersebut. Sang adik Abdul mutthalib, melanjutkan pengembaraan, mengikuti kata hatinya, hingga akhirnya terdampar di Pulau Gili, sebuah pulau kecil di sebelah timur pulau Bawean. Dalam perjalanan laut itu, beliau kembali dibantu oleh ikan kertang. Pulau Gili ketika itu merupakan pulau tanpa penghuni, dan hanya menjadi tempat persinggahan para nelayan dan pengembara yang melintas. Ketika hendak menunaikan shalat subuh, beliau membutuhkan air untuk wudhu’ dan sekedar minum pelepas dahaga. Lalau beliau menancapkan tongkat ke pasir, sejenak kemudian dengan izin Allah SWT, keluarlah air tawar. Sebuah keajaiban terjadi, walaupun luas pulau ini hanya beberapa kilo meter persegi, tetapi kita bisa mendapatkan sumber air tawar dengan mudah.

Selepas menunaikan sholat subuh, mentari mulai bangkit dari peraduannya, pandangan beliau tertuju kearah barat. Subhanallah, tampaklah sebauh pulau dengan gugusan gunung yang indah, ibarat sebuah lukisan raksasa, dalam aneka warna yang menggoda. Keindahan pulau itu, begitu mengusik sukma, jiwanya menari-menari seolah mendapat bisikan untuk segera mendatangi pulau indah itu. Akhirnya, beliau memutuskan untuk segera ke pulau itu. Konon beliau naik sentong (kelopak mayang pohon kelapa yang sudah mengering dan gugur). Beliau berlabuh di sebelah selatan kampong Pamona. Sejak itu, tempat yang terkenal angker itu disebut Labbhuwen, terjemahan bahasa Bawean dari kata pelabuhan. Sampai di labbhuwen, menjelang waktu dzuhur, ketika hendak menunaikan shalat, beliau tidak mendapatkan air untuk berwudhu’, karena memang di wilayah itu sulit ditemukan sumber air. beliau kembali menunjukkan kekaromahannya dengan menancapkan tongkat di sebuah bukit dan keluarlah air segar. sampai sekarang, sumber air itu menjadi sumber penghidupan masyarakat Pamona dan Kampong Baru.

Karena dirasa belum menemukan tempat yang cocok untuk tempat tinggal, beliau terus melanjutkan perjalanan kea rah barat, hingga sampai ke sebuah dataran yang dikelilingi perbukitan. Beliau berjalan mengitari dataran yang sudah dihuni beberapa keluarga itu. Hingga menjelang waktu ashar. Untuk yang ketiga kalinya, beliau menancapkan tongkat lagi, dan jadilah sumber air, yang hingga sekarang dikanal dengan nama OLOTOMPO. Dataran inilah akhirnya yang beliau pilih menjadi tempat tinggal hingga akhir hayat beliau.

Setelan beberapa lama tinggal menetap di Pulau Bawean, beliau berkeinginan untuk mengunjungi saudaranya di Bali, yaitu Abdullah. Sambil membawa tikar pandan sebagai karya kerajinan khas bawean, untuk dijual di perjalanan ke Bali. Di Bali, beliau sempat berpikir tentang mata pencaharian masyarakat Bawean. Alangkah bermanfaat, jika di Bawean didatangkan hewan ternak sapi. Ketika itu di Bawean belum ada sapi, yang ada hanya kerbau, lalu beliau berencana membawa sapi untuk di budi-dayakan di Bawean. Hingga saat ini, sapi-sapi yang ada di Bawean adalah sapi-sapi genetik Bali (Bhs latin, Bos Sondaicus), bukan sapi Madura (Bos Taurus-Bos Indicus), atau sapi Jawa, karena secara geografis letak Pulau Bawean lebih dekat dengan Pulau Jawa dan Madura dari para Pulau Bali.

MASA KECIL - PENDIDIKAN

Syekh Abdul Mutthalib inilah yang kelak menurunkan para ulama dan penghulu agama di bagian timur Bawean., terutama di desa Kebuntelukdalam dan Sidogedungbatu. Ayahanda Kyai Hamid bernama Kyai Thabri bin Kyai Nur. Kyai Nur adalah satu diantara enam orang putra-putri Syekh Abdul Mutthalib. Konon yang dua orang kembali ke Sulawesi dan yang empat orang tinggal di pulau Bawean. Ibu beliau bernama Hajjah Shafiyah. Beliau dilahirkan pada tanggal 20 September 1899 M., sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara. Kakak beliau bernama Hajjah Aminah dan adik beliau bernama Hajjah Zahrah.

Masa-masa kecil beliau, dilalui di dusun Batu sendi. Hamid kecil dikenal agak nakal, tetapi punya perhatian besar pada masalah-masalah sosial. Beliau memulai pendidikan dasar keagamaan pada ayahanda beliau sendiri, Kyai Thabri. Hingga pada usia 20 tahun, beliau menekuni pendidikan lanjutan di Pondok pesantren Wangun Pasuruan di bawah bimbingan guru-guru beliau, antara lain KH Nasib, KH. Saleh, KH. Abdul Hamid dan KH. Muhammad. Di Pesantren ini beliau menuntut ilmu Selama tiga tahun ( 1918 – 1921). Setelah tiga tahun di Pasuruan, beliau melanjutkan pendidikan di Hijaz (Makkah), berguru kepada seorang Ulama asal Bawean (Tambak), bernama Syekh Khalid Khalil. Sekembalinya dari Makkah pada akhir tahun 1925, beliau melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Panji Sidoarjo. Di pesantren ini beliau berguru kepada Kyai Hazin dan menantunya KH. Hasyim Asy’ari, yang kelak dikenal sebagai pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (NU ). Tidak puas sampai di sini, pada tahun 1927 Kyai Hamid lalu nyantri di Pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, guru-guru beliau antara lain KH Nawawi dan KH. Abdul Jalil. Pesantren Sidogiri memang punya riwayat khusus dan hubungan emosional dengan tanah Bawean, oleh karena pengasuh kedua setelah Sayyid Sulaiman, adalah menantu beliau sendiri yang bernama Kyai Amanullah, adalah berasal dari Pulau Bawean.

Setelah tiga tahun menimba ilmu di pesantren Sidogiri, beliau kembali belajar di Tanah Suci Makkah. Pada kesempatan yang kedua inilah, beliau mempelajari berbagai ilmu keislaman, di bawah bimbingan guru-guru dari berbagai belahan dunia. Minat kepada dunia tasawwuf, yang pernah beliau pelajari dasar-dasarnya di pesantren Wangun, sekarang menemukan momentumnya. Guru-guru beliau antara lain Syekh Umar Hamdun, Syekh Amin, Syekh Maghribi, Syekh Husein Mas’ad, Syekh Ali Maliki, Syekh Zen (asal Bawean), dan lain-lain.

Setelah belajar di Hijaz yang kedua kali, beliau langsung pulang dan mendirikan Pondok Pesantren di Batusendi. Beliau wafat pada malam ahad, 25 april 1981 M dan dimakamkan di kompleks pasarean keluarga Pondok Pesantren Nurul Huda Pancur.

KELUARGA

Kyai Hamid Pancor yang dilahirkan pada tanggal 20 September 1899 M, dikaruniai 7 orang anak dari 2 istri. Dari istri pertama Nyai Rumjah, lahir Nyai Tsuwaibah (Hajjah Shafiyah), dan Abdul Malik (KH. Zainullah). Dan dari istri kedua, Nyai Tiyah, lahir Ilkiyah (KH.Zainuddin), KH. Abdul Karim, KH.Abdul Ghafur, Gus Muhammad Khalil dan Kyai Muhammad Nur. KH. Zainullah adalah pendiri Pondok pesantren Sidomulyo, Batu sendi. Beliau dikenal kepiawaiannya dalam membaca kitab kuning. Nama beliau begitu popular karena selalu menjadi bintang dalam setia Bahsul-masa’il. Sementara KH. Zainuddin meneruskan perjuangan Kyai Hamid untuk mengasuh pondok pesantren di Pancur yang kelak berganti nama menjadi, Pondok Pesantren Nurul Huda.

MENGABDI

Sepulang dari Makkah,tahun 1941, Kyai Hamid langsung mendirikan Pondok pesantren di Batusendi, dan ketika itu juga dipercaya menjadi Komandan Hizbullah Pulau Bawean. Beliau pasti tidak akan menolak amanat berat ini, karena merasa punya tanggung jawab melanjutkan perjuangan guru-guru beliau, untuk menegakkan Islam Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Sehari-hari, beliau mengasuh santri-santri yang dipersiapkan untuk da’wah dan perjuangan agama. Pesantren adalah tempat beliau mencetak kader-kader yang tafaqquh fi-al-din, sementara di Hizbullah, beliau ikut berjuang mengusir penjajah dalam rangka kemerdekaan.

Pada tahun 1948, beliau memindahkan pesantren dari dusun Batusendi ke Pancur. Pesantren baru ini diberi nama Raudlatul mustarsyidin. Konon, menjelang kembalinya ke masyarakat Batusendi, setelah bertahun-tahun menuntut ilmu dari satu pesantren ke pesantren lainnya, masyarakat Batusendi, terutama tokoh-tokoh masyarakatnya, melakukan kesepakatan agar ketika beliau tiba, seluruh masyarakat harus memanggilnya dengan sebutan “Kyai”. Ini dilakukan karena dikhawatirkan beliau tidak bersedia untuk di-“kyai”-kan, padahal masyarakat sangat membutuhkannya. Lagi pula, di beberapa tempat di Pulau Bawean, masyarakat enggan menyebut Kyai kepada seseorang,karena melihat masa lalunya, walaupun sekarang dia sudah berubah dan sudah layak menyandangnya, baik dari sisi ilmu dan akhlaknya. Sejak itulah, Kyai Hamid, yang semula dikenal sebagai pemuda tengil, tiba-tiba menampakkan aura keulamaan, istiqomah, tegas dan tentu saja alim. Dari ddirinya muncul gagasan-gagasan besar, semangat yang menyala-nyala untuk membimbing masyarakat yang ketika itu masih sangat awan dalam soal agama.

Beliau dikenal sangat rajin bersilaturrahim dengan para kyai koleganya, ataupun dengan murid-muridnya. Dengan kuda tunggangannya, beliau selalu aktif mengunjungi tempat-tempat yang menjadi sasaran da’wahnya. Belakangan, saat usia beliau sudah uzdur dan tidak mungkin mengendarai kuda, silaturrahim tetap beliau jalani dengan tandu yang digotong oleh beberapa orang santrinya. Gaya bicaranya tegas, menampakkan sosok pribadi yang teguh pada pendirian. Sorot matanya tajam, memancarkan kewibawaan seorang besar. jika beliau berceramah selalu dimulai dengan anjuran untuk bertaubat dan memperbaharui iman (tajdid al-iman). Saat beliau bersilaturrahim berkeliling kampung, anak-anak kecil biasanya dengan riang gembira menyongsong kedatangan beliau, karena biasanya beliau selalu melempar-lemparkan uang recehan. Sebaliknya yang dewasa, diam ditempat untuk menunjukkan rasa ta’dzim, hingga beliau berlalu.

Karena beliau sering bersilaturrahim, beliau juga sering mendapat kunjungan dari berbagai kalangan, terutama para sejawat beliau, antara lain: Kyai Muhammad Yasin Kepuh Teluk, Kyai Subhan Daun, Kyai Usman Telukdalam. Beliau dikenal sangat dekat dengan masyarakat bawah dan sangat tidak suka diistimewakan secara berlebihan. Pernah suatu ketika, beliau diundang acar mauludan (molotan) di kampong Guntong. Ketika acara sudah selesai, beliau mendapat bagain berkat yang paling besar. Menurut panitia, berkat itu memang sudah dipersiapkan khusus untuk beliau, oleh keponakan beliau sendiri, yang bernama Hj.Hikmah. Ketika mengetahui itu, beliau marah besar dan memanggil Hj.Hikmah , “hikmah, apa kamu kira saya sudah sangat miskin, sehingga kamu kasih saya lebih daripada yang lain ?, sekarang ambil berkat itu dan bagikan kepada yang lain “.

Setiap hari, sebelum subuh, beliau biasa keliling pondok untuk mengawasi kesiapan para santri untuk memulai aktifitas, setelah subuh, semua santri dianjurkan membaca surat Yasin, Waqi’ah dan Tabarak. Beliau juga dikenal menyukai Yasin fadlilah dan surat waqi’ah. Selepas melaksanakan sholat dhuha dan mengajar, beliau biasa menerima tamu-tamu yang datang hingga menjelang waktu dzuhur. Dalam jama’ah maghrib, beliau lebih sering membaca surat al-fil dan al-humazah, daripada surat-surat lainnya. Kitab-kitab yang biasa beliau ajarkan antara lain tafsir jalalain, fathul-qarib, Safinah an-najat, Sullamuttaufiq, ar-riyadlul badi’ah dan jurmiyah.

Karomah Dan Kewalian

“Tidak ada yang tahu akan Wali Allah kecuali Wali Allah juga”. Adagium ini sudah jamak diketahui dalam dunia spiritual dan kewalian. Kewalian beliau masyhur dikenal masyarakat luas, berkat informasi dari para kyai yang lain. Keadaan dimana seseorang mencapai puncak pengalaman mistik (ekstase /majdzub) disebut ahwal (jamak dari hal). Tentu saja, keadaan demikain dicapai setelah melalui perjuangan (mujahadah) panjang yang tidak mudah. Dalam kitab-kitab tasawwuf disebutkan, ada banyak keadaan dimana seseorang bisa mencapai kewalian (wilayah). Antara lain karena rasa cinta kepada Allah (mahabbah) yang membuncah, atau rasa rindu tiada tara (syauq), ada juga yang dihinggapi perasaan malu yang luar biasa, ada yang tiba-tiba menjadi berani tanpa takut dan gentar pada siapapun, ada juga yang meraihnya karena rasa takut yang mendalam. Menurut sejumlah koleganya, Kyai Hamid mencapai kewalian, berkat ketegasan dan keberaniannya menegakkan amr ma’ruf nahy anil munkar. Beliau juga pernah dengan sejumlah santrinya, menyerbu pertunjukan seni mandiling yang beliau anggap sebagai salah satu bentuk kemungkaran yang harus diberantas dan pertunjukan itu bubar seketika. Pimpinannya yang terkenal sakti lari tunggang langgang.

Konon, jarang ada yang sanggup bertatapan mata dengan beliau berlama-lama.karena pancarannya mengandung aura kewibawaan yang tiada tara. Dari tatapan matanya, ketegasan, kecerdasan, kejujuran dan kewibawaan seseorang bisa terlihat. Masyhur cerita di masyarakat, ketika beliau membentak seorang perwira polisi yang gemetar ketakutan, padahal, kala itu (orde baru), yang namanya polisi dan tentara amat ditakuti, karena sering bertindak sewenang-wenang tanpa ada sangsi apapun dari atasannya.

Ada juga cerita tentang seorang yang karena kesalahannya, beliau marahi, hingga orang tersebut pamait keluar dan lari ketakutan. Dia terus berlari hingga kira-kira satu kilometer dari kediaman Kyai, karena menurut anggapannya, Kyai Hamid terus mengejarnya, padahal beliau sedang duduk menerima tamu.

Suatu ketika ada serombongan orang berpapasan dengan beliau di tengah jalan di jalan kotempa. Ketika Nampak Kyai Hamid dari jauh, yang tertua diantara rombongan ini, sudah mempersiapkan bahasa untuk sekedar bertanya dan bertegur sapa dengan beliau. Ketika telah mendekat, semua yang telah dipersiapkannya hilang dari ingatannya, sehingga dia menyapa Kyai dengan kata: “Kyai, dari mana saya ?” (bawean: Kyae, dari nape bule ?). Dengan tersenyum, Kyai menggoda orang itu “pacakna bekna”.

Suatu hari ada orang penarik derma untuk pembangunan masjid dari daerah pesisir barat Pulau Bawean, bertamu pada beliau. Setelah selesai, tidak biasanya Kyai menyuruh tamu itu segera pulang, bahkan beliau berpesan jangan sampai mampir dimana-mana tempat lagi. Besoknya, begitu sampai di rumahnya, terdengar kabar orang itu meninggal dunia.

Berkembang cerita di masyarakat, suara batuk beliau terdengar hingga berkilo-kilo meter. Suara batuk itu menjadi tanda bagi para nelayan yang sedang melaut, para petani di sawah atau para peladang di pegunungan. Diantara mereka banyak yang merasa sering “diingatkan” oleh suara batuk itu, bahwa mereka harus segera pulang atau menunaikan shalat. Suatau ketika beliau pernah berceramah di alun-alun Sangkapura, tanpa pengeras suara, tetapi suara beliau terdengar hingga ke Sungai Rujing.

Menurut kesaksian sejumlah santrinya, beliau tidak pernah terlihat meludah ke tanah. Ketika bepergian-pun, beliau selalu membawa tempat khusus untuk tempat ludah, yang biasanya dibawakan oleh santri pendamping beliau.

Diantara orang yang kerap mengunjungi beliau, adalah Embah Urip, seorang figur misterius yang biasa berkeliaran di sekitar Sukaoneng, Sukalela, Pekalongan dan Kelompang gubuk. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, kapan dan dimana wafatnya. Pada suatu hari Embah Urip mengunjungi beliau dan menginap di kediaman beliau. Sampai suatu ketika masuk waktu shalat, Embah Urip tidak ikut shalat berjama’ah, malah asyik bermain-main. Para santri yang melihatnya merasa dongkol dan mencemooh Embah Urip. Nah, sepulang Embah urip, Kyai Hamid mengumpulkan seluruh santri dan marah besar dan menyuruh santri-santri yang mencemooh Embah Urip segera bertaubat.

Seorang santri beliau pernah menceritakan sebuah kejadian, dimana sang santri diminta menemani beliau bepergian ke Sangkapura. Di tengah jalan di daerah Labuhan Pamona, turun hujan lebat. Dengan hanya mengibaskan sorban keudara, tiba-tiba hujan menyingkir ke kiri kanan jalan dan tidak membasahi jalan yang beliau lalui. Wallahu A’lam bis-shawab.

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean