Peristiwa    Politik    Sosial    Budaya    Seni    Bahasa    Olahraga    Ekonomi    Pariwisata    Kuliner    Pilkada   
adsbybawean
Home » » Bedil Bumbung, ”Goodby…!”

Bedil Bumbung, ”Goodby…!”

Posted by Media Bawean on Jumat, 17 Juni 2016


Oleh : SUGRIYANTO (Guru SMA Negeri 1 Sankapura) 

Illustrasi dari sebuah kisah nyata dari sisi kebiasaan tetangga sebelah rumah bernama Si Mamat yang keranjingan bermain bedil bumbung di setiap bulan puasa. Kini kebiasaan itu menjadi sebuah nostalgia penuh romantika. Kesukaannya dalam bermain bedil bumbung tak terkalahkan oleh gempuran permainan modern apapun jenisnya yang ada di setiap bulan suci Ramadan. Sejak mungkar (Bawean: terbit) matahari hingga terbenamnya matahari tetap saja ia asyik dengan membunyikan bedil bumbung. Kebiasaan yang merasuki pikirannya membuat Si mamat lupa dengan segala aktivitas lain yang menjadi tugasnya. Ia masih bersekolah di tingkat dasar dengan grade kelas rendah. Libur puasa olehnya dipergunakan untuk bermain bedil bumbung. Semboyan Si Mamat yang mendarah daging ”Tiada hari tanpa bedil bumbung sebulan puasa.”

Si Mamat kadang tak begitu riskan dengan tragedi atau kecelakaan dalam bermain bedil bumbung yang kerap kali mendera dirinya. Bulu alisnya gosong mengkriting akibat lalapan si jago merah saat menyulut lubang bedil bumbung akibat jilatan api yang membara dari dalam cerobong bambu itu. Belum lagi nafasnya hampir habis dipergunakan meniup kepulan asap putih di dalam bedil bumbung agar terbuang habis keluar. Bunyi dentuman yang keras pun tetap menjadi kegirangannya. Bahkan, uang jajan sebagai jatah untuk keperluan puasanya tersedot dalam pengadaan minyak tanah dan korek api. Benar-benar Si Mamat tenggelam dalam kesenangan yang dianggap sebagai penyulut aroma suasana puasa. Tanpa kehadiran bedil bumbung puasa kurang berasa suasananya. Yang benar aja…Si Mat?

Hampir sepanjang waktu dalam sehari tak ada waktu jedah untuk berhenti bermain padasan bambu berbahan bakar minyak tanah. Bedil bumbung bila disulut dari lubang di pangkalnya akan mengeluarkan bunyi dentuman. Si mamat benar-benar maniak dengan permainan yang dianggap sebagai warisan budaya tersebut. Menjelang sore, Si Mamat berhenti bermain bedil bumbung dan cepat-cepat bergegas mandi untuk mengaji kepada ibunya sendiri. Si Mamat kecil cepat-cepat menyiapkan rehan dan Qur’an juz amma bersila di hadapan ibunya. Rasa kantuk menyerang konsentrasi Si Mamat akibat seharian waktunya terkuras dalam bermain. Ibunya menyuruh mengeja alip-alipan dengan menggunakan ejaan ala kampungan kononnya. Padahal kita semua bisa baca Al Qur’an dengan sistem itu dulunya. Bukan sistem ini dan itu di era terkini yang terkadang kerjanya menyalahkan bacaan orang-orang terdahulu. Lalu, Ibunya mendekti dan Si mamat mengikuti : alip jheber a, alip nejjer i, alip neppes u ( ejaan model Parsia atau Iran). Setelah bersama mengeja, ibunya menyuruh Si Mamat untuk membunyikan ejaan yang baru di lafalkan secara step by step itu. Serta-merta Si Mamat melafalkan dengan bunyi : Jeddem…(tiruan bunyi bedil bumbung). Prilaku Si Mamat telah mengusik dan membuat ibunya terperangah kaget tak alang kepalang karena yang dikeluarkan adalah suara bedil bumbung yang setiap hari dimainkannya itu. Mestinya yang harus keluar dari kerongkongan Si Mamat adalah a,i,u. Sebagai orang tua, ibu Si Mamat justru tertawa ngakak karena suatu kewajaran dari seorang anak yang memang ngantuk dan polos tatkala disuruh mengeluarkan bunyi huruf hijaiyah yang baru saja diejanya.

Lembaran sejarah masa lalu perlu disingkap untuk menguak tabir rahasia keberadaan permainan bedil bumbung yang pernah digilai oleh masyarakat. Tentu hal ini tidak pernah terlepas dari rentetan sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Sekitar abad ke 13 Islam sudah menyebar di nusantara dengan membawa ajaran dan budaya melalui proses sinkretisme damai yakni pertemuan dua budaya yang berbeda tanpa harus melalui jalan konfrontasi. Secara perlahan-lahan Islam diterima menjadi agama yang penuh kedamaian yakni bisa berdampingan dengan penganut ajaran ajaran nenek moyang bangsa Indonesia terdahulu. Salah satu kreasi lama penganut ajaran islam di Indonesia saat mengambil air wudlu untuk salat menggunakan padasan bambu untuk bersuci karena jeding dan bak penampungan air permanen belum memadai dan sangat sederhana adanya. Padasan bambu itu memiliki lubang di bagian pangkal yang posisinya horizontal untuk memancurkan air wudlu. Sedang di bagian pucuk padasan dibuat lubang persegi agar air sumur yang ditimba mudah jalan masuknya. Hampir setiap rumah penduduk kala itu menggunakan sistem bersuci seperti itu.

Berbeda kemudian setelah bangsa Belanda bercokol di nusantara sebagai penjajah dengan segala kemajuan pola pikir dan teknologinya mulai melirik halus penuh pretensi untuk memengaruhi umat Islam lewat berbagai macam cara dan cela. Salah satu yang dibidik adalah bagaimana padasan bambu itu yang semula sebagai alat untuk ambil air wudlu bisa menjadi sebuah permainan dengan mengeluarkan bunyi dentuman. Semula lubang di pangkal padasan bambu posisinya horizontal diubah menjadi vertikal menghadap lurus ke atas. Awalnya, padasan bambu itu diisi air oleh umat Islam diganti dengan minyak tanah oleh bangsa Belanda yang menguasai persoalan teknis ledakan. Berubahlah kemudian fungsi padasan bambu sebagai tempat untuk air wudlu menjadi permainan yang menghasilkan dentuman. Sebagai barang baru banyak memberi warna dan pengaruh kepada seluruh umat Islam dengan shock cultural yang menyelubunginya dalam kehidupan. Belanda dengan cara yang halus mampu merasuki jiwa umat Islam dari yang semula lemah lembut dan penuh kedamaian menjadi garang penuh dengan bunyi-bunyi kekerasan lewat modifikasi dan rekayasa peninggalan budaya padasan bambu menjadi bedil bumbung. Puncak kesemarakan penggunaan bedil bumbung terjadi pada saat perayaan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan tanggal 17 Ramadan 1366 H. Momen inilah semarak letupan mercon dan bedil bubung sebagai luapan rasa kebahagian dalam suasana kemerdekaan setelah bangsa Indonesia hidup dalam hegemuni penjajahan Belanda terlama kurang lebih tiga setengah abad. Di sinilah Belanda berhasil menanamkan warisan kekerasan lewat bunyi-bunyi petasan dan bedil bumbung yang terkooptasi dalam bingkai warisan budaya sekadar anggapan belaka. Belanda telah berhasil menyusup lewat kultur umat Islam dari sebuah padasan bambu menjadi bedil bumbung. Bahkan yang lebih mengerikan lagi perkembangan terkini muncul varian bedil bumbung menjadi srengdor berupa tatanan kaleng bekas berbahan sepirtus dengan memanfaatkan percikan pelatuk korek gas di pangkalnya. Srengdor sangat memekakkan telinga dan berbahaya.

Berbeda dengan kebiasaan warga Pulau Bawean-yang juga ikut-ikutan membunyikan bedil bumbung di saat menjelang puasa dan pada malam-malam tertentu. Konon, tanpa kehadiran bedil bumbung suasana puasa kurang semarak. Awal-awal memang benar penggunaan bedil bumbung yang dianggap warisan budaya sesuai dengan adat permainan yang minim risiko. Namun, apa yang terjadi dari sebuah perkembangan permainan budaya mengalami metamorfosis dengan varian bergantung tempat atau wilayah suatu desa atau dusun masing-masing. Salah satu dusun yakni Sungaitirta menjadikan permainan bedil bumbung di bulan puasa dalam tatanan perlombaan antarkelompok anak muda dulunya. Beberapa deret bedil bumbung di pasang berhada- hadapan dengan jarak tertentu untuk beradu kenyaringan. Kelompok siapa yang pada akhir dentuman bunyinya meredup atau kalah nyaring maka kelompok itu harus menggendong anggota kelompok lainnya keliling lapangan. Unik dan menarik permainan yang demikian. Biasanya dilakukan di tanah lapang setelah salat tarawih.

Beda dusun beda pula cara memainkan bedil bumbung. Di dusun Lebak Kecamatan Sangkapura Gresik juga memiliki keunikan dalam atraksi budayanya. Bedil bumbung dijadikan penyemarak saat bulan puasa terutama puncaknya pada acara ”Mamaleman” atau memasuki malam tanggal 21 Ramadan ke atas . Seluruh langgar dikelilingi dengan barisan bedil bumbung yang siap membuat suasana malam menjadi meriah penuh dengan kegembiraan dalam menyambut 10 malam terakhir sebagai malam pembebasan dari api neraka. Termasuk di dusun-dusun lain pun demikian. Paling mengejutkan dan cukup heboh adalah permainan bedil bumbung di daerah Telaga Kastoba dan sekitarnya. Penduduk di sana melakukan pembunyian bedil bumbung dengan besar-besaran bambu dan nyaring-nyaringan. Serunya lagi bedil bumbung di tempatkan di tempat yang agak tersembunyi. Mereka beraksi dari bebarapa semak belukar dengan moncong bedil bumbung mengarah ke jalan umum. Pernah sesekali orang lewat terkejut mendadak sambil meniup kepalan tangan kanannya seraya memasukkan udara dalam genggamannya ke arah ke dua telinga dengan maksud mengembalikan tekanan udara di telinga kembali kepada keseimbangan semula. Mereka lari tertawa terbirit-birit akibat kejutan dari suara nyaring bedil bumbung yang moncongnya menganga di sepanjang jalan. Jika warga yang lewat tidak menyadari maka akan pingsang mendadak mendapati bunyi tembakan dari bedil bumbung berjenis bambu jumbo atau jenis petong.

Ada pula yang sangat unik dan menarik lagi permainan bedil bumbung yang dimainkan warga di Kecamatan Tambak pinggir laut atau tepi pantai. Di daerah pesisir Tambak di bulan puasa dulu ramai dengan atraksi membunyikan bedil bumbung di atas sampan milik masing-masing warga. Pemandangan di pantai sore hari menjelang bedug magrib terkesan seperti adanya perang-perangan di laut antara bangsa Cina dengan bangsa Indonesia di pesisir Kota Tuban dulunya. Efek bising dan gangguan terhadap warga yang tengah menjalankan puasa minim sekali. Apalagi sampan mereka didayung agak ke tengah. Moncong bedil bumbung saling mengarah ke sampan lawan sepermainannya. Bagian moncong bedil bumbung di sumbat dengan barang-barang yang sekiranya mencolot jauh tidak sampai membahayakan lawan mainnya. Paling banter bila kena sasaran barang-barang colotan bedil bumbung tersulut sekadar ”mencol” atau lebam ringan saja. Kejadian gawat pun pernah dialami salah seorang pegiat bedil bumbung di atas sampan akibat tiupan angin melawan arah moncong bedil bumbung. Saat disulut, api menjilat tinggi keluar dari lubang penyulut dan langsung melalap rambut sang pemain. Spontan korban melompat ke dasar laut. Akhirnya ia pun selamat.

Perkembangan terkini nasib bedil bumbung tinggal kenangan belaka seiring dengan melambungnya harga minyak tanah. Bila diganti dengan bensin atau karbit risiko bahaya amat besar. Di samping itu saat ini bambu atau tonggak bambu dan sejenisnya semakin sulit di dapat. Untuk membikin satu bedil bumbung harus mengeluarkan tenaga ekstra. Anak-anak sendiri sudah merasa ogah atau enggan untuk memainkannya karena berdasarkan pengalaman banyak korban yang berjatuhan. Data dari pusat kesehatan masyarakat beberapa tahun silam menunjukkan di setiap menjelang bulan puasa luka bakar ringan hingga serius dipicu oleh penyalah gunaan permainan bedil bumbung tanpa ada garansi keselamatan dan SOP (Standar Operasi Prosedur) sebagai teknik pengamanan di lapangan. Ingat, wahai saudara-saudara kaum muslimin di manapun berada bahwa malam itu tidak mendunia. Di saat bagian bumi Indonesia dan sekitarnya memasuki waktu malam di saat itulah malaikat turun hendak menurunkan keberkahan. Malam itu tidak seharusnya disambut dengan letupan bunyi bedil bumbung , petasan, dan sejenisnya yang sangat membisingkan. Malaikat juga makhluk Allah butuh ketenangan suasana. Alangkah sakralnya malam bulan puasa diisi dengan lantunan ayat-ayat suci tanpa harus dibarengi dengan dentuman bedil bumbung. Untuk mengembalikan kembali permainan bedil bumbung yang dianggap warisan budaya harus ada upaya duduk bersama dengan menetapkan aturan main dan pakem yang semestinya agar tidak disalah gunakan oleh generasi penerus. Pihak kemanan semata menjalankan aturan dan meminimalisasi risiko sebagai wujud preventif demi kemaslahatan dan kenyamanan setiap warga negara. Merenunglah kembali akan perlunya dan tidaknya warisan budaya bedil bumbung untuk dimainkan Bila demikian, hanya untaian selamat jalan ”Goodby” wahai bedil bumbung…!”

SHARE :
 
Copyright © 2015 Media Bawean. All Rights Reserved. Powered by INFO Bawean